Jurnal Ilmiah Keperawatan dan Kesehatan Alkautsar (JIKKA) e-ISSN : 2963-9042 online: https://jurnal. id/index. php/JIKKA STUDI KASUS PEMBERIAN KOMPRES JAHE MERAH HANGAT UNTUK PENURUNAN NYERI KRONIS PADA GOUT ARTRITIS Diana Safira1. Ratna Kurniawati 2. Parmilah3 1,2,3 Akademi Keperawatan Alkautsar Temanggung. Jawa Tengah. Indonesia Email: diaena. safira02@gmail. com, ratnaummudzaky@gmail. Email Korespondensi : diaena. safira02@gmail. ABSTRAK Prevalensi gout arthritis di seluruh dunia, menurut World Health Organization (WHO), menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar yang menderita asam urat. Hasil dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menyajikan data berdasarkan kelompok usia, dimana prevalensi asam urat tercatat sebesar 11,1% pada kelompok usia 45-54 tahun, 15,5% pada kelompok usia 55-64 tahun, 18,6% pada kelompok usia 65-74 tahun, dan mencapai 18,9% pada kelompok usia 75 tahun ke atas. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan nyeri kronis pada gout arthritis dengan menggunakan terapi kompres jahe merah yang Desain penelitian ini merupakan studi kasus dengan pendekatan asuhan Jumlah subjek yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 2 responden, dengan rentang usia antara 50 hingga 90 tahun, tingkat nyeri awal pada skala 3 hingga 7, dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Hasil dari studi kasus ini menunjukkan bahwa setelah pemberian kompres jahe merah yang hangat selama 7 hari, tingkat nyeri pada kedua responden mengalami penurunan dari tingkat nyeri sedang menjadi tingkat nyeri ringan. Hal ini mengindikasikan bahwa terapi kompres jahe merah hangat dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam mengurangi nyeri kronis pada pasien gout Kata Kunci : Gout Artiritis. Kompres Jahe Merah Hangat. Nyeri Kronis CASE STUDY: WARM RED GINGER COMPRESS FOR CHRONIC PAIN REDUCTION IN GOUT ARTHRITIS ABSTRACT The global prevalence of gout arthritis, as reported by the World Health Organization (WHO), indicates that Indonesia has the largest population suffering from high uric acid levels (Depkes RI, 2. Data from the 2018 Basic Health Research (RISKESDAS) presents age-group-specific statistics, where uric acid prevalence was recorded at 11. 1% in the 45-54 age group, 15. 5% in the 55-64 age group, 18. 6% in the 65-74 age group, and reached 18. 9% in those aged 75 and above. This study aims to address the nursing problem of chronic pain in gout arthritis through the use of warm red ginger compress therapy. The research design is a case study with a nursing care The study includes 2 respondents, aged between 50 and 90 years, with initial pain levels on a scale of 3 to 7, and good communication skills. The results of this case study show that after receiving warm red ginger compress therapy for 7 days, the pain levels in both respondents decreased from moderate to mild pain. This indicates that warm red ginger compress therapy can be an effective approach in reducing chronic pain in gout arthritis patients. Keywords: Gout Arthritis. Warm Red Ginger Compress. Chronic Pain PENDAHULUAN Asam urat, juga dikenal sebagai Gout Arthritis, adalah sebuah penyakit yang dicirikan oleh serangan nyeri kronis pada persendian dan tingginya . (Ramadhan, 2. Menurut World Health Organization (WHO). Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar yang menderita asam urat di seluruh dunia (Depkes RI, 2. Data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 mencatat bahwa prevalensi asam urat meningkat dengan usia, mencapai 11,1% pada kelompok usia 45-54 tahun, 15,5% pada kelompok usia 55-64 tahun, 18,6% pada kelompok usia 65-74 tahun, dan mencapai 18,9% pada kelompok usia 75 tahun ke atas. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2021 melaporkan bahwa kasus positif penderita asam urat 354 jiwa dengan 345 jiwa yang meninggal akibat penyakit ini. Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung tahun 2022 juga mencatat 337 jiwa penderita asam urat. Beberapa gejala dan tanda yang sering terjadi pada penderita asam urat meliputi nyeri hebat dan tiba-tiba pada persendian yang terkena, gangguan fungsi sendi, kemerahan, perasaan panas pada bagian yang bengkak, kekakuan, dan pembengkakan pada persendian. Gejala nyeri juga dapat terjadi pada persendian kaki, jari-jari kaki, tangan, dan jari-jari tangan (Ema Madyaningrum dkk, 2. Salah satu masalah keperawatan yang sering dialami oleh penderita gout arthritis adalah nyeri kronis (Radharani. Nyeri merupakan pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan dan setiap individu dapat merasakan nyeri dengan intensitas dan skala yang berbeda-beda (Sari. Rufaida et al. , 2. Nyeri kronis dijelaskan sebagai sensasi tidak menyenangkan yang berlangsung lebih dari 3 bulan, dengan intensitas yang bervariasi dari ringan hingga berat (Herdman, 2. Penanganan nyeri pada penderita asam urat dapat melibatkan pendekatan non-farmakologi. Terapi non-farmakologi tindakan keperawatan yang dapat membantu mengurangi gejala nyeri pada penderita gout arthritis, termasuk terapi komplementer seperti terapi kompres jahe merah (Christianty, 2. Jahe merah (Zingiber Officinale Var. Rubru. merupakan salah satu bahan alami yang memiliki berbagai khasiat, termasuk sifat antiinflamasi, antibakteri, dan antiemetik. Senyawa utama dalam jahe merah adalah gingerol dan shogaol (Ramadhani. Sa'diah et al. , 2. Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan pengaruh positif dari kompres jahe merah terhadap penurunan tingkat nyeri pada penderita gout arthritis (Ilham, 2020. Indah Sari dkk. Berdasarkan latar belakang ini, penulis tertarik untuk melakukan pengaruh pemberian terapi kompres jahe merah hangat terhadap peningkatan masalah nyeri pada penderita gout METODE Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan, yang mencakup langkah- keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Dalam studi kasus ini, dua responden yang mengalami gout arthritis menjadi subjek penelitian. Kriteria inklusi untuk subjek penelitian ini melibatkan lansia dengan gout arthritis yang memiliki tingkat nyeri sendi antara skala 3 hingga 7, bersedia menjadi komunikasi yang baik, berusia antara 50 hingga 90 tahun, dan bisa berupa lakilaki atau perempuan. HASIL Penelitian dilakukan pada klien gout artiritis yang mengalami masalah Hasil pengkajian responden didapatkan data responden pertama yaitu Ny. R usia 50 tahun, pendidikan terakhir SMP, agama Islam, alamat Desa Jragan, bekerja sebagai petani. Pengkajian pada Ny. dilakukan pada 5 Juni 2023 dengan hasil pemeriksaan kadar asam urat 7,3mg/dL dan tekanan darah 123/80 mmHg. Ny. mengatakan jika pada pergelangan kaki kiri merasakan nyeri, lebih dari 3 bulan yang lalu kemudian klien berobat ke puskesmas dan baru tahu bahwa klien mempunyai asam urat yang tinggi, klien berobat ke puskesmas selama 2 bulanan, setelah itu klien tidak pernah berobat. Klien tidak memiliki penyakit keturunan seperti HT maupun DM. Pada responden kedua adalah Ny. usia 80 tahun, pendidikan terakhir SD, agama Islam, alamat Desa Mudal, bekerja menjadi Petani. Pengkajian pada Ny. Y dilakukan pada 10 Juni 2023 dengan hasil kadar asam urat 8 mg/dl dan tekanan darah 148/95 mmHg. Ny. mengatakan nyeri pada lutut kaki kanan sudah selama 1 tahun, dan klien menjalani kontrol setiap 3 bulan. Klien mempunyai penyakit keturunan yaitu HT. Hasil pengkajian identitas klien gout artiritis pada kedua responden pada tabel Tabel 1 Hasil pengkajian identitas klien gout artiritis No. Identitas Klien Usia Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Lamanya Nyeri Rutin kontrol Tekanan Riwayat Penyakit Ny. Ny. 50 Tahun Perempuan 80 Tahun Perempuan SMP Petani Lebih dari 3 Tidak 123/80 20 x/menit Tidak HT maupun Petani 1 Tahun 148/95 20x/menit Hasil pengkajian gout artiritis yang dilakukan pada kedua responden diuraikan pada tabel 2. Tabel 2. Hasil pengkajian gout artiritis No Fokus yang Ny. Ny. Tidak Ya Tidak Nyeri sendi Oo Deformitas Tanda Oo Hambatan Oo Kadar asam Oo . ,3 urat 6mg/d 10mg/dL Jumlah Oo Oo Oo Oo Oo Oo . Hasil pengkajian masalah nyeri kronis pada Ny. R mengatakan nyeri pada pergelangan kaki kiri, klien mengatakan ada nyeri/ perubahan aktivitas, mengalami kesulitan tidur, terdapat anoreksia, dan klien mengatakan sering menghindari rasa nyeri saat nyeri muncul dan berfokus pada diri sendiri, untuk pengkajian PQRST (P: Q : quality. R Radiates. S : T : tim. dengan hasil P : nyeri meningkat saat beraktivitas. Q : nyeri seperti tertusuk-tusuk. R : Nyeri dipergelangan kaki kiri. S : Skala 5. T : nyeri hilang timbul sekitar 15 menit, ada aktivitas sebelumnya, perubahan pola tidur dari sebelum sakit tidur selama 7 jam menjadi 6 jam setelah sakit dan masih terbangun, ekspresi wajah nyeri. Sedangkan Ny. Y mengatakan nyeri dilutut kaki kanan, klien mengatakan ada nyeri/ perubahan aktivitas, terdapat anoreksia, dan klien mengatakan sering menghindari rasa nyeri saat nyeri muncul dan berfokus pada diri sendiri, untuk pengkajian PQRST (P: palliative. Q : R Radiates. S : skala. T : tim. dengan hasil P : Nyeri meningkat saat beraktivitas. Q : Nyeri seperti kesemutan. R : Nyeri dilutut kaki kanan. S : skala 4. T : Nyeri hilang timbul, ada hambatan perubahan pola tidur dari sebelum sakit tidur 7 jam menjadi 5-6 jam setelah sakit dan masih terbangun, ekspresi wajah Hasil keperawatan nyeri kronis pada kedua responden sesuai batasan karekteristik diuraikan pada tabel 3. Tabel 4. 3 Hasil pengkajian nyeri kronis No. Aspek yang Keluhan nyeri Bersikap . Kesulitan Berfokus pada diri sendiri Anoreksia Perilaku nyeri/ Nafsu makan Jumlah Ny. Ya Tidak Oo Oo Oo Ny. Ya Tidak Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Adapun pengkajian keperawatan nyeri kronis menggunakan PQRST pada pemeriksaan diuraikan pada tabel 4. Tabel 4. 4 Hasil pengkajian nyeri kronis PQRST No. PQRST (Palliativ. Q (Qualit. (Radiate. S (Skal. T (Tim. Tabel 4. 5 Hasil evaluasi tindakan No. PQRST (Palliativ. (Qualit. (Radiate. S (Skal. T (Tim. Oo Oo 7 hari dengan frekuensi 1 kali/ hari dan durasi 10-15 menit diuraikan pada tabel dibawah ini: Ny. Nyeri Nyeri seperti Nyeri kaki kiri Skala 5 Nyeri hilang Ny. Nyeri Nyeri Nyeri dilutut kaki Skala 4 Nyeri Hasil dilakukan pemberian kompres jahe merah hangat kepada responden selama Ny. Nyeri Nyeri Nyeri kaki kiri Skala 2 Nyeri hilang Ny. Nyeri Nyeri Nyeri dilutut kaki Skala 2 Nyeri PEMBAHASAN Gout arthritis adalah suatu kondisi kronis yang ditandai dengan nyeri persendian dan tingginya kadar asam urat dalam darah . yang terkait dengan gangguan genetik dalam metabolisme purin. Gejala gout arthritis mencakup nyeri persendian, deformitas pada persendian, tanda-tanda peradangan persendian, serta kadar asam urat yang tinggi . -13 mg/dL) dan pembatasan gerakan pada persendian. Pada studi kasus ini, data yang ditemukan sesuai dengan kriteria gout arthritis, yang meliputi: Nyeri pada persendian adalah gejala umum gout arthritis yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor genetik, reaksi alergi, infeksi, dan Nyeri persendian dapat terjadi karena perubahan pada kartilago yang menebal dan kemudian menipis secara progresif (Puspita & Praptini. Kartilago memiliki peran sebagai penutup antara tulang pada persendian, dan perubahan pada kartilago ini dapat terjadi karena adanya gesekan berulang antara ujung tulang yang membentuk persendian (Zuraiyahya et al. , 2. Deformitas persendian dapat terjadi pada penderita gout arthritis sebagai akibat dari penimbunan kristal pada membran sinovia dan tulang rawan Selama fase lanjut penyakit ini, erosi pada tulang rawan, proliferasi sinovia, dan pembentukan panus dapat terjadi, yang selanjutnya dapat menyebabkan erosi kistik pada tulang dan perubahan yang lebih (Arif Muttaqin, 2. Tanda-tanda persendian biasanya ditandai dengan kemerahan pada area tersebut, karena menghasilkan penimbunan kristal pada sinovia dan tulang, serta terjadinya erosi pada tulang rawan (Arif Muttaqin, 2. Peradangan pada persendian gout arthritis dapat menyebabkan pembengkakan, rasa panas, dan nyeri tekan pada persendian (Noviyanti, 2. Hambatan gerakan persendian sering terjadi pada gout arthritis dan dapat memengaruhi aktivitas fisik sehari-hari. Persendian yang paling sering terkena pada gout arthritis antara lain adalah persendian jempol kaki, pergelangan kaki, kaki, lutut, dan siku. Nyeri yang dialami oleh penderita dapat mengakibatkan penurunan aktivitas fisik (Nahariani et al. , 2. Tindakan pemberian kompres jahe merah hangat kepada responden selama 7 hari dengan frekuensi 1 kali dan durasi mempercepat penyembuhan, mengurangi nyeri persendian, dan mengembalikan kemampuan responden untuk melakukan aktivitas dengan normal. Skala nyeri kronis pada kedua responden menurun dari awalnya skala 5 menjadi skala 2 setelah tindakan kompres jahe merah hangat diterapkan. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan tindakan ini efektif dalam mengatasi masalah nyeri kronis pada penderita gout arthritis, sesuai dengan hasil penelitian dari Rifai . , yang menunjukkan efektivitas kompres jahe merah hangat dalam mengurangi nyeri pada gout arthritis. KESIMPULAN Pemberian kompres jahe merah menunjukkan efektif mengurangi nyeri pada responnden 1 skala nyeri 5-2 sedangkan responden 2 skala nyeri 4-2. Maka pemberian kompres jahe merah hangat efektif untuk menurunkan nyeri asam urat. DAFTAR PUSTAKA