PENELITIAN ASLI SOSIALISASI PEMANFAATAN INTERNET SEHAT UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA CYBERBULLYING PADA SISWA DI SMK NEGERI 10 MEDAN Yusrin Karauna1. Sunyianto2. Muhammad Fadli3. Febryna Sirait4. Seri Nurainun5 1,2,4,5 Fakultas Komunikasi dan Perpustakaan. Perpustakaan dan Sains Informasi. Universitas Sari Mutiara Indonesia. Medan. Sumatera Utara, 20123. Indonesia Fakultas Ilmu Pendidikan. Pendidikan Guru Sekolah dasar. Universitas Sari Mutiara Indonesia. Medan. Sumatera Utara, 20123. Indonesia Info Artikel Riwayat Artikel: Diterima: 15 Juni 2025 Direvisi: 21 Juni 2025 Diterima: 27 Juni 2025 Diterbitkan: 09 Juli 2025 Kata kunci: Internet sehat, cyber Bullying, literasi digital, sosialisasi, siswa SMA Penulis Korespondensi: Yusrin Karauna Email: yusrinkarauna@gmail. Abstrak Perkembangan teknologi informasi yang pesat memberikan kemudahan dalam mengakses informasi dan berkomunikasi, namun juga menghadirkan tantangan berupa penyalahgunaan media digital, salah satunya adalah cyber bullying. Perundungan berbasis internet ini semakin marak di kalangan pelajar, termasuk siswa sekolah menengah atas, seiring meningkatnya penggunaan media sosial. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang pentingnya pemanfaatan internet secara sehat serta membekali mereka dengan pemahaman mengenai bentuk, dampak, dan pencegahan cyber bullying. Sosialisasi dilaksanakan di SMK Negeri 10 Medan melalui metode seminar, diskusi interaktif, dan studi kasus. Sebanyak 60 siswa dari kelas X dan XI terlibat dalam kegiatan ini. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata dari 58,3 menjadi 84,7, yang menandakan peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang Kegiatan ini juga membangun kesadaran kritis siswa dalam menggunakan internet secara bijak dan bertanggung jawab. Diharapkan kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan diintegrasikan dalam program literasi digital Jurnal ABDIMAS Mutiara (JAM) e-ISSN: 2722-7758 Vol. No. 02 Juni, 2025 (P190-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM DOI: https://10. 51544/jam. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Sistem Informasi Fakultas Sain dan Teknologi Informasi Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam dua dekade terakhir telah memberikan dampak yang luar biasa terhadap cara manusia berinteraksi, bekerja, dan memperoleh informasi. Internet sebagai media digital telah menjadi kebutuhan pokok bagi banyak kalangan, termasuk remaja dan pelajar. Akses terhadap informasi menjadi lebih cepat, pembelajaran daring semakin berkembang, dan komunikasi sosial dilakukan secara luas melalui berbagai platform media sosial (Zuhri & Fadil, 2. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul tantangan serius berupa penyalahgunaan internet, salah satunya adalah maraknya fenomena cyberbullying . erundungan darin. (Riswanto & Marsinun, 2. Cyberbullying adalah bentuk agresi yang dilakukan melalui media digital yang bertujuan menyakiti atau merugikan orang lain secara psikologis (Fatihah, 2. Tindakan ini bisa berupa pelecehan, penghinaan, penyebaran informasi palsu, pengucilan di media sosial, hingga penyebaran konten memalukan tanpa izin. Bentuk kekerasan ini sering terjadi di kalangan remaja karena minimnya kesadaran etika dalam berinternet (Hidajat et al. Menurut laporan Komnas Perlindungan Anak . , lebih dari 45% kasus kekerasan digital terhadap anak terjadi dalam konteks pendidikan dan mayoritasnya tidak dilaporkan karena korban tidak memahami bahwa mereka sedang menjadi sasaran cyberbullying (Elsa et al. , 2. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai lembaga pendidikan formal menjadi salah satu pihak yang sangat penting dalam upaya pencegahan cyberbullying melalui peningkatan literasi digital. Hal ini dapat dilakukan dengan menanamkan pemahaman tentang pemanfaatan internet secara sehat sejak dini kepada siswa. Fenomena cyberbullying telah menjadi perhatian global dalam berbagai studi lintas disiplin, mulai dari psikologi, pendidikan, hingga komunikasi digital. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendekatan edukatif seperti kampanye digital dan sosialisasi berperan signifikan dalam meningkatkan kesadaran siswa mengenai risiko penggunaan internet yang tidak sehat (Hafizh et al. , 2. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengakses informasi, tetapi juga mencakup aspek etika, keamanan, serta tanggung jawab sosial dalam penggunaan teknologi. Penelitian oleh Livingstone & Smith . di Eropa menunjukkan bahwa pelajar yang memiliki pemahaman literasi digital yang tinggi lebih mampu mengenali, menghindari, dan melaporkan tindakan cyberbullying dibandingkan dengan yang tidak mendapat edukasi sejenis (Andriani et al. , 2. Di Indonesia, inisiatif literasi digital masih terpusat pada aspek teknis penggunaan teknologi, sementara aspek nilai dan etika sering kali belum menjadi fokus utama. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa intervensi berupa pelatihan, workshop, atau sosialisasi mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai keamanan digital. Misalnya, penelitian oleh Kurnia Fadila, dkk . menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa tentang cyberbullying setelah mengikuti pelatihan pemanfaatan internet sehat di Panti Asuhan Kemala Puji di Bandar Lampung (Kurnia Fadila et al. , 2. Penelitian lain oleh Syahferi Anwar dkk . juga menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman literasi digital, kesadaran etika berinternet, serta kemampuan teknissiswa dalam menerapkan langkah-langkah keamanan digital pada SMK N 1 Pancur Batu (Anwar et al. , n. Namun, belum banyak penelitian atau pengabdian yang secara spesifik dilakukan di daerah Jl. Cik Ditiro No. Madras Hulu. Kecamatan Medan Polonia. Kota Medan, yang memiliki tantangan tersendiri dalam hal akses informasi dan pengawasan penggunaan internet oleh siswa. Oleh karena itu, penting dilakukan kegiatan yang menyesuaikan pendekatannya dengan kondisi sosiokultural peserta didik. Kegiatan ini berangkat dari meningkatnya paparan siswa terhadap internet dan rendahnya tingkat kesadaran tentang dampak negatif penggunaan internet tanpa kontrol. Banyak siswa tidak menyadari bahwa perilaku mereka di dunia maya memiliki konsekuensi hukum dan etika yang sama dengan dunia nyata. Selain itu, pelaku cyber bullying seringkali tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan termasuk dalam kategori perundungan karena minimnya edukasi tentang bentuk-bentuk kekerasan digital. SMK Negeri 10 Medan menjadi tempat yang strategis untuk pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini karena mayoritas siswanya berada pada usia rentan terhadap pengaruh sosial media dan penggunaan internet yang tidak terkontrol. Dengan memberikan pemahaman sejak dini mengenai pentingnya pemanfaatan internet sehat, diharapkan siswa mampu bersikap bijak dalam menggunakan teknologi informasi dan mencegah terjadinya tindakan perundungan di dunia maya. Kegiatan ini mengandung nilai kebaruan dari sisi pendekatan berbasis pengabdian masyarakat dengan kombinasi antara edukasi digital dan pembentukan karakter siswa melalui diskusi kelompok, pemecahan studi kasus, dan simulasi situasi nyata . ole pla. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga memberikan kontribusi ilmiah berupa: Model sosialisasi literasi digital berbasis lokalitas, yang mempertimbangkan latar belakang sosial-budaya siswa. Integrasi antara penguatan nilai etika digital dan pemahaman hukum tentang cyber bullying, yang belum banyak dilakukan dalam kegiatan serupa. Evaluasi dampak langsung terhadap perubahan pengetahuan siswa, melalui pretest dan post-test sebagai bagian dari asesmen. Metode Metode pelaksanaan Kegiatan sosialisasi bertajuk AuPemanfaatan Internet Sehat untuk Meningkatkan Pengetahuan tentang Bahaya Cyber BullyingAy dilaksanakan di SMK Negeri 10 Medan, yang berlokasi di Jl. Cik Ditiro No. Madras Hulu. Kecamatan Medan Polonia. Kota Medan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2025, dengan diikuti oleh siswa kelas X dan XI yang berjumlah sekitar 60 orang. Kegiatan diawali dengan pembukaan resmi dan seminar pengantar oleh Kepala Sekolah, kemudian dilanjutkan dengan sesi inti berupa pemaparan materi, diskusi interaktif, dan evaluasi pengetahuan siswa. Metode Evaluasi Evaluasi dilakukan pada akhir sesi kegiatan. Evaluasi diberikan dengan mengumpulkan data yang diperoleh dari masing-masing kegiatan melalui penyebaran kuesioner ke seluruh peserta sosialisasi. Hasil Untuk meningkatkan partisipasi siswa, kegiatan ini dilengkapi dengan sesi diskusi kelompok kecil. Siswa dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing diberikan satu studi kasus yang berisi potret nyata kasus cyber bullying. Setiap kelompok diminta mengidentifikasi bentuk cyber bullying yang terjadi, dampaknya bagi korban, dan langkah apa yang harus dilakukan oleh korban dan teman sekitarnya. Setelah diskusi selama 30 menit, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Diskusi berlangsung aktif dan terbuka, banyak siswa mengungkapkan bahwa mereka pernah menyaksikan atau bahkan mengalami langsung perilaku perundungan siber, seperti pengucilan di grup chat sekolah atau penyebaran meme yang menghina teman. Fakta ini menunjukkan bahwa siswa sebenarnya dekat dengan permasalahan ini, namun belum memiliki pemahaman utuh tentang bahayanya. Untuk mengukur efektivitas kegiatan, dilakukan pre-test dan post-test yang berisi 15 pertanyaan seputar internet sehat dan cyber bullying. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang cukup signifikan: Tabel 1. Persentase Nilai Aksi Persentase Rata-rata nilai pre-test 58,3 % Rata-rata nilai post-test 84,7 % Peningkatan ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi berhasil meningkatkan pengetahuan siswa tentang pemanfaatan internet sehat dan bahaya cyber bullying. Selain itu, sebagian besar siswa mengaku baru pertama kali mendapatkan informasi yang mendalam tentang topik ini dan merasa sangat terbantu dalam memahami bagaimana bersikap di dunia digital. Gambar 1. Foto bersama dengan Siswa-siswi SMK Negeri 10 Medan Sumber: Dokumentasi Penulis Pembahasan Selain evaluasi kuantitatif, tim pengabdian juga melakukan observasi terhadap dinamika kelas dan tanggapan siswa selama kegiatan berlangsung. Beberapa temuan penting antara lain: Siswa menunjukkan antusiasme tinggi, terutama saat membahas kasus nyata. Banyak siswa mengajukan pertanyaan, terutama mengenai apa yang harus dilakukan jika teman menjadi pelaku atau korban. Sebagian besar siswa merasa kegiatan ini membuka wawasan baru tentang tanggung jawab digital dan pentingnya menjaga empati dalam interaksi online. Dari hasil diskusi dan wawancara singkat, ditemukan bahwa masih ada anggapan di kalangan siswa bahwa bercanda di media sosial adalah hal biasa, padahal banyak dari candaan tersebut sudah termasuk kategori cyber bullying. Oleh karena itu, pendekatan edukasi harus terus diperluas dan dilakukan secara berkala. Kegiatan ini memberikan sejumlah pelajaran penting, antara lain: Sosialisasi mengenai internet sehat harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak cukup hanya sekali. Perlu adanya kurikulum tambahan atau muatan lokal tentang literasi digital dan etika berinternet di tingkat sekolah menengah. Keterlibatan guru bimbingan konseling sangat penting untuk mendampingi siswa dalam menghadapi permasalahan digital. Orang tua juga perlu dilibatkan dalam kegiatan serupa untuk membentuk kolaborasi pendidikan digital antara sekolah dan rumah. Kesimpulan Berdasarkan pelaksanaan kegiatan, dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pemanfaatan internet sehat ini berhasil meningkatkan pengetahuan siswa secara signifikan mengenai bahaya cyber bullying. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman teoretis siswa, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan empati terhadap sesama pengguna internet. SMK Negeri 10 Medan sebagai mitra kegiatan juga menyatakan komitmennya untuk mengadopsi kegiatan serupa sebagai bagian dari penguatan karakter siswa ke depan. Ucapan Terimakasih Kami dari Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) mengucapkan terima kasih kepada seluruh civitas akademika mulai dari rektorat. Dosen. Tendik, mahasiswa serta kepada kepala sekolah, guru-guru dan staf tata usaha SMK Negeri 10 Medan yang telah meluangkan waktu dan tenaganya dalam melakukan penyuluhan dan sosialisasi ini. Referensi