JUKMAS Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. No. 2 Oktober 2019 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pedagang dalam Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Jajanan Anak Sekolah di SDN TelukPucung VII Kota Bekasi Tahun 2019 Yeti Miratania . Desi Rahmalia Program Studi Kesehatan Masyarakat. Universitas Respati Indonesia Email : desirahmalia15@gmail. ABSTRAK Penggunaan bahan tambahan pangan digunakan untuk meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan nya. Bahan tambahan pangan (Food Additiv. dan zat kimia berupa pemanis, penyedap, pengawet, antioksidan, aroma, pengemulsi/pengental, zat gizi, pewarna dan lain-lain. Banyak pedagang jajanan menggunakan bahan tambahan pangan secara berlebihan hanya untuk mendapatkan keuntungan tanpa mementingkan kesehatan konsumen nya . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor yang berhubungan dengan perilaku pedagang dalam penggunaan bahan tambahan pangan jajanan anak sekolah di SDN Teluk Pucung VII Kota Bekasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian cross sectional. Jumlah populasi dan sampel sebanyak 35 responden yaitu pedagang jajanan anak sekolah dengan menggunakan teknik Total Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan melakukan uji kimia makanan jajanan dengan menggunakan Chem Kit. Analisis data meliputi univariat dan bivariat (Chi Square = 0,. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara Pengetahuan terhadap Perilaku Pedagang P value = 0,012 dengan OR = 11. 5, ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap perilaku pedagang P value = 0,003 dengan OR = 36, ada hubungan yang signifikan antara Pembinaan dan pengawasan terhadap Perilaku Pedagang P value = 0,009 dengan OR = 17, 3 . Saran peneliti adalah Petugas kesehatan perlu memberikan penyuluhan dan pembinaan secara rutin kepada pedagang makanan jajanan Anak Sekolah di SDN Teluk Pucung VII, mengenai bahaya penggunaan bahan tambahan dan akibatnya terhadap kesehatan, dan pedagang yang masih menggunakan bahan tambahan yang berbahaya wajib diberikan teguran secara lisan dan peringatan secara tertulis, atau berikan sanksi tidak diperbolehkan berjualan. Kata kunci : Bahan Tambahan Pangan, makanan jajanan sekolah, pengetahuan, sikap, pembinaan dan pengawasan ABSTRACT The use of food additives is used to improve or maintain the nutritional value and quality of its storability. Food additives and chemicals in the form of sweeteners, flavorings, preservatives, antioxidants, aromas, emulsifiers/thickeners, nutrients, dyes, and others. Many hawkers use food additives excessively just to make a profit without being concerned about the health of their consumers. This study aims to determine the factors associated with the behavior of traders in the use of food additives snacks for school children in SDN Teluk Pucung VII. Bekasi City. This research is a quantitative study with cross sectional type of research. The population and sample were 35 respondents, namely street vendors of school children using the Total Sampling technique. Data collection was carried out using questionnaires and chemical tests for snacks using the Chem Kit. Data analysis included univariate and bivariate (Chi Square = 0. The results showed a significant relationship between Knowledge of Trader Behavior P value = http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat 012 with OR = 11. 5, there was a significant relationship between attitudes towards trader behavior P value = 0. 003 with OR = 36, there was a significant relationship between Coaching and supervision of Trader Behavior P value = 0. 009 with OR = 17, 3. The researcher's suggestion is that health workers need to provide regular counseling and guidance to school food snacks for school children in SDN Teluk Pucung VII, regarding the dangers of using additives and their effects on health, and traders who still use hazardous additives must be given a verbal warning and warning in writing, or sanction is not allowed to sell. Keywords : Food Additives, school snacks, knowledge, attitudes, coaching, and supervision PENDAHULUAN Menurut Zuraida dkk . , saat ini Bahan Tambahan Pangan (BTP) secara banyak sekali makanan jajanan yang dalam umum adalah bahan yang biasanya tidak proses pengolahannya menggunakan bahan digunakan sebagai makanan dan biasanya tambahan pangan (Food Additiv. dan zat mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja Bahan tambahan makanan pengemulsi/pengental, zat gizi, pewarna dan Tujuan penggunaan bahan lain-lain . Pedagang jajanan menggunakan bahan tambahan pangan (BTP) tersebut meningkatkan atau mempertahankan nilai untuk mendapatkan keuntungan, sementara gizi dan kualitas daya simpan, membuat penggunaan bahan tambahan pangan yang bahan pangan lebih mudah dihidangkan, berlebihan berbahaya bagi kesehatan. Anak- anak yang mengkonsumsi makanan jajanan pangan . Bahan menggunakan bahan tambahan pangan juga dikhawatirkan akan kekurangan gizi, karena diantaranya pewarna, pemanis, pengawet, keasalahan dalam memilih makanan jajanan. penyedap, anti oksidan, penambah aroma Anak sekolah merupakan generasi penerus dan pengatur keasaman, sementara yang bangsa dimasa mendatang yang akan menjadi tumpuan kualitas bangsa . Tambahan Pangan pewarna dari tumbuhan, pemanis dari gula. Kebiasaan jajan merupakan sesuatu pengawet dari garam, penyedap dari garam yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dan cabe dan pemberi aroma dari daun anak sekolah. Perilaku jajan anak akan jeruk . http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat sementara anak sering menjadi korban Bekasi Utara. Kota Bekasi yang berjumlah 35 karena belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang jajanan yang aman . Rancangan Penelitian Data Dinas Kesehatan Kota Bekasi, pada Penelitian tanggal 4 Desember 2018 telah terjadi pendekatan kuantitatif dengan rancangan keracunan terhadap murid SDN Pengasinan cross sectional. Dengan Pengambilan sampel 2. Kecamatan Rawa Lumbu Ae Kota Bekasi secara total sampling. yang bersumber dari produk minuman saset Teknik dan Alat Pengumpulan Data pop ice, adapun penyebabnya yaitu produk Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan mengakibatkan 8 orang siswa sekolah responden dan menyebarkan kuesioner tersebut menjadi korban keracunan yang di awali gejala muntah, pusing dan kejang- makanan jajanan anak sekolah dengan kejang . menggunakan Chem Kit, empat parameter Ada empat jenis bahan berbahaya yang yang di uji yaitu : Formalin. Boraks. Methanil dilarang digunakan untuk pangan, seperti Yellow dan Rhodamin B untuk mengetahui formalin . engawet yang digunakan untuk apakah makanan yang dijual mengandung Bahan Tambahan Pangan yang berbahaya. engempal mengandung logam berat Boro. , rhodamin Untuk B . ewarna merah pada teksti. , dan metanil Puskesmas Teluk Pucung dan dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi . ewarna kuning pada teksti. , terkandung di berbagai makanan yang dijajakan di lingkungan sekolah . Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan analisis METODE PENELITIAN univariat dan bivariat. Analisis univariat Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di di SDN Teluk masing-masing Pucung VII. Kecamatan Bekasi Utara. Kota Analisis bivariat yaitu untuk Bekasi Tahun 2019 pada Bulan April 2019 melihat hubungan secara statistik antara Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh pedagang jajanan anak independen dengan menggunakan derajat kepercayaan 95% atau =0,05. sekolah di SDN Teluk Pucung VII. Kecamatan http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat Hasil dan Pembahasan Hasil Analisa Univariat Variabel Tabel 1. Analisa Univariat Frek . 1 Umur C Muda C Tua 2 Jenis Kelamin C Laki-laki C Perempuan 3 Perilaku C Tidak Baik C Baik 4 Pendidikan C Rendah C Tinggi 5 Pengetahuan C Rendah C Tinggi 6 Sikap C Negatif C Positif 7 Pembinaan dan Pengawasan C Tidak ada C Ada Persen (%) Hasil Analisis Bivariat Variabel Pengetahuan C Rendah C Tinggi Sikap C Negatif C Positif Pembinaan dan Pengawasan C Tidak ada C Ada Tabel 2. Analisis Bivariat Perilaku Tidak Baik Baik Total %CI) Value 0,012 11,500 1,714-77,178 36,00 2,970436,344 17,33 2,174138,175 http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah Berdasarkan hasil analisis hubungan orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu . Peneliti tambahan pangan diperoleh p value 0. pengetahuan berhubungan dengan perilaku maka dapat disimpulkan bahwa terdapat rendah dan kurangnya informasi yang didapat oleh pedagang. Sehingga hubungan dua variabel dengan nilai OR = 11,50 tingkat pendidikan yang rendah dalam Penggunaan Sikap Hasil analisis hubungan antara sikap Bahan Tambahan Pangan berpotensi 11 kali diperoleh p value 0,003 yang berarti ada menyebabkan perilaku Pedagang yang tidak hubungan yang bermakna antara sikap baik dalam Penggunaan Bahan Tambahan Pangan. Hasil penelitian ini sejalan dengan Dengan nilai OR = 36 yang artinya responden penelitian yang dilakukan oleh Santi. N yang bersikap negatif mempunyai peluang . 36 kali untuk menggunaan bahan tambahan pengetahuan yang kurang mengenai bahan pangan dibandingkan dengan responden yang bersikap positif. tambahan pangan, pewarna buatan dan Hasil penelitian ini sejalan dengan pemanis buatan. Pengalaman yang dimiliki penelitian yang dilakukan oleh Chatarina dapat menjadi sumber pengetahuan atau . , yang menyatakan sikap merupakan cara memperoleh kebenaran tentang bahan faktor pendukung dalam penggunaan bahan tambahan makanan. tambahan pangan . Pengetahuan juga dipengaruhi oleh ketersediaan informasi dan Menurut peneliti sikap terbentuk dari pendidikan non formal yang masih sedikit diikuti oleh pedagang jajanan sekolah . Notoatmodjo Kebiasaan bahwa pengetahuan adalah hasil tahu dari menggunakan bahan tambahan pangan untuk mencari keuntungan karna makanan Pengetahuan akan awet lebih lama dan penampilan AuwhatAy. http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat makanan lebih menarik. Banyak pedagang yang tidak baik dalam Penggunaan Bahan yang tidak memahami efek penggunaan Tambahan Pangan Jajanan Anak Sekolah di bahan tambahan makanan yang salah dan SDN Teluk Pucung VII Kecamatan Bekasi berlebihan akan berdampak buruk bagi Utara. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mujianto . Berdasarkan hasil analisis univariat Pembinaan dan Pengawasan dari 30 responden diketahui 64% pedagang Dari hasil penelitian diketahui 29 orang . ,9%) menyatakan Tidak makanan jajanan di Kecamatan Pondok Ada Gede tidak pernah mendapatkan pembinaan pembinaan dan pengawasan sedangkan dan 83% pedagang pangan tidak pernah yang menyatakan Ada dari segi Pembinaan mendapatkan pengawasan . dan Pengawasan hanya sebanyak 6 orang Menurut peneliti Pembinaan dan . ,1%). Hasil uji statistik diperoleh P value = pengawasan berhubungan dengan perilaku 0,009 disimpulkan ada pedagang jajanan. Kurangnya pembinaan hubungan yang signifikan antara Pembinaan dan pengawasan akan mengakibatkan tidak terkontrolnya pedagang dalam memberikan maka dapat Pengawasan Pedagang Perilaku Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Jajanan Anak Sekolah di ketidaktahuan dampak negatif dari bahan SDN Teluk Pucung VII Kota Bekasi. Dari segi tambahan makanan tersebut. analisis diperoleh nilai OR = 17. 333 artinya pengawasan terhadap pedagang berpotensi 17 kali menyebabkan perilaku pedagang SIMPULAN pengetahuan,sikap dan pembinaan dan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Faktor-faktor Sebagian . %) berhubungan dengan penggunaan bahan berperilaku tidak baik dalam penggunaan bahan tambahan pangan Semua faktor-faktor memiliki hubungan menggunaan bahan tambahan pangan http://ejournal. id/index. php/jukmas JUKMAS : Jurnal Kesehatan Masyarakat dibandingkan dengan responden yang bersikap positif BPOM RI. Program Nasional Peningkatan Keamanan Pangan jajanan. Santi Novita RA. Tingkat Pengetahuan DAFTAR PUSTAKA