Education Achievment: Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Journal Homepage: http://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr Model Kepemimpinan Pendidikan Kewirausahaan di SMK: Integrasi Pembelajaran Berbasis Industri dan Teaching Factory dalam Membangun Ekosistem Wirausaha Sekolah Yulia Fransiska1. Yusma Elda2. Anwar Sadat3. Giatman4. Sukardi5 1,2,3,4,5 Universitas Negeri Padang. Indonesia Corresponding Author: : yuliafransiska. slk@gmail. ABSTRACT ARTICLE INFO Article history: Received 01 November 2025 Revised 05 December 2025 Accepted 20 December 2025 Key Word How to cite Penelitian ini bertujuan menganalisis model kepemimpinan pendidikan kewirausahaan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam mengintegrasikan pembelajaran berbasis industri dan Teaching Factory untuk membangun ekosistem wirausaha sekolah yang Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-eksploratif. Data dikumpulkan melalui studi pustaka pada jurnal bereputasi dan buku akademik, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru kewirausahaan, guru produktif, serta mitra dunia usaha dan dunia industri, serta observasi terhadap praktik pembelajaran dan aktivitas Teaching Factory di SMK. Analisis data dilakukan secara tematik melalui tahapan reduksi, pengodean, dan penarikan kesimpulan dengan validitas data dijamin melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah berperan sentral dalam mensinergikan pembelajaran berbasis industri dan Teaching Factory serta menumbuhkan budaya inovasi sekolah. Integrasi tersebut berdampak pada penguatan kompetensi kewirausahaan, kemandirian murid, dan peningkatan relevansi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja. Simpulan penelitian bahwa keberhasilan pendidikan kewirausahaan SMK memerlukan kepemimpinan visioner dan kolaboratif sebagai penggerak utama ekosistem wirausaha Kepemimpinan Pendidikan. Pendidikan Kewirausahaan. Teaching Factory. Pembelajaran Berbasis Industri. SMK https://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Pendidikan kewirausahaan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki peran strategis dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, namun juga memiliki kemampuan berwirausaha, berinovasi, dan beradaptasi terhadap perubahan pasar kerja yang dinamis. Tuntutan kompetensi abad ke-21 mendorong pendidikan vokasi tidak hanya berorientasi kepada penyiapan tenaga kerja, namun juga pembentukan job creator yang mandiri dan berdaya saing (Gibb, 2011. Rae, 2. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1086-1091 Sehingga pendidikan kewirausahaan menjadi elemen kunci dalam peningkatan kualitas lulusan SMK. Berbagai kewirausahaan di pendidikan vokasi masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar. Pembelajaran kewirausahaan masih sering bersifat teoritis dan kurang relevan dengan praktik nyata layaknya di industri dan belum terintegrasi dengan pengembangan budaya kewirausahaan di sekolah (Neck & Corbett, 2. Lemahnya keterkaitan antara sekolah dan dunia kerja berdampak pada rendahnya relevansi kompetensi kewirausahaan lulusan terhadap kebutuhan pasar kerja (Billett, 2011. OECD, 2. Menjawab tantangan tersebut, pembelajaran berbasis industri dan Teaching Factory menjadi alternatif solusi dalam pendidikan vokasi. Pembelajaran berbasis industri memberikan pengalaman belajar autentik melalui keterlibatan langsung murid dalam kerja nyata dan Teaching Factory memungkinkan integrasi proses produksi, pembelajaran, dan kewirausahaan dalam lingkungan sekolah (Achtenhagen et al. , 2017. Sudira, 2. Penelitian menunjukkan bahwa Teaching Factory mampu meningkatkan kompetensi teknis sekaligus keterampilan kewirausahaan murid melalui pembelajaran berbasis proyek dan problem riil industri (Chryssolouris et al. , 2. Keberhasilan implementasi kedua pendekatan tersebut tidak terlepas dari peran kepemimpinan sekolah. Kepala Sekolah yang visioner dan transformasional terbukti berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan inovasi pembelajaran, penguatan kemitraan industri, dan pembentukan budaya kewirausahaan di sekolah (Leithwood et , 2020. Bush, 2. Sebagian besar penelitian masih memfokuskan kajian pada aspek pembelajaran atau kemitraan industri secara parsial, dan masih kurang mengkaji secara mendalam bagaimana kepemimpinan pendidikan kewirausahaan mampu mengintegrasikan pembelajaran berbasis industri dan Teaching Factory dalam satu ekosistem wirausaha sekolah. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini dibutuhkan untuk mengkaji model kepemimpinan pendidikan kewirausahaan di SMK yang mampu mensinergikan pembelajaran berbasis industri dan Teaching Factory. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka konseptual integratif yang memadukan dimensi kepemimpinan, pembelajaran, dan budaya sekolah dalam membangun ekosistem wirausaha SMK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kepemimpinan kepala sekolah dalam mengarahkan, mengelola, dan memperkuat implementasi pendidikan kewirausahaan berbasis industri dan Teaching Factory. Temuan penelitian diharapkan memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan kajian pendidikan kewirausahaan vokasi serta implikasi praktis bagi pengelolaan dan kebijakan SMK di era transformasi pendidikan. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1086-1091 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptifeksploratif untuk mengkaji model kepemimpinan pendidikan kewirausahaan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melalui integrasi pembelajaran berbasis industri dan Teaching Factory dalam membangun ekosistem wirausaha sekolah. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu studi pustaka, wawancara mendalam, dan observasi lapangan. Studi pustaka difokuskan pada penelaahan artikel ilmiah bereputasi, buku akademik, serta dokumen kebijakan nasional yang relevan dengan kepemimpinan pendidikan, kewirausahaan vokasi, pembelajaran berbasis industri, dan Teaching Factory. Wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur terhadap informan yang dipilih secara purposive, meliputi kepala sekolah, guru kewirausahaan, guru produktif, serta mitra dunia usaha dan dunia industri. Observasi dilakukan secara langsung terhadap praktik pembelajaran kewirausahaan, implementasi Teaching Factory, dan aktivitas kewirausahaan sekolah untuk memperoleh data kontekstual yang autentik. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, pengodean, kategorisasi, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada konteks dan lokasi penelitian, namun temuan diharapkan memberikan kontribusi konseptual dan praktis yang relevan bagi pengembangan kepemimpinan kewirausahaan di SMK. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan kewirausahaan di SMK sangat ditentukan oleh kemampuan kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun integrasi yang utuh antara pembelajaran berbasis industri. Teaching Factory, dan budaya kewirausahaan sekolah. Temuan ini diperoleh melalui sintesis studi pustaka, wawancara mendalam, dan observasi lapangan yang saling menguatkan. Peran Kepemimpinan dalam Penguatan Pendidikan Kewirausahaan SMK Wawancara dengan kepala sekolah dan guru kejuruan menunjukkan bahwa kepala sekolah berperan sebagai perancang ekosistem wirausaha sekolah, bukan sekadar administrator. Kepemimpinan transformasional tercermin dalam kemampuan kepala sekolah merumuskan visi kewirausahaan sekolah, menggerakkan guru lintas mata pelajaran, serta membangun kemitraan strategis dengan dunia kerja. Pada SMK yang diteliti, kepala sekolah secara aktif mendorong perubahan paradigma pembelajaran dari berorientasi kelulusan menuju penciptaan nilai . alue creatio. Temuan ini sejalan dengan Leithwood et al. yang menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional mampu meningkatkan kapasitas organisasi sekolah dalam mengadopsi inovasi pembelajaran. Pada praktiknya, kepemimpinan diwujudkan melalui kebijakan sekolah yang memberi ruang fleksibilitas kurikulum kewirausahaan. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1086-1091 dukungan terhadap unit produksi, serta penyediaan insentif bagi guru dan murid yang terlibat dalam Teaching Factory. Integrasi Pembelajaran Berbasis Industri dan Teaching Factory Observasi lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis industri dan Teaching Factory tidak berjalan optimal jika diterapkan secara terpisah. SMK yang berhasil mengembangkan kewirausahaan adalah sekolah yang mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut dalam satu alur pembelajaran. Murid tidak hanya mempelajari konsep bisnis, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi, pengendalian mutu, pemasaran, hingga evaluasi produk atau jasa. Tabel 1 menyajikan hasil sintesis temuan lapangan terkait bentuk integrasi tersebut. Tabel 1. Integrasi Pembelajaran Berbasis Industri dan Teaching Factory di SMK Pembelajaran Dampak Aspek Teaching Factory Berbasis Industri Kewirausahaan Konteks Lingkungan Pembelajaran Dunia kerja nyata produksi sekolah autentik Pendamping. Peran industri Mitra produksi Relevansi pasar Aktivitas Magang, proyek Produksi dan Penguatan Nilai tambah Kesiapan menjadi Hasil belajar Kompetensi kerja job creator Integrasi ini memperkuat temuan Chryssolouris et al. bahwa Teaching Factory efektif jika dikaitkan langsung dengan kebutuhan industri dan pasar. Budaya Sekolah sebagai Penopang Ekosistem Wirausaha Hasil wawancara mengungkap bahwa keberlanjutan pendidikan kewirausahaan sangat dipengaruhi oleh budaya sekolah. Budaya inovasi, kolaborasi, dan keberanian mengambil risiko menjadi faktor penentu. Kepala sekolah berperan strategis dalam menumbuhkan budaya tersebut melalui keteladanan, komunikasi visi, serta sistem penghargaan yang mendorong kreativitas murid. Observasi menunjukkan bahwa sekolah melalui budaya kewirausahaan yang kuat memiliki aktivitas rutin seperti pameran produk siswa, inkubasi bisnis sekolah, dan kolaborasi lintas kompetensi keahlian. Hal ini memperkuat argumen Neck dan Corbett . bahwa kewirausahaan harus diposisikan sebagai praktik sosial yang tumbuh dalam ekosistem, bukan sekadar mata pelajaran. Model Konseptual Ekosistem Wirausaha SMK Kepemimpinan transformasional kepala sekolah berada di pusat model sebagai penggerak utama. Kepemimpinan ini menghubungkan pembelajaran berbasis industri dan Teaching Factory, yang selanjutnya membentuk budaya inovasi sekolah. Interaksi Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1086-1091 ketiga komponen tersebut menghasilkan ekosistem wirausaha sekolah yang berkelanjutan, ditandai dengan meningkatnya kompetensi kewirausahaan, kemandirian murid, dan relevansi lulusan dengan kebutuhan pasar. Model ini menunjukkan kebaruan penelitian karena memadukan dimensi kepemimpinan, pembelajaran, dan budaya sekolah secara simultan, yang belum banyak dikaji secara komprehensif dalam penelitian terdahulu. Implikasi dan Keterbatasan Implikasi praktis penelitian ini menegaskan bahwa penguatan kewirausahaan SMK tidak cukup melalui kurikulum atau fasilitas semata, melainkan membutuhkan kepemimpinan sekolah yang visioner dan kolaboratif. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian kepemimpinan pendidikan vokasi dengan pendekatan ekosistem Keterbatasan penelitian terletak pada konteks lokasi yang spesifik, sehingga generalisasi temuan perlu dilakukan secara hati-hati. Namun demikian, model konseptual yang dihasilkan dapat dijadikan rujukan adaptif bagi SMK lain dengan karakteristik serupa. KESIMPULAN Keberhasilan pendidikan kewirausahaan di SMK sangat bergantung pada kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam membangun integrasi yang sinergis antara pembelajaran berbasis industri. Teaching Factory, dan budaya sekolah. Kepemimpinan yang visioner dan kolaboratif berperan sebagai penggerak utama terbentuknya ekosistem wirausaha sekolah yang berkelanjutan, di mana proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan kompetensi teknis, tetapi juga pada penciptaan nilai, inovasi, dan kemandirian murid. Integrasi pembelajaran dengan konteks industri nyata serta penguatan budaya inovasi terbukti meningkatkan relevansi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja dan memperkuat kesiapan mereka sebagai job creator. Dibandingkan dengan penelitian terdahulu yang cenderung mengkaji aspek pembelajaran atau kemitraan industri secara parsial, penelitian ini memberikan kontribusi penting melalui model konseptual integratif yang memadukan dimensi kepemimpinan, pembelajaran, dan budaya sekolah. Dengan demikian, hasil penelitian ini memiliki implikasi strategis bagi pengembangan teori kepemimpinan pendidikan vokasi serta praktik pengelolaan dan kebijakan SMK di era transformasi DAFTAR PUSTAKA