Early Child Research and Practice - ECRP, 2023: 4. , 21-26 JalanMeranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 Upaya Meningkatkan Perkembangan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggunting Pola Pada Anak Nurhayati. Rika Partika Sari. Mimpira Haryono Affiliation: PAUD HARAPAN BUNDA Desa Dusun Tengah Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma Corresponding Author: nyati5864@gmail. rkpar85@gmail. Abstract Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah melalui penerapan menggunting pola dapat meningkatkan perkembangan motorik halus pada anak di PAUD Harapan Bunda Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang difokuskan pada situasi kelas, atau lazim dikenal dengan classroom action research prosedur yang digunakan berbentuk siklus . Subjek utama dalam penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun yang berhumlah 15 orang anak. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model jhon Elliot dimana setiap siklus terdiri dari empat kegiatan pokok yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Tekhnik pengumpulan data menggunkan metode observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif-kuantitatif dengan penekannya digunakan untuk menentukan peningkatan proses yang dinyatakan dalam sebuah predikat, sedangkan analisi data kuantitatif digunakan untuk menentukan peningkatan hasil dengan menggunkan persentase. Hasil peninggkatan perkembangan motorik halus pada anak PAUD Harapan Bunda pada siklus I dengan persentase 78%. Sedangkan di siklus II dengan persentase 98%. Simpulan penelitian bahwa penerapan menggunting pola dapat meningkatkan perkembangan motorik halus pada anak di PAUD Harapan Bunda Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma. , terbukti pada siklus II terjadi peningkatan signifikan, hasil persentase pencapaian sebesar 98% dengan kriteria berkembang sangat baik (BSB). Keyword: Perkembangan Motorik Halus. Menggunting Pola Pendahuluan Perkembangan motorik sering dijadikan sebagai tolak ukur untuk membuktikan bahwa anak tumbuh dan berkembang dengan baik. Perkembangan motorik adalah sesuatu yang membicarakan gerakan jasmani yang terkoordinasi, sehingga dalam pengembangannya dibutuhkan berbagai stimulasi yang tepat untuk anak usia dini. Perkembangan motorik merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan perkembangannya pada anak usia dini. Salah satu aspek perkembangan yang mempunyai pengaruh besar dalam belajar anak yaitu aspek perkembangan motorik halus (Fitriani, 2018: . Motorik halus merupakan kemampuan mengendalikan gerakan melalui kegiatan pusat syaraf, urat syraf, dan otot yang terkoordinasi seperti gerakan jari-jemari (Karyati, 2019: . Motorik halus merupakan gerakan yang melibatkan otot-otot kecil dalam tubuh, seperti keterampilan menggunakan jari-jemari dan gerakan yang membutuhkan koordinasi jari dan tangan (Afandi, 2019: . Motorik halus adalah pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari-jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi dengan tangan, keterampilan yang mencakup pemanfaatan menggunakan alat-alat untuk mengerjakan suatu objek (Nofianti, 2022: . Motorik halus adalah gerakan halus yang melibatkan bagian-bagian tertentu saja yang dilakukan oleh otototot kecil saja, karena tidak memerlukan tenaga tetapi motorik halus memerlukan koordinasi yang cermat dan tepat dengan penuh kesabaran serta konsentrasi seperti menggunting kertas dengan hasil guntingan yang lurus maupun zig zag, menggunakan klip untuk menyatukan dua lembar kertas, menjahit pola, menganyam kertas-kertas (Wandi, 2020: . e-ISSN 2723-5718 Permendiknas RI No. 137 Tahun 2014 tentang Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan anak usia 5-6 tahun dikemukakan taraf perkembangan motorik halus, meliputi: mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit, menggambar sesuai gagasannya, meniru bentuk, melakukan eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan, menggunakan alat tulis dan alat makan dengan benar, menggunting sesuai dengan pola, menempel gambar dengan tepat, mengekspresikan diri melalui gerakan menggambar secara Tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama dalam perkembangannya, masih banyak anak mengalami kesulitan dalam menggerakkan jari-jarinya untuk kegiatan seperti menggunting pola, mengambar, melipat, dan mengisi pola dengan nempelkan bendabenda kecil, membentuk, meremas, menyusun benda dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan tersebut seperti media yang terbatas, anak belum bisa memegang gunting dengan benar, belum bisa menempel sesuai pola, maupun metode dan strategi yang kurang tepat dalam pembelajarannya. Hasil pengamatan di Satuan Paud Harapan Bunda Kabupaten Seluma saat pendidik menstimulasikan perkembangan motorik halus seprti menyusun balok, menggunting, mewarnai gambar, menarik garis, menempel dan menulis. Dari jumlah 15 anak dikelompok B, terdapat beberapa anak saja yang dapat berkembang dengan baik secara optimal selebihnya masih terdapat anak yang belum mampu mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit, belum dapat meniru bentuk, belum dapat menggunting sesuai dengan pola, belum dapat menempel gambar dengan tepat. Kesiapan pendidik untuk mengembangkan keterampilan motorik halus juga masih kurang, pengembangan motorik halus pada Satuan Paud tersebut masih menggunakan metode pembelajaran konvensional. Permasalahan yang terkait dalam kurangnya kemampuan anak dalam mengembangkan motorik halus disebabkan oleh sekolah hanya menggunakan buku dan lembar kerja siswa berupa buku majalah, penggunaan teknik yang kurang menarik minat anak dan penggunaan media yang kurang variatif sehingga kurang ruang untuk mengembangkan kemampuan motorik halus dan indikasi pada pembelajaran ini kurang maksimal. Hal ini disebabkan oleh penggunaan teknik yang biasa saja, motivasi guru pada anak kurang maksimal, pemberian kebebasan kepada anak dalam berekspresi kegiatan motorik halus masih kurang, serta ide dan gagasan dalam menciptakan media untuk menstimulasi anak masih belum kreatif. Berbagai macam teknik yang ditemukan untuk mengembangkan motorik halus anak salah satunya melalui kegiatan menggunting pola. Menggunting adalah memotong sesuatu dengan pola tertentu dengan gunting (Wardany, 2022: . Menggunting merupakan kegiatan memotong sesuatu menggunakan alat berupa gunting. Kegiatan menggunting pola ini merupakan salah satu keterampilan yang dibutuhkan oleh anak dalam kehidupannya seharihari. Menggunting merupakan kegiatan kreatif yang menarik bagi anak-anak. Menggunting termasuk teknik dasar untuk membuat aneka bentuk kerajinan tangan, bentuk hiasan dan gambar dari bahan kertas denganmemakai bantuan alat pemotong . Anak dapat menggunting aneka kertas maupun bahan-bahan lain dengan mengikuti alur, garis . atau bentuk- bentuk lain (Panggabean, 2022: . menggunting adalah memotong berbagai aneka kertas atau bahan-bahan lain dengan mengikuti alur, garis atau bentuk-bentuk tertentu yang merupakan salah satu kegiatan yang dapat mengembangkan motorik halus anak. Metode Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang difokuskan pada situasi kelas, atau lazim dikenal dengan classroom action research prosedur yang digunakan berbentuk siklus . Wardhani . 3: . penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. Dalam PTK ini peneliti Early Child Research and Practice - ECRP, 2023: 4. , 21-26 JalanMeranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 menggunakan model Jhon Elliot maka dalam setiap siklus terdiri dari empat kegiatan pokok yaitu: perencanaan . , pelaksanaan . , pengamatan . , dan refleksi . Subjek penelitian ini adalah berjumlah 15 orang anak pada kelompok bermain. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa lembar lembar observasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif kualitatif-kuantitatif. Analisis dilakukan pada setiap siklus menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Ngalim Purwanto . 0: . Hasil Penelitian Berdasarkan hasil reflesi dari 15 anak di Satuan PAUD HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma berdasarkan aspek yang diamati pada siklus I persentase yang didapat yaitu 78% dengan kriteria (BSH). Dari hasil refleksi diatas perkembangan bahasa reseftif pada anak melalui kegiatan bermain peran di PAUD HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma setelah tindakan pada siklus II menunjukkan bahwa sudah mengalami peningkatan dengan baik, terlihat 15 orang anak dari aspek yang diamati menunjukkan kriteria penilaian Berkembang Sangat Baik (BSB). Hal ini dikarenakan adanya jeda waktu yang diberikan untuk membantu anak memahami konsep permainan yang diberikan sebelum memasuki siklus II. Persentase keberhasilan secara keseluruhan yang diperoleh pada Siklus II Pertemuan ke I sebesar 98% . riteria BSB) Sehinnaga mencapai sesuai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka penelitian dihentikan. Pembahasan Penelitian tindakan dilakukan untuk mengetahui peningkatkan perkembangan motorik halus melalui kegiatan menggunting pola pada kelompok B di PAUD HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma. Hasil penelitian pada Siklus I, dapat diketahui meningkat secara bertahap. Peningkatan yang dicapai pada Siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang telah Pada Siklus 1 motorik halus melalui kegiatan menggunting pola baru mencapai 78% dengan kriteria Berkembang Sesuai Harapan. Hasil persentase pencapaian yang diperolah pada Siklus I belum mencapai persentase yang diharapkan menurut Anas Sudjiono, 2010 . alam Zuhut Ramdani, 2021: . sebesar 80% - 100% atau kriteria BSB, sehingga penelitian dilanjutkan pada Siklus II. Hasil penelitian pada Siklus II, dapat diketahui kemampuan anak meningkat dratis. Peningkatan yang dicapai pada Siklus II mampu mencapai indikator keberhasilan yang telah Hasil persentase pencapaian yang diperoleh pada Siklus II berhasil mencapai kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) dengan peningkatan prosentase mencapai 98%. Pada siklus ini anak sudah mampu secara keseluruhan melalukan kegiatan menggunting pola dengan Hal ini sesuai dengan indikator keaksaraan menurut Permendikbud No. 137 Tahun 2014 yaitu anak dapat menggunakan alat tulis dengan benar, anak dapat menggunting sesuai dengan pola, anak dapat menempel gambar dengan tepat. pelaksanaan tindakan pada Siklus I persentase perolehan sebesar 78% . riteria BSH) belum mencapi kriteria yang diharapkan sehingga perlu dilakukan pada siklus ke II. Pada Siklus ke II menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan tindakan pada Siklus I, persentase hasil pencapaian pada Siklus II sebesar e-ISSN 2723-5718 98% dan . riteria BSB) Berdasarkan persentase hasil pencapaian pada Siklus II, sudah mencapai indikator keberhasilan terjadi peningkatan pada peserta didik kelompok B di HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma, ini sejalan dengan kriteria penilaian yang diterapkan menurut Anas Sudjiono, 2010 . alam Zuhut Ramdani, 2021: . Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti menarik kesimpulan bahwa melalui kegiatan menggunting pola dapat meningkatkan motorik halus pada anak kelompok B di PAUD HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari adanya peningkatan persentase setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I dan siklus II. Pelaksanaan tindakan pada siklus I, persentase yang ditunjukkan dari siklus I sebesar 78%. Pelaksanaan tindakan pada Siklus II menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan tindakan pada Siklus I. Persentase hasil pencapaian pada Siklus II sebesar 98% dalam kriteria Berkembang Sangat Baik Artinya mencapai kriteria krtuntasan keberhasilan penelitian 80% 100%. Daftar Pustaka