Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Pengaruh Model Problem Based Learning Berbantuan Peta Konsep Terhadap Motivasi Belajar dan Kompetensi Pengetahuan IPAS pada Peserta Didik Kelas V SD di Gugus I Kecamatan Busungbiu I Made Supardi Yasa Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia ardiyasa64@gmail. Putu Sanjaya Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia ardiyasa64@gmail. Ni Nyoman Lisna Handayani Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia ardiyasa64@gmail. Abstrak-Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS antara kelompok peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan peta konsep dan kelompok Model Pembelajaran Konvensional (MPK). Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan rancangan posttest only control group design. Populasi penelitian adalah peserta didik SD kelas V di Gugus I Kecamatan Busungbiu tahun pelajaran 2024/2025 yang terdiri atas 7 kelas dengan jumlah populasi 95 orang peserta didik. Sampel diambil dengan cara group random sampling dan berjumlah 57 orang peserta didik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda dan kuesioner motivasi belajar. Kegiatan pembelajaran berlandaskan pada teori konstruktivisme dan teori Ausubel. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriptif dan Manova satu jalur. Berdasarkan hasil analisis data penelitian diperoleh bahwa: . terdapat perbedaan motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS secara bersama-sama antara kolompok peserta didik yang mengikuti pembelajaran model PBL berbantuan peta konsep dan MPK (F = 66,336. p<0,. , . terdapat perbedaan motivasi belajar antara kolompok peserta didik yang mengikuti pembelajaran model PBL berbantuan peta konsep dan MPK (F = 7,271 . p<0,. serta skor rata-rata kelompok PBL berbantuan peta konsep (M = 140,. lebih tinggi dibandingkan dengan MPK (M = 136,. , dan . terdapat perbedaan kompetensi pengetahuan IPAS antara kolompok peserta didik yang mengikuti pembelajaran model PBL berbantuan peta konsep dan MPK (F = 45,611. p<0,. serta skor rata-rata kelompok PBL berbantuan peta konsep (M = 22,. lebih tinggi dibandingkan dengan MPK (M = 20,. Hasil analisis data penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS kelompok peserta didik yang dibelajarkan dengan model PBL berbantuan peta konsep lebih tinggi dibandingkan dengan model konvensional. Kata Kunci: PBL Berbantuan Peta Konsep. Motivasi Belajar, dan Kompetensi Pengetahuan IPAS PENDAHULUAN Pendidikan menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi Makna pernyataan di atas adalah melalui pendidikan setiap peserta didik WIDYA ACCARYA 2025 disediakan berbagai kesempatan belajar keterampilan dan sikap untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan Oleh karena itu, peningkatan pendidikan perlu dilakukan sehingga mampu memberikan bekal ilmu pengetahuan dan teknologi kepada peserta P a g e 189 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index didik untuk dapat bersaing di dalam masyarakat yang semakin kompetitif. Peningkatan kualitas seharusnya bertumpu pada empat pilar pendidikan, yaitu . learning to know, . learning to do, . learning to be, dan . learning to life together (Rohmah. al, 2024:. Keempat pilar pendidikan ini dapat dijadikan pendukung terwujudnya proses pembelajaran yang dapat mendorong pengembangan potensi siswa secara Untuk itu guru harus memiliki wawasan dan kerangka berpikir yang holistik tentang pembelajaran. Ini merupakan salah satu paradigma berpikir tentang pendidikan di masa depan. Pendidikan berwawasan masa depan diartikan sebagai pendidikan yang dapat menjawab tantangan masa depan, yaitu suatu proses yang dapat melahirkan individu-individu pengetahuan, keterampilan, dan nilai- nilai yang diperlukan untuk hidup dan berkiprah dalam era globalisasi (Dantes. et al, 2020:. Salah satu mata pelajaran di Sekolah Dasar (SD) yang memerlukan kegiatan aktif peserta didik adalah Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Pembelajaran IPAS yang dilaksanakan secara aktif akan menunjang tercapainya tujuan pembelajaran IPAS itu Tercapainya tujuan pembelajaran IPAS akan menjadi salah satu indikator keberhasilan pembelajaran IPAS dan begitu Oleh karena itu, pembelajaran IPAS mewujudkanProfil Pelajar Pancasila sebagai gambaran ideal profil peserta didik Indonesia (BSKAP Kemdikburistek, 2022: Kurikulum merdeka saat ini telah mengintegrasikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Tujuan pembelajaran IPAS pada kurikulum merdeka, yaitu mengembangkan ketertarikan serta rasa ingin tahu, berperan aktif. WIDYA ACCARYA 2025 mengenali diri sendiri dan lingkungannya, dan mengembangkan pengetahuan serta konsep IPAS (Agustina, et al. , 2022: 9. Pembelajaran IPAS tidak sekedar menuntut peserta didik menghafal sejumlah konsep dan prinsip IPAS yang ada. Pembelajaran IPAS mengembangkan kebiasaan peserta didik mengkonstruksi penegtahuannya agar lebih Kompetensi pengetahuan yang dibangun melalui kegiatan aktif peserta didik sangat menentukan keberhasilan belajar. Keberhasilan belajar yang dimaksud adalah pengetahuan IPAS. Peningkatan kompetensi pengetahuan IPAS tentunya dilakukan melalui kegiatan belajar yang ditunjang dengan motivasi belajar yang baik. Pemerintah telah melakukan banyak Usaha yang dilakukan sertifikasi guru, peningkatan kualitas sarana prasarana, dan pengembangan model pembelajaran inovatif (Fatmawati. , 2. Perbaikan kualitas pembelajaran ini dimaksudkan menyediakan peluang kepada peserta didik untuk lebih termotivasi dalam pengetahuan yang lebih baik. Melalui usaha yang telah dilakukan semestinya motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS menjadi lebih baik. Usaha yang telah dilakukan ternyata belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Peserta didik memandang IPAS sebagai mata pelajaran yang menakutkan dan tidak menarik untuk Saat ini peserta didik lebih menyukai pembelajaran yang inovatif. Sering terjadi seorang peserta didik hanya disiapkan sebagai seorang anak yang harus mau mendengarkan, mau menerima seluruh informasi, dan menaati segala instruksi dan perlakuan gurunya. Kenyataan ini didukung oleh kondisi yang terjadi di Gugus I Kecamatan Busungbiu sesuai dengan kegiatan observasi yang dilakukan di kelas V pada tanggal 11 November 2024. Berdasarkan hasil obeservasi yang dilakukan diperoleh hasil sebagian besar peserta didik P a g e 190 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index beranggapan IPAS sebagai pembelajaran yang menakutkan dan membosankan sehingga tidak menarik untuk dipelajari, . penjelasan guru selalu dijadikan sumber belajar yang utama oleh peserta didik dibandingkan mencoba untuk mencari tahu sendiri materi yang dipelajari, . jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh guru tergolong tidak sesuai dengan konsep yang diharapkan, . peserta didik tidak terbiasa menghubungkan fenomena nyata dengan materi yang akan dipelajari sehingga tidak menggunakan pengetahuan awalnya dengan baik, . peserta didik belum terbiasa menyimpulkan isi kegiatan pembelajaran yang telah dipelajari, . sebagian peserta didik cepat merasa putus asa apabila menemukan kesulitan dalam pembelajaran, . guru belum menggunakan model pembelajaran yang berbantuan peta konsep, . kurangnya kegiatan yang menarik dalam belajar, sehingga peserta didik merasa tidak betah dalam mengikuti kegiatan di kelas, . kurangnya keinginan dan hasrat peserta didik untuk berhasil dalam mengikuti setiap kegiatan pembelajaran, dan . masih rendahnya hasil penilaian sumatif akhir semester IPAS pada sebagian besar peserta didik sebagai akibat dari rendahnya motivasi dan kompetensi pengetahuan IPAS. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan IPAS perlu dikembangkan pemecahan masalah. Selain itu, kegiatan kemampuan awal dan mengaitkannya dengan masalah kontekstual dalam proses menyelidiki dan menemukan (Guntur et al,. Kegiatan pembelajaran sebaiknya dirancang dengan mengikuti prinsip-prinsip khas yang edukatif, yaitu kegiatan yang berfokus pada kegiatan aktif peserta didik dalam membangun makna. Kompetensi pengetahuan peserta didik akan sesuatu yang terjadi selama proses belajar akan lebih baik awalnya dan menghubungkannya dengan masalah kontekstual serta diwujudkan dalam bentuk peta konsep. Salah satu model WIDYA ACCARYA 2025 pembelajaran yang menekankan pada kemampuan menyelidiki dan menemukan dalam mengkonstruksi pengetahuan peserta didik adalah model Problem Based Learning (PBL) berbantuan peta konsep. Negara-negara yang sudah maju menyatakan Auteaching is the guidance of learningAy (Slameto, 2010: . Pernyataan ini mempunyai arti bahwa mengajar adalah bimbingan kepada peserta didik dalam proses Kegiatan aktif peserta didik akan mendukung tercapainya motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS yang baik. Hal ini tidak terlepas dari penemuan, kerja kelompok, dan perubahan konsep telah lama pengetahuan alam (Slavin, 2011: . Peserta didik Sekolah Dasar masih melihat seluruhnya secara terpadu, sederhana, holistik, dan komprehensif walaupun tidak detail, dengan digabungkannya pelajaran IPA dan IPS ini diharapkan peserta didik mampu mengklasifikasikan pelajaran mengenai lingkungan alam dan lingkungan sosial secara penuh (Sulasriani et , 2023. Wicaksono & Sayekti, 2. Model konsep yang menggambarkan prosedur pencapaian tujuan pembelajaran tertentu (Musyawir et al. , 2022: . Model Problem Based Learning (PBL) dibentuk dengan landasan teori-teori yang sangat inovatif . isal konstruktivisme dan pembelajaran meletakkan permasalahan yang melibatkan berbagai disiplin ilmu untuk mendapatkan solusi yang tepat. Model Problem Based Learning (PBL) lebih menekankan kepada aktivitas peserta didik mencari solusi dan kehidupan nyata (Meilasari. et al. Selain itu, model PBL adalah sebuah cara memanfaatkan masalah untuk membangkitkan motivasi belajar (Rusman, 2018:. Model Problem Based Learning (PBL) memberikan tanggung jawab kepada peserta didik untuk menganalisis dan memposisikan diri sebagai fasilitator dan P a g e 191 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index memberikan bimbingan terhadap segala aktivitas yang dilakukan peserta didik pada saat kegiatan pembelajaran. Adanya aktivitas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh peserta didik akan memberikan dampak terhadap peningkatan Masalah-masalah kontekstual yang digunakan sebagai dasar dalam proses belajar diharapkan dapat memudahkan peserta didik memahami IPAS dapat meningkat. Pembelajaran IPAS merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat melatih kemampuan dalam aplikasi metodelogi ilmiah pada peserta didik. Prinsip-prinsip dasar metodelogi ilmiah akan melatih sikap Sikap ilmiah sangat penting dimiliki setiap peserta didik saat ini. Sikap ilmiah tersebut mencakup tingginya rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kemampuan menganalisis permasalahan, dan membangun kesimpulan yang tepat (Zein, 2. Sikap ilmiah ini diyakini dapat membentuk kebijaksanaan pada diri peserta didik dan tentunya merupakan salah satu cara membentuk generasi yang berkarakter. Terbentuknya pembelajaran IPAS di sekolah secara langsung akan memperkuat kemampuan literasi sains peserta didik. IPAS pada jenjang Sekolah Dasar (SD) bertujuan untuk mengembangkan kemampuan literasi dasar (Wijayanti, et al. , 2. Literasi dasar ini perlu menjadi perhatian pendidik untuk dapat mengelola pembelajaran yang lebih Model Problem Based Learning (PBL) dalam konteks bahasa Indonesia dikenal dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah. Model Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang memfokuskan peserta didik untuk terlibat dan memecahkan masalah nyata dalam kegiatan pembelajaran (Leuwol at al. , 2023: . Proses pembelajaran dengan model ini tentunya akan mengkondisikan peserta didik untuk mencari solusi dari masalah kontekstual. Untuk dapat mencari solusi dari masalah IPAS yang ditemukan tentunya diperlukan kemampuan pemahaman konsep, analitis, dan sintesis untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat. II. METODE Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah post-test only control group design. Desain ini dipilih karena dalam penelitian eksperimen semu tidak memungkinkan untuk merandom subjek yang ada pada setiap kelas secara utuh (Wahyuningsih. , 2. Post-test only control group design merupakan desain penelitian eksperimen kuasi bertujuan untuk menyelidiki perbedaan motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS antara kelompok eksperimen dan kelompok Campbell & Stanley . menyatakan bahwa data penelitian yang hanya menggunakan skor post-test saja tanpa memperhitungkan skor pre-test akan dapat meminimalkan dan mengontrol faktor ancaman validitas internal, yaitu: sejarah . , dan implementasi. Desain penelitian disajikan pada Gambar 1. Eksperimen Kontrol (Dimodifikasi dari Creswell, 2012: . Gambar 1. Desain Penelitian Posttest Only Control Group Design Penelitian ini dilaksanakan di kelas WIDYA ACCARYA 2025 V SD Gugus I Kecamatan Busungbiu pada P a g e 192 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index semester genap tahun pelajaran 2024/2025. Pemilihan lokasi penelitian dan kelas untuk pertimbangan, yaitu pertama, sekolah yang dipilih memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan penelitian, seperti menerapkan kurikulum yang sama dan memiliki permasalahan pembelajaran yang serupa dengan fokus penelitian, yaitu rendahnya motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS. Kedua, kelas yang saya pilih berada pada jenjang yang sesuai, dalam hal ini kelas V, karena materi yang diteliti serta model pembelajaran yang diterapkan relevan dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik pada usia tersebut. Selain itu, kelas yang dipilih juga memiliki jumlah peserta didik yang memadai untuk memenuhi persyaratan analisis statistik, serta guru kelas yang bersedia bekerja sama dalam proses penelitian. Populasi dalam penelitian ini menggunakan kelas V dan ditetapkan 7 kelas sebagai populasi, yaitu kelas V SD Negeri 1 Busungbiu. Kelas V SD Negeri 3 Busungbiu. Kelas V SD Negeri 4 Busungbiu. Kelas V SD Negeri 5 Busungbiu. Kelas V SD Negeri 6 Busungbiu. Kelas V SD Negeri 8 Busungbiu, dan Kelas V SD Negeri 9 Busungbiu. Jumlah populasi pada penelitian ini adalah sebanyak 95 peserta didik. Distribusi jumlah siswa kelas V semester genap dapat dilihat seperti Tabel 1 sebagai Tabel 1. Komposisi Anggota Populasi Kelas Populasi Kelas V SD Negeri 1 Busungbiu Kelas V SD Negeri 3 Busungbiu Kelas V SD Negeri 4 Busungbiu Kelas V SD Negeri 5 Busungbiu Kelas V SD Negeri 6 Busungbiu Kelas V SD Negeri 8 Busungbiu Kelas V SD Negeri 9 Busungbiu Total Populasi Proses penentuan sampel untuk kegiatan penelitian ini diawali dengan melakukan uji kesetaraan berdasarkan nilai Sumatif Akhir Semester (SAS) pada mata pelajaran IPAS. Selanjutnya nilai ini dianalisis dengan menggunakan analisis anava satu jalur (Anava-A) dengan bantuan IBM SPSS Statistics 25. 0 for Windows pada taraf signifikansi 5%. Jika angka signifikansi hitung kurang dari 0,05 maka kelas tersebut tidak setara. Sedangkan jika angka signifikansi hitung lebih besar dari 0,05 maka kelas tersebut setara. Hasil analisis uji kesetaraan dengan Anava-A diperoleh nilai signifikansi antarkelompok lebih dari 0,05 sehingga semua kelas pada populasi dinyatakan setara. Penentuan kelas untuk WIDYA ACCARYA 2025 Jumlah Siswa penelitian dilakukan dengan teknik group random sampling yang dilanjutkan dengan teknik undian sehingga terpilih SD Negeri 1 Busungbiu sebagai kelas kontrol dan SD Negeri 3 Busungbiu sebagai kelas Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah variabel independent dan variabel Variabel independent berupa model Problem Based Learning (PBL) berbantuan peta konsep dan model Variabel dependent, yakni motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS peserta didik. Hubungan antar variabel penelitian seperti pada Gambar 2. P a g e 193 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Peta Konsep Motivasi Belajar Model Pembelajaran Konvensional Kompetensi Pengetahuan IPAS Gambar 2. Hubungan Antar Variabel Penelitian Teknik pengumpulan data yang menggunakan kuesioner untuk mengukur motivasi belajar dan tes dalam bentuk kompetensi pengetahuan IPAS peserta Kuesioner motivasi belajar terdiri atas 30 pernyataan dan tes kompetensi pengetahuan IPAS terdiri atas 25 soal pilihan ganda yang mengacu Taksonomi Anderson & Krahtwohl . pada level HOTS. Sebelum digunakan untuk posttest instrumen terlebih dahulu Uji coba dilakukan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, indeks daya beda, dan tingkat kesukaran tes. Teknik menggunakan statistik deskriptif dan teknik analisis multivariat (Manov. satu jalur yang terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yang terdiri atas uji normalitas multivariat, uji homogentitas varians, uji homogenitas matrik varians, dan uji kolinieritas variabel dependent. Setelah semua uji prasyarat terpenuhi baru dilanjutkan dengan pengujian hipotesis dengan uji Manova satu jalur dan sebagai tindak lanjut Manova adalah uji signifikansi nilai rata-rata antar kelompok yang menggunakan Least Significant Difference (LSD) (Candiasa, 2020:. Teknik penyajian data dilakukan secara deskriptif, tabel, dan i. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis data posttest motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS dianalisis dengan statistik deskritif. Hasil analisis data pada kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan dengan model PBL berbantuan peta konsep dan kelas kontrol yang diberikan perlakuan Model Pembelajaran Konvensional (MPK) dapat sesuai dengan Tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Deskripsi Statistik Motivasi Belajar dan Kompetensi Pengetahuan IPAS Model PBL Berbantuan Peta Konsep dan MPK Motivasi Belajar Kompetensi Pengetahuan IPAS Statistik PBL Berbantuan Peta Konsep MPK PBL Berbantuan Peta Konsep MPK Mean 140,19 136,57 22,74 20,73 Median 141,00 137,00 WIDYA ACCARYA 2025 P a g e 194 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Std. Deviation 5,57 4,77 1,10 1,14 Variance 31,00 20,74 1,20 1,31 Range 18,00 18,00 4,00 5,00 Minimum Maximum (Sumber: Hasil pengolahan data penelit. Berdasarkan hasil analisis data yang disajikan pada Tabel 2 dapat diuraikan bahwa skor maksimum motivasi belajar pada kelompok eksperimen 149 dan pada kelompok kontrol 145 dengan rata-rata 140,19 pada kelompok eksperimen dan 136 pada kelompok kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa motivasi belajar pada peserta didik yang menggunakan model PBL berbantuan peta konsep lebih tinggi daripada pembelajaran konvensional. Selain itu, skor maksimum kompetensi pengetahuan IPAS pada kelompok eksperimen 25 dan pada kelompok kontrol 24 dengan rata-rata 22,74 pada kelompok eksperimen dan 20,73 pada kelompok kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa kompetensi pengetahuan IPAS pada peserta didik yang menggunakan model PBL berbantuan peta konsep lebih tinggi daripada pembelajaran konvensional. Uji normalitas sebaran data menggunakan metode Q-Q Plot Mahalanobis . dan chi kuadrat sentroid . (Candiasa, 2020:. Uji ini dapat dilakukan denganmemanfaatkan bantuan IBM SPSS Statistics 25. 0 for Windows. Kriteria pengujiannya adalah data memiliki sebaran distribusi normal multivariat jika QQ Plot jarak Mahalanobis . dan chi kuadrat . untuk kedua kelompok data Hasil normalitas multivariat dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Hasil Uji Normalitas Multivariat Dari hasil analisis data dengan dahulu melakukan perhitungan WIDYA ACCARYA 2025 terhadap nilai jarak Mahalanobis . dan chi kuadrat sentroid . Hasil perhitungan P a g e 195 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index ini kemudian setelah dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics 25. 0 for Windows untuk dibuatkan scater diagram sesuai Gambar 4. Terlihat pada Gambar 4 menunjukkan bahwa Q-Q plot jarak Mahalanobis . dan chi kuadrat sentroid . cenderung mengikuti garis lurus, sehingga dapat disimpulkan bahwa data motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS dari peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep dan model Uji homogenitas varian untuk motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS dilakukan dengan LeveneAos Test of Equality of Error Variance. Apabila signifikasi varians lebih besar daripada 0,05, maka varian yang ada adalah homogen. Ringkasan uji homogenitas varians dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Uji Homogenitas Motivasi Belajar dan Kompetensi Pengetahuan IPAS Motivasi Belajar Kompetensi Pengetahuan IPAS Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Tabel 3. menunjukkan bahwa nilai-nilai statistik Levene menunjukkan angka signifikansi p > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nol yang menyatakan Auvarians antar kelompok model pembelajaran tidak berbedaAy. Dengan kata lain, bahwa pembelajaran adalah sama . Levene Statistic 2,731 2,463 Sig. 0,104 0,122 2,463 54,808 0,122 2,738 0,000 0,006 0,104 0,983 0,941 0,006 54,675 0,941 0,001 0,977 baik untuk variabel motivasi belajar pengetahuan IPAS. Uji homogenitas matriks varians antar variabel dependen menggunakan BoxAos M test dengan bantuan program SPSS 25. 0 for Windows. Hasil uji homogenitas matriks varians disajikan Tabel Tabel 4. BoxAos M Test untuk Pengujian Kesamaan Matriks Varians Box's M Sig. WIDYA ACCARYA 2025 6,259 2,004 870850,750 0,111 P a g e 196 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Berdasarkan Tabel 4, tampak bahwa nilai F = 2,004 dengan p > 0,05. Ini berarti bahwa hipotesis nol yang menyatakan Aumatriks varians antar variabel dependen tidak berbedaAy. Jadi, matriks varians antar kompetensi pengetahuan IPAS adalah sama . Hal ini berarti bahwa secara kolektif dapat pula diasumsikan terdapat kesamaan varians, sehingga analisis Manova dapat dilanjutkan. Uji korelasi antar variabel mengetahui apakah terdapat korelasi antara variabel dependen. Hasil uji korelasi antar variabel dependen dapat dapat disajikan dalam Tabel 5. Tabel 5. Tabel Hasil Analisis Korelasi antara Motivasi Belajar dan Kompetensi Pengetahuan IPAS Motivasi Belajar Kompetensi Pengetahuan IPAS Kompetensi Pengetahuan IPAS Motivasi Belajar 0,874** Sig. -taile. Pearson Correlation 0,874** 0,000 Sig. -taile. 0,000 Pearson Correlation Hasil analisis korelasi Pearson Kompetensi pengetahuan IPAS dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,874 dan tingkat signifikansi p < 0,01. Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 5 dapat disimpulan bahwa semakin tinggi motivasi belajar peserta didik, maka pengetahuan IPAS. Uji hipotesis pertama dalam penelitian ini menggunakan analisis Manova satu jalur menggunakan bantuan program SPSS 25. 0 for Windows. Hasil analisis uji hipotesis dapat disajikan sebagai Tabel 6 berikut Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Uji Multivariat Uji Hipotesis Pertama Effect Intercept Kelas WIDYA ACCARYA 2025 Pillai's Trace Wilks' Lambda Hotelling's Trace Roy's Largest Root Pillai's Trace Wilks' Lambda Hotelling's Trace Roy's Largest Root Value 0,999 0,001 1031,135 1031,135 0,711 0,289 2,457 2,457 27840,635b 27840,635b 27840,635b 27840,635b 66,336b 66,336b 66,336b 66,336b Hypothesis 2,000 2,000 2,000 2,000 2,000 2,000 2,000 2,000 Error 54,000 54,000 54,000 54,000 54,000 54,000 54,000 54,000 Sig. 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 P a g e 197 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index konvensionalAy. Hal menunjukkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS secara bersama-sama antara peserta didik yang belajar dengan model PBL berbasis peta konsep dan model pembelajaran konvensional. Pengujian dengan test of between-subjects effects. Rekapitulasi hasil test of betweensubjects effects dengan menggunakan SPSS 25. 0 for Windows disajikan pada Tabel 7. Tolak p<0,05, sebaliknya terima H0 jika p>0,05. Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 6 diperoleh nilai-nilai statistik PillaiAos Trace. WilkAos Lambda. HotellingAos Trace, dan RoyAos Largest Root masingmasing dengan F = 66,336 dan p<0,05. Keputusan: H0 yang menyatakan Autidak terdapat perbedaan motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS secara bersama-sama antara peserta didik yang belajar dengan model PBL berbasis peta konsep dan model pembelajaran Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Test of Between-Subjects Effects Uji Hipotesis Kedua Source Corrected Model Intercept Kelas Error Source Total Corrected Total WIDYA ACCARYA 2025 Dependent Variable Motivasi Belajar Motivasi Belajar Motivasi Belajar Motivasi Belajar Depende Variable Motivasi Belajar Motivasi Belajar Type i Sum of Squares 186,068a Mean Square 186,068 Sig. 7,271 0,009 1088406,77 186,068 42532,78 7,271 0,000 186,068 1407,441 25,590 Type i Sum of Squares Mean F Square 1091522,00 1593,509 0,009 Sig. P a g e 198 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Berdasarkan ringkasan yang disajikan pada Tabel 7, dapat ditarik interpretasi bahwa pengaruh model pembelajaran terhadap motivasi belajar peserta didik ditunjukkan dengan harga statistik F sebesar 7,271 dengan p< 0,05. Keputusan: H0 yang menyatakan Autidak terdapat perbedaan motivasi belajar antara peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep dan model pembelajaran konvensionalAy. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar antara peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep dan model pembelajaran konvensional. Pengujian dengan test of between-subjects Rekapitulasi hasil test of between-subjects effects disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Rekapitulasi Hasil Test of Between-Subjects Effects Uji Hipotesis Ketiga Corrected Model Dependent Type i Sum Variable of Squares KP IPAS 57,264b 1 Mean Square 57,264 Intercept Kelas Error Total KP IPAS KP IPAS KP IPAS KP IPAS 26857,825 21392,336 0,000 57,264 45,611 0,000 1,255 Source Berdasarkan rekapitulasi hasil test of between-subjects effects pada Tabel 8, dapat diinterpretasikan bahwa nilai Fhitung = 45,611 dengan taraf signifikansi lebih kecil dari 0,05 . < 0,. Keputusan: H0 yang menyatakan Autidak terdapat perbedaan kompetensi pengetahuan IPAS antara peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep dan model pembelajaran konvensionalAy, ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kompetensi pengetahuan IPAS antara peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep dan model pembelajaran Peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep menunjukkan nilai rata-rata motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS yang lebih baik dibandingkan dengan MPK. Seperti diketahui bahwa model PBL berbantuan peta konsep adalah model pembelajaran yang mudah diterapkan sehingga proses WIDYA ACCARYA 2025 26857,825 1 57,264 1 69,052 55 26928,000 57 Sig. 45,611 0,000 yang digunakan bersifat sistematis dengan kerangka kerja yang jelas menghasilkan produk yang efektif, kreatif, dan efisien (ZatunniAomah. Seseorang belajar jauh lebih baik melalui keterlibatannya secara aktif dalam proses belajar, yakni berpikir tentang apa yang dipelajari dan kemudian menerapkan apa yang telah dipelajari dalam situasi nyata. Model ini memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan proses sains, bersifat kooperatif, fleksibel, menyesuaikan berorientasikan pada masalah yang dikombinasikan dengan struktur peta konsep untuk lebih memudahkan peserta didik menguasai materi yang dipelajari. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lestari & Wulandari . yang menyimpulkan bahwa model PBL berbantuan peta konsep efektif digunakan untuk meningkatkan kompetensi pengetahuan IPAS peserta didik terutama dalam melakukan P a g e 199 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index sehingga keterampilan peserta didik untuk menyelesaikan masalah dan mencari solusi terbaik terbentuk melalui serangkaian sintaks model pembelajaran Para peserta didik membangun pengetahuan mereka sendiri secara aktif dan saling berinteraksi dengan anggota kelompoknya sesuai dengan teori pendekatan konstruktivisme. Kombinasi antara model PBL dan peta konsep terbukti mampu menciptakan lingkungan belajar yang menstimulasi motivasi intrinsik peserta didik, karena mereka merasa memiliki peran aktif dan relevansi dalam kegiatan pembelajaran yang dijalani. Motivasi belajar yang tinggi menjadi faktor penting dalam pencapaian kompetensi IPAS, karena peserta didik yang termotivasi cenderung menunjukkan keterlibatan yang lebih besar, kegigihan dalam menyelesaikan tugas, serta rasa ingin tahu yang mendorong eksplorasi Dalam konteks ini. PBL menyediakan ruang bagi peserta didik untuk belajar melalui situasi masalah yang autentik dan menantang, yang menuntut penerapan pengetahuan lintas Sementara itu, peta konsep membantu peserta didik merumuskan dan mengaitkan ide-ide utama dari permasalahan yang diangkat, sehingga pengetahuan yang dibangun menjadi lebih terstruktur dan mudah diingat. Interaksi antara kedua strategi tersebut tidak hanya berdampak pada penguasaan aspek kognitif peserta didik, tetapi juga keterampilan proses sains yang esensial dalam pembelajaran IPAS. Oleh karena itu, penerapan model pembelajaran PBL berbantuan peta konsep menjadi strategi yang relevan untuk meningkatkan motivasi dan hasil kompetensi IPAS peserta didik di jenjang sekolah dasar. Kegiatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar juga menciptakan suasana kelas yang lebih inklusif dan mendorong interaksi sosial yang positif. Diskusi WIDYA ACCARYA 2025 kelompok memungkinkan peserta didik pengetahuan dan pengalaman, serta mendengarkan dan menghargai pendapat teman. Kondisi ini menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan kolaboratif, yang pada akhirnya meningkatkan kenyamanan psikologis peserta didik dalam belajar. Ketika peserta didik merasa dihargai dan didukung dalam kelompoknya, rasa percaya diri mereka meningkat, dan mereka menjadi lebih termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan Penerapan PBL berbantuan peta konsep yang efektif dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik juga selaras dengan arah dan tujuan Kurikulum Merdeka, yang menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik serta kompetensi dan karakter secara holistik. Kurikulum Merdeka pembelajaran yang memberi ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi, tercermin dalam langkah-langkah PBL. Pada konteks ini, peserta didik bukan sekadar objek yang menerima informasi, tetapi subjek aktif yang membangun pengalaman belajar yang autentik. Peta konsep yang digunakan PBL memberikan kemudahan bagi peserta pengetahuannya dan menjadikan proses belajar lebih bermakna. Ketika peserta didik membuat dan merevisi peta eksplorasi terhadap masalah dan diskusi mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki Proses ini memungkinkan peserta didik membangun skema pengetahuan yang lebih kuat dan terorganisir, serta memahami hubungan antar konsep secara lebih dalam. Hal ini P a g e 200 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index sejalan dengan prinsip transfer of learning, di mana peserta didik tidak hanya mampu mengingat materi, tetapi juga dapat mengaplikasikannya dalam situasi lain di luar kelas (Prawiyogi et , 2. Pada model PBL berbantuan peta konsep, peserta didik diajak untuk menganalisis suatu permasalahan dari informasi dan fakta-fakta yang tersedia. Kemudian peserta didik merancang pemecahan masalah dan mendiskusikan pemecahan masalah tersebut. Setelah itu, peserta didik menerapkan solusi yang telah dipilih untuk suatu permasalahan dan mempresentasikannya secara berkelompok. Tahapan terakhir dalam model PBL berbantuan peta konsep adalah evaluasi, langkah evaluasi ini merupakan evaluasi final sebagai langkah untuk mengukur keefektifan dalam kegiatan pembelajaran terkait dengan empat langkah yang telah Komponen kompetensi pengetahuan IPAS yang dapat dilatih dalam kegiatan ini adalah peserta didik dapat menarik kesimpulan dan mengevaluasinya berdasarkan fakta, masalah lain, menentukan jalan keluar, dan memilih kemungkinan yang akan Akibatnya akan muncul berbagai konsep yang ditemukan oleh peserta didik itu sendiri sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. IV. SIMPULAN Terdapat signifikan variabel motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS secara bersama-sama antara peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep dan model pembelajaran (F=66,336. p<0,. Motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan model PBL berbantuan peta konsep lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan model WIDYA ACCARYA 2025 Berdasarkan temuantemuan tersebut dapat disimpulkan implementasi model PBL berbantuan peta konsep terhadap motivasi belajar dan kompetensi pengetahuan IPAS peserta didik kelas V SD di Gugus I Kecamatan Busungbiu. Terdapat signifikan variabel motivasi belajar antara peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep dan (F=7,271. p<0,. Skor rata-rata motivasi belajar kelompok peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep adalah 140,19 dan skor rata-rata untuk kelompok peserta didik yang belajar dengan model konvensional 136,57. Hasil analisis ini memberikan simpulan bahwa motivasi belajar peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep memberikan hasil lebih tinggi daripada Terdapat pengetahuan IPAS antara peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep dan model pembelajaran konvensional (F=45,611. p<0,. Skor rata-rata kompetensi pengetahuan IPAS kelompok peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep adalah 22,74 dan skor rata-rata untuk kelompok peserta didik yang belajar dengan model konvensional 20,73. Hasil analisis ini kompetensi pengetahuan IPAS peserta didik yang belajar dengan model PBL berbantuan peta konsep memberikan hasil lebih tinggi daripada yang belajar dengan model konvensional. DAFTAR PUSTAKA