Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Analisis SWOT Program Banten dan Ulam Pengabenan Perspektif Pendidikan Hindu Ni Made Muliani Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia muliani86@gmail. Abstract The COVID-19 pandemic has driven a shift in the implementation of Balinese Hindu cremation ceremonies . from traditional domestic practices to crematorium-based services. This transition has weakened the transmission of Hindu religious education values, particularly those conveyed through the making of Banten . and Ulam . itual food. This study aims to analyze the strengths, weaknesses, opportunities, and threats (SWOT) of the Banten and Ulam preparation program at Balai Banjar Busana. Sibanggede Village, as an innovative effort to preserve ritual practices and support bereaved families. Employing a qualitative case study approach, data were collected through participatory observation, in-depth interviews with local customary leaders, an online questionnaire involving 32 community members, as well as visual documentation and literature review. The analysis reveals that the program's strengths lie in its efficiency and community-based ritual education. its weaknesses include limited resources and learning media. its opportunities encompass cultural economic potential and curricular integration. while its threats involve ritual commercialization and weakening customary authority. This study offers practical contributions through strategies such as digital module development, flexible scheduling, and reinforcement of spiritual values, which can serve as a replicable model for other Hindu communities in preserving cultural traditions and religious education. Keywords: SWOT. Banten and Ulam Cremation. Hindu Religious Education Abstrak Pandemi COVID-19 telah mendorong pergeseran pelaksanaan upacara Pengabenan Hindu Bali dari tradisi domestik menuju krematorium, yang berdampak pada melemahnya nilai-nilai pendidikan agama Hindu, khususnya melalui praktik pembuatan Banten dan Ulam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) dari program pembuatan Banten dan Ulam di Balai Banjar Busana. Desa Sibanggede, sebagai upaya inovatif dalam pelestarian ritual dan pendampingan keluarga dari orang yang sudah meninggal. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, kuisioner online kepada 32 warga, serta dokumentasi visual dan Hasil analisis menunjukkan kekuatan program meliputi efisiensi dan pendidikan ritual berbasis komunitas. kelemahan mencakup keterbatasan sumber daya dan media peluang mencakup potensi ekonomi dan integrasi ke kurikulum. ancaman berupa komersialisasi dan melemahnya otoritas adat. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis berupa strategi pengembangan modul digital, penjadwalan fleksibel, dan penguatan nilai spiritual sebagai dasar replikasi program di komunitas Hindu lainnya dalam konteks pelestarian budaya dan pendidikan agama. Kata Kunci: SWOT. Banten dan Ulam Pengabenan. Pendidikan Agama Hindu https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Upacara Pengabenan dalam ajaran Agama Hindu di Bali merupakan bagian dari Panca Yadnya yang memiliki dimensi sakral dan sosio kultural tinggi, di mana Banten dan Ulam Pengabenan menjadi komponen penting dalam mengekspresikan penghormatan kepada leluhur. Namun, praktik ini menghadapi tantangan dalam menjaga keutuhan nilai pendidikan agama Hindu, terutama di Balai Banjar Busana. Perubahan pola ritual terutama semakin bertambahnya prosesi Pengabenan dilakukan di tempat kremasi semenjak adanya pandemi Covid-19, hal ini memicu berkurangnya pembuatan Banten dan Ulam secara mandiri di rumah. Kuburan dan Pura Dalem biasanya digunakan sebagai tempat Pengabenan oleh warga banjar Busana. Desa Sibanggede semakin jarang digunakan untuk prosesi Pengabenan karena beralih ke tempat kremasi. Berdasarkan data tahun 2024 yag didapatkan dari hasil wawancara dengan Kelian Adat banjar Busana, dari 6 warga yang meninggal di tahun tersebut, ada 5 yang prosesi Pengabenan di tempat kremasi dan hanya 1 yang prosesi Pengabenan dilakukan di rumah warga, kuburan dan Pura Dalem wilayah Desa Sibanggede. Apabila hal ini terus berlanjut maka salah satu tradisi leluhur yakni upacara Pengabenan di rumah warga, kuburan dan Pura Dalem masing-masing desa akan terancam mengalami kepunahan. Bahkan setelah pandemi Covid-19 ini pun masih banyak keluarga yang menyelenggarakan prosesi Pengabenan di tempat kremasi karena alasan praktis dan biaya terjangkau. Akhirnya untuk mencegah semakin terkikisnya tradisi leluhur terkait upacara Pengabenan, di bulan Desember 2024, diadakan rapat . banjar Pengabenan lanang di Balai Banjar Busana. Desa Sibanggede. Rapat ini dipimpin oleh Kelian Adat banjar Busana yang menghasilkan terobosan yaitu warga banjar yang keluarganya meninggal bisa memilih dibuatkan Banten dan Ulam Pengabenan di balai banjar Busana selain bisa memilih proses pembuatan di rumah sendiri ataupun di krematorium. Hal ini untuk mempermudah pihak keluarga yang ditinggalkan dari segi tenaga dan tempat. Apabila Banten dan Ulam Pengabenan dibuat di rumah orang yang meninggal, maka pihak keluarga dari orang yang meninggal akan sibuk melayani warga banjar yang membuat Banten dan Ulam Pengabenan tersebut. Selain itu pihak keluarga dari orang yang meninggal juga sibuk mempersiapkan tempat untuk metanding/ membuat Banten dan mebat/membuat Ulam Pengabenan. Setelah warga banjar selesai membuat Banten dan Ulam Pengabenan setiap sesinya, keluarga juga sibuk membersihkan rumah dari sampah pembuatan Banten dan Ulam tersebut. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti, apabila Banten dan Ulam Pengabenan dibuat di balai banjar Busana, maka keluarga dari orang yang meninggal akan terbantu dari segi tenaga dan tempat. Semua Banten dan Ulam Pengabenan dibuatkan oleh warga banjar Busana yang dikoordinir oleh Kelian Adat. Pemangku dan Serati banjar. Untuk alat dan bahan pembuatan Banten dan Ulam Pengabenan, dibawa sesuai dengan yang dimiliki saja oleh keluarga ke Balai Banjar Busana di hari pertama Ngayah Banjar dan kekurangannya diambilkan di balai banjar, dibeli atau dibuatkan oleh warga banjar yang ditugaskan Kelian Adat sesuai giliran . yang diatur. Program membuat Banten dan Ulam Pengabenan di Balai banjar Busana ini mulai berjalan di awal tahun 2025 sampai dengan saat ini. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kelian Adat Banjar Busana, dari 6 warga yang meninggal dari awal tahun 2025 sampai saat ini, ada 4 yang Banten dan Ulam Pengabenan dibuat di Balai Banjar Busana dan hanya 2 yang prosesi Pengabenan ke tempat kremasi. 4 warga yang meninggal dan dibuatkan Banten dan Ulam Pengabenan di Balai Banjar Busana ini mengambil Pengabenan bebangkit 1. Efektivitas program ini belum dianalisis secara sistematis. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana analisis SWOT dari program pembuatan Banten dan Ulam di Balai Banjar Busana dalam perspektif pelestarian budaya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan pendidikan agama Hindu?. Di sisi lain. Balai Banjar Busana sebagai lembaga komunitas Hindu tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana ritus, tetapi juga sebagai wahana pendidikan informal bagi warga banjar. Dalam kerangka tersebut, analisis SWOT diperlukan untuk mengevaluasi: kekuatan . seperti kearifan lokal dan dukungan kelemahan . seperti pelestarian nilai yang kian memudar. berupa peluang edukasi lintas generasi dan digitalisasi budaya. dari modernisasi dan kehilangan makna ritual. Urgensi penelitian ini sangat tinggi mengingat transformasi sosial yang membentuk ulang bentuk ritual Hindu tanpa disertai pemahaman konseptual yang memadai. Jika Banten dan Ulam hanya dipandang sekadar simbol estetis atau kosmetik, maka potensi besar sebagai media pendidikan moral, spiritual, dan kultural akan hilang. Sementara itu. Balai Banjar Busana berperan sebagai pondasi lokal yang bisa menjadi agen utama pelestarian nilai tersebut. Lebih jauh, literatur menunjukkan teknologi edukatif dapat memperluas jangkauan nilai ritual tanpa menghilangkan makna spiritual. Darmawiguna . menekankan peran VR dan video tutorial dalam melestarikan ritual Bali. Terkait prosesi Pengabenan ini juga diteliti oleh Subawa . menggunakan metode kualitatif fenomenologis untuk menganalisis pengaruh subsidi silang dalam pengelolaan upacara ngaben di Desa Penyaringan. Jembrana. Temuan utamanya: . ritual ngaben tradisional . umah, kubura. mengandung nilai lokal tinggi, tetapi memerlukan waktu & biaya. Pengabenan di krematorium lebih praktis dan efisien, namun berpotensi melemahkan transfer nilai ritual seperti menyamabraya, nguopin, dan pengetahuan upakara dan . model subsidi silang . ross-subsidie. memungkinkan masyarakat tetap melaksanakan ngaben tradisional tanpa merasa terbebani biaya, mempertahankan nilai ritual. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Subawa, sepakat tentang hasil penelitian Subawa yang nomor 1 dan 2. Sedangkan perbedaannya. Subawa memberikan solusi berupa model subsidi silang, sedangkan lokasi penelitian ini memberikan solusi program pembuatan Banten dan Ulam Pengabenan di Balai Banjar. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menerapkan analisis SWOT secara khusus pada konteks pendidikan agama Hindu berbasis komunitas balai banjar, sebuah pendekatan yang masih jarang dijadikan objek kajian akademik. Padahal, balai banjar merupakan simpul budaya yang strategis dalam mentransmisikan nilai-nilai keagamaan melalui praktik ritual. Dalam era modernisasi dan digitalisasi yang mengancam kelestarian tradisi, kajian ini relevan untuk merancang strategi pelestarian yang adaptif, kontekstual, dan berbasis komunitas. Penekanan pada peran edukatif program Banten dan Ulam menjadikan penelitian ini kontributif tidak hanya dalam pelestarian budaya, tetapi juga dalam penguatan pendidikan agama Hindu secara aplikatif. Penelitian ini membuat kontribusi untuk mengisi gap penelitian yaitu menggabungkan analisis SWOT dengan perspektif pendidikan agama Hindu dalam konteks ritual Pengabenan. Tujuan konkretnya adalah merumuskan strategi berbasis kekuatan dan peluang yang dimiliki Balai Banjar Busana serta mereduksi kelemahan dan ancaman agar pengajaran nilai budaya dan keagamaan melalui Banten dan Ulam Pengabenan lebih efektif dan Dengan kerangka ini, artikel bertujuan menghasilkan rekomendasi strategis agar Balai Banjar Busana dapat memperkuat kapasitas dalam menyelenggarakan program pembuatan Banten dan Ulam Pengabenan, sekaligus mendefinisikan kembali peran ritual sebagai sarana pendidikan agama yang adaptif dan relevan di era modern. Metode Penelitian ini menggunakan jenis metode kualitatif dan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan di Balai Banjar Busana. Desa Sibanggede. Kecamatan Abiansemal. Kabupaten Badung. Provinsi Bali. Data primer dikumpulkan melalui observasi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH partisipatif dalam proses pembuatan Banten dan Ulam Pengabenan, wawancara mendalam dengan tokoh adat serta hasil jawaban daftar pertanyaan melalui link google forms dengan 32 warga banjar Busana sebagai responden. Data sekunder diraih melalui dokumentasi ritual, catatan adat, publikasi terkait dan literatur pendidikan agama Hindu. Analisis dilakukan melalui matriks SWOT, identifikasi faktor internal . ekuatan dan kelemaha. dan eksternal . eluang dan ancama. , dilanjutkan dengan perumusan strategi: SO . emanfaatkan kekuatan untuk peluan. WO . engatasi kelemahan dengan peluan. ST . enggunakan kekuatan untuk menghadap ancama. , dan WT . engurangi kelemahan untuk menghadapi ancama. Hasil dan Pembahasan Analisis SWOT terhadap program pembuatan Banten dan Ulam Pengabenan di Balai Banjar Busana menunjukkan sejumlah kekuatan yang signifikan. Balai Banjar Busana sebagai pusat koordinasi dan produksi Banten dan Ulam Pengabenan telah membantu meringankan beban keluarga dari orang yang meninggal, baik dari segi tenaga maupun tempat. Hal ini sejalan dengan temuan Subawa . , yang menunjukkan bahwa melalui manajemen upacara dan subsidi silang di Desa Penyaringan, beban finansial dan tenaga masyarakat dapat diminimalkan sambil mempertahankan nilai-nilai lokal seperti menyamabraya dan nguopin (Subawa, 2. Selain itu, proses kolektif pembuatan Banten dan Ulam yang dipandu oleh Kelian Adat. Pemangku, dan Serati Banjar menciptakan ruang pendidikan informal bagi warga banjar, serta sebagai sebuah cara langsung mempraktikkan nilai-nilai agama Hindu melalui kegiatan nyata di masyarakat. Pada pelaksanaan pembuatan Banten dan Ulam Pengabenan di balai banjar Busana, pihak keluarga menyiapkan perwakilan untuk memegang uang apabila ada keperluan berbelanja untuk pembuatan Banten dan Ulam Pengabenan. Untuk ngaben ngerti yaitu ayaban tumpeng 11, warga banjar ngayah/membuat Banten dan Ulam Pengabenan masing-masing 2 x A hari untuk lanang/pria dan istri/perempuan. Apabila ngaben bebangkit 1, warga banjar ngayah masing-masing 4 x A hari untuk lanang dan Untuk ngaben bebangkit 2, warga banjar ngayah masing-masing 7 x A hari untuk lanang dan istri. Warga banjar Busana Istri/perempuan yang sudah menikah di Banjar Busana terbagi menjadi 5 kelompok yang masing-masing mendapatkan pembagian tugas dari metanding sampai nyoroh/melengkapi Banten sesuai keperluan masing-masing prosesi Pengabenan, bahkan masing-masing kelompok ini pada saat prosesi awal-akhir Pengabenan yang menjadi tugasnya mulai meletakkan Banten di tempat yang sesuai, melis/berkeliling menyiratkan tirta . ir suc. yang ada pada beberapa Banten misalnya seperti byakaonan, prayascita, durmanggala, pengulapan, tetabuhan, penastan, cecepan dan lain-lain. Selain itu kelompok yang bertugas juga ngayabin/ikut menghaturkan Banten dan Ulam Pengabenan sesuai petunjuk Pemangku atau Sulinggih, bahkan sampai nyurud/membersihkan setelah Banten dan Ulam Pengabenan selesai dihaturkan. Gambar 1. Banjar Pengabenan Istri Ngayah di Balai Banjar Busana https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Warga banjar Busana Lanang/pria yang sudah menikah di banjar Busana juga dibagi menjadi 5 kelompok. Pembagian tugas seperti membuat tempat memandikan mayat, membuat rantai, membuat sanggah tutuan, mempersiapkan Ulam upakara, membantu mencari dedaunan yang diperlukan saat warga banjar istri saat metanding, memandikan mayat, megambel/memainkan alat musik tradisional, membawa mayat ke kuburan dan membersihkan sisa-sisa Banten dan Ulam Pengabenan setelah dihaturkan di Gambar 2. Banjar Pengabenan Lanang Membuat Ulam di Balai Banjar Busana Untuk memudahkan membuat Banten dan Ulam Pengabenan, sudah dibuatkan rincian Banten dan Ulam yang diperlukan untuk masing-masing prosesi Pengabenan. Terlihat juga ada beberapa Banten yang sudah difoto cara pembuatannya. Gambar 3. Tetandingan Pancawara Kendati terdapat banyak keunggulan, studi ini juga menemukan aspek kelemahan yang perlu diantisipasi. Di sisi lain, program ini menawarkan peluang strategis. Model ini dapat direplikasi oleh banjar atau desa lain sebagai bentuk pilot project revitalisasi ritual keagamaan, mirip pola subsidi silang di Jembrana yang sukses mempertahankan tradisi sambil menyesuaikan diri dengan tuntutan modern (Subawa, 2. Namun, ancaman eksternal tetap ada. Adapun hasil jawaban responden dari google forms sebagai berikut: Kekuatan Program Pembuatan Banten Dan Ulam Pengabenan Di Balai Banjar Busana (Perspektif Pendidikan Agama Hind. Pembuatan Banten Dan Ulam Pengabenan Mengajarkan Kesabaran Dan Ketelatenan. Sekaligus Memperdalam Nilai Spiritual Proses pembuatan Banten dan Ulam dalam ritual Pengabenan menuntut kesabaran dan ketelatenan karena melibatkan perakitan elemen ritual secara detail, seperti pemilihan daun, bunga, dan susunan persembahan. Kegiatan ini sekaligus memperdalam pengalaman spiritual karena peserta harus menghayati setiap langkah sebagai bagian dari penghormatan kepada leluhur dan wujud religiusitas . (Budiada et al. , 2. Lebih lanjut. Banten bukan sekadar bahan visual, tetapi media religius yang mengandung niat dan meditasi secara simbolis (Subawa, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH b. Melalui Proses Pembuatan Banten Dan Ulam Pengabenan Bisa Belajar Makna Filosofis Setiap Elemen Banten Setiap elemen Banten mulai dari daun, bunga, dan susunan persembahan lain memiliki arti filosofis berdasarkan kosmologi Hindu Bali. Dalam proses pembuatannya, warga Banjar secara langsung menginternalisasi filosofi seperti Tri Hita Karana. Panca Maha Bhuta, kesucian, dan keterikatan alam (Subawa, 2. Pengajaran makna simbolik lewat Banten mendukung pembelajaran holistik yang menyatukan unsur lingkungan, budaya, dan spiritual (Harefa et al. , 2. Participant learning di lapangan menunjukkan bahwa saat menyusun persembahan, warga menanyakan fungsi dan simboliknya kepada pemangku, meningkatkan pemahaman ritual secara kontekstual dan personal. Pembuatan Banten Di Balai Banjar Busana Ini Memberikan Pengalaman Langsung Dalam Ritual Upakara. Bukan Teori Semata Beda halnya dari pendekatan teoritis, pembuatan langsung di Banten dan Ulam Pengabenan di balai banjar memberi warga pengalaman praksis dalam upakara, mengenal prosedur ritual dan tatacara sakral. Penelitian etnografi di komunitas Hindu di Jakarta menemukan bahwa praktik langsung mendorong pemahaman mendalam dan autentik, bahkan dalam masyarakat minoritas (Puspa, 2. Pendekatan ini memperkuat nilai pembelajaran berbasis praktik . earning by doin. yang dianggap efektif dalam pendidikan agama dan budaya (Patni, 2021. Darmawiguna et al. , 2. Kolaborasi Warga Dalam Pembuatan Banten Dan Ulam Pengabenan Meningkatkan Solidaritas Dan Rasa Kebersamaan Pembentukan kelompok pembuatan Banten dan Ulam melibatkan proses gotong royong (Tri Hita Karan. , di mana warga saling bahu-membahu menandakan persatuan sosial dan spiritual (Pujiastuti, 2. Turner . menegaskan bahwa proses ritual bersama menciptakan communitas, ikatan emosional antara anggota komunitas yang melampaui hierarki sosial. Hal ini juga didukung oleh penelitian Dananjaya et al. tentang komunalitas di Bali, yang menggarisbawahi bahwa ritual bersama memperkuat solidaritas, identitas lokal, dan kapasitas komunitas dalam pelestarian budaya. Adanya Bimbingan Dari Pemangku. Serati. Kelian Dan Sesama Warga Membuat Kualitas Banten Sesuai Kaidah Agama Pendampingan dari pemangku, serati, dan kelian adat selama proses pembuatan memastikan Banten dan Ulam sesuai tata cara agama, tata susunan persembahan, urutan upacara, dan aturan sakral. Dalam penelitian etnografi mengenai keterlibatan sulinggih berkaitan dengan ritual Ngaben. Ida Sulinggih tetap memegang peran hegemoni ritual di tengah modernisasi, menjaga kualitas sakral dalam setiap elemen upakara (Puspa & Subrahmanyam, 2. Intervensi bimbingan ini krusial agar ritual tetap autentik, bukan berubah menjadi ritual seremonial tanpa makna. Kelemahan Program Pembuatan Banten Dan Ulam Pengabenan Di Balai Banjar Busana (Perspektif Pendidikan Agama Hind. Waktu Pembuatan Banten Dan Ulam Pengabenan Sering Berbenturan Dengan Waktu Kerja Dan Kesibukan Warga Banjar Warga Banjar kerap mengalami konflik waktu antara kesibukan ekonomi dan panggilan adat. Ardhana . menunjukkan bahwa pekerja di sektor pariwisata sering melewatkan ritual karena kesibukan pekerjaan, sehingga praktik adat seperti pembuatan Banten sulit dijangkau. Sebagian besar ritual adat di Bali diadakan di waktu yang berbenturan dengan jadwal kerja, menyulitkan kehadiran warga dalam pelatihan atau praktik upakara (Ardhana, 2. Ini menandakan pentingnya fleksibilitas dan penyesuaian jadwal program jika ingin mengakomodasi kebutuhan masyarakat modern. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH b. Belum Ada Modul Tertulis Atau Panduan Baku Atau Aplikasi Digital Untuk Belajar Mandiri Tentang Pembuatan Banten Dan Ulam Pengabenan Dalam konteks pelestarian tradisi, ketiadaan panduan tertulis atau aplikasi digital menjadi hambatan signifikan. Dokumentasi Martiningsih . menegaskan bahwa ritual di Subak tetap hidup karena ada pembagian pengetahuan lintas generasi, namun tanpa materi tertulis, keberlanjutan pengetahuan tidak terjamin (Martiningsih, 2. Argumen ini dipertegas oleh Miton & DeDeo . bahwa keahlian ritual sulit diajarkan tanpa metode tertulis atau digital dan rentan punah jika tidak diabadikan. Beberapa Warga Banjar Tidak Tertarik Karena Pembuatan Banten Dan Ulam Pengabenan Dianggap Merepotkan Ritual adat dalam banyak kasus dianggap membebani, utamanya oleh warga pekerja keras. Penelitian tentang dinamika Subak (Situngkir & Prasetyo, 2. mengungkap bahwa 'nyumbang' sosial dalam ritual memotivasi beberapa warga namun melepaskan beban bagi lainnya. Dalam penelitian Ardhana . , sebagian warga menolak terlibat karena menghitung waktu dan tenaga, menganggap hal ini terlalu merepotkan dibandingkan manfaat yang diterima. Keterbatasan Ahli Membuat Pelatihan Jarang Dan Sulit Menjangkau Semua Warga Kurangnya ahli dalam pembuatan Banten dan Ulam Pengabenan, menyebabkan pelatihan ritual jarang digelar. Studi Subanda et al. menunjukkan bahwa konflik sering terjadi karena minimnya panduan dan tokoh ritual lokal menimbulkan kesalahan dalam tata cara upakara. Hal serupa ditemukan di komunitas Subak, tanpa ahli ritual lokal, tradisi cenderung berkurang dan tidak dapat diwariskan (Martiningsih, 2. Peluang program pembuatan Banten dan Ulam Pengabenan di Balai Banjar Busana (Perspektif Pendidikan Agama Hind. Produk Banten Dan Ulam Pengabenan Bisa Dikembangkan Sebagai Sumber Ekonomi Berbasis Budaya Lokal Pengembangan Banten dan Ulam Pengabenan tidak hanya memenuhi kebutuhan ritual, tetapi juga menawarkan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Sebagian warga mulai memproduksi paket Banten siap pakai, menciptakan usaha kecil yang bernilai budaya (Budiada et al. , 2. Selain itu, penelitian tentang ritual offerings di Bali mencatat bahwa tradisi keagamaan telah membentuk ekonomi paralel di mana ritual menjadi cara distribusi kesejahteraan dan penguatan jejaring sosial (Sebestyny, 2. Produk ritual ini memicu model bisnis lokal yang memperkuat ekonomi berbasis kearifan Workshop Lintas Banjar Atau Desa Dapat Menjadi Ajang Promosi Budaya Dan Edukasi Agama Workshop lintas komunitas dapat berfungsi sebagai forum tukar budaya sekaligus pendidikan agama. Konsep ini didukung teori Tri Hita Karana, yang menekankan kerja sama antar individu dan harmoni sosial. Studi di desa wisata Bali menunjukkan bahwa keberhasilan inisiatif budaya dipicu oleh kolaborasi komunitas dan dukungan kelompok lintas komunitas (Ardani et al. , 2. Kalau Program Ini Diintegrasikan Ke Kurikulum Sekolah Dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu. Anak-Anak Bisa Belajar Sejak Dini. Menggabungkan praktik pembuatan Banten dan Ulam dalam mata pelajaran PAH (Pendidikan Agama Hind. memberikan kesempatan bagi siswa mempelajari agama secara langsung, bukan melalui teks. Pendekatan experiential learning ini didukung oleh penelitian tentang AR dalam pendidikan, yang memperlihatkan peningkatan motivasi dan pemahaman saat pelajar dapat AomengalamiAo objek pelajaran secara kontekstual (Uyun, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH d. Teknologi Bisa Digunakan Untuk Mendokumentasikan Proses. Seperti Membuat Video Tutorial Atau Vr Lalu Dibagikan Ke Media Sosial Pemanfaatan video dan VR untuk mendokumentasikan proses pembuatan ritual Banten meningkatkan akses edukasi dan pelestarian ritual. Aplikasi Bali Temple VR (Darmawiguna et al. , 2. memperlihatkan bahwa media ini dapat merangsang minat lintas generasi dan memudahkan pemahaman budaya Bali, serta memungkinkan pembelajaran jarak jauh. Bantuan Dari Instansi Pemerintah Atau Lembaga Seperti Phdi Bisa Memperkuat Program Peran lembaga resmi seperti PHDI dan pemerintah daerah penting untuk memfasilitasi program ini, termasuk penyediaan anggaran dan regulasi. Program Ngaben massal di Jembrana dan Buleleng mendemonstrasikan konstribusi efektif pemerintah untuk menjaga keberlangsungan ritual sambil meredam beban ekonomi warga (Sutjidra. Ancaman Program Pembuatan Banten Dan Ulam Pengabenan Di Balai Banjar Busana (Perspektif Pendidikan Agama Hind. Modernisasi dan Gaya Hidup Baru Yang Praktis Membuat Warga Banjar Lebih Baik Membeli Daripada Membuat Banten Dan Ulam Pengabenan. Modernisasi dan gaya hidup serba praktis telah mengubah perilaku masyarakat Bali, termasuk dalam ritual Pengabenan. Banyak warga kini lebih memilih membeli Banten dan Ulam siap pakai daripada membuat sendiri, karena dianggap lebih praktis dan tidak mengganggu ritme kehidupan modern mereka (Wahyuda, 2. Fenomena ini sejalan dengan penelitian tentang komodifikasi ritual di Bali seperti Melukat dan Nyepi yang menunjukkan bagaimana budaya adaptif ini menjadi komoditas instrumen ekonomi dan gaya hidup baru (Fauzi, 2025. Narottama, 2. Hasil kajian ini menegaskan bahwa produk ritual telah dikonversi menjadi barang praktis, tetapi risikonya adalah hilangnya makna spiritual dan keterlibatan aktif masyarakat dalam proses ritual itu sendiri. Jika Harga Banten Dan Ulam Pengabenan Yang Dijual Lebih Murah. Warga Bisa Lebih Memilih Beli Ketimbang Membuat Sendiri. Ekonomi harga memainkan peranan penting, jika Banten dan Ulam instan dijual dengan harga lebih rendah, warga cenderung memilih opsi tersebut dibanding membuat Hal ini ditunjukkan dalam studi konsumtivisme Nyepi package, di mana harga murah menjadi motivasi utama memilih kemudahan ritual siap pakai (Narottama, 2. Sebestyny . juga mencatat adanya Auparallel economyAy, yaitu ritual sebagai faktor redistribusi sosial, tetapi apabila muncul produk lebih murah, solidaritas seremonial bisa tergantikan oleh keputusan ekonomi individu. Kurangnya Regulasi Atau Pengawasan Bisa Menurunkan Kesesuaian Banten Dengan Kaidah Agama Lemahnya pengawasan terhadap standar ritual menyebabkan penurunan otentisitas dan kesesuaian Banten dengan kaidah agama. Pada konteks Nyepi dan Melukat, deregulasi membuka celah bagi berubahnya ritual menjadi atraksi murah tanpa pengakuan spiritual (Fauzi, 2. Di Bali, transformasi ritual tradisional menjadi produk pariwisata tanpa kontrol memastikan penyimpangan budaya, seperti salah susunan elemen ritual atau persembahan yang tidak sesuai agama (Runa, 2. Mengacu pada kerangka analisis SWOT dan temuan empiris di lapangan, dirumuskan sejumlah strategi adaptif untuk mengembangkan program pembuatan Banten dan Ulam sebagai model revitalisasi ritual berbasis komunitas di era modern. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH . Strategi SO (StrengthsAeOpportunitie. Pemanfaatan kekuatan internal seperti efisiensi pelaksanaan dan kolaborasi komunitas dapat dioptimalkan dengan cara mendiseminasikan pengalaman belajar ritual secara langsung dan partisipatif ke banjar atau desa lain. Hal ini dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan workshop lintas komunitas yang bersifat inklusif, mengundang partisipasi lintas generasi dan banjar. Selain itu, pengembangan platform digital edukatif yang mendokumentasikan secara sistematis tahapan pembuatan Banten, filosofi di baliknya, dan praktik religiusnya sangat penting sebagai media pembelajaran berkelanjutan yang dapat diakses oleh masyarakat luas, termasuk diaspora Hindu Bali. Strategi WO (WeaknessesAeOpportunitie. Kelemahan seperti kurangnya media pembelajaran dan keterbatasan tenaga ahli dapat diatasi dengan memanfaatkan peluang kolaboratif dan dukungan institusi. Pengembangan modul cetak dan aplikasi digital berbasis komunitas, disertai dengan penyelenggaraan pelatihan rutin dan capacity building, menjadi kunci dalam memperkuat keberlanjutan program. Penjadwalan kegiatan juga perlu disusun secara fleksibel, memperhatikan rutinitas kerja warga, agar program tidak menjadi beban, melainkan bagian integral dari kehidupan sosial-keagamaan . Strategi ST (StrengthsAeThreat. Menghadapi ancaman seperti meningkatnya konsumsi Banten instan dan melemahnya otoritas adat, kekuatan komunitas perlu difungsikan sebagai penyeimbang melalui pendekatan simbolik dan edukatif. Ritual bersama di balai banjar harus diposisikan sebagai momen sakral yang tidak hanya menjalankan kewajiban religius, tetapi juga sebagai ajang pembelajaran lintas generasi yang sarat nilai. Narasi kebersamaan, spiritualitas, dan makna simbolik ini penting dikomunikasikan untuk melawan dominasi komersialisasi ritual. Strategi WT (WeaknessesAeThreat. Untuk mengantisipasi kelemahan struktural dan ancaman eksternal, diperlukan regulasi internal di tingkat banjar, seperti penyusunan kalender kegiatan ritual yang terstruktur, pedoman fasilitasi minimal . isalnya ketersediaan tempat, alat, dan baha. , serta sistem rotasi peran untuk menjaga partisipasi warga. Standarisasi ini akan memperkuat komitmen komunitas terhadap pelestarian tradisi dan menjamin keberlangsungan program dalam jangka panjang. Dengan strategi-strategi tersebut, program pembuatan Banten dan Ulam tidak hanya dapat bertahan di tengah perubahan sosial, tetapi juga menjadi model edukasi dan pelestarian budaya yang responsif terhadap era digital. Ia berfungsi sebagai ruang belajar religius yang hidup, dinamis, dan inklusif, sekaligus memperkuat identitas Hindu Bali dalam konteks modern. Secara keseluruhan, program pembuatan Banten dan Ulam di Balai Banjar Busana terbukti sebagai inovasi adaptif yang efektif mengakomodasi kebutuhan praktis masyarakat modern, tanpa menghapus nilai agama Hindu yang dibawa oleh ritual. Penguatan kolaborasi banjar dan pendidikan berbasis ritual memperkuat transfer nilai budaya dan spiritual, serupa dengan konsep subsidi silang di Jembrana. Meski tantangan seperti erosi tradisi domestik dan komodifikasi tetap mengintai, strategi berbasis SWOT yang tepat dapat menjaga agar balai Banjar menjadi katalisator pelestarian budaya, bukan agen pengganti. Dengan demikian, inovasi ini memiliki potensi untuk direplikasi di komunitas lain sebagai bagian dari revitalisasi ritual agama Hindu di era modern. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kesimpulan Program pembuatan Banten dan Ulam di Balai Banjar Busana merupakan respons inovatif terhadap pergeseran praktik Pengabenan akibat pandemi, sekaligus berfungsi sebagai model revitalisasi ritual yang adaptif di tengah arus modernisasi dan digitalisasi Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa program ini memiliki kekuatan dalam efisiensi pelaksanaan dan edukasi berbasis komunitas. kelemahan pada keterbatasan sumber daya manusia dan media pembelajaran. peluang dalam pengembangan ekonomi budaya dan integrasi ke pendidikan formal. serta ancaman dari komersialisasi dan melemahnya regulasi adat. Untuk memperkuat peran program ini sebagai pusat pelestarian budaya dan pendidikan agama Hindu, direkomendasikan beberapa langkah praktis: a. Pemerintah daerah diharapkan memberikan dukungan regulatif dan pendanaan dalam bentuk hibah pelestarian budaya berbasis komunitas. Lembaga adat disarankan mengembangkan sistem kaderisasi dan pelatihan rutin bagi generasi muda serta mendorong digitalisasi media pembelajaran berbasis lokal. Kolaborasi antara balai banjar dan lembaga pendidikan dapat memperluas jangkauan edukasi berbasis praktik. Sebagai arah penelitian selanjutnya, disarankan dilakukan studi evaluatif terhadap efektivitas implementasi modul digital atau aplikasi panduan pembuatan Banten, guna menguji sejauh mana teknologi dapat mendukung pelestarian nilai-nilai spiritual dan praktik ritual Hindu dalam konteks lokal yang terus berkembang. Daftar Pustaka