Kocu dkk Potensi Isi Rumen Sapi Asal Rumah Potong Hewan POTENSI ISI RUMEN SAPI ASAL RUMAH POTONG HEWAN SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA DI KABUATEN MANOKWARI Potential Contents Of Rumen Cattle From Slaughterhouses As Ruminant Animal Feed In Regency Of Manokwari Yohosua Kocu1. Bambang Tj. Hariadi2 dan Sientje D. Rumetor2 Alumni Program Studi Peternakan. Jurusan Peternakan. Fakultas Peternakan. Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Papua ABSTRACT Article history Accepted: June 10, 2018 . Approved: July 1, 2018 * Corresponding author: E-mail: sientjedr@yahoo. bambangtj93@gmail. The aim of this resarch is to determine the potential of rumen content of cattle from slaughterhouse as ruminants feed in Manokwari District, judging from quantity . resh and dry weigh. Quality (DM and OM conten. , and physical characteristics. Data of research analyzed by tabulation and T-Test. The results showed that each cow that is cut produces an average rumen content of 507, 88 g fresh weight or 1. 127,16 g dry weight with DM content 89,14% and OM content 89,83%. The average daily cattle slaughter of 5 tails, so that the contents of the rumen generated as much as 10. 595,8 g . ,596 k. fresh weight 635,8 g . ,636 k. dry weight with 5,024 kg DM and 4,513 kg OM Characteristics of the rumen content after drying is yellowishbrown , texture varies smooth to coarse and aromatic typical of rumen or dried Key words: rumen, slaughterhouse, ruminants feed. Manokwari PENDAHULUAN Pemenuhan kebutuhan daging nasional terus mengalami peningkatan, seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kesadaran pentingnya protein hewani bagi Optimalisasi usaha peternakan khususnya ternak ruminansia . api poton. adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan protein hewani melalui penyediaan pangan bermutu. Pakan merupakan faktor utama dalam Ketersediaan pakan dari segi kualitas, kuantitas maupun kontinuitas sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu usaha peternakan. Peternakan rakyat yang dikerjakan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia secara tradisional masih mengandalkan hijauan segar berupa rumput, akibatnya peternakan tidak dapat berkembang karena pengadaan pakan tergantung sepenuhnya pada alam, dengan fluktuasi ketersediaan pakan ketika musim ketersediaannya ketika musim kering atau Menurut Soeharsono dan Tawaf . kekurangan pakan ruminansia . ijauan dan konsentra. di Indonesia meningkat sekitar 4% setiap tahun dan seringkali peternak menanggulanginya dengan cara memberikan pakan seadanya yang diperoleh dengan mudah dari lingkungan sekitarnya. Cara ini sangat mempengaruhi produktivitas ternak, terlihat dari terlambatnya pertumbuhan dan rendahnya pertambahan bobot badan. Produktivitas ternak adalah manifestasi dari ketersediaan pakan dan kualitasnya (Leng, 1991 dalam Jasin dan Sugiono, 2. Salah satu upaya untuk menanggulangi kekurangan pakan pada musim kemarau adalah dengan mencari pakan alternatif, yaitu bahan lain yang berpotensi Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis. September 2018, hal. 56 Ae 65 e-ISSN: 2620-9403 p-ISSN: 620-939X sebagai pakan dilihat dari kuantitas dan Salah satunya adalah isi rumen sapi yang merupakan limbah dari rumah potong hewan (RPH). Isi rumen sapi (IRS) adalah pakan yang belum dicerna secara sempurna pada lambung pertama ternak sapi, mengandung saliva, mikroba anaerob, sellulosa, hemisellulosa, protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin (Van Soest, 1994 dalam Koesnoto, 2. , atau bahan pakan yang tercerna dan tidak tercerna yang belum sempat diserap oleh usus serta masih tercampur dengan getah lambung, enzim - enzim pencernaan dan mikroba rumen (Bidura, 2. Gohl . mengemukakan bahwa isi rumen merupakan 8 Ae 10% dari berat sapi/kerbau yang dipuasakan sebelum dipotong dan dapat digunakan sebagai campuran makanan unggas, babi dan domba, karena kaya akan zat - zat makanan. Menurut Jovanovic dan Cuverlovic . isi rumen yang disaring dan seratnya dapat diberikan sampai 10% dalam ransum ayam broiler tanpa menggangu pertumbuhan, sedangkan pemberian 24% akan menghambat atau menekan laju pertumbuhan dan turunnya daya cerna bahan kering. Hasil ini menunjukan bahwa jika ayam broiler yang memiliki toleransi rendah terhadap serat kasar, dapat memanfaatkan isi rumen maka ternak ruminansia yang memiliki toleransi tinggi terhadap serat kasar mampu memanfaatkan isi rumen dengan lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi isi rumen sapi yang dilihat dari kuantitas . erat segar dan berat kerin. isi rumen sapi, kualitas . ahan kering dan bahan organi. isi rumen sapi dan karakteristik fisik isi rumen sapi. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi bagi peternak tentang potensi limbah isi rumen sapi asal Rumah Potong Hewan (RPH) di Kabupaten Manokwari sebagai pakan ruminansia. MATERI DAN METODE Vol. 8 No. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Potong Hewan (RPH) Kabupaten Manokwari dan Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak (NMT) Fakultas Peternakan Universitas Papua sejak 28 Agustus sampai dengan 28 Oktober Objek Penelitian Objek yang digunakan pada penelitian ini yaitu limbah isi rumen sapi asal Rumah Potong Hewan (RPH) di Kabupaten Manokwari. Metode dan Teknik Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Metode Pengambilan Sampel Proses pemotongan sapi pada RPH Kabupaten Manokwari masih dilakukan secara Penyembelihan dilakukan secara Islam (Hala. Pengambilan sampel dimulai dengan pencatatan asal ternak dilakukan sebelum ternak disembelih. Selanjutnya dilakukan pediksi bobot badan sapi dengan melakukan pengukuran lingkar dada menggunakan pita ukur kemudian menghitungnya dengan menggunakan rumus (Sugeng, 2. sebagai Bobot Badan . (Lingkar Dada. )2 ycu Panjang Badan . Tahap berikutnya ternak disembelih, setelah disembelih dilakukan pengulitan dan pemisahan kepala dan keempat kaki pada persendian tulang. Selanjutnya dilakukan pengeluaran saluran pencernaan dan organ dalam lainnya, kemudian pengambilan sampel Dalam satu minggu diambil sampel sebanyak 4 hari. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu limbah isi rumen sapi yang didapatkan dari RPH Kabupaten Manokwari pada subuh hari saat proses penyembelihan ternak sapi dilakukan. Semua sapi yang Kocu dkk dipotong pada hari itu masing-masing akan diambil isi rumennya. Proses pengambilan setiap isi rumen tersebut dipisahkan terlebih dahulu tanpa dicampur dengan isi rumen sapi yang lain. Setelah pengambilan semua sampel isi rumen tersebut, lalu ditimbang dengan menggunakan timbangan . etelitian 0,5 k. untuk melihat berat basah dari masing-masing isi rumen. Limbah isi rumen sapi yang masih basah akan disaring dengan menggunakan saringan, setelah itu dilakukan penimbangan isi rumen untuk mengetahui berat padatan dari sampel Setiap hari pengambilan sampel, diambil semua isi rumen sapi yang berasal dari semua sapi yang dipotong pada hari itu. Proses pengambilan sampel dapat dilihat pada Penanganan Sampel Sampel isi rumen yang didapatkan dari rumah potong hewan (RPH) dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari (A 30oC) dengan menggunakan seng. Lama penggeringan selama satu minggu. Untuk mengetahui sampel isi rumen sapi sudah menjadi isi rumen kering yaitu dengan memasukan sampel tersebut kedalam botol kaca yang telah diberi garam, lalu dilakukan pengocokan kurang lebih selama 3 menit dan apabila garam tersebut menjadi basah maka sampel belum menjadi isi rumen kering, maka dilakukan penjemuran kembali. Begitu pula sebaliknya, apabila garam tersebut tetap kering maka sampel tersebut telah menjadi isi rumen Setelah sampel kering maka akan dilakukan penimbangan. Kemudian dari sampel isi rumen sapi yang telah kering ditimbang 200 gram sebagai keperluan analisis laboratorium untuk pengukuran variabel. Proses penanganan sampel dapat dilihat pada Variabel yang Diamati Variabel yang diamati dalam penelitian ini Potensi Isi Rumen Sapi Asal Rumah Potong Hewan Berat Segar dan Berat Kering IRS Berat segar IRS Berat segar diperoleh dengan cara melakukan penimbangan isi rumen sapi yang masih dalam keadaan basah secara keseluruhan/total. Selain itu, akan diukur berat padatan setelah dilakukan pemisahan dari cairan rumen. Dengan formula : Berat Padatan = Total IRS Ae Cairan Rumen Berat kering IRS Berat kering diperoleh dengan cara melakukan penimbangan pada sampel isi rumen sapi yang telah dikeringkan secara alami dengan bantuan sinar matahari. Dengan formula : Berat Kering = Berat Padatan Ae Cairan Rumen Bahan Kering (BK) dan Bahan Organik (BO) IRS Bahan Kering (BK) Bahan kering adalah berat tetap suatu sampel setelah dipanaskan pada suhu di atas suhu titik didih . oC) dalam oven selama 24 jam (Soejono. BK dihitung menggunakan rumus: Bahan Air bOea = c Oe a ycu 100 % Kadar bahan kering = 100% Ae Kadar air Keterangan : a = berat cawan kosong . b = berat cawan sampel sebelum dioven . c = berat cawan sampel sesudah dioven . Sampel yang digunakan adalah dari hasil penjemuran matahari dengan rumus konversi (Askar dan Darwinsyah, 1. KA konversi = % air pengeringan matahari . Ae % air pengeringan matahar. % air pengeringan oven ycu 100 % Bahan Organik (BO) Bahan Organik (BO) didapat dengan cara melakukan pembakaran . sampel BK menggunakan tanur pada suhu 600oC selama 6 jam . i atas suhu panas penguapan 540oC). BO dihitung dengan menggunakan rumus (Soejono, 1. Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis. September 2018, hal. 56 Ae 65 e-ISSN: 2620-9403 p-ISSN: 620-939X Kadar Abu dOea = b Oe a ycu 100 % Keterangan : a = berat cawan kosong . b = berat cawan sampel sebelum ditanur . d = berat cawan sampel sesudah ditanur . Prosedur analisis laboratorium pada lampiran 3 serta analisis BK dan BO disajikan dalam Karakteristik IRS Karakteristik isi rumen sapi diamati berdasarkan tekstur, warna dan bau. Analisis Data Data hasil penelitian dianalisis menggunakan tabulasi dan Uji T. HASIL DAN PEMBAHASAN Vol. 8 No. Potensi Isi Rumen Sapi Potensi isi rumen sapi (IRS) yang diperoleh dari rumah potong hewan (RPH) Kabupaten Manokwari dapat dilihat dari kualitas, kuantitas dan kontinuitas IRS yang dihasilkan, yang dapat diukur dari beberapa variabel yaitu : berat segar, berat kering, kadar bahan kering (BK), kadar bahan organik (BO) dan karakteristik IRS. Berat Segar Isi Rumen Sapi Berat segar isi rumen sapi (IRS) diperoleh dari jumlah pemotongan ternak sapi di RPH Kabupaten Manokwari selama 4 hari. Dalam penelitian ini total jumlah sapi yang dipotong sebanyak 30 ekor yang terdiri dari 20 ekor jantan . ata-rata bobot badan 131,33 Ae 396,41 k. dan 10 ekor betina . ata-rata bobot badan 128,00 Ae 177,00 k. Rata-rata berat segar isi rumen sapi hasil penelitian disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Rata - rata Berat Segar Isi Rumen Sapi Jantan dan Betina Hari Jumlah ternak Rata-rata . kor/har. Berat Berat Padatan Cairan . Bobot Badan Berat Segar Berat Cairan (%) Jantan 131,33 148,67 154,00 416,67 500,00 375,00 933,33 700,00 375,00 483,33 800,00 000,00 396,41 671,43 614,29 057,14 4,12 4,37 5,43 2,94 830,41 207,60 963,10 990,77 622,60 155,66 835,12 16,86 4,21 128,00 156,00 177,00 400,00 700,00 700,00 300,00 533,33 450,00 100,00 166,67 250,00 158,50 300,00 875,00 425,00 8,90 4,93 4,35 5,86 619,50 100,00 158,33 941,67 154,87 025,00 789,58 235,42 Betina 24,04 6,01 Kocu dkk Berat segar isi rumen sapi berkisar antara 416,67 Ae 11. 671,43 g dengan total isi rumen yang dihasilkan dari 30 ekor ternak yang dipotong sebanyak 254. 300,03 g, terdiri dari 200,03 g . ,02% IRS dari rata-rata bobot bada. berasal dari ternak jantan dan 87. ,62% IRS dari rata-rata bobot bada. berasal dari ternak betina. Berat IRS jantan asal RPH Kabupaten Manokwari berkisar antara 5. 416,67 Ae 11. 671,43 g . ,94 Ae 4,12% dari rata-rata berat badan/BB) dengan rata-rata 7. 990,77 g dan IRS betina berkisar antara 7. 700,00 Ae 11. 400,00 g . ,35 Ae 8,90% dari rata-rata BB) dengan ratarata 9. 025 g. Jumlah isi rumen sapi dipengaruhi oleh jumlah dan jenis pakan yang dikonsumsi sebelum sapi dipotong. Hasil uji T berat segar IRS antara jantan dan betina . menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Demikian pula hasil uji T padatan IRS . menunjukan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jantan dan betina . ilai sig > 0,. Ini menunjukan bahwa perlakuan pemberian pakan antara ternak jantan dan betina di Kabupaten Manokwari tidak berbeda atau sama. Tabel 1 menunjukan bahwa rata-rata berat segar . IRS jantan 4,21% dari BB dan IRS betina 6,01% dari BB, ini menunjukan bahwa isi rumen sapi yang dipotong di RPH Kabupaten Manokwari dibandingkan dengan hasil penelitian lain bahwa isi rumen merupakan 8 - 10% dari bobot badan sapi yang dipuasakan sebelum disembelih (Gohl, 1. Hal ini diduga terjadi karena sebelum dipotong sapi-sapi tersebut sengaja dipuasakan atau kemungkinan mengarah ke kasus sapi glonggongan yaitu sapi diberi minum sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk meningkatkan berat badan. Namun hal ini masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Menurut Muhardi . sapi glonggongan adalah sapi yang diberikan Tabel 2. Rata-rata Berat Kering Isi Rumen Sapi Potensi Isi Rumen Sapi Asal Rumah Potong Hewan minum sampai lemas sebelum dilakukan Daging glonggongan adalah daging yang berasal dari sapi yang sesaat sebelum disembelih diberi minum sebanyakbanyaknya untuk menambah berat daging. Keadaan ini akan berpengaruh terhadap kualitas daging yang dihasilkan dimana daging akan tampak pucat kebiruan, kandungan air sangat tinggi sekitar 10% dari daging normal, hanya dapat bertahan selama 7 Ae 8 jam saja dan lain-lain (Rahayu at al, 2. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa di Rumah Potong Hewan Kabupaten Manokwari ada pemotongan sapi betina produktif yang cukup besar jumlahnya . ,33%) itu berarti terjadi pelanggaran terhadap UU nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan pasal 18 ayat 4 menyebutkan setiap orang dilarang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif atau ternak ruminansia besar betina produktif, sangat disayangkan kondisi ini justru terjadi di rumah potong hewan. Di duga alasan pemotongan sapi betina ini karena peternak membutuhkan dana dan pada saat penelitian ini berlangsung dekat dengan hari raya. Soejosopoetro kemungkinan terjadi pemotongan betina produktif karena adanya faktor-faktor yaitu atas dasar permintaan sapi betina yang lebih mudah dan penjualan sapi betina produktif oleh peternak di pedesaan yaitu untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari keluarganya karena tidak mempunyai uang cash. Berat Kering Isi Rumen Sapi Berat kering isi rumen sapi (IRS) diperoleh dari berat padatan yang telah dipisahkan dari cairannya kemudian dikeringkan dengan pengeringan sinar matahari. Rata-rata berat kering isi rumen sapi pada penelitian ini disajikan pada Tabel 2 sebagai berikut. Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis. September 2018, hal. 56 Ae 65 e-ISSN: 2620-9403 p-ISSN: 620-939X Vol. 8 No. Rata-rata Berat Padatan IRS Hari . 933,33 300,00 700,00 533,33 375,00 450,00 614,29 875,00 622,62 158,33 155,65 789,58 Keterangan: oC = Jantan . oA= Betina Berat Kering IRS 350,00 000,00 850,00 833,33 975,00 025,00 621,43 362,50 796,43 220,83 949,11 305,21 Hasil penelitian menunjukan bahwa ratarata berat padatan IRS Jantan . ,78 g/ekor/har. lebih rendah dibandingkan IRS betina . ,96 g/ekor/har. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa berat kering IRS jantan dan betina ada perbedaan yaitu berat kering IRS jantan 248,75 g/ekor/hari dan betina 300 g/ekor/hari, hal ini diduga karena jumlah isi rumen sapi yang berbeda dan kepadatan dari isi rumen itu sendiri. Selain itu kemampuan ternak ruminansia dalam mengkonsumsi pakan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor ternak itu sendiri, faktor pakan yang diberikan dan faktor lainnya. Faktor ternak meliputi bobot badan status fisiologik, tingkat produksi dan kesehatan ternak. Faktor pakan meliputi bentuk dan sifat pakan dan komposisi zat gizi. Sedangkan faktor lain meliputi suhu dan kelembaban udara, curah hujan, lama siang atau malam dan keadaan ruang kandang serta tempat pakan (Santosa, 1. Tabel 2 memperlihatkan bahwa kisaran rataan IRS kering sebesar 350,00 - 2. 000,00 g Persentase (%) oC 18,10 18,08 18,13 18,82 73,13 18,28 19,41 18,38 18,80 19,81 76,40 19,10 dengan persentase . ,10 - 19,41% dari ratarata berat padata. Berat padatan IRS Jantan 155,65 dan betina 6. 789,58 g/ekor/hari atau bila dirataAeratakan antar jantan dan betina berat padatan IRS adalah 5. 972,75 g/ekor/hari. Berat kering rataAerata IRS jantan 949,11 g/ekor/hari sedangkan betina 1. 305,21 g/ekor/hari atau bila dirataAeratakan antara jantan dan betina berat IRS kering adalah 1. 127,16 g/ekor/hari. Uji lanjut berat IRS kering antara jantan dan betina dengan menggunakan uji t . menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan . ilai sig > 0,. Ini menunjukan bahwa jumlah IRS kering antara jantan dan betina tidak ada perbedaan. Bahan Kering & Bahan Organik Isi Rumen Sapi Persentase rata-rata bahan kering (BK) & bahan organik (BO) isi rumen sapi yang diperoleh dari hasil penelitian ini disajikan pada Tabel 3 sebagai berikut. Tabel 3. Persentase Bahan Kering (BK) & Bahan Organik (BO) Isi Rumen Sapi Hari Rata-rata (%) 85,29 87,38 88,89 95,01 89,14 91,65 90,80 91,33 85,56 89,83 Kocu dkk Berdasarkan Tabel 3 kisaran persentase BK 85,29 Ae 95,01% dengan rata-rata 89,14% lebih tinggi dari pada penelitian Koesnoto . bahwa isi rumen sapi mengandung BK sekitar 89,08%. Kisaran persentase BO 85,56 Ae 91,65% dangan rata-rata 89,83% lebih tinggi dari hasil penelitian Koesnoto . yang mendapatkan isi rumen sapi mengandung BO 89,55%. Hasil ini menunjukan bahwa pakan yang diberikan untuk ternak sapi di Kabupaten Manokwari cukup baik, semakin tinggi kandungan BK dan BO semakin baik kandungan zat gizi pakan. Potensi Isi Rumen Sapi Berdasarkan hasil penelitian dapat diprediksi potensi isi rumen sapi (IRS) di Kabupaten Manokwari yaitu jika rata-rata pemotongan sapi perhari 5 ekor maka isi rumen segar yang dihasilkan per hari sebanyak 595,8 g . ,596 k. atau sekitar 5. 635,8 g . ,636 k. berat kering yang mengandung BK sebesar 5,024 kg (OO 5 k. dengan BO 4,513 kg. Potensi IRS kering 5 kg bisa digunakan untuk pakan ternak seekor sapi dengan BB 200 kg dengan asumsi kebutuhan pakan 2,5% BK x BB = 2,5% x 200 kg = 5 kg maka konversi kebutuhan pakannya 5,6 kg BK. Potensi IRS kering 5 kg bisa juga digunakan untuk pakan ternak kambing dengan BB 20 kg, dengan asumsi kebutuhan pakan 2,5% BK x BB = 2,5% x 20 kg = 0,5 kg maka konversi kebutuhan pakannya 0,5 kg BK. Sehingga potensi IRS kering 5 kg dibagi 0,5 kg = 10. Jadi 5 kg IRS kering bisa untuk konsumsi 10 ekor kambing. Potensi IRS kering juga dapat menghemat atau efisiensi ransum ayam broiler sampai 10% dari total kebutuhannya per hari. Karakteristik Isi Rumen Sapi Karakteristik isi rumen sapi (IRS) dilihat dari warna, tekstur dan bau/aroma. Warna isi rumen sapi pada umumnya berwarna coklat, hijau kekuningan, coklat kehijauan, coklat kekuningan dan coklat kehitaman hal ini sejalan dengan pendapat Utomo et al. Potensi Isi Rumen Sapi Asal Rumah Potong Hewan warna IRS coklat muda terang dan kuning Rata-rata sapi yang dipotong berasal dari Distrik Prafi dimana diduga sapi digembalakan di naungan kelapa sawit karena pada saat pengambilan IRS didapati biji kelapa Perbedaan warna isi rumen sapi dipengaruhi oleh jenis pakan yang dikonsumsi oleh ternak tersebut. Isi rumen sapi berwarna coklat, coklat kehijauan, coklat kekuningan dan coklat kehitaman yaitu diduga ternak yang dipotong sebelumnya digembalakan atau dipelihara dibawah naungan kelapa sawit serta pakannya berasal dari limbah kelapa sawit. Sedangkan, jenis isi rumen sapi yang berwarna hijau kekuningan yaitu diduga ternak digembalakan atau dipelihara pada non-kelapa sawit serta pakannya yaitu berupa hijauan segar berupa rumput dan lain-lain. Menurut Rahayu et al. 2013 isi rumen yang dikeringkan dan dibuat tepung dari segi warna yaitu memiliki warna kecoklatan sama seperti rumput lapang yang dikeringkan. Tekstur isi rumen sapi yang diduga digembalakan atau dipelihara dibawah naungan kelapa sawit cenderung lebih halus/lembut hal ini dipengaruhi oleh jenis pakan dari ternak tersebut yang cenderung lebih banyak mengkonsumsi limbah dari kelapa sawit. Menurut Utomo et al. bahwa silase isi rumen sapi tanpa penambahan onggok mempunyai tekstur yang lebih lembut. Sedangkan, tekstur isi rumen sapi yang diduga digembalakan atau dipelihara pada non-kelapa sawit cenderung lebih kasar hal ini dipengaruhi oleh jenis pakan yang dikonsumsi yaitu berupa hijauan segar seperti rumput dan lain-lain. Bau/aroma isi rumen sapi dalam keadaan segar menyerupai bau feses atau bau khas rumen, sedangkan, setelah dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari bau/aroma isi rumen tersebut menyerupai bau rumput kering atau menyerupai bau pakan. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahayu et al. yang menyatakan bahwa isi rumen yang dikeringkan memilki aroma yang sama seperti rumput kering. Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis. September 2018, hal. 56 Ae 65 e-ISSN: 2620-9403 p-ISSN: 620-939X Fakta lain Fakta lain yang ditemukan pada pemotongan ternak sapi di RPH Kabupaten Manokwari antara lain masih terjadi pemotongan sapi betina produktif, bahkan dalam keadaan bunting padahal berdasarkan UU nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan pasal 18 ayat 4 menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif atau ternak ruminansia besar betina produktif, kecuali betina tersebut dalam kondisi tertentu . acat atau untuk keperluan penelitia. Ternak sapi sebelum disembelih pada RPH Kabupaten Manokwari pengistirahatan/pemuasaan selama 12 - 24 jam yang bertujuan agar ternak tidak mengalami stress, agar pada saat disembelih darah dapat keluar sebanyak mungkin. Selain itu, untuk mencegah terjadinya rigormortis. Tujuan lain dari pemuasaan yaitu untuk mengurangi isi rumen sapi agar saat penyembelihan isi rumen tidak mencemari daging. Hasil penelitian menunjukan bahwa IRS yang ditemukan di RPH pada saat pemotongan belum tercerna secara sempurna karena IRS masih kehijauhijauan seperti hijauan pakan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : Setiap menghasilkan rata-rata isi rumen 8. 507,88 g dalam berat segar atau 1. 127,16 g dalam berat kering dengan kandungan Bahan Kering 89,14% dan Bahan Organik 89,83%. Setiap hari terdapat rata-rata 5 ekor sapi yang dipotong di rumah potong hewan Kabupaten Manokwari dengan total isi rumen yang dihasilkan sebesar 10. 595,8 g dalam berat segar 5. 635,8 g dalam berat kering atau 5 kg BK. Potensi ini bisa digunakan untuk pakan ternak sapi dengan Vol. 8 No. bobot badan 200 kg per hari atau untuk pakan ternak kambing sebanyak 10 ekor per hari dengan bobot badan 20 kg dan dapat menghemat atau efisiensi kebutuhan ransum ayam broiler sampai 10% per hari. Karakteristik isi rumen yang dihasilkan dari sapi yang dipotong di rumah potong hewan di Kabupaten Manokwari adalah berwarna coklat-hijau-kekuningan, tekstur bervariasi halus sampai kasar dan beraroma khas rumen atau rumput kering setelah melalui proses pengeringan. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai uji in vivo pemanfaatan isi rumen sapi (IRS) pada ternak ruminansia dan non ruminansia, palatabilitas bahan pakan dari olahan IRS dan pembuatan pakan olahan dari IRS misalnya pelet. DAFTAR PUSTAKA