e-ISSN: 3046 Ae 5389 p-ISSN: 3046 Ae 5559 Volume. No. 1, 2024 CONSTRUCTIVISM: Journal of Research in Education PENGGUNAAN MEDIA POT PENJUMLAHAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENJUMLAHKAN PESERTA DIDIK KELAS IIB MIS MUTIARA AULIA Maysarah Andini1. Rora Rizky Andini2. Elvira3 1, 2, 3 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Jl. William Iskandar Ps. Medan. Sumatera Utara. Indonesia Email: maysarahandini@gmail. Article History Received: 05-01-2024 Revision: 09-02-2024 Accepted: 14-02-2024 Published: 21-02-2024 Abstract. Mathematics is a fundamental subject that plays an important role in developing studentsAo logical, systematic, and critical thinking skills. However, many elementary school students still experience difficulties in understanding basic mathematical concepts, particularly addition operations. These difficulties are often caused by the abstract nature of mathematical concepts and the limited use of concrete learning media during the learning process. Therefore, the use of innovative learning media is needed to help students understand mathematical concepts more effectively. This study aims to describe the use of addition pot media in improving the addition skills of grade IIB students at MIS Mutiara Aulia. This research employed a qualitative approach with a descriptive research design. The subjects of the study were 25 students of class IIB at MIS Mutiara Aulia. Data were collected through observation and documentation techniques during the learning process. The data were analyzed using descriptive qualitative analysis through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study show that the use of addition pot media can increase studentsAo interest and participation in mathematics learning. The colorful and concrete media helps students understand the concept of place value in addition operations more clearly, particularly in addition with regrouping. In addition, the integration of Problem Based Learning encourages students to actively participate in solving problems during the learning process. Therefore, the use of addition pot media can be considered an effective learning strategy to improve studentsAo addition abilities in elementary school mathematics learning. Keywords: Mathematics Learning. Addition Pot Media. Addition Skills. Elementary School Students. Problem Based Learning How to Cite: Andini. Andini. , & Elvira. Penggunaan Media Pot Penjumlahan untuk Meningkatkan Kemampuan Menjumlahkan Peserta Didik Kelas IIB MIS Mutiara Aulia. CONSTRUCTIVISM: Journal of Research in Education, 1 . , 23-31. http://doi. org/10. 54373/cjre. PENDAHULUAN Matematika merupakan salah satu mata pelajaran dasar yang memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir logis, sistematis, kritis, dan analitis pada peserta Pembelajaran matematika tidak hanya bertujuan untuk menguasai keterampilan berhitung, tetapi juga untuk membentuk kemampuan berpikir yang dapat digunakan dalam memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penguasaan konsep dasar matematika perlu ditanamkan secara kuat sejak jenjang pendidikan dasar agar peserta didik memiliki fondasi yang baik dalam mempelajari konsep-konsep matematika yang lebih kompleks pada tingkat pendidikan selanjutnya. Kamsurya & Susanto. The Short Title of My Research Papers A Namun demikian, dalam praktiknya pembelajaran matematika masih sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit oleh sebagian besar peserta didik. Kesulitan ini umumnya muncul karena matematika berkaitan dengan simbol, angka, serta konsep-konsep yang bersifat abstrak sehingga tidak mudah dipahami oleh peserta didik, khususnya pada jenjang sekolah dasar yang masih berada pada tahap perkembangan berpikir konkret. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian peserta didik kurang memiliki minat terhadap pembelajaran matematika dan mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep dasar yang diajarkan (Aledya, 2. Kesulitan dalam memahami konsep matematika dapat berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik. Banyak peserta didik yang mengalami hambatan dalam menguasai keterampilan dasar berhitung, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Padahal kemampuan berhitung merupakan keterampilan dasar yang sangat penting karena menjadi landasan bagi penguasaan konsep matematika lainnya. Apabila peserta didik belum memahami konsep dasar tersebut dengan baik, maka mereka akan mengalami kesulitan pada materi-materi matematika yang lebih kompleks di tingkat berikutnya (Pramita et al. , 2. Salah satu konsep dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik pada jenjang sekolah dasar adalah operasi hitung penjumlahan. Penjumlahan merupakan dasar dari berbagai operasi matematika lainnya dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pemahaman terhadap konsep penjumlahan perlu ditanamkan secara optimal sejak dini. Namun pada kenyataannya, masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep penjumlahan, terutama pada penjumlahan bersusun dengan teknik menyimpan. Kesulitan tersebut tidak hanya disebabkan oleh kemampuan peserta didik yang beragam, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh metode dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru. Pembelajaran matematika yang masih bersifat konvensional dan berpusat pada guru seringkali membuat peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu, penggunaan metode pembelajaran yang kurang variatif serta minimnya penggunaan media pembelajaran dapat menyebabkan konsep matematika yang bersifat abstrak menjadi semakin sulit dipahami oleh peserta didik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan media pembelajaran yang bersifat konkret dan menarik. Media pembelajaran memiliki peran penting dalam membantu peserta didik memahami konsep-konsep abstrak melalui visualisasi yang lebih nyata. Penggunaan media yang tepat dapat meningkatkan motivasi belajar, minat peserta Kamsurya & Susanto. The Short Title of My Research Papers A didik, serta membantu mereka dalam memahami konsep matematika secara lebih mudah. Selain penggunaan media pembelajaran, penerapan model pembelajaran yang tepat juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah. Model pembelajaran ini menekankan pada proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan memberikan permasalahan sebagai titik awal pembelajaran. Melalui proses tersebut, peserta didik didorong untuk berpikir kritis, melakukan eksplorasi, serta menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi (Aryanti. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran yang bersifat konkret dapat membantu meningkatkan pemahaman konsep matematika pada peserta didik sekolah dasar. Selain itu, penerapan model pembelajaran berbasis masalah juga terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik (Sagita et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi antara penggunaan media pembelajaran dan model pembelajaran yang tepat dapat memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran matematika. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas IIB MIS Mutiara Aulia, ditemukan bahwa sebagian peserta didik masih mengalami kesulitan dalam melakukan operasi penjumlahan dengan benar. Hanya beberapa peserta didik yang mampu memahami dan menguasai materi penjumlahan secara optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang selama ini diterapkan belum sepenuhnya mampu membantu peserta didik dalam memahami konsep penjumlahan secara efektif. Selain itu, kurangnya penggunaan media pembelajaran yang menarik juga menyebabkan peserta didik kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran matematika. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan suatu inovasi pembelajaran yang dapat membantu peserta didik memahami konsep penjumlahan secara lebih mudah dan menarik. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah media pot penjumlahan, yaitu media pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami konsep nilai tempat dalam operasi penjumlahan melalui media visual yang bersifat konkret. Media ini menggunakan pot berwarna yang mewakili nilai tempat satuan, puluhan, dan ratusan sehingga peserta didik dapat memahami proses penjumlahan secara lebih nyata. Dengan memanfaatkan media pot penjumlahan yang dipadukan dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah, diharapkan peserta didik dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran serta mampu memahami konsep penjumlahan secara lebih baik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk Kamsurya & Susanto. The Short Title of My Research Papers A mendeskripsikan penggunaan media pot penjumlahan dalam meningkatkan kemampuan menjumlahkan peserta didik kelas IIB MIS Mutiara Aulia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi pembelajaran matematika yang lebih inovatif dan efektif pada jenjang sekolah dasar. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis dan faktual mengenai fenomena atau kondisi yang terjadi dalam proses pembelajaran, khususnya terkait penggunaan media pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan penjumlahan peserta didik. Melalui pendekatan ini, peneliti berusaha mendeskripsikan proses pembelajaran yang berlangsung serta respons peserta didik terhadap penggunaan media pembelajaran yang diterapkan. Penelitian ini dilaksanakan di MIS Mutiara Aulia yang beralamat di Jalan Jati No. 125A Pasar IV Dusun IIA Desa Sei Mencirim. Kecamatan Sunggal. Kabupaten Deli Serdang. Sumatera Utara. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas IIB yang berjumlah 25 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi dan Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran matematika yang berlangsung di kelas, khususnya pada materi penjumlahan. Melalui kegiatan observasi, peneliti dapat mengetahui tingkat pemahaman peserta didik, keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran, serta respons mereka terhadap penggunaan media pot Sementara itu, teknik dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data berupa foto dan video selama kegiatan pembelajaran berlangsung sebagai bukti pendukung dalam penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan cara menggambarkan dan menginterpretasikan data yang diperoleh dari hasil observasi dan dokumentasi selama proses pembelajaran berlangsung. Proses analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan Selanjutnya data disajikan dalam bentuk uraian deskriptif agar lebih mudah Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan. Melalui metode penelitian ini diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas mengenai penggunaan media pot penjumlahan dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan menjumlahkan peserta didik kelas IIB MIS Mutiara Aulia. Kamsurya & Susanto. The Short Title of My Research Papers A HASIL DAN DISKUSI Upaya untuk meningkatkan kemampuan pemahaman dan penalaran matematis pada peserta didik dapat dilakukan dengan memilih model pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan partisipasi aktif peserta didik selama proses pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang tepat dan efektif untuk meningkatkan kemampuan matematis peserta didik. Pembelajaran matematika memberi penekanan pada pemahaman konsep awal yang telah dikenal oleh peserta didik, terutama mengenai ide-ide matematika. Setelah peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar matematika, langkah selanjutnya adalah meningkatkan proses pembelajaran ke tingkat yang lebih tinggi untuk membentuk pengetahuan baru. Oleh karena itu, penggunaan media yang konkret diharapkan dapat membantu peserta didik memahami konsep penjumlahan dengan lebih mudah. Untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, individu perlu menghadapi berbagai situasi masalah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang mendapatkan latihan intensif dalam pemecahan masalah cenderung mencapai hasil yang lebih tinggi dalam ujian pemecahan masalah dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang latihannya lebih terbatas. Pemecahan masalah menjadi aspek integral dalam kurikulum matematika karena melibatkan penerapan pengetahuan dan keterampilan pada situasi masalah yang tidak rutin. Dalam pembelajaran matematika, situasi pemecahan masalah dapat berbentuk soal cerita atau soal yang memerlukan pemikiran mendalam untuk menjawab dengan benar. Oleh karena itu, pemecahan masalah dapat memperkaya kemampuan berpikir kritis, logis, dan sistematis peserta didik (Sagita et al. , 2. Kemampuan memecahkan masalah sangat penting baik dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pemecahan masalah sebagai langkah awal siswa dalam mengembangkan ide, menciptakan pengetahuan baru dan mengembangkan keterampilan (Sagita et al. , 2. Model Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah adalah metode pembelajaran yang terfokus pada penyelesaian masalah nyata, proses kerjasama tim, umpan balik, diskusi yang dapat menjadi batu loncatan untuk penelitian dan investigasi serta laporan akhir. Pembelajaran berbasis masalah merupakan metode pembelajaran yang menantang siswa untuk mengeksplorasi pemikirannya sendiri untuk menemukan solusi terhadap permasalahan dunia nyata. Pada proses menstimulasi pengetahuan dan pemahaman, peserta didik memegang kendali untuk dapat lebih aktif terlibat dan turut serta dalam mempelajari materi dan mengembangkan berpikir kritis. Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa . tudent centere. Suatu pendekatan yang memberdayakan siswa untuk melakukan Kamsurya & Susanto. The Short Title of My Research Papers A penelitian, mengintegrasikan teori dan praktik, serta menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan solusi yang layak terhadap suatu masalah. (Aryanti. Problem Based Learning dapat diimplementasikan dalam kurikulum dan pembelajaran, dengan mempertimbangkan pengalaman dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sehari-hari secara mandiri. Adapun manfaat penggunaan Problem Based Learning, antara lain: Dengan Problem Based Learning merupakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Dalam situasi Problem Based Learning, siswa menggabungkan pengetahuan dan keterampilan secara bersamaan dan menerapkannya dalam konteks yang relevan. Problem Based Learning dapat meningkatkan pemikiran kritis, meningkatkan inisiatif siswa dalam belajar, motivasi intrinsik dan mengembangkan hubungan interpersonal dalam kerja kelompok. Didukung beberapa kelebihan Problem Based Learning di atas peneliti memiliki gagasan untuk mengkolaborasikan penggunaan media dan strategi pembelajaran. Hal ini dinilai pembelajaran matematika materi penjumlahan dinilai cocok digunakan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan permasalahan sebagai titik fokus utama untuk merancang pengalaman belajar dengan menerapkan penggunaan media pot penjumlahan. Media pot penjumlahan adalah Media yang bisa mendukung peserta didik dalam memahami konsep berhitung penjumlahan bersusun dengan teknik menyimpan. Pot penjumlahan terdiri dari pot warna, papan, tangkai bunga, stiker, dan yang lainnya. Pot penjumlahan ini dipilih sebagai media dikarenakan dinilai dapat membantu peserta didik memahami konsep penjumlahan yang realistik atau nyata. Pot penjumlahan ini merupakan media berbahan styrofoam, triplek, dan kertas asturo berbentuk persegi panjang yang dapat dipajang/digantungkan di dinding kelas. Pot yang dibedakan warnanya agar menarik minat peserta didik yang mana setiap pot mewakili nilai tempatnya sebagai satuan. puluhan, dan ratusan sesuai dengan nilai tempatnya pada operasi hitung penjumlahan bersusun. Gambar 1. Media Pot Penjumlahan Kamsurya & Susanto. The Short Title of My Research Papers A Pembelajaran dibuka dengan mengucapkan salam. Sebelum memulai proses pembelajaran, terlebih dahulu peneliti mengkondisikan kelas dengan memastikan peserta didik memusatkan perhatiannya ke arah papan tulis. Selanjutnya meminta peserta didik untuk samasama mengucapkan lafaz basmallah sebelum memulai pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pendahuluan, menanyakan kabar peserta didik dan melakukan absensi. Gambar 2. Menjelaskan materi penjumlahan dan cara kerja Pot Penjumlahan Lalu peneliti menjelaskan mengenai pembelajaran apa yang hendak dilakukan pada jam pelajaran tersebut. Untuk proses belajar yang dilakukan peserta didik dinilai cukup antusias dengan penggunaan media yang dibuat. Hal ini dapat dibuktikan dengan antusiasnya peserta didik berebut untuk menggunakan media ke depan. Gambar 3. Antusias peserta didik untuk maju ke depan menggunakan media Gambar 4. Peserta didik menggunakan media pot penjumlahan Kamsurya & Susanto. The Short Title of My Research Papers A Dari pembelajaran yang peneliti lakukan tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya karena menggunakan media yang berwarna-warni, peserta didik lebih tertarik untuk memusatkan perhatiannya ke depan. Namun, untuk peserta didik yang tidak peduli dan tergolong acuh hal tersebut tidak menarik baginya. Pembelajaran ini tentu dapat bermanfaat bagi peserta didik yang masih belum mampu menjumlahkan bilangan satuan, puluhan, hingga ratusan karena dapat menggunakan media konkrit yang dapat digunakan untuk berhitung. Bagi peserta didik yang tergolong masih pasif dalam pembelajaran hal yang akan jadi evaluasi peneliti yaitu bagaimana kedepannya peneliti bisa lebih menguasai kelas agar para peserta didik dapat berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar guna supaya tidak hanya peserta didik yang itu-itu saja yang berani untuk maju kedepan, tetapi peserta didik yang lain juga mendapatkan kesempatan untuk dapat melakukan pembelajaran yang aktif dan KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis literatur dan pembahasan penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep merupakan unsur penting dalam belajar maka dari itu pemahaman konsep secara matang harus diperhatikan dan sangat penting dalam proses pembelajaran matematika khususnya materi penjumlahan. Pemecahan masalah merupakan salah satu kemampuan yang harus dikuasai siswa setelah melakukan peroses belajar matematika. Untuk memperoleh kemampuan dalam pemecahan masalah, seseorang harus memiliki banyak pengalaman dalam memecahkan berbagai masalah. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa, siswa yang diberi banyak latihan pemecahan masalah, memiliki nilai lebih tinggi dalam tes pemecahan masalah dibandingkan anak yang latihannya lebih sedikit. REFERENSI