Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 Hal. 124 - 134 ISSN 2775-5134 Transformasi Keuangan Digital: Literasi. Pelatihan dan Pendampingan Praktek Keuangan Digital Bagi Pelaku UMKM Perempuan PWA Jawa Barat Abdul Rozak1*. Nurul Aziz Pratiwi2. Dhenahi Jerfiani3 Universitas AoAisyiyah Bandung Jl. H Ahmad Dahlan. Banteng Dalam Kec. Lengkong. Bandung. Indonesia 1,2,3 e-mail: 1abdul. rozak@unisa-bandung. id, 2nurul. aziz@unisa-bandung. jerfiani@unisa-bandung. Abstrak Pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan yang tergabung dalam Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Barat memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, sebagian besar pelaku UMKM tersebut masih terkendala pengelolaan keuangan, diantaranya: rendahnya literasi keuangan digital, minimnya akses pelatihan keuangan digital, dan kendala klasik dalam pencatatan keuangan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan digital melalui pelatihan dan pendampingan praktek keuangan digital berbasis aplikasi AuBukuWarungAy. Metode pelaksanaan meliputi ceramah interaktif, simulasi . ole-pla. , diskusi, pre-test dan post-test, serta pendampingan pelatihan. Hasil program kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan terhadap pemahaman peserta, di mana indikator kesiapan mengadopsi teknologi meningkat sebesar 54%, kemampuan menggunakan aplikasi pembukuan digital AuBukuWarungAy meningkat 50%, dan keterampilan memisahkan keuangan pribadi dan usaha meningkat 45%. Peningkatan ini membuktikan bahwa pendekatan berbasis praktik, kontekstual, dan partisipatif sangat efektif dalam mengatasi kesenjangan transformasi keuangan digital pelaku UMKM perempuan. Proyeksi kemajuan bagi pelaku UMKM perempuan dimasa mendatang yakni memperluas cakupan peserta, memperkuat pendampingan pasca pelatihan serta mempermudah akses pembiayaan formal. Kata Kunci: Pelatihan. Pendampingan. Transformasi Keuangan Digital. UMKM PWA Jabar This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Publikasi oleh LPPM Universitas Bina Sarana Informatika Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 Abstract Women-owned Micro. Small, and Medium Enterprises (MSME. under the Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) West Java hold significant potential in fostering local economic growth. However, the majority of these enterprises continue to face challenges in financial management, including low levels of digital financial literacy, limited access to digital financial training, and persistent barriers in financial record-keeping. This community engagement program aims to enhance digital financial literacy through training and mentoring on the practical use of the AuBukuWarungAy application. The implementation methods consist of interactive lectures, simulations . ole-pla. , group discussions, pre-test and post-test evaluations, as well as trained of mentoring. The results of program demonstrate a substantial improvement in participantsAo competencies, with readiness to adopt financial technology increasing by 54%, the ability to utilize the digital bookkeeping application AuBukuWarungAy improving by 50%, and the skill of separating personal and business finances increasing by These improvements indicate that practice-based, contextual, and participatory approaches are highly effective in addressing the digital financial transformation gap among women-led MSMEs. Future projections for these enterprises include expanding the scope of participants, strengthening post-training mentoring, and facilitating access to formal financing Keywords: Digital Financial Transformation. Mentoring. Training. West Java PWA MSMEs Pendahuluan UMKM (Usaha Mikro. Kecil, dan Menenga. merupakan salah satu pilar utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM . , sektor UMKM menyumbang 61,97% terhadap Produk Domestik Bruto dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional (KemenKop, 2. Peran ini menjadikan UMKM sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan penciptaan lapangan kerja (Tambunan, 2. Namun, perkembangan pesat ekonomi digital dan persaingan pasar global menuntut UMKM untuk beradaptasi terhadap transformasi teknologi, terutama dalam pengelolaan keuangan. Digitalisasi keuangan menjadi strategi penting untuk meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing UMKM di era Industri 4. 0 (Thathsarani & Jianguo, 2. Salah satu segmen UMKM yang memiliki potensi besar namun masih menghadapi tantangan signifikan adalah UMKM yang dikelola oleh perempuan. Penelitian Zainudin et al . menegaskan bahwa UMKM perempuan tidak hanya berkontribusi pada ekonomi keluarga, tetapi juga memperkuat kohesi sosial di komunitasnya (Zaenudin et al, 2. Namun, keterbatasan pemahaman literasi digital kerap menjadi hambatan dalam pengembangan usaha. Dalam konteks ini, hadirnya platform aplikasi keuangan digital seperti BukuWarung menjadi solusi strategis untuk menjawab hambatan tersebut. BukuWarung menyediakan fitur pencatatan arus kas, manajemen utang-piutang, hingga pembuatan laporan keuangan sederhana yang dapat diakses secara gratis melalui perangkat mobile. Beberapa penelitian menunjukkan manfaat signifikan dari aplikasi ini. Aprilia & Wafa . menyatakan bahwa BukuWarung mampu meningkatkan akurasi pencatatan dan membantu pelaku UMKM dalam memisahkan keuangan pribadi dengan usaha. Selanjutnya. Fitri . menegaskan bahwa pelatihan penggunaan BukuWarung meningkatkan literasi keuangan perempuan pelaku UMKM, khususnya dalam menyusun laporan keuangan untuk akses pembiayaan. Sementara itu. Lussy & Airawaty . menunjukkan bahwa integrasi BukuWarung dengan pembayaran digital mendorong efisiensi usaha dan memperkuat daya saing UMKM di pasar yang semakin Keberadaan BukuWarung tidak hanya bermanfaat dalam pencatatan keuangan, http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 tetapi juga strategis dalam mendukung transformasi digital UMKM perempuan di Indonesia. Hasil analisis pendampingan beberapa PkM sebelumnya menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan yang disertai mentoring intensif jauh lebih efektif dibandingkan pelatihan Misalnya, program digitalisasi pembukuan UMKM di Yogyakarta oleh Ridwan . berhasil meningkatkan jumlah pelaku UMKM yang menyusun laporan keuangan sederhana dari 25% menjadi 82% setelah enam bulan pendampingan (Ridwan et al, 2. Kemudian pelatihan yang dilakukan oleh Abdul Rozak . berhasil meningkatkan pemahaman pelaku UMKM penyusunan laporan keuangan berbasis syariah hingga lebih dari 60% (Rozak et al, 2. Namun hal lain berbeda dengan program pelatihan sehari di Surabaya yang hanya menghasilkan adopsi aplikasi pembukuan sebesar 40% tanpa perubahan signifikan dalam pemisahan keuangan pribadi dan usaha (Rajuddin et al, 2. Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Barat merupakan organisasi perempuan di bawah Muhammadiyah yang berperan strategis dalam pemberdayaan sosial, pendidikan, dan ekonomi berbasis nilai-nilai Islam berkemajuan. Salah satu wujud kontribusinya adalah pengembangan sektor UMKM yang dikelola oleh anggota perempuan. Berdasarkan data internal PWA Jawa Barat, terdapat lebih dari 100 pelaku UMKM perempuan yang tersebar di berbagai kota/kabupaten, seperti Bandung. Cirebon. Garut, hingga Tasikmalaya. Sebagai organisasi perempuan. Aisyiyah memiliki sejarah panjang dalam pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, sosial, dan ekonomi (Kholisatun et al, 2. Namun, sebagian besar UMKM ini masih tergolong usaha mikro dengan pola pengelolaan keuangan tradisional, belum memanfaatkan transformasi digital secara optimal, dan masih mencampuradukkan keuangan pribadi dan usaha (Mashuri & Ermaya, 2. Permasalahan mitra PkM ini dapat dikelompokkan menjadi tiga aspek utama. Pertama, rendahnya literasi keuangan digital yang mengakibatkan rendahnya akurasi pencatatan dan penyusunan laporan keuangan (OJK, 2. Kedua, minimnya akses terhadap pelatihan dan pendampingan terkait penggunaan aplikasi pembukuan digital. Ketiga, adanya kendala kultural dan struktural komunitas yang membuat sebagian pelaku usaha enggan mengubah kebiasaan lama, seperti mengandalkan ingatan dalam mencatat transaksi (Mudrikah et al, 2. Dengan demikian, transformasi keuangan digital melalui literasi, pelatihan, dan pendampingan merupakan strategi tepat untuk menjawab hambatan tersebut. Urgensi pelaksanaan kegiatan ini semakin meningkat ketika mempertimbangkan dampak pandemi Covid-19. Survei Bank Indonesia menunjukkan bahwa 87,5% UMKM di Indonesia mengalami penurunan omzet selama pandemi (Saputra, 2. Hal ini juga dialami oleh UMKM perempuan PWA Jawa Barat, yang sebagian besar masih mengandalkan transaksi offline dan belum memanfaatkan transformasi keuangan digital untuk menjangkau pasar daring (Assyfa, 2. Perubahan perilaku konsumen yang beralih ke transaksi digital menuntut pelaku UMKM untuk segera beradaptasi agar tetap relevan dan kompetitif (UN Women, 2. Pelatihan dan pendampingan penyusunan laporan keuangan berbasis digital menjadi solusi strategis untuk menjawab permasalahan tersebut. Pendekatan ini tidak hanya membekali pelaku UMKM dengan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong perubahan perilaku manajemen keuangan secara berkelanjutan. Pendampingan berbasis komunitas memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang partisipatif, kultural, dan kontekstual sesuai nilai-nilai yang dianut oleh komunitas Aisyiyah (Rahmawati et al, 2. Metode BukuWarung merupakan aplikasi digital yang relevan dan bermanfaat bagi pelaku UMKM di Indonesia, terutama dalam mengatasi kendala pencatatan keuangan, meningkatkan pengembangan usaha, dan mempermudah proses pembayaran digital (Setyawan, 2. Pemanfaatan aplikasi digital BukuWarung memberikan dampak positif terhadap pengelolaan http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 usaha, namun keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh faktor literasi digital, pendampingan, dan dukungan komunitas. Sementara untuk mengatasi berbagai kendala dalam pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dirancang menggunakan pendekatan partisipatif yang memadukan metode ceramah, role-play, serta pendampingan langsung . oaching clini. Metode ceramah digunakan untuk menyampaikan konsep dasar literasi keuangan, pentingnya pemisahan keuangan pribadi-usaha, dan pengenalan aplikasi pembukuan digital. Metode ceramah dipilih karena efektif dalam mentransfer pengetahuan dan memberikan pemahaman konseptual kepada peserta (Lestari et al, 2. Sementara itu, metode role-play memungkinkan peserta melakukan simulasi pencatatan transaksi, penyusunan laporan keuangan, dan penggunaan aplikasi pembukuan digital BukuWarung secara langsung, sehingga meningkatkan keterampilan praktis mereka. Pendekatan metode role-play dalam pelatihan UMKM mampu meningkatkan keterlibatan peserta dan mempercepat adopsi keterampilan baru. Metode evaluasi kegiatan dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam literasi keuangan digital. Evaluasi juga dilengkapi dengan observasi praktik langsung selama sesi role-play dan pendampingan, serta kuesioner kepuasan untuk menilai kebermanfaatan program. Menurut Safitri . , kombinasi evaluasi kuantitatif dan kualitatif dalam program pemberdayaan UMKM dapat memberikan gambaran komprehensif terkait efektivitas pelaksanaan dan dampaknya terhadap peserta (Safitri, 2. Tahapan pelaksanaan kegiatan PkM ini dibagi menjadi tiga tahap utama. Tahap persiapan meliputi koordinasi dengan UMKM PWA Jawa Barat dan analisis permasalahan mitra melalui wawancara, survei, dan observasi lapangan. Tahap pelaksanaan diawali dengan pre-test untuk mengukur tingkat literasi keuangan awal peserta, dilanjutkan dengan penyampaian materi melalui ceramah dan role play, serta diakhiri dengan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Tahap akhir mencakup penyusunan laporan hasil kegiatan, evaluasi keseluruhan pelaksanaan, serta publikasi hasil PkM dalam jurnal terakreditasi nasional dan media massa sebagai bentuk diseminasi pengetahuan (Zaenudin et al, 2. Secara garis besar, tahapan dari kegiatan abdimas yang dilaksanakan dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini: Tahap Persiapan: Koordinasi UMKM PWA Jabar & Analisis Permasalahan Tahap Pelaksanaan: Pre test. Materi Interaktif & Role play. Post test Tahap Akhir: Penyusunan Laporan. Evaluasi & Publikasi Hasil Gambar 1. Tahapan Kegiatan Abdimas Pelaku UMKM Perempuan Berkemajuan PWA Jawa Barat Gambar 1 menggambarkan alur kegiatan mulai dari identifikasi masalah hingga publikasi hasil. Setiap tahap dirancang untuk memastikan keterlibatan aktif peserta dan keberlanjutan hasil kegiatan. Dengan model ini, diharapkan UMKM perempuan PWA Jawa Barat dapat memperoleh peningkatan signifikan pada ketahanan ekonomi keluarga serta komunitas dan kemampuan pengelolaan keuangan berbasis digital yang relevan dengan kebutuhan usaha (Farida et al, 2. Penyampaian keseluruhan materi disertai dengan diskusi dan tanya jawab antara narasumber dengan peserta abdimas yakni para pelaku UMKM perempuan dari unsur Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Barat. Hal ini menjadi perhatian khusus dari pemateri karena peserta http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 merupakan pihak yang berhadapan langsung dengan para konsumen yang membutuhkan produk maupun jasanya. Hasil dan Pembahasan Berikut ini deskripsi profil responden dari para pelaku UMKM perempuan tingkat PWA Jawa Barat yang berasal dari berbagai sektor usaha, seperti: kuliner, fashion, kerajinan tangan, perdagangan kecil . , dan jasa. Tabel 1. Profil Responden UMKM Perempuan PWA Jawa Barat Sektor Usaha Jumlah UMKM Penggunaan Keuangan Digital Pencatatan Manual Kuliner 10 . %) 2 . ktif/terbata. uku catatan Fashion & Konveksi ernah mencoba, tidak konsiste. ota/buku 4 . %) 4 . anual 3 . %) 1 . ernah mencob. ota/ingata. Jasa 2 (Excel Total %) pernah/aktif 21 . %) Kerajinan Tangan & Kreatif Perdagangan Kecil (Retai. Tahun Berdiri Usaha 3 sebelum 2010, 4 . 0Ae2. , 3 . 6Ae 2 . 0Ae2. , 3 . 6Ae2. , 1 . 1Ae 1 . 0Ae2. , 2 . 6Ae2. , 1 . 1Ae 1 . 0Ae2. , 1 . 6Ae2. , 1 . 1Ae 1 . 6Ae2. , 1 . 1Ae2. 3 sebelum 2010, 7 . 0Ae2. , 9 . 6Ae 2. , 6 . 1Ae2. Sumber: Rekapitulasi deskripsi pelaku UMKM PWA Jabar . Pada Tabel 1 terlihat bahwa sebagian besar UMKM . %) masih menggunakan pencatatan manual, dominan berupa buku catatan sederhana atau nota transaksi. Hanya 16% UMKM yang pernah atau sedang menggunakan aplikasi digital . isalnya BukuWarun. , namun penggunaannya tidak konsisten dan fitur yang dipakai masih terbatas. Dari sisi usia usaha, 36% UMKM berdiri pada periode 2016Ae2020, menunjukkan tren tumbuhnya UMKM perempuan pasca meningkatnya peran ekonomi keluarga dan kebutuhan pasca pandemi. Sektor kuliner menjadi dominasi utama . %), sektor ini relatif lebih adaptif dalam mencoba aplikasi keuangan digital dibandingkan sektor lain. Penyampaian materi oleh narasumber sesuai dengan topik pembahasan yang dibutuhkan guna menghasilkan pelayanan dan kepuasan memadai bagi kompetensi para pelaku UMKM. Peserta abdimas UMKM perempuan begitu antusias terhadap materi pelatihan yang disampaikan, dibuktikan dengan banyaknya sesi diskusi dengan para narasumber. Pelaksanaan pelatihan dan pendampingan ini diselenggarakan pada hari senin, 24 Februari 2025 dimulai pukul 09. 00 WIB dengan dihadiri 25 pelaku UMKM perempuan PWA Jawa Barat. Materi pelatihan diberikan dengan durasi 120 menit. Sebelum materi disampaikan, tim abdimas memberikan pre test kepada http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 peserta terkait materi transformasi keuangan digital kepada para pelaku UMKM perempuan berkemajuan melalui g-form. Suasana saat pemberian materi mengenai transformasi keuangan digital oleh instruktur abdimas sebagaimana terlihat pada gambar 2. Gambar 2. Suasana Pelatihan Abdimas Pelaku UMKM Perempuan PWA Jawa Barat Setelah pemberian materi dalam bentuk ceramah oleh narasumber, dilanjutkan kembali dengan pelatihan role-play dalam bentuk aplikasi praktik keuangan digital melalui platform BukuWarung. Teori yang digunakan untuk memperkuat kegiatan ini sebagaimana Davis terapkan yaitu Technology Acceptance Model (Davis, 1. Teori ini menjelaskan bahwa adopsi teknologi ditentukan oleh kebermanfaatan dan kemudahan pengguna. Melalui penerapan aplikasi platform tersebut, maka peserta UMKM dapat mencatat transaksi harian usaha dan menyajikan laporan keuangannya secara otomatis, efektif dan efisien. Hasil pelatihan dan pendampingan terhadap pelaku UMKM diantaranya dapat mengoptimalisasi waktu, memiliki akurasi perhitungan secara tepat dan peningkatan literasi digital. Penggunaan aplikasi digital seperti BukuWarung tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis pencatatan keuangan, namun juga memperkuat kepercayaan diri dan keberlanjutan usaha UMKM perempuan PWA Jawa Barat. Berikut ini tampilan menu utama aplikasi platform digital keuangan BukuWarung sesuai fitur dengan beragam tawaran produk sebagaimana terlihat pada gambar 3. http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 Gambar 3. Tampilan Menu Utama Platform BukuWarung Gambar 4 di bawah ini menunjukkan ragam produk hasil usaha kreatifitas pelaku UMKM perempuan PWA Jawa Barat. Gambar 4. Ragam Produk UMKM Perempuan PWA Jawa Barat Selanjutnya sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta UMKM dan narasumber abdimas mengenai tranformasi keuangan digital. Kegiatan abdimas ditutup dengan diberikannya post-test kepada peserta sebagai bentuk evaluasi pelaksanaan kegiatan ini. Hasil pre-test dan post-test yang diberikan oleh narasumber berupa kuesioner kepada peserta pelatihan abdimas dari elemen UMKM perempuan PWA Jawa Barat. Pengolahan data menggunakan bantuan Microsoft Excel agar dapat diketahui bagaimana capaian persentase dalam peningkatan pelatihan abdimas yang Hasil rekapitulasi capaian peningkatan pelatihan kepada peserta dari pelaku UMKM perempuan berkemajuan PWA Jawa Barat tersaji dalam tabel 2 di bawah ini: http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 Tabel 2. Rekapitulasi Peningkatan Pelatihan Pelaku UMKM Perempuan PWA Jawa Barat No. Indikator Sebelum Pelaksanaan (%) Setelah Pelaksanaan (%) Peningkatan (%) Pemahaman konsep dasar literasi keuangan digital Kemampuan menggunakan aplikasi pembukuan digital Keterampilan memisahkan keuangan pribadi dan usaha Pemahaman pentingnya laporan keuangan untuk akses pembiayaan Kesiapan mengadopsi teknologi dalam usaha Sumber: kuesioner pre-test dan post-test pelatihan abdimas yang telah diolah . Grafik rekapitulasi capaian peningkatan pemahaman dan keterampilan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi pelaku UMKM perempuan PWA Jawa Barat sebagaimana terlihat pada gambar 5. Gambar 5. Grafik Capaian Peningkatan Pelatihan Abdimas Pelaku UMKM PWA Jawa Barat Berdasarkan Gambar 5 terlihat bahwa hasil capaian rekapitulasi pelatihan abdimas bagi pelaku UMKM perempuan berkemajuan PWA Jawa Barat terlihat peningkatan yang cukup signifikan bagi pemahaman secara komprehensif guna mengoptimalkan layanan keuangan digital pada masyarakat. Berikut hasil interpretasi capaian kompetensi berdasarkan indikator: Pemahaman Konsep Dasar Literasi Keuangan Digital Sebelum pelatihan, hanya 40% peserta yang memiliki pemahaman memadai mengenai http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 konsep dasar literasi keuangan digital. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan yang cukup besar, sejalan dengan temuan Zainudin . yang menyebutkan bahwa sebagian besar UMKM perempuan di Indonesia masih mengandalkan pencatatan manual dan minim pemahaman terkait konsep digitalisasi Setelah pelatihan, persentase ini meningkat menjadi 85%, atau mengalami peningkatan sebesar 45%. Hal ini menunjukkan efektivitas metode pelatihan berbasis ceramah interaktif yang disertai contoh nyata . ase stud. untuk menjelaskan istilah dan prinsip dasar literasi keuangan digital. Kemampuan Menggunakan Aplikasi Pembukuan Digital Berdasarkan hasil identifikasi awal, terdapat sebagian kecil pelaku UMKM perempuan yang pernah menggunakan aplikasi keuangan digital seperti BukuWarung atau aplikasi Jumlahnya sekitar 20Ae25% dari total peserta. Namun, penggunaan tersebut masih bersifat parsial . isalnya hanya fitur pencatatan utang-piutan. dan tidak berlanjut secara konsisten karena keterbatasan pemahaman teknis dan kebiasaan lama menggunakan pencatatan manual. Bagi peserta yang sudah mengenal atau mencoba aplikasi keuangan digital, kendala utama bukan lagi literasi digital dasar, melainkan pada adanya keterbatasan konsistensi, kurangnya pemahaman fitur lanjutan, kendala teknis perangkat, dan kendala jaringan internet. Hasil survei Bank Indonesia . menyatakan bahwa hambatan adopsi teknologi pada UMKM disebabkan oleh keterbatasan keterampilan Setelah adanya pelatihan, kemampuan ini melonjak menjadi 75% . eningkatan 50%), menjadikan salah satu indikator dengan lonjakan tertinggi. Keberhasilan ini dapat diatribusikan pada penerapan metode role-play, di mana peserta mempraktikkan langsung penggunaan aplikasi pembukuan digital, sesuai dengan temuan Lestari . Keterampilan Memisahkan Keuangan Pribadi dan Usaha Sebelum pelatihan, hanya 35% peserta yang secara konsisten memisahkan keuangan pribadi dan usaha. Fenomena ini terjadi pada UMKM skala mikro, di mana modal usaha sering bercampur dengan kebutuhan rumah tangga (Ridwan et al, 2. Setelah pelatihan, persentase ini meningkat menjadi 80% . eningkatan 45%). Perubahan ini menunjukkan bahwa pelatihan yang berbasis digital dalam pemanfaatan tatakelola keuangan, efektif membentuk perilaku baru yang lebih profesional dan sistematis. Pemahaman Pentingnya Laporan Keuangan untuk Akses Pembiayaan Awalnya, hanya 30% peserta yang memahami bahwa laporan keuangan yang rapi dan terstruktur menjadi syarat penting untuk mendapatkan akses pembiayaan dari lembaga formal seperti bank dan fintech. Rendahnya kesadaran ini menyebabkan banyak UMKM kesulitan memperoleh kredit usaha (Thathsarani & Jianguo, 2. Pasca pelatihan, tingkat pemahaman ini meningkat menjadi 78% . enaikan 48%). Peningkatan ini terjadi karena peserta diperkenalkan pada contoh formulir pengajuan pembiayaan dan diminta mempraktikkan pembuatan laporan keuangan sesuai standar sederhana yang dapat diterima lembaga keuangan. Sebelum pelatihan, hanya 35% peserta yang secara konsisten memisahkan keuangan pribadi dan usaha. Fenomena ini umum terjadi pada UMKM skala mikro, di mana modal usaha sering bercampur dengan kebutuhan rumah tangga (Ridwan et al, 2. Setelah pelatihan, persentase ini meningkat menjadi 80% . eningkatan 45%). Perubahan ini menunjukkan bahwa pelatihan yang memuat simulasi pencatatan kas masuk dan kas keluar, serta penjelasan manfaat pemisahan keuangan, efektif dalam membentuk perilaku baru yang lebih profesional dalam pengelolaan usaha. Kesiapan Mengadopsi Teknologi dalam Usaha Sebelum kegiatan, kesiapan peserta untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam operasional usaha hanya berada pada angka 28%. Angka ini mencerminkan adanya resistensi dan keraguan terhadap teknologi baru, terutama pada peserta yang belum http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 terbiasa menggunakan perangkat digital. Setelah pelatihan, angka kesiapan meningkat signifikan menjadi 82% . enaikan 54%), yang merupakan persentase peningkatan tertinggi dari seluruh indikator. Lonjakan ini menandakan bahwa pelatihan yang menggabungkan edukasi, presentasi, dan pendampingan mampu mengurangi hambatan psikologis terhadap adopsi teknologi. Kesimpulan Secara umum, kegiatan ini berhasil meningkatkan literasi keuangan digital peserta melalui metode ceramah, role play, simulasi penggunaan aplikasi pembukuan digital, serta diskusi interaktif. Manfaat yang diperoleh tidak hanya berupa peningkatan pengetahuan, akan tetapi keterampilan praktis dalam mengelola keuangan usaha secara digital dan profesional. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pada kelima indikator. Pencapaian hasil tersebut mengindikasikan bahwa pendekatan berbasis praktik langsung, relevansi materi, dan dukungan komunitas sangat efektif dalam mengatasi hambatan literasi keuangan digital pada UMKM perempuan PWA Jabar. Berdasarkan capaian tersebut, rekomendasi untuk pengembangan kegiatan pengabdian selanjutnya yaitu memperluas cakupan peserta UMKM hingga tingkat daerah maupun ranting PWA Jabar, memperkuat pendampingan pasca pelatihan guna memastikan keberlanjutan praktik yang telah dipelajari, serta mengintegrasikan materi pelatihan berbasis transformasi keuangan digital. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dan daya saing UMKM perempuan PWA Jabar, sekaligus persiapan dalam menghadapi tuntutan digitalisasi keuangan. Selain itu, kolaborasi lembaga keuangan formal dan penyedia teknologi perlu diperluas untuk memberikan akses pembiayaan dan perangkat digital yang memadai, sehingga proses transformasi keuangan digital dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. Daftar Pustaka