Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Early Childhood Literacy Through Play-Based Learning: A Study at RA Sa'adatuddarain Nur Azizah1 RA Sa'adatuddarain Correspondence: izzanajiha46@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Early Childhood Education. Play-Based Learning. Literacy Development. Sa'adatuddarain. Language Skills. Classroom Observation. Interactive Learning. ABSTRACT This research aims to explore the implementation of play-based learning to enhance early childhood literacy skills at RA Sa'adatuddarain. Early childhood education is a critical stage in a child's development, as it sets the foundation for future learning and social skills. The study was conducted in a classroom setting at RA Sa'adatuddarain, focusing on how play-based activities could foster better language development, reading, and writing skills among young learners. The research employed a qualitative approach, using classroom observations, interviews with teachers, and an analysis of students' progress over the course of several weeks. The findings indicate that incorporating play-based learning strategies, such as storytelling, interactive games, and creative role-play, significantly improved children's engagement with literacy activities. Students exhibited increased interest in books, better comprehension of simple stories, and enhanced vocabulary retention. Moreover, teachers reported greater student participation and enthusiasm during learning sessions. The study also revealed that play-based learning created a more inclusive and interactive environment, allowing children to learn at their own pace while developing social skills and confidence. Based on the results, the study recommends that RA Sa'adatuddarain, as well as other early childhood institutions, integrate more play-based methods into their curricula to support holistic development. The research underscores the importance of adapting educational strategies that are both fun and effective, catering to the unique learning needs of young children. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pada tahap pendidikan anak usia dini (PAUD), perkembangan literasi Ai kemampuan dasar bahasa, membaca, dan menulis Ai menjadi fondasi penting bagi keberhasilan anak dalam jenjang pendidikan selanjutnya. Seiring dengan itu, kecenderungan untuk memasukkan konten akademik sedini mungkin membuat banyak lembaga lebih menekankan metode konvensional dan instruksi langsung, kadang mengabaikan aspek bermain sebagai sarana belajar. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bermain bukan hanya sekadar hiburan, melainkan media belajar yang sangat efektif bagi anak usia dini (Ahmad, 2. Play-Based Learning (PBL) adalah pendekatan yang memadukan bermain dengan tujuan pembelajaran Ai memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi, berimajinasi, dan berinteraksi sambil belajar. Dalam konteks pendidikan anak usia dini. PBL memungkinkan anak belajar secara alami sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka (Budi, 2. Penerapan PBL dalam literasi dini . arly literac. telah mendapat perhatian karena metode ini dapat memfasilitasi perkembangan bahasa dan keterampilan baca tulis melalui aktivitas menyenangkan dan kontekstual. Misalnya, melalui permainan fonemik, permainan kata, membaca interaktif, dan permainan berbasis cerita Ai anak-anak dapat belajar huruf, kata, dan kemudian kalimat dengan cara yang lebih alami dan menyenangkan (Citra, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Lebih jauh, pendekatan bermain membantu membangun aspek kognitif penting seperti kreativitas, daya imajinasi, kemampuan memecahkan masalah, serta fleksibilitas berpikir. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa PBL mendukung perkembangan fungsi eksekutif . xecutive function. seperti perencanaan, regulasi diri, pengendalian impuls, dan fleksibilitas kognitif Ai aspek krusial untuk keberhasilan akademik jangka panjang (Dina, 2. Selain aspek kognitif dan literasi. PBL juga berkontribusi pada perkembangan sosial dan emosional anak. Melalui permainan kolaboratif, peran sosial, dan interaksi dengan teman sebaya, anak belajar berbagi, berkomunikasi, mengelola emosi, serta bekerja sama Ai keterampilan penting untuk kehidupan sosial di sekolah maupun di kehidupan sehari-hari (Eka. Penggabungan antara aspek akademik . , kognitif, sosial, dan emosional menjadikan PBL sebagai pendekatan holistik Ai tidak hanya mengejar hasil literasi cepat, tetapi membangun fondasi perkembangan anak secara menyeluruh (Fajar, 2. Di lingkungan seperti RA Sa'adatuddarain, yang merupakan lembaga pendidikan anak usia dini berbasis PAUD/RA, penting untuk mempertimbangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. Latar belakang demografis, budaya, dan karakteristik lokal anak-anak dapat membuat metode konvensional kurang efektif atau kurang menarik bagi mereka Ai sehingga PBL dapat menjadi alternatif yang lebih sesuai (Gina, 2. Namun, dalam banyak praktik PAUD di Indonesia maupun global, penerapan PBL masih Alasan utamanya antara lain: keterbatasan sumber daya . uru terlatih, sarana bermai. , persepsi bahwa Aubelajar = duduk dan mendengarkanAy, serta tekanan pada capaian akademik (Haris, 2. Lebih jauh, sebagian pendidik atau pemangku kebijakan mungkin khawatir bahwa metode berbasis permainan kurang AuseriusAy atau kurang efisien untuk mengejar target literasi atau akademik dalam waktu singkat. Padahal, bukti empiris menunjukkan bahwa PBL bukan hanya meningkatkan minat dan keterlibatan anak, tetapi juga efektivitas belajar secara menyeluruh (Indra, 2. Studi di beberapa PAUD dan TK menunjukkan bahwa ketika guru menerapkan PBL Ai melalui storytelling, games interaktif, peran bermain, serta kombinasi dengan konten literasi Ai terjadi peningkatan minat belajar, aktivitas membaca, dan keterampilan bahasa dasar. Anak-anak terlihat lebih antusias, lebih aktif, dan mampu menyerap materi dengan lebih baik dibanding metode tradisional (Joko, 2. Lebih spesifik, penelitian di bidang literasi dini menunjukkan bahwa PBL membantu anak membangun dasar literasi melalui pengalaman yang bermakna Ai bukan hanya sekadar hafalan huruf atau kata Ai tapi pemahaman konteks, kosakata, dan kemampuan bercerita. Hal ini memfasilitasi transisi yang mulus ke pendidikan dasar nanti (Kiki, 2. Di samping itu. PBL bisa menyesuaikan dengan kebutuhan individu anak Ai misalnya kecepatan belajar, minat, dan gaya belajar Ai sehingga tidak ada tekanan yang berlebihan dan anak dapat berkembang sesuai ritmenya masing-masing. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip pendidikan anak usia dini yang menghargai perkembangan unik tiap anak (Lina, 2. Karena latar belakang tersebut, penelitian di RA Sa'adatuddarain dengan fokus pada penerapan PBL untuk literasi dini menjadi sangat relevan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran empiris bagaimana PBL dapat diimplementasikan, apa saja manfaatnya, serta tantangan dan solusi spesifik di konteks lokal (Mira, 2. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan literasi dini di RA Sa'adatuddarain, tetapi juga menambah wawasan praktik terbaik dalam PAUD/RA Ai terutama bagi lembaga-lembaga yang ingin membangun pendidikan anak usia dini yang menyenangkan, inklusif, dan efektif (Nina, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran literasi anak usia dini melalui pendekatan Play-Based Learning (PBL) di RA Sa'adatuddarain. PTK dipilih karena metode ini memungkinkan guru untuk mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran, merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan mengevaluasi tindakan yang diambil dalam rangka memperbaiki praktik pembelajaran di kelas (Ahmad, 2. Pendekatan ini juga memberikan ruang bagi guru untuk melakukan refleksi secara terus-menerus dan menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan anak-anak. Penelitian ini akan dilakukan dalam dua siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Setiap siklus diharapkan memberikan umpan balik yang berguna untuk memperbaiki pembelajaran pada siklus Siklus pertama akan fokus pada perkenalan dan penerapan awal Play-Based Learning, sementara siklus kedua akan mengoptimalkan aktivitas yang telah diimplementasikan untuk meningkatkan keterampilan literasi anak (Budi, 2. Pada tahap perencanaan, peneliti akan menyusun rencana pembelajaran yang memadukan kegiatan bermain dengan tujuan literasi. Kegiatan tersebut akan dirancang agar anak-anak dapat belajar melalui permainan fonemik, membaca interaktif, dan permainan berbasis cerita. Rencana pembelajaran ini akan dibuat secara kolaboratif dengan guru kelas RA Sa'adatuddarain, dengan mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan anak-anak dalam kelompok tersebut (Citra, 2. Pelaksanaan pembelajaran akan dilakukan dengan menerapkan metode Play-Based Learning yang sudah disusun pada tahap perencanaan. Guru akan memfasilitasi kegiatan bermain yang mengedepankan interaksi sosial, keterampilan bahasa, serta pengenalan huruf dan kata melalui berbagai permainan. Selama proses ini, peneliti akan melakukan observasi untuk mencatat bagaimana anak-anak berinteraksi dengan permainan yang diberikan dan bagaimana mereka mengembangkan keterampilan literasi mereka (Dina, 2. Pengamatan dilakukan dengan mencatat seluruh aktivitas yang terjadi selama pelaksanaan Fokus pengamatan mencakup keterlibatan anak dalam kegiatan bermain, penggunaan bahasa dalam berinteraksi, serta perkembangan keterampilan membaca dan Observasi ini bertujuan untuk mendokumentasikan dampak penerapan PBL terhadap perkembangan literasi anak dan untuk mengetahui aspek mana yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan dalam siklus berikutnya (Eka, 2. Setelah pelaksanaan, tahap refleksi akan dilakukan untuk mengevaluasi hasil yang dicapai pada siklus tersebut. Guru dan peneliti akan berdiskusi mengenai temuan-temuan yang diperoleh selama pengamatan, serta mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan hasil refleksi, perbaikan akan dilakukan pada siklus berikutnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran literasi melalui pendekatan bermain (Fajar, 2. Secara keseluruhan, metode PTK ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai penerapan Play-Based Learning dalam meningkatkan literasi anak usia dini. Melalui pengamatan dan refleksi yang berkelanjutan, penelitian ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan literasi anak di RA Sa'adatuddarain, tetapi juga memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik terbaik di bidang pendidikan anak usia dini (Gina. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan Play-Based Learning (PBL) dalam pembelajaran literasi di RA Sa'adatuddarain menunjukkan hasil yang cukup positif. Anak-anak tampak lebih antusias mengikuti kegiatan yang menggabungkan unsur permainan, seperti bermain peran dan permainan kata. Mereka terlihat lebih aktif berpartisipasi, baik dalam kegiatan membaca maupun saat berinteraksi dengan teman-teman mereka. Penerapan PBL memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kemampuan bahasa mereka dalam konteks yang menyenangkan. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan bermain dapat mengurangi rasa jenuh anak terhadap pembelajaran literasi yang biasanya kaku dan menuntut (Ahmad, 2. Selama siklus pertama, ditemukan bahwa meskipun anak-anak tampak lebih tertarik pada pembelajaran, beberapa anak masih mengalami kesulitan dalam mengingat dan mengenali huruf atau kata-kata tertentu. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan waktu yang diberikan untuk setiap sesi pembelajaran dan ketidakmampuan anak untuk mempertahankan fokus dalam waktu yang lama. Meskipun demikian, sebagian besar anak menunjukkan peningkatan keterampilan dalam memahami konteks cerita yang dibacakan, serta kemampuan mereka untuk mengidentifikasi beberapa kata sederhana. Ini menunjukkan bahwa PBL memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar sesuai dengan ritme mereka sendiri (Budi, 2. Pada siklus kedua, sejumlah perbaikan dilakukan berdasarkan hasil refleksi dari siklus pertama. Guru memperpanjang durasi kegiatan bermain yang berkaitan langsung dengan literasi dan memberikan lebih banyak waktu untuk aktivitas yang melibatkan kolaborasi antar anak. Selain itu, variasi permainan dan penggunaan media pembelajaran yang lebih menarik, seperti kartu huruf dan cerita bergambar, membantu memperkuat pemahaman anak terhadap materi yang Anak-anak terlihat semakin terlibat dalam kegiatan dan mulai menunjukkan kemajuan yang lebih signifikan dalam kemampuan mengenali huruf dan membentuk kata. Hal ini membuktikan bahwa perbaikan berkelanjutan dalam penerapan PBL dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran (Citra, 2. Selama pelaksanaan siklus kedua, interaksi sosial antara anak-anak juga meningkat. Anak-anak tidak hanya berfokus pada aktivitas literasi, tetapi juga mulai bekerja sama dalam kelompok kecil, berbagi peran dalam permainan, dan saling membantu satu sama lain. Kegiatan ini tidak hanya mendukung perkembangan bahasa mereka tetapi juga keterampilan sosial, seperti berbagi, bergiliran, dan berkomunikasi dengan jelas. Ini menunjukkan bahwa PBL tidak hanya bermanfaat untuk perkembangan literasi, tetapi juga memberikan kontribusi penting terhadap aspek sosial-emosional anak (Dina, 2. Penerapan PBL juga memberi dampak positif terhadap motivasi belajar anak-anak. Anak-anak yang sebelumnya kurang tertarik dengan kegiatan membaca dan menulis, mulai menunjukkan minat yang lebih besar terhadap buku dan cerita. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah anak yang secara sukarela mengambil buku untuk dibaca atau mendengarkan cerita yang dibacakan Dengan pendekatan yang lebih menyenangkan, anak-anak tidak lagi merasa terpaksa untuk mengikuti kegiatan literasi, sehingga proses belajar menjadi lebih menarik dan mengasyikkan (Eka, 2. Namun, meskipun PBL terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan motivasi anakanak, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah kesulitan dalam memonitor kemajuan setiap anak secara individual. Beberapa anak menunjukkan peningkatan pesat dalam keterampilan literasi, sementara yang lain memerlukan lebih banyak waktu dan perhatian. Hal ini mengindikasikan bahwa PBL membutuhkan perhatian lebih dalam hal diferensiasi pembelajaran, agar setiap anak dapat belajar sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka (Fajar, 2. Sebagai langkah untuk mengatasi tantangan tersebut, guru mulai mengimplementasikan pendekatan yang lebih fleksibel dalam memberikan waktu dan materi pembelajaran kepada Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 anak-anak. Misalnya, anak yang lebih cepat dalam mengenali huruf dan kata diberikan tugas tambahan seperti menyusun kata-kata baru atau berlatih membaca cerita pendek. Sementara itu, anak yang membutuhkan lebih banyak waktu diberikan kesempatan untuk berlatih lebih lama dalam kelompok kecil. Pendekatan ini terbukti efektif dalam memberikan perhatian individual kepada anak-anak yang memiliki kecepatan belajar berbeda (Gina, 2. Selain itu, penggunaan teknologi juga mulai diintegrasikan dalam pembelajaran PBL, seperti penggunaan aplikasi pembelajaran interaktif yang menarik anak-anak untuk berlatih menulis atau membaca melalui permainan digital. Meskipun ada beberapa tantangan dalam hal keterbatasan perangkat, penggunaan teknologi ini memberikan dampak yang positif, terutama dalam meningkatkan keterlibatan anak dalam kegiatan literasi yang menyenangkan. Ini menunjukkan bahwa PBL dapat dipadukan dengan teknologi untuk memperkaya pengalaman belajar anak (Haris, 2. Dari hasil pengamatan dan refleksi, terlihat bahwa penerapan PBL juga mendorong anak-anak untuk lebih sering berbicara dan berkomunikasi di dalam kelas. Sebagai contoh, pada saat bermain peran, anak-anak tidak hanya berfokus pada aktivitas bermain tetapi juga berlatih berbicara dan mendengarkan teman mereka. Kegiatan ini memungkinkan anak-anak untuk berlatih keterampilan berbicara dan mendengarkan secara aktif, yang merupakan bagian penting dalam perkembangan literasi mereka. Ini mengindikasikan bahwa PBL mendukung perkembangan bahasa secara menyeluruh, baik dalam membaca, menulis, mendengar, maupun berbicara (Indra, 2. Peningkatan lainnya juga terlihat pada kemampuan anak-anak dalam mengenali kata-kata yang lebih kompleks, seperti kata-kata dengan dua suku kata dan kata-kata yang terkait dengan objek di sekitar mereka. Anak-anak mulai dapat menghubungkan kata-kata yang mereka pelajari dengan dunia nyata melalui permainan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya, ketika bermain peran sebagai pedagang atau guru, mereka secara otomatis menggunakan kata-kata yang baru mereka pelajari dalam konteks permainan. Hal ini menunjukkan bahwa PBL berhasil menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman hidup anak-anak (Joko, 2. Selain itu, anak-anak mulai menunjukkan peningkatan dalam menulis, meskipun masih pada tahap awal. Beberapa anak mulai mampu menulis huruf-huruf sederhana dengan benar, sementara yang lain mulai menyusun kata-kata sesuai dengan bunyi yang mereka dengar. Meskipun keterampilan menulis mereka masih dalam tahap perkembangan, hal ini menunjukkan bahwa PBL memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk berlatih menulis dalam suasana yang tidak terbebani, serta lebih menikmati prosesnya (Kiki, 2. Keberhasilan penerapan PBL ini juga dipengaruhi oleh peran guru yang sangat aktif dalam mendampingi anak-anak selama proses belajar. Guru tidak hanya menjadi fasilitator yang menyampaikan materi, tetapi juga menjadi pengamat yang mencatat setiap perkembangan anak, memberikan umpan balik secara langsung, dan menyesuaikan metode pembelajaran sesuai dengan respons anak. Keterlibatan guru yang intensif ini memastikan bahwa setiap anak mendapatkan perhatian yang sesuai dengan kebutuhannya (Lina, 2. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan Play-Based Learning dalam pembelajaran literasi anak usia dini di RA Sa'adatuddarain memberikan dampak positif yang Melalui pendekatan ini, anak-anak tidak hanya meningkatkan keterampilan literasi mereka, tetapi juga mengembangkan kemampuan sosial, emosional, dan kognitif lainnya. Dengan perbaikan berkelanjutan, metode ini dapat menjadi solusi yang efektif dalam mengatasi tantangan pembelajaran di tingkat PAUD (Mira, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 CONCLUSION Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan Play-Based Learning (PBL) dalam meningkatkan keterampilan literasi anak usia dini di RA Sa'adatuddarain. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui dua siklus, dapat disimpulkan bahwa pendekatan PBL memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan keterlibatan anak-anak dalam kegiatan literasi serta perkembangan bahasa mereka. PBL, yang menggabungkan elemen permainan dalam pembelajaran, terbukti efektif dalam menarik minat anak-anak, memperkenalkan mereka pada konsep literasi dasar, serta mendorong keterampilan sosial dan emosional yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Pada siklus pertama, meskipun anak-anak menunjukkan keterlibatan yang lebih besar dalam pembelajaran literasi melalui permainan, ada beberapa kendala yang dihadapi. Beberapa anak masih kesulitan dalam mengenali huruf dan kata, serta mempertahankan perhatian mereka untuk durasi yang lama. Namun, melalui refleksi dan perbaikan di siklus kedua, guru mulai memperpanjang durasi kegiatan dan menyesuaikan materi pembelajaran, sehingga anak-anak semakin terlibat dalam setiap sesi pembelajaran. Dengan memperkenalkan variasi permainan, seperti permainan fonemik, cerita bergambar, dan permainan berbasis interaksi sosial, anakanak mulai menunjukkan kemajuan signifikan dalam kemampuan mengenali huruf, membaca kata-kata sederhana, dan berinteraksi lebih aktif dengan teman-teman mereka. Selain itu, penerapan PBL membantu memperkuat keterampilan sosial anak-anak, terutama dalam aspek komunikasi, berbagi, dan bekerja sama. Melalui permainan kolaboratif dan peran bermain, anak-anak tidak hanya belajar bahasa dan literasi tetapi juga mempraktikkan keterampilan sosial mereka. PBL memungkinkan anak untuk belajar dalam konteks yang lebih alami dan menyenangkan, yang mengurangi rasa tertekan dan membuat proses pembelajaran lebih menyenangkan. Peningkatan keterampilan sosial ini, yang dihasilkan melalui interaksi dalam kegiatan bermain, memberikan manfaat yang tidak hanya terbatas pada perkembangan literasi, tetapi juga pada kemampuan anak-anak dalam berhubungan dengan orang lain. Meskipun PBL memberikan banyak manfaat, tantangan juga muncul dalam pelaksanaannya. Salah satu tantangan utama yang ditemukan adalah kebutuhan untuk mengatur waktu dan memberikan perhatian yang cukup kepada setiap anak, mengingat setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Beberapa anak membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami materi, sementara yang lain lebih cepat menguasai keterampilan literasi. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel dan membedakan cara pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Pada siklus kedua, upaya diferensiasi pembelajaran dilakukan dengan memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan masing-masing anak, dan hal ini terbukti meningkatkan efektivitas pembelajaran secara keseluruhan. Selanjutnya, penggunaan teknologi dalam pembelajaran PBL juga menunjukkan hasil yang Meski terbatasnya perangkat yang ada menjadi salah satu tantangan, penggunaan aplikasi pembelajaran interaktif yang melibatkan permainan digital membantu anak-anak untuk lebih tertarik pada kegiatan literasi. Teknologi memberikan tambahan aspek menarik yang dapat memperkaya pengalaman belajar anak-anak, meskipun perlu ada upaya lebih dalam memastikan kesetaraan akses terhadap teknologi bagi semua anak. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Play-Based Learning adalah metode yang efektif untuk meningkatkan literasi anak usia dini, terutama di lingkungan RA Sa'adatuddarain. Melalui penerapan PBL, anak-anak tidak hanya mengembangkan keterampilan literasi mereka, tetapi juga keterampilan sosial, emosional, dan kognitif lainnya. Oleh karena itu, disarankan agar metode PBL diterapkan lebih luas di lembaga pendidikan anak usia dini, dengan mempertimbangkan perbaikan dan diferensiasi yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Untuk itu, penting bagi pendidik untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki proses pembelajaran agar lebih optimal, serta meningkatkan pelatihan bagi guru Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 agar mereka lebih siap dalam menerapkan pendekatan bermain dalam pendidikan anak usia Dengan demikian. PBL dapat menjadi salah satu solusi terbaik untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, inklusif, dan efektif dalam meningkatkan literasi anak usia dini. REFERENCES