2025 Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 p-ISSN: 2580-0590/ e-ISSN: 2621-380X FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DERMATITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANAH TINGGI KOTA BINJAI Melisa1*. Syafran Arrazy1 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan. Indonesi. Korespondensi penulis: melisa. contactprofessional@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Dermatitis adalah gangguan pada kulit yang timbul akibat alergi, infeksi, dan jamur, serta termasuk dalam sepuluh besar penyakit terbanyak di Kota Binjai selama periode 2021 hingga 2024. wilayah kerja Puskesmas Tanah Tinggi, penyakit ini menempati posisi keempat dari sepuluh jenis penyakit yang paling sering ditangani dalam dua tahun terakhir, dengan 2. 038 kasus pada tahun 2023 dan 1. kasus pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene, riwayat kontak, kualitas fisik air bersih, dan kelayakan tempat sampah terhadap kejadian dermatitis di wilayah kerja Puskesmas Tanah Tinggi. Kota Binjai. Metode: Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional dan menggunakan desain studi cross-sectional. Penelitian ini memiliki populasi berjumlah 67. 443 jiwa. Teknik penarikan sampel dilakukan menggunakan rumus Lameshow dan diperoleh sebanyak 98 responden. Data penelitian dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Berdasarkan hasil analisis, ditemukan terdapat hubungan yang signifikan antara personal hygiene, riwayat kontak, kualitas fisik air bersih, dan kelayakan tempat pembuangan sampah dengan dermatitis. Kesimpulan: Penting bagi masyarakat untuk membiasakan perilaku hidup bersih, menghindari paparan zat iritan secara berlebihan, menggunakan air bersih yang memenuhi standar, serta menyediakan tempat sampah yang layak. Pemerintah diharapkan dapat menginisiasi program pencegahan dermatitis yang efektif dan berkelanjutan. Kata Kunci: Dermatitis. Puskesmas Tanah Tinggi. Kota Binjai FACTORS ASSOCIATED WITH THE INCIDENCE OF DERMATITIS IN THE WORKING AREA OF THE TANAH TINGGI COMMUNITY HEALTH CENTER BINJAI CITY ABSTRACT Background: Dermatitis is a skin condition caused by allergic reactions, infections, and fungal exposure, and it ranks among the ten most prevalent diseases in Binjai City from 2021 to 2024. Within the service area of the Tanah Tinggi Community Health Center, this condition ranks fourth among the ten most commonly treated illnesses over the past two years, with 2,038 reported cases in 2023 and 1,154 cases in This study aims to examine the relationship between personal hygiene, history of exposure, the physical quality of clean water, and the adequacy of waste disposal infrastructure with the occurrence of dermatitis in the Tanah Tinggi Health CenterAos working area. Binjai City. Method: The research utilized a quantitative approach with an analytical observational method and adopted a cross-sectional study design. The total population in this study was 67,443 individuals, and the sampling technique employed the Lameshow formula, resulting in a total of 98 respondents. Data were collected through questionnaires and observation sheets, and subsequently analyzed using the chi-square. Results: The analysis revealed significant associations between personal cleanliness, exposure history, physical quality of clean water, and the sufficiency of waste disposal facilities with the incidence of Conclusion: Therefore, it is crucial for the community to implement clean and healthy living practices, avoid excessive contact with irritants, use clean water that meets quality standards, and ensure the availability of proper waste disposal systems. The government is expected to initiate effective and sustainable programs aimed at preventing dermatitis. Keywords: Dermatitis. Tanah Tinggi Primary Health Care. Binjai City Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 PENDAHULUAN Menurut laporan WHO tahun 2020, kondisi yang terjadi pada tahun 2019 terdapat sekitar 130 juta kasus dermatitis di seluruh dunia. Di negaranegara dermatitis pada masyarakat umum berkisar antara 6% hingga 27%. Penyakit ini dapat menyerang individu meliputi semua usia dan berbagai status sosial, namun prevalensinya paling tinggi ditemukan pada anak-anak dan remaja. Di Inggris, pada tahun 2018 tercatat 090 kasus penyakit kulit, di mana dari 129 kasus yang dilaporkan, sekitar 891 kasus . %) merupakan dermatitis kontak, 159 kasus . %) adalah kanker kulit, dan sisanya 79 kasus . %) adalah penyakit kulit non-kanker. Dermatitis mengacu pada suatu kondisi inflamasi yang menyerang epidermis hingga dermis, ditandai dengan kemunculan gejala khas seperti pruritus, eritema, dan lesi kulit yang Kondisi ini, yang juga dikenal sebagai eksim, dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti iritan, alergen, hingga gangguan imun, dan biasanya berkembang dalam fase akut maupun Manifestasi klinisnya dapat berbeda pada setiap individu, tergantung pada kekuatan sistem imun masingmasing, meskipun faktor pencetusnya serupa. Secara global, dermatitis menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang cukup menonjol. Faktor-faktor seperti buruknya hygiene, paparan polusi lingkungan, dan proses urbanisasi diketahui turut berkontribusi terhadap peningkatan kasus. Sekitar 50% kasus terjadi pada tahun pertama kehidupan, diikuti oleh prevalensi pada anak-anak sebesar 10Ae20% dan 1Ae3% orang dewasa, menunjukkan bahwa dermatitis dapat menyerang seluruh rentang usia, dengan kerentanan tinggi pada anakanak dan bayi. Dermatitis dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal . dan internal . Dari sisi eksogen, kualitas sanitasi lingkungan menjadi salah satu pemicu utama. Unsurunsur seperti air bersih yang tidak layak, termasuk jamban yang tidak sesuai standar, sistem pembuangan air limbah yang tidak efektif, serta kebersihan ruangan dan kondisi bangunan yang tidak memenuhi standar rumah sehat dan tidak tersedianya tempat sampah yang memenuhi syarat, merupakan faktor lingkungan yang turut memengaruhi kemunculan dermatitis secara tidak langsung. Selain sanitasi, paparan langsung terhadap bahan kimia juga termasuk faktor eksternal yang berkontribusi. Penelitian sebelumnya Suryanda dkk . menunjukkan hubungan yang signifikan antara penggunaan bahan kimia berisiko dengan kejadian dermatitis, di mana nilai A = 0,003 dan OR = 11,111. Ini menunjukkan bahwa Individu yang terpapar bahan iritan memiliki peluang mengalami dermatitis 11 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak terpapar. Sementara itu, dari sisi endogen, personal hygiene merupakan aspek penting yang memengaruhi kejadian Kurangnya kesadaran akan kebersihan diri, seperti tidak mencuci Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 tangan dengan sabun secara benar, pekerjaan yang melibatkan kontak dengan bahan iritan, serta kebiasaan hidup yang kurang higienis, menjadi penyebab utama munculnya dermatitis, terutama pada masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai. Personal hygiene yang rendah juga meningkatkan risiko infeksi kulit akibat bakteri, virus, maupun parasit. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, jumlah kasus penyakit kulit yang berperan dalam insidensi kanker kulit mencapai 192. 414 dalam beberapa tahun terakhir, sebanyak 076 kasus yang baru dan 70. kasus lama. Dari total 389 kasus penyakit kulit yang dilaporkan, 97 termasuk dermatitis, dengan proporsi 66,3% kontak iritan dan 33,7% kontak alergi. Di wilayah Sumatera Utara, prevalensi dermatitis kontak iritan mencapai 27,5% dari total 90% kasus dermatitis akibat kerja (DAK). Laporan Dinas Kesehatan Kota Binjai menunjukkan bahwa penyakit kulit, termasuk dermatitis akibat infeksi, jamur, dan alergi, secara konsisten masuk dalam 10 besar penyakit terbanyak sejak tahun 2021 hingga 2024. Jumlah kasus terus meningkat dari 2. kasus pada tahun 2021, menjadi 7. kasus pada 2023, dan sedikit menurun pada 2024 menjadi 7. 357 kasus. Berdasarkan data dari Puskesmas Tanah Tinggi, dermatitis menempati posisi keempat dari sepuluh besar penyakit yang paling sering ditangani dalam dua tahun terakhir, dengan 2. kasus pada tahun 2023 dan 1. 154 kasus pada tahun 2024. Temuan dari studi awal yang dilakukan di sejumlah kelurahan dalam cakupan wilayah kerja puskesmas menunjukkan bahwa dari total 15 responden yang telah diwawancarai, lima orang mengalami gejala kulit seperti kemerahan, bersisik, dan gatalgatal. Diketahui bahwa kelima individu tersebut memiliki kebiasaan personal hygiene yang kurang, serta memiliki riwayat kontak dengan bahan iritan seperti deterjen lebih dari dua jam per Selain itu, dua dari lima orang tersebut masih menggunakan air sumur sebagai sumber utama air sehari-hari dan belum memiliki tempat sampah tertutup. Tingginya angka kasus dermatitis yang dilaporkan, disertai dengan rendahnya mengenai penerapan pola hidup bersih dan sehat khususnya dalam aspek kebersihan perorangan dan sanitasi dilaksanakannya penelitian ini untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi kejadian dermatitis di wilayah kerja Puskesmas Tanah Tinggi. METODE Penelitian ini termasuk dalam jenis analitik observasional dengan desain studi potong lintang . ross sectiona. Kegiatan penelitian telah dilaksanakan pada Januari-April 2025 di wilayah kerja Puskesmas Tanah Tinggi. Kota Binjai. Adapun populasi pada penelitian 443 orang dan didapatkan sampel sebanyak 98 orang dengan menggunakan rumus lameshow. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik stratified random sampling. Selain itu, kuisioner, kamera dan alat tulis. Data kemudian dianalisis secara statistik Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 SPSS, mengaplikasikan uji chi-square untuk menguji hubungan antar variabel. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik Responden Variabel Jumlah Persentase . (%) Jenis Kelamin Laki-Laki 36,7% Perempuan 63,3% Usia >40 Tahun 58,2% <40 Tahun 41,8% Status Pendidikan Tidak Tamat SD 11,2% Tamat SD 15,3% Tamat SMP 31,6% Tamat SMA 36,7% Tamat Perguruan 5,1% Tinggi/Sederajat Status Perkawinan Belum Menikah 12,2% Sudah Menikah 87,8% Jenis Pekerjaan Buruh 34,7% IRT 26,5%1 Pedagang 18,4% Petani 6,1% Wiraswasta 14,3% Total (N) 100,0% Pada tabel 1. 1, responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 62 orang . ,3%), sementara laki-laki sebanyak 36 orang . ,7%). Sebagian besar responden berusia di atas 40 tahun, yakni 57 orang . ,2%), dan sisanya berusia di bawah 40 tahun sebanyak 41 orang . ,8%). Dari responden yang tidak menyelesaikan SD berjumlah 11 orang . ,2%), tamat SD 15 orang . ,3%). SMP 31 orang . ,6%). SMA 36 orang . ,7%), dan perguruan tinggi atau setara sebanyak 5 orang . ,1%). Terkait status perkawinan, 86 orang . ,8%) telah menikah, sedangkan 12 orang . ,2%) belum Adapun jenis pekerjaan responden terbagi menjadi buruh 34 orang . ,7%), ibu rumah tangga 26 orang . ,5%), pedagang 18 orang . ,4%), wiraswasta 14 orang . ,3%), dan petani 14 orang . ,3%). Variabel Univariat Tabel 2. Variabel Univariat Variabel Jumlah . Personal Hygiene Kurang Baik Baik Riwayat Kontak Berisiko Tidak Berisiko Kualitas Fisik Air Bersih Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Kelayakan Tempat Sampah Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Kejadian Dermatitis Tidak Total (N) Persentase (%) 59,2% 40,8% 65,3% 34,7% 69,4% 30,6% 74,5% 25,5% 55,1% 44,9% Hasil tabel 2. 1 didapatkan bahwa 58 responden . ,2%) memiliki personal hygiene yang kurang baik, sementara 40 orang . ,8%) lainnya memiliki personal hygiene baik. Data ini mengindikasikan bahwa kelompok dengan personal hygiene kurang bsik lebih dominan. Sedangkan pada riwayat kontak, 64 responden . ,3%) memiliki kontak berisiko, dibandingkan 34 orang . ,7%) yang tidak memiliki riwayat kontak berisiko, menandakan prevalensi riwayat kontak berisiko lebih tinggi. Kualitas fisik air bersih yang tidak memenuhi syarat ditemukan pada 68 responden . ,4%), sedangkan yang memenuhi syarat sebanyak 30 orang . ,6%). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden menggunakan air Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 bersih dengan kualitas fisik yang tidak memenuhi syarat. Sementara itu, kelayakan tempat sampah yang tidak memenuhi syarat tercatat pada 73 responden . ,5%), dan hanya 25 orang . ,5%) yang memiliki tempat sampah yang memenuhi syarat. Dengan demikian, lebih banyak responden berada pada kondisi kelayakan tempat sampah yang tidak memenuhi syarat. Variabel Bivariat Personal Hygiene Buruk Baik Total Tabel 3. Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Dermatitis Kejadian Dermatitis Total PPr . %) Value Tidak n (%) n (%) 0,22 1,638 . ,0732,. Pada tabel 3. 1, didapatkan 58 responden dengan personal hygiene buruk, sebanyak 38 individu . ,5%) sedangkan 20 orang . ,5%) tidak mengalami kondisi tersebut. Sebaliknya, dari 40 responden yang memiliki personal hygiene baik, hanya 16 orang . %) mengalami dermatitis, sementara 24 orang . %) tidak terdampak. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara dermatitis, yang ditunjukkan oleh nilai p sebesar 0,022 . < 0,. Hal ini hygiene memiliki keterkaitan bermakna terhadap timbulnya dermatitis. Selain itu, nilai Prevalence Ratio (PR) sebesar 1,638 dengan Confidence Interval 95% . ,073-2,. , mengindikasikan bahwa individu dengan personal hygiene buruk memiliki kemungkinan 1,638 kali lebih besar untuk mengalami dermatitis dibandingkan mereka yang menjaga personal hygiene dengan baik. Karena rentang Confidence Interval tidak melintasi angka 1, maka hubungan tersebut dianggap signifikan secara Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kondisi personal hygiene yang buruk berkorelasi dengan peningkatan risiko kejadian dermatitis. Tabel 3. Hubungan Riwayat Kontak dengan Kejadian Dermatitis Kejadian Dermatitis Total PPr . %) CI Riwayat Value Kontak Tidak n (%) n (%) Berisiko . 1,675 Tidak Berisiko . 0,026 . ,052-2,. Total Tabel 3. 2 menunjukkan, dari 64 responden yang memiliki riwayat kontak berisiko, sebanyak 41 orang . ,1%) sedangkan 23 orang . ,9%) tidak Sementara itu, dari responden tidak beriwayat kontak berisiko yang berjumlah 34 orang, 13 individu . ,2%) terdampak dermatitis dan 21 orang . ,8%) tidak terdampak Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat kontak dan kejadian dermatitis, dengan nilai p sebesar 0,026 . < 0,. Ini berarti, secara statistik, paparan kontak berisiko berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan seseorang mengalami dermatitis. Nilai Prevalence Ratio (PR) sebesar 1,675 dengan Confidence Interval 95% . ,052Ae2,. menunjukkan bahwa responden yang memiliki riwayat kontak berisiko 1,675 kali lebih berpeluang terkena dermatitis dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut. Karena seluruh nilai Confidence Interval berada di atas 1, maka hubungan ini dinyatakan Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 bermakna secara statistik. Dengan demikian, riwayat kontak berisiko dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya Kualitas Fisik Air Bersih Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Total Tabel 3. Hubungan Kualitas Fisik Air Bersih Dengan Kejadian Dermatitis Kejadian Dermatitis Total PPr . %) CI Value Tidak n (%) n (%) . 2,206 0,002 . ,244-3,. Dari hasil tabel 3. 3, sebanyak 68 responden yang menggunakan air bersih dengan kualitas fisik tidak memenuhi syarat, sebanyak 45 orang . ,2%) mengalami dermatitis, sedangkan 23 orang . ,8%) tidak terkena dermatitis. Sebaliknya, pada 30 responden yang memakai air bersih dengan kualitas fisik memenuhi syarat, 9 orang . %) mengalami dermatitis, dan 21 orang . %) tidak mengalami kondisi tersebut. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas fisik air bersih dengan kejadian dermatitis, dengan nilai p sebesar 0,002 . < 0,. Ini berarti secara statistik, kualitas fisik air bersih memiliki hubungan signifikan dengan kejadian Prevalence Ratio (PR) sebesar 2,206 . % CI: 1,244Ae3,. menunjukkan bahwa penggunaan air bersih dengan kualitas fisik tidak memenuhi syarat meningkatkan risiko dermatitis 2,206 kali dibandingkan air yang memenuhi syarat fisik. Karena Confidence Interval berada di atas 1, hubungan ini signifikan secara statistik. Dengan demikian, kualitas fisik air bersih yang buruk berhubungan dengan peningkatan kejadian dermatitis Tabel 3. Hubungan Kelayakan Tempat Sampah Kejadian Dermatitis Kejadian Kelayakan Dermatitis Total PTempat Value Tidak Sampah n (%) n (%) Tidak Memenuhi . Syarat 0,046 Memenuhi Syarat Total Pada tabel 3. 4, dari 73 responden yang menggunakan kelayakan tempat sampah tidak memenuhi syarat, sebanyak 45 orang . ,6%) mengalami dermatitis, sedangkan 28 orang . ,4%) tidak mengalami kondisi tersebut. Sementara itu, pada kelompok yang memakai kelayakan tempat sampah memenuhi syarat, 9 dari 25 responden . %) terkena dermatitis dan 16 orang . %) tidak mengalaminya. Analisis statistik menunjukkan nilai p sebesar 0,046 . < 0,. , yang signifikan antara kelayakan tempat sampah dan kejadian dermatitis. Prevalence Ratio (PR) sebesar 1,712 dengan Confidence Interval 95% . ,985Ae2,. memperlihatkan bahwa risiko dermatitis pada responden yang dengan kelayakan tempat sampah tidak memenuhi syarat 1,712 kali lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang menggunakan tempat sampah dengan kelayakan tempat sampah memenuhi Karena kepercayaan melewati angka 1, hasil ini dianggap signifikan secara statistik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa . %) 1,712 . ,9852,. Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 kelayakan tempat sampah tidak memenuhi syarat berhubungan dengan peningkatan prevalensi dermatitis. Pembahasan Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Dermatitis di wilayah kerja Puskesmas Tanah Tinggi Kota Binjai Personal hygiene berperan penting . Kebersihan tubuh yang kurang optimal dapat menyebabkan penumpukan kuman, bakteri, atau jamur di kulit, yang berpotensi menimbulkan iritasi atau infeksi. Aktivitas sehari-hari menyebabkan tubuh terpapar keringat, minyak, dan polutan lingkungan seperti debu atau asap. Apabila tidak segera memperburuk kondisi kulit dan meningkatkan risiko dermatitis. Hasil penelitian Dalia Novitasari . mendukung temuan ini, di mana terdapat hubungan signifikan antara personal hygiene dan kejadian dermatitis (A value = 0,. di wilayah kerja Puskesmas Passi Barat. Beberapa kebiasaan kurang higienis, seperti penggunaan sabun non-antiseptik secara bersama, jarangnya mencuci rambut, serta kebersihan tempat tidur yang terabaikan, turut meningkatkan risiko dermatitis. Selain itu, tidak segera membersihkan tubuh setelah keluar rumah memungkinkan iritan menempel lebih lama di kulit. Temuan ini menegaskan bahwa upaya edukasi terkait perilaku hidup bersih perlu ditingkatkan sebagai langkah preventif terhadap dermatitis. Hubungan Riwayat Kontak Dengan Kejadian Dermatitis di wilayah kerja Puskesmas Tanah Tinggi Kota Binjai Kulit manusia memiliki lapisan pelindung alami berupa lipid dan protein yang menjaga kelembapan serta melindungi dari paparan zat asing. Kontak langsung dengan iritan atau alergen selama lebih dari dua jam dapat merusak lapisan ini, meningkatkan permeabilitas kulit, dan memicu respons inflamasi yang ditandai dengan Paparan berkepanjangan juga memungkinkan zat berbahaya menembus ke lapisan kulit lebih dalam dan mengaktifkan sistem imun, terutama pada individu dengan riwayat sensitivitas. Penelitian menunjukkan bahwa durasi paparan lebih dari dua jam per hari secara signifikan berkaitan dengan peningkatan kasus dermatitis kontak iritan (DKI), khususnya pada kelompok pekerja yang sering terpapar bahan kimia. Hasil serupa ditemukan dalam studi ini, di mana responden yang sering melakukan aktivitas seperti mandi, mencuci, dan membersihkan alat rumah tangga menggunakan air sungai yang tercemar menunjukkan gejala dermatitis lebih Risiko semakin meningkat dengan penggunaan sabun dan detergen yang mengandung surfaktan kuat, yang dapat merusak lapisan pelindung kulit. Sebagai disarankan pemakaian perlengkapan pelindung diri (APD) seperti alas kaki, sarung tangan atau pemisahan peralatan untuk mencuci. Dukungan dari fasilitas Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 kesehatan dan pemerintah setempat melalui edukasi dan penyediaan APD dasar sangat penting untuk menurunkan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan kulit. Hubungan Kualitas Fisik Air Bersih Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Tinggi Kota Binjai Air berperan penting dalam praktik kebersihan pribadi. Namun, bila air yang digunakan tercemar, justru dapat menjadi media penularan penyakit kulit, termasuk dermatitis. Misalnya, penggunaan air sumur atau sungai yang terkontaminasi limbah dapat menjadi sumber iritan atau patogen bagi kulit. Penelitian ini sejalan dengan temuan Eko Heryanto menyimpulkan adanya hubungan signifikan antara kualitas air dan kejadian dermatitis . = 0,. Dalam studi ini, mayoritas air sumur yang digunakan responden tidak memenuhi kriteria fisik berdasarkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, seperti air jernih, tidak berwarna, tidak beraroma, dan tidak memiliki rasa. Banyak air sumur kekuningan, dan berbau tidak sedap, menunjukkan indikasi pencemaran lingkungan seperti limbah domestik atau infiltrasi tanah tercemar. Masalah ketersediaan air bersih semakin kompleks saat musim kemarau, di mana sebagian besar warga bergantung pada air sungai untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Sayangnya, air sungai di wilayah tersebut dicemari oleh sampah dan mikroorganisme patogen, yang dapat memicu dermatitis, terutama dermatitis kontak iritan (DKI). Kualitas air yang buruk Ai seperti kekeruhan tinggi, bau menyengat, dan warna abnormal Ai mencerminkan keberadaan partikel tersuspensi, bahan pelindung kulit . tratum korneu. dan menimbulkan reaksi peradangan. Meski masyarakat telah menerapkan praktik personal hygiene, penggunaan air yang tercemar tetap menjadi faktor risiko utama timbulnya gangguan kulit, khususnya jika kulit telah mengalami luka atau sensitivitas sebelumnya. Dengan kualitas fisik air bersih, terutama saat musim kering, menjadi faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus dermatitis. Dengan demikian, pemenuhan standar kesehatan dalam penyediaan air bersih perlu menjadi prioritas, khususnya di daerah yang bergantung pada sumber air terbuka seperti sungai. Hubungan Kelayakan Tempat Sampah Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Tinggi Kota Binjai Tempat sampah yang terbuka, tidak kedap air, berkapasitas tidak sesuai, dan pengelolaan yang tidak rutin dapat menyebabkan terbentuknya cairan lindi Cairan ini mengandung bahan iritan dan mikroorganisme patogen yang berpotensi mencemari tanah dan sumber air, seperti sumur dan sungai, yang digunakan masyarakat Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 untuk mandi dan mencuci. Paparan berulang terhadap air tercemar tersebut bisa merusak lapisan pelindung kulit dan memicu dermatitis kontak iritan maupun infeksi. Selain itu, tempat sampah tidak berkembang biak vektor penyakit seperti lalat dan kecoa, yang dapat menyebarkan kuman ke kulit atau peralatan rumah tangga, memperbesar risiko peradangan kulit terutama pada individu dengan imunitas rendah. Temuan ini didukung oleh penelitian Aria Gusti . dan Lee & Kim . yang menunjukkan hubungan kuat antara tempat sampah yang tidak layak dan peningkatan risiko dermatitis akibat kontaminasi patogen dan zat iritan. Observasi lapangan mengungkap menggunakan tempat sampah yang tidak memenuhi standar sesuai UU No. 18 Tahun 2008, seperti wadah terbuka dan kapasitas tidak memadai, serta penempatan dekat sumber air. Bahkan membuang sampah langsung ke sungai yang juga digunakan sebagai sumber air, memperparah pencemaran dan risiko dermatitis. Oleh karena itu, diperlukan sampah yang tertutup, kedap air, dan berkapasitas sesuai kebutuhan. Edukasi berkelanjutan tentang pengelolaan sampah yang benar sangat penting lingkungan dan menurunkan risiko dermatitis di masyarakat. KESIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa personal hygiene buruk, lama kontak dengan iritan, kualitas air bersih yang rendah, dan tempat sampah yang Disarankan masyarakat memperbaiki perilaku personal hygiene, membatasi paparan iritan, menggunakan air bersih yang layak, serta mengelola sampah dengan baik. Edukasi dan penyediaan fasilitas dari pemerintah diperlukan untuk mencegah dermatitis. Penelitian lebih lanjut juga direkomendasikan. DAFTAR PUSTAKA