Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 260-266 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. Peran Guru Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik Fase A Di Sd Gmim Rurukan Stefin. Bawiling1*. Deysti T. Tarusu2. Margareta O. Sumilat3 1,2,3Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Negeri Manado. Indoensia Email: 1stefinbawiling29@gmail. com , 2deystitarusu@unima. id , 3margaretasumilat@unima. Email Penulis Korespondensi: 1stefinbawiling29@gmail. AbstrakOe Tujuan penelitian ini adalah memahami akan peran guru dalam pembentukan karakter peserta didik fase A di SD GMIM Rurukan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan Hasil penelitian menujukan bahwa guru fase A di SD GMIM Rurukan melaksanakan peran mereka sebagai seorang guru bukan hanya sebagai pemberi ilmu pengetahuan dalam proses pembelajaran tetapi juga sebagai seorang yang membentuk karakter peserta didik terlebih khsus di fase A melalui peran guru sebagai teladan, guru sebagai motivator, guru sebagai inspirator, guru sebagai fasilitator, dan guru sebagai evaluator. Selain itu lingkungan belajar juga mempengaruhi akan pembentukan karakter peserta didik fase A sehingga peran guru dalam berkolaborasi dengan keluarga dan masyarakat sangat diperlukan, dengan mengajak keluarga dan masyarakat berperan aktif dalam proses pembentukan karakter. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter peserta didik fase A di SD GMIM Rurukan, guru menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama melalui keteladanan guru dalam berperilaku dan sikap sopan yang ditunjukkan dalam kehidupan seharihari, memberikan motivasi yang positif berupa pujian dan pemberian reward atau penghargaan, menjadi seorang yang menginspirasi bagi peserta didik melalui tingkah laku dan memberikan contoh yang baik, penggunaan metode pembelajaran yang menarik dan tepat dalam proses pembelajaran dan mengaitkan materi dengan nilai-nilai karakter yang tepat untuk diajarkan, serta melakukan evaluasi karakter yang berkelanjutan. Kata Kunci: Peran Guru. Karakter. Peserta Didik AbstractOe The purpose of this study is to understand the role of teachers in shaping the character of phase A students at SD GMIM Rurukan. This study uses a qualitative method with data collection techniques of observation, interviews, and The results of the study indicate that phase A teachers at SD GMIM Rurukan carry out their roles as teachers not only as providers of knowledge in the learning process but also as individuals who shape the character of students, especially in phase A, through their roles as role models, motivators, inspirers, facilitators, and evaluators. In addition, the learning environment also influences the character building of phase A students, so the role of teachers in collaborating with families and the community is very necessary, by inviting families and the community to play an active role in the character building Based on the results of this study, it can be concluded that teachers have a very important role in shaping the character of phase A students at SD GMIM Rurukan. Teachers instill character values in students, such as honesty, discipline, responsibility, and cooperation through the teachers' exemplary behavior and polite attitude shown in their daily lives, providing positive motivation in the form of praise and rewards or appreciation, becoming an inspiration for students through their behavior and setting a good example, using interesting and appropriate learning methods in the learning process and linking the material with the appropriate character values to be taught, as well as conducting continuous character evaluation. Keywords: The role of teachers, characters, students PENDAHULUAN Pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan yang diperoleh dari lembaga formal dan informal untuk menghasilkan individu yang berkualitas. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan (Kongniti. dan keterampilan (Psikomotori. , tetapi juga membangun karakter (Afekti. Menurut Mufida . pendidikan karakter lebih penting daripada pendidikan moral karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar atau salah, tetapi juga bagaimana menanamkan kebiasaan yang baik dalam kehidupan sehari-hari sehingga anak atau peserta didik menjadi lebih sadar dan memahami apa yang benar dan berkomitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara moral, yang ditunjukkan dalam tindakan nyata melalui perilaku baik, jujur, bertanggung jawab, hormat terhadap orang lain, dan nilai karakter mulia lainnya. Maka dari itu salah satu jenis pendidikan yang memiliki kemampuan untuk membangun atau membentuk karakter seseorang ialah pendidikan di sekolah dasar (SD) dimana pendidikan ini yang sangat penting bagi peserta didik dalam hal karakter peserta didik di karena anak-anak SD adalah anak-anak yang sedang berkembang dan merupakan masa yang tepat untuk menanamkan kepribadian yang baik. Pada usia anak sekolah dasar . -12 tahu. , perkembangan fisik dan motorik serta kepribadian, watak emosional, intelektual, bahasa, budi pekerti, dan moral Stefin. Bawiling. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 260 Submitted: 16/09/2025. Accepted: 18/10/2025. Published: 04/02/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 260-266 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. anak sedang berkembang pesat. Usia ini juga merupakan tahap penting dalam pendidikan karakter. Jika nilai-nilai karakter ditanamkan dengan benar pada titik ini, itu akan menjadi fondasi dasar dan kepribadian anak ketika dewasa kelak. Salah satu faktor yang berperan penting dalam mewujudkan tujuan tersebut adalah guru. Guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik, sangat penting bagi guru untuk memberikan perhatian tambahan kepada anak-anak yang berasal dari latar belakang keluarga dan masalah yang berbeda untuk mengarahkan dan mendampingi mereka dalam pembentukan karakter mereka. Dalam hal ini, guru juga dapat berperan sebagai orang tua di sekolah dan bertanggung jawab untuk membina karakter anak, memastikan bahwa anak-anak tidak hanya dibekali dengan berbagai pengetahuan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga dibekali dengan pembentukan karakter yang baik, sehingga mereka dapat menjadi pemimpin atau individu yang cerdas dan berkarakter di masa depan. Beberapa penelitian sebelumnya telah membahas peran guru dalam pembentukan karakter. Rohaniah, dkk . menjelaskan peran guru dalam pembentukan karakter peserta didik dilakukan dengan beberapa peran guru yaitu guru sebagai pendidik, guru sebagai demonstrator, guru sebagai pengelola kelas, guru sebagai motivator dan guru sebagai evaluator. Selanjutnya, hasil penelitian Heumasse. , menunjukan bahwa guru sangat berperan dalam proses pembentukan karakter, sebagai tenaga pengajar, pendidik berfungsi sebagai contoh atau model bagi anak dan orang tua. Mereka membantu anak-anak, membimbing mereka, dan membangun mereka untuk masa depan. Seorang guru tidak hanya dapat memberikan pengetahuan tetapi juga dapat meningkatkan karakter peserta didik, terutama tentang prinsip keadilan. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Arifin. ,menyatakan guru memiliki peran yang penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Guru sebagai pendidik mendorong pembentukan karakter disiplin, sementara guru sebagai demonstrator mengajarkan nilai jujur. Pengelolaan kelas guru mendorong karakter mandiri, sedangkan motivasi guru mempengaruhi karakter religius dan peduli sosial. Evaluasi guru membentuk karakter bertanggung jawab. Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa peran guru dalam pembentukan karakter sudah banyak diteliti, namun belum banyak penelitian yang secara khusus mengkaji peran guru fase A dalam konteks pembentukan karakter dasar anak usia dini. Oleh karna itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan mendeskripsikan secara mendalam peran guru dalam pembentukan karakter peserta didik fase A terlebih khusus di SD GMIM Rurukan. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan peneliti saat melakukan kegiatan PPL di SD GMIM Rurukan di dapati bahwa masih banyak peserta didik yang memiliki tingkah laku . yang kurang baik. Seperti kurangnya kedisiplinan dalam hal kehadiran dan ketaatan, tidak jujur dalam mengerjakan tugas atau ujian, kurangnya sopan santun peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas seperti bermain di dalam kelas di saat guru menjelaskan materi di depan atau bercerita dengan teman walaupun sudah di tegur oleh guru, berkelahi dengan teman, tidak melakukan piket kebersihan sebagai tanggung jawab dalam menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekolah, dan banyaknya peserta didik yang tidak datang tepat waktu di sekolah. Berdasarkan permasalahan yang ditemui dikelas 1 dan kelas 2 dengan masing-masing jumlah peserta didik 21 peserta didik, peran guru sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter peserta didik yang baik maka dalam penelitian ini peneliti memilih judul AuPeran Guru Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik Fase A di SD GMIM RurukanAy. METODOLOGI PENELITIAN 1 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pendekatan penelitian ini adalah studi kasus (Case Studie. Dengan menggunakan pendekatan ini, peneliti dapat memperoleh pemahaman tentang peran guru dalam pembentukan karakter, karena penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan secara mendalam fenomena yang terjadi secara alami, yakni peran guru dalam pembentukan karakter peserta didik fase A di SD GMIM Rurukan. Penelitian ini berlokasi di SD GMIM Rurukan, yang beralamat di kelurahan Rurukan, kecamatan Tomohon Timur. Kota Tomohon. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2024/2025. Informan penelitian terdiri atas guru kelas fase A sebagai informan utama, dan kepala sekolah, serta peserta didk fase A di SD GMIM Rurukan sebagai informan pendukung. 2 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi di lakukan untuk mengamati secara langsung aktvitas guru dalam pembentukan karakter peserta didik. Wawancara dilakukan dengan guru fase A, kepala sekolah, serta peserta didik fase A untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam. Sedangkan dokumentasi digunakan untuk melengkapi data penelitian melalui arsip dan catatan sekolah seperti RPP/Modul yang digunakan guru dalam pembelajaran, jurnal harian guru, serta dokumentasi kegiatan sekolah. Stefin. Bawiling. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 261 Submitted: 16/09/2025. Accepted: 18/10/2025. Published: 04/02/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 260-266 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. 3 Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model Miles dan Huberman yang meliput tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih hal-hal yang pokok dan penting. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat dan naratif. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan memberikan makna terhadap data yang telah diperoleh sehingga menjawab rumusan masalah penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan di SD GMIM Rurukan dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi, maka peneliti akan memaparkan hasil penelitian yang terkait dengan AuPeran Guru Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik Fase A di SD GMIM RurukanAy dengan hasil penelitian sebagai Guru sebagai Teladan Guru di SD GMIM Rurukan menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesopanan. Mereka hadir tepat waktu, memberi salam, menjaga kerapian, dan berperilaku sopan dalam interaksi sehari-hari. Sikap ini menjadi contoh nyata bagi peserta didik untuk diteladani. Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas I, beliau menyatakan bahwa AuKeteladanan salah satu sikap yang harus ditunjukan kepada pesrta didik dalam kita berinteraksi dengan sesama, bagaimana kita menujukan sikap yang baik misalnya menyapa sesorang atau ketika kita berbicara dengan seseorangAy (Wawancara guru kelas II) AuGuru juga menjaga kebersihan kelas dengan membuang sampah pada tempatnya, itu membuat anak-anak sadar untuk mencontoh. Ay Dari informasi yang didapatkan dari dua narasumber, peneliti menyimpulkan bahwa peran guru sebagai teladan sangat efektif dalam menanamkan nilai disiplin, kebersihan, dan sikap sopan santun pada peserta didik. Guru sebagai Motivator Guru berusaha menumbuhkan semangat belajar peserta didik dengan memberikan dorongan, pujian, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Anak-anak lebih bersemangat ketika guru memuji usaha mereka, meskipun hasilnya belum sempurna. Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas I, beliau menyatakan bahwa AuSebagai kata pujian ketika peserta didik berhasil menjawab pertanyaan, itu sebagai kata penyemangat bagi mereka, kemudian pemberian reward dengan memberikan hadiah kepada peserta didik yang lebih dulu menyelesaikan tugas, sehingga nantinya peserta didik akan lebih semangat dalam belajarAy (Wawancara guru kelas II) AuMemberikan reward dalam bentuk pujian dan hadiah permen, ketika ada peserta didik yang mengerjakan tugas lebih dulu. Sehingga dapat membuat mereka lebih semangat dalam belajar dikelasAy Dari informasi yang didapatkan dari dua narasumber, peneliti menyimpulkan bahwa sebagai motivator, guru membantu anak-anak membangun rasa percaya diri, kegigihan, serta semangat dalam belajar dan berperilaku baik. Guru sebagai Inspirator Selain menjadi motivator, guru juga berperan sebagai inspirator. Guru memberi inspirasi dengan membagikan pengalaman hidup, kisah teladan, serta membimbing anak-anak agar berani bermimpi dan memiliki cita-cita. Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas I, beliau menyatakan bahwa AuDalam RPP atau modul, tetap harus ada Pembentukan Karakter misalnya Pembentukan Karakter berani, jujur, dan bertanggung jawab itu harus ada dalam RPP atau modul. Ay (Wawancara guru kelas II) AuTujuan Pembentukan Karakter itu harus ada karena dari pelajaran yang guru sampaikan, misalnya ada salah satu materi tentang sopan santun. Pembentukan Karakter bagaimana Peserta didik menghargai, menghormati orang yang lebih tua misalkan di mata pelajaran PPKN, sehingga Peserta didik dapat menerapkan materi yang guru ajarkan pada lingkungan sehari-hari Peserta didik. Ay Dari informasi yang didapatkan dari dua narasumber, peneliti menyimpulkan bahwa guru sebagai inspirator membantu anak-anak memiliki pandangan positif, keberanian, dan motivasi untuk meraih masa depan. Guru sebagai Fasilitator Guru menyediakan sarana dan metode pembelajaran yang menarik, seperti menggunakan gambar, permainan edukatif, dan media sederhana. Dengan cara ini, anak-anak lebih mudah memahami materi dan merasa senang Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas I, beliau menyatakan bahwa AuPendekatan inovatif yang digunakan biasanya kalau kita memberikan contoh kepada anak-anak pakai alat-alat peraga, media gambar dari Stefin. Bawiling. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 262 Submitted: 16/09/2025. Accepted: 18/10/2025. Published: 04/02/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 260-266 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. LCD. Kita memakai alat peraga berupa LCD, dalam praktek-praktek pembuatan kerajinan tangan. Anak-anak kelas 1 lebih cepat tangkap kalau diberikan contoh berupa tayangan-tayangan. Ay (Wawancara guru kelas II) AuBiasa nya dari saya pendekatan yang saya berikan biasanya saya membuat videovideo pendek seperti saya berikan inspirasi ke murid-murid, saya buat ceyrita pendek atau video pendek untuk menggali potensi mereka melalui inovasi yang saya berikan lewat video pendek tersebut, yang membuat menarik perhatian mereka untuk belajar, rasa ingin tahu mereka dalam belajar lebih banyak, lebih meningkat. Dari informasi yang didapatkan dari dua narasumber, peneliti menyimpulkan bahwa peran guru sebagai fasilitator membantu peserta didik belajar lebih aktif, kreatif, dan merasa nyaman dalam proses pembelajaran. Guru sebagai Evaluator Guru tidak hanya menilai akademik, tetapi juga karakter peserta didik. Evaluasi dilakukan dengan cara mengamati sikap sehari-hari, memberi teguran, dan membimbing anak yang berperilaku kurang baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas I, beliau menyatakan bahwa AuMisalnya ada yang melaporkan kehilangan uang jajan kita tanamkan bagaimana anak-anak tentang kejujuran pasti kita jelaskan kepada anak-anak bagaimana itu seorang yang jujur kalau tidak jujur tentu tempatnya dimana dan lain sebagainya. Kita jelaskan kembali kepada mereka menggunakan contoh-contoh yang boleh di mengerti dan boleh membuat mereka benar-benar menjadi orang yang jujur (Wawancara guru kelas II) AyKalau dari saya biasanya Karakter bertanggung jawab, seperti biasanya ketika mereka selesai belajar dan sebelum pulang sampah-sampah yang dilantai itu dipungut lalu meja dan kursi di atur kembali sehingga dari situ yang tadinya malas menjadi kebiasaan dan juga dalam kedisiplinan ketika guru mengajar mereka tidak boleh ribut. Ay Dari informasi yang didapatkan dari dua narasumber, peneliti menyimpulkan bahwa nilai-nilai yang diutamakan untuk dikembangkan yaitu: kejujuran, bertanggung jawab, menghormati dan Lingkungan Belajar Lingkungan belajar yang kondusif juga berperan penting. Sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat bekerja sama dalam mendukung pembentukan karakter anak. Dengan adanya sinergi ini, nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dapat diperkuat di rumah dan lingkungan sekitar. Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas I, beliau menyatakan bahwa AuSangat sangat penting untuk kolaborasi kerja sama antara guru, keluarga dan masyarakat, dalam proses Pembentukan Karakter Peserta didik. Jadi tanpa dukungan keluarga dan masyarakat pasti kita guru gagal membentuk Karakter Peserta didik. Karena ketika kita disekolah membuat begini, lalu di masyarakat tidak menerima, dilingkungan keluarga tidak menerima kan susah nantinya, jadi sangat sangat penting tentunya kerja sama, kolaborasi antara guru, keluarga dan masyarakatAy (Wawancara guru kelas II) AuKolaborasi antara guru dan keluarga itu penting, ya itu penting karena yang menilai ketika anak itu keluar dari lingkungan sekolah dan mereka mulai bergaul dengan masyarakat dan lingkungan keluarga, itu bisa mereka nilai karna itu sangat penting kerja sama guru, keluarga dan masyarakatAy Dari informasi yang didapatkan dari dua narasumber, peneliti menyimpulkan bahwa kolaborasi atau kerjasama antara guru dengan keluarga dan masyarakat itu penting, karena tanpa dukungan keluarga dan masyarakat Pembentukan Karakter pada Peserta didik gagal. Karenaa lingkungan sosial Peserta didik tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga dikeluarga dan masyarakat, maka ada faktor-faktor yang mempengaruhi Pembentukan Karakter Peserta didik. 2 Pembahasan Dalam bagian ini peneliti akan menjelaskan secara menyeluruh data mengenai Peran guru dalam membentuk Karakter Peserta didik Fase A di SD GMIM Rurukan, maka temuan yang didapat yaitu sebagai berikut: Guru adalah seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu pengetahuan kepada Peserta didik untuk memahami pengetahuan yang diajarkannya. Selain itu, guru juga bertanggung jawab untuk memberikan penilaian dan melakukan evaluasi kepada Peserta didik. Selain mengajarkan pengetahuan guru juga memainkan Peran penting dalam Pembentukan Karakter Peserta didik. Maka temuan yang dapat dikemukakan pada Peran guru dalam Pembentukan Karakter Peserta didik Fase A di SD GMIM Rurukan yaitu sebagai berikut: Pertama, guru berperan sebagai teladan memiliki Peran yang sangat strategis dan penting dalam proses pendidikan, keteladanan guru membantu Peserta didik mengembangkan sikap dan perilaku yang positif. Dengan menjadi teladan yang baik dan interaksi yang positif, guru dapat membantu Peserta didik belajar keterampilan sosial, komunikasi, kerja tim, dan mengelola emosi. Dengan menjadi teladan yang baik, guru dapat membentuk Peserta didik menjadi orang yang bertanggung jawab, jujur, berbakat, dan berkontribusi positif pada masyarakat. Dalam hasil wawancara yang dilakukan bahwa guru Fase A di SD GMIM Rurukan melakukan peran sebagai teladan melalui sikap, perilaku, dan kebiasaan positif yang secara langsung diamati dan ditiru oleh peserta didik. Dari hasil wawancara dengan peserta didik fase A juga mengatakan bahwa sguru fase A sering datang ke sekolah dan masuk ke kelas tepat waktu dan ketika berbicara menggunakan bahasa yang sopan dan lembut. Dalam Stefin. Bawiling. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 263 Submitted: 16/09/2025. Accepted: 18/10/2025. Published: 04/02/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 260-266 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. observasi yang dilakukan keteladanan guru ini tampak dari kerapihan berpakaian yang sesuai dengan jadwal yang ada di sekolah, disiplin ketika datang ke sekolah dan masuk kelas, penggunaan bahasa yang baik ketika berinteraksi dengan rekan guru maupun peserta didik, dan membangun hubungan harmonis dan baik antar rekan guru. Hal ini sesuai dengan Teori Pembelajaran Sosial yang dikemukam oleh Albert Bandura yang menegaskan bahwa individu belajar melalui observasi, dan guru sebagai model perilaku memiliki potensi besar untuk mempengaruhi peserta didik dalam mengembangkan keyakinan diri terhadap kemampuan mereka sendiri . ketika guru melakukan kontrol yang baik, peserta didik akan terdorong untuk bersikap serupa. Dengan begitu peran guru sebagai teladan menjadi contoh nyata dalam membentuk karakter seperti saling menghormati, hidup rukun, dan menyelesaikan konflik dengan bijaksana. Kedua, guru berperan sebagai motivator, guru berperan penting dalam meningkatkan motivasi belajar dan menumbuhkan Karakter melalui dorongan emosional dan spiritual kepada Peserta didik. Dalam hasil wawancara yang dilakukan bahwa guru Fase A di SD GMIM Rurukan melakukan peran sebagai motivator melalui pemberian pujian, kata-kata semangat, hingga hadiah kecil . Dalam observasi yang dilakukan pada saat proses pembelajaran terlihat guru fase A memberikan pujian kepada peserta didik ketika mereka telah selesai mengerjakan tugas yang diberikan, sedangkan untuk peserta didik yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas, guru akan membantu peserta didik tersebut dengan memberikan solusi dengan mengajarkan kepada peserta didik secara sabar agar mereka dapat memahami. Hal ini menjadi strategi yang digunakan guru untuk membentuk karakter percaya diri, tanggung jawab, dan kerja keras Menurut Sinarsih . menyatahkan bahwa guru harus mampu mengembangkan dan merangsang segala potensi peserta didik, serta membimbing mereka agar dapat menggunakan potensi tersebut dengan tepat agar Peserta didik dapat rajin belajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Di Fase A, anak-anak masih dalam tahap perkembangan emosi yang kuat, sehingga pendekatan motivasional ini sangat efektif untuk membentuk sikap positif dalam diri mereka. Selain itu, peran guru sebagai pendengar dan pemberi solusi atas masalah yang dihadapi peserta didik juga berkontribusi dalam menanamkan nilai-nilai empati dan kejujuran Ketiga, guru berperan sebagai inspirator, guru sebagai inspirator berfungsi membangkitkan semangat dan citacita Peserta didik. Seorang guru harus memberikan inspirasi kepada Peserta didiknya untuk maju dalam belajar karena mereka adalah inspirator. Untuk meningkatkan prestasi belajar Peserta didik, guru dapat membantu Dengan memberikan ide-ide inovatif. Dalam hasil wawancara yang dilakukan bahwa guru Fase A di SD GMIM Rurukan melakukan peran sebagai inspirator dengan guru tidak hanya mengajarkan materi tetapi juga menyisipkan nilai-nilai karakter dalam tujuan pembelajaran yang terdapat pada RPP/modul misalkan pada mata pelajaran PPKN dimana guru mengaitkan materi dengan nilai-nilai karakter seperti karakter jujur, menghormati dan bertanggung jawab sehingga peserta didik daapt menerapkan materi yang guru ajarkan pada kehidupan sehari-hari. Guru juga memberi ruang kepada peserta didik untuk mengekspresikan bakat dan minatnya, sehingga peserta didik merasa dihargai dan termotivasi untuk berkembang. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Manik . yang mengatakan bahwa sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan pengajaran yang baik bagi kemajuan belajar peserta didik dan guru sanggup menyembunyikan perasaan kebosanan dengan memperlihatkan kegairahan dan perhatian sepenuhnya kepada Peserta didik. sebab guru harus mengetahui bahan dan strategi seperti apa dalam menyampaikan pengetahuan yang akan diajarkannya. Guru yang penuh dengan pemahaman akan menjadikan peserta didik bersemangat dalam belajar karena mereka akan merenungkan dan berusaha untuk mengikutinya. Sikap dan perilaku guru yang disiplin, peduli, dan konsisten menjadi sumber inspirasi bagi Peserta didik untuk membentuk Karakter yang kuat dan berintegritas. Keempat guru berperan sebagai fasilitator, guru tidak hanya harus mengajar Peserta didik, tetapi mereka juga harus membantu Peserta didik belajar Dengan mudah. Mereka harus menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, ceria, penuh semangat, dan berani menyuarakan pendapat mereka secara terbuka. Sebagai fasilitator, guru harus memiliki sikap yang baik, memahami apa yang dilakukan Peserta didik, dan tahu bagaimana menangani perbedaan peserta didik. Dalam hasil wawancara yang dilakukan bahwa guru Fase A di SD GMIM Rurukan melakukan peran sebagai fasilitator dengan membantu Peserta didik membangun Karakter melalui pengalaman belajar yang aktif, menyenangkan, dan berpusat pada Peserta didik. Penggunaan media belajar, praktik langsung . eperti membuat karya sen. , serta kerja kelompok mendorong Peserta didik untuk berkerja sama, bertanggung jawab, dan mandiri. Guru juga menerapkan pendekatan inovatif Dengan menggunakan media visual seperti video pendek, gambar, dan alat peraga untuk menarik minat belajar dan menanamkan nilai Karakter dengan cara yang kontekstual dan menarik Hal ini diperkuat dengan hasil Penelitian yang dilakukan oleh Tambanun . yang menyatakan bahwa guru bukan hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator yang menciptakan kondisi untuk mendukung kemandirian Peserta didik dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung serta menyesuaikan metode dengan Karakter dan kebutuhan Peserta didik. Sehingga guru bukan sekedar memberikan pengetahuan, tetapi juga pemandu dalam membentuk kepribadian Peserta didik. Stefin. Bawiling. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 264 Submitted: 16/09/2025. Accepted: 18/10/2025. Published: 04/02/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 260-266 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. Kelima guru berperan sebagai evaluator, guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar Sebagai evaluator, guru dituntut mampu melakukan evaluasi yang objektif, jujur, dan adil untuk mengetahui keberhasilan mereka dalam melaksanakan pembelajaran serta untuk menilai hasil belajar peserta didik . Evaluasi ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada nilai-nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Dalam hasil wawancara yang dilakukan bahwa guru Fase A di SD GMIM Rurukan melakukan peran sebagai evaluator dengan menilai perkembangan karakter peserta didik secara Hasil wawancara yang dilakukan bersama kepala sekolah SD GMIM Rurukan mengatakan bahwa guru harus melakukan penilaian terhadap perkembangan karakter peserta didik sehingga hasilnya akan diberikan kepada orang tua, maka itu guru melakukan pencatatan terhadap perubahan perilaku peserta didik di dalam kelas pada saat pembelajaran maupun aktivitas didalam sekolah dan hasil penilaian tersebut dicantumkan dalam laporan hasil belajar atau laporan hasil perkembangan peserta didik (Rapor. , selain itu guru juga memberikan umpan balik berupa pujian atau nasihat, serta berkerja sama dengan orang tua dalam menangani masalah karakter peserta didik sehingga ketika memasuki semester yang baru adanya solusi dalam masalah tersebut. Hal ini sejalan dengan Penelitian yang dilakukan oleh Putri . yang menyatakan guru sebagai evaluator memiliki peran sentral dalam proses pendidikan, terutama dalam memantau perkembangan belajar peserta didik dan mengukur keberhasilan evaluasi oleh guru tidak hanya dibidang akademis, tetapi juga penting dalam menilai penerapan nilai-nilai karakter yang ditanamkan selama proses belajar. hal ini menjadi penting mengingat karakter adalah fondasi yang membentuk perilaku peserta didik dalam jangka panjang. melalui pendekatan ini, guru dapat mengarahkan peserta didik untuk memperbaiki diri dan membentuk karakter yang lebih baik secara konsisten. Selain lima Peran utama guru, lingkungan belajar juga memiliki pengaruh besar dalam Pembentukan Karakter. selama proses belajar, lingkungan belajar adalah tempat di mana Peserta didik berinteraksi Dengan lingkungan Lingkungan memberikan rangsangan terhadap individu dan, sebaliknya, individu memberikan respons terhadap lingkungan mereka. selama proses hubungan. Peserta didik dapat mengalami perubahan tingkah laku yang berbeda, yang dapat berdampak positif atau negatif. Dalam hasil wawancara yang dilakukan bahwa guru Fase A di SD GMIM Rurukan berusaha untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan sehingga peserta didik merasa nyaman dan senang, guru pun akan merasa senang. Selain itu dalam hasil wawancara bersama kepala sekolah SD GMIM Rurukan juga menjelaskan bahwa setiap bulannya diadakan rapat guru yang didalamnya selalu di sampaikan kepada guru bahwa dalam kegiatan pembelajaran selain memberikan pengetahuan kepada peserta didik tentunya harus dibarengi dengan pembentukan karakter. Maka dari itu dengan suasana kelas yang kondusif guru telah membuat lingkungan belajar yang positif sehingga guru dapat membentuk karakter peserta didik yang berani, mau berkerja sama dan percaya diri untuk menyampaikan pendapatnya dalam kegiatan pembelajaran. Disisi lain Peran guru dalam berkolaborasi dengan keluarga dan masyarakat menjadi faktor yang mendukung keberhasilan Pembentukan Karakter. Dalam hasil wawancara yang dilakukan dengan guru Fase A di SD GMIM Rurukan mengatakan bahwa kolaborasi antara guru, orang tua dan masyarakat sangat penting dalam proses Pembentukan Karakter Peserta didik. Hasil wawancara yang dilakukan bersama kepala sekolah SD GMIM Rurukan mengatakan bahwa ketika ada peserta didik yang berbuat salah seperti berkelahi atau membully teman di sekolah maka pihak sekolah akan memanggil orang tua peserta didik tersebut dan menyampaikan kepada orang tua mengenai masalah yang terjadi, sehingga guru dan orang tua mencari solusi dari masalah tersebut. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai AuPeran Guru dalam Karakter Peserta Didik Fase A di SD GMIM RurukanAy, dapat disimpulkan bahwa: Peran guru tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik tetapi guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter peserta didik terlebih khusus pada fase A di SD GMIM Rurukan, melalui peran guru sebagai teladan, guru sebagai motivator, guru sebagai inspirator, guru sebagai fasilitator serta guru sebagai evaluator. Guru fase A di SD GMIM Rurukan menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik seperti nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama. Peran tersebut ditunjukkan melalui keteladanan guru dalam berperilaku dan sikap sopan yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, memberikan motivasi yang positif berupa pujian dan pemberian reward atau penghargaan, menjadi seorang yang menginspirasi bagi peserta didik melalui tingkah laku dan memberikan contoh yang baik, penggunaan metode pembelajaran yang menarik dan tepat dalam proses pembelajaran dan mengaitkan materi dengan nilai-nilai karakter yang tepat untuk diajarkan, serta melakukan evaluasi karakter yang berkelanjutan UCAPAN TERIMAKASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus yang pemberi nafas kehidupan. Kesehatan, umur panjang dan kekuatan yang selalu senantiasa mengiringi Langkah dan masa depan penulis yang penuh Stefin. Bawiling. Copyright A 2026. JUSTIKPEN. Page 265 Submitted: 16/09/2025. Accepted: 18/10/2025. Published: 04/02/2026 Jurnal Sistem Informasi. Teknik Komputer dan Teknologi Pendidikan (JUSTIKPEN) Volume 5. Nomor 2 Edisi Oktober- Maret 2026. Page 260-266 ISSN 2828-7924 . edia onlin. | DOI: https://doi. org/10. 55338/justikpen. Kepada kedua orang tua dan adik yang selalu mendoakan dan mendukung penulis dalam meraih mimpi dan masa depan. Dan kepada almamater yang tercinta dan dibanggakan Universitas Negeri Manado REFERENCES