Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. Pengaruh Manajemen Pemeliharaan terhadap Penerimaan Peternakan Sapi Potong Rakyat di Kutai Barat Aisah1A. Muh Icshan Haris2 Jurusan Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Mulawarman. Samarinda. Email: aisahmanaisah@gmail. Abstrak Peternakan sapi potong rakyat di Kabupaten Kutai Barat mayoritas belum menerapkan perhitungan kelayakan usaha, meskipun didukung oleh sumber daya alam yang melimpah dan lahan yang luas untuk mengembangkan sektor peternakan. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh manajemen pemeliharaan sapi potong peternakan rakyat di Kutai Barat. Penelitian menggunakan metode survei observasi, melalui teknik purposive sampling, penentuan responen berdasarkan kriteria peternak memelihara sapi potong. Penentuan jumlah reponden mengikuti rumus slovin pada tingkat margin error 15%. Peternak responden adalah peternak yang memenuhi kriteria usaha minimal memelihara sapi 1 ekor betina induk, dan 1 ekor jantan umur Ou 2 tahun, dengan pengalaman pernah beternak sapi potong minimal 1 tahun. Survei dan observasi lapangan dilaksanakan melalui wawancara lansung pada peternak dengan bantuan kuesioner. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh manajemen terhadap penerimaan peternakan sapi potong rakyat di Kutai barat. Hasil survei menunjukkan bahwa manajemen pemeliharaan peternakan sapi potong rakyat di Kutai Barat berpengaruh terhadap penerimaan dengan nilai signifikan . <0,. taraf kepercayaan 95%. Kata kunci: Manajemen. sapi potong. peternakan rakyat The Influence of Maintenance Management on the Acceptance of People's Beef Cattle Farms in West Kutai Abstract Many parts of cattle breeder farms in the West Kutai Regency did not implement the calculation of business feasibility, although they are supported by abundant natural resources and large land to develop the livestock sector. The research was aimed to find out the impact of the management on the maintenance of cattle breeder farms in West Kutai. The Research used observational survey methods, through purposive sampling techniques, determination responses based on the criteria of farmers raising beef cattle. Determination of the number of respondents following the solving formula at a margin of an error rate of 15%. The Respondent farmers are farmers who meet the criteria for a minimum business to raise cows 1 mother female, and 1 male aged Ou 2 years, with experience of raising beef cattle for at least 1 year. The Field surveys and observations were carried out through direct interviews with breeders with the aid of questionnaires. The data were analyzed using multiple linear regressions to determine the influence of management on the acceptance of cattle breeder farms in west Kutai. The result of the survey showed that the management of the maintenance of cattle breeder farms in West Kutai affected the reception with a significant value . <0,. confidence level of 95%. Key words: Management. beef cattle. people's farms Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. PENDAHULUAN Manajemen merupakan tata cara yang umum memelihara sapi potong. Pertumbuhan dan perkembangan sapi potong yang baik dapat dilihat dari sistem pemeliharaan yang sesuai dengan kebutuhan sapi potong. Manajemen pemeliharaan sapi potong meliputi pemberian pakan, penyediaan pakan, perkandangan, tenaga kerja, kesehatan dan obat-obatan. Pemeliharaan sapi potong merupakan sektor peternakan yang sangat potensial sebagai penghasil daging karena permintaan daging sapi. Kebutuhan daging sapi semakin meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk akibat peningkatan jumlah konsumsi. Peningkatan permintaan produk olahan peternakan, membutuhkan daging sapi sebagai bahan utama. Pola manajemen pemeliharaan sapi potong yang rendah, dan belum dikelolah optimal, serta memperhatikan cara pemeliharaan yang efisien, belum mampu memperbaiki mutu Pola pemeliharaan sapi potong di Indonesia didominasi oleh penggemukan dan pembibitan dengan sistem tradsional melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan pakan yang tersedia (Daroini. Hastang dan Asnawi. Preston and Leng, 1. Peternakan rakyat dengan sistem pemeliharan tradisonal yang masih menggunakan bibit lokal dan belum sepenuhnya menerapkan pola manajemen pemeliharaan yang baik serta benar. Pola umumnya memiliki skala usaha yang cukup ekonomis, dan mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan keluarga. Peternakan sapi potong rakyat di Kabupaten Kutai Barat umumnya belum melakukan perhitungan kelayakan usaha, dijalankan, kebutuhan input serta strategi dalam pengembangan usaha terutama didukung sumber daya lahan, dan hijauan Usaha sapi potong dalam skala peternakan rakyat belum dikembangkan sebagai sumber pendapatan utama, sebenarnya usaha sapi potong dapat ditempatkan sebagai tabungan (Bacin et , 2013. Webb and Erasmus, 2013. Rusdiana et al. , 2. Peternak pemeliharaan pada peternakan di Kutai Barat pemeliharaan tradisional memberikan Penting mengetahui dalam pola pemeliharaan manajemen terhadap penerimaan peternak sapi potong rakyat. Tujuan penelitian produksi, dan pengaruh manajemen pemeliharaan sapi potong peternakan rakyat di Kutai Barat. Metodologi Penelitian Kabupaten Kutai Barat. Kecamatan Linggang Bigung pada bulan Oktober 2020 Januari Penelitian menggunakan metode survei observasi, penentuan responen berdasarkan kriteria Penentuan jumlah reponden mengikuti rumus slovin pada tingkat margin error Peternak responden merupakan peternak yang memenuhi kriteria usaha minimal memelihara sapi 1 ekor betina induk, dan 1 ekor jantan umur Ou 2 tahun, dengan pengalaman pernah beternak sapi potong minimal 1tahun (Ananta et al. Survei dan observasi lapangan dilaksanakan melalui wawancara lansung pada peternak dengan bantuan kuesioner. Data dianalisis menggunakan regresi penerimaan peternakan sapi potong rakyat di Kutai barat, rumus slovin yang digunakan adalah (Santosa et all. , 2. ycA yea = ya yas. yeIya A . Keterangan: n = Jumlah sampel N = Ukuran populasi (Kecamata. e = Margin of error 15% Variabel yang diamati Variabel penelitian, antara lain: . Peternakan Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. rakyat yang memiliki ternak minimal 2 ekor sapi . ekor betina induk, dan 1 ekor . penerimaan dari hasil penjualan sapi potong. manajemen pemeliharaan yang diterapkan. usaha sapi potong menguntungkan bagi peternak. Analisis Data Data yang digunakan meliputi data primer, dan sekunder, faktor yang mempengaruhi penerimaan usaha, serta dianalisis menggunakan regresi linier berganda, untuk mengukur pengaruh variabel bebas X terhadap variabel terikat Y, rumus regresi linear berganda [Yanuartono et all. , 2017. Yumiati et all. y = a b1X1 b2X2 A bnXn A . Keterangan: = penerimaan = konstanta B1,b2. bn = koefisien regresi = umur peternak = pengalaman beternak = lama pemeliharaan = jumlah ternak = biaya tenaga kerja = biaya tenaga kerja Pendapatan peternak merupakan hasil dari keseluruhan jumlah penerimaan dikurangi dengan biaya produksi yang dikeluarkan, dihitung menggunakan rumus (Mayulu et all. , 2. A = TR Ae TC . Keterangan: A = pendapatan TR = total penerimaan TC = Total biaya HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterlistik Wilayah Kecamatan Linggang Bigung Keadaan umum Wilayah Kecamatan Linggang Bigung datar dan bergelombang. Kondisi lahan datar umumnya digunakan untuk pemukiman, dan bercocok tanam tanaman pangan, hortikultura, peternakan serta perikanan darat. Topografi wilayah yang bergelombang dan berbukit mayoritas perkebuanan karet, kopi, lada, kelapa sawit dan kakao. Kecamatan Linggang Bigung terletak pada ketinggian antara 150-500 m dari permukaan laut. Wilayah tersebut termasuk dataran yang sebagian besar merupakan lahan kering. Karakteristik Responden Karakteristik responden sumber data penelitian, meliputi: umur, pengalaman beternak, lama pemeliharan dan tingkat Pendidikan (Tabel . Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Responden n (%) Umur Peternak (Tahu. %) >50 15 . %) Pengalaman Beternak (Tahu. %) 21. %) >10 24 . %) Lama Pemeliharaan (Tahu. %) 20 . %) Pendidikan 12 . %) SMP SMA Sarjana Tidak Pernah Bersekolah 3 . %) Umur pertimbangan yang digunakan untuk mengetahui kemampuan dalam mengelola Umur mempengaruhi mengelola usaha petani ternaknya dan menjadi penentu dalam pola pikir, serta pencapaian kinerja dalam usaha Umur peternak berdasarkan hasil penelitian berkisar 24-50 tahun sebanyak 34 responden . %), dengan demikian menunjukkan bahwa rata-rata peternak masih dalam rentang umur Kondisi umur peternak yang umumnya masih produktif memiliki peluang besar untuk menerima dan mengadopsi inovasi serta teknologi lebih cepat (Ibrahim et al. , 2. Keterampilan dalam pemeliharaan sapi potong dapat di pengaruhi oleh lama peternak menjalankan usaha peternakannya. Jumlah peternak yang memiliki pengalaman beternak 1-4 tahun berjumlah 4 responden . %), 5-10 tahun sebanyak 21 responden . %), dan tingkat pengalaman beternak >10 tahun Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. %). Pengalaman beternak memiliki dampak positif terhadap usaha sapi potong, karena semakin lama pengalaman beternak maka peternak akan lebih banyak mengetahui manajemen pemeliharaan yang baik (Ibrahim et al. , 2. , namun pengalaman beternak tidak berkorelasi positif terhadap adopsi teknologi dalam pengembangan sapi potong atau kompetensi peternak. Hal pemeliharaan yang dilakukan mayaoritas ekstensif, skala kecil . eternak rakya. dan belum berorientasi bisnis . (Rouf. Munawaroh. Lama pemeliharaan sapi potong rata-rata dalam jangka satu tahunsebanyak 29 responden dengan persentase yang cukup tinggi sebesar 59% dan lama pemeliharaan>1 tahun sebanyak 20 responden dengan persentase 40%. Lama pemeliharaan sapi potong berpengaruh terhadap tingkat Tingkat pendidikan rata-rata responden adalah lulusan SMP sebanyak 19 responden . %). Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden tergolong rendah, namun pengalaman beternak mendukung dalam melakukan usahanya. Pendidikan yang rendah berdampak terhadap kemampuan menerima inovasi dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas usahanya serta pedapatannya (Ibrahim et al. , 2. Tabel 2. Analisis Regresi Linear Berganda Koefisien Standard t-hitung P-value Regresi Error Intercept (Kostant. 15,61 1,36 0,17 X1 Umur peternak - 174. 638 -0,83 0,40 X2 Pengalaman Beternak 11 -0,10 0,91 X3 Lama Pemeliharaan - 2. -0,86 0,39 X4 Jumlah Ternak 5,14 6,70 X5 Tenaga Kerja 2,106 2,044 -1,03 0,30 X6 Pakan 4,321 2,29 1,88 0,06 Adjusted R Square = 0,354 F tabel (= 0,. = 1,93 F hitung = 5,392 T tabel (= 0,. = 2,021 Signifikan = 0,0001 Variabel Sumber: Hasil Analisis Excel, 2021. Hasil analisis regresi linier berganda (Tabel . , variabel (X. jumlah ternak dimana nilai t-hitung 5,14 lebih besar dari ttabel sebesar 2,021, memberikan makna berpengaruh nyata terhadap penerimaan usaha peternakan sapi potong rakyat, disebabkan karena semakin banyak sapi potong yang dipelihara maka semakin besar pula penerimaan yang akan diperoleh peternak dengan jumlah dan harga jual yang tinggi dalam setiap Variabel (X. tenaga kerja penerimaan sapi potong rakyat, dibuktikan dari nilai t-hitung sebesar -1,03, lebih kecil dari pada t-tabel sebesar 2,021, kal tersebut disebabkan jumlah jam kerja peternak berkisar 2-3 jam untuk semua kegiatan . encari pakan, memberi pakan, memberi minum, dan mengurus terna. Pakan ternak variabel (X. yang berpengaruh tidak nyata dengan nilai t-hitung sebesar 1,88 lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 2,021, kemungkinan akibat capaian produksi yang rendah . emilikan ternak keci. sehingga penerimaan peternak dari penjualan sapi potong rendah. Usaha Peternakan belum menjadi profesi yang merupakan pekerjaan Usaha peternakan yang dijalankan sebagai pekerjaan utama . etani, pekebun dan peterna. , dapat mengelolah usaha yang terintegrasi memanfaatkan limbah dihasilkan sebagai pakan ternak yang murah tampa mengeluarkan biaya, sehingga menekan biaya produksi yang Biaya Produksi Proses produksi usaha sapi potong peternakan rakyat di Kacamatan Linggang Bigung Kabupaten Kutai Barat tidak terlepas dari biaya produksi, komponen biaya produksi terdiri dari biaya yang digunakan dalam membangun kandang, membeli peralatan kandang, bakalan, obat dan vaksin, tenaga kerja, pakan, serta transportasi (Tabel . Tabel 3. Biaya Produksi Peternakan Sapi Potong Kacamatan Linggang Bigung Kabupaten Kutai Barat Konponen Biaya Jumlah (R. Kandang dan Peralatan 25. Bakalan Obat dan Vaksin Tenaga Kerja Pakan dan Trasportasi Total BiayaProduksi Sumber: Data Perimer Hasil Penelitian Diolah, 2021. Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. Rata-rata biaya produksi terbesar yang dikeluarkan responden di wilayah Kacamatan Linggang Bigung Kabupaten Kutai Barat digunakan untuk membeli bakalan mencapai Rp. -/th, meski beberapa dari peternak menerapkan sistem bagi hasil dengan kelompok. Biaya produksi terbesar kedua yang dikeluarkan peternak adalah biaya tenaga kerja Rp. -/th. Biaya Rp. -/th. Biaya pakan yang harus dikeluarkan oleh beberapa peternak adalah biaya trasportasi untuk mengarit mencari pakan di daerah perkebunan atau daerah lain. Kacamatan Linggang Bigung cukup melimpah, beberapa peternak mengambil rumput dipinggir jalan, atau di perkebunan milik Biaya produksi selanjutnya masuk dalam komponen biaya tidak tetap, seperti biaya kandang dan peralatan kendang, biaya kesehatan ternak, biaya penyusutan kandang dan peralatan . rit/parang, cangkul, sekop, ember wadah tempat minum, dan bagunan kandan. dengan total biaya Rp. -/th . ata-rata Rp. -/t. Biaya obat dan vaksin Rp. -/th. Biaya kesehatan rendah disebabkan peternak mendapatkan bantuan pihak tenaga kesehatan . alam hal ini penyulu. Sapi potong yang dipelihara mengalami sakit dapat segera diobati, tidak ada patokan harga dari para tenaga kesehatan . iasanya obat-obatan yang digunakan merupakan bantuan dari Dinas Peternakan Kabupaten Kutai Bara. , sehingga peternak dimudahkan sekaligus menekan biaya Penerimaan Penerimaan peternakan terdiri dari hasil total penjualan feses/pupuk, dan penjualan sapi potong yang dinilai dengan Penjualan sapi potong meningkat saat hari raya kurban, dan ketika masyarakat memiliki hajatan, sedangkan pada penjualan feses cenderung kurang feses/pupuk digunakan oleh peternak sendiri untuk pupuk organik di lahan perkebunannya. Tabel 4. Penerimaan Peternak Usaha Sapi Potong di Daerah Kacamatan Linggang Bigung Penerimaan (Tahu. Jumlah (R. Feses/ Pupuk Kandang 100. Penjualan Sapi Potong 928. Total Penerimaan Sumber: Data Perimer Hasil Diolah Dari Penelitian, 2021. Penjualan pupuk juga dilakukan penerimaanpupuk/feses Rp. /th. Total penerimaanpenjualan sapi potong Rp. -/th responden sebesar Rp. -/th rata-rata penjualan 2 ekor/th. Pendapatan Pendapatan pengurangan total penerimaan dengan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh pemeliharaan . (Tabel . Tabel 5. Pendapatan Peternak Usaha Sapi Potong di Daerah Kacamatan Linggang Bigung Pendapatan Jumlah (R. Peneriman Biaya Produksi Total Pendapatan 325. Sumber: Data Perimer Hasil Diolah Dari Penelitian, 2021. Pendapatan peternak diperoleh keseluruhan penerimaan hasil usaha selama satu tahun dikurangi dengan biaya produksi selama satu tahun. Pendapatan dapat dimaknai dengan keseimbangan biaya yang dikeluarkan dalam semua komponen, setelah diperhitungkan dengan penerima yang dihasilkan. Pendapatan didapat dari seluruh penerimaan atau hasil penjualan dari usaha ternak sapi potong dan penjualan feses/ pupuk, dikurangi dengan biaya produksi, dinyatakan dalam rupiah (Rp/t. dengan total penjualan Rp. -/th dikurangi total biaya Rp. -/th diperoleh peternak yang memelihara sapi SIMPULAN Hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: . sistem produksi sapi potong di Kutai Barat Kecamatan Linggang Bigung menerapkan sistem tradisonal Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. perkebunan dengan rata-rata kepemilikan sapi potong sebanyak 5 ekor. manajemen pemeliharaan sapi potong rakyat di Kutai Barat bahwa berpengaruh terhadap penerimaan peternak . ilai signifikansi 0,000 pada taraf kepercayaan 95% pada enam variabel beba. DAFTAR PUSTAKA