Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian Tugas Berbasis Portofolio pada Mata Pelajaran Fikih Kelas Vi MTs AlWashliyah Pangkalan Berandan Nita Karisma1. Muhammad Saleh2. Satria Wiguna3 Sekolah Tinggi Agama Islam JamAoiyah Mahmudiyah Tanjung Pura. Langkat. Sumatera Utara. Indonesia Email : nitakarisma23@gmail. com1, muhammad. saleh81@yahoo. swiguna29@gmail. 1,2,3 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa upaya peningkatan prestasi belajar siswa melalui pemberian tugas berbasis portofolio. Prestasi belajar pada umumnya berkenaan dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi aspek pembentukan watak peserta Kata prestasi banyak digunakan dalam berbagai bidang dan kegiatan antara lain dalam kesenian, olah raga, dan pendidikan, khususnya pembelajaran. Peneliti memberikan tugas kepeserta didik berbasis portofolio. Dalam area pendidikan, portofolio tidak hanya digunakan di sekolah, tetapi juga di lembaga pendidikan guru. Corak portofolio adalah ditentukan oleh tujuan dibuatnya portofolio. Tujuan portofolio akan mempengaruhi pertimbangan rancangan . isi dan seleksi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prestasi belajar melalui pemberian tugas berbasis portofolio siswa pada siklus I sebesar 47,22%, kemudian meningkat 88,88% pada siklus II. Kata kunci: Pemberian Tugas. Prestasi Belajar. Portofolio. Efforts to Improve Learning Achievement Through The Provision of Portfolio Based Assigments On Fiqh Subjects For Class VII MTs Al Washliyah Pangkalan Berandan Abstract This study aims to analyze efforts to increase student achievement through portfolio-based Learning achievement is generally related to aspects of knowledge, while learning outcomes include the formation of the character of students. The word achievement is widely used in various fields and activities, including arts, sports, and education, especially learning. The researcher gives students assignments based on portfolios, portfolios are not only used in schools, but also in teacher education institutions. Portfolio The style is determined by the purpose of the portfolio. Portfolio objectives will influence content design considerations and selection. This research uses classroom action research method. The results of this study indicate that learning achievement through the assignment of portfolio-based assignments to students in the first cycle was 47. 22%, then increased to 88. 88% in the second cycle. Keywords: Assignment. Learning Achievement. Portofolio. || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety PENDAHULUAN Dalam rangka mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur dan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup sebagaimana yang dikehendaki oleh tujuan Pendidikan Nasional, maka hendaknya pendidikan tidak hanya sebuah transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Pendidikan harus mampu mengantarkan manusia mencapai kompetensi intelektualitasnya sekaligus mengemban spiritualitas sebagai potensi kemanusiaannya. Diri manusia adalah entitas yang kompleks dengan potensi akal dan rasa yang harus dikembangkan secara berimbang. Pendidikan yang hanya menekankan pada pentingnya akal dan hanya dilakukan sebagai transfer pengetahuan dan teknologi saja, hanya akan mencetak manusia dengan mental robot. Untuk itu, pendidikan pun harus juga member kesadaran akan nilai-nilai dalam kehidupan manusia, sehingga perilaku dan sikap hidup manusia tidak hanya didasari pertimbangan rasio: benar salah, untung rugi, tetapi juga pertimbangan etis: baik buruk yang mencerminkan kualitas kemanusiaan. Dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka sekolah juga perlu penyesuaian dari manajemen paradigma lama menuju pendidikan paradigma baru yang lebih bernuansa otonomi dan lebih demokratis. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan modal manajemen yang memberikan otonomi lebih besar dari pada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan bersama atau partisipasi dari semua warga sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan kebijakan Nasional. Tujuan utama MBS diantaranya adalah peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat menumbuh kembangkan suasana yang kondusif. (Mulyasa, 2. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu Pendidikan Nasional, khususnya pendidikan dasar dan menengah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Beberapa upaya tersebut antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Dalam lingkup kelas maka guru mempunyai peran yang strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru merupakan personil sekolah yang memiliki kesempatan bertatap muka lebih banyak dengan siswanya. Dengan demikian peran dan tanggung jawab guru adalah menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan, mempersiapkan pelajaran, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan Kenyataan di lapangan banyak guru yang member pelajaran untuk keperluan ujian yang segera akan dilupakan oleh anak-anak. Akan tetapi bukan itu hasil belajar yang Yang diharapkan ialah agar anak-anak memahami pelajaran secara mendalam sehingga ia lama mengingatnya serta dapat menggunakannya dalam hidupnya (Nasution. Seorang guru bukan hanya sekedar pemberi ilmu pengetahuan kepada muridmuridnya. Akan tetapi, dia seorang tenaga profesional yang dapat menjadikan muridmuridnya mampu merencanakan, menganalisis dan menyimpulkan masalah yang dihadapi (Nurdin 2. Permasalahan yang sering muncul dalam pembelajaran fiqih adalah masih rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep fiqih yang diajarkan guru. Bukti-bukti penilaian ulangan harian dan ulangan umum menunjukkan bahwa prestasi belajar fiqih || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety belum sesuai dengan standar ketuntasan minimal. Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan perubahan pola pikir yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan kurikulum masa lalu, proses belajar mengajar terfokus pada siswa, akibatnya KBM (Kegiatan Belajar Mengaja. lebih menekankan pada pengajaran dari pada Untuk itu diperlukan strategi pembelajaran. Salah satu strategi pembelajaran yang memusatkan proses pembelajaran pada siswa adalah metode pembelajaran dan penilaian portofolio. Model pembelajaran ini berpusat pada siswa, karena dapat mendorong kompetensi, tanggung jawab dan partisipasi siswa belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum, memberanikan diri untuk berperan serta dalam kegiatan antar siswa, antar sekolah dan antar anggota masyarakat. Model pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktis dan empiris (Mansyah, 2. Pada mata pelajaran agama Islam, dimana fiqih bukan sekedar untuk menghafal beberapa dalil agama atau beberapa syarat rukun setiap ibadah namun harus merupakan upaya, proses, usaha mendidik murid, disamping untuk memahami atau mengetahui juga sekaligus menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Ajaran Islam untuk diamalkan bukan sekedar dihafalkan meskipun ada pula aspek yang harus dihafal (Azizy, 2. Diharapkan dengan menerapkan model pembelajaran portofolio, mata pelajaran pendidikan agama Islam akan dapat meningkatkan prestasi belajar fiqih. Dalam portofolio fiqih ini siswa dibina agar memiliki kecakapan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat yang erat kaitannya dengan materi pokok fiqih, misalnya masalah keimanan dan ketauhidan, pembelajaran diharapkan dapat menciptakan akhlak peserta didik menjadi Muslim yang beriman dan bertaqwa. Sesuai dengan pendapat Budi Mansyah bahwa portofolio sebenarnya dapat diartikan sebagai wujud benda fisik, sebagai suatu proses sosial pedagogis, maupun sebagai objektif, maka peneliti membatasi penelitian ini pada pengertian portofolio sebagai wujud benda fisik, yaitu tugas portofolio. Dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, maka dengan diberikannya tugas berbasis portofolio diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sehingga tujuan fiqih dapat terwujud. Berpijak pada uraian latar belakang masalah tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai permasalahan-permasalahan tersebut yaitu dengan melakukan penelitian yang berjudul AuUpaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian Tugas Berbasis Portofolio pada Siswa Kelas Vi MTs Al-Washliyah Pangkalan BerandanAy. METODE Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi Psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi yang menyelidiki masalah-masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan (Syah, 2. Menurut crow dan Crow psikologi pendidikan merupakan suatu ilmu yang berusaha menjelaskan masalahmasalah belajar yang dialami individu dari sejak lahir sampai berusia lanjut, terutama yang menyangkut kondisi-kondisi yang mempengaruhi pembelajaran (Purwanto, 2. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas atau sering disebut Classroom Research (CAR). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru dikelasnya sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat (Dwitagama, 2018. Assingkily, 2. PTK atau Classroom Research (CAR) adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Prestasi Belajar Setiap proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok di mana dengan berjalannya kegiatan belajar di sekolah dapat mencerminkan berjalannya proses pendidikan. Penilaian merupakan salah satu cerminan dari hasil kegiatan belajar di sekolah yang dicapai peserta didik dalam menempuh proses Prestasi belajar peserta didik dapat diukur dari pekerjaan peserta didik selama satu semester, yang pada akhirnya dituangkan dengan nilai yang berbentuk angkaangka. Angka tersebut merupakan cerminan atau ukuran dari hasil yang dicapai peserta didik dalam belajar. Kata AuprestasiAy berasal dari bahasa Belanda yaitu AuprestatieAy. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi AuprestasiAy yang berarti hasil usaha. (Kurniawan, 2. Prestasi belajar pada umumnya berkenaan dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi aspek pembentukan watak peserta didik. Kata prestasi banyak digunakan dalam berbagai bidang dan kegiatan antara lain dalam kesenian, olah raga, dan pendidikan, khususnya pembelajaran. Menurut Syah. AuPrestasi adalah tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah programAy (Syah, 2. Prestasi itu tidak mungkin dicapai oleh seseorang selama ia tidak melakukan kegiatan dengan sungguh-sungguh. Prestasi belajar adalah Aupenilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol, angka, huruf maupun kalimat yang mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh peserta didikAy (Sulistyorini, 2. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar karena prestasi belajar merupakan out put dari proses belajar seperti halnya yang dikatakan oleh Tohirin. AuPrestasi belajar diperoleh dari apa yang telah dicapai oleh siswa setelah siswa melakukan kegiatan belajarAy (Tohirin, 2. Keberhasilan seorang siswa dalam belajar dapat dilihat dari prestasi belajar siswa yang bersangkutan. Menurut Sumadi Surya brata, prestasibelajarsebagainilai, merupakanperumusanakhir yang diberikan oleh guru dalam hal kemajuan prestasi belajar yang telah dicapai siswa selama waktu tertentu. (Suryabrata, 2. Dimyati & Mudjiyono menjelaskan bahwa prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, di mana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol (Mudjiyono, 2. Sudjana, berpendapat bahwa prestasi belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Pencapaian prestasi belajar merujuk kepada aspek kognitif, afektif dan psikomotor. (Sudjana, 2. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai seseorang setelah mengikuti kegiatan belajar yang ditunjukkan dengan nilai yang berupa angka maupun huruf dalam periode waktu tertentu. || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Pengukuran Prestasi Belajar Dalam dunia pendidikan, menilai merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat Menilai atau mengukur prestasi belajar merupakan salah satu dari komponen pembelajaran itu sendiri. Untuk menilai prestasi perlu dilakukan pengukuran yaitu membandingkan sesuatu dengan ukuran, pengukuran bersifat kuantitatif. Menurut Sugihartono, hasil pengukuran dapat berupa nilai atau angka yang menggambarkan kondisi atau kenyataan sesuai dengan kualitas dan kuantitas keadaan yang diukur (Sugihartono. Sugihartono juga menyatakan dalam kegiatan belajar mengajar, pengukuran hasil belajar dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh perubahan tingkah laku siswa setelah menghayati proses belajar. Maka pengukuran yang dilakukan guru lazimnya menggunakan tes sebagai alat ukur. Hasil pengukuran tersebut berwujud angka ataupun pernyataan yang mencerminkan tingkat penguasaan materi pelajaran bagi para siswa, yang lebih dikenal dengan prestasi belajar (Sugihartono, 2. Suryabrata menyatakan bahwa hasil belajar siswa dapat diukur dengan cara: . Memberikan tugas-tugas tertentu. Menanyakan beberapa hal yang terkait dengan pelajaran tertentu. Memberikan tes pada siswa sesudah mengikuti pelajaran tertentu. Memberikan ulangan (Suryabrata, 2. Menurut Syaiful dan Aswan. AuUntuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar dapat dilakukan melalui tes prestasi belajarAy (Suryabrata, 2. Tes prestasi belajar dapat digolongkan kedalam jenis penilaian berikut ini: Tes Formatif Penilaian ini digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu. Tes Submatif Tes submatif ini meliputi sejumlah bahan pembelajaran tertentu yang telah diajarkan, untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor. Tes Sumatif Tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap materi-materi yang telah diajarkan dalam waktu satu semester dan untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa dalam suatu periode belajar tertentu. Hasil dari tes ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat . atau sebagai ukuran mutu sekolah. (Suryabrata, 2. Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa pengukuran prestasi belajar adalah suatu proses mengukur tingkat penguasaan mata pelajaran yang dimiliki oleh siswa dengan menggunakan alat ukur tes yang hasilnya berupa angka atau huruf yang mencakup semua materi yang diajarkan dalam jangka waktu tertentu. Fungsi Prestasi Belajar Prestasi belajar mempunyai beberapa fungsi utama. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik. Pertama. Prestasi belajar sebagai lambing pemuasan hasrat ingin tahu. Kedua. Prestasi belajar sebagai bahan || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety informasi dalam inovasi pendidikan. Asumsinya adalah prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi peserta didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan. Ketiga. Prestasi belajar sebagai indikator internal dan eksternal dari suatu situasi Indikator intern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat dijadikan indicator tingkat produktivitas suatu institusi pendidikan. Asumsinyaa dalah kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik. Indikator eksternal dalam arti bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan indicator tingkat kesuksesan peserta didik di masyarakat. Asumsinya adalah kurikulum yang digunakan relevan pula dengan kebutuhan masyarakat. Keempat. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator daya serap . peserta Dalam proses pembelajaran, peserta didik menjadi fokus utama yang harus diperhatikan, karena peserta didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi Prestasi belajar bisa diukur dengan mengadakan penilaian. Adapun tujuan dan fungsi penilaian adalah: . Berfungsi efektif. Penilaian berfungsi diagnostic. Penilaian berfungsi sebagai penempatan. Penilaian berfungsi mengukur keberhasilan (Arwafe, 2. Dilihat dari beberapa fungsi prestasi belajar diatas, maka pentingnya mengetahui dan memahami prestasi belajar peserta didik, baik secara perseorangan maupun secara kelompok, sebab fungsi prestasi belajar tidak hanya sebagai indikator keberhasilan dalam bidang studi tertentu, tetapi juga sebagai indikator kualitas institusi pendidikan. Disamping itu prestasi belajar juga bermanfaat sebagai umpan balik bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Prestasi yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik dari dalam dirinya . aktor interna. , maupun dari luar . actor Faktor tersebut adalah : Faktor Internal Faktor internal adalah sesuatu yang muncul dari dalam diri siswa itu sendiri. Faktor internal tersebut terdiri faktor jasmaniah, factor psikologis, faktor kelelahan. Faktor Jasmaniah Faktor yang timbul pada jasmani peserta didik itu sendiri yaitu faktor kesehatan dan faktor cacat tubuh. Kesehatan seseorang sangat berpengaruh terhadap belajarnya, proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang kurang baik. Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Peserta didik yang cacat belajarnya juga terganggu, untuk mengatasinya dapat diusahakan dengan alat bantu agar dapat mengurangi kecacatannya itu. Faktor Psikologis Faktor psikologis dalam belajar memberikan pengaruh yang penting yaitu sebab yang berhubungan dengan kejiwaan anak (Baharuddin, 2. Menurut Slameto, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang digolongkan menjadi dua golongan, yaitu: Faktor internal, yaitu faktor yang ada dalam diri individu, meliputi: Faktor jasmaniah berupa factor kesehatan dan cacat tubuh. || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety . Faktor sikologis, berupa intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, . Faktor kelelahan yaitu kelelahan jasmani dan rohani. Faktor eksternal yaitu faktor yang ada di luar individu, terdiri dari: Faktor keluarga, yaitu cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang . Faktor sekolah yaitu metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah. Faktor masyarakat yaitu kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat. (Slameto, 2. Menurut Ngalim Purwanto bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, yang dibedakan menjadi dua golongan, yaitu: Faktor individual yaitu faktor yang ada pada diri individu itu sendiri, antara lain: faktor kematangan/pertumbuhan, latihan, motivasi dan factor pribadi. Faktor social yaitu faktor yang ada di luar individu, antara lain: factor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan dalam belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi sosial. (Purwanto, 2. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar seseorang atau hasil akhir yang dicapai seseorang melalui kegiatan belajar dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu pengaruh dari dalam . dan pengaruh dari luar . Adapun yang menjadi faktor internal dalam penelitian ini adalah motivasi belajar dan kemandirian belajar, sedangkan yang menjadi faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar adalah lingkungan teman sebaya dan perhatian orang tua. Pentingnya Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah sangat penting dalam dunia pendidikan karena pencapaian perubahan sesuai dengan tujuan pembelajaran atau tidak. Pentingnya prestasi belajar tersebut antara lain: Bagi peserta didik prestasi belajar dapat digunakan untuk melihat posisi dirinya . elihat kemampuannya dibandingkan dengan standar atau dengan teman-temanny. dan digunakan untuk meningkatkan semangat atau gairah dalam belajar. Digunakan oleh guru bidang studi untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang diterapkan, baik media, metode, serta materi pelajaran dan menentukan materi Bagi orang tua akan mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapai anaknya, jika mendapatkan kesulitan belajar dapat mencari alternatif cara pemecahannya. Evaluasi Prestasi Belajar Prestasi belajar meliputi segenap ranah kejiwaan yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa yang bersangkutan. Prestasi belajar dapat dinilai dengan cara sebagai berikut: || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Penilaian Formatif Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik . , yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan. Penilaian Sumatif Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu. (Purwanto, 2. Pengertian Portofolio Portofolio berasal dari bahasa Inggris AuPortfolioAy yang artinya dokumen atau suratsurat. Dapat juga diartikan sebagai kumpulan kertas kertas berharga dari suatu pekerjaan tertentu (Fajar, 2. Secara umum portofolio merupakan hasil karya siswa yang didokumentasikan secara baik dan teratur. Portofolio dapat berbentuk tugas-tugas yang dikerjakan siswa, laporan kegiatan siswa, dan karangan jurnal yang dibuat siswa. Mengenai batasan portofolio para ahli memberikan batasan, antara lain: Paulson, mendefinisikan portofolio sebagai kumpulan pekerjaan siswa yang menunjukkan usaha perkembangan dan kecakapan mereka dalam suatu bidang. Menurut Gronland portofolio mencakup berbagai contoh pekerjaan siswa yang tergantung dalam keluasan tujuan. apa yang tersurat tergantung pada subyek dan penggunaan portofolio. Menurut Dasim Budimansyah Portofolio juga diartikan sebagai wujud benda fisik sebagai suatu proses sosial pedagogis maupun sebagai adjective. Sebagai suatu proses sosial pedagogis, portofolio adalah kumpulan belajar siswa yang berwujud pengetahuan . , sikap . dan pembiasaan . Adapun sebagai adjective, portofolio sering disandingkan dengan konsep lain, misalnya konsep pembelajaran dan penilaian. Jika disandingkan dengan konsep pembelajaran maka dikenal dengan istilah pembelajaran berbasis portofolio sedangkan jika dibandingkan dengan konsep penilaian maka dikenal dengan istilah penilaian berbasis portofolio (Fajar, 2. Dalam area pendidikan, portofolio tidak hanya digunakan di sekolah, tetapi juga di lembaga pendidikan guru. Corak portofolio adalah ditentukan oleh tujuan dibuatnya Tujuan portofolio akan mempengaruhi pertimbangan rancangan . isi dan Dalam penelitian ini, difokuskan pada portofolio yang disusun untuk tujuan penilaian prestasi belajar siswa. Baik secara kualitatif . maupun kuantitatif . portofolio telah menjadi suatu alat penilaian jika bertujuan: . mendapatkan informasi tentang pertumbuhan atau kemajuan belajar siswa dan . mendapatkan data kemajuan belajar siswa yang dapat diproses menjadi nilai raport atau deskripsi prosentase kompetensi atau kemampuan siswa pada mapel tertentu. Teknik Penilaian Portofolio Penilaian dalam bahasa Inggris sering disebut assessment yang berarti penaksiran atau menaksir. Dalam bidang pendidikan assessment sering dikaitkan dengan pencapaian kurikulum, dan digunakan untuk mengumpulkan informasi berkenaan dengan proses pembelajaran dan hasilnya. Adapun maksud dari assessment adalah: || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Melacak kemajuan siswa . eeping trac. Melacak ketercapaian pengetahuan . hecking u. Mendeteksi kesalahan . inding ou. Menyimpulkan . umming u. (Hatta, 2. Adapun objek penilaian portofolio atau evidence dibedakan menjadi empat macam. Hasil karya peserta didik . , yaitu hasil kerja peserta didik yang dihasilkan di Reproduksi . , yaitu hasil kerja peserta didik yang dikerjakan diluar kelas. Pengesahan . , yaitu pernyataan dan hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru atau pihak lainnya tentang peserta didik. Produksi . , yaitu hasil kerja peserta didik yang dipersiapkan khusus untuk (Hatta, 2. Assessment portofolio adalah penilaian terhadap kumpulan berkas sebagai bukti fisik setiap aktifitas siswa bisa berupa dokumen, hasil tes, tugas-tugas, catatan tentang sikapminat, keterampilan dan kompetensi siswa. Penilaian portofolio oleh guru didasarkan pada beberapa aspek penilaian dengan memperhatikan jenis tugas dengan diberikan aspek-aspek tersebut adalah: . Aspek pemahaman, seberapa baik tingkat pemahaman siswa terhadap soal-soal yang dikerjakan. Aspek argumentasi, seberapa baik yang diberikan siswa dalam menjawab persoalan-persoalan di dalam lembar kerja siswa tersebut. Aspek kejelasan, tersusun dengan baik, tertulis dengan baik, mudah dipahami (Fajar, 2. Pelaksanaan tugas portofolio terbagi dalam empat tahap, yaitu sebagai berikut Tahap pemberian tugas Tahap pemberian tugas adalah tahap awal pelaksanaan, dengan guru memberikan tugas yang harus dikerjakan siswa di luar jam pelajaran. Tahap pelaksanaan tugas Tahap pelaksanaan tugas adalah merupakan tahap pencarian jawaban dari tugas yang diberikan. Disinilah akan tampak keaktifan siswa, karena siswa akan mencari informasi yang diperlukan untuk menjawab permasalahan yang menjadi kajian. Tahap analisis tugas Tahap analisis tugas merupakan tahap pertanggung jawaban siswa terhadap tugas yang dikerjakan serta umpan balik guru terhadap tugas yang telah diberikan. Bentuk resitasi harus disesuaikan dengan tujuan pemberian tugas dapat berupa tanya jawab, diskusi dan informasi. Penilaian ragam alat penilaian itu berupa daftar cek, skalatipe, komentar, bentuk penilaian ada yang menggunakan butir nilai, prosentase atau tingkatan huruf untuk tiap Semua indikator proses dan hasil belajar siswa tercatat dan didokumentasikan dalam suatu bundel . dengan demikian, model penelitian berbasis portofolio adalah suatu usaha untuk memperoleh berbagai informasi tentang proses dan hasil pertumbuhan dan perkembangan. HASIL PENELITIAN Temuan hasil penelitian berikut ini adalah berdasarkan hasil-hasil yang di peroleh dalam analisi data dan analisis intervensi tindakan terhadap pemberian tugas berbasis portofolio dan juga kemampuan pemahaman siswa, dan aktifitas siswa selama dalam proses || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety pembelajaran dengan menggunakan pemberian tugas berbasis portofolio. Adapun faktorfaktor yang di temukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Faktor Internal Pembelajaran Dari hasil penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya menunjukkan bahwa dengan pembelajaran dengan pemberian tugas berbasis portofolio secara signifikan lebih baik dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran Fikih di bandingkan dengan pembelajaran biasa, begitu pula dengan proses keterkaitan tema dalam belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran pemberian tugas berbasis portofolio lebih baik dibandingkan dengan proses penyelesaian masalah siswa yang di ajar dengan model pembelajaran Jika kita perhatikan karakteristik dari kedua model pembelajaran tersebut adalah suatu hal yang wajar terjadinya perbedaan tersebut. Secara teoritis pembelajaran dengan pemberian tugas berbasis portofolio memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan pembelajaran biasa dimana pembelajaran dengan pemberian tugas berbasis portofolio berdasarkan pada pengalaman siswa dan materi pelajaran yang di kaitkan dengan situasi di sekitar siswa sehingga siswa akan lebih memahami materi yang disampaikan khususnya siswa yang cara berpikirnya sudah dewasa atau yang akan berkembang pada tingkat abstrak. Dalam pelajaran Fikih yang abstrak siswa memerlukan alat bantu dan peristiwa nyata yang dapat memperjelas apa yang akan disampaikan guru sehingga lebih cepat di pahami dan dimengerti siswa. Konteks yang di maksud yaitu berkaitan dengan kehidupan pribadi, sosial dan lingkungan tempat tinggal siswa dan benda-benda di sekitar siswa. Senada denganteori belajar uang dikemukakan Bruner bahwa belajar akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan pada konsep-konsep dan struktur-struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara konsep dan struktur. Dengan mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahanyang sedang dibicarakan, anak akan memahami materi yang harus dikuasainya itu. Bruner, melalui teorinya itu, mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi tema pembelajaran dengan tema yang Keunggulan tersebut dapat diketahui melalui perbedaan pandangan terhadap karakteristik pembelajaran antara lain: Bahan Ajar Bahan ajar selama mengajar menggunakan pemberian tugas berbasis portofolio, karakteristik yang ada pada pembelajaran tersebut menjadi hal yang sangat menentukan keberhasilan peningkatan kemampuan pemahaman siswa dan efektifitas pelajaran Fikih siswa apabila karakteristik tersebut dioptimalkan dalam proses belajar Proses pembelajaran yang disusun memenuhi ketujuh karakteristik pemberian tugas berbasis portofolio mampu membangkitkan aktifitas siswa menjadi lebih baik dan pembelajarannya langsung diawali dengan memberikan masalah dari lembar aktifitas siswa. Sedangkan Pembelajaran Biasa, bahan ajarnya hanya dengan kegiatan pembelajarannya diawali siswa membaca buku paket perihal materi zakat. Pembelajaran Biasa juga memiliki keunggulan dapat memoivasi siswa dalam kelompok agar mereka saling membantu satu sama lain. Namun, dalam kegiatan || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety pembelajarannya, setiap akhir pembelajaran dilakukan kuis yang terkadang membuat siswa jenuh dan bosan bahkan ada yang tidak mengikuti dan mengerjakan soal kuisnya karena selain kuis siswa juga akan diberikan latihan. Guru Dengan menggunakan masalah sebagai konteks, peran guru dalam pembelajaran adalah otentik sebagai fasilitator dan organisator, yaitu mengatur harus bagaimana siswa belajar dan memberikan arahan agar materi yang dipelajari dipahami dan dimaknai siswa. Kendala yang dihadapi guru dalam menfasilitasi dan mengakomodasi siswa belajar dari masalah adalah keheterogenan kemampuan pemahaman siswa dikelas. Karena kemampuan pemahaman siswa dikelas relatif bervariasi, maka tingkat kesulitan yang di hadapi siswa dalam menerapkan pemberian tugas berbasis portofolio pada pelajaran Fikih pun beragam pula. Kesulitan guru dalam membelajarkan siswa bekerjasama dalam kelompok yang terdiri dari empat sampai enam orang. Mereka berinteraksi secara berkelompok untuk menyelesaikan masalah pada LAS, yaitu saling berbagi gagasan/pendapat melalui tanya jawan dan coba-coba. Peran guru sebagai organisator dalam pembelajaran kelompok tidaklah Guru tidak cukup hanya dengan dan mengelompokkan siswa dan membiarkan mereka bekerjasama, namun guru harus mampu mendorong agar setiap siswa berpartisipasi sepenuhnya dalam aktifitas kelompok. Untuk menghindari yang aktif bekerja dalam kelompok hanya siswa tertentu saja, guru harus memberikan intruksi yang jelas, menyakinkan bahwa setiap siswa bertanggung jawab terhadap pekerjaan kelompok masing-masing, dan menstimulasi agar siswa terdorong untuk berpikir optimal sesuai dengan potensinya masing-masing. Dalam pembelajaran biasa hal yang sama juga dilakukan guru. Guru sebagai fasilitator dan motivator agar siswa dapat mengikuti pembelajaran semaksimal mungkin. Perbedaan kedua model pembelajaran tersebut terlihat pada proses pembelajaran,pemberian tugas berbasis portofolio memiliki tujuh karakteristik sedangkan pembelajaran biasa memiliki nilai karakteristik, yaitu menyampaikan materi pelajaran, kelompok belajar, penyajian materi, kuis, dan penghargaan. Pembelajaran biasa dilakukan dengan kemandirian dan keaktifan siswa dalam mengkonstruksikan pengetahuan dengan guru sebagai fasilitator dan organisator, walaupun karakteristiknya berbeda. Peran Aktif Siswa Dalam pemberian tugas berbasis portofolio dibentuk kelompok-kelompok diskusi belajar siswa, setiap siswa diberikan lembar aktifitas siswa (LAS) yang berisikan tema-tema tertentu terhadap pelajaran Fikih. Fokus kegiatan belajar sepenuhnya berada pada siswa yaitu berpikir menemukan solusi dari suatu masalah dan otomatis mengaktivasi kegiatan fisik maupun mental yaitu suatu proses untuk memahami konsep dan prosedur pelajaran Fikih yang terkandung dalam masalah Kelompok siswa dibentuk dalam kelompok heterogen yang terdiri dari 4-5 orang menjadikan siswa saling bekerjasama dan bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah. Interaksi antar siswa dapat menolong siswa yang berkemampuan rendah dan sedang dalam memahami pelajaran Fikih. Siswa yang || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety pandai dapat mentransformasikan pengetahuan yang dimiliki untuk berbagi dengan teman-teman yang lain, hasil penyelesaian dari suatu masalah akan dipertanggung jawabkan pada kelompok yang lebih besar lagi, dimana perwakilan dari beberapa kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok, akan muncul kegiatan tanya jawab antar masing-masing kelompok yang akhirnya menjadi refleksi bagi siswa hasil kerja kelompok yang telah dibuat. Aktifitas siswa dalam pembelajaran dengan pemberian tugas berbasis portofolio memenuhi kategori baik, siswa sangat bersemangat melakukan kegiatan dalam pembelajaran, dengan melibatkan siswa secara langsung, siswa merasa baha dirinya lebih dihargai, siswa tidak mengantuk. Namun aktifitas siswa dalam pembelajaran lebih tinggi daripada aktifitas siswa dalam pembelajaran biasa. Melalui aktifitas mental ini, kemampuan kognitif dan juga kemampuan pemahaman siswa mendapat kesempatan di berdayakan, disegarkan, dan dimantapkan apabila siswa itu terus berupaya memanfaatkan hasil belajarannya dan kemampuan pemahamannya terhadap mata pelajaran Fikih atau pun pengalamannya untuk menyelesaikan masalah pada lembar aktifitas siswa dengan menggunakan pemberian tugas berbasis portofolio menjadi lebih baik dan meningkat dari sebelumnya. Sehingga materi yang diajarkan yang baik yang dibuat oleh para guru akan membuat para siswa menjadi lebih baik dalam pembelajaran dan juga dapat mengembangkan verbalisme pemahman siswa dalam proses pembelajaran. Interaksi Interaksi dalam kegiatan pembelajaran dengan pemberian tugas berbasis portofolio bersifat multi arah yakni proses pembelajaran dengan memaksimalkan antara komunitas kelas. Interaksi multi arah dapat menumbuhkan suasana dinamis, demokratis, dan rasa emosional yang tinggi dalam belajar Aqidah Akhlak. Interaksi antar siswa dapat menolong siswa yang berkemampuan rendah dan sedang dalam mengkonstruksikan dan menemukan setiap tema yang terkait pada materi Aqidah Akhlak. Pada pembelajaran dengan menggunakan pemberian tugas berbasis portofolio, siswa akan saling berbagi ide untuk mengajukan penyelesaian baik didalam kelompok maupun menyajikan hasil akhirnya didepan kelas. Dengan demikian siswa dengan mudah dapat menemukan kesalahan-kesalahan pada penyelesaian masalah yang di Sedangkan bagi siswa berkemampuan tinggi mempunyai kesempatan untuk berlatih menyampaikan ide dan gagasan kepada orang lain dan menhargai pendapat orang lain sehingga sangat memungkinkan dapat menambah pengetahuan mereka. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran interaksi menjadi sangat penting. Faktor Eksternal Pembelajaran Begitu banyak faktor dari luar pembelajaran yang menjadi suatu bagian temuan dalam penelitian. Tetapi dapat diberikan suatu kesimpulan secara umum bahwa yang menjadi faktor eksternal dalam pembelajaran adalah segala sesuatu yang berada pada luar diri siswa selama dalam proses pembelajaran. Faktor tersebut adalah suatu hal yang tidak dapat diteliti secara lebih rinci dikarenakan keterbatasan penelitian, tetapi dapatlah diberikan suatu deskripsi bahwa yang menjadi suatu faktor eksternal dalam || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety pembelajaran adalah, ekonomi, psikologis, sumber daya manusia yang terbarukan, spiritual dan juga fisik siswa. Faktor Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini terdapat keterbatasan-keterbatasan yang di harapkan akan membuka kesempatan bagi peneliti lainnya untuk melakukan penelitian sejenis yang akan berguna bagi perluasan wawasan keilmuan. Diantara keterbatasan-keterbatasan itu Penelitian hanya dilakukan dalam waktu 4 kali pertemuan. Dengan waktu penelitian yang relatif sangat terbatas ini, tentunya akan berdampak pada hasil yang dicapai belum maksimal. Waktu atau jam pelajaran yang dialokasikan setiap pertemuan dalam RPP . x 40 meni. tidak cukup untuk melakukan pembelajaran dengan penerapan pemberian tugas berbasis portofolio yaitu pada siswa-siswa yang berkemampuan rendah dan Begitu pula waktu yang dibutuhkan oleh guru untuk membimbing para siswa dengan berbagai latar belakang kemampuan membutuhkan waktu yang cukup lama, baik secara individual maupun secara kelompok. Oleh karena keterbatasan waktu penelitian sehingga yang mengajar dan melakukan tindakan pada saat penelitian pada penelitian tindakan kelas ini adalah peneliti Dalam penelitian ini tidak terdapat observan khusus hanya seorang guru kelas dan teman peneliti yang juga berprofesi sebagai guru Fikih yang melihat jalannya proses pembelajaran dengan pemberian tugas berbasis portofolio. Penerapan pembelajaran upaya peningkatkan hasil belajar melalui pemberian tugas berbasis portofolio utamanya dilaksanakan peneliti dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenali pengetahuan sendiri , menjelaskan , dan menanggapi penjelasan temannya yang berimplikasi kepada meningkatnya hasil belajar melalui pemberian tugas berbasis portofolio yang menggunakan keterkaitan antar tema dalam suatu materi. Keterkaitan antar tema membuat kreatifitas berpikir siswa menjadi lebih baik dari sebelumnya dan juga melatih kemampuan verbalisme pemahaman siswa. Pada siklus I dari hasil pengamatan menunjukkan siswa terlihat cukup kesulitan untuk beradaptasi dengan penerapan pemberian tugas berbasis portofolio yang sebelumnya tidak terbiasa mereka lakukan. Hal itu sangat terlihat pada penjelasan pengerjaan soal, yang kurang mendapat perhatian di awal siklus. Tidak jauh berbeda dengan penerapan jaring tema merupakan aktifitas yang belum biasa karena mereka lakukan sebelumnya dalam menanggapi permasalahan yang sedang di jelaskan dalam lembar aktifitas siswa hal ini mendapat perhatian lebih untuk meningkatkan penerapan pemberian tugas berbasis portofolio pada siklus II. Pada siklus II dari hasil pengamatan siswa terlihat cukup antusias dalam Peningkatan penerapan pemberian tugas berbasis portofolio dalam pelajaran Fikih, menunjukkan penerapan pembelajaran siswa dalam pelajaran Fikih pada siklus II lebih baik daripada siklus I. Pada siklus I penerapan pemberian tugas berbasis portofolio siswa mencapai rata-rata persentase 70,84% namun pada siklus II meningkat 77,2%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pemberian tugas berbasis portofolio meningkatkan || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Aktifitas belajar siswa pada pemberian tugas berbasis portofolio pada pelajaran Fikih sebesar 7,8%. Pada siklus I diketahui bahwa rata-rata nilai tes pemahaman pada pelajaran Fikih siswa pada siklus I adalah 67,. 42 dengan tingkat ketuntasan 56,25% dari jumlah siswa 26, dan menunjukkan bahwa 43,75 siswa memperoleh nilai <70. Modus dari nilai siswa adalah 72,5 artinya bahwa banyak siswa yang memperoleh nilai tersebut dengan median sebesar Jangkauan nilai siswa sebesar 40 dan nilai terendah sebesar 45 dan nilai tertinggi sebesar 85 ini menunjukkan bahwa perbedaan nilai siswa yang berkemampuan tinggi cukup jauh dengan siswa yang berkemampuan rendah. Kemampuan pemahaman siswa pada siklus II di peroleh rata-rata nilai tes pada pelajaran Fikih siswa sebesar 76. 56 dengan tingkat ketuntasan 84,38% dari jumlah siswa 30, dan menunjukkan bahwa 15,63% siswa memperoleh <70 modus dari nilai siswa adalah 75 jangkauan dan rentang nilai siswa sebesar 30 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 60. Hasil tes pelajaran Fikih siswa mengalami peningkatan rata-rata dari siklus I sebesar 69,4 menjadi 77,2 pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa pelajaran Fikih untuk upaya peningkatkan hasil belajar melalui pemberian tugas berbasis portofolio. Kegiatan belajar juga menjadi lebih kondusif karena siswa dibiasakan untuk menggunakan kemampuan pemahaman dalam penyelesaian masalah yang di berikan. Peningkatan yang diperoleh siswa dari nilai tes akhir siklus I menunjukkan nilai rata-rata mencapai 70,84. Sedangkan rata-rata nilai siswa pada siklus II mencapai 77,16. Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan kemampuan mengemukakan siswa. Pembelajaran dengan menggunakan pemberian tugas berbasis portofolio membuat siswa dapat memahami dan menjelaskan konsep/ide-ide pada pembiasaan mengingat materi dengan mengalaminya sendiri dengan penjelasan soal dari lembar aktifitas siswa kemudian mengembangkan tema yang di butuhkan dalam pembelajaran tersebut. Respon siswa merupakan suatu aksi dari penelitian tindakan yang harus dapat di hitung secara kuantitatif dan juga kualitatif meskipun pada rumusan masalah tidak muncul tapi merupakan suatu refleksi terhadap pemberian tugas berbasis portofolio yang kemudian di peroleh dari hasil wawancara dan jurnal harian yang di lakukan terhadap subjek Pada jurnal harian rata-rata persentase respon poritif siswa terhadap pemberian tugas berbasis portofolio meningkat yaitu dari 48,57% pada siklus I menjadi 74,28% pada siklus II. Sedangkan rata-rata persentase respon negatif siswa menurun dari 3,13% pada siklus II. Dari hasil wawancara terhadap beberapa siswa di peroleh informasi bahwa penerapan pembelajaran dengan pemberian tugas berbasis portofolio memberikan nuansa belajar yg baru bagi siswa . Belajar Aqidah Akhlak dengan cara yang berbeda membuat siswa bersemangat dalam belajar. Masing-masing siswa juga merasakan manfaat penerapan pemberian tugas berbasis portofolio dalam pelajaran Fikih, diantaranya siswa yang kemampuan mengemukakan pendapatnya rendah dapat menambah ilmu dan pengetahuan mereka dalam menyelesaikan masalah soal melalui teman/pasangannya dalam diskusi Sementara itu siswa yang memiliki kemampuan lebih baik akan semakin merasa bangga dengan mempresentasikan kemampuan yang dimilikinya kepada teman dan juga didepan peneliti. Beberapa siswa juga mengungkapkan bahwa belajar lebih menyenangkan apabila dapat bertukar pikiran/berdiskusi dengan teman. Sehingga dapat dikatakan pemberian tugas berbasis portofolio memberikan pengaruh positif terhadap pola belajar siswa. || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Beberapa aktifitas yang dianggap kurang seperti memperhatikan penjelasan guru atau teman , mengajukan pertanyaan maupun pendapat, kesiapan siswa dalam belajar di sekolah serta aktifitas-aktifitas lain yang sebelumnya tidak pernah dilakukan siswa telah menunjukkan peningkatan setelah diterapkan pembelajaran dengan pemberian tugas berbasis portofolio. Selain itu aktifitas siswayang kurang terarah seperti mengobrol, bercanda, melamun dan lain-lain menjadi lebih berkurang atau terminimalisir. SIMPULAN Berdasarkan hasil deskripsi data, hasil penelitian, temuan penelitian dan keterbatasan penelitian selama Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian Tugas Berbasis Portofolio pada mata pelajaran Fikih maka peneliti memperoleh kesimpulan sebagai berikut: Pertama. Upaya peningkatan prestasi belajar melalui pemberian tugas berbasis portofolio pada mata pelajaran Fikih. Rata-rata pada siklus I sebesar 47,22% meningkat 88,88% pada siklus II. Hal ini terbukti dapat dilihat berdasarkan lembar observasi siswa selama proses pembelajaran dan telah mencapai indikator keberhasilan penelitian yaitu penerapan pemberian tugas berbasis portofolio siswa mencapai >70%. Aspek penerapan pemberian tugas berbasis portofolio yang di amati meliputi siswa siap menerima pelajaran dan memperhatikan penjelasan dari guru, menggali pengetahuan awal melalui lembar aktifitas siswa (LAS), antusias mengerjakan tugas individu, siswa menuliskan dan menjelaskan identifikasi masalah mengenai yang diketahui dan yang di tanyakan di dalam soal, siswa menuliskan dan menjelaskan tema dan keterkaitan tema pada materi lain dan juga pada keadaan yang lebih nyata, mengetahui proses menggunakan pemberian tugas berbasis portofolio siswa menghafalkan materi yang akan diajarkan, siswa menuliskan dan menjelaskan kembali tema-tema yang ada pada materi tersebut pada lembar aktifitas siswa (LAS), siswa mendengarkan dan memberi tanggapan kepada temannya. Pada setiap aspek yang diamati upaya meningkatkan prestasi belajar siswa terlihat meningkat. Kedua. Upaya meningkatkan prestasi belajar siswa terlihat dari rata-rata hasil tes kemampuan pemahaman dari siklus I ke siklus II. Kemampuan pemahaman yang meningkat dengan pemberian tugas berbasis portofolio meliputi instrumental dan relasional. Kemampuan instrumental pada saat siswa mampu mengaitkan relasional tema yang tepat dalam menyelesaikan suatu materi. Hal ini didukung oelh peningkatan kategori cukup pada siklus I menjadi baik pada siklus II. Ketiga. Penerapan pemberian tugas berbasis portofolio dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan upaya meningkatkan prestasi belajar siswa setelah menerapkan pemberian tugas berbasis portofolio menjadi meningkat Pada siklus I nilai rata-rata hasil belajar peserta didik adalah 69,86 dan ketuntasan klasikalnya mencapai 47. 22%, sedangkan pada siklus II nilai rata-rata peserta didik adalah 80,69 dan ketuntasan klasiknya mencapai Hal ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 41. 66% . Hal ini menunjukkan bahwa hasil siswa sudah memenuhi target, sehingga peneliti berkesimpulan bahwa tidak perlu dilanjutkan lagi pada siklus berikutnya. Keempat. Ada empat indikator utama kemampuan pemahaman siswa yang menjadi acuan dalam penelitian ini. Empat indikator tersebut telah muncul secara baik dan juga bertahap pada penelitian ini. Hal ini dapat dilihat pada analisa kemampuan pemahaman siswa melalui pemberian tugas berbasis portofolio pada siklus I sebesar 47,22% kemudian terjadi proses peningkatan pada siklus II sebesar 88,88%. || Nita Karisma, et. || Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Pemberian. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 2022, hal 544-559 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Kelima. Respon siswa terhadap pelajaran Fikih menggunakan pemberian tugas berbasis portofolio sangatlah positif. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil respon positif siswa pada jurnal harian yang meningkat berdasarkan pengamatan hasil observasi. Aktifitas siswa pada siklus I termasuk dalam kategori cukup, pada siklus II termasuk dalam kategori sangat baik. Sehingga respon siswa selama pembelajaran terlihat positif. DAFTAR PUSTAKA