ISLAM PROFETIK (Misi Profetis Pesantren Sebagai Sumber Daya Umma. Babun Suharto Institut Agama Islam Negeri Jember babunsuharto@gmail. Abstrak Penelitian ini adalah kajian kepustakaan yang mengankat konsep Islam Profetik : Misi Profetik pesantren sebagai sumber daya Umat. Dalam tulisan ini ada tiga pertanyaan penting, yaitu: bagaimana konsep Islam profetik?. bagaimana konsep pesantren?. dan bagaimana konsep profetik dalam pembedayaan Ummat? Metode penelitian dengan menggunakan konsep konten analisis untuk membedah tiga pertanyaan tersebut, hasil dari penelitian ini adalah konsep misi profetik sebagai sumber daya umat, dan konsep profetik dalam pengembangan ummat Islam. Kata kunci : profetik, pesantren, ummat Abstract This study is a study of the literature that emphasizes the concept of Prophetic Islam: Islamic Prophetic Missions as Community Resources, in this paper there are three important questions: How is the concept of prophetic Islam?. how is the concept of and how is the concept of prophetic in the Ummah edification? By using the content analysis concept to identify the three questions, the results of this study are the concept of prophetic mission as a community resource, and the prophetic concept in the development of the Islamic ummah. Keyword: prophetic, pesantren, ummah Pendahuluan Manusia tidak memiliki kekuatan otot seperti gajah. manusia tidak bisa terbang layaknya burung. manusia tidak mampu berenang sebagaimana ikan. manusia juga tidak bisa lari sekencang Namun, dengan kecanggihan pikirannya, manusia bisa membuat mesin-mesin besar yang jauh lebih kuat dari gajah. membuat pesawat terbang yang bisa menjelajah angkasa dan berakselerasi lebih hebat dari burung. membuat mobil atau kereta yang ribuan kali lebih kencang dari kuda. membuat kapal, perahu, dan tank Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Islam Profetik : Misi Profetis Pesantren Sebagai Sumber Daya Ummat samudera luas. Itulah manusia yang diberi kelebihan oleh Allah berupa akal Allah menunjukkan sebagai khalifah di muka bumi . halifatullah fi al-ar. Daya yang menjadikan manusia memimpin dunia adalah akal pikirannya. Tanpa itu, manusia tidak akan menjadi Bahkan, bisa jadi manusia yang dipimpin oleh binatang yang secara fisik lebih kuat daripada manusia. Daya sehingga posisi pemimpin masih bisa disandang di pundaknya. Di paper ini, penulis mamilih menggunakan istilah Sumber Daya Umat (SDU) bukan SDM. Ada beberapa alasan yang bisa dikemukakan di sini. Pertama, jumlah penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, yang diperkirakan berjumlah 90 persen. Jika sumber daya umat mayoritas ini bisa dikembangkan secara optimal, maka bangsa Indonesia dengan sendiri akan menjadi bangsa yang maju. Kedua, fokus paper ini adalah seputar pendidikan pesantren, di mana orang-orang yang ada di dalamnya Islam. Pengembangan pesantren pada hakikatnya merupakan pengembangan . umat muslim, kendati pesantren dalam banyak hal juga bermanfaat bagi masyarakat dan negara secara umum. Ketiga, dalam konteks globalisasi, umat Islam dipandang sebagai umat yang berpotensi menjadi kompetitor Barat. Setidak-tidaknya itulah tesis yang diajukan Samuel Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Indonesia dituntut menunjukkan kepada dunia bahwa SDU muslim Indonesia benar-benar layak berkiprah di jagad global. Karenanya, pengembangan SDU muslim mutlak dilakukan secara baik, sistematis dan Dengan demikian. Sumber Daya Umat (SDU) adalah segenap energi, keterampilan umat muslim yang dapat tujuan-tujuan kepentingan bangsa, negara dan agama sebagai hamba dan khalifah Allah. Potret Sumber Daya Ummat Muslim Indonesia Tinggi rendahkanya SDU muslim Indonesia bisa dilihat dari Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index. HDI) Indonesia secara umum. Jika HDI Indonesia tinggi, maka SDU muslim juga Sebaliknya, jika HDI Indonesia rendah, maka bisa dipastikan bahwa SDU muslim Indonesia juga rendah. Alasannya, sebagaimana dikemukakan di atas, umat muslim Indonesia dalah mayoritas negeri ini. Kualias SDU mereka menjadi cerminan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara Laporan United Development Program (UNDP) dapat dijadikan acuan untuk melihat mutu manusia Indonesia dibandingkan negara-negara lain, yang terangkum dalam Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dari 177 negara, posisi Indonesia berada pada ranking 111. Parameter untuk menilai mutu manusia dibagi dalam empat faktor yaitu. Life Expectancy at birth (LEB). yaitu angka harapan hidup. Adult literacy rate (ALR). persentase anak umur 15 tahun atau lebih melek huruf. Combined primary, secondary and tertiary gross enrollment ratio (CGER) atau Angka Partisipasi Kasar Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Babun Suharto (APK), yaitu rasio murid/mahasiswa yang terdaftar, dan Gross Domestic Product (GDP), yaitu Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Dari laporan UNDP pada tahun 2006 dapat dilihat indeks pembangunan manusia Indonesia pada tahun 2004 sebagai berikut: Data di atas menunjukkan kepada kita bahwa kualitas SDU muslim Indonesia tertingal. Jangankan dengan Singapura dan Korea Selatan, dengan negara Filipina saja kita masih kalah. Kemiskinan merupakan masalah habis-habisnya diperbincangkan di negeri ini, sebab ia bersinggungan langsung dengan hajat hidup masyarakat. Selain itu, kemiskinan umumnya berbanding lurus dengan pengangguran, yang pada gilirannya akan menambah jumlah orang miskin dan pengangguran baru. Kemiskinan juga berdampak pada hilangnya aset ekonomi yang dimiliki keluarga karena terpaksa digunakan untuk sekedar bertahan hidup. Kategori World Bank, misalnya, seperti Fuad Bawasir, kemiskinan menjadi tiga jenis. Pertama, kemiskinan absolut atau super miskin adalah mereka yang berpendapatan perkapita kurang dari satu dolar AS per Artinya, suatu rumah tangga tidak dapat memenuhi basic need-nya untuk bertahan hidup. Kedua, kemiskinan moderat didefinisikan sebagai orang yang berpenghasilan kurang dari dua dolar AS per hari. Terakhir, kemiskinan pendapatannya di bawah angka ratarata. Oleh karena itu, yang mutlak dilakukan saat ini adalah meningkatkan kualitas SDU muslim. Ini sejalan dengan salah satu misi utama Rasulullah saw. diutus ke dunia adalah dalam rangka SDU sepenuhnya, tidak hanya pemenuhan secara jasmaniyah tapi juga secara . Peningkatan kualitas SDU oleh Nabi saw. selaras dengan misi profetis Nabi, yaitu untuk mendidik manusia, memimpin mereka ke jalan Allah swt. , dan mencapai kemakmuran, kebahagiaan, sehat, harmonis secara material dan Dengan demikian, misi Nabi SDU didasarkan pada adanya keseimbangan: er-ipte. cakap baik secara lahiriyah maupun batiniyah. berkualitas secara rasional dan emosional, atau memiliki EQ . motional quotien. IQ . ntellectual quotien. , dan SQ . piritual quotien. yang Krisis dalam SDU terjadi ketika harmoni semacam ini tidak lagi Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Islam Profetik : Misi Profetis Pesantren Sebagai Sumber Daya Ummat sebagaimana yang seringkali terjadi pada dunia pendidikan modern. Kita bisa menyepakati pandangan Azzumardi Azra, yang baru-baru pada Oktober 2010 lalu memperoleh gelar kehormatan dari Ratu Belanda sehingga berhak menyandang gelar AuSirAy. Dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Islam. Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium, dia menyatakan bahwa keunggulan yang mutlak dimiliki bangsa ini dalam sains-teknologi keunggulan kualitas sumber daya Penguasaan terhadap sainsteknologi, sebagaimana terlihat dalam pengalaman banyak negara seperti Amerika Serikat. Jepang. Jerman dan sebagainya, menunjukkan bahwa sainsteknologi merupakan salah satu faktor terpenting yang mengantarkan negaranegara Kemajuan dan penguasaan atas sainsteknologi percepatan transformasi masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan, yang di Indonesia lebih dikenal dengan istilah AupembangunanAy. Selaras dengan pandangan Azra. Djiwariyah2 karakteristik SDU yang diperlukan dalam konteks globalisasi: . Manusia yang berwatak, yaitu jujur dan memiliki social capital: dapat dipercaya, suka kerja keras, jujur, dan inovatif. Dengan istilah lain, manusia yang beretika dengan taat menjalankan ajaran agamanya. Cakap dan inteligen. inteligensi ini harus Azyumardi Azra. Pendidikan Islam. Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium. Ciputat: Kalimah, 2001, hlm: 46. 2 Djuwariyah. AuPeningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Islam,Ay Yogyakarta: Jurnal El-Tarbawi No. 1 Vol. I, 2008, hlm: 17. dikembangkan sesuai apa yang dimiliki oleh masing-masing . Entrepreneur . Sikap entrepreneur bukan hanya di bidang ekonomi dan bisnis tetapi juga unruk kemampuan entrepreneur cenderung bersifat inovatif dan tidak terikat kepada sesuatu yang tetap, sehingga tidak mengenal istilah AymenganggurAy. Kompetitif, sumber daya manusia yang diperlukan adalah yang memiliki kualitas kompetitif dalam kehidupan dunia terbuka untuk selalui menggapai nilai lebih dan meningkatkan kualitas produktivitas kerjanya. Sikap kompetitif harus sudah mulai ditumbuhkan sejak di dalam keluarga, dan juga setiap jenjang pendidikan formal. Untuk mencapai itu, menurut,3 Indonesia memiliki sejumlah modal dasar yang memadai untuk mewujudkan cita-cita ini. Di antara modal dasar terpenting adalah kenyataan bahwa rakyat dan bangsa Indonesia adalah amat agamis, yang sangat menghormati ajaran-ajaran agama. Posisi Pesantren Dalam Pengembangan Sumber Daya Ummat Sebelum mengurai posisi strategis pesantren dalam pengembangan SDU muslim Indonesia, penting sekali untuk dideskripsikan pengertian pendidikan Islam. Pengertian itu bisa dijadikan sebagai pijakan awal tentang posisi pesantren dalam pengembangan SDU Di dalam Laporan Hasil World Conference on Muslim Education yang pertama di Mekah tanggal 31 Maret sampai 8 April 1977, disebutkan: Azyumardi Azra. Pendidikan Islam. Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium. Ciputat: Kalimah, 2001, hlm: 47-48. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Babun Suharto AuEducation should aim at balanced growth on the total personality on man through the training of manAos spirit, intellect, the rational self, feeling, and bodily senses. Education should therefore cater for the growth of man in all aspects: spiritual, intellectual, imaginative, physical, individually adn collectively and motivate all these aspects toward goodness and the attainment of The ultimate aim of Muslim ecucation lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, the community and humanity at largeAy. AuPendidikan pertumbuhan kepribadian total manusia secara seimbang melalui rasional diri, dan kepekaan tubuh Oleh karena itu, dalam segala aspeknya: spiritual, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun kolektif, dan memotivasi semua aspek tersebut untuk mencapai kebaikan dan Tujuan akhir Muslim terletak pada realisasi kepasrahan mutlak kepada Allah pada tingkat individual, masyarakat Ay Langgulung. Hasan. Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002, hlm: 308. Berdasarkan kutipan di atas, pendidikan Islam ternyata memiliki tujuan antara dan tujuan akhir. 5 tujuan antara adalah tujuan yang pertama-tama hendak dicapai dalam proses pendidikan Islam. Tujuan perubahan-perubahan yang dikehendaki dalam proses pendidikan Islam, baik berkenaan dengan pribadi peserta didik, masyarakat, maupun lingkungannya. Sedangkan tujuan akhir adalah tujuan puncak yang ingin dicapai oleh melalui pendidikan Islam, yaitu ketakwaan kepada Allah swt yang diwujudkan dalam kehidupan personal, sosial, maupun kemanusiaan. Mohammad al-Toumy alSyaibany membagi tujuan antara menjadi tiga jenis. Pertama, tujuan individual, perubahan-perubahan yang diinginkan pada tingkah laku, aktivitas dan kepribadian dan persiapan peserta didik dalam menjalani kehidupan di dunia dan Kedua, tujuan sosial, yaitu tujuan yang menyangkut perubahan-perubahan fase-fase pertumbuhan, pengayaan pengalaman, dan kemajuan peserta didik dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Ketiga, tujuan profesional, tujuan yang berkaitan dengan pendidikan sebagai ilmu, seni, profesi, dan sebagai suatu aktivitas di antara aktivitas-aktivitas lain yang ada di dalam masyarakat. Yang patut disorot dari tujuan di atas adalah tidak adanya unsur atau semangat dikotomik dalam pengertian dan tujuan pendidikan Islam. Bahkan, pemetaan tujuan profesional yang al-Syaibany 5 Azyumardi Azra. Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta: Logos, 1999, hlm: 6-7. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Islam Profetik : Misi Profetis Pesantren Sebagai Sumber Daya Ummat mempertegas bahwa umat muslim dituntut menguasai ilmu pengetahuan apa saja Ae bukan hanya pengetahuan agama sebagaimana asumsi sejumlah pihak selama ini Ae dan sekaligus memiliki skill yang berkualitas sehingga bisa eksis dalam percaturan sosial, ekonomi, politik, dan sains-teknologi baik di lingkup lokal, nasional, maupun Data tahun 2004 menunjukkan bahwa ada 12. 000 lebih pesantren tersebar di seluruh Indonesia yang tergabung dalam Rabithah MaAoahid alIslah. Dengan jumlah sebanyak itu, keberadaan pesantren sebagai bagian dari peran serta masyarakat dalam pendidikan mendapat penguatan dari UU Sisdiknas 2003, yang menjelaskan: peran serta masyarakat dalam organisasi profesi, pengusaha, dan . masyarakat dapat berperan serta pengguna hasil pendidikan. Pesantren sebagai bagian dari pendidikan Islam harus senantiasa memerankan fungsi dan misi profetis di atas dalam peningkatan kualitas SDUnya, baik dalam penguasaan terhadap maupun dalam hal karakter, sikap moral, penghayatan dan pengamalan ajaran Dengan kata lain, pesantren secara ideal harus berfungsi dan berperan membina dan menyiapkan santri yang berilmu, berteknologi, berketrampilan tinggi, dan sekaligus beriman dan beramal soleh. Pesantren harus mampu mengejar ketertinggalanketertinggalan dalam menyiapkan SDU yang berkualitas. Juga tidak kalah pentingnya dari itu semua adalah pesantren harus mengorientasikan diri kepada menjawab kebutuhan dan tantangan yang terus muncul di tengah masyarakat sebagai konsekuensi dari lajunya perubahan yang terus menerus. Untuk itu, tidak ada alternatif lain, kecuali penyiapan SDU yang berkualitas tinggi, menguasai ilmu pengetahuan dan Hanya dengan tersedianya kualitas SDU yang berkualitas tinggi itu. Indonesia bisa survive di tengah pertarungan ekonomi dan politik yang terus kian kompetitif. Dapat dikatakan bahwa dalam rangka pencapaian standar kualitas mutu pendidikan pesantren dalam rangka mencetak SDU berkualitas, maka harus dilakukan upaya perubahan paradigma, antara lain: . melaksanakan program merumuskan/melaksanakan program, . keputusan terpusat menjadi keputusan bersama/partisipatif, . ruang gerak terbatas menjadi ruang gerak desentralistik, . individual menjadi kolektif, . basis birokratik menjadi basis professional, . diatur menjadi mandiri, . malregulasi menjadi deregulasi, . informasi terbatas menjadi informasi terbuka, . boros menjadi efisien, . pendelegasian menjadi pemberdayaan, dan . organisasi vertikal menjadi organisasi horizontal. Menurut Nurcholish Madjid, dalam buku Islam Kerakyatan dan Keindonesia, ada dua misi yang harus mendasar bagi kalangan pesantren. Pertama, kembali pesan moral yang diembannya kepada masyarakat abad ini begitu rupa sehingga tetap relevan dan memiliki Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Babun Suharto daya tarik. Tanpa relevansi dan daya tarik itu, efektivitas tidak dapat Kedua, masalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan modern, yaitu bagaimana menguasasi sesuatu yang kini berada di tangan orang lain (Bara. Dengan demikian, keunggulan SDU yang ingin dicapai pesantren adalah terwujudnya generasi muda yang berkualitas tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik. Tetapi sesuai dengan sifat distingtifnya sebagai sebuah Islam mempunyai subkultur yang distingtif mengorientasikan peningkatan kualitas santrinya ke arah penguasaan ilmu-ilmu agama Islam. Karena bagaimanapun, sampai sekarang ini pesantren tetap merupakan lembaga pendidikan Islam yang paling efektif dalam melakukan transmisi dan transfer ilmu-ilmu agama Islam. Strategi Pesantren Dalam Pengembangan Sumber Daya Umat Dalam kenyataannya, pesantren sebagai subkultur merupakan lembaga pendidikan dan sosial yang mewujudkan proses wajar perkembangan sistem pendidikan nasional, karena secara merupakan salah satu bentuk indeginous culture Indonesia yang mempunyai potensi sosial paling ideal sebagai agent Mudjia Rahardjo . Quo Vadis Pendidikan Islam Pembacaan Realitas Pendidikan Isalam. Sosial dan Keagamaan. Malang: UIN Malang Press, 2006, hlm: 54. 7 Azyumardi Azra. Pendidikan Islam. Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium. Ciputat: Kalimah, 2001, hlm: 48. of change terhadap budaya masyarakat. Meskipun pesantren dipandang sebagai lembaga pendidikan indegenous Indonesia, tradisi keilmuan pesantren dalam banyak hal memiliki kesamaan dengan lembagalembaga pendidikan Islam tradisional di kawasan dunia Islam lainnya. 8 Dengan demikian, pada dasarnya pesantren tidak akan dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dalam peran sertanya untuk membangun bangsa dan negara. Perspektif historis menempatkan pesantren pada posisi yang cukup perkembangan sosial budaya masyarakat Indonesia Aisebagaimana disebutkan di atas, adalah bukan sekedar basa-basi namun fenomena riil. Kiranya tidak berlebihan jika Abdurrahman Wahid subkultur tersendiri dalam masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pesantren, jika diposisikan sebagai satu elemen diterminan dalam struktur piramida sosial masyarakat Indonesia, adalah hal yang wajar dan proporsional. Posisi penting yang dimiliki pesantren di Indonesia menuntutnya untuk dapat berperan aktif dalam setiap proses-proses pembangunan sosial baik melalui potensi pendidikan maupun potensi pengembangan masyarakat yang Seperti diketahui, bahwa pesantren selama ini dikenal dengan fungsi dan misi profetisnya sebagai membebaskan santrinya dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan, yang selama ini menjadi musuh dari dunia pendidikan secara umum. Selanjutnya, 8 Azyumardi Azra. Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta: Logos, 1999, hlm: 87. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Islam Profetik : Misi Profetis Pesantren Sebagai Sumber Daya Ummat menguasai ilmu pengetahuan dan keagamaan akan menjadi bekal mereka dalam berperan serta pada proses pembangunan yang pada intinya tiada lain adalah perubahan sosial menuju terciptanya tatanan masyarakat yang lebih sempurna. Melalui UU Sisdiknas tahun 2003, kedudukan pendidikan Islam, termasuk diposisikan sejajar atau sama derajadnya dengan sekolah-sekolah negeri yang selama ini mendapatkan perhatian Dengan demikian, tidak lagi adanya skat dan batas-batas pendidikan umum yang berada di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendika. dan Kementerian Agama (Kemena. Walaupun masih saja kita rasakan adanya beban terjal psikologis dari kebijakan-kebijakan pendidikan yang dikeluarkan kedua departemen tersebut, tapi kondisi saat ini sudah lebih baik jika dibanding dengan kondisi masa-masa Orde Baru. Hal ini barangkali masih membutuhkan waktu untuk berbenah. Tetapi, ada permasalahan baru yang dihadapi pesantren saat ini, khususnya yang menyangkut persoalan intern pesantren dengan elit-elitnya. saat Orde Baru tumbang oleh kekuatan reformasi, kebebasan berotonomi dalam berbagai aspek seakan telah menemukan Hal ini juga juga pendidikan pesantren, tanpa harus melalui kontrol ketat sebagaimana yang pernah terjadi pada saat Orde Baru Kondisi demikian mestinya semakin membawa prospek segar akan keberlangsungan pesantren di masamasa akan datang. Di satu sisi, di era otonomi, pesantren telah melakukan lompatanlompatan dalam pemenuhan hajat hidupnya dan lebih bisa leluasa dalam program-programnya untuk kepentingan masa depan, dengan inovasi-inovasi berbagai aspeknya. Tetapi di sisi lain, kita juga tidak dapat menutup mata, dengan semakin banyaknya pesantren yang mengalami AudekulturisasiAy dan AudetradisisasiAy, profetisnya, yaitu peningkatan kualitas SDU melalui penanaman nilai agama, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagai lembaga dakwah. Disinyalir faktor dominan sebagai penyebab itu semua adalah pudarnya idealisme kyai yang menjadi figur Kiai telah banyak disibukkan dengan urusan-urusan praktis pragmatis bahkan politis, dan seringkali terlibat dalam dukung-mendukung terhadap proses Pilkada. Dalam kaitan ini, kyai sebagai simbol struktur sosial barangkali juga perlu ditempatkan secara wajar dan Peran percaturan kehidupan tidakl hanya sebagai guru agama di pesantren semata, namun juga harus berperan dalam proses-proses pembangunan masyarakat lebih luas. maka langkah politik yang proses-proses pembangunan itu terjadi, kyai tidak bisa serta-merta meninggalkannya, misalnya melalui pemilihan-pemilihan kepala daerah tersebut. Khusus mengenai penyiapan SDU pesantren yang nantinya diharapkan bisa membawa angin segar perubahan, sehingga output yang dihasilkan benarbenar professional dan kompetitif di Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Babun Suharto tengah tuntutan zaman yang semakin kompleks ini, paling tidak ada beberapa langkah integratif. yang merupakan gabungan antara teori dan praktek. Semua ini dilakukan dalam rangka penyiapan sumber daya santri yang handal dan professional. Tawaran model pengembangan sumber daya tersebut secara integratif dapat dilihat pada bagan Bagan I di atas menunjukkan bahwa model penegembangan SDU pesantren harus mengacu kepada dua model pengembangan, yaitu berupa pemberian bekal secara teoritis yang berupa knowledge . dan ability . Kedua hal ini dapat ditempuh melalui pendidikan formal . Sedangkan pengembangan kedua berupa pemberian semacam bekal ketrampilan hidup . ife skil. , dengan cara pelatihan dan magang di perusahaan-perusahaan yang telah ditunjuk sebagai mitra kerja pesantren. Dengan model pengembangan integratif seperti ini, diharapakan output (SDU) yang dihasilkan menjadi beriman, sehingga mereka siap disalurkan ke berbagai perusahaan/mitra kerja yang telah ditunjuk untuk mengaplikasikan segala kemampuan yang dimilikinya. Bagan II menunjukkan tentang SDU pesantren handal dan professional. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan penguatan-penguatan materi pendidikan yang memuat knowledge, ability dan skill. Juga tidak boleh dilupakan dalam model penguatan-penguatan materi yang tidak terlepaskan dari kontekstualisasi sosio-kultur Indonesia, sebab pesantren yang berkembang di Indonesia merupakan indigeneous culture . ultur asl. Indonesia. Secara integratif juga dilakukan pelatihan-pelatihan dan magang di berbagai instansi/tempat Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Islam Profetik : Misi Profetis Pesantren Sebagai Sumber Daya Ummat yang dapat menunjang pendidikannya untuk bekal di hari esok. reposisi kiai dari politk ke pemberdayaan Dari Politik Ke Pemberdayaan Umat Relasi kiai, santri dan politik memang telah mengalami perubahan. Dewasa ini sekurang-kurangnya sudah terdapat kesadaran di dalam kerangka referensi yang menempatkan kiai dalam tataran fungsi khusus. Memang semakin rasional sebuah masyarakat akan semakin menempatkan dirinya di dalam mindset diferensiasi struktur spesialisasi Adapun model pembelajaran Penempatan kiai pun telah keahlian . yang harus dilpilih menggunakan logika seperti itu. Kiai pesantren, sebagaimana ditunjukkan dengan fungsi utamanya adalah sebagai pada bagan i di atas, harus melalui guru spiritual dan pembimbing umat di proses-proses dalam kehidupan keagamaan maka pomunculnya sumber ide, kemudian sisi kiai juga ditempatkan di situ. Jika dilakukan assesment . , kiai kemudian memasuki kawasan dunia kemudian disusun desain pembelajaran politik, maka posisi utama kiai pun secara matang. Untuk selanjutnya berubah ke arah tersebut. diaplikasikan secara benar. Yang terakhir Jika dilakukan evaluasi secara menyeluruh, pusat-pinggiran, maka perubahan posisi terkait apakah proses yang dijalankan tersebut akan menempatkan perubahan sesuai dengan rencana atau belum. Jika posisi kiai dari posisi pusat Aesebagai belum sesuai dengan rencana, maka guru spiritualAike arah pinggiran yang harus dilakukan lagi, begitu seterusnya. disebabkan posisi pusat telah ditenpati sehingga ditemukan model pembelajaran oleh posisioningnya sebagai politisi. yang pas dan sesuai harapan. Makanya tidak mengherankan jika Membincang kiai pasti berkaitan kemudian terdapat perubahan kepatudengan Dan han ketika seorang kiai berubah poberbicara pesantren tidak akan terlepas sisinya tersebut. Dalam hal ini, maka podari sosial-keagamaan sisi kiai akan tetap ditaati ketika kiai dibernama Nahdlatul Ulama (NU), sebab maksud berada di dalam posisi pusat seyang menggerakkan JamAoiyah NU, bagai guru spiritual dan kurang atau khususnya di Jawa, kebanyakan adalah bahkan tidak ditaati ketika posisi tersepara kiai pengasuh pesantren. Jadi, kiai, but berubah menjadi pinggiran. Kiai pesantren dan NU adalah tiga entitas yang memasuki dunia politik berarti teyang sulit dipisahkan. AuNU dan lah meminggirkan posisinya dalam kapesantren seperti ikan dan air,Ay kata Ayu wasan keagamaan dan kemudian posisi Sutarto, seorang budayawan nasional sentralnya digantikan oleh dunia politik. dan pemerhati NU. Karena itu, institusi Perbedaan afiliasi politik kiai juga NU menjadi bagaian dalam uraian bukan mustahil menimbulkan respon beragam dari komunitas masyarakat Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Babun Suharto yang sebelumnya menempatkan kiai sebagai opinion leader ataupun referensi utama pengambilan keputusan yang harus ditaati. Situasi ini potensial menjadikan kiai dalam konotasi dan lingkup pengaruh kulturalnya yang khas, sebagaimana identifikasi Mastuhu. Zamakhsyari Dhofir ataupun Bruinessen, berubah dari sebelumnya. Bahkan bukan mustahil sebagian masyarakat yang semula senatiasa menggantungkan sikap politiknya pada kehendak kiai telah perbedaan sikap politik. Apalagi sudah jamak diketahui bahwa dalam beberapa kasus afiliasi politik kiai sering kali disertai dengan fasilitas tertentu yang lebih banyak dinikmati kiai dan keluarganya, sementara manfaat yang Tanpa sesungguhnya dapat berperan lebih strategis dalam perpolitikan di tingkat lokal maupun nasional. Kiai bisa . an harus benar-bena. berjuang untuk mengkampanyekan dan menegakkan politik moral. Politik moral jangan sekedar dijadikan jargon. Ia wajib dibuktikan dalam tindakan. Tantangan terberat dalam upaya penegakan politik moral adalah pragmatisme politik, bukan hanya di kalangan elit tetapi juga di masyarakat grass root. Adalah satu kenyataan bahwa sebagian masyarakat didasarkan kepada visi, misi dan Sebaliknya, dijatuhkan karena pertimbangan materi dan uang semata. Apa yang disebut dengan money politics itu benar-benar telah menggurita. Ini sangat berbahaya bagi masa depan demokrasi di tanah air, sekaligus ancaman bagi terciptanya good government dan clean governance. Di saat krisis finansial, krisis pangan, krisis ekologi, krisis moral, dan krisis segalanya, menjadi salah satu aktor restorasi bangsa Akan tetapi, fenomena di sejumlah daerah, justru banyak kiai yang kubangan politik praktis, yang identik dengan trik-trik kotor, cara-cara culas, dan saling menjatuhkan satu sama lain. Kiai yang identik dengan kealiman dan bedanya dengan para politisi lain yang Autidak religiusAy. Masyarakat menjadi bingung apakah dengan perilaku kiai yang semacam itu. Tak heran manakala masyarakat sering bergumam. AuMenjadi mantan politisi menjadi kiai, daripada mantan kiai menjadi politisi. Ay Slamet Efendi Yusuf, salah satu kandidat kuat pada Mukatamar ke-32 menegaskan bahwa program-program yang menyentuh umat secara langsung seperti pendidikan, kesehatan, dakwah, pengembangan sumber daya umat, dan advokasi rakyat kecil merupakah pekerjaan rumah yang mendesak untuk dilakukan NU ke depan. Artinya. NU harus kembali ke Khittah-nya sebagai organisasi sosial keagamaan, bukan organisasi sosial politik. Basis epistemologis keterlibatan kiai adalah kesadaran historis bahwa agama Islam bukanlah wilayah yang kosong dan sunyi sepi sendiri. Problem di sektor ekonomi bukanlah masalah yang melulu bersifat sekuler dan berseberangan secara diametral dengan masalah-masalah keagamaan. Mesti ada pemahaman bersama bahwa krisis finansial adalah problem religius yang menuntut perhatian serius bersama. Untuk itu, kiai, pesantren dan NU harus memiliki kemauan yang benar- Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Islam Profetik : Misi Profetis Pesantren Sebagai Sumber Daya Ummat benar serius untuk mengembangkan SDU muslim. Kalau kemauan ini tidak ada, gagasan dan teori apapun yang melahirkan tindakan. Hal ini, antara lain, ditunjukkan dengan pengelolaan secara lembaga-lembaga pendidikan yang ada. Para kiai tidak perlu segan untuk belajar kepada organisasi-organisasi keagamaan lain yang lebih berhasil mengelola lembaga Dengan demikian, lembaga pesantren, madrasah, dan lembagalembaga yang dikelola oleh kiai atau berada di bawah naungan NU mampu mencetak lulusan yang berkualitas, yaitu lulusan dengan pengetahuan yang tinggi, skill yang mumpuni dan akhlak yang mulia. Link And Match Kurikulum Pesantren: Menyeimbangkan Kitab Kuning Dan Kitab Putih Persoalan pendidikan yang selalu menjadi sorotan adalah kurikulum. Ini tidak berarti bahwa dimensi-dimensi pendidikan lainnya menjadi tidak penting untuk diperbincangkan. Sorotan tajam pada kurikulum tidak lepas dari asumsi bahwa kurikulum merupakan domain inti . ore domai. dalam proses belajar mengajar. Lebih dari itu, kurikulum diyakini sangat menentukan terhadap corak out put pendidikan suatu Parahnya, setiap kali ada masalah sosial, misalnya: maraknya korupsi, kekerasan, dekadensi moral, konflik SARA, dan lain-lain, maka yang kena getahnya adalah kurikulum. Para beramai-ramai mengusulkan perubahan isi kurikulum. Di antaranya, ada yang menginginkan perlunya memasukkan anti korupsi, wawasan multikulturalisme, dan anti terorisme dalam kurikulum pendidikan AoGonta-gantiAo sebenarnya bukan hanya terjadi di negara dunia ketiga seperti Indonesia. Negara yang sudah maju . eveloped countr. seperti Amerika Serikat juga mengalami hal serupa. Setidak-tidaknya itulah yang diungkapkan oleh George A. Beauchamp dalam bukunya AuCurriculum TheoryAy. 9 Beauchamp mengungkapkan bahwa setiap kali ada tuntutan . etak miring dari penyusu. transmisi elemen budaya tertentu terhadap generasi muda, maka elemen tersebut acapkali menjadi Sayangya, kata Beauchamp, masuknya materi itu tidak dibarengi dengan definisi yang jelas mengenai perubahan kurikulum baru. Padahal, belajar adalah rencana dan petunjuk. Smith mengakui bahwa definisi ini memang terbatas pada konteks sekolah. 10 Untuk itu, rumusan pendekatan-pendekatan teori kurikulum yang diajukan Smith di sini harus dipahami dalam bingkai AusekolahAy. Jika dikaji lebih dalam lagi, sebenarnya apa Smith Pasalnya, istilah kurikulum ada pada lembaga formal seperti sekolah Maksud pendidikan yang tidak terjadi di sekolah mayoritas tidak memiliki kurikulum. Pendidikan berjalan secara alamiah dan 9Beauchamp. George A. Curriculum Theory, 2 edition. The KAGG Press. Illions, 1968, hlm: 1-2. 10 Smith. Mark K. Curriculum Theory and Practice. Dokumen Tersedia http://w. org/ biblio/b-curric. htm, hlm: Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Babun Suharto di dalamnya tidak ada proses rekayasa. Dalam hal ini, pendekatan-pendekatan teori kurikulum menjadi empat bagian, yaitu: . kurikulum sebagai silabus yang akan ditransmisikan kepada peserta didik, . kurikulum sebagai upaya untuk mencapai tujuan tertentu pada diri siswa . aca: kurikulum sebagai produ. , . kurikulum sebagai proses, dan . kurikulum sebagai praksis. Singkatnya, kurikulum harus disusun sesuai dengan Pada merupakan serangkaian pengalaman yang harus dimiliki anak-anak dan/atau generasi muda dengan cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Untuk itu, merujuk pada pandangan George A. Beauchamp12 dalam bukunya Curriculum Theory, kurikulum pesantren harus didasarkan pada pembacaan prinsipprinsip dasar pendidikan . he basic principles of educatio. Lebih jelasnya, cermati gambar berikut: Theories Theorie Theori es in Theori es in Theori es in THEOR IES IN Theorie Theori es in Admin Couns CURRI CULUM Instruc Evalua DESIGN THEORIE PROCE CONT ENT Sumber: (Beauchamp, 1986: . 11 Smith. Mark K. Curriculum Theory and Practice. Dokumen Tersedia http://w. org/ biblio/b-curric. htm, hlm: 12 Beauchamp. George A. Curriculum Theory, 2nd edition. The KAGG Press. Illions, 1968, hlm: 7. Gambar di atas menunjukkan bahwa dalam pendidikan terdapat beberapa komponen, termasuk di antaranya adalah kurikulum. Teori kurikulum sendiri tidak lain merupakan subteori dari teori pendidikan. Tiga kotak teratas . terdiri dari tiga kategori teori dasar, yaitu: teori-teori kemanusiaan, teori-teori ilmu alam dan teori-teori ilmu sosial. Tiga teori ini kemudian berkembang menjadi berbagai disiplin ilmu . , seperti: arsitektur, rekayasa, pendidikan, hukum, kesehatan, dan sebagainya. Disiplin-disiplin ilmu ini mengartikulasikan otoritas dasarnya masing-masing dan memiliki AuindukAy sendiri-sendiri. Taruhlah ilmu engineering yang lahir dari ilmu alam, ilmu hukum sebagai derivasi dari ilmu sosial, dan begitu juga dengan ilmu-ilmu lainnya. Kemudian merupakan subteori pendidikan saja. Pada deretan level 3 ini tidak ada engineering, hukum ataupun kesehatan. Yang termasuk sub-teori pendidikan adalah teori administrasi, teori konseling, teori kurikulum, teori instruksional dan teori evaluasi. Namun, fokus kajian kita saat ini terletak pada teori kurikulum. Garis yang dicetak tebal pada gambar di atas untuk menggambarkan hubungan langsung . irect connectio. antara supra dan subteori kurikulum. Memang tidak menutup kemungkinan bahwa teori rekayasa, misalnya, memiliki kontribusi terhadap teori administrasi atau teori Namun, itu hanya kontribusi suplemen saja. Mengapa? karena semua teori pada level 3 adalah sub-sub teori pendidikan saja. Begitu juga dengan level 4 yang meliputi: teori desain . , teori prosedur . dan teori isi . Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Islam Profetik : Misi Profetis Pesantren Sebagai Sumber Daya Ummat subteori kurikulum. Teori administrasi dan instruksional bisa jadi berpengaruh terhadap teori desain. Namun teori sub-teori Perlu ditambahkan, garis bagaimana relasi teori pendidikan terhadap teori kurikulum, kemudian relasi teori kurikulum pada sub-sub teori yang ada di level 4. Ini, kata Beauchamp13 membuktikan bahwa teori kurikulum termasuk salah satu masalah pendidikan, educational problem. Reformulasi Manajemen Dan Kepemimpinan Pesantren Manajemen bisa diartikan sebagai suatu proses sosial yang direncanakan untuk menjamin kerjasama, partisipasi, intervensi dan keterlibatan orang lain dalam mencapai sasaran terentu atau yang telah ditetapkan dengan efektif. Manajemen, sebagai suatu proses sosial, meletakkan bobotnya pada interaksi orang-orang, baik orang-orang yang berada di dalam maupun di luar lembaga-lembaga formal, atau yang berada di atas maupun di bawah posisi Sedangkan ditempatkan dalam suatu posisi yang harus menjamin perubahan-perubahan perilaku orang lain dengan tujuan mencapai sasaran yang dipercayakan Manajemen merupakan seni kegiatan-kegiatan sekelompok orang terhadap pencapaian sasaran umum. Stoner14 melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Selain itu, ia juga pengorganisasian, pemimpinan dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan Artinya, dikatakan seni dalam mengatur atau mengelola suatu kegiatan, aktivitas, organisasi dalam rangka mencapai Manajemen merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mencapai sebelumnya yang kegiatannya banyak terdapat pada organisasi perusahaan, bisnis kesehatan dan pendidikan. Selanjutnya Durbin15 mengemukakan bahwa manajemen memberi kemudahan khusus dalam pengetahuan orang banyak secara efektif sesuai dengan tujuan dan pencapaian hasil secara bersama yang telah ditetapkan. Terkait dengan pengistilahan manajemen dan administrasi Forman dan Ryan dalam Sutisna berpendapat manajemen tidak memiliki perbedaan yang berarti, sehingga istilah tersebut dapat saja disejajarkan penggunaannya. Karena menurut Formen dan Ryan maka Monroe, mengemukakan pengertian administrasi sebagai berikut: AuEducational administration is the direction, control and management of all matters pertaining to school 13 Beauchamp. George A. Curriculum Theory, 2nd edition. The KAGG Press. Illions, 1968, hlm: 3-4. 14Sufyarma. Kapita Selekta Manajemen Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta, 2003, hlm:188-189. 15 Sufyarma. Kapita Selekta Manajemen Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta, 2003, hlm:189. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Babun Suharto administrationsince all aspects of school affairs may be considered as considered as carried on for educational endAy. Berdasarkan definisi tersebut di manajemen pendidikan sebagai seluruh proses kegiatan bersama dan dalam memanfaatkan semua fasilitas yang ada, baik personal, material, maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan. Manajemen pendidikan adalah mendayagunakan berbagai sumber . anusia, sarana dan prasarana, serta media pendidikan lainny. secara optimal, relevan, efektif dan efisien guna menunjang pencapaian tujuan pendidikan. Selanjutnya Engkoswara dalam17 menjelaskan bahwa konsep administrasi pendidikan sejajar dengan konsep manajemen pendidikan . engelolaan Fungsi dan ruang lingkup menjadi perencanaan, pelaksanaan dan Perencanaan berkaitan dengan perumusan kebijakan kebijakan Pelaksanaan memerlukan pengawasan karena pengawasan atau penilaian untuk mengetahui kekurangan . Keberhasilan pengelolaan pendidikan terutama dukungan human resources yang terdiri dari kiai, ustadz/ustadzah, santri, dan wali santri. perlunya memiliki 16 Sufyarma. Kapita Selekta Manajemen Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta, 2003, hlm:189. 17 Sufyarma. Kapita Selekta Manajemen Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta, 2003, hlm. serta adanya waktu, fasilitas dan dana yang dibutuhkan. Kesemuanya itu mendukung upaya mengoptimalkan tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Seiring dengan itu, lahirlah berbagai teori yang mengilhami kerjakerja lembaga-lembaga Perjalanan teori manajemen sejak latar belakang munculnya tidak terlepas dari manajemen dalam perspektif dunia berkembang pada ranah-ranah yang lain, baik institusi, organisasi serta layanan publik . ublic servic. lainnya, termasuk dalam lembaga pendidikanAisebagai lembaga pelayanan publik. Dengan pandangan tersebut lahirlah beberapa teori majemen sesuai dengan masanya. Lahirnya teori-teori manajemen adalah disebabkan hubungan antara industri dengan teori manajemen dan perhatian manajemen dan ilmu. Ada sejumlah pandangan tentang tahap perkembangan teori manajemen Para ahli manajemen mengkalsifikasikan perkembangan teori manejemen sendiri dalam bentuk fase, ada juga berdasarkan tahap atau tahun, ada pula yang berdasarkan pendekatan. Sedangkan psikologis-sosial hubungannya dalam dunia kerja dan hubungan organisasi, menurut Marwan Asri, perilaku manusia dapat dipengaruhi oleh tiga variabel, yaitu: . variabel individual, mencakup faktor kemampuan dan keterampilan mental, fisik, latar belakang keluarga, tingkat sosial, pengalaman, umur, dan jenis kelamin, . variabel organisasi, terdiri dari faktor sumber daya yang tersedia, gaya kepemimpinan, sistem Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Islam Profetik : Misi Profetis Pesantren Sebagai Sumber Daya Ummat imbalan, struktur oragnisasi, dan disain pekerjaan, dan . variabel psikologis, terdiri atas beberapa faktor, berupa persepsi, sikap, kepribadian, proses belajar, dan motivasi. Dari pengertian tentang sistem dapat diidentifikasi bahwa sistem mempunyai makna: . terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan satu dengan lainnya, . bagian-bagian yang saling berhubungan itu dapat berfungsi dengan baik secara independen secara bersama-sama, . berfungsinya bagianbagian keseluruhan, dan . suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian itu beada dalam suatu lingkungan yang kompleks. Manajemen dipandang sebagai suatu sistem didasarkan pada asumsi bahwa organisasi merupakan sistem terbuka. Prinsip-prinsip yang digunakan dalam manajemen berdasarkan sistem, mencakup: . manajemen berdasarkan sasaran, . manajemen berdasarkan teknik, . manajemen berdasarkan struktur, . manajemen berdasarkan orang, dan . manajemen berdasarkan Hubungan manajemen terbuka . pen managemen. pada ranah institusi terutama, dalam pemecahan masalah . roblem solvin. dan pengambilan keputusan . ecision makin. Dalam hal ini pendekatan sistem dikaitkan dengan metode-metode ilmiah yang mencakup: menyadari adanya masalah, . mengidentifikasi variabel yang relevan, . menganilisis dan mensistensiskan faktor-faktor, dan . menentukan kesimpulan dalam bentuk program Pendekatan sistem ini diperlukan dalam dunia pesantren, dimana cara-cara tradisional dalam pengelolaan kurang efektif karena semakin dunia pesantren semakin komplek. Perubahan yang terjadi dalam organisasi pesantren semakin cepat. Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan pesantren juga perlu ditingkatkan. Untuk itu, diperlukan pendekatan sistem agar efektivitas dan efesiensi juga meningkat. Dengen demikian, manajemen dengan pengelolaan pesantren ke depan. Malik Fadjar mengingatkan pendidikan, seperti pesantren, bukanlah Apalagi dimaksud mengelola tidak sekedar dalam pengertian AumempertahankanAy yang sudah ada, tetapi melakukan pengembangan secara sistematik dan sistemik, yang mengikuti aspek ideologis . isi dan mis. , kelembagaan dan mencerminkan pertumbuhan . , perubahan . , dan pembaruan . Sekedar mempertahankan, lanjut Fadjar, mungkin relatif lebih mudah untuk dilakukan. Tetapi penyikapan terhadap pendidikan yang cenderung status quo akan segera mendatangkan petaka bagi pesantren. Secara perlahan tapi pasti, pesantren semacam ini akan tertinggal dalam buritan sejarah, karena hubungan dialektis dengan zaman dan realitas yang selalu menuntut sikap 18 Nanang Fattah. Landasan Manajemen Pendidikan. Karenanya, dalam rangka Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000, hlm: 28. mewujudkan pesantren yang peka Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Babun Suharto zaman perlu ditetapkan program manajemen pesantren yang meliputi empat unsur berikut: Pertama, pesantren review, yaitu suatu proses yang di dalamnya seluruh pihak madrasah bekerja sama dengan pihak-pihak yang relevan untuk mengevaluasi dan menilai efektivitas kebijaksanaan pesantren, program, pelaksanaannya serta mutu Melalui pesantren review diharapkan akan dapat menghasilkan suatu laporan yang membeberkan kelemahan-kelemahan, kekuatankekuatan dan prestasi pesantren serta pengembangan pesantren pada masamasa mendatang, tiga atau lima tahun Kedua, quality assurance, yaitu sebagai jaminan bahwa proses yang berlangsung telah dilaksanakan sesuai dengan standar dan prosedur yang Dengan diharapkan dengan proses itu akan menghasilkan output yang memenuhi standar pula. Untuk itu diperlukan mekanisme kontrol agar semua kegiatan terkondisi dalam standar proses yang ideal tadi. Dengan quality insurance ini pihak pengurus dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa pesantrennya senantiasa memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh santri-santrinya. Ketiga, quality control, yaitu suatu sistem untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualitas output yang tidak sesuai dengan standar. Standar kualitas ini dapat dipergunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui maju mundurnya pesantren. Semua pesantren salaf maupun khalaf dapat melakukan quality control. Keempat, bench marking, yaitu kegiatan untuk menetapkan suatu standar, baik proses maupun hasil yang akan dicapai pada periode tertentu. Untuk kepentingan praktis standar tersebut direfleksikan dari realitas yang ada seperti dalam hal perilaku mengajar ustadz/ustadzah, ditetapkan adalah dengan merefleksikan salah seorang guru yang dikenal . nternal bench markin. , baik dalam mengajarnya, demikian pula dalam hal standar kualitas pendidikan, direfleksikan dari suatu pesantren sekolah yang baik . xternal bench markin. Penutup Pendidikan pesantren menjadi penting dalam bidang sumber daya Ummat, dalam hal ini profetik pesantren pengembangan pesantren ke depan, selain itu frofetik harus dikedepankan dalam berbagai menejemen pesantren sehingga pembedaryaan umat dalam bidang pesantren menjadi masif dan Daftar Pustaka