Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura . Retno Tyas Hapsari. Isna Maylani. Lintang Nurlissya Putri Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura Masyarakat Desa Loram Kulon. Kabupaten Kudus di Era Society 5. Relevance of the Manten Mubeng Gapura Tradition of the Loram Kulon Village Community. Kudus Regency, in the Era of Society 5. Retno Tyas Hapsari1. Isna Maylani2. Lintang Nurlissya Putri3 UIN Sunan Ampel Surabaya STAI Syekh Jangkung Pati UIN Raden Mas Said Surakarta tyas@uinsa. Article history: Submitted: 13 January 2026 Accepted: 28 April 2026 Published: 04 Mei 2026 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura di Desa Loram Kulon. Jati. Kudus pada era Society 5. 0 dengan menggunakan pendekatan teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang diinisiasi oleh Sultan Hadirin pada abad ke-15 Masehi sebagai media dakwah Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh pemahaman yang mendalam, menyeluruh, dan kontekstual terhadap fenomena sosial di masyarakat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara dengan juru pelihara masjid, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Manten Mubeng Gapura masih memiliki fungsi sosial, budaya, dan religius yang relevan di tengah masyarakat modern. Keberlanjutan tradisi ini didukung oleh kelompok masyarakat, khususnya generasi lanjut usia, yang mempertahankan nilai-nilai tradisional sebagai bagian dari identitas budaya. Selain itu, keterbatasan dalam mengadopsi teknologi modern turut memperkuat eksistensi tradisi ini. Di sisi lain, perkembangan teknologi justru memberikan kontribusi positif melalui publikasi digital yang memperluas jangkauan informasi tentang tradisi tersebut. Dengan demikian. Tradisi Manten Mubeng Gapura tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi dan semakin dikenal luas di era Society 5. Kata Kunci: Tradisi. Manten. Mubeng Gapura. Era 5. Abstract: This study aims to analyze the relevance of the Manten Mubeng Gapura tradition in Loram Kulon Village. Jati. Kudus, in the era of Society 5. 0 using the functionalism theory of Bronislaw Malinowski. This tradition is a cultural heritage initiated by Sultan Hadirin in the 15th century as a medium for Islamic propagation . aAowa. The research employs a qualitative method with a descriptive approach to obtain an in-depth, comprehensive, and contextual understanding of social phenomena within the community. Data collection techniques include participatory observation, interviews with the mosque caretaker, and The results show that the Manten Mubeng Gapura tradition still holds relevant social, cultural, and religious functions in modern society. Its sustainability is supported by segments of the community, particularly the elderly, who maintain traditional values as part of their cultural identity. addition, limitations in adopting modern technology also contribute to the persistence of this tradition. the other hand, technological advancements have positively reinforced the tradition through digital dissemination, enabling wider public recognition. Thus, the Manten Mubeng Gapura tradition not only survives but also adapts and becomes increasingly recognized in the era of Society 5. Keywords: Tradition. Manten. Mubeng Gapura. Era 5. P-ISSN 2798-186X E-ISSN 2798-3110 A 2026 author. Published by FAB UIN Surakarta, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. DOI: 10. 22515/isnad. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 49-66 PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi, dengan lebih dari 1. 939 unsur warisan budaya tak benda yang dicatat oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi per tahun 2025. Jumlah ini terus bertambah seiring dengan dokumentasi dan penetapan warisan budaya baru, mencapai total sekitar 2. 727 hingga 3. 227 unsur yang diakui secara nasional dan 16 item yang diakui oleh UNESCO. 1 Salah satu bentuk tradisi yang tetap dijaga oleh masyarakat hingga saat ini adalah tradisi yang ada dalam peristiwa-peristiwa daur hidup seperti misalnya tradisi sunatan atau khitanan, pernikahan, dan kematian. 2 Dari beberapa peristiwa daur hidup tersebut, tradisi pernikahan menjadi salah satu yang menarik untuk dibicarakan. Masyarakat kita memiliki cara-cara unik dalam merayakan pernikahan yang tidak hanya sebagai prosesi sakral tetapi juga sebagai manifestasi nilai-nilai budaya, sosial, dan spiritual. Di salah satu wilayah di Jawa Tengah, khususnya di Kota Kudus terdapat satu tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat dalam merayakan pernikahan. Tradisi tersebut adalah tradisi Manten Mubeng Gapura. Mubeng gapura atau mengelilingi gapura ini dilakukan sebagai bagian dari rangkaian prosesi pernikahan. Tradisi Manten Mubeng Gapura dilaksanakan setelah mempelai melaksanakan ijab qabul. 4 Pengantin kemudian menuju ke kompleks Masjid Wali untuk melakukan prosesi mengelilingi Gapura Padureksa. Prosesi ini diawali dengan kedua mempelai berjalan masuk melewati pintu gapura bagian Selatan . isi kanan masji. kemudian berjalan menuju selasar masjid untuk selanjutnya didoakan oleh sesepuh atau juru rawat masjid. Pengantin selanjutnya keluar melewati pintu gapura bagian utara . isi kir. masjid sebagai akhir dari prosesi mubeng Tradisi Manten Mubeng Gapura merupakan warisan budaya yang telah ada sejak masa Sultan Hadirin, yaitu sekitar abad ke-15 Masehi. Tradisi ini bukan hanya sekadar ritual adat, melainkan juga menjadi simbol kuat identitas dan jati diri masyarakat Desa Loram. Masyarakat 1 Whisnu Mardiansyah. AuKemenbud Tetapkan 514 Warisan Budaya Tak Benda Baru Di 2025,Ay website: https://w. com/read/NQAC0p00-kemenbud-tetapkan-514-warisan-budaya-tak-benda-baru-di-2025. 2 Clifford Geertz. Agama Jawa: Abangan. Santri. Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2. , hlm. 3 Elvira Damayanti. Divani AoAina Nurlita, and Daffa Arjuna Arya Putra. AuPerkawinan Dalam Perspektif Hukum Adat Indonesia: Ragam Sistem. Tradisi. Dan Tantangan Modern,Ay TarunaLaw: Journal of Law and Syariah Vol. No. : hlm. 99Ae116, https://doi. org/10. 54298/tarunalaw. 4 Amelia Nurun Nahar. AuPersepsi Masyarakat Sekitar Terhadap Tradisi Nganten Mubeng Gapura Desa Loram Kabupaten Kudus,Ay Sosial Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan IPS Vol. No. : hlm. 1Ae10, https://doi. org/10. 26418/skjpi. 5 Hermawan. AuTinjauan Hukum Islam Mengenai Tradisi Manten Mubeng Gapuro Di Masjid Wali Loram Kulon,Ay ISTI'DAL: Jurnal Hukum Islam Vol. No. , hlm. 1-23, https://doi. org/10. 26418/skjpi. Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura . Retno Tyas Hapsari. Isna Maylani. Lintang Nurlissya Putri setempat memandang Tradisi Manten Mubeng Gapura sebagai momen sakral yang menghubungkan generasi sekarang dengan leluhur mereka, sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur dan doa agar kehidupan keluarga baru yang dibentuk mendapatkan berkah dan Meskipun dunia terus mengalami perubahan yang cepat akibat modernisasi dan globalisasi, masyarakat Desa Loram tetap memilih untuk mempertahankan tradisi ini. Pelestarian Manten Mubeng Gapura tidak hanya dijalankan sebagai rutinitas adat, tetapi juga sebagai wujud nyata penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turuntemurun. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga kelangsungan budaya lokal, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan, solidaritas, serta kecintaan terhadap akar budaya mereka di tengah dinamika zaman yang terus berubah. Selain sebagai upaya pelestarian tradisi, keberlanjutan tradisi Manten Mubeng Gapura juga dipengaruhi oleh keberadaan mitos yang berkembang sebagai kepercayaan kolektif di tengah Salah satu mitos yang paling kuat diyakini masyarakat adalah anggapan bahwa pasangan pengantin yang tidak melaksanakan prosesi ini berpotensi mengalami musibah, seperti perceraian atau bahkan kematian salah satu mempelai. Menurut Ridwan & Basith dan Muhlis, kepercayaan semacam ini terus direproduksi melalui proses sosialisasi budaya, baik secara lisan maupun melalui praktik adat yang diwariskan secara turun menurun. Keberadaan mitos tersebut tetap menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk mempertahankan pelaksanaan tradisi Manten Mubeng Gapura hingga saat ini. Sejumlah penelitian mengenai tradisi Manten Mubeng Gapura di Desa Loram Kulon. Kabupaten Kudus telah dilakukan dengan beragam fokus kajian. Secara umum, penelitianpenelitian tersebut menunjukkan bahwa tradisi Manten Mubeng Gapura tidak hanya merupakan bagian dari prosesi pernikahan, tetapi juga mengandung makna sosial, spiritual, dan kultural yang Tradisi ini dipahami memiliki berbagai fungsi simbolis, terutama sebagai sarana pelestarian warisan budaya leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, beberapa penelitian menyoroti persepsi dan kepercayaan masyarakat terhadap keberlanjutan tradisi ini, yang menunjukkan adanya keyakinan kolektif yang turut menjaga 6 Nabila Siti Khoirunnisa et al. AuAnalisis Nilai Budaya Dan Fungsi AoTradisi Manten Mubeng GapuraAo Di Masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon Kudus,Ay Jurnal Motivasi Pendidikan Dan Bahasa Vol. No. : hlm. 166Ae76, https://doi. org/10. 59581/jmpb-widyakarya. 7 Ridwan Ridwan and Abdul Basith. AuThe Myth of Determining Mate and Wedding Day in The Tradition of The Kejawen Community. Central Java. Indonesia,Ay International Journal of Social Science and Religion (IJSSR)Vol, 02. No. , hlm. 297Ae318, https://doi. org/10. 53639/ijssr. 8 Hermawan. AuTinjauan Hukum Islam Mengenai Tradisi Manten Mubeng Gapuro Di Masjid Wali Loram Kulon. Ay hlm. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 49-66 Penelitian lainnya mengkaji keterkaitan tradisi Manten Mubeng Gapura dengan nilai-nilai sosial, kohesi masyarakat, serta legitimasinya dalam kerangka Aourf . ukum ada. dan norma sosial Islam. Di sisi lain, terdapat pula kajian yang menempatkan tradisi ini dalam konteks cerita rakyat, dengan menekankan integrasi antara kepercayaan lokal dan praktik budaya masyarakat setempat. 9 Meskipun demikian, penelitian-penelitian tersebut pada dasarnya masih berfokus pada dimensi deskriptif dan interpretatif. Oleh karena itu, masih diperlukan kajian yang lebih mendalam mengenai dinamika perubahan, transformasi praktik, serta tantangan keberlanjutan tradisi dalam konteks modern, khususnya di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi yang semakin masif. Pada penelitian-penelitian sebelumnya belum terlihat adanya analisis tradisi dengan perspektif digital dan Society 5. 0, baik dari sisi transformasi praktik, perubahan makna, maupun strategi keberlanjutannya di era teknologi. Dengan demikian, penelitian yang mengkaji hubungan antara tradisi Manten Mubeng Gapura dengan konteks kekinian menjadi penting untuk dilakukan, guna mengetahui sejauh mana tradisi ini tetap relevan dan bermakna bagi masyarakat kontemporer serta bagaimana relevansi tradisi dalam konteks Society 5. 0Ay. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori fungsionalisme yang dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski untuk mengetahui relevansi tradisi tersebut di masa sekarang. Teori ini dipilih karena menekankan pentingnya setiap aspek budaya atau tradisi dalam memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan fungsionalisme, peneliti berusaha mengkaji sejauh mana tradisi Manten Mubeng Gapura masih dianggap relevan dan memiliki manfaat praktis dalam konteks perubahan sosial, budaya, serta dinamika kehidupan masyarakat modern di Desa Loram. Teori fungsionalisme mempunyai pendirian bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sebuah kebutuhan naluri manusia yang berhubungan dengan keseluruhan kehidupannya. Tradisi sebagai salah satu contoh dari salah satu unsur kebudayaan misalnya, terjadi karena manusia berkeinginan untuk meritualkan kerohanian mereka kepada Sang Pencipta. 10 Teori ini juga membantu peneliti untuk melihat bagaimana tradisi tersebut berfungsi sebagai mekanisme pengikat sosial yang memperkuat identitas komunitas, menjaga nilai-nilai budaya, serta menyediakan rasa kontinuitas dan stabilitas di tengah perkembangan zaman yang cepat. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai keberlanjutan tradisi tersebut dan 9 Lukhi Ambarwati. AuTradisi Gapura Masjid Wali Di Desa Loram Kudus,Ay Sutasoma Vol. No. : hlm. 1Ae4, https://doi. org/10. 15294/sutasoma. 10 Mokhammad Fadhil Musyafa and Ahmad Arif Kurniawan. AuTradisi Jembaran : Analisis Teori Fungsional Malinowski Dalam Tradisi Santri Al Falah Kebumen Di Bulan Muharram,Ay Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities, 2023, 32Ae46, https://doi. org/10. 22515/isnad. Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura . Retno Tyas Hapsari. Isna Maylani. Lintang Nurlissya Putri kontribusinya dalam membangun keseimbangan antara pelestarian budaya dan tuntutan kehidupan METODE PENELITIAN Kajian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam, menyeluruh, dan kontekstual terhadap fakta sosial yang berkembang di lapangan. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai dengan karakteristik objek kajian yang bersifat kultural dan simbolik,12 menjelaskan bahwa metode penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, sebagai lawannya adalah eksperimen, di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data secara trianggulasi . Lebih lanjut Nasution menegaskan bahwa pendekatan kualitatif pada hakikatnya mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka mengenai dunia sekitarnya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat sosiologis dan historis. Pendekatan sosiologis dimaksudkan untuk menganalisis bagaimana Manten Mubeng Gapura berperan dalam kohesi sosial, identitas kolektif, dan spiritualitas masyarakat, serta bagaimana tradisi ini dipertahankan atau dimaknai ulang dalam konteks perubahan sosial dan teknologi yang sangat cepat di era 5. Sementara itu, pendekatan historis digunakan untuk menelusuri akar budaya dan nilai-nilai lokal yang melandasi tradisi ini, termasuk dinamika transformasinya dari masa ke Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi partisipatif dilakukan dengan cara peneliti terlibat secara langsung dalam aktivitas masyarakat di sekitar Gapura Masjid Wali At-Taqwa untuk memahami praktik sosial dan makna kultural yang berkembang. Selanjutnya, wawancara mendalam dilakukan terhadap 16 informan yang dipilih secara purposif . urposive samplin. dengan mempertimbangkan kedekatan tempat tinggal terhadap Gapura Masjid serta tingkat keterlibatan dalam aktivitas sosial dan keagamaan. Empat informan berasal dari pemangku kepentingan . alam hal ini adalah perangkat desa/Kamituo, empat informan yang tinggal di dekat Gapura Masjid Wali At-Taqwa, yaitu warga yang berdomisili dalam radius A100 meter dari gapura. Empat informan yang tinggal jauh dari Gapura Masjid, yaitu warga yang berdomisili lebih dari 11 Rifki Saputra. AuPeran Seni Dalam Mempertahankan Identitas Lokal Di Era Modern,Ay Besaung: Jurnal Seni. Desain dan Budaya. Vol. 09 No. , hlm. 1-13, https://doi. org/10. 36982/jsdb. 12 Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif. Dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2. , hlm. 13 Abdul Fattah Nasution. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV. Harfa Creative, 2. , hlm. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 49-66 A300 meter dari gapura. Empat informan lainnya adalah masyarakat luar daerah yang turut serta mengantar pengantin melaksanakan tradisi Manten Mubeng Gapura. Pembagian ini bertujuan untuk memperoleh variasi perspektif terkait pemaknaan dan praktik tradisi yang berpusat di area Kriteria pemilihan informan didasarkan pada keterlibatan, masa tinggal, serta variasi domisili informan. Sedangkan teknik validasi data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari juru pelihara masjid, warga yang tinggal dekat gapura, dan warga yang tinggal jauh dari gapura. Melalui teknik validasi ini, data yang diperoleh diharapkan memiliki tingkat kredibilitas dan akurasi yang tinggi, serta mampu merepresentasikan kondisi sosial dan kultural masyarakat secara komprehensif. Adapun penyajian data dilakukan dengan teknik deskriptif-kualitatif. Dengan pendekatan ini, penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana tradisi lokal seperti Manten Mubeng Gapura tetap mewakili relevansi sosial dan spiritual, bahkan Ketika masyarakat Tengah memasuki fase peradaban baru yang sangat dipengaruhi oleh teknologi, digitalisasi, dan konektivitas global. HASIL DAN PEMBAHASAN Tradisi Manten Mubeng Gapura di Desa Loram Kulon Kecamatan Jati Kabupaten Kudus Tradisi Manten Mubeng Gapura merupakan salah satu warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat kota Kudus, khususnya di Desa Loram Kulon. Kecamatan Jati. Tradisi ini diyakini telah ada sejak zaman Sultan Hadirin atau sekitar abad ke-14 Masehi. Meski telah berabad-abad berlalu, tradisi ini tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas kultural dan spiritual mereka. Menurut Afroh selaku juru pelihara Gapura Masjid, beliau mengatakan bahwa: AuTradisi Manten Mubeng Gapura sudah lama adanya. tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak zaman Sultan Hadirin atau sekitar tahun 1400 masehi. Segala hal yang berkaitan dengan ibadah, baik yang bersifat pribadi maupun kelompok, biasanya masyarakat setempat akan datang kepada beliau untuk meminta bimbingan atau nasehat. Ay Masyarakat Desa Loram Kulon menjadikan Sultan Hadirin sebagai sosok panutan karena beliau merupakan orang pertama yang menyebarkan agama Islam di desa tersebut. Sultan Hadirin menyebarkan agama Islam dengan pendekatan yang menarik. Hal tersebut ditunjukkan dengan pembangunan sebuah gapura bergaya arsitektur Hindu di depan masjid sebagai simbol akulturasi Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura . Retno Tyas Hapsari. Isna Maylani. Lintang Nurlissya Putri budaya serta strategi dakwah yang bijak. 14 Gapura tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda fisik gerbang masuk, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal yang telah lebih dahulu berkembang, sehingga ajaran Islam dapat diterima dengan lebih terbuka oleh masyarakat pada masa itu. Dengan cara demikian, masyarakat yang mayoritas beragama Hindu akan merasa dihargai dan akhirnya akan tertarik untuk mempelajari agama Islam yang diajarkan oleh Sultan Hadirin. Sultan Hadirin tidak hanya membimbing para pengikutnya dalam melaksanakan ibadah mahdhah, yaitu ibadah murni yang bersifat ritual dan langsung berhubungan dengan Allah SWT seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Beliau juga menanamkan pemahaman mendalam mengenai pentingnya ibadah ghairu mahdhah, yaitu segala bentuk aktivitas duniawi yang apabila diniatkan karena Allah, dapat bernilai ibadah. Nurbaiti et al. menjelaskan bahwa ibadah ghairu mahdhah termasuk amalan sosial atau humanitarian yang bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. 15 Salah satu contoh yang beliau tekankan adalah pernikahan, yang bukan hanya sekadar ikatan sosial atau budaya, melainkan juga bagian dari ibadah yang memiliki nilai spiritual dan moral dalam Islam. Melalui pendekatan ini. Sultan Hadirin menunjukkan bahwa ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi. Dalam pandangan Sultan Hadirin, dijelaskan bahwa Islam mengenal bulan-bulan yang dianggap baik dan penuh keberkahan untuk melangsungkan pernikahan. Di bulan-bulan yang dianggap baik tersebut, masyarakat kemudian berduyun-duyun melangsungkan pernikahan dan datang kepada Sultan Hadirin untuk meminta doa restu. Pada awalnya. Sultan Hadirin masih memiliki kesempatan untuk secara langsung melayani setiap pasangan pengantin yang datang, bahkan memberikan doa restu secara personal sebagai bentuk perhatian dan kedekatan spiritual antara pemimpin dengan masyarakatnya. Praktik ini tidak hanya menjadi simbol legitimasi sosial dan religius bagi pernikahan, tetapi juga memperlihatkan peran aktif Sultan dalam kehidupan keagamaan masyarakat. 14 Erry Nurdianzah. AuAkulturasi Budaya Dalam Dakwah Sultan Hadirin Di Desa Loram Kulon Kecamatan Jati Kabupaten Kudus,Ay Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya Vol. No. : hlm. 297Ae318, https://doi. org/10. 36424/jpsb. 15 Firdha Nurbaiti. Rosmawaty Hilderiah Pandjaitan, and Afdal Makkuraga Putra. AuCreativity In Persuasive Communication y The Mosque Prosperity Council: Building Public Trust For The Ghairu Mahdha Worship Program At Usuwatun Hasanah Grand Mosque,Ay INJECT (Interdisciplinary Journal of Communicatio. Vol. No. 763Ae80, https://doi. org/10. 18326/inject. 16 Amelia Nurun Nahar. AuPersepsi Masyarakat Sekitar Terhadap Tradisi Nganten Mubeng Gapura Desa Loram Kabupaten Kudus,Ay Sosial Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan IPS Vol. No. : hlm. 1Ae10, https://doi. org/10. 26418/skjpi. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 49-66 Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah masyarakat yang meminta doa restu semakin meningkat, sementara keterbatasan waktu, tenaga, serta kondisi fisik Sultan Hadirin tidak lagi memungkinkan untuk melayani secara individual seperti sebelumnya. Dalam situasi tersebut. Sultan Hadirin kemudian mengambil kebijakan yang lebih efektif dengan meminta agar para pengantin datang ke masjid. Di tempat inilah doa restu diberikan secara bersama-sama dalam satu waktu tertentu. Perubahan ini tidak sekadar merupakan bentuk penyesuaian praktis, tetapi juga melahirkan dimensi baru dalam tradisi, yakni adanya praktik kolektif yang memperkuat nilai kebersamaan, kesakralan ruang masjid, serta ikatan sosial antaranggota masyarakat. Dengan demikian, transformasi tersebut justru memperkaya makna tradisi, dari yang semula bersifat personal menjadi lebih komunal dan simbolik. Selanjutnya. Menurut Afroh berdasarkan sumber sejarah lahirnya Desa Loram Kulon, mengatakan bahwa. AuDahulu. Sultan Hadhirin selalu menemui santrinya satu persatu untuk memberikan restu, namun setelah santri semakin banyak serta ada bulan-bulan yang memang masyarakat banyak yang melangsungkan pernikahan, maka Sultan Hadirin AukuwalahanAy dan tidak sempat menemui satu persatu sehingga sebagai wujud restu beliau, masyarakat disuruh untuk datang ke masjid dan mengelilingi gapura sembari beliau mendoakan dari dalam masjidAy Selain karena keterbatasan waktu dan kondisi, tradisi Manten Mubeng Gapura juga memiliki tujuan sosial yang sangat penting. Salah satu alasan tradisi ini dilaksanakan adalah agar seluruh warga Desa Loram Kulon dapat menyaksikan secara langsung pasangan pengantin yang telah resmi menjadi suami-istri. Dengan demikian, kehadiran pengantin di hadapan masyarakat bertujuan untuk mencegah timbulnya prasangka buruk atau fitnah yang mungkin muncul apabila pernikahan dilakukan secara diam-diam atau tertutup. Tradisi ini sekaligus menjadi bentuk keterbukaan dan pengakuan sosial atas ikatan sah yang telah terbentuk. Afroh menjelaskan lebih lanjut: AuDulu belum ada KUA seperti sekarang, nikah ya nikah saja sehingga terkadang orang-orang tidak tahu kalau pasangan tersebut sudah menikah tau-tau sudah tinggal serumah. Oleh sebab itu. Sultan Hadirin membuat aturan agar pasangan pengantin melangsungkan ijab qabul di Masjid dan dilanjutkan mengelilingi gapura supaya orang-orang bisa melihat secara langsung bahwa pasangan tersebut sudah sah menjadi suami istriAy Secara tidak langsung. Sultan Hadirin turut menjadi pelopor dalam memperkenalkan konsep pernikahan yang sah dan diakui secara sosial di tengah masyarakat. Meskipun pada masa itu belum ada sistem pendataan pernikahan yang resmi seperti sekarang, keberadaan tradisi Mubeng Gapura telah memberikan pemahaman baru bagi warga mengenai pentingnya pengesahan pernikahan di hadapan masyarakat. Tradisi ini menjadi semacam legitimasi sosial yang menegaskan bahwa Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura . Retno Tyas Hapsari. Isna Maylani. Lintang Nurlissya Putri pasangan pengantin telah menikah secara sah menurut ajaran agama dan norma yang berlaku, sekaligus memperkuat nilai keterbukaan dan kepercayaan di tengah Masyarakat. Meskipun tradisi Manten Manten Manten Mubeng Gapura telah ada sejak ratusan tahun lalu, peninggalan budaya ini tetap lestari dan dijaga dengan baik oleh masyarakat Desa Loram Kulon hingga saat ini. Kepercayaan Manten Mubeng Gapura diperkuat dengan keyakinan masyarakat setempat mengenai keberkahan yang akan didapatkan oleh masyarakat yang melaksanakan serta balaAo . yang menyertai jika tidak melaksanakannya. Mitos mengenai balaAo ini sudah menyebar di kalangan masyarakat dari dulu sampai sekarang hingga pada akhirnya dianggap sebagai sebuah kebenaran. Masyarakat yang abai terhadap tradisi ini dianggap akan mendapatkan musibah atau mengalami hal buruk yang tidak diharapkan seperti perpisahan baik itu perceraian maupun kematian. Keyakinan inilah yang turut memperkuat alasan mengapa tradisi Manten Mubeng Gapura tetap dijalankan hingga sekarang. Sebagai bentuk ikhtiar spiritual sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun maka masyarakat tetap melaksanakannya hingga saat ini. Salah satu warga menceritakan bahwa ada sepasang pengantin yang tidak melaksanakan tradisi tersebut kemudian pernikahannya tidak harmonis dan berakhir dengan perceraian. AuIya benar, ada satu kejadian pasangan pengantin sengaja tidak Manten Mubeng Gapura, akhirnya rumah tangganya tidak bertahan lama dan berakhir Tidak hanya itu, bahkan ada juga yang sampai meninggalAy Meskipun kebenaran mitos tersebut belum dapat dibuktikan secara empiris, masyarakat tetap memilih untuk melaksanakan tradisi Manten Mubeng Gapura sebagai bentuk kehati-hatian dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sikap ini mencerminkan adanya keyakinan kolektif bahwa menjaga tradisi merupakan cara untuk menghindari risiko dan menjaga keseimbangan sosial maupun spiritual. Pada kenyataannya, pertanyaan mengenai relevansi tradisi Manten Mubeng Gapura tidak dapat dilepaskan dari konteks perubahan sosial yang ditandai oleh percepatan inovasi dan digitalisasi sebagaimana dipaparkan oleh Suhardi dalam Kumparan. Transformasi ini melahirkan pola hidup baru yang serba cepat, efisien, dan berbasis teknologi, sehingga praktik-praktik tradisional kerap diposisikan sebagai sesuatu yang berpotensi tergerus atau bahkan ditinggalkan. Namun, asumsi tersebut tidak sepenuhnya berlaku secara linear. Temuan empiris di lapangan justru menunjukkan bahwa tradisi Manten Mubeng Gapura masih dijalankan, meskipun mengalami penyesuaian bentuk, makna, dan cara pewarisannya. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 49-66 Dalam perspektif analitis-interpretatif, fenomena ini dapat dibaca melalui kerangka Society 0 yang menekankan integrasi antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Society 5. tidak semata-mata mengedepankan digitalisasi, tetapi juga menuntut keseimbangan antara inovasi dan pelestarian nilai kultural sebagai fondasi kehidupan sosial. Dalam konteks ini, tradisi Manten Mubeng Gapura tidak berada dalam posisi oposisi terhadap modernitas, melainkan bertransformasi menjadi medium yang merepresentasikan sintesis antara keduanya. Secara empiris, masyarakat yang tinggal di sekitar gapura cenderung memaknai tradisi ini sebagai bagian dari identitas kultural dan spiritual yang tidak tergantikan oleh teknologi. Sementara itu, masyarakat yang tinggal lebih jauh yang umumnya memiliki intensitas interaksi lebih tinggi dengan dunia digital cenderung melihat tradisi ini sebagai simbol warisan budaya yang tetap penting, meskipun keterlibatan mereka bersifat lebih situasional. Perbedaan ini menunjukkan adanya negosiasi makna yang dinamis, di mana tradisi tidak lagi dipraktikkan secara homogen, tetapi disesuaikan dengan konteks sosial masing-masing kelompok. Lebih jauh, dalam kerangka Society 5. 0, tradisi Manten Mubeng Gapura dapat diinterpretasikan sebagai bentuk cultural resilience, yaitu kemampuan budaya lokal untuk bertahan sekaligus beradaptasi di tengah arus transformasi digital. Misalnya, dokumentasi tradisi melalui media sosial, penyebaran informasi secara daring, hingga meningkatnya perhatian generasi muda terhadap aspek historis dan simbolik tradisi menunjukkan bahwa digitalisasi justru dapat menjadi alat revitalisasi, bukan ancaman. Dengan demikian, teknologi berfungsi sebagai enabler yang memperluas jangkauan makna tradisi, bukan menggantikannya. Oleh karena itu, relevansi tradisi Manten Mubeng Gapura di era modern tidak hanya terletak pada keberlanjutan praktiknya, tetapi juga pada kemampuannya untuk beradaptasi dan menghasilkan makna baru yang tetap kontekstual dengan perkembangan zaman. Tradisi ini tidak sekadar bertahan, melainkan bertransformasi sebagai ruang dialektika antara nilai-nilai lokal dan tuntutan global. Berdasarkan uraian tersebut, berikut ini akan dipaparkan beberapa fungsi tradisi Manten Mubeng Gapura yang menunjukkan bagaimana tradisi ini tetap memiliki signifikansi di tengah masyarakat yang semakin terdigitalisasi. Fungsi Tradisi Manten Mubeng Gapura: Sebagai Sarana Memperkenalkan Tradisi Kepada Generasi Berikutnya Serta Masyarakat Luas Secara historis. Sultan Hadirin mulanya menjadikan tradisi Manten Mubeng Gapura sebagai media dakwah yang mudah dipahami. Tradisi ini sejak awal tidak sekedar ritual seremonial, melainkan berfungsi sebagai medium komunikasi kultural dalam proses dakwah. Temuan empiris Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura . Retno Tyas Hapsari. Isna Maylani. Lintang Nurlissya Putri menunjukkan bahwa anjuran untuk melaksanakan akad nikah di masjid, yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi mengelilingi gapura, merupakan strategi simbolik untuk menarik partisipasi masyarakat menuju ruang keagamaan. Pengantin diimbau untuk melaksanakan akad nikah di masjid dan dilanjutkan dengan prosesi mengelilingi gapura. Sebagaimana fungsi masjid yakni sebagai pusat penyebaran agama Islam, harapannya adalah pengantin maupun keluarga pengantin serta orang-orang tertarik untuk datang ke masjid sehingga Sultan Hadirin dapat menyampaikan dakwahnya. 17 Masyarakat mulai mengenal masjid dan mulai mengetahui fungsi masjid sehingga mereka perlahan turut melaksanakan ibadah di masjid. Lebih jauh, jika dikaitkan dengan konsep Society 5. 0, tradisi Manten Mubeng Gapura dapat diinterpretasikan sebagai bentuk integrasi antara nilai tradisional dan kebutuhan sosial yang Society 5. 0 menekankan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan keberlanjutan nilainilai kemanusiaan. Dalam konteks ini, tradisi Manten Mubeng Gapura berfungsi sebagai humancentered cultural system, di mana praktik budaya tidak ditinggalkan, tetapi justru dioptimalkan sebagai sarana transmisi nilai lintas generasi. Selain itu, tradisi Manten Mubeng Gapura ini dijadikan sebagai perwujudan restu dari Sultan Hadirin kepada para pengantin. Mulanya Sultan Hadirin memberikan restu secara langsung dan menemui mempelai satu persatu. Namun, karena antusiasme masyarakat untuk menikah di bulan-bulan yang dianggap baik semakin tak terbendung, maka Sultan Hadirin memberikan solusi agar pengantin mengelillingi gapura sembari beliau mendoakan dari dalam masjid. Sepeninggal Sultan Hadirin, masyarakat Desa Loram Kulon tetap mempertahankan tradisi Manten Mubeng Gapura. Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang hidup di masa Sultan Hadirin saja, tetapi juga diwariskan secara turun temurun kepada anak cucu mereka sehingga kelestarian tradisi ini masih terjaga. Masyarakat memandang tradisi Manten Mubeng Gapura ini sebagai warisan budaya yang kaya makna dan filosofi mendalam, yang mengandung nilai-nilai moral serta kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Karena itulah, meskipun Sultan Hadirin telah tiada, tradisi tersebut terus dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai simbol keberlangsungan identitas serta sarana memperkenalkan budaya kepada generasi 17 Amelia Nurun Nahar. AuPersepsi Masyarakat Sekitar Terhadap Tradisi Nganten Mubeng Gapura Desa Loram Kabupaten Kudus,Ay Sosial Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan IPS Vol. No. : hlm. 1Ae10, https://doi. org/10. 26418/skjpi. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 49-66 Gambar 1. Antusiasme masyarakat luar daerah Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026 Gambar di atas menampilkan salah satu warga asli Desa Loram Kulon yang menikah dengan warga luar daerah. Dari gambar tersebut terlihat antusiasme rombongan keluarga dari luar kota yang merasa kagum dan tertarik dengan tradisi Manten Mubeng Gapura. Mereka menganggap tradisi Manten Mubeng Gapura sebagai sesuatu yang unik dan berbeda dari kebanyakan prosesi pernikahan di daerah lainnya. Tidak hanya itu, mereka secara tidak langsung juga turut menjadi informan yang akan menceritakan dan menyebarluaskan tradisi ini kepada masyarakat di daerah asal mereka. Tradisi Manten Mubeng Gapura yang pada awalnya merupakan budaya lokal masyarakat Desa Loram Kulon, kini semakin dikenal oleh masyarakat luas. Penyebaran tradisi ini terjadi seiring dengan adanya pernikahan antara warga Loram Kulon dan masyarakat dari luar wilayah Melalui interaksi tersebut, masyarakat luar mulai mengenal tradisi Manten Mubeng Gapura dan menganggapnya sebagai suatu hal yang unik serta menarik untuk dilestarikan. Sebagai Sarana Meminta Doa Restu serta Memperkenalkan Pengantin ke Khalayak Modernisasi muncul seiring perkembangan zaman. Modernisasi turut berpengaruh terhadap perubahan sosial budaya bagi masyarakat Indonesia. Menurut Palopo et al. , isu modernisasi turut memberi dampak perubahan pada prosesi pernikahan. 18 Tata cara tradisional mulai tergantikan Aulia Ramadhani Abdullah, " Pola Asuh Orangtua Tentara Nasional Indonesia (TNI) Pada Pembentukan Karakter Anak Di Kota Palopo," Edu Sociata (Jurnal Pendidikan Sosiolog. Vol. No. : hlm. 223Ae35, https://doi. org/10. 33627/es. Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura . Retno Tyas Hapsari. Isna Maylani. Lintang Nurlissya Putri dengan pernikahan secara modern, di mana pernikahan secara modern tidak menuntut adanya prosesi upacara yang terlalu rumit. 19 Meskipun modernisasi membawa dampak perubahan yang cukup signifikan bagi masyarakat, namun tradisi Manten Mubeng Gapura tetap dilaksakan sebagai upaya memohon doa restu serta memperkenalkan pengantin kepada masyarakat sekitar. Prosesi Manten Mubeng Gapura diawali dengan kedua mempelai masuk gapura melewati pintu sebelah selatan kemudian dilanjutkan berjalan melewati pintu gapura sebelah utara dan berhenti di depan pintu tengah gapura sembari didoakan oleh pemuka adat di daerah tersebut. Selanjutnya kedua mempelai diperkenalkan kepada masyarakat bahwasanya mereka berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri. Meski hidup di zaman yang serba modern, namun prosesi Manten Mubeng Gapura ini tetap dilaksanakan karena tidak semua masyarakat mengikuti perubahan tersebut. Pelestarian tradisi ini didasari oleh kenyataan bahwa tidak seluruh anggota masyarakat menerima atau mengikuti arus perubahan yang dibawa oleh modernisasi. Terutama kelompok masyarakat lanjut usia, yang cenderung mempertahankan nilai-nilai dan kebiasaan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Gambar 2. Prosesi Manten Mubeng Gapura Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026 19 Meifa Dia Hikmah. AuTransformasi Pada Nilai Dan Praktik Pernikahan Adat Dalam Perspektif Hukum Adat di Kecamatan Kuok. Kabupaten Kampar Dalam Era Modernisasi,Ay Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. No. 13704Ae8, https://doi. org/10. 31004/jptam. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 49-66 Faktor keterbatasan kemampuan dalam mengadopsi teknologi dan gaya hidup modern turut menjadi alasan mengapa tradisi Manten Mubeng Gapura tetap menjadi praktik yang relevan dan bernilai, sekaligus sebagai sarana mempererat ikatan sosial antar generasi dalam masyarakat Selain itu, dengan mempertahankan tradisi ini, sesuai dengan teori Bronislaw Malinowski terkait dengan kebutuhan biologis, masyarakat secara tidak langsung menjaga ekosistem sosial agar tetap stabil, yang pada gilirannya mendukung rasa aman bagi individu untuk menjalankan fungsi biologisnya tanpa gangguan konflik sosial. Peningkatan UMKM Masyarakat Sekitar Masjid Wali/Gapura Padureksa Tradisi Manten Mubeng Gapura tidak hanya memiliki fungsi sosial saja melainkan juga fungsi ekonomi bagi masyarakat di sekitar lingkungan gapura. Selain fungsi yang telah dijelaskan sebelumnya, tradisi Manten Mubeng Gapura saat ini juga berperan sebagai sarana untuk mendorong perkembangan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar kompleks Gapura Masjid Wali. Pelaksanaan tradisi ini menyebabkan meningkatnya aktivitas masyarakat di area tersebut, khususnya dengan meningkatnya kunjungan warga yang tertarik untuk menyaksikan prosesi Manten Mubeng Gapura. Fenomena ini selanjutnya memicu pertumbuhan aktivitas perdagangan di sekitar lokasi, di mana para pedagang memanfaatkan momentum tersebut untuk menjajakan produk mereka dan memberikan dampak yang positif terhadap dinamika ekonomi Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura di Era 5. Society 5. 0 atau masyarakat 5. 0 adalah suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia . uman-centere. yang berbasis kepada penggunaan teknologi . echnology base. yang pertama kali dikembangkan di Jepang. Menurut Cabinet Office. Society 5. 0 berorientasi pada pengembangan masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang mengintegrasikan ruang siber dan ruang fisik. Secara harfiah. Society 5. 0 memiliki konsep teknologi big data yang dikumpulkan oleh internet of things (IoT) kemudian diubah oleh Artificial Inteligence (AI). Era Socierty 5. adalah era kehidupan manusia yang berfokus pada terknologi dan inovasi untuk mengatasi masalah sosial dan lingkungan yang kompleks. Perkembangan era Revolusi Industri 5. 0 membawa dampak yang cukup signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam pelaksanaan tradisi, salah satunya adalah Hermawansyah. AuManajemen Pendidikan Berbasis Informasi di Era Society 5. 0,Ay Fitrah: Jurnal Studi Pendidikan Vol. 13 No. : hlm. 8Ae11, https://doi. org/10. 47625/fitrah. Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura . Retno Tyas Hapsari. Isna Maylani. Lintang Nurlissya Putri tradisi pernikahan. Menurut Cabinet Office, era ini ditandai dengan integrasi antara kecanggihan teknologi dan sentuhan nilai-nilai kemanusiaan, yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap konsep pernikahan. Jika sebelumnya pernikahan sarat dengan budaya lokal dan adat istiadat yang kaya akan simbolisme serta prosesi yang kompleks, kini orientasi tersebut mulai bergeser. Banyak pasangan muda lebih memilih konsep pernikahan yang modern, minimalis, dan efisien, baik dari segi waktu, biaya, maupun 21 Pergeseran ini menunjukkan adanya perubahan paradigma, di mana nilai-nilai praktis, personalisasi, dan gaya hidup modern mulai menggeser dominasi nilai-nilai tradisional yang sebelumnya dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari prosesi pernikahan. Meskipun demikian, di sejumlah komunitas, unsur-unsur budaya masih tetap dijaga dan dipadukan secara harmonis dengan unsur modernitas sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan zaman. Seiring perkembangan zaman, bentuk dan konsep pesta pernikahan mengalami transformasi yang signifikan. Dahulu pernikahan lebih banyak dipengaruhi oleh tradisi dan adat istiadat yang turun-temurun. Namun kini dalam beberapa tahun terakhir, berbagai faktor seperti gaya hidup, interaksi antara budaya, modernisasi, perkembangan media dan teknologi, serta kondisi ekonomi telah membawa perubahan dalam cara pesta pernikahan diselenggarakan. Seperti yang dikatakan,22 bahwa dalam kelompok masyarakat, adat istiadat, tradisi, dan budaya dapat berubah. Perubahan dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, baik di dalam komunitas maupun di luarnya. Namun, kelestarian tradisi Manten Mubeng Gapura yang dilakukan oleh masyarakat Desa Loram Kulon tidak begitu saja tersingkirkan. Sesuai dengan pemikiran Bronislaw Malinowski mengenai konsep kebutuhan yang di antaranya ada kebutuhan biologis, psikologis, dan sosial. Tradisi Manten Mubeng Gapura memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Meskipun tradisi ini tampak bersifat spiritual. Malinowski melihat kebudayaan sebagai alat untuk memastikan kelangsungan hidup kelompok . Tradisi ini sebagai mekanisme untuk menjaga stabilitas lingkungan dan keamanan kolektif. Secara simbolis, pengantin yang mengelilingi gapura untuk memperkenalkan pasangan kepada khalayak secara tidak langsung menjadikan rasa aman bagi pengantin untuk menjalankan fungsi biologisnya tanpa gangguan konflik sosial . 21 Aulia Ramadhani Abdullah, " Pola Asuh Orangtua Tentara Nasional Indonesia (TNI) Pada Pembentukan Karakter Anak Di Kota Palopo," Edu Sociata (Jurnal Pendidikan Sosiolog. Vol. No. : hlm. 223Ae35, https://doi. org/10. 33627/es. 22 Marlis Putri Nandina. AuInternational Journal of Multicultural and Multireligious Understanding The Tradition of Eating Bajamba in the Marriage Ceremony of Minangkabau Cultural Diversity and Local Wisdom in Solok Regency,Ay International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding Vol. No. , hlm. 404Ae Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 49-66 Selain itu, dari sisi psikologis. Dalam perspektif Malinowski, ritual sering kali muncul sebagai jawaban atas ketidakpastian atau kecemasan manusia terhadap hal-hal di luar kendalinya . eperti kematian atau masa depa. atas mitos yang selama ini dipercaya oleh masyarakat Loram. Dengan melaksanakan tradisi ini, masyarakat merasa memiliki pegangan moral dan spiritual melalui filosofi yang terkandung dalam tradisi tersebut. "Makna mendalam" yang disebutkan dalam pemikiran di atas memberikan kenyamanan batin dan rasa optimisme bahwa nilai-nilai leluhur tetap melindungi mereka. Ritual ini mereduksi kecemasan akan hilangnya jati diri di tengah perubahan zaman. Kelestarian tradisi manten Manten Mubeng Gapura yang ada di Desa Loram Kulon masih terjaga hingga saat ini. Fungsi-fungsi sosial, budaya, dan spiritual yang terkandung di dalam tradisi tersebut dianggap masih relevan dengan konteks kehidupan masyarakat era Society 5. Dalam kacamata fungsionalisme, tradisi Manten Mubeng Gapura tetap relevan di era 5. 0 karena ia memenuhi kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh teknologi. Adapun teknologi yang ada justru semakin menguatkan tradisi Manten Mubeng Gapura. Tradisi ini lebih mudah didokumentasikan dan disebarkan ke khalayak luas sehingga kelestarian tradisi ini semakin kuat dan dapat menjadi daya tarik pariwisata budaya sehingga dapat meningkatkan ekonomi lokal masyarakat setempat. KESIMPULAN Tradisi manten Manten Mubeng Gapura merupakan tradisi yang diinisiasi oleh Sultan Hadirin sekitar abad ke-15 Masehi. Tradisi yang mulanya digunakan oleh Sultan Hadirin sebagai media dakwah, kini tetap lestari meski Sultan Hadirin telah tiada. Hal ini karena fungsi-fungsi yang melekat pada tradisi Manten Mubeng Gapura ini dianggap masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Meski masyarakat semakin modern dan penggunaan teknologi semakin canggih, tetapi tradisi Manten Mubeng Gapura tidak tersisih. Sebagian masyarakat khususnya masyarakat lanjut usia, yang cenderung mempertahankan nilai-nilai dan kebiasaan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Faktor keterbatasan kemampuan dalam mengadopsi teknologi dan gaya hidup modern turut menjadi alasan mengapa tradisi Manten Mubeng Gapura tetap menjadi praktik yang relevan. Selain itu, tradisi Manten Mubeng Gapura justru semakin diperkuat dan dikenal lebih banyak orang dengan penggunaan teknologi yang ada. Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura . Retno Tyas Hapsari. Isna Maylani. Lintang Nurlissya Putri REFERENSI