Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 P-ISSN KURIKULA: JURNAL PENDIDIKAN VOLUME: 10 NO: 2 TAHUN 2026 E-ISSN https://ejournal. id/index. php/kurikula/ind ex IMPLEMENTASI KEIKHLASAN DAN KEDISIPLINAN DALAM PENDIDIKAN AGAMA BERBASIS NILAI Muhammad Uchaida Sabilil Matin Universitas Islam Negeri Sunan Kudus Email: muchaidasm@ms. Article history Submitted 03/03/2026 Accepted 17/03/2026 Published 31/03/2026 ABSTRACT this study aims to analyze the practice of sincerity, discipline, and educational leadership in the QurAanic learning activities led by Bapak Ali Ahsan in Dukuh Tanggulangin. Jati Wetan Village. Jati District. Kudus Regency. Community-based religious education plays a strategic role in shaping character, morality, and religious culture within society. This research employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation, and analyzed using interactive data analysis techniques, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that teacher sincerity serves as the primary foundation for building emotional bonds with students, discipline is implemented through role modeling and habituation, and value-based leadership contributes significantly to character formation and community participation. The educational practices not only improve studentsA QurAanic literacy but also foster responsibility and social solidarity. Therefore, community-based religious education represents a relevant model for educational and social development in contemporary contexts. Key Words: Sincerity. Discipline. Educational Leadership. Religious Education ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik keikhlasan, kedisiplinan, dan kepemimpinan pendidikan dalam pengajian yang diasuh oleh Bapak Ali Ahsan di Dukuh Tanggulangin. Desa Jati Wetan. Kecamatan Jati. Kabupaten Kudus. Pendidikan agama berbasis komunitas memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, moral, dan budaya religius Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa keikhlasan guru menjadi fondasi utama dalam membangun kedekatan emosional dengan santri, kedisiplinan diterapkan melalui keteladanan dan pembiasaan, serta kepemimpinan berbasis nilai religius berkontribusi terhadap pembentukan karakter dan peningkatan partisipasi masyarakat. Praktik pendidikan yang dilakukan tidak hanya berdampak pada peningkatan kemampuan membaca Al-QurAan, tetapi juga pada pembentukan sikap tanggung jawab dan solidaritas sosial. Dengan demikian, pendidikan agama berbasis komunitas menjadi model pengembangan pendidikan dan masyarakat yang relevan dalam konteks pendidikan kontemporer. Kata Kunci: Keikhlasan. Kedisiplinan. Kepemimpinan Pendidikan. Pendidikan Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 PENDAHULUAN Pendidikan agama merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang berfungsi membentuk karakter, moral, dan identitas spiritual peserta didik. Dalam konteks pendidikan sosial, pendidikan agama berkontribusi terhadap pembentukan perilaku prososial dan penguatan nilai kebangsaan (Iskandar & Fauzi, 2. Pendidikan yang berorientasi pada pembentukan nilai terbukti meningkatkan kesadaran etis dan tanggung jawab sosial siswa dalam kehidupan bermasyarakat (Latifah, 2. Oleh karena itu, pendidikan agama tidak hanya berdimensi teologis, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang luas. Pendidikan karakter dalam pendidikan agama Islam menjadi salah satu pendekatan penting dalam membangun kepribadian peserta didik yang berakhlak mulia. Melalui pembelajaran yang menekankan nilai religius, peserta didik tidak hanya memperoleh pemahaman tentang ajaran agama, tetapi juga mampu menginternalisasi nilai tersebut dalam perilaku sehari-hari. Proses internalisasi nilai ini menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang memiliki integritas moral dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat (Nasrudin, 2. Dalam perspektif filsafat pendidikan, proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, melainkan pada pembentukan manusia seutuhnya. Pendidikan yang berbasis nilai spiritual dan humanistik menempatkan guru sebagai figur sentral dalam pembinaan karakter (Sulaiman, 2. Konsep pendidikan holistik menegaskan bahwa kualitas pembelajaran ditentukan oleh integrasi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Mulyasa, 2. Dengan demikian, praktik pendidikan agama di masyarakat perlu dikaji sebagai bagian dari sistem pendidikan berbasis nilai. Peran guru dalam pendidikan agama sangat menentukan keberhasilan proses pembentukan karakter peserta didik. Guru yang mampu mengintegrasikan nilai religius dalam proses pembelajaran akan lebih efektif dalam menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, serta kesadaran spiritual pada peserta didik. Integrasi nilai-nilai tersebut dapat dilakukan melalui metode pembelajaran yang menekankan keteladanan, pembiasaan, serta penguatan nilai moral dalam setiap kegiatan pembelajaran (Fadhilah et al. , 2. Kepemimpinan pendidikan juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran berbasis komunitas. Penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan religius berpengaruh terhadap peningkatan budaya disiplin dan partisipasi belajar peserta didik (Rahman et al. Selain itu, kepemimpinan pendidikan Islam yang efektif menekankan pada keteladanan dan integritas moral sebagai inti pengaruhnya (Baharun, 2. Hal ini menunjukkan bahwa figur guru dalam pendidikan nonformal memiliki peran strategis dalam membangun kualitas Dalam konteks pendidikan Islam, disiplin tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam menjalankan Pendidikan disiplin yang berbasis nilai religius dapat membantu peserta didik memahami pentingnya keteraturan dalam kehidupan, baik dalam aktivitas belajar maupun dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, penerapan disiplin dalam pendidikan agama menjadi bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik yang bertanggung jawab (Jalwis. Lebih lanjut, pendidikan berbasis masyarakat menjadi bagian dari pengembangan pendidikan dan pemberdayaan sosial. Pendidikan komunitas mampu memperkuat ketahanan sosial dan meningkatkan kualitas generasi muda secara berkelanjutan (Halim & Prasetyo. Pendidikan berkualitas tidak hanya diukur melalui indikator akademik, tetapi juga melalui kontribusinya terhadap pembangunan karakter dan keberlanjutan sosial (Sanjaya. Oleh karena itu, analisis terhadap praktik pendidikan agama berbasis komunitas menjadi relevan dalam kajian pendidikan kontemporer. Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 Kepemimpinan pendidikan yang berbasis nilai religius juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan proses pendidikan. Pemimpin pendidikan yang mampu memberikan teladan dalam sikap, perilaku, serta komitmen terhadap nilai moral akan lebih mudah membangun budaya belajar yang positif dalam lingkungan pendidikan. Kepemimpinan yang efektif mampu menggerakkan seluruh unsur pendidikan untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik (Badriyah & Suwandi, 2023 Pendidikan agama Islam memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik, terutama dalam menanamkan nilai religius, tanggung jawab, serta kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran pendidikan agama tidak hanya berfokus pada penguasaan materi keagamaan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai moral dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, pendidikan agama berfungsi sebagai sarana pembinaan karakter yang mampu membentuk generasi yang memiliki integritas moral dan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat (Nasution et al. Guru memiliki peran strategis dalam proses internalisasi nilai-nilai pendidikan agama kepada peserta didik. Dalam praktik pembelajaran, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap, perilaku, serta kedisiplinan. Keteladanan tersebut menjadi faktor penting dalam membentuk karakter siswa karena peserta didik cenderung meniru perilaku yang dicontohkan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari (Supriyandi et al. , 2. Selain melalui pembelajaran di lembaga pendidikan formal, penanaman nilai religius juga dapat dilakukan melalui kegiatan pendidikan nonformal yang berkembang di masyarakat. Kegiatan pengajian, majelis taklim, maupun pembelajaran Al-QurAan di lingkungan masyarakat menjadi sarana penting dalam memperkuat pemahaman keagamaan generasi Pendidikan berbasis masyarakat ini memberikan kontribusi dalam membangun kesadaran religius serta memperkuat hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat (Munawir et al. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, karena penelitian bertujuan memahami secara mendalam praktik keikhlasan, kedisiplinan, dan kepemimpinan pendidikan dalam pengajian yang diasuh oleh Bapak Ali Ahsan di Dukuh Tanggulangin. Desa Jati Wetan. Kecamatan Jati. Kabupaten Kudus. Pendekatan kualitatif dipilih untuk menggali makna, nilai, dan pengalaman sosial secara kontekstual dalam lingkungan pendidikan berbasis masyarakat. Studi kasus memungkinkan peneliti mengeksplorasi fenomena secara holistik, naturalistik, dan mendalam sesuai dengan realitas lapangan, khususnya dalam pendidikan agama nonformal. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan secara langsung dengan Bapak Ali Ahsan serta beberapa santri dan wali santri untuk memperoleh data mengenai praktik pembelajaran dan nilai yang diterapkan. Observasi dilakukan untuk melihat interaksi pedagogis, kedisiplinan, serta dinamika pengajian. Data dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, sehingga hasil penelitian memiliki validitas dan kredibilitas yang kuat (Murdiyanto. Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 HASIL DAN PEMBAHASAN Keikhlasan dalam Perspektif Pendidikan Agama dan Implementasinya Keikhlasan dalam pendidikan merupakan nilai spiritual yang menjadi landasan moral bagi seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Guru yang memiliki keikhlasan dalam mengajar akan lebih mampu membangun hubungan emosional yang positif dengan peserta didik, sehingga proses pembelajaran berlangsung secara lebih humanis dan penuh makna. Nilai keikhlasan juga berkontribusi dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif serta meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran (Wasehudin et al. , 2. Keikhlasan dalam pendidikan agama juga dapat diartikam sebagai fondasi moral yang membentuk orientasi guru dalam menjalankan tugas pedagogik. Di Dukuh Tanggulangin. Desa Jati Wetan. Kecamatan Jati. Kabupaten Kudus, praktik ini tercermin dalam pengabdian Bapak Ali Ahsan sebagai guru ngaji yang mengajar tanpa orientasi material, berlandaskan nilai ibadah dan pengabdian sosial. Penelitian menunjukkan bahwa nilai religius guru berpengaruh terhadap peningkatan kedisiplinan dan motivasi belajar peserta didik (Rohana et , 2. Dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, keikhlasan merupakan dimensi etik yang membentuk profesionalitas guru sebagai teladan moral. Pendidikan berbasis nilai spiritual membangun integritas dan tanggung jawab sosial peserta didik (Tafsir, 2. Keikhlasan Bapak Ali Ahsan memperlihatkan bahwa proses pembelajaran Al-QurAan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembinaan karakter dan akhlak santri. Kepemimpinan berbasis nilai yang diterapkan oleh Bapak Ali Ahsan juga sejalan dengan teori kepemimpinan transformasional dalam pendidikan, di mana keteladanan moral meningkatkan komitmen belajar peserta didik (Afandi, 2. Ketulusan beliau dalam membimbing santri menciptakan suasana belajar yang kondusif dan penuh penghormatan. Selain itu, pendidikan karakter abad ke-21 menekankan pentingnya integritas guru sebagai role model dalam pembentukan moral siswa (Suryadi, 2. Dalam konteks ini, keikhlasan Bapak Ali Ahsan menjadi kekuatan utama dalam membangun kepercayaan dan kedekatan emosional antara guru dan santri. Keikhlasan dalam pendidikan juga berkaitan dengan komitmen spiritual seorang pendidik dalam menjalankan tugasnya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Guru yang mengajar dengan niat pengabdian cenderung mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih humanis serta membangun hubungan emosional yang positif dengan peserta didik. Nilai keikhlasan tersebut berkontribusi dalam meningkatkan motivasi belajar serta membangun kepercayaan antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran (Wasehudin et al. , 2. Kedisiplinan sebagai Pilar Pendidikan Berkualitas dalam Praktik Pengajian Kedisiplinan merupakan salah satu nilai karakter yang penting dalam proses pendidikan karena berkaitan dengan tanggung jawab dan keteraturan dalam menjalankan aktivitas belajar. Pembentukan karakter disiplin dapat dilakukan melalui pembiasaan kegiatan yang terstruktur dan konsisten dalam kegiatan pendidikan. Melalui proses pembiasaan tersebut, peserta didik akan belajar untuk menghargai waktu, mematuhi aturan, serta memiliki komitmen terhadap proses pembelajaran yang dijalani (Anirah et al. , 2. Kedisiplinan ialah elemen utama dalam pendidikan berkualitas. Di pengajian yang diasuh oleh Bapak Ali Ahsan, santri dibiasakan hadir tepat waktu, menjaga adab, serta konsisten dalam membaca Al-QurAan. Penelitian menunjukkan bahwa peran guru dalam membangun karakter disiplin berpengaruh signifikan terhadap perilaku siswa (Dewi et al. Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 Dalam perspektif manajemen pendidikan, budaya disiplin menentukan efektivitas lembaga pendidikan (Hidayat & Wijaya, 2. Praktik yang diterapkan Bapak Ali Ahsan mencerminkan fungsi controlling dalam manajemen pendidikan nonformal, meskipun dilakukan dalam skala komunitas. Penelitian pascapandemi juga menunjukkan bahwa penguatan disiplin melalui keteladanan guru membantu memulihkan budaya belajar peserta didik (Febrian et al. , 2. Disiplin yang diterapkan secara konsisten oleh Bapak Ali Ahsan membangun komitmen internal santri terhadap proses belajar. Lebih lanjut, kepemimpinan dan disiplin kerja guru memiliki pengaruh langsung terhadap peningkatan mutu pendidikan (Suwarni et al. , 2. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi dan konsistensi kehadiran santri dalam pengajian di Dukuh Tanggulangin. Desa Jati Wetan. Kecamatan Jati. Kabupaten Kudus. Pembentukan karakter disiplin dalam pendidikan dapat dilakukan melalui proses pembiasaan yang berkelanjutan. Pembiasaan tersebut meliputi keteraturan dalam mengikuti kegiatan belajar, ketepatan waktu, serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku dalam lingkungan pendidikan. Melalui pembiasaan tersebut, peserta didik akan belajar untuk menghargai waktu serta memiliki tanggung jawab terhadap proses pembelajaran yang dijalani (Anirah et al. , 2. Peran Kepemimpinan Pendidikan Bapak Ali Ahsan dalam Pembentukan Karakter Sebagai guru ngaji. Bapak Ali Ahsan berperan sebagai pemimpin komunitas belajar berbasis religiusitas. Kepemimpinan transformasional dalam pendidikan terbukti meningkatkan budaya disiplin dan komitmen belajar (Afandi, 2. Beliau tidak hanya mengajar, tetapi membimbing dan mengarahkan perkembangan moral santri. Dalam kajian kepemimpinan pendidikan Islam, nilai spiritual menjadi dasar pembentukan budaya belajar yang efektif (Arifin, 2. Keteladanan Bapak Ali Ahsan menciptakan suasana pengajian yang harmonis dan penuh penghormatan. Kepemimpinan dalam pendidikan memiliki peran penting dalam mengarahkan proses pembelajaran serta membangun budaya belajar yang positif dalam lingkungan pendidikan. Pemimpin pendidikan yang memiliki integritas moral dan komitmen terhadap nilai religius mampu memberikan pengaruh positif bagi peserta didik maupun masyarakat. Kepemimpinan yang berbasis nilai juga dapat meningkatkan motivasi belajar serta memperkuat budaya disiplin dalam kegiatan pendidikan (Akhyar et al. , 2. Penelitian menunjukkan bahwa keteladanan guru memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter siswa (Hidayati & Nur, 2. Sikap disiplin, kesabaran, dan konsistensi yang ditunjukkan Bapak Ali Ahsan membentuk karakter tanggung jawab pada Selain itu, integrasi pembelajaran tajwid dan nilai religius dalam pengajian meningkatkan kualitas literasi dan karakter spiritual santri (Maulana, 2. Dengan demikian, peran beliau mencakup dimensi pendidikan bahasa, karakter, dan sosial secara Kepemimpinan pendidikan yang efektif tidak hanya berfokus pada aspek manajerial, tetapi juga pada pembinaan nilai moral dan spiritual peserta didik. Pemimpin pendidikan yang mampu mengintegrasikan nilai religius dalam kepemimpinannya akan lebih mudah membangun budaya belajar yang positif dalam lingkungan pendidikan. Kepemimpinan yang berbasis nilai terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik serta memperkuat budaya disiplin dalam kegiatan pendidikan (Akhyar et al. , 2. Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 Dalil tentang Keikhlasan. Kedisiplinan, dan Kepemimpinan dalam Perspektif AlQuran dan Hadis Dalil tentang Keikhlasan Keikhlasan yang tercermin dalam praktik pendidikan agama tersebut juga memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam, baik dalam Al-QurAan maupun hadis Nabi. Al-QurAan menegaskan bahwa ibadah dan segala bentuk pengabdian kepada Allah harus dilakukan dengan niat yang tulus dan murni. Allah SWT ca aACa Aa ea aA a cAcEEaa as e aOAU OaNaa OA aOA a a Auacac a ec aA eOea uaOaOeEaa eO aIA a c Aa a eO aA Artinya:AuSesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-QurAa. dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ay (QS. Az-Zumar: . Ayat ini menunjukkan bahwa inti dari setiap amal, termasuk aktivitas pendidikan dan pengajaran agama, adalah kemurnian niat yang hanya ditujukan kepada Allah SWT. Dalam konteks pendidikan, nilai ikhlas mendorong seorang pendidik untuk menjalankan tugasnya sebagai bentuk ibadah, bukan semata-mata demi kepentingan duniawi. Dengan demikian, pengabdian seorang guru ngaji seperti Bapak Ali Ahsan yang mengajar tanpa orientasi materi merupakan implementasi nyata dari prinsip keikhlasan yang diajarkan dalam Al-QurAan (Daud. Muthalib, & Djuned, 2. Prinsip keikhlasan tersebut juga diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya ketulusan hati dalam setiap amal. Rasulullah SAW bersabda: ca AAOacOA ca aA eNaa CaNa aO aNA ca aA ea aaO aN aO aeaa a a aOA e a AOacUa A a a acEEA a acEEA a acEEA a AOa eO aNa aOA a caea OA ca aA aO aOOe Ua eO aC aO as aa as eaa CaNa aEa auOaNa au acEA aAcEEaa a aOAU as eaa Ca eO a aNA a a a a Artinya: Dari Abu Hurairah r. , ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: AuOrang yang paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan LA ilAha illA AllAh dengan ikhlas dari hatinya. Ay (Hadis di riwayatkan oleh Imam Bukhar. Hadis ini menegaskan bahwa keikhlasan merupakan unsur utama yang menentukan nilai suatu amal di sisi Allah SWT. Dalam dunia pendidikan Islam, ketulusan seorang pendidik dalam membimbing dan mengajarkan ilmu kepada peserta didik menjadi faktor penting dalam membentuk keberkahan ilmu dan keberhasilan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sikap ikhlas yang ditunjukkan oleh seorang guru tidak hanya berdampak pada kualitas pengajaran, tetapi juga menjadi teladan moral bagi peserta didik dalam menumbuhkan karakter yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. (Insanudin & Rosyadi, 2. Dalil tentang Kedisiplinan Kedisiplinan merupakan elemen penting dalam pendidikan Islam, terutama dalam membentuk karakter peserta didik. Al-QurAan menekankan pentingnya pengelolaan waktu dan komitmen terhadap amal saleh sebagai bagian dari sikap Allah SWT berfirman: ca ACa aO a aOAaOe aOA ca AaOaa aseaO aO aOaO OA a Aua acEa OacA a aeA a AA aO aA a c Aa aO a aOAaOe a eO aA Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 Artinya: Au. , kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam Ay (QS. Al-AAshr: . Ayat tersebut menunjukkan bahwa kedisiplinan tercermin dalam kemampuan memanfaatkan waktu dengan baik, melaksanakan kewajiban secara konsisten, serta menjaga komitmen dalam kebenaran dan kesabaran (Suryani et al. Selain itu, konsep kedisiplinan juga ditegaskan dalam hadis Nabi yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap amanah. Rasulullah SAW bersabda: a aaea AcEEaa A a A a ca AAOacOA ca aAea aaONA ca a aa a a aOA ca aA e aA aUcaAOA a a aAcEEA a acEEA a ae AA a acEEA a AOa eO aNa aOA a aA e aNa CaNA e sa aAuE as aUa aa aO aN aOA e sa aUe AOaCaO aNa aIOac aI eUa aa aO aIOac aIA aA aONa ea a aOaca aNA a aA aONa ea a aOaca aNa AA e sa aAO a aOa aa AaO a eN aO aNa aO aN aOA Aa aOe a aNA a A aOOae a a aOaa AaO a eOAUA aONa ea a aOaca aNA ca AaOA e sa aO aN aOA A aO aOa ea a aOaca aNA Artinya:Dari Abdullah bin Umar r. , ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: AuSetiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin adalah pemelihara bagi rakyatnya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas rumah tangga tersebut. Ay (Hadis di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Musli. Hadis ini menunjukkan bahwa kedisiplinan berkaitan erat dengan tanggung jawab terhadap tugas yang diemban oleh setiap individu (Andriana et al. , 2. Nilai-nilai tersebut dapat dilihat dalam praktik pengajian yang diasuh oleh Bapak Ali Ahsan. Santri dibiasakan hadir tepat waktu, menjaga adab, serta konsisten dalam membaca Al-QurAan. Kebiasaan ini mencerminkan penerapan nilai disiplin dalam memanfaatkan waktu sebagaimana yang ditekankan dalam QS. Al-AAshr serta tanggung jawab terhadap kewajiban menuntut ilmu sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi. Dalil tentang Kepemimpinan Allah berfirman tentang kepemimpinan di dalam Al-Quran Surat AlBaqarah ayat 30: a AaO aNA a Aa a aOOaU na CaOaO a a ea aOa AaO aN as eaa O ea a eAaOua ea CaNa aacEaa aO eOaaEa aI aa uacacO a aOa AaO eaA a aa a OaEaa na CaNa au accO a eOa aUa as aEa a eOA e AaO aOA aOA a cA ac aa ae aEaa aOcaCaA a ac a A aA aEa O ac asa aOca eA Artinya: AuDan . ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat. ASesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. Mereka berkata. AApakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?A Allah berfirman. ASesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Q. S AlBaqarah:. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia dijadikan sebagai khalifah . di bumi, sehingga memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 menjaga kehidupan dengan baik. Hal ini berkaitan dengan nilai kepemimpinan, tanggung jawab, disiplin, dan profesionalitas dalam menjalankan amanah. (Muliyanty. Hamdanah, & Fahmi, 2. Dan terdapat juga di dalam hadis nabi yang menjelaskan tentang a eE a ascaA a AOacUa ua ca AAOacOA ca aA eNaa CaNa aaO aNA ca aA ea aaO aN aO aeaa a a aOA a acEEA a acEEA a aAOacA a acEEA a AOa eO aNa aOA a a eEase aa auOaOA ca aA a aN Oa aaONA a AeAa auA c a aAcEEa CaNa aua OA aAO aea a eN aO aNA a AA a a ec a a aa Oac a CaNa aIOA a ec a a aa Oac a Artinya: Dari Abu Hurairah r. Rasulullah bersabda: AuApabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari kiamat. Ay Seseorang bertanya. AuBagaimana menyia-nyiakan amanah itu wahai Rasulullah?Ay Beliau menjawab. AuApabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran. Ay (Hadis di riwayatkan oleh Imam Bukhor. Hadis tersebut menjelaskan bahwa amanah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan diberikan kepada orang yang memiliki kemampuan atau keahlian dalam bidangnya. Rasulullah menegaskan bahwa salah satu bentuk menyia-nyiakan amanah adalah ketika suatu urusan atau jabatan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan dalam kehidupan masyarakat karena tugas tidak dijalankan secara benar dan profesional. Oleh karena itu, hadis ini menjadi dasar penting dalam Islam bahwa setiap pekerjaan, kepemimpinan, dan tanggung jawab harus diberikan kepada orang yang kompeten, amanah, dan memiliki keahlian agar tercipta keteraturan, keadilan, serta kebaikan dalam kehidupan bersama. (Pratiwi, 2. Implikasi Sosial Pendidikan Berbasis Nilai di Dukuh Tanggulangin. Desa Jati Wetan. Kecamatan Jati. Kabupaten Kudus. Pendidikan agama yang diasuh oleh Bapak Ali Ahsan memberikan dampak sosial terhadap masyarakat Dukuh Tanggulangin. Pendidikan berbasis komunitas terbukti memperkuat kohesi sosial dan nilai kebersamaan (Rohman, 2. Dalam perspektif mutu pendidikan, kualitas tidak hanya diukur dari capaian akademik tetapi juga dari kontribusi sosialnya (Fathurrahman, 2. Praktik keikhlasan dan kedisiplinan yang diterapkan memperkuat budaya religius masyarakat setempat. Penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai religius dalam pembelajaran meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan (Nasution, 2. Hal ini terlihat dari dukungan orang tua dan masyarakat terhadap kegiatan pengajian. Studi terbaru juga menegaskan bahwa pendidikan karakter berbasis komunitas menjadi strategi efektif dalam membangun generasi muda yang berdaya saing dan beretika (Prasetyo, 2. Model pendidikan yang diterapkan oleh Bapak Ali Ahsan menjadi contoh praktik pendidikan berbasis nilai yang relevan secara sosial di lingkungan masyarakat Pendidikan agama yang berkembang di lingkungan masyarakat tidak hanya berdampak pada peningkatan pemahaman keagamaan peserta didik, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat secara luas. Kegiatan pendidikan berbasis komunitas dapat memperkuat solidaritas sosial serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pendidikan. Melalui pendidikan yang berorientasi pada nilai religius, masyarakat dapat membangun budaya sosial yang lebih harmonis dan berlandaskan pada nilai moral (Amelia & Dafit, 2. Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 Pendidikan agama yang berkembang dalam lingkungan masyarakat juga memberikan kontribusi penting terhadap penguatan nilai sosial dan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan pengajian yang dilakukan secara rutin tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan peserta didik, tetapi juga mempererat hubungan sosial antaranggota masyarakat. Melalui kegiatan pendidikan berbasis komunitas, nilai-nilai religius dapat ditanamkan secara lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari (Halim & Prasetyo, 2. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa implementasi keikhlasan dan kedisiplinan dalam pendidikan agama berbasis nilai yang diasuh oleh Bapak Ali Ahsan di Dukuh Tanggulangin. Desa Jati Wetan. Kecamatan Jati. Kabupaten Kudus, menunjukkan bahwa pendidikan agama nonformal memiliki kontribusi signifikan dalam pembentukan karakter, budaya religius, serta penguatan kohesi sosial masyarakat. Keikhlasan guru menjadi fondasi utama dalam membangun kedekatan emosional, kepercayaan, dan motivasi belajar santri, sementara kedisiplinan yang diterapkan melalui keteladanan dan pembiasaan mampu membentuk tanggung jawab, konsistensi, dan komitmen belajar yang berkelanjutan. Kepemimpinan berbasis nilai religius yang dijalankan tidak hanya berfungsi sebagai pengarah proses pembelajaran Al-QurAan, tetapi juga sebagai penggerak partisipasi sosial dan penguatan nilai moral di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, model pendidikan agama berbasis komunitas yang menekankan keikhlasan dan kedisiplinan relevan untuk dikembangkan sebagai strategi pendidikan karakter dalam konteks pendidikan kontemporer. Ke depan, penelitian lanjutan dapat mengkaji pengembangan model ini dalam skala yang lebih luas serta integrasinya dengan kebijakan pendidikan formal guna memperkuat sinergi antara pendidikan keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan. DAFTAR PUSTAKA