Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 10 No. 1 Tahun 2021 Kemampuan Jerami Padi Sebagai Alternatif Surfaktan Alami Dalam Pembuatan Sabun Padat Berbasis Minyak Goreng Bekas Dwi Ayuningtyas1. Dwi Sari Astuti1,*Aldi Budi Riyanta1. Program Studi Di Farmasi. Politeknik Harapan Bersama Jl. Mataram No. Kota Tegal, 52147 email: aldi. kimor@gmail. Article Info Abstrak Article history: Submission September 2020 Accepted Desember 2020 Publish Januari 2021 Surfaktan dalam sediaan sabun berfungsi sebagai bahan aktif yang mampu menurunkan tegangan permukaan antara minyak dengan air. Selama ini surfaktan yang banyak digunakan untuk sediaan sabun adalah surfaktan kimia ataupun sintetis. Maka dari itu dalam upaya melindungi keamanan lingkungan perlu ditemukan surfaktan dari bahan alam. Salah satu surfaktan yang dapat dibuat dari bahan alam adalah surfaktan berbasis lignin, yaitu sodium Surfaktan lignosulfonat dari jerami padi dibuat dengan beberapa tahapan yaitu pembebasan serbuk jerami bebas bahan ekstraktif, proses delignifikasi dengan NaOH dan proses sulfonasi dengan Natrium metabisulfit. Sodium lignosulfonat yang dibuat selanjutnya diaplikasikan ke dalam sediaan sabun padat yang menggunakan minyak goreng bekas teradsorpsi. Formulasi sabun padat yang dibuat ada 2 yaitu sabun dengan penambahan sodium lignosulfonat 0,11 % dan sabun tanpa penambahan sodium Berdasarkan hasil penelitian yang di analisis secara deskriptif, pengamatan terhadap kadar air, stabilitas busa, jumlah asam lemak, dan alkali bebas secara berturut-turut pada formula 1 adalah 27,25 %, 93,75 %, 54,10 %, 0,06 %. Pada formula 2 diperoleh 45,5 %, 94,28 %, 6,60 %, dan 0,08%. Uji statistika menggunakan One Way Anova dengan taraf kepercayaan 95% dan signifikansi 5%. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa penggunaan surfaktan sodium lignosulfonat jerami padi berpengaruh terhadap sifat fisik sabun padat minyak goreng bekas teradsorpsi. Kata kunciAi Surfaktan. Sodium Lignosulfonat. Sabun. Minyak Goreng Bekas Ucapan terima kasih: Abstract Surfactants in soap preparations serve as active ingredients that can reduce surface tension between oil and water. So far, surfactant for soap preparations widely used is either chemical or synthetic surfactants. Therefore, in order to protect the environmental safety need to find surfactants from natural materials. One of the surfactants that can be made from natural ingredients is a ligninbased surfactant, namely sodium lignosulfonate. The lignosulfonate surfactant from rice straw was prepared by several stages of extractive free straw powder release, delignification process with NaOH and sulfonation process with sodium The sodium lignosulfonates prepared thereafter were applied to a solid soap preparation by using waste cooking oil adsorbed. A solid soap formulation was made into 2 soaps with the addition of 0,11% sodium lignosulfonate and soap without the addition of sodium lignosulfonate. Based on the results of the descriptive analysis, the observations of water content, foam stability, the amount of fatty acids, and the free alkali in formula 1 are 27,25%, 93,75%, 54,10%, 0,06 %. In the formula 2 is obtained 45,5%, 94,28%, 6,60%, and 0,08%. Statistical test was using One Way Anova with 95% validity and 5% It can be seen that the use of the surfactant sodium lignosulfonate Dwi Ayuningtyas. Dwi Sari Astuti. Aldi Budi Riyanta Vol 10 . 2021 pp 40-50 from rice straw gives effect on the physical properties of the waste cooking oils adsorbed solid soap. Keywords:Surfactant. Sodium Lignosulfonat. Soap. Waste Cooking Oil DOI 30591/pjif. v%vi%i. A2021Politeknik Harapan Bersama Tegal Alamat korespondensi: Prodi Di Farmasi Politeknik Harapan Bersama Tegal Gedung A Lt. Kampus 1 Jl. Mataram No. 09 Kota Tegal. Kodepos 52122 Telp. E-mail: parapemikir_poltek@yahoo. Dwi Ayuningtyas. Dwi Sari Astuti. Aldi Budi Riyanta Vol 10 . 2021 pp 40-50 p-ISSN: 2089-5313 e-ISSN: 2549-5062 tegangan permukaan. Akibatnya air dapat Pendahuluan Minyak goreng bekas atau yang biasa disebut menyebar membasahi seluruh permukaan dan dengan minyak jelantah adalah minyak limbah mengangkat kotoran. yang bisa berasal dari jenis-jenis minyak goreng Surfaktan dapat diproduksi secara sintetis, seperti halnya minyak jagung, minyak sayur, kimiawi maupun biokimiawi. Bahan baku minyak samin dan sebagainya. Minyak ini surfaktan dapat terbuat dari sumber nabati yang merupakan minyak bekas pemakaian kebutuhan bersifat dapat diperbaharui, mudah terurai, tidak rumah tangga umumnya. Sehubungan dengan mengganggu aktivitas enzim dan proses banyaknya minyak goreng bekas dari sisa industri produksinya yang lebih bersih sehingga sejalan maupun rumah tangga dalam jumlah tinggi dan dengan isu lingkungan. Bahan lignoselulosa menyadari adanya bahaya konsumsi minyak merupakan bahan yang potensial sebagai bahan goreng bekas, maka perlu dilakukan upaya-upaya baku surfaktan. Salah satunya adalah jerami padi untuk memanfaatkan minyak goreng bekas karena mempunyai kandungan lignin yang cukup tersebut agar tidak terbuang dan mencemari besar yaitu 12-16% yang merupakan bahan baku Pemanfaatan minyak goreng bekas ini pembuat sodium lignosulfonat. dapat dilakukan dengan pemurnian agar dapat Penelitian sebelumnya sudah dilakukan digunakan kembali sebagai media penggorengan pembuatan surfaktan berbahan dasar jerami padi atau digunakan sebagai bahan baku produk untuk dibuat surfaktan berbasis lignin yaitu berbasis minyak seperti sabun. Sodium lignosulfonat yang dijadikan sebagai Minyak goreng bekas yang telah mengalami surfaktan dalam proses Enhanced Oil Recovery recycling yang terdiri dari tahapan steaming, (EOR). Surfaktan sodium lignosulfonat yang netralisasi, dan pemucatan . kualitasnya dihasilkan dalam proses tersebut membentuk mendekati Standar Industri Indonesia (SII), namun emulsi tipe air dalam minyak. Adanya dikhawatirkan masih mengandung bahan kemampuan membentuk emulsi tipe air dalam berbahaya bagi kesehatan apabila dikonsumsi minyak inilah yang mendorong peneliti untuk sebagai bahan pangan. Oleh karena itu alternatif melakukan penelitian mengenai pengaruh pemanfaatan yang terbaik adalah untuk bahan penggunaan surfaktan sodium lignosulfonat dari baku industri sabun, sehingga nilai manfaat dan jerami padi terhadap sifat fisik sabun padat dari . ekonominya pun dapat meningkat . minyak goreng bekas teradsorpsi. Sabun adalah garam alkali . iasanya garam Metode natriu. dari asam-asam lemak. Sabun 1 Alat mengandung terutama garam C16 dan C18 namun Alat yang digunakan adalah neraca analitik, dapat juga mengandung beberapa karboksilat glass 250 ml dan 50 ml, kasa asbes, kaki dengan bobot atom lebih rendah. Sabun tiga, kompor spiritus, corong pisah 500 ml, batang berfungsi untuk memidahkan kotoran dari pengaduk, corong kaca 75 mm, termometer, permukaan seperti kulit, lantai, atau kain. Kotoran erlenmeyer 250 ml dan 1000 ml, gunting, blender, biasanya merupakan campuran dari bahan selongsong soxhlet, labu alas bulat 1000 ml dan padat. Untuk 250 ml, kondensor soxhlet, klem, statif, autoclave, membersihkan kotoran yang berupa minyak, buret 25 ml, centrifuge, magnetic stirer, kondensor pembilasan dengan air saja tidak cukup. destilasi, pipa T, pipa alonga, corong buchner. Dibutuhkan zat lain untuk menurunkan tegangan water bath, oven, tabung reaksi, penggaris, kurs antar muka antara minyak dengan air. Dengan porselen, pipet tetes, serta kaca arloji. adanya sifat surfaktan pada sabun, terjadi proses 2 Bahan emulsifikasi sehingga bagian yang polar Jerami padi diperoleh dari hasil pertanian di . berikatan dengan air dan bagian non Desa Baros Kecamatan Ketanggungan Kabupaten polar . berikatan dengan minyak. Bagian Brebes, minyak goreng bekas dari pedagang non polar dari sabun memecah ikatan antar gorengan di Pasar pagi Kota Tegal, aquadest, molekul minyak sehingga dapat menurunkan Dwi Ayuningtyas. Dwi Sari Astuti. Aldi Budi Riyanta Vol 10 . 2021 pp 40-50 natrium hidroksida, kertas saring, benang jagung, karbon aktif, kain flanel, ethanol, indikator phenolphtalein, indikator metil jingga, kalium hidroksida, asam asetat glasial, kloroform, kalium iodat, natrium thiosulfat, toluen, aluminium foil, plastik wrap, asam sulfat, natrium metabisulfit, metanol, asam stearat, gliserin, sukrosa, asam sitrat, natrium klorida, pH stik dan pH meter, parafin padat. 3 Metode 1 PengumpulanBahanTanaman Pembuatan Serpihan Jerami Bebas Bahan Ekstraktif Serpihan jerami di soxhletasi dengan 3 tahap. Tahap pertama serpihan jerami di soxhletasi dengan menggunakan pelarut toluen dan etanol dengan perbandingan 1:2 . selama 2 jam. Tahap kedua, serpihan jerami disoxhletasi kembali dengan menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 250 ml selama 2 jam. Tahap ketiga, disoxhketasi kembali menggunakan air sebanyak 250 ml dengan suhu 100EE selama 1 jam . Delignifikasi Jerami padi yang diperoleh dari lahan Jerami bebas bahan ekstraktif didelignifikasi pertanian di Desa Baros. Kecamatan dengan menggunakan NaOH sebanyak 10% dari Ketanggungan. Kabupaten Brebes. berat kering serpihan bersamaan dengan etanol 2 Formulasi Sediaan Sabun sebanyak 10:1 dari berat kering serpihan jerami Tabel 1. Formula SediaanSabun Campuran tersebut kemudian dimasukan ke Formula dalam erlenmeyer dan ditutup dengan aluminium Bahan foil dan plastik wrap. F1(%) F2(%) Erlenmeyer yang telah tertutup rapat Asam stearat 5,49 5,49 selanjutnya dimasukan ke dalam autoclave untuk Minyak jelantah 21,39 21,39 dimasak pada suhu 116EE selama 1 jam. Hasil dari proses delignifikasi jerami padi terdiri dari 2 NaOH 21,71 21,71 bagian yaitu lindi hitam dan serpihan . Gliserin 13,90 13,90 Serpihan yang diperoleh selanjutnya dicuci dengan menggunakan aseton. Kemudian sisa aseton dan Gula 8,02 8,02 aqua ditambahkan pada lindi hitam. Campuran Asam sitrat 3,20 3,20 tersebut dipisahkan dengan menggunakan kain flanel untuk memisahkan filtrat dan residu . Surfaktan jerami 0,11 Uji kualitatif lignin Uji kualitatif lignin dilakukan dengan NaCl 3,20 3,20 menyaring air hasil delignifikasi kemudian ditambahkan dengan larutan FeCl3. Uji positif Air Ad 100 Ad 100 adanya lignin pada air sisa delignifikasi ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi merah 3 Pembuatan Surfaktan bata . PersiapanBahan Isolasi lignin Jerami padi yang diperoleh dari lahan Lindi hitam yang merupakan filtrat yang pertanian dicuci bersih dengan menggunakan air diperoleh dari proses delignifikasi dititrasi dengan mengalir dengan maksud untuk membersihkan menggunakan H2SO4 20%. Titrasi dilakukan kotoran-kotoran seperti tanah yang masih secara perlahan dengan kecepatan 1 ml/menit tertinggal pada jerami untuk kemudian sampai filtrat memiliki pH 2. Hasil titrasi tersebut dikeringkan di udara terbuka yang terkena sinar kemudian didiamkan selama 8 jam agar diperoleh Jerami padi yang telah kering kemudian endapan yang sempurna. Endapan yang terbentuk dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil yaitu A merupakan endapan lignin yang harus dipisahkan 0,5 cm. Selanjutnya jerami padi diblender hingga dari lindi hitam menggunakan alat centrifuge menjadi serpihan (Murni dkk. , 2. dengan kecepatan 3500 rpm selama 20 menit. Selanjutnya endapan lignin yang diperoleh Dwi Ayuningtyas. Dwi Sari Astuti. Aldi Budi Riyanta Vol 10 . 2021 pp 40-50 dilarutkan kembali ke dalam larutan alkali yaitu . NaOH 1 N. Endapan lignin kemudian kembali . dititrasi dengan H2SO4 20% dan kembali Penghilangan bumbu . dipisahkan dengan menggunakan alat centrifuge. Pada proses ini minyak goreng bekas dicampurkan Endapan lignin selanjutnya disaring dengan dengan air dengan komposisi yang sama yaitu menggunakan kertas saring. , kemudian dipanaskan hingga air tinggal Endapan lignin selanjutnya dicuci dengan Kotoran-kotoran tersebut . artikel menggunakan H2SO4 0,01 N kemudian dengan halus tersuspens. akan larut dalam air dan ikut aquadest dan disaring dengan penyaring vakum. mengendap di bawah air, sehingga pada proses ini Endapan lignin dikeringkan dalam oven selama 2 diperoleh minyak yang bebas bumbu. Komposisi jam hingga dihasilkan lignin berbentuk tepung . minyak dan air kemudian dipisahkan dengan corong pisah, terdapat dua lapisan pada proses Sulfonasi lignin Lignin yang berbentuk tepung dari proses despicing, lapisan paling atas adalah minyak dan sebelumnya sebanyak 0,6 gram ditambahkan lapisan bawah adalah air, karena berat jenis air dengan air sebanyak 18 ml yang dimasukan ke lebih besar dari berat jenis minyak . dalam labu alas bulat leher satu ukuran 250 ml. Netralisasi Kemudian tambahkan Sodium metabisulfit Minyak goreng hasil dari proses pembebasan sebanyak 0,36 gram yang dimasukan ke dalam bumbu . terlebih dahulu dipanaskan labu alas bulat dan diatur pH larutan suspensi sampai suhu 60EE. Minyak goreng yang telah sampai pH 7 dengan menambahkan NaOH sedikitpanas ditambahkan dengan NaOH 4 N dalam Campuran bahan tersebut selanjutnya di beaker glass. Campuran minyak dan NaOH aduk untuk memastikan seluruh komponen bahan tersebut di aduk selama 30 menit sampai terbentuk 2 lapisan, kemudian disaring dengan Campuran tersebut kemudian di panaskan di menggunakan kertas saring . atas penangas api kompor spiritus. Pemanasan Pemucatan . dilakukan selama 4 jam dengan suhu berkisar Proses bleaching dilakukan dengan memanaskan antara 90-95oC yang dikontrol dengan minyak pada suhu 70EE. Penambahan karbon aktif menggunakan termometer. Tambahkan air sedikit sebanyak 1 % dari berat minyak, diaduk selama 60 demi sedikit apabila terjadi kenaikan suhu lebih menit sampai suhu mencapai 100 EE, kemudian dari yang 90-95oC. minyak disaring . Pemurnian hasil sulfonasi 5 Pembuatan Sediaan Sabun Hasil sulfonasi lignin harus didestilasi Asam stearat sebanyak 2,745 gram yang terlebih dahulu untuk menguapkan air yang masih berfungsi untuk mengeraskan sabun dimasukan ke terkandung dalam hasil sulfonasi pada suhu 100EE dalam beaker glass 250 ml kemudian di cairkan hingga diperoleh larutan yang pekat. Larutan pekat dengan menggunakan pemanas api kompor hasil destilasi kemudian disaring dengan kertas spiritus sampai meleleh. Kemudian ditambahkan Hasil dari tahapan ini adalah filtrat berupa minyak goreng bekas . inyak jelanta. Sodium lignosulfonat yang masih mengandung teradsorpsi sebanyak 10,695 gram dan aduk lignin dan sodium bisulfit. Filtrat yang diperoleh sampai homogen. Lakukan kontrol pemanasan selanjutnya ditambahkan metanol dan dikocok pada campuran bahan tersebut agar tetap pada kuat hingga diperoleh endapan bisulfit dan suhu yang konstan yaitu pada suhu 65-70EE. dilakukan penyaringan kembali dengan kertas Selanjutnya adalah menambahkan larutan Endapan filtrat yang diperoleh selanjutnya NaOH 32% sebanyak 10,855 gram ke dalam di oven pada suhu 60EE sampai diperoleh sodium beaker glass, aduk sampai terbentuk masa yang lignosulfonat yang kering . Kemudian menambahkan aquadest 4 Pemurnian Minyak Goreng Bekas sebanyak 11,545 g ke dalam beaker glass sedikit Pemunian minyak goreng bekas meliputi 3 demi sedikit sehingga terbentuk massa sabun yang tahap proses yaitu penghilangan bumbu Dwi Ayuningtyas. Dwi Sari Astuti. Aldi Budi Riyanta Vol 10 . 2021 pp 40-50 kalis. Mengontrol suhu campuran bahan berkisar kertas pH. Selanjutnya pH stik antara 65-70o C . dicocokan dengan pH meter. Setelah terbentuk masa sabun yang Uji stabilitas busa homogen, masukan bahan-bahan yang lain seperti Uji stabilitas busa dilakukan dengan gliserin 6,95 gram, sukrosa 4,01 gram, asam sitrat menggunakan metode Cylinder shake. 1,6 gram. NaCl 1,6 gram dan air sebanyak 3,42 Metode ini dilakukan dengan cara gram secara berurutan ke dalam beaker glass dan mengambil sampel sabun padat mengontrol suhunya pada 65-70o C, aduk sampai sebanyak 1 gram kemudian dimasukan Sodium lignosulfonat dari jerami padi ke dalam tabung reaksi yang telah ditambahkan ke dalam massa sabun yang telah diberi skala. Tambahkan aquadest homogen sesuai dengan konsentrasi yang sudah sebanyak 5 ml ke dalam tabung reaksi, ditetapkan pada formula yang telah ditetapkan. kemudian dikocok kuat hingga timbul Pada formula pertama tidak diberikan penambahan busa sampai penuh pada tabung reaksi. sodium lignosulfonat. Sedangkan untuk formula Mengukur tinggi busa yang dihasilkan kedua ditambahkan sodium lignosulfonat secara berturut-turut pada waktu 5, 10, sebanyak 0,05 gram. 15 20, 25 dan 30 menit pada masingSetelah semua bahan tercampur secara masing formula sampel sabun padat homogen, beaker glass diturunkan dari pemanas yang akan diujikan . kompor api spiritus dengan maksud untuk Uji kadar air menurunkan suhu pada campuran bahan. Uji kadar air dilakukan dengan cara Panaskan kembali campuran bahan tersebut diatas dengan menimbang kurang lebih 4 pemanas api spiritus dan aduk perlahan sampai gram sampel sabun yang akan diujikan campuran bahan tersebut berubah menjadi massa dengan menggunakan botol timbang sabun yang bening. Sediaan yang telah dibuat yang telah diketahui berat tetapnya. dituangkan ke dalam cetakan dan memasukan ke Kemudian panaskan dalam lemari dalam lemari pendingin dan tunggu sampai pengering . pada suhu 105EE selama 2 jam sampai berat tetap . 6 Evaluasi Sediaan Sabun Setelah 2 jam sampel sabun uji di oven. Evaluasi yang dilakukan pada sediaan sabun botol timbang . urs porsele. di ambil meliputi uji organoleptik, uji pH, uji dan didinginkan. Selanjutnya kurs stabilitas busa, uji kadar air, uji jumlah asam lemak, dan uji alkali bebas. Uji organoleptik W1-W2 Pengujian sabun secara organoleptik Kadar air x 100% meliputi pengamatan terhadap warna, aroma, dan tekstur sediaan sabun . Uji alkali bebas Uji pH Pengujian alkali bebas pada sabun Uji pH sabun dilakukan dengan berdasarkan SNI 06-3532-1994 yaitu menghaluskan sampel sabun yang akan dengan mengambil alkohol 96% di uji kemudian ditimbang sebanyak 1 sebanyak 100 ml dalam erlenmeyer gram kemudian dimasukan ke dalam 250 ml dan didihkan di atas pemanas beaker glass 50 ml. Selanjutnya api kompor spiritus. Tambahkan 0,5 ml ditambahkan aquadest sebanyak 10 ml indikator phenolphtalein dan dinginkan dan diaduk sampai larut . Kemudian sampai suhu 70EE kemudian netralkan dilakukan pengukuran pH dengan dengan KOH 0,1 N dalam alkohol. menggunakan pH stik yang dimasukan Selanjutnya timbang sampel sabun ke dalam larutan sabun dan mengamati kurang lebih 5 gram dan masukkan ke perubahan warna yang terjadi pada Dwi Ayuningtyas. Dwi Sari Astuti. Aldi Budi Riyanta Vol 10 . 2021 pp 40-50 dalam larutan alkohol tersebut. Larutan kembali di atas penangas air selama 30 Aduk larutan tersebut sampai Kemudian turunkan dari pemanas dan Apabila larutan tidak berwarna merah, titrasi larutan dalam erlenmeyer tersebut dengan larutan KOH 0,1 N dalam alkohol, sampai timbul warna merah yang tahan sampai 15 detik. Tetapi apabila larutan tersebut berwarna merah, maka titrasi dengan menggunakan HCl 0,1 N dalam alkohol dari mikro buret, sampai warna merah tepat hilang . Jumlah asam lemak = Berat wax cake-Berat parafin asal Berat contoh x 100% Hasil dan Pembahasan Evaluasi sifat fisik sabun padat pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan sodium lignosulfonat jerami padi terhadap kualitas sabun yang dihasilkan. Dengan demikian dapat diketahui kesesuaian hasil uji sifat fisik sabun yang dibuat dengan standar uji sifat fisik sabun yang telah ditetapkan dalam SNI 063532-1994 dan kepustakaan lainnya. Pada penelitian ini dibuat 2 formula sabun dimana F1 adalah formula sabun tanpa penambahan sodium lignosulfonat jerami padi dan F2 adalah formula sabun dengan penambahan sodium lignosulfonat jerami padi sebesar 0,11%. Uji Organoleptis Pengujian sabun secara organoleptik meliputi pengamatan terhadap warna, aroma, dan tekstur sediaan sabun. Hasil pengamatan secara organoleptis dari masing-masing formula dapat dilihat pada tabel 1 berikut: Tabel 2. Uji Organoleptis Kriteria Warna Aroma Tekstur Hasil Putih Coklat Khas basis Khas basis Licin Licin Produk Berdasarkan tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa berdasarkan aroma dan tekstur dari sabun yang dihasilkan adalah sabun pada formula 1 dan formula 2 memberikan hasil yang sama, yaitu aroma khas basis dan tekstur sabun yang licin bila Tetapi untuk warna sabun yang masing-masing memberikan warna yang berbeda. Pada formula 1 tanpa penambahan sodium lignosulfonat sabun yang dihasilkan berwarna putih. Sedangkan pada formula 2 yang diberikan tambahan sodium lignosulfonat dari jerami memberikan tampilan warna coklat muda. Warna coklat muda yang dihasilkan dari sabun formula 2 diakibatkan karena serbuk sodium lignosulfonat yang ditambahkan pada sabun berwarna coklat. Oleh karena itu dapat diketahui bahwa penambahan sodium lignosulfonat dari jerami mengakibatkan perubahan warna dari sabun padat. Uji pH Uji pH dilakukan untuk mengetahui nilai keasaman atau kebasaan sediaan sabun padat yang telah dibuat dengan menggunakan indikator pH stik universal. pH sabun umumnya berkisar antara 9,5 Ae 10,8. Kosmetik dengan pH yang sangat tinggi atau sangat rendah dapat meningkatkan daya absorpsi kulit sehingga kulit menjadi teriritasi. Diketahui bahwa pada sabun formula 1 dan formula 2 memiliki nilai pH sabun yang sama yaitu Nilai pH 10 dari sabun padat yang dibuat ini masih memenuhi kriteria sabun. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa penambahan sodium lignosulfonat jerami padi sebesar 0,11% tidak mempengaruhi nilai pH pada sabun yang dibuat. Uji Stabilitas Busa Uji stabilitas busa bertujuan untuk mengetahui stabilitas yang diukur dengan tinggi busa dalam tabung reaksi dengan skala rentan waktu tertentu dan kemampuan surfaktan untuk menghasilkan busa. Stabilitas busa dinyatakan sebagai mempertahankan ukuran dan/atau pecahnya lapisan film pada gelembung, untuk stabilitas busa Dwi Ayuningtyas. Dwi Sari Astuti. Aldi Budi Riyanta Vol 10 . 2021 pp 40-50 setelah 5 menit, busa harus mampu bertahan antara 60-70% dari volume awal. Hasil uji stabilitas busa dapat dilihat pada gambar 1 berikut: Gambar 1. Uji Stabilitas Busa Berdasarkan hasil diatas dapat diketahui bahwa sabun padat yang dibuat memiliki stabilitas busa yang baik. Karena baik formula 1 dan formula 2 busa yang dihasilkan mampu bertahan lama bahkan melebihi standar yang menyatakan bahwa stabilitas busa yang baik setelah 5 menit harus mampu bertahan antara 60-70 % dari volume awal. Stabilitas busa setelah 5 menit pada formula 1 adalah 93,75 % dan pada formula 2 adalah 94,28 % yang berarti > 70 %. Grafik uji stabilitas busa sabun di atas juga menunjukan bahwa stabilitas busa sabun pada formula 1 dan 2 cenderung stabil dari menit ke 5 sampai menit ke 25. Namun terdapat penurunan stabilitas busa pada menit ke 30. Penurunan stabilitas busa disebabkan adanya kontak antara busa sabun dengan udara. Dari hasil ini maka dapat diketahui bahwa stabilitas busa semakin menurun seiring dengan lamanya kontak busa dengan udara Busa yang dihasilkan baik dari sabun formula 1 dan sabun formula 2 memiliki karakteristik busa yang lembut dan berbentuk gelembung kecil-kecil. Hal ini karena jenis asam lemak yang digunakan juga berpengaruh terhadap stabilitas busa, seperti asam laurat yang terdapat dalam minyak goreng bekas teradsorpsi dapat menghasilkan busa yang lembut, sementara asam stearat yang digunakan dalam formula sabun memiliki sifat menstabilkan busa. Uji Alkali Bebas Uji alkali bebas bertujuan untuk mengetahui nilai kandungan alkali dalam bentuk bebas yang terdapat pada sediaan sabun. Selain itu juga untuk menilai kesesuaian nilai alkali bebas yang diperoleh pada hasil uji dengan standar yang telah ditetapkan di dalam SNI 06-3532-1994 yaitu < 0,1 Hasil uji diketahui bahwa alkali bebas pada formula 1 adalah 0,06 % dan pada formula 2 adalah 0,08 %. Hasil uji alkali pada kedua formula sabun tersebut menunjukan bahwa pada kedua formula sabun memiliki nilai alkali < 0,1 %. Yang berarti hasil tersebut masih memenuhi standar sabun yang ditentukan di dalam SNI sabun mandi yaitu maksimal 0,1 %. Apabila terjadi kelebihan alkali bebas yang tidak sesuai dengan standar dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari Sodium Lignosulfonat jerami padi terhadap sabun padat yang dibuat, maka data yang diperoleh dianalisa menggunakan One Way Anova dengan aplikasi SPSS v. Tabel 3 Data Statistik Uji Alkali Bebas ANOVA AlkaliBebas Sum of Squares Mean Square Sig. 13,260 ,022 Between ,001 ,000 ,002 ,000 ,003 Groups Within Groups Total Berdasarkan hasil perhitungan analisa Anova pada tabel diatas diperoleh nilai F hitung 13,260 dan F tabel 7,708647, sehingga didapatkan F hitung > F Tabel ( 13,260 > 7,708647 ). Hal ini menyimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian sodium lignosulfonat pada sabun padat dari minyak goreng teradsorpsi. Kadar air Uji kadar air pada sabun padat dilakukan untuk mengetahui kandungan air yang terdapat Dwi Ayuningtyas. Dwi Sari Astuti. Aldi Budi Riyanta Vol 10 . 2021 pp 40-50 pada sediaan. Kadar air pada sabun berpengaruh pada sifat fisik yang dimilikinya. Hal ini karena sabun yang memiliki kadar air berlebih akan membuat sabun mudah berbau tengik dan sabun menjadi lembek . Hasil uji menunjukan pada formula 1 dan formula 2 yaitu 27,25 % dan 45,5 %. Hasil tersebut menunjukan bahwa pada sabun yang dibuat memiliki kadar air yang cukup tinggi karena melebihi standar yang ditetapkan yaitu 15%. Hal ini juga ditunjukan oleh sifat fisik sabun yang cenderung lembek setelah dilepas dari alat Adanya kadar air yang tinggi pada kedua formula sabun diatas karena adanya bahan tambahan sabun yang mampu mengikat air dengan konsentrasi yang cukup tinggi yaitu seperti sukrosa dan NaCl. Sehingga sebelum diberi penambahan bahan sodium lignosulfonat pun kadar air dari sabun yang dibuat cukup tinggi. Pada tabel uji kadar air di atas juga dapat dilihat bahwa terjadi persentase kenaikan kadar air pada sabun yang diberi sodium lignosulfonat. Kenaikan kadar air dipengaruhi oleh sifat kimia dari senyawa sodium yang memiliki kemampuan mengikat air saat ada kontak dengan udara. Sehingga terjadi oksidasi antara senyawa sodium dari sodium lignosulfonat dengan udara yang menyebabkan terjadinya kenaikan kadar air pada sabun formula 2. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari Sodium Lignosulfonat jerami padi terhadap sabun padat yang dibuat, maka data yang diperoleh dianalisa menggunakan One Way Anova dengan aplikasi SPSS v. Tabel 4 Data Statistik Uji Kadar Air ANOVA Berdasarkan hasil perhitungan analisa Anova pada tabel diatas diperoleh nilai F hitung 170,361 dan F tabel 7,708647, sehingga didapatkan F hitung > F Tabel ( 170,361 > 7,708647 ). Hal ini menyimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian sodium lignosulfonat pada sabun padat dari minyak goreng teradsorpsi. Jumlah asam lemak Uji jumlah asam lemak dilakukan untuk mengetahui jumlah keseluruhan asam lemak baik asam lemak yang terikat dengan natrium maupun asam lemak bebas ditambah lemak netral . Hasil uji menunjukan jumlah asam lemak pada formula 1 adalah 54,10 % A 2 dan pada formula 2 adalah 6,60 % A 2. Hasil tersebut masih belum memenuhi standar jumlah asam lemak yang ditentukan didalam SNI sabun mandi yaitu > 70 %. Asam lemak pada sabun berkaitan dengan kemampuan sabun sebagai pembersih pada permukaan kulit . Jumlah asam lemak terlihat mengalami penurunan pada formula 2 yakni hanya sebesar 6,60 % A 2. Hal ini terjadi karena adanya penambahan sodium lignosulfonat dari jerami pada sabun padat yang dibuat. Pada formula 1 diketahui bahwa sabun padat yang dibuat tanpa penambahan sodium lignosulfonat juga belum memenuhi standar karena jumlah asam lemak yang diperoleh adalah < 70 %. Adanya penambahan senyawa sodium yang memiliki sifat basa mengakibatkan terjadinya asam lemak yang terdapat pada sabun mengalami penurunan. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari Sodium Lignosulfonat jerami padi terhadap sabun padat yang dibuat, maka data yang diperoleh dianalisa menggunakan One Way Anova dengan aplikasi SPSS v. HasilKadarAir Sum of Squares Mean Square Sig. 170,361 ,000 Between 491,958 491,958 11,551 2,888 503,509 Groups Within Groups Total Dwi Ayuningtyas. Dwi Sari Astuti. Aldi Budi Riyanta Vol 10 . 2021 pp 40-50 Diterjemahkan oleh Pudjaatmaka. Penerbit Erlangga. Jakarta. Parasuram, 1995 didalam Handayani, , 2009. Pengaruh Peningkatan ANOVA Konsentrasi Ekstrak Etanol 96% Biji HasilAsamMinyak Alpukat (Persea americana Mil. Terhadap Formulasi Sabun Padat Sum of Mean Transparan. Skripsi. Jakarta : Universitas Squares Square Sig. Islam Negeri Syarif Hidayatullah Between . Wasitaatmadja, 1997 didalam Handayani, 3403,878 1 3403,878 1040,475 ,000 Groups , 2009. Pengaruh Peningkatan Within Konsentrasi Ekstrak Etanol 96% Biji 13,086 4 3,271 Groups Alpukat (Persea americana Mil. Total Terhadap Formulasi Sabun Padat 3416,964 5 Transparan. Skripsi. Jakarta : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Berdasarkan hasil perhitungan analisa Anova . Brady, 1999 didalam Handayani, pada tabel diatas diperoleh nilai F hitung 1040,475 , 2009. Pengaruh Peningkatan dan F tabel 7,708647, sehingga didapatkan F Konsentrasi Ekstrak Etanol 96% Biji hitung > F Tabel ( 1040,475 > 7,708647 ). Hal ini Alpukat (Persea americana Mil. menyimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian Terhadap Formulasi Sabun Padat sodium lignosulfonat pada sabun padat dari Transparan. Skripsi. Jakarta : Universitas minyak goreng teradsorpsi. Islam Negeri Syarif Hidayatullah . Aisyah. Yulianti. , dan Fasya. Penurunan Angka Peroksida dan Simpulan Asam Lemak (FFA) pada Proses Berdasarkan pada hasil penelitian yang Bleaching Minyak Goreng Bekas oleh diperoleh dapat diketahui bahwa pemanfaatan Karbon Aktif Polong Buah Kelor jerami padi dapat digunakan sebagai surfaktan (Moringa Oliefera Lamk. ) dengan pada sabun padat minyak goreng bekas teradsorpsi Aktovasi NaCl. ALCHEMY 1. : 97 dan berpengaruh pengaruh terhadap organoleptis, . Suryani et al. , 2002 didalam Budianto, stabilitas busa dan alkali bebas dari sabun. Verysa. Optimasi Formula Sabun Transparan Dengan Humectant Gliserin Pustaka