Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. p-ISSN: 2798-3188, e-ISSN: 2798-0316 || http://bk. id/index. php/chr DOI: https://doi. org/10. 24036/000739chr2023 Received (Januari 26th 2. Accepted (February 19th 2. Published (March 30th 2. Perbedaan kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone ditinjau dari jenis kelamin Afla Khairani. Indah Sukmawati*) Department of Guidance and Counseling. Universitas Negeri Padang. Indonesia *Corresponding author, e-mail: indahsukmawati@fip. Abstract This study aims to analyze differences in students' self-control in using smartphones in terms of This research uses a quantitative method with a comparative descriptive research type. The population of this study was 969 students at SMAN 4 Payakumbuh with a sample of 287 students. The sample was taken using a stratified random sampling technique. The instrument used was a "selfcontrol research instrument" using a Likert model scale. Data were analyzed using descriptive statistical techniques and independent sample t-test techniques. The research findings show that: . Male students' self-control in using smartphones is in the moderate category, . Female students' selfcontrol in using smartphones is in the moderate category, and . there is a significant difference between students' self-control in using smartphones in terms of gender with a significant value of 0. < 0. 05, meaning that there is a significant difference between male students' self-control and female students' self-control in using smartphones, which means Ha is accepted. Based on the results of the research that has been done, the results obtained are that there is a significant difference between male and female students' self-control in using smartphones. Keywords: Self-Control. Smartphone. Gender. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2023 by author. Pendahuluan Seiring dengan perkembangan zaman, maka perkembangan teknologi digital juga berlangsung dengan cepat. Perkembangan zaman terus-menerus mengikuti arus globalisasi yang berakibat kepada maraknya penggunaan teknologi digital seperti smartphone. Dahulu penggunaan smartphone hanya untuk panggilan dan mengirim pesan, kini memiliki fungsi menyerupai komputer (Backer, 2. Perkembangan smartphone sangat berkembang pesat, bukan hanya dikalangan orang dewasa tetapi juga dikalangan anak-anak. Smartphone sudah menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki oleh setiap orang, hadirnya teknologi digital ini membawa berbagai macam bentuk perubahan, yang dulunya smartphone hanya bisa digunakan untuk melakukan panggilan dan mengirim pesan, sekarang sudah bisa mengakses berbagai aplikasi untuk menghibur diri seperti aplikasi game online (Backer, 2. Tidak hanya game online, smartphone juga bisa digunakan untuk media sosial, seperti Instagram. Twitter. Facebook, dan lain sebagainya, dengan adanya media sosial orang bisa menceritakan kesehariannya dan juga bisa membagikan foto ataupun video. Smartphone merupakan salah satu alat komunikasi yang paling banyak diminati oleh setiap orang, terlebih lagi bagi remaja. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa (Rumini & Sundari, 2. Menurut Prayitno . remaja berada pada periode antara masa anak-anak dengan kehidupan orang dewasa. Siswa sebagai seorang remaja memasuki usia yang mengalami banyak Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. perubahan dari masa anak-anak ke masa dewasa (Ardi et al, 2. Usia remaja merupakan periode transisi yang penuh dengan permasalahan dalam kehidupan yang membuat jiwa remaja menjadi sangat labil (Hurlock, 1. , dengan keadaan seperti itu remaja akan mudah ikut-ikutan dan tergiur dengan kecanggihan teknologi yang ada pada saat ini, salah satunya yaitu smartphone. Marpaung . menjelaskan bahwa smartphone adalah salah satu barang yang bisa berdampak positif maupun negatif bagi penggunanya, jika tidak dipergunakan dengan bijak maka akan berdampak negatif. Penggunaan smartphone yang dilakukan secara berlebihan akan menyebabkan kecanduan, malas belajar, boros, dan berkurangnya interaksi sosial (Putri, 2. Agusta . menyatakan bahwa salah satu faktor yang paling dominan mempengaruhi kecanduan penggunaan smartphone adalah faktor internal dengan aspek paling tinggi mempengaruhi kecanduan smartphone yaitu kontrol diri yang Fakta tersebut menunjukkan bahwa siswa yang rendah kontrol dirinya dalam penggunaan smartphone akan sulit untuk mengatur diri, baik dalam berinteraksi dengan sosial maupun dalam belajar dan siswa akan cenderung asik bermain smartphone. Setiap individu memiliki kontrol diri yang berbeda-beda, begitu juga dengan kontrol diri yang ada pada laki-laki dan perempuan. Gottfredson dan Hirschi . mengemukakan bahwa terdapat perbedaan tingkat kontrol diri antara laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki memiliki tingkat kontrol diri yang rendah daripada perempuan, sehingga banyak ditemukan laki-laki melakukan tindakan negatif atau menyimpang, seperti perilaku kriminal. Peneliti mengaitkannya dengan salah satu perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja yaitu dalam penggunaan smartphone lewat dari batas normal pemakaiannya, dimana batas penggunaan internet yang diakses melalui smartphone tidak normal adalah 20-80 jam per Minggu, sedangkan penggunaan internet yang normal adalah 4-5 jam per Minggu (Young & Abreu, 2. Hasil penelitian Haug et al . mengenai penggunaan smartphone dana diksi smartphone di kalangan remaja di Swiss yang melibatkan 1. 519 orang dengan rentang umur 15-21 tahun ke atas, pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 25 . %) siswa menggunakan smartphone 1-2 jam per hari, 24 . %) siswa 3-5 jam per hari dan 36 . %) siswa menggunakan smartphone lebih dari 6 jam per hari. Sedangkan pada jenis kelamin perempuan 16 . %) siswa menggunakan smartphone 1-2 jam per hari, 13 . %) siswa 3-5 jam per hari dan 38 . %) siswa menggunakan smartphone lebih dari 6 jam per hari. Hasil penelitian Mulyati dan Frieda . diketahui bahwa siswa kelas X dan XI SMA Mardisiswa Semarang cukup aktif dalam menggunakan smartphone yang menunjukkan bahwa 64% perempuan cenderung lebih aktif menggunakan media sosial melalui smartphone yang dimiliki dibandingkan dengan laki-laki yaitu 56,5%. Selanjutnya hasil penelitian Andriani. Sriati, dan Yamin . terdapat responden yang kontrol dirinya dalam menggunakan smartphone itu rendah, dengan durasi waktu kurang lebih 6 jam per hari menggunakan smartphone. Berdasarkan yang terjadi di SMAN 4 Payakumbuh, melalui wawancara yang telah peneliti lakukan pada tanggal 16 Maret 2022 dengan salah satu guru mata pelajaran dan 2 orang guru BK SMAN 4 Payakumbuh, dapat diketahui bahwa pada saat proses pembelajaran guru sering kali melihat siswa bermain smartphone dibandingkan mendengarkan gurunya menjelaskan materi pelajaran di kelas, dan yang banyak bermain smartphone di saat proses pembelajaran yaitu siswa perempuan, mereka asik scrolling TikTok dan selfie. Ketika ditegur mereka malah mengabaikan teguran tersebut, kemudian guru mengambil tindakan tegas agar siswa tidak lagi bermain smartphone saat proses pembelajaran, yaitu dengan cara mengambil smartphone siswa tersebut untuk diproses di ruang BK. Peneliti juga melakukan wawancara dengan 6 orang siswa SMAN 4 Payakumbuh, dapat diketahui bahwa masih ada siswa di sekolah tersebut yang kurang baik kontrol dirinya dalam penggunaan smartphone, mereka lebih cenderung bermain smartphone daripada berinteraksi dengan teman-temannya. Salah satu siswa yang peneliti wawancarai yaitu siswa berinisial SC juga menyatakan pada saat ia sedang berbicara dengan temannya, temannya malah asik bermain Perbedaan kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone A Khairani. & Sukmawati. smartphone dan tidak fokus dengan apa yang dibicarakan. SC merasa sangat kesal dan merasa tidak dihargai, karena ia sudah berbicara banyak hal tapi temannya malah fokus dengan smartphone-nya. Berdasarkan fenomena yang telah peneliti paparkan, maka diperlukannya layanan BK untuk membantu siswa agar dapat mengontrol dirinya dengan baik. Layanan BK menurut Prayitno . merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada individu secara tatap muka agar dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal sesuai dengan tahap Selain itu. BK memiliki peran yang sangat penting dalam membantu siswa untuk mengatasi permasalahannya dan membantu siswa agar dapat mengontrol dirinya dengan baik (Ghufron & Risnawita, 2. Adanya BK di sekolah bertujuan untuk membantu siswa mengatasi masalah yang dialami dan mengembangkan potensi diri sehingga siswa dapat mengenal diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamis, dapat mengambil keputusan secara mandiri, dan bisa mewujudkan diri secara optimal (Prayitno, 2. Metode Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif komparatif. Menurut Yusuf . penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematik, factual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi tertentu atau mencoba menggambarkan fenomena secara detail. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 969 orang siswa dengan sampel sebanyak 287 orang siswa di SMAN 4 Payakumbuh, penarikan sampel menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen yang digunakan adalah Auinstrumen penelitian kontrol diriAy dengan menggunakan skala model Likert. Data dianalisis dengan teknik deskriptif dan teknik uji independent sample t-test. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data, maka pembahasan akan disesuaikan dengan tujuan penelitian terkait dengan perbedaan kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone ditinjau dari jenis kelamin, sebagai berikut: Analisis Deskriptif Kontrol Diri Siswa Laki-laki dalam Penggunaan Smartphone Berdasarkan kategori pengolahan data yang digunakan, dapat digambarkan kontrol diri siswa lakilaki dalam penggunaan smartphone, sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kontrol Diri Siswa Laki-laki dalam Penggunaan Smartphone . Kategori Interval Sangat Tinggi (ST) Tinggi (T) Sedang (S) Rendah (R) Sangat Rendah (SR) Ou126 O53 Jumlah Pada tabel 1, diketahui bahwa kontrol diri siswa laki-laki dalam penggunaan smartphone di SMAN 4 Payakumbuh berada pada kategori sedang yaitu terdapat 113 orang siswa laki-laki dengan Kategori lainnya yaitu pada kategori rendah terdapat 15 orang siswa laki-laki dengan persentase 11. Pada kategori tinggi terdapat 6 orang siswa laki-laki dengan persentase Pada kaetgori sangat tinggi terdapat 1 orang siswa laki-laki dengan persentase 0. 74% dan pada kategori sangat rendah tidak ada terdapat siswa dengan persentase 0. http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa kontrol diri siswa laki-laki dalam penggunaan smartphone di SMAN 4 Payakumbuh berada pada kategori sedang. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Andriani et al . mendapatkan hasil bahwa laki-laki memiliki kontrol diri yang rendah terhadap penggunaan smartphone. Hal ini berarti kontrol diri siswa laki-laki dalam penggunaan smartphone di SMAN 4 Payakumbuh sudah cukup baik. Analisis Deskriptif Kontrol Diri Siswa Perempuan dalam Penggunaan Smartphone Berdasarkan kategori pengolahan data yang digunakan, dapat digambarkan kontrol diri siswa perempuan dalam penggunaan smartphone, sebagai berikut: Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kontrol Diri Siswa Perempuan dalam Penggunaan Smartphone . Kategori Sangat Tinggi (ST) Tinggi (T) Sedang (S) Rendah (R) Sangat Rendah (SR) Interval Ou126 O53 Jumlah Pada tabel 2, diketahui bahwa kontrol diri siswa perempuan dalam penggunaan smartphone di SMAN 4 Payakumbuh berada pada kategori sedang yaitu terdapat 133 orang siswa perempuan dengan persentase 87. Kategori lainnya yaitu pada kategori rendah terdapat 11 orang siswa perempuan dengan persentase 7. Pada kategori tinggi terdapat 8 orang siswa perempuan dengan Pada kaetgori sangat tinggi dan sangat rendah tidak ada terdapat siswa dengan Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa kontrol diri siswa perempuan dalam penggunaan smartphone di SMAN 4 Payakumbuh berada pada kategori sedang. Artinya adanya kemungkinan tingkat kontrol diri siswa perempuan menjadi tinggi ataupun rendah. Kontrol diri akan berdampak negatif apabila individu tidak bisa mengendalikan diri dengan baik, terutama dalam penggunaan smartphone berlebihan. Dampak dari penggunaan smartphone yang dilakukan secara berlebihan akan menyebabkan gangguan tidur, stress, kecemasan, memburuknya kesehatan, penurunan kinerja akademis, dan fisik (Thomee et al, 2. Hasil Uji Beda Berdasarkan hasil analisis uji t . ji independent sample t-tes. yang telah dilakukan dengan menggunakan SPSS Version 25, berikut gambaran hasil perbedaan kontrol diri siswa laki-laki dan perempuan dalam penggunaan smartphone: Tabel 3. Hasil Analisis Uji Perbedaan Kontrol Diri Siswa dalam Penggunaan Smartphone Ditinjau dari Jenis Kelamin Jenis Kelamin Kontrol Diri Penggunaan Smartphone Ditinjau dari Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Group Statistics Mean Std. Deviati-on Std. Error Mean Berdasarkan tabel 3, bahwa jumlah data siswa laki-laki adalah sebanyak 135 orang siswa, sedangkan jumlah data siswa perempuan adalah sebanyak 152 orang siswa. Hasil analisis dari kedua Perbedaan kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone A Khairani. & Sukmawati. kelompok menunjukkan adanya nilai rata-rata . 96 pada siswa laki-laki dan 90. pada siswa perempuan. Maka dari itu, jika dilihat dari hasil analisis deskriptif terlihat adanya perbedaan nilai rata-rata . kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone dari kedua kelompok responden, yang berarti kontrol diri siswa laki-laki dalam penggunaan smartphone memiliki kontrol diri yang rendah, sedangkan kontrol diri siswa perempuan dalam penggunaan smartphone memiliki kontrol diri yang tinggi. Hal ini dapat dibuktikan melalui analisis atau perhitungan menggunakan teknik uji independent sample t-test untuk mengetahui adanya perbedaan secara signifikan atau tidak. Berikut hasil uji perbedaan dari perbedaan kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone ditinjau dari jenis kelamin: Tabel 4. Hasil Uji Perbedaan Kontrol Diri Siswa dalam Penggunaan Smartphone Ditinjau dari Jenis Kelamin Kontrol Diri dalam Penggunaan Smartphone Ditinjau dari Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Independent Samples Test t-hitung t-tabel Sig. Sig. -taile. Berdasarkan tabel 4, dapat dilihat bahwa nilai signifikan . -taile. 027 < 0. 05 yang berarti terdapat perbedaan kontrol diri siswa laki-laki dan perempuan dalam penggunaan smartphone. Dilihat dari nilai t, nilai t-hitung sebesar 2. 222 dengan derajat kebebasan . sebesar 285 dan nilai t-tabel pada taraf signifikan 0. 05 sebesar 1. Hal ini berarti bahwa nilai t-hitung lebih besar dari nilai ttabel pada taraf signifikan 0. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kontrol diri siswa lakilaki dengan perempuan dalam penggunaan smartphone di SMAN 4 Payakumbuh, yang berarti Ha Berdasarkan temuan penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone ditinjau dari jenis kelamin yaitu kontrol diri siswa laki-laki dalam penggunaan smartphone lebih rendah dibandingkan kontrol diri siswa perempuan dalam penggunaan Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Gottfredson dan Hirschi . bahwa terdapat perbedaan kontrol diri antara laki-laki dengan perempuan. Laki-laki mempunyai kontrol diri yang lebih rendah daripada perempuan, sehingga banyak ditemukan tindakan negatif dan menyimpang pada laki-laki. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mulyati dan Frieda . juga menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kontrol diri laki-laki dan perempuan terhadap kecanduan smartphone. Diperkuat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Andriani et al . bahwa jenis kelamin laki-laki memiliki kontrol diri yang lebih rendah terhadap penggunaan smartphone daripada perempuan, artinya kontrol diri seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor penggunaan smartphone. Penyelenggaraan BK memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Keberadaan BK di sekolah secara umum dapat membantu siswa mencapai tujuan dimaksud, yang diarahkan untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Syukur et al, 2. Secara umum guru BK memiliki peran memberikan bantuan kepada siswa di sekolah agar siswa dapat mandiri, belajar dengan baik, dapat menentukan arah dan cita-citanya, berpikiran positif, selalu berkreasi dan kritis, dapat memecahkan masalahnya secara pribadi atau kelompok, dan mencapai kehidupan yang sejahtera (Fitriani et al, 2. Adanya BK di sekolah, akan membantu siswa dalam membentuk karakter yang baik dan mewujudkan nilai-nilai edukatif yang membangun. http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. Selain itu BK juga tempat mencurahkan segala keluh kesah yang mungkin begitu rumit dialami suatu individu termasuk dalam mengontrol diri (Tohirin, 2. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, adapun layanan BK yang dapat diberikan dalam mambantu meningkatkan kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone, sebagai berikut: Layanan Informasi Berdasarkan temuan penelitian, dasar pemberian layanan informasi pada aspek kontrol diri dapat dilihat dari item sangat rendah dan rendah, yaitu pada item no. aya mencari kesempatan untuk bermain game sewaktu guru menjelaskan materi di kela. dan pada item no. aya sibuk selfie dengan smartphone disaat guru menjelaskan materi di kela. dapat diberikan layanan informasi dengan materi Audisiplin diriAy. Upaya yang dilakukan guru BK dalam menyadarkan siswa untuk mematuhi disiplin dapat dilakukan melalui penyelenggaraan layanan informasi dengan tujuan untuk menjelaskan tentang pengtingnya mematuhi disiplin dan manfaat mematuhi disiplin (Agustina et al. Layanan informasi membekali siswa dengan pengetahuan tentang data dan fakta dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan perkembangan sosial agar siswa mampu mengatur dan merencanakan hidupnya (Fitri et al, 2. Tujuan layanan informasi adalah agar individu menguasai berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupannya untuk membantu perkembangannya sehingga terwujud kehidupan efektif sehari-hari (KES) (Ahmad, 2. Layanan Bimbingan Kelompok Secara khusus, siswa sangat meminati layanan yang bersifat kelompok, terutama bimbingan kelompok (Hariko, 2. Layanan bimbingan kelompok mengaktifkan dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan pribadi dan juga anggota kelompok (Prayitno, 2. Dinamika kelompok sebagai kekuatan sosial dalam suatu kelompok yang memperlancar atau menghambat proses kerjasama dalam kelompok, segala metode, sarana, dan teknik pembelajaran dapat diterapkan jika sejumlah orang bekerjasama dalam kelompok (Sukmawati et al, 2. Menurut hasil penelitian Nugraha dan Ajie . layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik sosiodrama dapat meningkatkan kontrol diri siswa. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Waluwandja dan Dami . juga menjelaskan bahwa layanan bimbingan kelompok bermanfaat dalam upaya pengendalian diri, baik pengendalian diri dalam berpendapat, maupun pengendalian diri ketika menerima kritikan dari anggota kelompok. Hal tersebut berarti layanan bimbingan kelompok merupakan jenis layanan yang sangat efektif untuk diberikan kepada siswa (Agustina et al, 2. Simpulan Perbedaan kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone ditinjau dari jenis kelamin, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: . Kontrol diri siswa laki-laki dalam penggunaan smartphone di SMAN 4 Payakumbuh secara umum berada pada kategori sedang, . Kontrol diri siswa perempuan dalam penggunaan smartphone di SMAN 4 Payakumbuh secara umum berada pada kategori sedang, . Terdapat perbedaan yang signifikan antara kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone ditinjau dari jenis kelamin di SMAN 4 Payakumbuh. Adapun layanan BK yang dapat diberikan dalam mambantu meningkatkan kontrol diri siswa dalam penggunaan smartphone yaitu layanan informasi dan layanan bimbingan kelompok. Referensi