Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Indonesian Language Skills through Task-Based Learning Model at MI Daarul Muqimien: A Practical Action Research Novia Merista Indriyanti1. Rani Mustafa2 1 MI Daarul Muqimien 2 MI Darunnajah Correspondence: Novicutz@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Task-Based Learning. Indonesian language skills. Classroom Action Research. MI Daarul Muqimien. ABSTRACT This study aims to explore the implementation of a Task-Based Learning (TBL) model in improving Indonesian language skills among students at MI Daarul Muqimien. The focus is on how this instructional model can enhance students' proficiency in understanding and using Bahasa Indonesia effectively in both written and spoken forms. The research uses a Classroom Action Research (CAR) design to assess the impact of task-based learning on students' learning outcomes and engagement. The study is conducted in two cycles, where each cycle involves planning, action, observation, and The tasks designed in the study aim to provide students with meaningful, real-life contexts that encourage communication, critical thinking, and problem-solving in Bahasa Indonesia. The findings indicate that the TBL model successfully motivates students to engage more actively in the learning process. Students become more confident in expressing themselves in Bahasa Indonesia, and their overall language skills improve, particularly in vocabulary, grammar, and sentence Moreover, the task-based approach allows students to work collaboratively, fostering teamwork and communication skills. Teachers also report a positive shift in classroom dynamics, as students take more responsibility for their learning. In conclusion, the Task-Based Learning model proves to be an effective strategy for enhancing Indonesian language skills at MI Daarul Muqimien. This approach not only improves language proficiency but also encourages student-centered learning, making it a valuable method for future language instruction in primary education. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif dan sosial siswa, terutama di tingkat dasar. Di Indonesia. Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai bahasa nasional, tetapi juga alat komunikasi utama di seluruh wilayah yang multikultural. Oleh karena itu, meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia sejak dini menjadi fokus utama dalam berbagai lembaga pendidikan, termasuk di sekolah dasar Islam seperti MI Daarul Muqimien. Pembelajaran bahasa Indonesia yang efektif dapat mempengaruhi kemampuan literasi, komunikasi, dan pemahaman identitas budaya siswa. Tren terbaru dalam pedagogi pendidikan mengedepankan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan mendorong keterlibatan aktif dalam proses belajar. Salah satu pendekatan yang semakin banyak digunakan dalam pengajaran bahasa adalah Model Pembelajaran Berbasis Tugas (Task-Based Learning. TBL). TBL adalah metode pembelajaran yang mendorong siswa untuk menggunakan bahasa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang bermakna, yang lebih menekankan pada penerapan bahasa secara praktis daripada hanya sekadar mempelajari teori (Budi, 2. Pendekatan ini sejalan dengan teori konstruktivisme, yang menganggap siswa sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran mereka. TBL juga Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mendorong kolaborasi, pemikiran kritis, dan pemecahan masalah yang menjadi keterampilan penting di dunia yang semakin global ini. Di MI Daarul Muqimien, penerapan model TBL menawarkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan Islam. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah ini sangat penting karena Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa utama dalam proses belajar mengajar. Dengan menerapkan model TBL, siswa tidak hanya diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berbahasa mereka, tetapi juga belajar untuk menyampaikan ide dan pemikiran dalam cara yang mencerminkan latar belakang budaya dan agama mereka (Rahman, 2. Meski memiliki potensi besar, penerapan model TBL dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar Islam masih terbatas. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa metode pembelajaran tradisional seperti hafalan dan pengajaran yang berpusat pada guru masih mendominasi banyak kelas di Indonesia (Fadilah, 2. Pendekatan-pendekatan ini seringkali tidak berhasil melibatkan siswa secara aktif dalam pengalaman belajar yang bermakna, sehingga mengarah pada pembelajaran yang pasif dan keterampilan bahasa yang terbatas. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan inovatif seperti TBL untuk mengatasi tantangan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di MI Daarul Muqimien (Sari, 2. Model TBL telah terbukti efektif dalam berbagai konteks pendidikan, terutama dalam pembelajaran bahasa kedua (Teng, 2. Pendekatan ini dikenal dapat mendorong komunikasi yang autentik dan memotivasi siswa untuk menggunakan bahasa dalam situasi kehidupan Meskipun TBL telah banyak digunakan dalam pendidikan bahasa di berbagai belahan dunia, penerapannya di Indonesia, terutama di sekolah dasar Islam, masih jarang ditemukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan meneliti efektivitas model TBL dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa di MI Daarul Muqimien. Selain meningkatkan keterampilan bahasa, pendekatan TBL juga menawarkan pembelajaran yang lebih holistik dengan mendorong kolaborasi dan kerja tim antar siswa. Siswa yang bekerja bersama dalam tugas-tugas memerlukan komunikasi yang efektif, mendengarkan dengan aktif, dan berkontribusi dalam diskusi kelompok, yang pada gilirannya meningkatkan perkembangan sosial dan kognitif mereka (Purnama, 2. Model TBL juga mendukung perkembangan kemandirian dalam belajar, karena siswa diberi tugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang mengharuskan mereka berpikir kritis, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Keterlibatan ini menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi dan mendorong pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Hidayat, 2. Penerapan TBL di MI Daarul Muqimien juga sejalan dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan melalui metode pengajaran yang inovatif (Widodo, 2. Penekanan pemerintah untuk meningkatkan pendidikan bahasa melalui penerapan metode pengajaran modern menunjukkan perlunya pengembangan berkelanjutan dalam strategi pengajaran. Dengan mengintegrasikan TBL ke dalam kurikulum bahasa Indonesia. MI Daarul Muqimien dapat berkontribusi dalam upaya nasional untuk meningkatkan kemampuan berbahasa siswa dan mempersiapkan mereka menghadapi tuntutan abad ke-21. Selain itu, penerapan TBL dalam kurikulum bahasa dapat mendukung perkembangan keterampilan abad ke-21, seperti komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis (Ibrahim, 2. Keterampilan ini sangat penting bagi siswa untuk sukses di dunia yang semakin terhubung. Penggunaan tugas yang memerlukan siswa untuk memecahkan masalah dunia nyata memberi mereka kesempatan untuk berlatih bahasa dalam konteks, yang lebih bermanfaat daripada metode tradisional yang hanya fokus pada hafalan dan pengulangan (Zain, 2. Selain itu, model TBL mendukung pengembangan keterampilan metakognitif siswa, karena mereka dapat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 merefleksikan penggunaan bahasa mereka dan mempelajari strategi untuk belajar secara mandiri (Siti, 2. Sebagai bagian dari upaya MI Daarul Muqimien untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang diberikan, penerapan model TBL dalam pembelajaran bahasa Indonesia merupakan kesempatan berharga untuk meningkatkan keterampilan bahasa siswa. Potensi TBL untuk melibatkan siswa, mendorong kolaborasi, dan mengembangkan pemikiran kritis sejalan dengan misi sekolah untuk menyediakan pendidikan berkualitas yang juga mengintegrasikan nilai-nilai Islam (Suryani, 2. Dengan memanfaatkan pendekatan TBL. MI Daarul Muqimien dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan menarik yang mendukung perkembangan bahasa dan pertumbuhan holistik siswa. Secara keseluruhan, penggunaan model Task-Based Learning dalam meningkatkan keterampilan bahasa Indonesia merupakan pendekatan inovatif yang memiliki prospek besar bagi pendidikan dasar di Indonesia. MI Daarul Muqimien, melalui penerapan model ini, dapat berkontribusi dalam kemajuan pendidikan bahasa dengan memberikan siswa keterampilan yang dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan efektif, berpikir kritis, dan berkolaborasi. Keberhasilan pendekatan ini di berbagai konteks pendidikan lainnya menunjukkan bahwa model ini dapat sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa, sehingga menghasilkan individu yang lebih cakap, percaya diri, dan bertanggung jawab sosial. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa melalui penerapan Model Pembelajaran Berbasis Tugas (TBL) di MI Daarul Muqimien. PTK dipilih karena sifatnya yang memungkinkan peneliti untuk berinteraksi langsung dengan siswa dan guru dalam konteks pembelajaran yang nyata, serta memberikan kesempatan untuk perbaikan berkelanjutan melalui siklus tindakan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang melibatkan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti bekerja sama dengan guru kelas untuk merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan TBL dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Setiap siklus dimulai dengan penentuan tema pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswa dan mendukung pengembangan keterampilan berbahasa Indonesia. Tugas yang diberikan kepada siswa dirancang sedemikian rupa untuk memotivasi mereka agar dapat menggunakan bahasa Indonesia dalam konteks yang nyata dan bermakna. Sebagai contoh, siswa diberi tugas untuk membuat presentasi kelompok tentang topik tertentu yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Pada tahap pelaksanaan, guru mengimplementasikan RPP yang telah disusun dan membimbing siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Guru berperan sebagai fasilitator yang memotivasi siswa, memberikan umpan balik, serta membantu siswa dalam memahami tugas yang diberikan. Selama proses pembelajaran, siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan, yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Dalam proses ini, siswa didorong untuk berpikir kritis dan aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok (Sari, 2. Observasi dilakukan selama proses pembelajaran untuk mencatat perkembangan siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia dan seberapa baik mereka mengerjakan tugas yang diberikan. Peneliti mengamati bagaimana siswa berinteraksi satu sama lain, sejauh mana mereka dapat menerapkan keterampilan bahasa yang telah dipelajari, serta efektivitas model TBL dalam meningkatkan motivasi dan keterampilan berbahasa siswa. Pengamatan juga dilakukan untuk menilai sejauh mana pembelajaran berbasis tugas dapat menciptakan suasana kelas yang aktif dan kolaboratif. Alat pengamatan yang digunakan antara lain catatan lapangan, rekaman video, dan lembar observasi. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pada akhir setiap siklus, dilakukan refleksi untuk mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dicapai dan untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan pada siklus berikutnya. Dalam refleksi ini, guru dan peneliti bersama-sama menganalisis data observasi dan hasil tugas siswa, serta mendiskusikan kekuatan dan kelemahan dalam penerapan TBL. Berdasarkan hasil refleksi, peneliti dan guru menyusun perbaikan yang diperlukan untuk siklus selanjutnya, baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi pembelajaran (Budi, 2. Siklus ini diulang sebanyak dua kali untuk melihat perubahan dalam keterampilan berbahasa Indonesia siswa. Setiap siklus dilaksanakan selama dua minggu, dengan satu minggu untuk pelaksanaan tugas dan satu minggu untuk evaluasi dan refleksi. Proses ini memungkinkan peneliti untuk memonitor perkembangan siswa secara bertahap dan memberikan kesempatan untuk perbaikan yang lebih efektif sepanjang penelitian. Peneliti juga mengumpulkan data tentang keterlibatan siswa dalam pembelajaran, seperti tingkat partisipasi dalam diskusi kelompok dan kualitas hasil tugas yang diselesaikan. Sebagai instrumen utama dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara dengan guru dan siswa, observasi langsung, serta analisis hasil pekerjaan siswa untuk mengumpulkan data yang relevan. Data yang diperoleh dari berbagai instrumen ini kemudian dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif. Hasil dari analisis ini digunakan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan model TBL dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa di MI Daarul Muqimien. Berdasarkan analisis ini, peneliti juga akan memberikan rekomendasi untuk pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih efektif di sekolah dasar Islam. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan Model Pembelajaran Berbasis Tugas (TBL) menunjukkan hasil yang cukup signifikan dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa. Pada awalnya, sebagian besar siswa terlihat kesulitan dalam memahami materi, terutama dalam menerapkan kaidah bahasa Indonesia secara tepat dalam tugas-tugas yang diberikan. Namun, seiring dengan pelaksanaan pembelajaran berbasis tugas, siswa mulai menunjukkan peningkatan dalam berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok. Mereka lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, seperti membuat presentasi dan berdiskusi tentang topik yang relevan dengan kehidupan mereka. Pada tahap ini. TBL terbukti mampu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan Dalam proses ini, siswa juga belajar untuk bekerja sama dalam kelompok, saling memberikan umpan balik, dan berkolaborasi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Pada siklus kedua, peningkatan keterampilan berbahasa Indonesia siswa semakin jelas terlihat. Banyak siswa yang sebelumnya kurang aktif dalam diskusi dan tugas kelompok, kini mulai menunjukkan rasa percaya diri yang lebih tinggi dalam menyampaikan pendapat dan ide Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan ini adalah meningkatnya pemahaman siswa terhadap tugas yang diberikan dan bagaimana tugas tersebut berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia dalam konteks yang lebih luas. TBL juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menggunakan bahasa Indonesia secara kontekstual, bukan hanya dalam situasi formal atau teoritis. Melalui tugas yang berbasis pada situasi kehidupan nyata, siswa dapat mengaplikasikan bahasa Indonesia dalam cara yang lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Namun, meskipun ada kemajuan yang signifikan, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi selama siklus kedua. Salah satunya adalah perbedaan tingkat pemahaman dan kemampuan antar siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia. Siswa dengan kemampuan bahasa yang lebih baik cenderung lebih mudah menyelesaikan tugas dengan baik, sedangkan siswa dengan keterampilan bahasa yang lebih rendah membutuhkan lebih banyak bimbingan dan dukungan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dari guru dan teman sekelas mereka. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun TBL dapat meningkatkan keterampilan bahasa siswa secara keseluruhan, diperlukan strategi pengajaran yang lebih spesifik untuk mendukung siswa dengan kemampuan bahasa yang berbeda. Dalam hal ini, pemberian tugas yang lebih terstruktur dan sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa dapat menjadi solusi untuk mengatasi perbedaan kemampuan ini. Pada aspek motivasi, ditemukan bahwa TBL secara signifikan meningkatkan motivasi belajar Sebelum penerapan TBL, banyak siswa yang tampak kurang bersemangat dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Mereka cenderung pasif dan hanya mengikuti instruksi dari guru tanpa keterlibatan yang mendalam. Namun, setelah penerapan TBL, siswa merasa lebih tertarik dan terlibat dalam proses pembelajaran karena mereka diberi kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam menyelesaikan tugas yang menantang dan relevan. TBL juga memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja dalam kelompok, yang tidak hanya meningkatkan keterampilan bahasa mereka tetapi juga membangun keterampilan sosial dan kerja sama dalam tim. Siswa yang sebelumnya merasa terisolasi dalam pembelajaran kini merasa lebih dihargai dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam diskusi kelompok. Selain itu, penggunaan tugas yang berbasis konteks kehidupan nyata juga memperkaya pengalaman belajar siswa. Mereka tidak hanya belajar teori bahasa Indonesia, tetapi juga belajar bagaimana menggunakan bahasa Indonesia dalam konteks yang lebih luas dan aplikatif. Ini memberi mereka pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya keterampilan berbahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, tugas untuk membuat presentasi kelompok tentang topik-topik tertentu memungkinkan siswa untuk menerapkan bahasa Indonesia dalam komunikasi yang lebih terbuka dan kreatif. Aktivitas semacam ini membuktikan bahwa pembelajaran berbasis tugas tidak hanya meningkatkan keterampilan bahasa, tetapi juga membentuk pemahaman yang lebih mendalam mengenai penggunaan bahasa dalam berbagai Dalam hal pengembangan keterampilan berbicara. TBL terbukti memberikan dampak positif yang signifikan. Sebelum penerapan TBL, banyak siswa yang merasa canggung dan kurang percaya diri ketika diminta untuk berbicara di depan kelas. Namun, setelah mereka mulai bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas berbasis diskusi dan presentasi, mereka menjadi lebih berani dan lancar dalam berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Pendekatan TBL memberi siswa kesempatan untuk berlatih berbicara dalam suasana yang lebih santai dan tidak terlalu formal, sehingga mereka merasa lebih nyaman dalam menggunakan bahasa Indonesia secara aktif. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa TBL dapat berfungsi sebagai alat yang efektif untuk mengatasi hambatan dalam keterampilan berbicara, yang sering kali menjadi tantangan utama dalam pembelajaran bahasa. Selain keterampilan berbicara. TBL juga meningkatkan keterampilan menulis siswa. Tugastugas yang diberikan, seperti menulis laporan atau membuat presentasi, memberi siswa kesempatan untuk berlatih menyusun ide secara sistematis dan menyampaikannya dalam bentuk tulisan yang jelas dan terstruktur. Tugas-tugas ini tidak hanya membantu siswa dalam mengasah keterampilan menulis mereka, tetapi juga mengembangkan kemampuan mereka untuk berpikir kritis dan menyampaikan pendapat secara tertulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang tepat. Keterampilan menulis siswa semakin berkembang ketika mereka diberikan umpan balik yang konstruktif dari guru dan teman sekelas mereka, yang membantu mereka memperbaiki kekurangan dalam tulisan mereka. Selain itu, dalam hal pembelajaran kolaboratif, penerapan TBL memperlihatkan manfaat yang Pembelajaran berbasis tugas yang mengharuskan siswa untuk bekerja dalam kelompok memungkinkan mereka untuk saling belajar dan membantu satu sama lain. Dalam proses ini, siswa tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga keterampilan sosial dan Mereka belajar bagaimana bekerja sama dalam kelompok, mendengarkan ide teman, serta memberi dan menerima kritik secara konstruktif. Hal ini tidak hanya memperkuat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 hubungan antar siswa, tetapi juga meningkatkan keterampilan sosial yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran kolaboratif seperti ini sangat berguna dalam mengembangkan kemampuan interpersonal yang lebih baik. Namun, tantangan lain yang ditemui adalah keterbatasan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tugas-tugas berbasis TBL. Dalam beberapa kasus, siswa merasa terburu-buru untuk menyelesaikan tugas dalam waktu yang terbatas, yang kadang-kadang mempengaruhi kualitas pekerjaan mereka. Oleh karena itu, sangat penting untuk merencanakan waktu secara efektif dan memberikan cukup waktu kepada siswa untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Selain itu, pengaturan waktu yang lebih fleksibel dapat membantu siswa untuk lebih fokus dalam mengerjakan tugas dan mengurangi stres yang disebabkan oleh tenggat waktu yang Dalam hal ini, pemberian waktu yang lebih panjang untuk tugas yang lebih kompleks dapat memberikan siswa kesempatan untuk bekerja lebih mendalam. Pada akhirnya, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Tugas dapat menjadi alternatif yang efektif dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa di MI Daarul Muqimien. TBL tidak hanya meningkatkan keterampilan bahasa siswa, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik, bermakna, dan Dengan menerapkan model ini, siswa tidak hanya belajar bahasa Indonesia secara teori, tetapi juga mampu menggunakannya dalam konteks kehidupan nyata yang lebih relevan dan bermanfaat. Model ini juga dapat membentuk siswa menjadi individu yang lebih percaya diri, kolaboratif, dan berpikir kritis, yang merupakan keterampilan penting untuk menghadapi tantangan di masa depan. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MI Daarul Muqimien, dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Berbasis Tugas (TBL) memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan berbahasa Indonesia siswa. Secara keseluruhan, penerapan TBL berhasil meningkatkan keterampilan berbicara, menulis, serta keterampilan sosial dan kolaborasi siswa. Metode ini juga mampu meningkatkan motivasi belajar siswa yang awalnya kurang tertarik dan pasif dalam pembelajaran bahasa Indonesia, menjadi lebih aktif dan bersemangat dalam mengikuti setiap tahapan pembelajaran. Pada siklus pertama, meskipun ada beberapa tantangan, seperti perbedaan tingkat kemampuan berbahasa antar siswa, hasil observasi menunjukkan adanya perubahan yang positif dalam keterlibatan siswa. Siswa mulai berpartisipasi lebih aktif dalam diskusi kelompok dan tugastugas yang diberikan. Mereka lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa Indonesia, baik dalam berbicara maupun menulis, meskipun beberapa siswa masih membutuhkan bimbingan lebih dalam untuk menyelesaikan tugas secara optimal. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa penerapan TBL dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih bahasa Indonesia dalam situasi yang lebih nyata dan kontekstual, yang pada gilirannya meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Pada siklus kedua, penerapan TBL menunjukkan hasil yang lebih optimal. Banyak siswa yang sebelumnya kesulitan dalam menggunakan bahasa Indonesia, kini mulai dapat menyelesaikan tugas dengan lebih baik dan lebih percaya diri. Terutama dalam keterampilan berbicara, siswa yang awalnya kurang lancar dalam berbicara di depan kelas kini lebih mudah mengungkapkan pendapat mereka dalam diskusi kelompok. Proses berbicara yang dilakukan dalam kelompok kecil membuat mereka merasa lebih nyaman dan terbuka untuk mengungkapkan ide dan pendapat mereka tanpa merasa canggung. Selain itu, kemampuan menulis siswa juga mengalami peningkatan yang signifikan, karena mereka diberi tugas menulis yang mengharuskan mereka untuk berpikir kritis dan menyusun ide secara sistematis. Namun, tantangan terbesar yang ditemukan dalam penerapan TBL adalah perbedaan kemampuan berbahasa antar siswa. Beberapa siswa dengan kemampuan bahasa yang lebih Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 rendah membutuhkan perhatian dan bimbingan lebih dari guru untuk memahami tugas dengan Oleh karena itu, untuk memaksimalkan efektivitas model ini, sangat penting untuk merancang tugas yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, memberikan penjelasan yang lebih mendalam bagi siswa yang kesulitan, serta memfasilitasi pembelajaran dengan cara yang dapat mengakomodasi kebutuhan masing-masing siswa. Ini dapat dilakukan melalui pembagian tugas yang lebih terstruktur dan memberikan bantuan yang lebih intensif pada siswa yang membutuhkan. Motivasi belajar siswa juga terlihat meningkat setelah penerapan TBL. Sebelum model ini diterapkan, banyak siswa yang tampak tidak antusias dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Namun, setelah tugas yang berbasis pada kehidupan nyata diterapkan, siswa menjadi lebih terlibat dan tertarik dalam pembelajaran. Pembelajaran berbasis tugas memberikan mereka rasa memiliki terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung, karena mereka dapat melihat relevansi langsung antara apa yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari. Keterlibatan mereka dalam tugas kelompok juga memperkuat rasa kebersamaan dan kolaborasi, yang mendorong mereka untuk saling belajar satu sama lain. Secara keseluruhan, penerapan Model Pembelajaran Berbasis Tugas (TBL) di MI Daarul Muqimien terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa. Model ini memberikan ruang bagi siswa untuk aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, mempraktikkan keterampilan bahasa dalam konteks kehidupan nyata, dan bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas. Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis tugas tidak hanya meningkatkan keterampilan bahasa, tetapi juga memotivasi siswa untuk lebih terlibat dalam pembelajaran dan mengembangkan keterampilan sosial yang penting, seperti komunikasi dan kerja sama. Tantangan dalam perbedaan kemampuan siswa menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan TBL. Oleh karena itu, guru perlu menyesuaikan metode pengajaran dan strategi pembelajaran agar dapat memenuhi kebutuhan semua siswa, dengan memberikan bimbingan yang lebih intensif kepada siswa yang membutuhkan dan memfasilitasi kolaborasi yang lebih efektif dalam tugas kelompok. Dengan demikian. Model Pembelajaran Berbasis Tugas ini memiliki potensi besar untuk diterapkan lebih luas dalam pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat pendidikan dasar, terutama dalam konteks pendidikan Islam di sekolah-sekolah dasar seperti MI Daarul Muqimien. Penerapan TBL dapat menjadi alternatif efektif untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa sekaligus mendukung pengembangan keterampilan sosial dan kognitif yang lebih holistik. REFERENCES