Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 201-210 Research Article Living QurAoan. Transformasi Sosial, dan Spiritualitas: Ideologisasi Shalawat dalam Komunitas Mafia Shalawat Ponorogo Living QurAoan. Social Transformation, and Spirituality: Shalawat Ideologization in the Mafia Shalawat Community Ponorogo Ibnu Muchlis Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI). Ponorogo. Indonesia A cakibnu@gmail. Article history: Submitted: 18 Sep 2022 Accepted: 22 Nov 2022 Published: 14 Dec 2022 Abstract: The tradition of shalawat in Indonesia continues to evolve as an inclusive medium for spiritual and social transformation. Mafia Shalawat, a community based in Ponorogo, presents a unique approach to dakwah (Islamic propagatio. through shalawat practices involving individuals from non-religious backgrounds, such as former gangsters and martial artists. Grounded in QS. Al-Ahzab: 56, this community utilizes shalawat as a means to build religious identity, foster social solidarity, and resolve societal conflicts. This study aims to examine how creative interpretations of this Qur'anic verse serve as an ideological foundation for forming a new religious habitus and creating an inclusive dakwah arena. This research employs a theoretical hermeneutic approach to objectively analyze data, which is further examined using Pierre Bourdieu's ideological theory, particularly the concepts of habitus and arena. Data were collected through in-depth interviews, participatory observations, and document studies, focusing on members of the Mafia Shalawat community actively engaged in its traditions. The findings reveal that QS. Al-Ahzab: 56 serves as the ideological basis of this community, where shalawat practices not only reinforce religious values but also drive behavioral and identity transformations among members. Traditions such as maulid recitation and regular shalawat rituals act as mechanisms for habitus formation, supported by an inclusive communal environment. This community successfully overcomes social stigmas and establishes a dakwah model that aligns with contemporary needs. In conclusion. Mafia Shalawat serves as an effective example of how Islamic traditions can be adapted to promote social harmony and spirituality in modern society. This study recommends developing similar community-based dakwah models in various contexts to expand the social and spiritual impact of religious traditions. Keywords: Inclusive dakwah. living QurAoan. Mafia Shalawat. religious habitus. P-ISSN 1907-1191 E-ISSN 2540-9204 A 2022 author. Published by LP2M INSURI Ponorogo, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. DOI: https://doi. org/10. 37680/adabiya. Living QurAoan. Transformasi Sosial, dan Spiritualitas: Ideologisasi ShalawatA Ibnu Muchlis Pendahuluan Shalawat merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur'an, khususnya QS. Al-Ahzab: 56, yang memerintahkan umat Islam untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan kepatuhan religius, tetapi juga berkembang menjadi beragam aktivitas sosial yang memiliki nilai spiritual dan budaya. Indonesia, praktik shalawat telah melahirkan tradisi unik seperti pembacaan Maulid DibaAo dan Barzanji, serta komunitas besar seperti Jamaah Ahbabul Mustofa. 1 Keberagaman ini menunjukkan adanya kreativitas interpretasi masyarakat terhadap ayat-ayat Al-QurAoan. Salah satu fenomena menarik adalah munculnya Mafia Shalawat, sebuah komunitas yang menampung individu dari latar belakang berbeda, termasuk mereka yang dianggap "non-religius," untuk bertransformasi secara spiritual. Selain itu, dalam perkembangan studi QurAoan, terdapat Living QurAoan yang merupakan pendekatan dalam mempelajari bagaimana ayat-ayat Al-QurAoan dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, tidak terbatas pada aspek teologis, tetapi juga pada dimensi sosial dan Pendekatan ini berfokus pada resepsi masyarakat terhadap Al-Qur'an, yang menghasilkan tradisi-tradisi unik sesuai konteks lokal. 3 Dalam konteks shalawat, living QurAoan tampak dalam bagaimana ayat perintah bershalawat diterjemahkan menjadi berbagai bentuk ibadah dan aktivitas 4 Tradisi ini mencerminkan kreativitas masyarakat dalam memaknai dan mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur'an secara dinamis. Salah satu bentuk resepsi terhadap perintah bershalawat adalah pembentukan komunitas atau jamaah yang berpusat pada aktivitas shalawat. Dalam tradisi Islam di Indonesia, jamaah semacam ini tidak hanya menjadi tempat pengamalan nilai religius, tetapi juga berfungsi sebagai media transformasi sosial. Sebagai contoh. Jamaah Ahbabul Mustofa yang dipimpin oleh habaib mengedepankan nilai-nilai ukhuwah dan persatuan dalam kegiatan shalawatnya. 5 Hal ini menunjukkan bahwa shalawat memiliki potensi untuk menjadi media dakwah yang inklusif dan Mafia Shalawat merupakan salah satu bentuk living QurAoan yang memanfaatkan ayat shalawat sebagai dasar ideologis untuk membentuk komunitas berbasis dakwah 6. Berbeda dengan jamaah shalawat lainnya. Mafia Shalawat melibatkan individu dari latar belakang seperti preman, pendekar, dan mantan pelaku maksiat. Komunitas ini menjadi wadah bagi mereka yang ingin bertobat dan kembali kepada nilai-nilai Islam. Transformasi ini tidak hanya berbasis Zetty Azizatun NiAomah. AuSelawat Nabi in the Construction of Local Sufis and Revivalists in Indonesia,Ay Didaktika Religia 8, no. : 311Ae34. Mambaul Ngadimah. AuThe Spirituality of Mafia Shalawat. A crisis solution of modern society,Ay dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, vol. 175 (IOP Publishing, 2. , 012181, https://iopscience. org/article/10. 1088/1755-1315/175/1/012181/meta. Mujib Hendri Aji. Muhammad Zainul Hilmi, dan M. Taufiq Rahman. AuThe Living QurAoan as a Research Object and Methodology in the QurAoanic Studies,Ay Jurnal Iman Dan Spiritualitas 1, no. : 78Ae84. Ashraf Al Haq. Abdullah Abdul Ghani, dan Nor Hayati Ahmad. AuIslamic prayer, spirituality and productivity: an exploratory conceptual analysis,Ay Al-Iqtishad: Journal of Islamic Economics 8, no. : 271Ae86. Adi Rahma Saputra Maya Sekar Wangi dan Buddy Riyanto. AuMETODE KOMUNIKASI DAKWAH HABIB SYEKH BIN ABDUL QADIR ASSEGAF DALAM MENINGKATKAN BUDAYA SHALAWATAN DIKALANGAN JAMAAoAH MAJLIS AHBAABUL MUSTHOFA SURAKARTA,Ay Solidaritas: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial 2, no. , http://ejurnal. id/index. php/sldrts/article/view/2335. Hanifah Hikmawati. Andrik Purwasito, dan Titis Srimuda Pitana. AuGAYA METAL MAFIA SHALAWAT SEBAGAI METODE DAKWAH DAN PENGARUHNYA DI MASYARAKAT NGAWI,Ay t. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 201-210 spiritual, tetapi juga bertujuan menciptakan harmoni sosial dengan mengurangi konflik dan kriminalitas di masyarakat. Kendati demikian, keberadaan Mafia Shalawat menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana ayat-ayat Al-Qur'an dapat dijadikan dasar untuk membentuk gerakan praksis yang efektif di kalangan individu dengan latar belakang yang beragam. Fenomena ini juga menarik karena menunjukkan bagaimana shalawat menjadi media spiritual sekaligus sosial bagi mereka yang sebelumnya dianggap "jauh" dari nilai agama. Penelitian ini penting untuk memahami proses ideologisasi ayat-ayat Al-Qur'an dalam membangun gerakan praksis yang inklusif. Selain itu, penelitian ini relevan untuk mengeksplorasi bagaimana Mafia Shalawat mampu menciptakan ruang dakwah yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern. Kebutuhan tersebut mencakup media untuk pertobatan, pengurangan konflik, dan peningkatan solidaritas Namun, belum banyak penelitian yang membahas transformasi individu dan komunitas melalui pendekatan living QurAoan dalam konteks seperti ini, sehingga menimbulkan celah penelitian yang dapat dijembatani. Penelitian sebelumnya oleh Mohammad Pribadi and Nurdin Nurdin menunjukkan bahwa tradisi shalawat di Indonesia telah lama menjadi bagian dari ekspresi religius masyarakat, tetapi lebih banyak berfokus pada aspek ritual dan budaya. Studi ini mengabaikan potensi transformasi sosial yang dapat dihasilkan dari praktik shalawat. 8 Mafia Shalawat, dengan pendekatannya yang inklusif, menawarkan perspektif baru tentang bagaimana shalawat dapat menjadi alat untuk perubahan sosial yang lebih luas. Sementara itu, penelitian Dara Fatia menyoroti pentingnya tradisi Maulid dan pembacaan shalawat dalam membangun solidaritas sosial di masyarakat santri. Namun, penelitian ini terbatas pada komunitas dengan latar belakang religius yang homogen. Sementara itu, jauh sebelum tradisi shalawatan berkembang seperti sekarang ini, salah satu pesantren tertua Nusantara yang dipercaya ada di Ponorogo, yakni Pesantren Tegalsari, sudah menjalankan praktik shalawat dengan menggunakan langgam khas Jawa. Selain shalawat, pesantren ini juga mempraktikkan tradisi syiAoiran yang dilakukan berjamaAoah di Masjid Tegalsari yang masih berlangsung hingga kini. Fakta ini sebagaimana disampaikan oleh Dawam Multazamy Rohmatulloh dalam penelitiannya tentang warisan budaya pesantren Tegalsari Ponorogo. 10 Mafia Shalawat, dengan anggotanya yang berasal dari berbagai latar belakang, memberikan dimensi baru tentang inklusivitas dakwah berbasis shalawat yang belum banyak diungkap dalam penelitian sebelumnya. Distingtif sekaligus melengkapi gap dari penelitian terdahulu, penelitian ini bertujuan untuk menggali ayat-ayat Al-QurAoan yang menjadi dasar ideologis Mafia Shalawat Ponorogo dan bagaimana ayat-ayat tersebut diideologisasikan menjadi gerakan praksis. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis peran Mafia Shalawat sebagai media transformasi sosial dan Dadi Bagaskara. AuAktualisasi Kaidah Pertunjukan Pengajian Mafia SholawatAy (PhD Thesis. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, 2. , http://repository. isi-ska. id/3864. Mohaammad Pribadi dan Nurdin Nurdin. AuThe Practice of Salawat Nariyah in Rural Javanese Society Indonesia: Religiosity or Sociality?,Ay Review of International Geographical Education Online 11, no. 2545Ae55. Dara Fatia. R Nunung Nurwati, dan Bintarsih Sekarningrum. AuTRADISI MAULID: PERKUAT SOLIDARITAS SOSIAL MASYARAKAT ACEH,Ay t. Dawam M. Rohmatulloh. AuLocal Muslim Heritage: Pelestarian Warisan Budaya Pesantren Di Tegalsari PonorogoAy. Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars, no. Series 1 . : 232-239. https://proceedings. id/index. php/ancoms/article/view/125. Living QurAoan. Transformasi Sosial, dan Spiritualitas: Ideologisasi ShalawatA Ibnu Muchlis spiritual bagi anggotanya yang berasal dari latar belakang beragam. Penelitian ini penting karena memberikan wawasan baru tentang bagaimana tradisi keagamaan berbasis living QurAoan dapat menjadi media transformasi sosial dan spiritual yang inklusif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi model dakwah yang relevan dengan konteks masyarakat modern yang beragam dan memiliki tantangan sosial yang kompleks. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutika teoritis11 untuk mengeksplorasi fenomena living Qur'an dalam komunitas Mafia Shalawat Ponorogo. Pendekatan ini digunakan untuk memahami bagaimana ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya perintah bershalawat, diinterpretasikan dan diideologisasikan menjadi gerakan praksis yang mampu mentransformasi individu dan masyarakat. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan anggota komunitas Mafia Shalawat, dan dokumentasi aktivitas shalawat mereka. Dengan demikian, hermeneutika teoritis membantu menggali makna di balik tradisi shalawat sebagai media spiritual dan sosial. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori ideologi Pierre Bourdieu, khususnya konsep habitus dan arena, untuk memahami dinamika ideologisasi dalam komunitas ini. Habitus digunakan untuk menganalisis pola pikir dan tindakan anggota Mafia Shalawat yang memungkinkan mereka memaknai shalawat sebagai media transformasi diri. Sementara itu, konsep arena digunakan untuk melihat interaksi antara nilai-nilai Islam yang dihidupkan dalam komunitas ini dengan struktur sosial yang ada. Melalui pendekatan ini, penelitian mengungkap bagaimana Mafia Shalawat tidak hanya membentuk habitus religius baru bagi anggotanya, tetapi juga menciptakan arena dakwah yang inklusif bagi individu dengan latar belakang yang beragam. Mafia Shalawat dan Dakwah Inklusif QS. Al-Ahzab: 56 menjadi landasan utama bagi komunitas Mafia Shalawat dalam mengembangkan tradisi shalawat sebagai media transformasi spiritual dan sosial. Ayat ini dipahami tidak hanya sebagai perintah bershalawat kepada Nabi, tetapi juga sebagai ajakan untuk menciptakan hubungan emosional dengan nilai-nilai Islam melalui praktik ritual. Dalam komunitas ini, shalawat diinterpretasikan secara kreatif sebagai bentuk ekspresi religius yang dapat menjangkau individu dengan latar belakang non-religius. Tradisi shalawat, seperti pembacaan maulid dibaAo dan al-barzanji, menjadi sarana inklusif yang menyatukan anggota komunitas dalam semangat spiritualitas bersama. Interpretasi ini juga mencerminkan pendekatan living QurAoan, di mana Al-Qur'an digunakan sebagai panduan yang relevan untuk menjawab kebutuhan spiritual dan sosial. 12 Dengan demikian, praktik ini tidak hanya memperkuat nilai keagamaan tetapi juga membangun solidaritas komunitas. Praktik shalawat dalam komunitas ini membentuk habitus religius baru yang berorientasi pada transformasi identitas dan perilaku anggotanya. Anggota yang berasal dari latar belakang Rick Roderick. Habermas and the Foundation of Critical Theory. New York: St. Martins Press . Heddy Shri Ahimsa-Putra. AuTHE LIVING AL-QURAoAN: BEBERAPA PERSPEKTIF ANTROPOLOGI,Ay Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 20, no. Mei 2. : 235, https://doi. org/10. 21580/ws. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 201-210 kehidupan "maksiat" mulai menginternalisasi nilai-nilai Islam melalui partisipasi aktif dalam ritual keagamaan yang dilakukan bersama. Ritual rutin ini menciptakan kebiasaan baru, seperti disiplin dalam kegiatan spiritual, yang memperkuat identitas keagamaan mereka. Proses internalisasi ini menunjukkan bahwa habitus religius dibangun melalui pembiasaan yang terus menerus dan didukung oleh lingkungan komunitas yang inklusif. Dalam konteks ini, ajaran Islam tidak hanya menjadi pedoman moral, tetapi juga alat untuk membangun identitas kolektif yang Proses transformasi ini semakin kuat melalui interaksi sosial dalam komunitas, yang memberikan ruang bagi individu untuk berkembang secara spiritual dan sosial. Mafia Shalawat berhasil menciptakan arena dakwah yang inklusif, di mana individu dari berbagai latar belakang sosial merasa diterima dan diberdayakan. Arena ini menjadi ruang bagi proses transformasi, baik secara personal maupun sosial, melalui praktik shalawat yang disertai dengan semangat persaudaraan dan toleransi. Aktivitas komunitas ini tidak hanya mengurangi stigma sosial terhadap anggotanya, tetapi juga menjadi model bagi dakwah yang adaptif terhadap kebutuhan zaman, bahkan relevan pula terhadap argumentasi Agus Setyawan yang menawarkan pemaknaan ulang terhadap hakikat dakwah Islamiyah sebagai dakwah yang menyelamatkan. Keberhasilan komunitas ini terlihat dalam perubahan perilaku anggotanya, yang kini aktif berkontribusi dalam menciptakan harmoni sosial di masyarakat Ponorogo. 15 Dengan memanfaatkan ayat Al-Qur'an sebagai dasar ideologi, komunitas ini menunjukkan bahwa dakwah dapat menjadi medium untuk mengatasi konflik sosial dan membangun solidaritas. Dalam konteks ini. Mafia Shalawat berfungsi sebagai penggerak transformasi yang menjembatani nilainilai spiritual dan kebutuhan sosial masyarakat modern. Resepsi Ayat al-QurAoan sebagai Dasar Ideologi Shalawat Temuan penelitian menunjukkan bahwa QS. Al-Ahzab: 56 menjadi fondasi ideologis komunitas Mafia Shalawat dalam menjalankan transformasi spiritual dan sosial. Ayat ini dimaknai sebagai perbuatan yang bukan hanya perintah tapi Allah juga ikut melaksanakan adalah shalawat. Shalawat memang ibadah yang mudah untuk dilaksanakan oleh siapapun, tanpa ada syarat dalam tertentu dalam menjalankannya. Shalawat tidak mengandung nilai negatif dari segi manapun, dan mengandung sebuah keniscayaan mutlak yang ditegaskan Allah untuk menunjukkan kemuliaan martabat Rasulullah 17. Ayat tersebut bukan hanya sebagai perintah bershalawat, tetapi juga sebagai panduan emosional untuk menciptakan keterikatan dengan nilai-nilai Islam melalui ritual. Tradisi seperti pembacaan maulid dibaAo dan al-barzanji dijadikan media inklusif yang menyatukan individu dari Syukur Amin. Tasawuf Konstekstual Solusi Problem Manusia Modern (Pustaka Pelajar, 2. Agus Setyawan. AuDakwah yang Menyelamatkan: Memaknai Ulang Hakikat dan Tujuan DaAowah Islamiyah,Ay Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan 15, no. November 2. : 189Ae99, https://doi. org/10. 37680/adabiya. Sikap adaptif terhadap keberagaman dan tradisi sepertinya sudah menjadi karakter masyarakat Ponorogo, sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Arik dan juga Dawam bahwa karakter muslim Ponorogo menunjukkan hubungan yang haronis antara tradisi-tradisi dan keberagaman di Ponorogo. Arik Dwijayanto dan Dawam Multazamy Rohmatulloh. AuPONOROGO. THE LITTLE JAVA: POTRET KEBUDAYAAN DAN KEBERAGAMAAN MASYARAKAT MUSLIM PONOROGO ABAD XX,Ay Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan 13, no. September 2. : 1Ae31, https://doi. org/10. 37680/adabiya. Shihab M. Quraish. Tafsir Al-Misbah. Pesan. Kesan dan Keserasian (Jakarta: Lentera Hati, 2. Katsir Ibnu. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, jilid 6 (Surabaya: Bina Ilmu, 1. Living QurAoan. Transformasi Sosial, dan Spiritualitas: Ideologisasi ShalawatA Ibnu Muchlis latar belakang religius maupun non-religius. Shalawat diinterpretasikan secara kreatif sehingga menjadi sarana transformasi spiritual dan sosial yang relevan dengan kebutuhan zaman. Interpretasi ini mencerminkan pendekatan living QurAoan yang mengintegrasikan ajaran Al-QurAoan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Praktik shalawat ini membangun habitus religius baru dalam komunitas yang mendorong transformasi identitas dan perilaku anggota. Proses internalisasi nilai-nilai Islam terjadi melalui partisipasi aktif dalam ritual kolektif yang berulang, menciptakan kebiasaan baru seperti disiplin Lingkungan komunitas yang mendukung menjadikan ajaran Islam lebih dari sekadar pedoman moral, tetapi juga alat membangun identitas kolektif. Proses ini diperkuat melalui interaksi sosial yang memberikan ruang bagi anggota untuk berkembang secara spiritual dan Hasilnya, komunitas ini menjadi model dakwah yang inklusif, merangkul keberagaman, dan memberdayakan individu secara sosial dan spiritual. Penelitian ini sejalan dengan temuan Pribadi and Nurdin yang menekankan peran tradisi shalawat dalam memperkuat identitas religius di komunitas Muslim. 19 Namun. Mafia Shalawat menawarkan pendekatan yang lebih inovatif dengan menjadikan shalawat sebagai media transformasi bagi individu yang sebelumnya tidak religius. Dalam hal ini, penelitian kita memperluas pemahaman tentang fleksibilitas tradisi shalawat sebagai sarana pembentukan identitas spiritual yang relevan dengan kondisi sosial. Di sisi lain, penelitian Pribadi and Nurdin berfokus pada solidaritas antar komunitas Muslim melalui shalawat, tanpa menyoroti transformasi individu secara spesifik. 20 Mafia Shalawat melangkah lebih jauh dengan membuktikan bahwa tradisi ini dapat menjadi medium untuk mengubah stigma sosial dan membangun identitas kolektif baru. Hal ini menegaskan bahwa shalawat tidak hanya mempererat solidaritas tetapi juga memiliki potensi transformatif secara individual. Penelitian Pribadi and Nurdin menggarisbawahi pentingnya dakwah berbasis komunitas, namun belum meneliti secara mendalam peran QS. Al-Ahzab: 56 sebagai basis ideologis. Penelitian kita memberikan kontribusi unik dengan menunjukkan bagaimana ayat ini diinterpretasikan secara kontekstual untuk menjawab kebutuhan spiritual dan sosial masyarakat Mafia Shalawat memberikan dimensi baru dalam memahami bagaimana living QurAoan dapat diterapkan dalam dakwah inklusif. Kesamaan penelitian ini dengan Pamela Ebstyne King adalah penekanan pada peran ritual keagamaan dalam membentuk identitas baru di komunitas Muslim. 21 Namun. Mafia Shalawat menonjol dalam menciptakan proses transformasi yang tidak hanya ritualistik, tetapi juga sosial dan emosional. Hal ini menunjukkan bahwa shalawat dapat menjadi jembatan antara spiritualitas dan kebutuhan sosial dalam masyarakat modern. Penelitian ini juga melampaui temuan Clifford Setyawan. AuDakwah yang Menyelamatkan. Ay Pribadi dan Nurdin. AuThe Practice of Salawat Nariyah in Rural Javanese Society Indonesia. Ay Pribadi dan Nurdin. Pamela Ebstyne King. AuReligion and identity: The role of ideological, social, and spiritual contexts,Ay dalam Beyond the self (Routledge, 2. , 197Ae204, https://w. com/chapters/edit/10. 4324/978020376468811/religion-identity-role-ideological-social-spiritual-contexts-pamela-ebstyne-king. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 201-210 Geertz yang hanya membahas aspek solidaritas sosial dalam komunitas Muslim. 22 Mafia Shalawat tidak hanya menciptakan solidaritas tetapi juga memperkuat identitas individu dan kolektif melalui interpretasi kreatif terhadap QS. Al-Ahzab: 56. Ini memberikan wawasan baru tentang peran ideologi QurAoani dalam membentuk komunitas yang inklusif dan transformatif. Dengan menggunakan teori ideologi Pierre Bourdieu. Mafia Shalawat dapat dilihat sebagai arena di mana nilai-nilai religius dikontekstualisasikan untuk menjawab kebutuhan spiritual dan Dalam aspek spiritual shalawat mempunyai keistimewaan yang sangat berarti bagi umat Islam, yaitu mengharap syafaAoat Nabi. SyafaAoat berarti memperoleh keselamatan Allah melalui perantara Nabi, sebagaimana sabda Nabi bahwa, "Barang siapa memohonkan AualwasilahAy bagiku kepada Allah, patutlah ia memperoleh syafaAoatku di hari kiamat". Dengan memperbanyak shalawat hati mereka akan tergugah untuk berhenti dari perbuatan dosa dan bertaubat 23. Dari aspek social berkenaan dengan hubungan silaturahmi antar sesama manusia, walapun mereka mempunyai perbedaan di wilayah kelas soisal maupun keagamaan. Mereka yang terdiri dari kelompok yang paham agama, dihadapkan dengan kelompok yang sama sekali belum paham agama, yaitu preman. PSK, dan lain sebagainya. Hal ini melatih mereka untuk saling bertegur sapa sesama manusia walapun terdapat perbedaan di antara mereka. Habitus religius yang terbentuk melalui shalawat mencerminkan internalisasi nilai-nilai Islam yang diperkuat oleh lingkungan komunitas. 24 Proses internalisasi ini menunjukkan bahwa identitas religius tidak hanya dipengaruhi oleh ritual, tetapi juga oleh interaksi sosial yang mendukung. Konsep arena Bourdieu menjelaskan bahwa Mafia Shalawat menciptakan ruang dakwah yang kompetitif namun inklusif. 25 Arena ini memungkinkan individu dengan berbagai latar belakang untuk berpartisipasi, menciptakan habitus baru yang selaras dengan ajaran Islam. QS. Al-Ahzab: 56 berfungsi sebagai ideologi yang mengarahkan praktik komunitas ini, menjadikan shalawat sebagai medium yang efektif untuk transformasi personal dan sosial. Transformasi individu yang berasal dari latar belakang maksiat menjadi religius dalam Mafia Shalawat juga sejalan dengan teori Bourdieu tentang bagaimana praktik sosial menciptakan kebiasaan baru. Proses pembiasaan ini tidak hanya membentuk identitas individu, tetapi juga memperkuat solidaritas komunitas. Melalui ritual yang berulang, komunitas ini membangun kapital sosial yang mendukung transformasi jangka panjang. Lebih jauh, interaksi dalam arena ini menunjukkan bahwa Mafia Shalawat tidak hanya berfungsi sebagai komunitas religius, tetapi juga sebagai medium dakwah yang adaptif. Pendekatan ini dapat menjadi model bagi pengembangan dakwah berbasis komunitas yang responsif terhadap kebutuhan spiritual dan sosial masyarakat modern. Penelitian ini terbatas pada analisis Mafia Shalawat di Ponorogo, sehingga hasilnya mungkin tidak mewakili praktik serupa di komunitas lain. Selain itu, pendekatan hermeneutika Clifford Geertz. AuRitual and social change: a Javanese example,Ay dalam Ritual (Routledge, 2. , 549Ae76, https://w. com/chapters/edit/10. 4324/9781315244099-32/ritual-social-change-javanese-exampleclifford-geertz. Suti Sunengsih. AuMEMBACA SHALAWAT DALAM PERSPEKTIF HADIS,Ay Jurnal Holistic Vo. Pierre Bourdieu. AuCHAPTER FOUR Structures. Habitus. Power: Basis for a Theory of Symbolic Power,Ay dalam Culture/Power/History, ed. oleh Nicholas B. Dirks. Geoff Eley, dan Sherry B. Ortner (Princeton University Press, 1. , 155Ae99, https://doi. org/10. 1515/9780691228006-007. Fauzi Fashri. Menyikap Kuasa Symbol: Apropriasi Reflektif Pemikiran Pierre Bourdieu (Juxtapose, 2. Living QurAoan. Transformasi Sosial, dan Spiritualitas: Ideologisasi ShalawatA Ibnu Muchlis teoritis cenderung fokus pada interpretasi teks dan wawancara, sehingga kurang mengakomodasi aspek sosiologis yang lebih mendalam. Pengaruh bias dari narasumber yang terlibat langsung dalam komunitas ini juga dapat memengaruhi objektivitas data. Untuk penelitian selanjutnya, pendekatan multidisiplin dan studi lintas komunitas dapat dilakukan untuk memperluas generalisasi dan memberikan perspektif yang lebih komprehensif. Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa QS. Al-Ahzab: 56 menjadi landasan utama komunitas Mafia Shalawat dalam mengembangkan tradisi shalawat sebagai media transformasi spiritual dan sosial. Ayat ini diinterpretasikan tidak hanya sebagai perintah bershalawat, tetapi juga sebagai panduan untuk menciptakan keterhubungan emosional dengan nilai-nilai Islam melalui ritual yang inklusif. Tradisi seperti pembacaan maulid dibaAo dan al-barzanji menjadi sarana pembentukan habitus religius yang mendorong perubahan identitas dan perilaku anggota komunitas. Pendekatan ini mencerminkan living QurAoan, di mana ajaran Al-QurAoan relevan dengan kebutuhan spiritual dan sosial masyarakat modern. Komunitas Mafia Shalawat berhasil menciptakan arena dakwah yang inklusif, memberdayakan individu dari berbagai latar belakang untuk bertransformasi secara spiritual dan Praktik shalawat menjadi ruang untuk membangun solidaritas dan identitas kolektif, serta memberikan model dakwah yang adaptif terhadap tantangan zaman. Dengan demikian, tradisi shalawat dapat menjadi medium yang efektif untuk mengatasi konflik sosial, membangun solidaritas, dan mendorong transformasi spiritual masyarakat. Referensi