P a g e | 227 Jurnal Info Kesehatan Vo 15. No. Juni 2017, pp. P-ISSN 0216-504X. E-ISSN 2620-536X Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/infokes Antibacterial Activity Test of Ethanol Extract of Faloak Tree Skin (Sterculia sp. ) On Staphylococcus Aureus Bacteria Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Pohon Faloak (Sterculia sp. ) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus Priska Ernestina Tenda, 1bMaria Yangsye Lenggu, 1cMarini Sriyuni Ngale Jurusan Farmasi. Poltekkes Kemenkes Kupang Email: priska@poltekkeskupang. Email: yangsye99@yahoo. Email: snmarini@yahoo. HIGHLIGTS A The purpose of this research is to know the antibacterial activity of ethanol extract of faloak bark (Sterculia ) On the growth of Staphylococcus aureus bacteria. ARTICLE INFO: Artikel Histori: Received date: February 04th, 2017 Revised date: February 18th, 2017 Accepted date: June 27th, 2017 Keywords: Ethanol Extract of Faloak Tree Leather Antibacterial Activity Diffusion Method Kata Kunci: Ekstrak Etanol Kulit Pohon Faloak Aktivitas Antibakteri Metode Difusi ABSTARCT/ABSTRAK Faloak is a medicinal plant that grows in extreme conditions in the East Nusa Tenggara region. Faloak has benefits for herbal treatment where in the content of saponin compounds, steroids and triterpenoids, flavonoids and alkaloids found in the bark of the faloak tree serves for the treatment of various diseases caused by bacteria. The purpose of this research is to know the antibacterial activity of ethanol extract of faloak bark (Sterculia sp. ) On the growth of Staphylococcus aureus bacteria. Determination of antibacterial activity by diffusion method using cylinder, and see the existence of clear zone around cylinder. The results showed that the concentration of 22. 5% w / v. 45% w / v. 75% w / v and 100% w / v were able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria with mean inhibitory zone diameter of 1. 33 cm, 1. 66 cm, 1. cm, 2. 13 cm, the concentration of the inhibitory zone is greater so that the effective concentration inhibiting the growth of Staphylococcus aureus bacteria is 100% w / v. Faloak merupakan tumbuhan obat yang tumbuh pada kondisi ekstrim di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Faloak mempunyai manfaat untuk pengobatan herbal dimana pada kandungan senyawa saponin, steroid dan triterpenoid, flavonoid dan alkaloida yang terdapat pada kulit pohon faloak berfungsi untuk pengobatan berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Tujuan penelitian untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit pohon faloak (Sterculia sp. ) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penentuan aktivitas antibaketri dengan metode difusi menggunakan silinder, dan melihat adanya zona bening disekitar silinder. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi 22,5% b/v. 45% b/v. 75% b/v dan 100% b/v mampu P a g e | 228 menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter rata- rata zona hambat berturut- turut sebesar 1,33 cm, 1,66 cm, 1,90 cm, 2,13 cm, semakin tinggi konsentrasi maka zona hambat makin besar sehingga konsentrasi efektif mengambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah 100% b/v. CopyrightA2017 Jurnal Info Kesehatan All rights reserved Corresponding Author: Priska Ernestina Tenda Dosen Farmasi. Poltekkes Kemenkes Kupang Jalan Farmasi. Kupang. Nusa Tenggara Timur- 85111 Email: priska@poltekkeskupang. P a g e | 229 PENDAHULUAN yang terdapat pada kulit pohon faloak Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia mengenal dan memanfaatkan berufungsi untuk pengobatan berbagai penyakit yangdisebabkan oleh bakteri seperti, tifus . emam tifoi. , reumatik, tekanan darah, dan gangguan fungsi hati / liver (Ranta, 2. yang dihadapi. Pengetahuan tentang Pada pemanfaatan tanaman ini merupakan senyawa yang terdapat dalam ekstrak kulit pohon faloak digunakan sebagai antimikroba adalah senyawa saponin dan ketrampilan yang secara turun temurun Saponin itu sendiri bekerja sebagai antibakteri dengan mengganggu berikutnya termasuk generasi saat ini stabilitas membran sel bakteri sehingga (Wijayakusuma, 2. Sedangkan Flavonoid Gaya hidup kembali ke alam . ack to natur. yang menjadi tren saat ini membawa masyarakat kembali bahan alam, termasuk pengobatan dengan tumbuhan berkhasiat . Selain ekonomis, efek samping ramuan herbal sangat kecil, oleh karena itu penggunaan obat herbal alami dengan formulasi yang tepat lebih aman dan efektif (Wijayakusuma, 2. obat yang dapat tumbuh pada kondisi ekstrim di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyarakat memanfaatkan kulit kandungan senyawa saponin, steroid dan triterpenoid, flavonoid dan alkaloida kerusakan permeabilitas dinding sel bakteri (Darsana, et al. , 2. Didukung pula Penelitian oleh Sengga . , terdapat daya hambat ekstrak kulit batang pohon faloak konsentrasi 100% b/v terhadap bakteri Escherichia coli. Pengkajian Faloak merupakan tumbuhan ekstraktif yang terkandung dalam pohon faloak seperti kayu, biji, daun kulit, dan pemanfaatannya sebagai tumbuhan obat sampai dengan saat ini belum dilaporkan penggunaan secara empiris. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi zat ekstraktif yang terdapat dalam faloak P a g e | 230 ekstrak kulit faloak terhadap bakteri khususnya zat antimokroba. Perbedaan Staphylococcus komposisi dan strukutur sel bakteri pengganggu dalam penelitian ini adalah Gram-negatif dan bakteri Gram- positif umur tanaman. dimana perbedaan- perbedaan yang nyata dalam komposisi dan struktur Variabel Definisi Operasional dinding sel yang menyebabkan kedua Ekstrak etanol adalah ekstrak kental kelompok bakteri ini memberi respon yang diperoleh dengan cara maserasi terhadap perlakuan dan bahan seperti selama 5 hari menggunakan pelarut pada pewarnaan gram dan antibiotik etanol 70%. Kulit pohon faloak adalah bagian (Pelczar dan Chan, 1. Mengingat diatas menggunakan subyek penelitian bakteri Gram-negatif (Escherichia col. , mendorong penulis untuk menggunakan subyek penelitian Gram-positif dengan judul AuUji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Pohon Faloak (Sterculia S. Bakteri Staphylococcus aureusAy. dari tanaman faloak yang diambil kulit pohon yang sudah tua. Aktivitas kemampuan ekstrak kulit pohon faloak dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus difusi diukur dengan diameter zona bening yang terbentuk disekitar METODE PENELITIAN Penelitian Subyek penelitian adalah bakteri Staphylococcus aureus ATCC Alat dan Bahan Alat Alat-alat penelitian antara lain, autoclave, batang Variabel Penelitian pengaduk, beaker glass 50 mL dan 100 Variabel bebas dalam penelitian mL, bejana maserasi, botol coklat steril, ini adalah konsentrasi ekstrak kulit cawan petri, cawan porselin, colony faloak 22,5% b/v. 45% b/v. 75% b/v dan counter, disposable steril 5 mL, gelas ukur 25 mL dan 100 mL, hot plate, penelitian ini adalah aktivitas antibakteri watebath, incubator, kain Jangka sorong, b/v. Variabel P a g e | 231 kassa steril, kapas, karet hisap, labu ditambahkan 750 mL etanol 70% erlemeyer 250 mL, labu ukur 5 mL & 10 kemudian ditutup. Campuran tersebut mL, laminar Air Flow, lampu bunsen, kemudian diserkai. Ampas dicuci silinder, pinset, pipet ukur 0,1 dan 0,5 mL, pipet volume 1 ml, 5 mL, dan 10 mL, tabung reaksi. Pindahkan dalam bejana penutup dan dibiarkan di tempat yang Bahan sejuk terlindung dari cahaya selama 2 Aquadest, alkohol 70%, aquadest steril, hari, kemudian dienaptuang. Maserat bakteri Staphylococcus aureus, ekstrak diuapkan dengan alat rotavapor pada etanol kulit pohon faloak, media BPA, suhu 68AC kemudian dipekatkan lagi media Brain heart menggunakan waterbath. Infusion Broth (BHIB), media Pepton Dilution Fluid (PDF), media Plate Count Agar (PCA). Prosedur Penelitian Pengujian dilakukan dengan cara dimasukkan sampel ke dalam tabung reaksi. Persiapan alat dan bahan Sebelum Uji bebas etanol tambahkan asam asetat dan asam sulfat kemudian dipanaskan. Ekstrak dikatakan bebas etanol bila tidak ada bau ester yang khas dari etanol. Pengambilan sampel Kulit faloak diambil dari pohon faloak yang sudah tua kemudian dicuci lalu dikeringkan, setelah kering kulit faloak dirajang lalu dihaluskan dengan cara ditumbuk sampai halus. Identifikasi kualitatif ekstrak Identifikasi flavonoid Ekstrak kental 0,1 g dilarutkan dalam 10 mL etanol kemudian dibagi kedalam empat tabung Pembuatan ekstrak etanol kulit Tabung pertama digunakan Pembuatan ekstrak etanol sebagai tabung kontrol, tabung simplisia kulit batang faloak sebagai berikut: berturut-turut ditambahkan NaOH. Sebanyak 100 g serbuk simplisia H2SO4 pekat, dan serbuk Mg-HCl dimasukkan ke dalam bejana tertutup. Warna pada masing-masing P a g e | 232 terbentuknya busa/buih (Gafur et, perubahan warna maka posotif (Gafur dkk, 2. al, 2. Identifikasi steroid Sebanyak 0,1 g ekstrak Identifkasi alkaloid ditambahkan 2 mL, kloroform Sebanyak 0,1 g ekstrak kemudian ditambah lagi 5 tetes H2SO4 6 M. Uji positif adanya kloroform amoniakal dan hasilnya dibagi dalam dua tabung. Tabung perubahan warna larutan menjadi cokelat (Gafur dkk, 2. H2SO4 Lapisan dipisahkan, dibagi dalam 2 tabung reaksi dan masing-masing tabung menggunakan pereaksi Identifikasi terpenoid Ekstrak kental ditimbang ditambahkan 20 mL etanol, 2 mL kloroform, dan 3 mL H2SO4 pekat. Mayer dan Wagner. Tabung Uji kedua dilakukan pengujian dengan ditandai dengan perubahan warna menggunakan pereaksi Hager. Jika larutan menjadi merah (Gafur terbentuk endapan maka sampel et,al, 2. alkaloid (Gafur et, al, 2. Pembuatan kultur bakteri Staphylococcusaureus Identifikasi saponin Dikeluarkan 1 beads bakteri Ekstrak ditimbang sebanyak Staphylococcus ATCC 0,1 g dilarutkan dengan air panas 6538 darikultur induk, kemudian dimasukan dalam 10 mL media BHIB. Diinkubasi pada suhu 37 Selanjutnya disaring dan filtratnya 0C selama 24 jam. Isolasi 1 ose diambil sebanyak 10 mL dan biakan dari media BHIB ke media BPA reaksi, larutan kemudian dikocok- kemudian diinkubasi pada suhu 37 Uji positif adanya saponin 0C selama 24-48 jam. Dilakukan P a g e | 233 pengamatan terhadap koloni yang Colony counter. Staphylococcus struktur dinding sel tebal, bentuk media PDFyang diambil untuk sel batang atau lagmen, dinding uji aktivitas antibakteri adalah selnya mengandung lipid yang lebih normal, dan mengandung Staphylococcusaureus asam terkuat. sel/mL sebagai standar. Biakan dari media BIHB yang pertumbuhankoloni A 1. Penetapan bakteri Staphylococcus Untuk mengetahui sterilitas dari media dan pengencer, tuang 15 telah diinkubasi pada suhu 370C mL media PCA ke dalam cawan selama 24 jam dipipet 1 mL kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi . ebagai kontrol medi. dan pipet 1 mL yang berisi 9 mL . engenceran 10-. media PDF ditambahkan 15 ml Dari pengenceran 10-1 dipipet mL media PCA, masukkan kedalam kedalam tabung reaksi yang berisi 9 cawan petri dibuat duplo . ebagai mL media PDF . engenceran 10-. dan seterusnya hingga diperoleh Setelah media memadat diinkubasi pada pengenceran 10-9. Dari masing- suhu 370C selama 24-48 jam dan masing pengenceran dipipet 1 mL ke kemudian diamati. dalam cawan petri dan dibuat duplo. Uji aktivitas Masukan 15 mL media PCA ke batang pohon faloak dalam masing- masing cawan terhadap bakteri Staphylococcus petri yang telah berisi supensi Staphylococcusaureus. Dibuat larutan sampel dengan konsentrasi 22,5% b/v. 45% b/v. suhu370C selama 24-48 jam. 75% b/v dan 100% b/v Dibuat 40 Setelah 24-48 jam, dipilih cawan mL media PCA sebagai base layer untuk 3 cawan petri sel/mL dan koloni berwarna masing-masing 10 mL, dibiarkan Setelah perhitungan koloni 3 cawan petri untuk P a g e | 234 pengujian dan 1 cawan petri sampel dapat berdiusi ke dalam sebagai kontrol media. Dibuat 80 mL media PCA sebagai seed Diinkubasi pada suhu 370C layer untuk 4 cawan petri selama 24 jam. Setalah 24 jam, masing- masing 20 mL. Tiga silinder diangkat lalu diamati cawan petri untuk pengujian dan 1 cawan petri sebagai kontrol bening disekitar silinder yang Masukan 1% inokulium dengan menggunakan jangka sorong. sel/mL dari hasil pengenceran ke dalam seed layer, dicampur hambatan atau Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data Teknik pengumpulan data dengan cara dikocok hingga Pengumpulan data dilakukan Pipet 20 mL media PCA sebagai dengan cara mengumpulkan data hasil seed layer yang telah berisi pengukuran diameter zona hambatan supensi bakteri Staphylococcus ekstrak kulit faloak terhadap bakteri aureus, dimasukkankedalam 3 Staphylococcus aureus yang ditandai cawan petri yang telah berisi dengan adanya zona hambatan berupa media PCA sebagai base layer, lingkaran bening disekitar silinder dibiarkan memadat. pada setiap perlakuan. Disiapkan 5 silinder, 4 silinder Analisis data untuk larutan sampel ekstrak Data kulit faloak dan 1 silinder diisi dengan aquadest steril sebagai selanjutnya dianalisis dengan analisis kontrol negatif. Pipet 0,1 mL Sidik sampel ekstrak kulit faloak dari Rancangan Ragam (ANOVA) Acak Lengkap Dimasukkan juga aquadest steril menunjukkan perbedaanyang nyata p value> = 0,05 dilanjutkan dengan uji pecadang sebagai kontrol negatif. Cawan petri dibiarkan selama 60 menit agar LSD dan SNK. P a g e | 235 i. HASIL DAN PEMBAHASAN 16,51 ram dengan presentase rendesman sebesar 16,51 %. Kemudian dilakukan Penelitian untuk mengetahui aktivitas uji bebas etanol pada ekstrak kental yang antibakteri dari ekstrak kulit pohon diperoleh hingga tidak tercium bau etil faloak terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus Penelitian Jurusan asetat, dan dibuat konsentrasi 22,5% b/v. 45% b/v. 75% b/v dan 100% b/vuntuk Farmasi pada bulan Juli 2016. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap. Sebelum dilakukan uj iaktivitas yang sudah tua dan berdiameter minimal antibakteri ekstrak etanol kulit pohon faloak terlebih dahulu dilakukan uji kering sampel identifikasi zat aktif yang terkandung dirajang lalu dihaluskan dengan cara Etanol Sampel diambil dari pohon Kemudian Identifikasi Kualitatif Ekstrak Pohon Faloak bakteriStaphylococcus aureus. Pembuatan Ekstrak Etanol Kulit dalam simplisia, berdasarkan pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa ektrak etanol kulit pohon faloak terdapat maserasi dengan cairan penyari etanol kandungan senyawa didalamnya dan Hasil ekstraksi yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 1. kemudian diuapkan diatas waterbath hingga diperoleh ektrak kental sebanyak Tabel 1. Hasil Identifikasi Kualitatif Esktrak Etanol Kulit Pohon FaloakKulit Pohon Faloak(Sterculiasp. Senyawa Pereaksi Perubahan dengan Pereaksi Hasil Flavonoid Mg-HCl H2SO4 p Cokelat Ae Cokelat kehitaman NaOH Cokelat Ae Hitam kecokelatan Alkaloid Mayer Endapan cokelat P a g e | 236 Wagner Endapan cokelat Hager Endapan cokelat Uji Cokelat Ae cokelat Tidak terjadi perubahan warna Terbentuk busa Steroid SalkowskiAos Terpenoid 0,1 g 2 mL etanol 2 mL CHCl3 3 ml H2SO4 Saponin Aquades (Sumber: Data Primer Penelitian, 2. asil Uji Aktivitas Antibakteri pohon faloak Ekstrak Etanol Kulit Pohon pembuatan suspensi bakteriStaphyloccus Faloak Terhadap Bakteri aureus dengan tujuanuntuk melihat pada Staphylococcus aureus pengenceran berapa yang menunjukkan Penelitian ini dilakukan dengan jumlah koloni bakteri A 1. 3 tahap yaitu pembuatan kultur bakteri sel/mL dilakukan dari pengenceran . - Staphyloccus ) dipipet 1 mL ke dalam 9 mL media ujiaktivitas antibakteri ekstrak etanol PDF dan seterusnya hingga diperoleh pengenceran . Hasil pengenceran Staphyloccus yang didapat pada pengenceran . Media yang digunakan adalah media terdapat pertumbuhan kolono bakteri A BHIB (Brain Heart Infusion Brot. , 000 sel/mL. Selanjutnya BPA (Braid Parker Aga. kontrol media untuk mengetahui media Bakteri Staphyloccus aureus yang digunakan adalah baketri strain murni ATCC 6538 koleksi BPOM yang digunakan masih murni atau sudah tercemar oleh mikroba atau jamur. Uji kupang yang telah diremajakan dan diperkaya pada media Nutrient Agar metode silinder, dengan cara meletakkan Miring. Sebelum dilakukan uji aktivitas silinder yang terbuat dari alluminium di atas media agar yang telah diinokulasi dengan menggunakan P a g e | 237 Tiap adanya zona bening disekitar silinder. sedemikian rupa sehingga berdiri diatas Zona bening tersebut kemudian diukur media agar, kemudian silinder diisi dengan larutan yang akan diuji dan Hasil pengukuran dapat dilihat diinkubasi selama 24 jam dan terlihat pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Kulit Pohon Faloak Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus. Replikasi Perlakuan Jumlah Rata- rata kontrol (-) 0 cm 0 cm 0 cm 0 cm 0 cm 0,9 cm 1,30 cm 1,80 cm 4 cm 1,33 cm 1,30 cm 1,60 cm 2,10 cm 1,66 cm 1,52 cm 1,90 cm 2,30 cm 5,72 cm 1,90 cm 1,90 cm 2,10 cm 2,40 cm` 6,4 cm 2,13 cm . umber: Pengelolaan Data Primer Laboratorium, 2. P a g e | 238 Hasil pengukuran diameter zona 45% b/v. 75% b/v dan 100% b/vmempunyai hambat menunjukkan bahwa ekstrak etanol aktivitas daya hambat terhadap pertumbuhan kulit pohon faloak dengan pengenceran pada konsentrasi 22,5% b/v. 45% b/v. 75% b/v dan 100% b/v mampu menghambat pertumbuhan menghasilkan zona hambat yang lebih besar Staphylococcus Adapun Staphylococcus diameter rata-rata zona hambat dari masing- pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus masing konsentrasi adalah 22,5% sebesar 1,33 adalah 100%b/v. Faktor yang mempengaruhi cm, 45% sebesar 1,66 cm, 75% sebesar 1,90 cm, 100% sebesar 2,13 cm. konsentrasi ekstrak etanol kulit pohon faloak Data hasil pengukuran diameter zona hambat ekstrak etanol kulit pohon faloak ANOVA menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL), dan menunjukkan nilai pvalue = 0,000 sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol kulit pohon faloak memiliki efek Data menggunakan SPSS versi 16,0 menunjukkan p value 0, 30 maka data dikatakan terdidtribusi dengan normal. pada penggunaan vial untuk seri konsentrasi larutan zat uji karena alat pengukuran yang digunakan tidak kuantitatif. IV. KESIMPULAN Simpulan Ekstrak etanol kulit pohon faloak dengan konsentrasi 22,5% b/v. b/v. b/vmempunyai aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus. Hasil yang diperoleh selanjutnya Semakin tinggi konsentrasi maka dilanjutkan dengan uji LSD untuk melihat zona hambat makin besar sehingga perbedaan makna pada setiap konsentrasi maupun kontrol. Kemudian dilakukan uji SNK mengambat pertumbuhan bakteri untuk mengetahui adanya beda nyata pada Staphylococcus aureus adalah100% setiap konsentrasi, dan hasil yang didapat tidak b/v. terdapat adanya beda nyata, karena pada setiap Saran konsentrasi memiliki zona hambat yang Untuk terpaut kecil sehingga tidak terdapat beda nyata antara setiap konsentrasi, sehingga dapat antibakteri ekstrak etanol kulit pohon ditarik kesimpulan bahwa Ekstrak etanol kulit faloak denganmetode yang berbeda pohon faloak dengan konsentrasi 22,5% b/v. P a g e | 239 dan menggunakan bakteri penyebab infeksi lain. REFERENSI