JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. Robby Rizky P. Dr. Ir. Habir . Wahyu Mahendra T. ST. MT. Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Dosen Pembimbing Jurusan Teknik Sipil. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Jln Ir H. Juanda No. Samarinda 75123 e-mail : robbyrizkypp12@gmail. INTISARI Indonesia merupakan negara yang berada di wilayah jalur gempa pasifik (Circum Pasific Earthquake Bel. dan jalur gempa asia (Trans Asiatic Earthquake Bel. sehingga sangat berpotensi mengalami gempa. Gempa bumi adalah getaran atau gerakan gelombang pada kulit bumi akibat dari pergeseran tiba-tiba dari lapisan tanah di bawah permukaan bumi . empeng Ada 2 pendekatan yang digunakan untuk memperhitungkan beban lateral . empa bum. yang bekerja pada struktur, yaitu secara statik ekivalen dan analisis dinamik ( respon spectrum atau time history ). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja gaya dalam pada struktur gedung bertingkat yang ditinjau berdasarkan drift, displacement dan base shear. Metode yang digunakan adalah analisis dinamik response spektrum dengan menggunakan bantuan ETABS V 9. Sistem struktur yang direncanakan menggunakan sistem ganda yaitu dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah dan Dinding Geser. Nilai drift terbesar arah x adalah 10,75 mm dan yang terkecil adalah 0,12 mm. Sedangkan nilai drift terbesar arah y adalah 7,06 mm dan yang terkecil adalah 0,07 mm. Untuk nilai displacement terbesar arah x adalah 2,49 mm, dan nilai displacement terbesar arah y adalah 1,18 Selanjutnya nilai base shear arah x dan arah y masing-masing sebesar 3323,911 kN dan 3873,630 kN. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil analisis respon spectrum pada arah X dan Y mengahasilkan Vdinamik lebih besar 0,85 Vstatik, gempa rencana memenuhi ketentuan yang berlaku sesuai peraturan SNI 03-1726-2012. Kata kunci : Response spectrum. drift, displacement, base shear ABSTRACT Indonesia is a country that is in the path of the Pacific earthquake (Circum Pacific Earthquake Bel. and the Asian earthquake (Trans Asiatic Earthquake Bel. so that the potential of experiencing an earthquake. An earthquake is a vibration or wave motion on the skin of the Earth resulting from the sudden shifting of soil layers under the surface of the Earth . arth plat. There are 2 approaches are used to account for lateral loads . are working on the structure, i. in a static analysis and dynamic equivalent . esponse spectrum or time histor. This research aims to know the performance style in a multi-storey building structure is reviewed based on drift, displacement and base shear. The method used is the dynamic response spectrum analysis using ETABS help V 9. The planned structure of the system using a dual system with a system of Order Bearers moment of Shear Wall and Medium. The value of the largest drift direction x is 10. 75 mm and the smallest is 0. 12 mm. While the value of the largest drift direction y is 7. 06 mm and the smallest is 0. 07 mm. Largest displacement values For the x direction is 2. 49 mm and the value of the largest displacement direction y is 1. 18 mm. Next value of base shear direction x and direction y each of 3323. 911 kN and kN 3873. Then it can be concluded that the results of the analysis of response spectrum on the X and Y direction mengahasilkan Vdinamik larger Vstatik 0,85, earthquake plan comply with applicable rules SNI 03-1726-2012. Key words: Response spectrum. drift, displacement, base shear ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang berada di wilayah jalur gempa pasifik (Circum Pasific Earthquake Bel. dan jalur gempa asia (Trans Asiatic Earthquake Bel. sehingga sangat berpotensi mengalami gempa. Gempa bumi adalah getaran atau gerakan gelombang pada kulit bumi akibat dari pergeseran tiba-tiba dari lapisan tanah di bawah permukaan bumi . empeng Gempa dahsyat yang pernah terjadi di Indonesia yang telah menimbulkan korban manusia dan harta benda antara lain : - Gempa/ Tsunami Aceh 26 Desember 2004 berkekuatan 9 Skala Richter - Gempa Nias 28 maret 2005 berkekuatan 8,7 Skala Richter - Gempa Yogyakarta 26 mei 2006 berkekuatan 5,9 Skala Richter - Gempa Padang tahun 2009 berkekuatan 7,6 Skala Richter - Gempa Mentawai tahun 2010 berkekuatan 7,2 Skala Richter Dengan adanya kejadian gempa di Indonesia yang mengakibatkan kerugian sangat besar bagi bangunan, maka diperlukan pengembangan analisis gempa terhadap struktur. Ada 2 pendekatan yang digunakan untuk memperhitungkan beban lateral . empa bum. yang bekerja pada struktur, yaitu secara statik ekivalen dan analisis dinamik ( respon spectrum atau time history ). Analisis dinamik sangat cocok digunakan untuk struktur bangunan yang tidak beraturan, bertingkat banyak terhadap pengaruh gempa. Dalam hal ini, khususnya bangunan gedung bertingkat di Samarinda. Kaltim termasuk wilayah gempa 1 yang mempuyai potensi rendah untuk mengalami gempa. Dengan demikian melakukan re-evaluasi kinerja seismik terhadap struktur bangunan, merupakan hal yang cukup penting sebagai bagian langkah konkret dalam penanggulangan dampak dari bencana gempa. Dalam penelitian ini menggunakan analisis dinamik dengan metode analisis respon Respon spektrum adalah suatu spektrum yang disajikan dalam bentuk grafik/plot antara peride struktur T, lawan respon-respon maksimum berdasarkan rasio redaman dan gempa tertentu. Dalam analisis respon spektrum hanya dipakai untuk menentukan gaya geser tingkat nominal dinamik akibat pengaruh gempa rencana. Gaya-gaya internal dalam unsur struktur gedung didapat dari analisis 3 dimensi berdasarkan beban gempa statik ekuivalen. Metode yang dipakai yaitu Metode Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) adalah suatu sistem rangka ruang dimana komponen-komponen strukturnya dapat menahan gayagaya yang bekerja melalui aksi lentur, geser, dan aksial. Permodelan struktur menggunakan aplikasi Etabs V. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Bagaimana mengevaluasi kinerja struktur portal pada gedung bertingkat menggunakan analisis respon spektrum yang ditinjau berdasarkan drift, displacement dan base shear ? Apakah Sistem Rangka Pemikul Momen yang bekerja pada struktur gedung bertingkat memenuhi persyaratan SNI 1726:2012 ? Manfaat Penelitian Manfaat penelitian pada Evaluasi Kinerja Struktur Portal pada Gedung Bertingkat Dengan Analisis Respon Spektrum Menggunakan ETABS V 9. 2 adalah sebagai berikut : Penelitian ini memberi manfaat terhadap ilmu pengetahuan khususnya teknik sipil, mengembangkan pengetahuan mengenai penggunaan software ETABS V 9. 2 khususnya dalam desain struktur beton portal 3 dimensi, dan memberikan pemahaman tentang analisis gempa dinamik. Untuk mengetahui kinerja struktur portal pada gedung bertingkat dengan menggunakan metode Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) sesuai persyaratan yang telah ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 TINJAUAN PUSTAKA Pembebanan pada struktur Jenis pembebanan Suatu konstruksi bangunan gedung juga harus direncanakan kekuatannya terhadap suatu Adapun jenis pembebanannya antara lain : Beban Mati Beban mati adalah berat seluruh bahan konstruksi bangunan gedung yang terpasang. Sesuai SNI 1727. 2013, yang termasuk beban mati adalah seperti dinding, lantai, atap, plafon, tangga, dinding partisi tetap, finishing. Beban Hidup Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung, termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat Menurut SNI 1727. 2013 seperti terlihat pada tabel 2. Tabel 2. Beban Hidup terdistribusi merata minimum. Lo dan Beban hidup terpusat minimum Terpusat Hunian atau penggunaan Merata psf. N/m. N/m. Apartemen (Lihat rumah tinggal Sistem lantai akses 50 . 2 000 . Ruang Kantor 2 000 . Ruang Komputer Gudang persenjataan 150 . a Ruang pertemuan Kursi tetap . erikat lanta. a Lobi 100 . a Kursi dapat dipindahkan 100 . a Pengguna pertemuan 100 . a Lantai podium 100 . a Balkon dan dek 1,5 kali beban untuk daerah yang Tidak perlu melebihi 100 psf . ,79 kN/m. Jalur untuk akses pemeliharaan 40 . Koridor 100 . sama seperti pelayanan Lantai Pertama hunian kecuali disebutkan lain Lantai lain Sumber : SNI 1727. Beban Angin Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Tabel 2. Faktor Arah Angin. Kd*. Tipe Struktur Faktor Arah Angin Kd* Bangunan Gedung Sistem penahan beban angin utama 0,85 Kompnen dan klading bangunan gedung 0,85 Atap lengkung 0,85 Cerobong asap, tangki, dan struktur yg sama Segi Empat 0,90 Segi enam 0,95 Bundar 0,95 Dinding pejal berdiri bebas dan papan reklame pejal berdiri bebas dan papan reklame terikat 0,85 0,85 ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 Tabel 2. Lanjutan Tipe Struktur Faktor Arah Angin Kd* Papan reklame terbuka dan kerangka kisi 0,85 Rangka batang menara Segi tiga, segi empat, persegi panjang 0,85 Penampang lainnya 0,95 Sumber : Faktor arah angin pasal 2. 3 dan pasal 2. Beban Gempa Beban Gempa adalah beban yang timbul akibat percepatan getaran tanah pada saat gempa Untuk merencanakan struktur bangunan tahan gempa, perlu diketahui percepatan yang terjadi pada batuan dasar. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, wilayah indonesia dapat dibagi ke dalam 6 wilayah zona gempa. Kombinasi Pembebanan Kombinasi pembebanan yang dipakai sesuai dengan Tata Cara Perencanaan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung SNI 2847. 2013 yaitu: Kekuatan Perlu Kekuatan perlu U harus paling tidak sama dengan pengaruh beban terfaktor sebagai berikut : Tabel 2. Kombinasi Pembebanan No. Kombinasi Pembebanan U = 1,4 D U = 1,2 D 1,6 L 0,5(Lr atau R) U = 1,2 D 1,6(Lr atau R) . ,0 L atau 0,5 W) U = 1,2 D 1,0 W 1,0 L 0,5(Lr atau R) U = 1,2 D 1,0 E 1,0 L U = 0,9 D 1,0 W U = 0,9 D 1,0 E Sumber : SK SNI Ae 03 Ae 2847 Ae 2013 Untuk beban hidup (L). Beban Angin (W). Beban Gempa (E) diambil dari peraturan muatan Indonesia, yang nilainya bebannya disesuaikan dengan guna dari ruangan atau lantai dalam Untk beban mati (D) nilai pembebanan diambil dari persamaan Ae persamaan pada posisi beban terpusat atau beban titik (P) dan posisi terbagi rata . untuk semua komponen Kuat Rencana Kuat rencana suatu komponen sturktur, sambungannya dengan komponen struktur lain, dan penampangnya, sehubungan dengan prilaku lentur, beban normal, geser, dan torsi, harus diambil sebagai hasil kali kuat nominal, yang dihitung berdasarkan ketentuan dan asumsi dari SNI 032847-2013, dikalikan dengan faktor reduksi kekuatan (A). Pengertian Umum Gempa Bumi Gempa bumi merupakan getaran yang terjadi pada permukaan tanah yang dapat disebabkan oleh aktivitas tektonik, vulkanisme, longsoran termasuk batu, bahan peledak. Dari semua penyebab tersebut di atas, goncangan yang disebabkan oleh peristiwa tektonik merupakan penyebab utama kerusakan struktur dan perhatian utama dalam kajian tentang bahaya gempa. (Chen dan Lui, 2. Gempa bumi yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah gempa bumi tektonik, yang merupakan jenis gempa yang menimbulan kerusakan paling luas. Menurut Applied Tecnology Council (ATC)-40, kriteria-kriteria struktur tahan gempa adalah sebagai berikut : Immediate Occupancy (IO) Bila gempa terjadi, struktur mampu menahan gempa tersebut, struktur tidak mengalami kerusakan struktural dan tidak mengalami kerusakan non struktural. Sehingga dapat langsung Life Safety (LS) ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 Struktur gedung harus mampu menahan gempa sedang tanpa kerusakan struktur, walaupun ada kerusakan pada elemen non-struktur. Collapse Pervention (CP) Struktur harus mampu menahan gempa besar tanpa terjadi keruntuhan struktural walaupun struktur telah mengalami rusak berat, artinya kerusakan struktur boleh terjadi tetapi harus dihindari adanya korban jiwa manusia. Wilayah Gempa Bumi di Indonesia Untuk wilayah gempa bumi yang terdapat di Indonesia dapat dilihat pada SNI1726-2012. Pada SNI1726-2012, peta wilayah gempa ditetapkan berdasarkan parameter percepatan gempa batuan dasar, yang terdiri dari dua buah yaitu : C Ss (Percepatan batuan dasar perioda pendek 0. 2 deti. C S1(Percepatan batuan dasar perioda 1. 0 deti. Peta wilayah dapat dilihat pada gambar 2. 5 dan gambar 2. 6 sebagai berikut : Gambar 2. 3 Peta wilayah gempa menurut peraturan SNI 1726-2012 berdasarkan parameter Ss Gambar 2. Peta wilayah gempa menurut peraturan SNI 1726-2012 berdasarkan parameter S1 Konsep Perencanaan Bangunan Tahan Gempa Perencanaan bangunan tahan gempa secara konvensional adalah berdasarkan konsep bagaimana meningkatkan kapasitas tahanan struktur terhadap gaya gempa yang mengikuti ketentuan berikut ini : Pada gempa kecil bangunan tidak boleh mengalami kerusakan. Pada gempa menengah komponen struktural tidak boleh rusak, namun komponen nonstruktural diijinkan mengalami kerusakan. Pada gempa kuat komponen struktural boleh mengalami kerusakan, namun bangunan tidak boleh mengalami keruntuhan. ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 METODOLOGI PENELITIAN Lokasi Penelitian Lokasi dalam penelitian ini adalah pada Gedung Mesra Business & Resort Hotel yang berlokasi di Jl. Pahlawan No. Samarinda. Indonesia, 75123. Desain Penelitian Diagram Alir Analisis Respon Spektrum Mulai Menentukan Letak Lokasi Pada Peta wilayah gempa menurut SNI 03 1726-2012 Menentukan Letak Lokasi Pada Peta wilayah gempa menurut SNI 03-1726-2012 berdasarkan parameter S1 dan Ss Menentukan Kategori Resiko Bangunan (Tabel 2. Menentukan Faktor Keutamaan Gempa (I. (Tabel 2. Menentukan Koefisien Situs ( Site Coeficient ) Nilai Fa dan Fv - SDS = 2/3 . (Fa . SD1 = 2/3 . (Fv . - T0 = 0,2 . (SD1/SDS). TS = SD1/SDS - Sa = SD1/T. S = S . ,4 0,6(T/T)} Plot dalam Bentuk Grafik Menentukan Kategori Desain Gempa (Seismic Desig. Mencari Faktor Modifikasi (R) Menghitung Gaya Lateral Ekuivalen Menghitung Berat Struktur Tiap Lantai Menghitung Mass Moment of Inertia (MMI) Selesai ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 PEMBAHASAN Analisa Gempa Statik Ekivalen Koefisien Respon Seismik R/Ie 0,134 = 0,0268 nilai cs tidak perlu lebih dari T(R/I. 0,141 0,023 1,2162 5/1 nilai cs tidak kurang dari cs = 0,044 x sds x Ie 0,01 = 0. 044 x 0,134 0,01 = 0,0059 > csx = 0,023 nilai cs tidak perlu lebih dari T(R/I. 0,141 = 0,02702 1,0436 5/1 nilai cs tidak kurang dari cs = 0,044 x sds x Ie > 0,01 = 0. 044 x 0,134 x 1 > 0,01 = 0,0059 > 0. csy = 0,02702 Gaya Geser Dasar Seismik Menurut SNI 1726:2012 pasal 7. 1, gaya gempa lateral didapat dengan mengalikan dengan berat bangunan dengan koefisien respon seismik V = Cs x W C Arah x = 0. 02319 x 143355. = 3323. 911 kN C Arah y = 0. 02702 x 143355. = 3873. 630 kN Distribusi Beban Vertikal Gempa Berdasarkan SNI 1726:2012 pasal 7. 3, distribusi vertikal beban gempa ditentukan dengan menghitung gaya gempa pada tiap lantai. Fi, dengan Persamaan . Selanjutnya nilai Fi dikalikan dengan faktor distribusi vertikal Cvx sesuai Persamaan . untuk mendapatkan nilai Vi. Rangkuman hasil perhitungannya seperti berikut: fx = Cv x V Cv = w x hk AeA w x hk = faktor distribusi beban gempa Wi & Wx = bagian dari berat total seismik efektif struktur ( W ) yang ditempatkan pada tingkat I atau x = tinggi dasar ke tingkat I atau x = eksponen yang terkait dengan periode struktur untuk struktur dengan periode O 0,5 s , k = 1, untuk struktur dengan periode Ou 2,5 s , k = 2, untuk struktur dengan periode antara 0,5 s sampai 2,5 k = 2 ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 Eo Untuk Tcx = 1,0436 maka nila k = 0,5 x T 0,75 = 1. Eo Untuk Tcy = 0,7393 maka nila k = 0,5 x T 0,75 = 1. maka besarnya distribusi beban geser akibat gempa dapat dilihat pada tabel dibawah ini Tabel 4. 26 Gaya gempa . pada tiap lantai wi x hk Base Sumber : Perhitungan 2017 Tabel 4. 27 Gaya gempa . pada tiap lantai wi x hk Base 1. Sumber : Perhitungan 2017 Beban gempa untuk masing- masing arah harus dianggap penuh . %) untuk arah yang ditinjau dan 30% untuk arah tegak lurusnya. Beban arah yang tidak terduga, misalnya dari arah 15A, 30A, 45A, dll. Beban gempa yang diinput ke pusat massa tersebut ditunjukkan pada Tabel Tabel 4. 28 Gaya Gempa 100% dan 30% Distribusi gempa tiap lantai 30% Fx 30% Fy Fx . N) Fy . N) . N) . N) Base 13. Sumber : Perhitungan 2017 ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 Eksentrisitas dan Torsi Torsi berdasarkan SNI 1726:2012 terdiri dari torsi bawaan dan torsi tak terduga. Eksentrisitas dari torsi bawaan dapat dilihat melalui ETABS. Berikut merupakan data eksentrisitas dari torsi bawaan yang didapat melalui software ETABS Untuk masing-masing arah baik searah sumbu-x dan searah sumbu-y. Dari program bantu analisis didapat nilai pusat massa (XCM ),serta pusat kekakuan (XCR dan YCR) yang diperlihatkan pada Tabel 6. Dari nilai-nilai ini dapat diketahui besarnya eksentrisitas pusat massa dan pusat kekakuan . x, dan e. Tabel 4. 29 Data Eksentrisitas Torsi dari ETABS pusat massa pusat rotasi x cm y cm x cr y cr Sumber : Perhitungan 2017 Eksentrisitas dari torsi tak terduga adalah eksentrisitas tambahan sebesar 5% dari dimensi arah tegak lurus panjang bentang struktur bangunan dimana gaya gempa bekerja. Data mengenai eksentrisitas tak terduga dapat dilihat pada Tabel berikut ini. Tabel 4. 30 Data Eksentrisitas Torsi Tak Terduga panjang bentang 05Lx 0. Basement Sumber : Perhitungan 2017 Eksentrisitas torsi tak terduga harus dikalikan dengan faktor pembesaran momen torsi tak terduga (A) ditentukan dari persamaan berikut ini. yu max 2 yuavg Untuk mengetahui faktor amplifikasi (A. , dicari nilai max, min, avg, dengan besar nilai avg adalah: ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 Nilai-nilai max, min. Avg diambil dari kombinasi pembebanan terbesar atau kombinasi Nilai dari max,min,avg dan Ax untuk pembebanan gempa arah x / sumbu-x dominan didapat dari software ETABS terdapat dalam Tabel berikut ini. Tabel 4. 31 Nilai yumax, yumin, yuAvg untuk gempa arah x dominan yumax yumin yuavg Basement yuavg Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Sumber : Perhitungan 2017 Tabel 4. 32 Nilai yumax, yumin, yuAvg untuk gempa arah y dominan yumax yumin yuavg Basement yuavg Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Tanpa Ketidakberaturan Torsi Sumber : Perhitungan 2017 Tipe dari ketidakberaturan torsi yang ditentukan berdasarkan defleksi maksimum ( ma. dan defleksi rata-rata ( avg ): max < avg = tanpa ketidakberaturan torsi 1,2 max < max < 1,4 avg = tanpa ketidakberaturan torsi 1 max > 1,4 avg = ketidakberaturan torsi Dilihat dari tabel diatas sumbu x termasuk kedalam yumax < 1,2 yuavg = Tanpa ketidakberaturan torsi sehingga ( Ax < 1 ) Sedangkan untuk sumbu y temasuk kedalam yumax < 1,2 yuav = Tanpa ketidakberaturan torsi sehingga ( Ay < 1 ) Untuk eksentrisitas desain berikut ini yang menghasilkan pengaruh paling besar. - edx = e0x ( 0,05 Lx ) ( Ax ) - edx = e0x - ( 0,05 Lx ) ( Ax ) - edx = e0y ( 0,05 Lx ) ( Ay ) - edx = e0y - ( 0,05 Lx ) ( Ay ) Berikut merupakan rekapitulasi perhitungan untuk penentuan eksentrisitas desain pada arah sumbu x . dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut : ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 Tabel 4. 33 Perhitungan Untuk Penentuan Eksentrisitas Desain pada arah sumbu x . Basement X . 0,05Lx Sumber : Perhitungan 2017 Tabel 4. 34 Perhitungan Untuk Penentuan Eksentrisitas Desain pada arah sumbu y . Basement Y . 0,05Ly Sumber : Perhitungan 2017 Tabel 4. 35 Koordinat pusat massa Lantai Basement Pusat Massa Pusat Rotasi X cm X cr Y cm Y cr Eksentrisitas X . Koordinat pusat X . Sumber : Perhitungan 2017 Kontrol Simpangan Antar lantai Pembatasan simpangan antar lantai suatu struktur bertujuan untuk mencegah kerusakan nonstruktur dan ketidaknyamanan penghuni. Berdasarkan SNI 1726:2012 Pasal 7. 3 untuk memenuhi persyaratan AEi AEa simpangan yang terjadi AEi simpangan ijin antar lantai AEa ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 AEi AE2 e1 ei e2 Dimana e1 = simpangan yang dihitung akibat beban gempa tingkat 1 e2 = simpangan yang dihitung akibat beban gempa tingkat 2 = faktor pembesaran defleksi = faktor keutamaan gedung = 5 sistem rangka beton bertulang momen menengah = 1 AE2 = 0. 020 x hsx = 0. 020 x 4000 = 80 hsx = tinggi tingkat dibawah tingkat x Dari analisa akibat beban lateral . eban gemp. dengan program ETABS diperoleh nilai simpangan yaitu sebagai berikut: Tabel 4. 43 Kontrol Simpangan Antar Lantai Portal Gempa Dinamis Arah X story drift AE2 Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Sumber : Output ETABS 9. 2 dan Perhitungan 2017 Tabel 4. 44 Kontrol Simpangan Antar Lantai Portal Gempa Dinamis Arah Y story drift Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Sumber : Output ETABS 9. 2 dan Perhitungan 2017 ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 Dari hasil kontrol pada tabel di atas, maka analisis struktur telah memenuhi persyaratan sesuai dengan SNI 1726:2012 Pasal 7. 3 dan Pasal 7. Kontrol Sistem Ganda Menurut SNI 1726:2012 bahwa Sistem Rangka Pemikul Momen harus memikul minimum 25% dari beban geser nominal total yang bekerja pada struktur bangunan. Maka harus memeriksa persentase antara base shears yang dihasilkan oleh SRPM dan shearwall dari masing-masing kombinasi pembebanan gempa. Caranya adalah dengan menjumlah reaksi perletakan SRPM dan reaksi perletakan shearwall untuk kombinasi pembebanan gempa, kemudian dibandingkan persentasenya. Persentasenya dihitung dan disajikan dalam tabel sebagai Tabel 4. 45 Nilai Persentase Base Shear SRPM Dan Shearwall Persentase Dalam Menahan Reaksi Dalam Menahan Gempa . N) Gempa (%) Pembebanan SRPM SRPM SRPM SW SRPM SW RSP X RSP Y 96% 44% 56% Sumber : Hasil Perhitungan 2017 Dari hasil diatas, dapat dilihat bahwa persentase dari SRPM nilainya lebih besar dari 25% pada pembebanan RSPX dalam reaksi gempa sumbu FX, sehingga konfigurasi struktur gedung ini telah memenuhi syarat sebagai struktur Dual System menurut SNI 1726:2012. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan mengenai analisa kinerja gaya dalam pada struktur Gedung Mesra Business & Resort Hotel yang berlokasi di Jl. Pahlawan No. Samarinda dengan menggunakan metode Respons Spektrum, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Setelah dilakukan analisa kinerja gaya dalam pada struktur gedung bertingkat dengan SNI 1726-2012 yang ditinjau berdasarkan drift, displacement dan base shear maka didapat nilai sebagai berikut : Simpangan/ drift Kontrol simpangan untuk semua lantai yang dianalisa kinerja gaya dalam telah memenuhi persyaratan SNI 1726:2012 Pasal 7. 3 dan Pasal 7. 1 dengan syarat OIi < OIa yaitu OIi < 80 mm adalah sebagai berikut : - Simpangan arah x terbesar = 10,75 mm di atap. - Simpangan arah x terkecil = 0,12 mm di lantai basement. - Simpangan arah y terbesar = 7,06 mm di atap. - Simpangan arah y terkecil = 0,07 mm di lantai basement. Perpindahan/ displacement Nilai perpindahan merupakan selisih antar simpangan per lantai. Maka didapat nilai perpindahan gempa dinamis arah x dan arah y adalah sebagai berikut : - Nilai perpindahan gempa dinamis arah x yaitu basement = 0,12 mm . lantai 1 = 1,06 mm . lantai 2 = 2,49 mm . lantai 3 = 1,54 mm . lantai 4 = 1,52 mm . lantai 5 = 1,39 mm . lantai 6 = 1,19 mm . lantai 7 = 0,97 mm . lantai 8 = 0,71 mm . atap = 0,82 mm. Maka perpindahan gempa dinamis arah x terbesar = 2,49 mm di lantai 2 dan gempa dinamis arah x terkecil = 0,12 mm di basement. - Nilai perpindahan gempa dinamis arah y yaitu basement = 0,36 . lantai 1 = 2,2 . lantai 2 = 5,25 lantai 3 = 3,55 . lantai 4 = 3,88 . lantai 5 = 3,97 . lantai 6 = 3,66 . lantai 7 = 3,59 . lantai 8 = 3,32 . atap = 2,91. Maka perpindahan gempa dinamis arah y terbesar = 5,25 mm di lantai 2 dan gempa dinamis arah x terkecil = 0,36 mm di basement. ANALISA KINERJA GAYA DALAM PADA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT DENGAN SNI 03-1726-2012 MENGGUNAKAN BANTUAN ETABS V 9. (Robby Rizky Putra Pratam. JURNAL TEKNIK SIPIL. OKTOBER 2017 Gaya geser dasar/ base shear Menurut SNI 1726:2012 pasal 7. 1, gaya gempa lateral didapat dengan mengalikan dengan berat bangunan dengan koefisien respon seismic didapat nilai sebagai berikut : - Gaya geser dasar seismik arah x sebesar 3323,911 kN - Gaya geser dasar seismik arah y sebesar 3873,630 kN Setelah ditinjau dari nilai persentase Base Shear SRPM (Sistem rangka pemikul mome. dan Shearwall pada Kontrol Sistem Ganda / Dual System didapat nilai sebagai berikut : Reaksi Dalam Menahan Gempa . N) RSPX - Fx : SRPM = 3816. 17 kN . SW = 9727. 28 kN - Fy : SRPM = 1113 kN . SW = 14763. 5 kN Reaksi Dalam Menahan Gempa . N) RSPY - Fx : SRPM = 1303. 6 kN . SW = 30148. 12 kN - Fy : SRPM = 3564. 43 kN . SW = 4535. 14 kN Persentase Dalam Menahan Gempa (%) RSPX - Fx : SRPM = 28% . SW = 72% - Fy : SRPM = 7% . SW = 93% Persentase Dalam Menahan Gempa (%) RSPY - Fx : SRPM = 4% . SW = 96% - Fy : SRPM = 44% . SW = 56% Dari hasil diatas, dapat dilihat bahwa persentase dari SRPM nilainya lebih besar dari 25% pada reaksi dalam menahan gempa RSPX sumbu Fx, sehingga konfigurasi struktur gedung ini telah memenuhi syarat sebagai struktur Dual System menurut SNI 1726:2012. Saran Untuk menganalisa dimensi struktur primer yang efisien dan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, maka perlu dilakukan analisis secara bertahap dan berulang dengan menggunakan dimensi minimum yang ditentukan sampai memperoleh dimensi yang tepat. Dalam hal ini perlu dikontrol diataranya kontrol periode getar struktur, partisipasi massa. Vdinamik Ou 0,85 Vstatik, batas simpangan . , dan pembesaran momen torsi tak terduga. Dalam menggunakan software ETABS v 9. 2 harus berhati-hati di dalam mengimput datadata strukturnya, karena hasil tetap keluar walaupun data yang diinput salah. DAFTAR PUSTAKA