JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : KONSEP MANAJEMEN WAKTU DALAM SURAT AL AoASHR (KAJIAN SEMIOTIKA AL-QURAoAN) Firdaus STAI Asy-Syukriyyah firdaus@asy-syukriyyah. A uE II O EI NO u EOC OA. A u EOC IIO O NO IOI EOCA:AI IAA A AO OE O II O EA E EENA. AEIOI O EA EIEO II EOC EEI OE EIAOA A I AO EO EIO I EEN AUA CI EEN IO EOC EO NIO OCOI EOC EuEIIAU AOCU ECIA A O AO EO EEO OEcII EEN IANO UIAUA EEO I IIO EEO AO EOA. AEEO EO EE E II OA A EO AC EA II EOC EIAI OEEI ECI OOE I O O IIEI IIAUAEU uE EOCA AEA II EOC EAEI OEEOIA Semiotika AOOE EE AO N E EIC E AO IANOI u EOC EIOAOA AO ECI IINA (Roland AAO IO OEI A Denotasi A O II EE IANOI EIIO EO O EIIOA. AAO OU OIANO UI OU AO ANI IIO u EOC AO ECIA A II OOEAUKonotasiA OIIOABarthe. semiotik UA EOC AO O EAA:AeI EOOA PENDAHULUAN Waktu adalah satu hal yang paling berharga yang dimiliki manusia dibandingkan apapun, dalam peribahasa Arab dikatakan A EI EOI EO IAartinya tidak akan pernah kembali waktu yang sudah berlalu. Dalam penjelasan tafsirnya al Mishbah Quraish Shihab mengungkapkan bahwa waktu lebih berharga dari harta dan kekayaan apapun, karena harta dan kekayaan yang hilang dapat dicari kembali sementara waktu yang hilang tidak akan pernah Hari yang sudah berlalu berbeda dengan hari yang akan datang, siang yang kita lalui hari ini berbeda dengan siang esok hari, dan orang yang melalaikan waktunya membuang waktunya akan berada dalam banyak kerugian1, itu sebabnya Allah menggunakan ungkapan lafi khusrin dalam surat al AoAshr untuk menegaskan bahwa seseorang yang telah menyianyiakan waktunya akan berada dalam masalah yang sangat besar bukan hanya satu masalah melainkan banyak masalah. Allah menggunakan lafadz dalam bentuk nakiroh2 pada kata khusrin . untuk menegaskan bahwa kerugian yang akan menimpa bukan hanya satu melainkan banyak kerugian yang akan didapatkan dari kelalaian terhadap waktu. Quraish Shihab. Tafsir al Misbah, vol. 15 (Jakarta: Lentera Hati, n. ), 496Ae98. Penggunaan isim nakiroh mempunyai beberapa fungsi salah satunya untuk menunjukkan arti yang banyak, seperti pada ayat:AEA A OI EIAyang berarti pahala yang banyak. MannaAo Khalil al Qattan. Studi Ilmu Ae Ilmu QurAoan: Diterjemahkan Dari Bahasa Arab Oleh Mudzakir, 16 (Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2. , 283. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Al-QurAoan adalah muAojizat ad-daimah yang kekal sepanjang masa. Allah turunkan untuk menjadi petunjuk hudan linnas. Al-QurAoan bukan sekedar Kitab Suci yang berisikan tentang perkara agama, lebih dari itu Al-QurAoan menjadi kunci bagi seorang muslim untuk mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat. Kandungan isi Al-QurAoan mencakup keseluruhan yang dibutuhkan umat manusia, mulai dari hal yang paling sederhana hingga hal yang paling kompleks diatur di dalam Al-QurAoan. Salah satunya adalah tentang konsep manajemen waktu dalam surat al AoAshr. Tulisan ini berusaha untuk menjelaskan satu konsep manajemen waktu yang disajikan dalam surat al AoAshr dengan pendekatan semiotika guna menggali makna lebih luas dan lebih relevan dengan kebutuhan umat saat ini serta menghasilkan satu interpretasi baru dari ayat Al-QurAoan surat al AoAshr. KAJIAN TEORI Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari Bahasa Yunani . yang berarti Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang terbangun atas dasar konvensi sosial dan mewakili sesuatu yang lain3 dan tanda berfungsi untuk menjalin saling pengertian 4 Semiotika sejatinya merupakan ilmu yang mengkaji tentang tanda secara umum, dalam prinsip semiotika alam raya beserta isinya merupakan sekumpulan tanda yang saling berhubungan dan memiliki makna. Sebagai ilmu, semiotika berfungsi untuk mengungkapkan semua konsep penandaan secara ilmiah yang terjadi dalam kehidupan manusia baik tanda secara verbal ataupun nonverbal. Keanekaragaman tanda yang terjadi dalam keseharian manusia seharusnya dipahami dan dimaknai dengan tepat karena pemahaman dan pemaknaan tanda-tanda yang tepat dan akurat merupakan persoalan penting, pemahaman atau penafsiran yang berbeda antar individu dapat menimbulkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman dalam memahami dan menafsirkan sebuah tanda dalam kehidupan menjadi penyebab terjadinya konflik antar golongan dalam kehidupan masyarakat. Al-QurAoan jika dipandang dalam perspektif semiotika merupakan sekumpulan tanda yang tersusun dalam setiap huruf, ayat dan suratnya, mulai dari awal huruf dalam surat al-Fatihah hingga akhir huruf dalam surat an-Nas. Ayat-ayat dalam AlqurAoan merupakan satuan-satuan dasar yang disebut dengan tanda dalam semiotika, itu sebabnya dalam penelitian ini penulis Indiawan Seto Wahyu Wibowo. Semiotika Komunikasi (Jakarta: Mitra Wacana Media, n. ), 7. Jurgen Trabaut. Dasar-Dasar Semiotik: Diterjemahkan Oleh Pattinasarany. Sally (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan, 1. , 9. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 menggunakan pendekatan semiotika untuk memahami sebuah konsep penandaan dalam surat alAoAshr kemudian memberikan pemahaman yang lebih luas bagi umat muslim khususnya dalam memahami konsep manejemen waktu yang dibahas dalam surat al-AoAshr. Al-QurAoan jika dikaji dengan pendekatan semiotika maka akan melahirkan sebuah konsep sebagai berikut: ALQURAN KODE KOMUNIKASI ALLAH PENGIRIM WAHYU YANG BERSIFAT AKTIF MANUSIA PENERIMA WAHYU YANG BERSIFAT PASIF Ayat Al-QurAoan merupakan tanda yang berfungsi sebagai kode komunikasi. Allah sebagai zat yang bersifat aktif mengirim kode komunikasi tersebut dalam bentuk wahyu kepada manusia, sedangkan manusia sebagai penerima kode tersebut yang bersifat pasif karena dalam memahami kode tersebut dibutuhkan sebuah perantara yang disebut simbol. Menurut al-JAuiz . 255 H/868 M. ), makna-makna . aAoAn. adalah sesuatu yang berada dalam benak seseorang, terkonsentrasi sedemikian rupa, dan tersimpan di dalam jiwa manusia yang paling dalam, tersembunyi dalam pikiran yang sangat jauh, sehingga tidak bisa diketahui oleh siapapun juga dari si pemilik makna tersebut kecuali dengan menggunakan perantara. Perantara ini bisa berupa simbol bunyi bahasa yang tertulis, lisan, dan isyarat yang telah disepakati dalam komunitas tertentu atau berupa perangkat lainnya. Ketika Semiotika dikaitkan dengan Al-QurAoan sebagai manuskrip teks . yat-aya. , maka Al-QurAoan adalah sebuah teks kitab suci yang dikemas dengan bahasa Arab yang menjadi kode atau simbol mengandung dimensi makna yang berbilang ( wuj. Sehingga Al-QurAoan sebagai teks . yat-aya. yang berbahasa Arab merupakan rangkaian tanda-tanda yang memiliki berbagai dimensi makna . ultiple meaning. yang dapat dikaji, serta dianalisa kemudian ditafsirkan dengan menggunakan pendekatan semiologi. (A. Jyuiz. Al-Bayyn Wa at-Tabyn (Kairo: Dyr a-abyAoah wa an-Nasyr al-Islymiyyah, 1. , 1:42. Abdul Gaffar. AuSemiotika Dalam Tafsir Alquran,Ay TAJDID 13, no. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : METODE PENELITIAN Penulis menggunakan metode tematik dengan pendekatan semiotika dalam kajian makna pada surat al AoAshr. Metode ini dipilih sebagai sarana untuk menggali makna lebih luas dalam memahami konsep manajemen waktu yang terdapat pada surat alAoAshr. Dalam pengumpulan data penulis menggunakan teknik riset kepustakaan . ibrary researc. Data-data tertulis yang dipublikasikan berupa buku, jurnal, artikel dan kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer yang relevan dalam penelitian ini. Pembahasan penulisan dilakukan dengan metode deskriptif analitik untuk menjelaskan makna serta interpretasi pada ayat alqurAoan secara luas dan menjelaskan sebuah konsep baru dalam manajemen waktu dalam persepektif surat alAoAshr. PEMBAHASAN Konsep Manajemen Waktu Dalam Al-QurAoan Manajemen merupakan proses atau kerangka kerja yang melibatkan sebuah bimbingan atau arahan suatu kelompok kearah tujuan yang organisasional atau maksud-maksud yang Adapun manajemen waktu dalam pengertian sederhana adalah sebuah cara dalam mengatur dan memanfaatkan waktu. Manajemen pada prinsipnya bermakna mengatur, mengorganisasikan, dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dalam sebuah aktivitas yang dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Jika kita mengacu pada istilah manajemen definisi sesungguhnya didalamnya akan disebutkan sebuah perencanaan, pelaksanaan kontrol dan evaluasi. Manajemen mulanya kurang dikenal baik oleh beberapa kalangan teretntu. Akan teteapi, secara praktis sudah banyak yang mempraktikannya. Manajemen dikenal sebagai satu konsep yang dibuat untuk kebutuhan pendayagunaan sumber daya dalam sebuah serikat kerja atau korporasi. Sehingga, secara konsep masih diperlukan adanya pembaharuan dengan menyelipkan nilai humanis. Islami, budaya dan lainya. Hal ini sangat dibutuhkan agar dapat membawa konsep manajemen pada ruang yang tidak hanya terfokus terhadap sebuah produktivitas dan efektifitas semata, melainkan harus tetap mengedepankan proses dan tujuan secara tepat dan benar8. Dalam Islam, manajemen merupakan perwujudan amal sholeh yang dimulai dari niat baik, dan niat baik tersebut nantinya George Robert Terry. Principles of Management (Homewood:IRWIN, 1. , 1. Achmat Mubarok. AuMANAJEMEN WAKTU DAN PERENCANAAN DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM,Ay Jurnal Mafhum 2, no. : 14. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 akan memunculkan sebuah motivasi aktivitas dalam mencapai hasil yang baik demi kesejahteraan bersama9. Dalam persepektif agama Islam waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, pada surat alAoAshr Allah jadikan kata waktu untuk bersumpah. Berdasarkan kajian ilmu-ilmu Al-QurAoan Allah selalu menggunakan lafadz sumpah dengan sesuatu yang memiliki nilai tinggi dan Waktu merupakan bagian dari kehidupan semua makhluk sejak dulu hingga sekarang, dan waktu merupakan nikmat tertinggi yang Allah karuniakan kepada manusia. Merupakan keniscayaan bagi manusia untuk dapat memanfaatkan waktu seefektif dan seefisien mungkin agar dapat menjalankan tugasnya sebagai hamba dan khalifah di muka Bukan hanya dalam surat al AoAshr Allah menjadikan waktu sebagai sumpah melainkan pada banyak surat dalam Al-QurAoan Allah sering menggunakan sumpah dengan istilah waktu menggunakan ibaroh ibaroh yang berbeda. Seperti dalam tabel berikut: SURAT AYAT LAFADZ MAKNA AD-DUHA AOEOA Demi waktu AOEEOE u OA duha/pagi. Dan demi malam apabilah telah sunyi. AL-LAIL AOEEOE u oA Demi malam AOEIN u EcOA yang telah menutupi cahaya Dan demi siang yang terang Hasnun Jauhari Ritonga. AuMANAJEMEN WAKTU DALAM ISLAM,Ay Jurnal Al Idarah VII, no. : 50. Murniyetti. AuWAKTU DALAM PERSPEKTIF ALQURAN,Ay Jurnal Ulunnuha 6 . : 10. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 Asy-Syams 1,3-4 AOEI ONA Demi mata hari AOEIN u EcNA dan sinarnya di AOEOE u ONA waktu pagi hari. Demi waktu siang yang Demi waktu malam yang gelap gulita. Al-Fajr 1-2,4 AOEAA Demi waktu AOEOE A AOEOE u OA Dan demi waktu malam yang Demi malam apabila telah At-Takwir AOEOE u A Demi malam AOEA u IAcA apabila telah Dan demi waktu shubuh apabila fajar telah Alquran Alkarim. Mushaf Aminah, 2013. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Ayat-ayat pada surat Al-QurAoan diatas hanya sebagian dari sekian banyak ayat yang membahas tentang waktu dan masih banyak lagi pembahasan yang serupa pada ayat yang lain baik secara langsung ataupun secara makna. Pada ayat diatas Allah swt menggunakan istilah waktu yang berbeda-beda dalam bentuk qasam atau sumpah menjadi bukti bahwa Allah sangat peduli dan menganggap waktu sebagai sesuatu yang sangat berharga bagi manusia. Allah sering bersumpah dengan menggunakan kata pagi, siang, sore dan malam menandakan bahwa setiap waktu tersebut memiliki kekhususan dan keistimewaan tersendiri. meski pada ayat-ayat diatas Allah tidak menjabarkan konsep manajemen waktu. Akan tetapi, pada surat al AoAshr Allah menjabarkanya dalam persepektif Al-QurAoan. Dimulai dari ayat pertama A OEallah bersumpah demi waktu kemudian pada ayat berikutnya. Allah mengingatkan bagi siapa saja yang menyia-nyiakan waktu akan berada dalam kerugian, dan pada ayat terakhir Allah menjelaskan konsep sebenarnya dalam manajemen waktu yaitu ketika seseorang sudah mengikrarkan keimanannya, kemudian melakukan sesuatu yang mendatangkan maslahat bagi diri sendiri dan orang lain dalam bentuk amaliyah ibadah ataupun sosial, dan terakhir saling mengingatkan, menasehati kepada kebaikan. Wahbah Zuhayli dalam karyanya at Tafsir al Washit ketika menjelaskan konsep waktu dalam surat al AoAshr menyatakan: A O uEE O EIE EIo EIAUA O EEIAUA O ENAUAEO EI OI OO EEN O cE EIEA A O uIcIAUA O OAOI EONAUAO O EE II A EO O IN EO EO OIA AON EIA A OuI AOEAUAEI OI OO EEN uI IOCA EOI OI EO C uEOII EAO EEN O OENA A OEOAO EIAUA OEIE EAEAUA EI AO EIOOI uEENO EONO uEOII EA:A NOA 12A OEOAO EA EO E OEO IA EIOAUAEC O EE OEOA Tidaklah keberhasilan seseorang dimata Allah dalam mengatur serta memanfaatkan waktunya dilihat dari apa yang ia peroleh berupa harta, jabatan dan lainya yang berhubungan dengan hal duniawi. Melainkan keberhasilan yang dimaksud adalah sesuatu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah dan Rasulnya yang terangkum dalam empat perkara: keberhasilan dalam pandangan Allah dilihat dari seseorang ketika ia memiliki keyakinan dan keimanan yang kokoh, dan melakukan amal shalih, saling berwasiat kepada kebenaran, dan berwasiat untuk selalu bersabar dalam ketaatan. Wahbah Zuhayli. At Tafsir al Wasith, 2001, 2928. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Ciri seorang Muslim adalah pribadi yang menghargai waktu dan seorang Muslim seharusnya tidak perlu dimotivasi oleh orang lain dalam mengelola waktunya, karena hal tersebut merupakan kewajiban bagi seorang Muslim. Ajaran Islam menjadikan hakikat menghargai waktu sebagai satu indikasi keimanan dan ketakwaan. Rasulullah Saw. Sering mengingatkan tentang pentingya waktu dan mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Dalam hadistnya Rasulullah Saw. Mengingatkan agar kita memanfaatkan waktu sehat sebelum sakit, masa muda sebelum datang masa tua dan tidak berdaya, waktu ketika memiliki kelebihan harta sebelum jatuh miskin agar dapat memanfaatkan harta yang dimiliki sebaik mungkin untuk bersodaqoh dan beramal sholeh, dan terakhir tentang masa hidup yang harus dimanfaatkan sebelum ajal kematian datang. Sejarah umat Muslim generasi salaf adalah sebuah model percontohan bagi kita dalam menghargai waktu, mereka sangat peduli dan menghargai waktu dibandingkan generasi setelahnya sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah karya ilmu yang bermanfaat dan peradaban yang luarbiasa serta menjadi landasan bagi peradaban modern dimasa depan. KAJIAN MAKNA SURAT AL AoASHR DALAM TAFSIR KLASIK DAN KONTEMPORER Tafsir al Qurthubi al-JamiAo li ahkamil QurAoan Dalam riwayat Ibnu KaAoab beliau bertanya kepada Rasulullah Saw tentang makna dari surat al AoAshr, kemudian Rasullah saw menjawab: a e aA aOEAAllah bersumpah demi waktu petang. a AIa EaAOA AeA a A u acI uE eIAYang dimaksud manusia yang berada dalam kerugian adalah Abu Jahl. ca dan yang dimaksud orang yang beriman adalah Abu Bakar Ra. AuE EacOeIa aIIaOA c AIEaOEA a A aOAorang-orang yang melakukan amal sholeh adalah Umar bin Khattab Ra. a AAEA c AA eO E aA ACA a A aO aaOAorang-orang yang berwasiat kepada kebaikan adalah Utsman bin Affan Ra. AAeA ca AA eO EA a A aO aaOAdan yang dimaksud orang yang berwasiat tentang kesabaran adalah Ali bin Abi Thalib Ra13. Abi Abdillah ibn Muhammad Al Qurtubi Ibn Abi Bakr. Al JamiAo Li Ahkamil Quran. Juz 28 (Muassasah Ar Risalah LithabaAoah wat TauziAo, 2. , 466Ae467. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Dalam tafsir al Qurtubi yang diriyawatkan oleh Ibnu Kaab Ra. dari Rasulullah Saw. Bahwa makna orang yang merugi direpsresntasikan dalam wujud Abu Jahl sebagai seorang dari pemuka kafir Qurays yang paling menentang dakwah Rasulullah. Sedangkan, makna keimanan dalam wujud Abu Bakr sebagai orang pertama dari kalangan laki-laki dewasa yang mengikrarkan keimananya. Adapun makna orang-orang yang melakukan amal shalih dalam wujud Umar bin Khattab sebagai seorang sahabat yang paling tegas dalam menjalankan amar maAoruf nahi mungkar. Kemudian, makna saling berwasiat tentang kebenaran atau al haq, adalah Utsman bin Affan sebagai orang yang memiliki andil besar dalam kodikologi mushaf AlQurAoan yang dikenal dengan Mushaf Utsmani. Adapun Ali bin Abi Thalib sebagai wujud repsentasi saling berwasiat tentang kesabaran karena beliau adalah salah satu sahabat yang paling banyak dijuji dengan berbagai macam ujian dan musibah dengan terjadinya banyak fitnah dimasa kepemimpinannya, mulai dari perang Shiffin sampai perang Karbala sepeninggal Tafsir Ibn Katsir Tafsir al QurAoanil AoAdzhiem. a e aA aOEAdemi waktu yang dilalui bani Adam. a AIa EaAOA AeA a A u acI uE eIAAllah bersumpah demi waktu yang dilalui oleh bani Adam bahwa mereka semua berada dalam kerugian dan kehancuran. c AIEaOEA a A acuE EacOeIa aIIaO aOAterkecuali mereka orang-orang yang di dalam hatinya ada a AAEA keimanan dan melakukan amalan-amalan yang bermanafaat bagi dirinya dan sekitarnya. c AA eO E aA ACA a A aO aaOAkemudian merekas saling menasehati dalam ketaatan dan meniggalkan hal-hal yang diharamkan. AAeA ca AA eO EA a A aO aaOAdan saling berwasiat untuk bersabar atas segala cobaan dan musibah yang sudah ditetapkan. Tafsir al Baydhawi Anwarut Tanzil wa Asrarut TaAowil a e aA aOEAAllah bersumpah demi waktu shalat ashar karena keutamaan pada waktu shalat tersebut atau demi masa ketika Nabi Muhammad masih hidup, karena pada masa itu masa yang paling mulia dengan hadirnya Rasulullah ditengah-tengah umat Islam. Ibnu Katsir Ismail Ibn Umar. Tafsir al Quranil Adzhiem (Beirut/Lebanon: Daar Ibnu Hazm LithabaAoah wat TauziAo, 2. ,Hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : a AIa EaAOA AeA a A u acI uE eIASungguh manusia berada dalam kerugian disetiap apa yang mereka lakukan dan usahakan serta disetiap umur yang mereka pergunakan. c AIEaOEA a A acuE EacOeIa aIIaO aOAKecuali orang-orang yang menjual dunianya untuk a AAEA akhiratnya, yaitu orang-orang yang melakukan apapun dalam pekerjaanya diniatkan semata-mata untuk beribadah karena Allah dan demi mendapatkan ridha Allah, maka mereka kelak akan meraih kemenangan dan kesenangan yang abadi di Akhirat. c AA eO E aA ACA a A aO aaOAMereka adalah yang selalu berwasiat tentang keimanan dan menyakininya dalam hati kemudian mengimplementasikanya dalam bentuk ibadah dan perbuatan. AAeA ca AA eO EA a A aO aaOAjuga saling berwasiat untuk bersabar dalam ketaatan bersabar dalam menjaga diri dari kemaksiaatan dan bersabar atas segala hal yang Allah ujikan kepada hamba-hambanya15 Tafsir Buya Hamka Tafsir al Azhar Pada awal pembahasan tafsir surat al AoAshr Hamka mengutip perkataan Muhammad Abduh yang menjelaskan asbab nuzul dari kata alAoAshr, bahwa pada masa itu orang-orang Arab sering berkumpul pada waktu senja menjelang malam atau bisa disebut waktu AoAshar. Setelah melakukan aktifitasnya mereka biasa berkumpul bersama kawan dan kerabat berbincang dan saling bercerita tentang apa yang mereka lalui pada hari itu. Obrolan mereka terkadang berujung kepada perselisihan karena bermula dari seling menyindir dan meledek akhirnya terjadi keributan, itu sebabnya orang pada masa itu mengutuk waktu AoAshar karena mereka menganggap waktu itu adalah waktu yang membawa kesialan dan keributan. Kemudian turunlah surat al AoAshr, dan Allah bersumpah demi waktu AoAshar bahwa tidak ada yang salah dengan waktu tersebut, melainkan kesalahan dibuat oleh mereka sendiri yang menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat, padahal waktu AoAshar adalah waktu yang baik dan waktu dimana doAoa diijabah dan Allah bersumpah dengan mengatasnamakan waktu AoAshar karena keagungngan waktu tersebut. Kemudian diayat kedua surat al AoAshr dijelaskan sungguh manusia selalu berada dalam kerugian pada setiap apapun yang mereka lakukan, dan baru akan tersadar telah merugi ketika mereka di usia senja, ketika tubuh tidak lagi memiliki daya dan kemampuan untuk melakukan apapun dan Nashiruddin Ibnu Abi SaAoid Al Baydhowi. Tafsir al Baydhawi. Anwarut Tanzil Wa Asrarut TaAowil, al Mujalad at Tsalits (Beirut/Lebanon: Daar Rasyid Muassah al Iman, 2. , 567. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 10 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : hanya bisa menyesal dan bercerita tentag hari-hari yang sudah berlalu tanpa melakukan hal yang bermanafaat bagi dirinya untuk bekal diakhirat kelak. Kemudian pada ayat terakhir Hamka menjelaskan mereka yang tidak merugi adalah mereka orang-orang yang beriman, orang-orang yang memiliki keimanan hatinya akan dipenuhi dengan cahaya yang akan membimbingya untuk melakukan amal sholeh dan kebaikan, orang yang memiliki keimanan tidak akan pernah merugi karena mereka menyakini adanya hari akhir yang kekal dan abadi sehingga keyakinan itu memotivasi mereka untuk selalu melakukan amal sholeh sebagai bekal mereka dihari yang abadi kelak ketika semua amal dan perbuatan dipinta pertanggung Ciri orang beriman mereka akan selalu saling menasehati dalam kebaikan dan menasehati untuk saling bersabar dalam ketaatan, karena mereka paham bahwa hakikat agama adalah saling menasehati, saling mengingatkan, [A ]EOI EIAOAagama adalah untuk menasehati, mengingatkan kepada kebenaran. Kesimpulanya adalah seseorang tidak akan merugi ketika telah mengetahui hakikat kebenaran yaitu keimanan, kemudian mengamalkan kebenaran tersebut serta mengajarkanya kepada orang yang belum mengerti hakikat dari kebenaran serta bersabar dalam menyesuaikan diri dengan kebenaran yang hakiki, mengamalkanya dan mengajrkanya 16. MAKNA DENOTASI DAN KONOTASI SURAT AL-AoASHR Barthes mengembangkan teori semiotikanya menjadi dua tingkatan penandaan, yang pertama dikenal dengan denotasi sebagai makna pada tingkat pertama yang menghasilkan makna asli atau makna sesungguhnya sesuai dengan konvensi dan kesepakatan dalam bahasa Sedangkan yang kedua, adalah konotasi sebagai makna tingkat kedua pada sistem penandaan, atau sebuah makna yang dikembangkan dari hasil pendekatan heuristik yang diarahkahn pada kajian lingustik pada tingkatan pertama dan segala aspek yang berhubungan dengan sosio historis serta latar belakang sejarah yang membentuk teks tersebut. Ketika teori ini dikaitkan dengan ayat Al-QurAoan maka, langkah awal yang dilakukan untuk menemukan makna denotasi adalah dengan mencari makna asli teks ayat Al-QurAoan tersebut baik menggunakan perangkat berupa kamus bahasa Arab ataupun menggunakan terjemahan AlQurAoan yang sudah diakui oleh Departemen Kementrian Agama RI. Abdul Malik Abdul Karim (Hamk. Amrullah. Tafsir Al Azhar, vol. 10 (Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, 1. Hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 11 P-ISSN : E-ISSN : DOI : JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 Makna Denotasi Surat al-AoAshr AuE EOI IIOA Au cI uEII EAO A - Sungguh, manusia berada - Demi waktu, demi dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman A I AO u EIIO II EIA:AuEA AEIO IINA Adat atau harf istisna berfungsi untuk AOEAA c A A OEOA:AuIA :A EOO ECIA:AOA Huruf tawkid berfungsi - Salah satu huruf untuk penegasan. qasam untuk pengecualian atau mengeluarkan kalimat setelahnya dari pengecualian pada hukum kalimat sumpah AEOC AO EINA yang terjadi pada kalimat sebelumnya. Yaitu AuEOA terhindar dari kerugian yang dirasakan oleh AI EIA orang - orang yang telah menyia-nyiakan - Waktu pada akhir siang ketika langit sudah mulai A uEI EIAA:AuEIIA UAEII EOOEA:AEac eN aA A IA,AOAO IIO EIA :AIc EO EIO EENA AuEIIA - waktu - ism maAorifah pada al kehidupan dunia mulai menjelaskan keumuman dari awal penciptaan yang bermaksud seluruh hingga hari akir manusia tanpa terkecuali. Tahlil MaAona Khusrin min Surotil Ashr. Al Maany, http ://w. com/quran/103/2/4/ JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 12 P-ISSN : E-ISSN : DOI : JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 A O AOAUA EEI EOEOA:AAOAUAEA :AAE EAA AA IEC IOAA - Waktu shalat AoAshar c AA AuIA Lam tawkid dan harf berfungsi untuk penegasan dalam kerugian yang akan dirasakan oleh manusia yang menyia-nyiakan A OAUA ICAIAUA IA:AA ANEEA AOEEA Kerugian, kekurangan, kebangkrutan, kehancuran. AOOAO EAA AOOAO ECA AOIEOEAEA Saling menasehati untuk bersabar Kemudian saling Dan mengerjakan istiqomah dalam menyampaikan kebajikan berwasiat, saling amal-amal sholeh serta dan mengamalkannya. menasehati kepada berbuat kebajikan. Makna Konotasi Surat Al-AoAshr AOEAA - Allah bersumpah demi masa demi waktu yang dilalui oleh bani Adam mulai dari masa awal tercipta kehidupan sampai hari akhir kehidupan Lajnah Pentashih Mushaf Alquran. Terjemahan Mushaf Alquran, vol. VI/1/TL. 1/1060/2012. (Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 13 P-ISSN : E-ISSN : DOI : JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 - Allah juga bersumpah demi waktu dipenghujung hari yaitu waktu AoAshar karena waktu tersebut tersebut termasuk diantara waktu yang paling mulia, ketika setiap doAoa diijabah dan setiap amalan bani Adam diangakat dilaporkan kepada Allah oleh para Malaikat. - Allah bersumpah demi waktu dan demi masa karena hal tersebut adalah sesuatu yang paling berharga yang dimiliki oleh setiap bani Adam. AuIc uEII EAO A - Sesungguhnya setiap insan secara umum yaitu setiap manusia yang hidup dan sudah mengerti arti dari sebuah kehidupan, mengerti baik dan buruk, yaitu orang-orang yang sudah mencapai akil baligh akan berada di dalam berbagai macam kerugian, kehancuran, kerusakan dan kebangkrutan dalam hidupnya ketika mereka tidak mengerti hakikat dari kehidupan. Hakikat kehidupan manusia adalah sebagai hamba Allah dan diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Dunia merupakan ladang yang Allah siapkan bagi semua manusia agar mereka mengumpulkan bekal mereka untuk sebuah perjalanan yang panjang menuju kehidupan abadi yaitu kehidupan setelah kematian yawmul akhir. - Manusia sebagai hamba Allah sepatutnya meniatkan apapun yang mereka lakukan dan usahakan hanya karena Allah. Segala sesuatu yang diniatkan karena Allah akan bernilai Ibadah. - Menyerahkan segala perkara hanya kepada Allah adalah salah satu bentuk keikhlasan dan keridhoan seorang hamba kepada Allah, salah satu bentuk keikhlasan yang hakiki ketika seseorang melakukan apapun hanya karena Allah dan orang yang melakukan hal tersebut akan terhindar dari berbagai macam kesulitan dalam kehidupanya. a AaO aI eI OaacC EENa Oae a eE EaNa aI e a U aOOa e a eCNa I eI aOA AEaO EEacN Aa aN aO a eaNa u acIA a Ae aE Oae aA a A aO aI eI Oa aaO acE eEA A eO Cae UA a AEEacNa aE a a eIN Cae aa aE EEacNa E aE cEA AuBarang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memberikannya jalan keluar disetiap masalahnya, kemudian Allah sungguh akan melimpahkan kepadanya rizki yang tak pernah disangkasangka, barang siapa yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah sungguh Allah mencukupi segala apapun yang ia butuhkan. Sesungguhnya segala perkara telah Allah tentukan dan Allah maha berkuasa atas segala sesuatuAy. (Q. S At-Talaq. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 14 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : AuE EOI IIOA - Keimanan menjadi syarat mutlak diterimanya amal seorang hamba. Akan sia-sia semua amalan, semua usaha tanpa adanya keimanan di dalam hati. - Orang-orang yang berada dalam kerugian hanyalah orang-orang kafir yang tidak memiliki keimanan dalam hatinya. A a aIEaN aO aN aO AOA a AaO aI I O acEAa E O aII AaCa aA aAE a I aI E OIA AuOrang-orang yang mengingkari keimanan, maka semua amalnya akan sia-sia dan diakhirat kelak mereka termasuk orang-orang yang merugiAy. (Q. S Al Maidah:. - Keimanan merupakan cahaya di dalam hati yang dapat memberikan petunjuk kepada seseorang untuk melihat hakikat dari kehidupan. Keimanan menunjukan seseorang untuk dapat melihat yang hak dan yang batil. Keimanan menjadi penerang bagi kehiduapan seseorang sehingga semua yang ia lakukan dan usahakan diniatkan hanya untuk Allah - Keimanan menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupan di dunia dimata Allah. -Keimanan merupakan satu fitrah yang dimilik oleh setiap bani Adam semenjak mereka dilahirkan, itu sebabnya Allah mengingatkan bagi siapa saja yang menghilangkan fitrah tersebut maka mereka akan hidup dalam kerugian yang nyata. e AEaO EAA AINA c aA aO OaIAUA a a aONa Oa aN cOaIcNA a aE acE aI eOEa eO O eaOEaA a A aO Oa aI cAUAA aINA AuSetiap seseorang lahir Allah ciptakan dengan fitrah keimanan dalam dirinya, kemudian kedua orang tuanyalah yang nanti akan merubahnya menjadi seorang Yahudi. Nasrani ataupun Majusi. Ay (H. Bukhari. 1385 dan Muslim. a AA aE aA c AaO aaIEaOEA - Semua pekerjaan yang mendatangkan kebaikan dan maslahat bersama. - Amal sholeh menjadi ciri dan karakter dari orang-orang yang memilik keimanan di dalam hatinya. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 15 P-ISSN : E-ISSN : DOI : JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 - Amal sholeh yang dilakukan seseorang merupakan hasil ataupun buah dari cahaya keimanan di dalam hati seseorang. - Semua pekerjaan yang dilakukan seorang Mukmin demi manfaat bagi dirinya dan orang-orang disekitarnya merupakan salah bentuk tasbih dan dzikir kepada Allah. - Amaln sholeh merupakan salah satu cara bagi seorang hamba untuk mendapatkan keridhoan Allah. UA eOEA a AaO eaaO uEaOeNA " Maka dekatkanlah diri kalian dan gapailah ridhonya dengan wasilah amalan sholeh - Dan amalan sholeh terbaik yang diajarkan Allah untuk menggapai mahabbah dan ridhoNya adalah dengan memperbanyak shalawat, karena shalawat merupakan satu-satunya amalan yang dilakukan Allah, para Malaikat dan semua makhluk yang dilangit dan di Bumi. ca AEc aIO aeE eO UIA a AAEac eOA a aEac eOIA a AEaOeN aOA a AEaO EIacO OaaOac aN EacOeIa aIIaOA a aAuI EENa aI aE aEaNa OA Ausesungguhnya Allah dan para Malaikat senantiasa bershalawat kepada Nabi (Muhammad saw. wahai orang-orang yang beriman dawamkanlah shawalat dan salam kepadanya (Muhammad Ay AA e aA ca AA eO aEA a AC aO a aOA c AA eO aE aA a AaO a aOA - Perintah untuk menyampaikan kebenaran yang Hak yaitu, al Islam atau tentang hakikat keimanan. Sebelumnya, dijelaskan bahwa cahaya keimanan akan menuntun seseorang kepada kebenaran hakiki, dan pada kalimat berikutnya Allah memerintahkan untuk mengajarkan, dan menyampaikan kebenaran tersebut . akwah isla. dimulai dari orang terdekat kita yaitu keluarga, kemudian kerabat dan masyarakat secara umum. - Setelah mereka menerima dakwah yang telah disampaikan maka ajaklah mereka untuk istiqamah didalamnya, yaitu dengan bersabar dalam ketaAoatan kepada Allah dan bersabar dalam menjaga diri dari kemakasiatan yang dapat membawa seseorang kembali kepada kerugian. - Dalam menyampaikan kebenaran mengingatkan seseorang kepada yang Hak tidak dapat dilakukan hanya sekali akan tetapi harus berulang kali kemudian bersabar untuk kembali mengiatkan ketika JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 16 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : satu saat lalai dan lupa. Karena hakikat dari Agama adalah saling mengiatkan kepada kebenaran AEOI EIAOA - Surat al AAoshr mengandung tiga ajaran pokok dari landasan beragama islam, yaitu Iman. Islam, dan yang terakhir adalah Ihsan. Keimanan direpsresntasikan dalam ayat A u acE EcOeIa aIIaOAsedangkan Islam dalam ayat AA ca AIEaO EA ca AA eO EA a A aOAdan Ihsan pada ayat AAeA a AAEA a AA eO E a cC aO aaOA a AaO aaOA KESIMPULAN Surat alAoAshr mengajarkan tentang hakikat dari kehidupan di dunia, bahwa tujuan dari penciptaan kehidupan adalah untuk sebuah ibadah dan penghambaan yang nyata kepada sang Pencipta. Ayat ini mengajarkan sebuah konsep untuk memanfaatkan waktu yang singkat di dunia dengan sebaik mungkin dan menebar manfaat serta maslahat sebanyak mungkin. Keimanan adalah tolak ukur dari kesuksesan seorang hamba dimata Allah, tidaklah bermanfaat semua yang telah dikerjakan dan diusahakan tanpa adanya keimanan di dalam hati. Surat ini juga mengingatkan betapa kerugian adalah satu hal yang sangat nyata bukan hanya satu Akan tetapi, berbagai macam bentuk kerugian akan benar-benar dirasakan oleh seorang hamba di penghujung hidup mereka. Yaitu, ketika mereka sudah tidak berdaya, tidak lagi memiliki kemampuan dan kekuatan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya apalagi orang lain. Inti dari surat alAoAshr adalah mengajarkan tentang landasan dasar dalam ajaran Islam, ketika seseorang ingin terhindar dari berbagai macam kerugian maka ia harus dapat memanfaatkan waktunya seefisien mungkin yaitu dimulai dengan menyempurnakan keimananya sesuai dengan rukun Iman, menyakinkan didalam hati bahwa kelak akan ada kehidupan setelah kematian, ada takdir dan qada yang sudah Allah tentukan, dan ada para Malaikat yang ditugaskan untuk selalu mencatat apa yang telah dikerjakan. Maka, itu semua akan menjadi motivasi awal untuk memanfaatkan waktunya dengan melakukan semua yang diusahakan hanya karena Allah. Kemudian mengamalkan kewajibannya sesuai dengan rukun Islam, dimulai dengan mendirikan shalat, puasa, zakat dan melaksanakan ibadah Haji. Terakhir semuanya disempurnakan dengan Ihsan, yaitu dengan menebar kebaikan dan manfaat kepada seluruh makhluk, mengajak dan saling mengingatkan serta menasehati kepada kebenaran yang hakiki dimulai denga takhalli mengosongkan hati dari segala sesuatu selain Allah yang sifatnya duniawi, tahalli yaitu mengisinya hanya dengan kecintaan kepada Allah kemudian tajalli yaitu ketika seseorang sudah mencapai tingkat kecintaan yang hakiki, saat itu JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 17 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : yang ada dimatanya hanyalah keagungan Allah tidak ada lagi yang diingkan selain mendapatkan ridho Allah swt. Sehingga apapun yang dikerjakan semuanya akan kembali kepada Allah, pada saat itulah manusia akan terbebas dari berbagai macam bentuk kerugian. Allahu AAolam Bi Muradih. DAFTAR PUSTAKA