Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Peninggalan Sarkofagus Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA Putu Rara Anggie Prasisthia a,1,*. Ketut Sedana Arta b,2. I Wayan Putra Yasa c,3 Universitas Pendidikan Ganesha. Singaraja. Indonesia Universitas Pendidikan Ganesha. Singaraja. Indonesia Universitas Pendidikan Ganesha. Singaraja. Indonesia rara@undiksha. 2 ketut. sedana@undiksha. 3 putrayasa@undiksha. * Corresponding Author. Putu Rara Anggie Prasisthia Received 29 April 2025. accepted 20 Mei 2025. published 15 Juni 2025 KEYWORDS ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui peninggalan sarkofagus di Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dan potensinya sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tahap-tahap: Teknik Penentuan Lokasi Penelitian, penelitian ini berlokasi di Desa Pangkungparuk. Kecamatan Seririt. Kabupaten Buleleng. Teknik Penentuan Informan, yaitu purposive sampling dan snow ball. Teknik Pengumpulan Data, observasi, wawancara, studi dokumen. Teknik Keaslian data, teknik analisis data, teknik validasi data, triangulasi metode dan triangulasi sumber, menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: peninggalan sarkofagus masih ada hingga kini di Desa Pangkungparuk, karena peninggalan megalitik berupa sarkofagus masih dihormati dan dijaga dianggap sebagai media penguburan pada masa protosejarah dengan memiliki status sosial yang Latar belakang dibuatnya sarkofagus sebagai media penguburan sekunder di Desa Pangkungparuk, karakteristik bekal kubur pada peninggalan Terakhir Implementasi Peninggalan Sarkofagus di Desa Pangkungparuk sebagai sumber belajar sejarah di SMA dengan menggunakan metode PJBL, guru diharapkan dapat mengimplementasikan Peninggalan Sarkofagus di Desa Pangkungparuk ke dalam materi ajar agar dapat dijadikan sebagai pembelajaran sejarah lokal. Sejarah. Sarkofagus. Sumber belajar. This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Kehidupan manusia tidak lepas dari kebudayaan dan perkembangannya sebelum memasuki sejarah dan Era modern . pada abad ke- 21. Indonesia memasuki zaman praaksara kemudian seiring berjalannya waktu banyak ditemukan situs peninggalan megalitik di Indonesia khususnya di Bali. Peninggalan merupakan benda yang ditinggalkan di masa lampau yang memiliki nilai sejarah dan masih ada sampai sekarang. Salah satunya Peninggalan megalitik dari hasil zaman megalitikum yang merupakan tinggalan yang berupa kubur batu atau sarkofagus. Buleleng merupakan salah satu daerah di Bali yang penyebaran benda-benda hasil dari zaman Megalitikum yang cukup banyak, salah satunya Desa Pangkungparuk dan menyebutkan nama-nama termasuk desa di daerah pantai yang tersebar di Bali Utara terutama pada wilayah Seririt sebelah barat hingga wilayah Tejakula sebelah timur (Sihotang, 2008:. Kondisi masih dapat kita lihat, seperti ditemukannya sarkofagus, gerabah terajala, cermin perunggu, selain itu ditemukan juga sekumpulan temuan bekal kubur seperti manik-manik, batu ulekan, cermin perunggu, gerabah terajala, fragmen tulang gigi, miniatur nekara perunggu yang tersusun yang dulunya digunakan sebagai media penguburan dan pemujaan terhadap roh leluhur. Karakteristik peninggalan Sarkofagus di Desa Pangkungparuk adalah keseluruhan memiliki tonjolan satu pada bagian depan dan dua pada bagian belakang pada bagian tutup maupun wadah, tentunya ini menandakan bahwa pada 32585/keraton. pendidikansejarahunivet@gmail. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. masa itu masyarakat belum mengenal sistem agama, tetapi lebih mengenal sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Kajian-kajian mengenai peninggalan sarkofagus ini sebelumnya terdapat beberapa jenis penelitian serupa diantaranya adalah penelitian Kadek Dwi Mahayoni . , yang mengkaji mengenai AuSarkofagus di Pura Ponjok Batu Desa Pacung. Tejakula. Buleleng. Bali sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMAAy yang berisi mengenai historitas Sarkofagus di Pura Ponjok Batu yang ditemukan saat pemugaran tahun 1995 yang sedang melakukan pemugaran oleh masyarakat Desa Pacung dan menemukan sarkofagus adanya pawisik yang membuat Sarkofagus tersebut harus ditetapkan di Pura Ponjok Batu. Selanjutnya penelitian dari Krisna Hendro Setiono . , yang mengkaji mengenai AuSarkofagus di Desa Pedawa. Tradisi Penguburan Dari Masa Praaksara Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMAAy yang berisi mengenai sarkofagus yang berada di Desa Pedawa yang eksistensinya masih ada dan sangat dihormati oleh masyarakat setempat sehingga masih sering digunakan oleh masyarakat sebagai tempat pemujaan. Selanjutnya ada penelitian Buku R. P Soejono . , yang mengkaji mengenai AuSarkofagus Bali dan Nekropolis GilimanukAy yang berisi tentang jenis-jenis sarkofagus yang ada di Bali dan Nekropolis Gilimanuk kemudian rekontruksi benda-benda hasil dari zaman Praaksara yang ada di Bali. Dengan adanya kajian sebelumnya mengenai peninggalan sarkofagus dan benda-benda megalitik tentunya unsurunsur benda-benda megalitik yang berupa sarkofagus dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, peneliti dapat menguraikan masalah pada penelitian yang dibahas mengenai, bagaimana latar belakang dibuatnya sarkofagus sebagai media penguburan sekunder di Desa Pangkungparuk, karakteristik serta bekal kubur apa saja yang ada di Desa Pangkungparuk dan implementasi dari peninggalan sarkofagus di Desa Pangkungparuk sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penggunaan metode penelitian kualitatif dimulai dari tahap yaitu. Teknik penentuan lokasi penelitian yaitu, peneliti melakukan penelitian yang berlokasi di Desa Pangkungparuk. Kecamatan Seririt. Kabupaten Buleleng. Bali, tahapan selanjutnya yaitu Teknik penentuan informan, penentuan informan dalam penelitian ini yaitu, purposive sampling dan snow ball. Tahapan selanjutnya Teknik pengumpulan data, yaitu melalui observasi, wawancara, studi dokumen, dimana penulis melakukan observasi ke Desa Pangkungparuk guna melihat peninggalanpeninggalan sarkofagus serta bekal kubur yang ada. Badan Riset Inovasi Nasional, ke rumah pemilik temuan sarkofagus dan melakukan observasi ke SMA Negeri 1 Seririt. Dalam teknik wawancara, penulis juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa narasumber yaitu Wayan Sudiarjana . selaku pemilik rumah yang ditemukan sarkofagusnya. Ni Nyoman Sekarini . selaku kepala desa Pangkungparuk. Kadek Dwi Cahyaning Utami . selaku anak daai pemiliki temuan sarkofagus. Kadek Dwi Mahayoni . selaku guru sejarah SMA Negeri 1 Seririt. I Gede Wawan Setiadi . selaku tim bagian humas BRIN Bali. Agung Ayu Eka Sari . selaku tim kawasan kerja layanan umum BRIN Bali dan penulis melakukan studi dokumentasi terhadap arsip-arsip terkait peninggalan Sarkofagus dan temuan bekal kubur desa Pangkungparuk dengan mengunjungi Balai Arkeologi Denpasar atau yang sekarang Badan Riset Inovasi Nasional. Tahapan selanjutnya, teknik keaslian data yaitu, triangulasi data, penulis melakukan uji keradibitas data dengan mengecek data yang sudah didapatkan melalui informan 1, 2, 3 dan triangulasi metode, penulis melakukan pemeriksaan data dari data yang sudah didapatkan teknik analisis data yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data. Tahapan terakhir, yakni menarik kesimpulan dimana peneliti melakukan penulisan yang sebelumnya telah didapat data dan informasi kemudian didapat sebuah kesimpulan yang dijadikan sebagai penelitian oleh peneliti yaitu, memperoleh jawaban atas pertanyaan mengenai peninggalan Sarkofagus di desa Pangkungparuk dan potensi sebagi sumber belajar Putu Rara Anggie Prasisthia. Ketut Sedana Arta. I Wayan Putra Yasa (Peninggalan Sarkofagus Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . sejarah di SMA dengan memfokuskan kajian ini namun, jarang sekali guru sejarah memanfaatkan peninggalan Sarkofagus ini sebagai sumber belajar sejarah di luar sekolah sebagai projek. Hasil dan Pembahasan 1 Latar Belakang dibuatnya Sarkofagus sebagai media penguburan sekunder di Desa Pangkungparuk 1 Adanya Sistem Kepercayaan terhadap roh leluhur atau nenek moyang Dalam peninggalan sarkofagus yakni, konsep kepercayaan paling awal muncul dan melekat pada masa praaksara. Sistem kepercayaan terhadap roh leluhur atau nenek moyang yang disebut dengan nama animism yang merupakan kekuatan diluar kehidupan manusia (Soelaeman, 2000:. Kepercayaan animisme ini sudah ada pada zaman megalitikum atau batu besar sebelum mengenal tulisan contoh peninggalannya seperti sarkofagus, dolmen, pundek berundak, dan lain-lainnya. Kemudian yang paling pertama melatar belakangi peninggalan Sarkofagus sebagai media penguburan sekunder adalah adanya sistem kepercayaan dengan media penguburan sekunder dikarenakan mayat yang ditempatkan dalam Sarkofagus di Desa Pangkungparuk ini tidak dipaksa untuk masuk ke dalam sarkofagus. Para ahli arkeologi berpendapat bahwa organisasi sosial pada masa prasejarah dapat diketahui dengan menganalisis sistem penguburan yang tercermin (Saxe, 1970: 5, . Binford . 2b :. mengemukakan bahwa ada tiga aspek budaya terkait dengan penguburan yang perlu dicermati yakni perlakuan terhadap jasad orang mati, design atau bentuk wadah kubur, dan perbedaan perlengkapan atau artefak bekal kubur yang disertakan pada si mati. Orang-orang yang dikuburkan dalam sarkofagus ini adalah leluhur dari orang-orang yang tinggal pada masa prasejarah. Dibuatkannya sarkofagus ini sebagai bentuk pemujaan terhadap arwah nenek moyang masyarakat prasejarah yang dahulu tinggal di Desa Pangkungparuk. Dikarenakan adanya sistem kepercayaan terhadap roh leluhur dan akan memberikan keselamatan, kemakmuran, sebagai pemujaan penghormatan kepada roh leluhur. 2 Memiliki status sosial yang tinggi Peninggalan sarkofagus di Desa Pangkungparuk ini dibuat diperuntukan untuk orang-orang yang memiliki kedudukan penting di desa dan tokoh-tokoh yang memiliki status sosial atau kedudukan penting dalam struktur desa Pangkungparuk pada jaman kuno ini bisadilihat dari temuan bekal kuburnya pada peninggalan Sarkofagus. Dengan fakta-fakta bahwa orang-orang yang dikuburkan memiliki kedudukan penting dikarenakan pada zaman itu sarkofagus susah untuk dibuat, adanya peninggalan Sarkofagus dengan bekal kubur yang Kemudian salah satu bekal kuburnya cermin perunggu dengan harga yang sangat mahal pada saat itu hanya orang-orang yang memiliki status sosial yang tinggi seperti kepala suku, pemimpin, raja, kepala desa. Aspek tersebut diyakini akan dapat mengungkapkan organisasi sosial ataupun status sosial orangorang yang dikubur dan keluarganya. Kemudian berpendapat bahwa artefak bekal kubur mencerminkan identitas dan persona sosial orang yang meninggal, dengan kata lain, kuantitas dan kualitas benda bekal kubur terkait dengan tinggi-rendahnya status sosial orang yang memiliki kedudukan tinggi. 2 Karakteristik Bekal kubur pada peninggalan sarkofagus di Desa Pangkungparuk Sarkofagus di desa Pangkungparuk merupakan peninggalan arkeologis yang penting mencerminkan tradisi megalitik di Bali harus memiliki sebuah karakteristik yang ciri khas sendiri di Bali secara umum berupa bulat lonjong dengan tonjolan berjumlah pada satu bagian depan dan dua di bagian belakang baik pada baik bagian tutup dan wadah berbahan batuan breksi gunungapi dan padas, tonjolan seperti Putu Rara Anggie Prasisthia. Ketut Sedana Arta. I Wayan Putra Yasa (Peninggalan Sarkofagus Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Sarkofagus 1 bagian wadah berbentuk setengah bulatan menyerupai perahu terdapat hiasan berupa bulatan yang menonjol, dua buah pada sisi lebar bagian depan dan dua buah pada sisi sempit bagian belakang dengan panjang 122 cm dan lebar 75 cm, tinggi 51 cm berbahan batu padas. Kondisi sarkofagus ini pecah menjadi 12 bagian dan ditumbuhi jasad-jasad renik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 1. Sarkofagus 1 bagian Wadah Sumber: Rara Anggie, . September 2. Sarkofagus 1 bagian penutup bentuknya hampir sama dengan bagian wadah yakni, berbentuk setengah bulatan menyerupai perahu terdapat hiasan berupa bulatan yang menonjol dua buah pada sisi lebar bagian depan dan duah buah pada sisi bagian belakang dengan panjang 122 cm dan lebar 75 cm, tinggi 51 cm berbahan batu padas. Kondisi penutup pecah menjadi 5 bagian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 2. Sarkofagus 1 Bagian Penutup Sumber: Rara Anggie, . September 2. Sarkofagus 2 pada bagian wadah berbentuk setengah bulatan menyerupai perahu terdapat hiasan berupa bulatan yang menonjol, dua buah pada sisi lebar bagian depan dan dua buah pada sisi sempit bagian belakang dengan lebar 77 cm, panjang 128 cm, tinggi 61 cm berbahan dasar batu padas kondisinya pecah menjadi 4 bagian seperti sarkofagus sebelumnya ditumbuhi jasad-jasad renik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut. Putu Rara Anggie Prasisthia. Ketut Sedana Arta. I Wayan Putra Yasa (Peninggalan Sarkofagus Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Gambar 3. Sarkofagus 2 Bagian Wadah Sumber: Rara Anggie, . September 2. Sarkofagus 2 bagian penutup bentuknya hampir sama dengan bagian wadah setengah bulatan menyerupai perahu terdapat hiasan, dua buah pada sisi lebar bagian depan dan dua buah sisi sempit pada bagian belakang dengan tinggi 61 cm, lebar 77 cm, panjang 128 cm. Kondisinya pecah menjadi 9 bagian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 4. Sarkofagus 2 Bagian Penutup Sumber: Rara Anggie, . September 2. Sarkofagus 3 bagian wadah memiliki bentuk setengah bulatan menyerupai perahu terdapat hiasan bulatan menonjol, dua buah pada sisi lebar bagian depan dan dua buah sisi sempit pada bagian belakang dengan tinggi 51 cm, lebar 75 cm, panjang 122 cm berbahan batu padas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 5. Sarkofagus 3 Bagian Wadah Sumber: Rara Anggie, . September 2. Sarkofagus 3 bagian penutup bentuknya hampir mirip dengan bagian wadah setengah bulatan menyerupai perahu terdapat hiasan bulatan yang menonjol, dua buah pada sisi lebar bagian depan dan Putu Rara Anggie Prasisthia. Ketut Sedana Arta. I Wayan Putra Yasa (Peninggalan Sarkofagus Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . dua buah pada sisi sempit bagian belakang dengan panjang 122 cm, lebar 75 cm, tinggi 51 cm berbahan batu padas. Kondisinya pecah menjadi 8 bagian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 6. Sarkofagus 3 Bagian Penutup Sumber: Rara Anggie, . September 2. Sarkofagus 4 pada bagian wadah mempunyai bentuk menyerupai perahu terdapat hiasan bulatan yang menonjol, dua buah pada sisi lebar bagian depan dan dua buah pada sisi sempit bagian belakang dengan panjang 128 cm, tinggi 61 cm, lebar 77 cm kondisi awalnya utuh dan berbahan batu padas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 7. Sarkofagus 4 Bagian Wadah Sumber: Rara Anggie, . September 2. Sarkofagus 4 pada bagian penutup bentuknya hampir sama dengan bagian wadah menyerupai perahu terdapat hiasan bulatan yang menonjol, dua buah pada sisi lebar bagian depan dan dua buah pada sisi sempit bagian belakang dengan lebar 77 cm, panjang 128 cm, tinggi 61 cm berbahan batu padas dan endapan tanah kondisinya utuh. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 8. Sarkofagus 4 Bagian Penutup Sumber: Rara Anggie, . September 2. Dalam sebuah peninggalan sarkofagus dengan asumsi masyarakat pada zaman itu orang yang dianggap yang cukup penting di dalam masyarakat atau komunitas tersebut sajalah yang menggunakan sarkofagus atau kubur batu dan memiliki status sosial yang tinggi. Asumsi ini diperkuat juga dengan temuan bekal kubur yang cukup banyak di dalam peninggalan sarkofagus yang ditemukan dan di luar Putu Rara Anggie Prasisthia. Ketut Sedana Arta. I Wayan Putra Yasa (Peninggalan Sarkofagus Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . sarkofagus juga ditemukan disertakan barang-barang yang memiliki nilai ekonomis, yakni Cermin Perunggu menandakan bahwa masyarakat Pangkungparuk bersifat hedonistik yang struktur atau status sosial masyarakatnya yang memposisikan sebagai lapisan masyarakat yang tinggi. Cermin ini berasal dari dinasti Han Cina yang dibeli oleh masyarakat ini. Bekal bukur selanjutnya ada manik-manik kertas emas, manik-manik logam, miniatur nekara perunggu, gerabah terajala, untaian spiral perunggu, batu ulekan, fragmen tulang gigi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar sebagai berikut. Gambar 9. Bekal Kubur Sarkofagus di Desa Pangkungparuk Sumber: Rara Anggie, . September 2. 3 Aspek-aspek Peninggalan Sarkofagus yang dapat dijadikan sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA 1 Aspek Sejarah (Histori. Sejarah adalah studi keilmuan tentang segala sesuatu yang telah dialami manusia di waktu lampau dan telah meninggalkan jejak-jejaknya di waktu sekarang. Namun perhatian diletakkan pada aspek peristiwanya sendiri, dalam hal ini dari segi-segi urutan perkembangannya yang kemudian disusun dalam suatu cerita sejarah (I Gede Widja, 1989:. Bahwa sarkofagus yang berada di Desa Pangkungparuk merupakan bukti dari peninggalan pada masa prasejarah di Bali pada zaman megalitikum atau batu besar Dengan sistem kuburnya dengan media penguburan sekunder dan masyarakat Pangkungparuk kuno memiliki status sosial yang tinggi. Kemudian sarkofagus juga memberikan informasi pada saat masa lampau di Desa Pangkungparuk. Peninggalan tersebut sangat penting dalam kehidupan masa kini dan masa depan terkait dengan bukti dan jejak-jejak sejarah yang terkandung dalam sarkofagus tersebut yang bisa dilihat peninggalan secara langsung di Desa Pangkungparuk. Kecamatan Seririt. Buleleng. Bali. 2 Aspek Artefak Menurut Lewis R. Binford. Artefak merupakan istilah dari benda arkeologi atau peninggalan bendabenda sejarah yakni, semua benda yang dibuat atau dimodifikasi oleh manusia yang dapat dipindahkan oleh tangan manusia dengan mudah tanpa merusak atau menghancurkan bentuknya. Meski diduga sebagai sumber sejarah namun keberadaan artefak tidak dapat secara langsung menginformasikan kejadian dan peristiwa yang terjadi, biasanya artefak digunakan sebagai penafsiran awal tentang aktivitas yang terjadi pada masa tertentu. Artefak sebagai peninggalan sejarah pada zaman megalitikum, salah satu contohnya adalah sarkofagus yang ada di Kawasan Indonesia, khusunya di Bali tepatnya peninggalan sarkofagus yang ada di Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali. 3 Aspek Keyakinan atau Kepercayaan Kepercayaan adalah suatu pegangan yang dipegang oleh orang yang memilikinya, tidak peduli apapun yang akan terjadi atau menimpa dirinya. Peninggalan sarkofagus di Desa Pangkungparuk Putu Rara Anggie Prasisthia. Ketut Sedana Arta. I Wayan Putra Yasa (Peninggalan Sarkofagus Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. merupakan peninggalan yang digunakan sebagai media pemujaan terhadap roh leluhur atau nenek moyang yang merupakan kepercayaan megalitik yang masih meyakini bahwa roh leluhur (Soelaeman, 2000: . Kuatnya keyakinan masyarakat dan pemilik lahan terhadap peninggalan sarkofagus tersebut diwujudkan dalam setiap ada upacara keagamaan seperti Galungan. Kuningan dan Nyepi pasti menghaturkan banten suci. Kemudian setiap hari menghaturkan sesaji berupa canang sari maupun rarapan dan beberapa bekal kuburnya dibuatkan tempat suci untuk persembahyangan sebagai penghormatan keberadaan sarkofagus. Peninggalan sarkofagus di Desa Pangkungparuk merupakan salah satu objek peninggalan pada zaman megalitik yang dapat digunakan oleh Guru dalam menjelaskan fenomena-fenomena sejarah dalam bentuk projek kelas diluar sekolah atau project based learning. 4 Aspek-Aspek yang terdapat dalam Peninggalan Sarkofagus di Desa Pangkungparuk yang dapat dijadikan Sumber Belajar Sejarah di SMA Ketika membahas sumber belajar pasti tentunya identik dengan pendidik atau guru, namun pada dasarnya sumber belajar tidak hanya bersumber pada guru saja. Merujuk pada sumber belajar itu sendiri adalah segala bentuk sumber baik itu berwujud fisik atau non fisik yang digunakan oleh peserta didik dalam suatu proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik (Prihadi, 2. Pendidikan adalah proses membangun manusia menjadi yang lebih baik dari keterampilan, sikap, segi pengetahuan, dan sebagainya dan membantu untuk menumbuhkan ras kasih sayang terhadap sesama dan segala pengalaman belajar yang berlangsung sepanjang hayat karena mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam segala aspek kehidupan. Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh siapapun tentunya dalam proses pembelajaran dibutuhkan suatu sumber belajar dalam rangka menunjang kegiatan Selain itu problematika yang harus dihadapi sejarah, yakni bagaimana guru mampu menciptakan strategi dan media pembelajaran yang menarik supaya pembelajaran sejarah diminati siswa untuk mengikuti proses pembelajaran. Sejarah adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang masa lampau yang bisa berkaitan dengan masa kini dan masa yang akan datang dan dapat digunakan sebagai modal bertindak di masa kini, hal tersebut tidak terlepas dengan konsep-konsep dasar strukturnya yang mencakup waktu, ruang, manusia dan perubahan. Maka dari itu sejarah adalah salah satu displin ilmu yang sangat menarik untuk dikaji dalam ranah akademik sebagai sumber belajar sejarah di sekolah, sehingga sejarah adalah salah satu mata pelajaran di Sekolah Menengah Atas pada jurusan ilmu pengetahuan sosial, khususnya dalam konteks pembelajaran sejarah di SMA. Dengan hal ini solidaritas masyarakat dalam menjaga dan melestarikan peninggalan yang ada di lingkungan sekitar tetapi kurangnya menggunakan peninggalan sarkofagus ini sebagai referensi sumber belajar sejarah dan bisa memberikan pengetahuan atau objek baru untuk dijadikan pembelajaran. Aspekaspek yang terdapat dalam peninggalan sarkofagus yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah di SMA yaitu mengacu pada Kurikulum Merdeka dengan capaian pembelajaran yaitu fase E kelas X . terkait dengan konsep dasar sejarah dan masa praaksara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam situs peninggalan bersejarah yang ada pada sarkofagus di Desa Pangkungparuk memuat aspek-aspek yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah untuk SMA yang berkaitan dengan konsep dasar sejarah pada sub materi masa praaksara dan konsep dasar ilmu sejarah asal usul nenek moyang dan kehidupan pada masa praaksara Indonesia sehubung dengan pembahasan diatas, yaitu peninggalan Sarkofagus di Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dijadikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA sesuai dengan ATP Sejarah kelas X CP. Fase E 10. Peserta didik mampu memahami hasil-hasil budaya masyarakat praaksara Indonesia dan pengaruhnya dalam kehidupan lingkungan terdekat dalam bentuk tulisan. Dalam pembelajaran sejarah diharapkan guru dapat menggunakan metode PJBL . roject based Model pembelajaran PJBL (Project Based Learnin. adalah pembelajaran aktif yang mengaitkan teknologi dengan kehidupan sehari-hari dengan melakukan kegiatan proyek dan menghasilkan suatu Putu Rara Anggie Prasisthia. Ketut Sedana Arta. I Wayan Putra Yasa (Peninggalan Sarkofagus Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Dengan penggunaan PJBL ini dapat mampu menggunakan proyek atau kegiatan yang didapat sebagai media pembelajaran yang nantinya dapat dilakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan suatu hasil belajar. Sebagai contoh penggunaan Metode PJBL ini adalah ketika peserta didik dibentuk beberapa kelompok oleh gurunya, dimana gurunya memberikan sebuah tugas, yaitu siswa harus dapat mencari tahu apa benda-benda peninggalan hasil dari zaman megalitikum dan karakteristik serta bekal kubur yang ada di dalam peninggalan sarkofagus yang masih ada di daerah sekitar tersebut. Setelah para siswa membentuk kelompok dan diberikan suatu tugas, akhirnya para siswa mencari dengan berbagai cara agar tugas ini dapat diselesaikan. Ada beberapa siswa yang mencari di buku di perpustakaan atau lab sejarah . ika sekolah memilik. dan ada beberapa siswa yang mencari di internet. Setelah mereka menyelesaikan tugas yang diberikan, setiap kelompok akan mempresentasikan tugasnya didepan kelas dan nantinya setiap kelompok presentasi akan ada tanya jawab antar siswa tentunya ini dapat menambah informasi dan pengetahuan baru mengenai tugas yang mereka cari. Setelah presentasi selesai. Guru akan memberikan tambahan dan penjelasan sedikit mengenai tugas yang diberikan dan memberikan sebuah kesimpulan dan kata-kata motivasi yang tentunya akan membuat para siswa menjadi bersemangat dan mendapatkan pengalaman mereka selama melaksanakan pembelajaran di Simpulan Terdapat tiga kesimpulan yang dapat dirumuskan dari penelitian ini. Pertama, latar belakang dibuatnya Sarkofagus sebagai media penguburan sekunder yakni, adanya sistem kepercayaan terhadap roh nenek moyang yang disebut dengan nama animism yang merupakan kekuatan di luar kehidupan manusia dengan adanya sistem kepercayaan dengan media penguburan sekunder dikarenakan mayat yang ditempatkan dalam Sarkofagus di Desa Pangkungparuk ini tidak dipaksa untuk masuk ke dalam sarkofagus dan memiliki status sosial yang tinggi, peninggalan sarkofagus di Desa Pangkungparuk ini dibuat diperuntukan untuk orang-orang yang memiliki kedudukan penting di desa dan tokoh-tokoh yang memiliki status sosial atau kedudukan penting dalam struktur desa Pangkungparuk pada jaman kuno ini bisa dilihat dari temuan bekal kuburnya pada peninggalan sarkofagus. Kedua. Karakteristik bekal kubur pada peninggalan sarkofagus yakni, juga dengan temuan bekal kubur yang cukup banyak di dalam peninggalan sarkofagus yang ditemukan dan di luar sarkofagus juga ditemukan disertakan barang-barang yang memiliki nilai ekonomis, yakni cermin perunggu menandakan bahwa masyarakat Pangkungparuk bersifat hedonistik yang struktur atau status sosial masyarakatnya yang memposisikan sebagai lapisan masyarakat yang tinggi. Cermin ini berasal dari Dinasti Han Cina yang dibeli oleh masyarakat ini. Bekal bukur selanjutnya ada manik-manik kertas emas, manik-manik logam, miniatur nekara perunggu, gerabah terajala, untaian spiral perunggu, batu ulekan, fragmen tulang Ketiga, aspek sejarah adalah studi keilmuan tentang segala sesuatu yang telah dialami manusia di waktu lampau dan telah meninggalkan jejak-jejaknya di waktu sekarang. Sarkofagus juga memberikan informasi pada saat masa lampau di Desa Pangkungparuk. Peninggalan tersebut sangat penting dalam kehidupan masa kini dan masa depan terkait dengan bukti dan jejak-jejak sejarah yang terkandung dalam sarkofagus tersebut yang bisa dilihat peninggalan secara langsung di Desa Pangkungparuk. Kecamatan Seririt. Buleleng. Bali. Aspek artefak adalah istilah dari benda arkeologi atau peninggalan benda-benda sejarah yakni, semua benda yang dibuat atau dimodifikasi oleh manusia yang dapat dipindahkan oleh tangan manusia dengan mudah tanpa merusak atau menghancurkan bentuknya. Implementasi atau aspek-aspek dari Peninggalan sarkofagus di Desa Pangkungparuk sebagai sumber belajar sejarah di SMA dengan menggunakan metode PJBL, guru diharapkan mengimplementasikan peninggalan sarkofagus di Desa Pangkungparuk ke dalam materi ajar agar dapat dijadikan sebagai pembelajaran sejarah lokal. Kontribusi keilmuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dasar dan menambah Putu Rara Anggie Prasisthia. Ketut Sedana Arta. I Wayan Putra Yasa (Peninggalan Sarkofagus Desa Pangkungparuk. Seririt. Buleleng. Bali dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. wawasan baru mengenai sejarah lokal yang berada di lingkungan sekitar dan terdekat, agar peninggalan sarkofagus di lingkungan terdekat lainnya bisa dijadikan sebagai penelitian selanjutnya. References