AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Asal Usul Terbentuknya Air Ate Dan Moko Puledang Lafaledang Di Kampung Lama Omtel Kabupaten Alor Feni Diana Djaha1. Salomi Duka2,Yesgelode Lauata3. Sentike Melani Mauyaru4. Petrus Mau Tellu Dony5 Universitas Tribuana Kalabahi fenydiana79@gmail. com , salomiduka81@gmail. com2, yesgelodelauata2004@gmail. mauyarumelany@gmail. com4, petrusdony2@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Asal usul terbentuknya Air Ate di Kampung Lama Omtel adalah kejadian yang terjadi di gunung omtel pada zaman dahulu, ada dua orang suami istri yakni Ledang pot dari kampung Nihingn dan Bihaj dari kampung Pay. Mereka pergi ke kebun untuk membersihkan rumput dengan kedua anaknya. Ketika kedua orang tua sedang membersihkan rumput kedua anaknya bermain petak umpet hingga hari sore kedua orang tua itu memanggil anak mereka untuk pulang namun tidak ada respon dari kedua anak tersebut sehingga orang tua mereka mengira anak-anak tersebut telah pulang sehingg kedua orang tua tersebut pulang namun samapi di rumah kedua anak tersebut tidak ada di rumah mereka sehingga orang tua nya mencari mereka pada keesokan harinya, namun mereka tidak menemukan kedua anaknya. Lalu mereka pergi ke kebun untuk mencari mereka, namun tidak menemukan mereka tetapi kebun mereka yang dulunya tidak ada air sekarang telah dialiri oleh air yang mengalir sehingg mereka berdua mengetahui bawah kedua anak mereka telah di telan air. ehingga dinamakan air ate, yang sampai sekarang masih di gunaka. Dan dari dalam air tersebut muncul nyiru dan lesung, nyiru tesebut telah berubah menjadi batu karena dibuang oleh sang isteri dalam perjalanan ke rumah, sedangkan lesung tersebut dibawa oleh sang suami ke rumah dan berubah menjadi moko. Moko tersebut telah dibawa oleh orang pandai ke Pandai, sebagai ganti air pinang yang dijanjikan oleh Matebel Langgara (Orang-orang tua yang dihormati dan tidak bisa dilawan/banta. dari OAomate kepada orang-orang pandai. Kata Kunci: Air Ate. Kampung Lama Omtel,Moko Puledang Lafaledang PENDAHULUAN Cerita rakyat merupakan golongan cerita yang hidup dan berkembang secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya Jamaris . dalam bukunya pengantar sastra rakyat Minangkabau. Cerita Rakyat biasanya disampaikan secara lisan oleh tukang cerita yang hafal atau mengetahui alur ceritanya, itulah sebabnya cerita rakyat disebut sebagai produk Aukelisanan sastraAy dikenalkan kali pertama ke Indonesia oleh A. Teeuw melalui bukunya berjudul Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan(Teeuw, 1994. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Tradisi lisan merupakan bagian dari disiplin ilmu folklor selain tradisi sebagian lisan, dan tradisi bukan lisan (Danandjaja, 2015:. Mata air suci Jolotundo menjadi satu ikon bagi masyarakat, khususnya bagi warga masyarakat desa Seloliman kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto. Airnya bisa memunculkan suatu keajaiban-keajaiban, dan bisa meyakinkan masyarakat bahwa mata air Jolotundo benar-benar mempunyai nilai magis (Sunaji. Wawancara, 2 Januari 2. Gendang gangsa yang paling populer di Indonesia di kenal sebagai gendang Moko. Moko adalah sejenis gendang gangsa yang banyak ditemui dikawasan Alor (D. Gede 1. dalam bukunya Fungsi Moko dalam kehidupan masyarakat Alor. Air Ate dan Moko Puledang Lafaledang adalah dua elemen penting dalam kebudayaan masyarakat Kabupaten Alor. Nusa Tenggara Timur. Kedua Unsur ini tidak hanya terkait dengan fenomena Alam tetapi juga dengan cerita rakyat yang melibatkan kejadian sejarah dan mitos yang dihormati oleh masyarakat sekitar. Air Ate yang berasal dari kebun di kampung lama Omtel, dan Moko Puledang Lafaledang, yang berhubungan dengan perjalanan panjang menuju Pandai, menyimpan nilai-nilai spiritual dan tradisional yang mendalam bagi masyarakat Alor. Dalam tulisan ini penulis akan mengkaji asal-usul air Ate dan Moko Puledang Lafaledang serta makna sosial dan buday yang terkandung dalam cerita rakyat ini. METODE PENGABDIAN Penilitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis data penilitian menggunakan analisis deskrpitif kualitatif. Data yang digunakan dalam penilitian ialah data kualitatif . teknik pengumpulan data di lakukan dengan wawancara. Wawancara di lakukan dengan tokoh adat yaitu bapak Anton Alelang. HASIL PENGABDIAN DAN PEMBAHASAN Asal usul terbentuknya air ate di kampung lama omtel Kabupaten Alor. Pada zaman dahulu hidup sepasang suami istri, yakni Ledang Pot dari kampung Nihing dan Bihaj dari kampung Pay, mereka mempunyai dua orang anak yaitu Puledang dan Lafaledang. Pada suatu hari kedua suami istri bersama dengan kedua anak mereka, pergi ke kebun yang berada di Omtel untuk bekerja setelah sampai di kebun kedua orang tersebut langsung yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 membersihkan rumput yang berada di sekitar ubi keladi yang mereka tanam, sementara itu kedua anak mereka sedang bermain sembunyi-sembunyi atau biasa disebut petak umpet, yang satu bersembunyi dan yang satu mencarinya bergantian. Setelah orangtua mereka bekerja sampai sore/petang dan hendak pulang ke rumah di Foy Muding, namun saat mereka memanggil dan mencari kedua anak mereka tidak ada respon dan kedua anaknya tidak terlihat, dan mereka menduga kedua anak mereka telah dahulu pulang ke rumah lalu menyusul mereka namun setelah sampai di rumah yang berada di Foy Muding mereka tidak menemukan kedua anak mereka dan mereka berpikir mungkin kedua anaknya pergi ke rumah neneknya, lalu Ledang pot dan isterinya beristerahat. Keesokan harinya mereka pergi mencari Puledang dan Lafaledang di rumah neneknya namun keduanya tidak ada disana, lalu mereka kembali ke ladang untuk mencari kedua anak Setelah mereka samapai ke kebun, mereka terkejut karena ladang mereka yang dulunya tidak terdapat air sama sekali, tetapi saat itu mereka melihat ada air yang muncul dan mengalir, dan air inilah yang telah menelan kedua anak mereka yakni Puledang dan Lafaledang . ir ini diberi nama air Ate dan sampai sekarang air tersebut digunakan oleh orang-orang disekitarny. Dan dalam air tersebut mereka melihat muncul sebuah lesung dan nyiru, kemudian sang suami mengambil lesung tersebut dan isterinya mengambil nyiru. Kemudian mereka membawanya ke rumah mereka di Foy Muding, di tengah perjalanan sang isteri membuang nyiru tersebut dan berubah menjadi batu sedangkan suaminya tetap membawa lesung sampai di Foy Muding, keesokan harinya mereka melihat lesung tersebut telah berubah menjadi Moko yang kemudian diberi nama Moko Puledang Lafaledang. Didalam air ate terdapat seekor belut yang menjadi tuan dari air ate. Ketika kita berkunjung ke air ate ada beberapa hal yang tidak boleh dikatakan dan dilakukan yaitu, jangan berkata airnya kecil atau airnya besar, jangan ribut, dan menyebut belut serta jangan menangkap belut tersebut atau membersihkan/mengambil kotoran/daun yang ada dalam air ate. Karene jika kita menyebutkan atau melakukan hal tersebut maka akan terjadi hujan dan angin yang besar disertai dengan kilat yang menyambar. AuPernah ada orang yang berkata air kecil dan seketika itu kilat mengejarnya dan membakar hangus gudang janggungnyaAy Tutur bapak anton Alelang. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Pada suatu hari Matebel Langgara (Orang-orang tua yang dihormati dan tidak bisa dilawan/banta. dari OAomate pergi ke Pandai lalu mereka meminum air enau . orang Pandai dan para Matebel Langgara ini berjanji akan membayar dengan busei . ir pinang/pinang mud. , namun setelah mereka pulang ke OAomate dan mencari air pinang mereka tidak menemukannya, sehingga mereka tidak menempati janji untuk pergi ke Pandai membayar air enau yang telah mereka minum. Karena menunggu terlalu lama dan tidak dibawakan air pinang sehingga orang Pandai datang mencari para matebel langgara dengan 30 perahu untuk menagih air pinang yang telah dijanjikan kepada mereka. Namun ketika mereka sampai para matebel langgara mengatakan bahwa mereka tidak memiliki air pinang dan orang-orang Pandai mengatakan bahwa, untuk menggantikan air pinang ada satu moko di gunung yang jika dipukul bunyinya sampai di Pandai dan kami bisa mendengarnya. Kami mengingininya jadi pergilah ke gunung dan bawa Moko tersebut untuk kami sebagai ganti air pinang. Maka para matebel langgara naik ke gunung dan mengambil Moko (Puledang Lafaledan. tersebut dibawa dari gunung ke pantai, setelah sampai mereka meletakkan Moko tersebut di pantai Desa Aimoli tepatnya di belakang SD GMIT Aimoli, saat moko diletakkan ditempat tersebut muncul air . ampai sekarang masih ad. Kemudian Moko tersebut diberikan kepada orang Pandai, lalu mereka meletakannya ke dalam perahu dan diantar 30 perahu ke Pandai. Ledang pot meninggalkan isterinya Bihaj dan mengikuti Moko tersebut ke Pandai dan tidak kembali. Karena suaminya tidak kembali maka isterinya Bihaj mengikuti perjalanan perahu yang membawa Moko dengan menyusuri pantai ketika sampai di Alor Besar (Di sebelah Masjid Alor Besa. Bihaj merasa lapar kemudian ia duduk disitu dan memakan bekal yang dibawanya yaitu Ubi Keladi setelah makan kulit keladi tersebut dibuang dan ibu bihaj merasa haus namun ia tidak membawa air minum dan sedang memikirkan air namun seketika di tempat ia membuang kulit keladi muncul air, lalu ibu Bihaj meminum air tersebut. Dan air ini disebut malusey, karena ubi yang dia makan bernama malu (Air ini sampai sekarang masih ada, dan sudah disesmen dengan baik dan digunakan oleh orang Alor besa. Moko Puledang Lafaledang dibawa sampai di Pandai, dan tempat mereka menyimpan Moko muncul air dan sampai sekarang air tersebut digunakan oleh orang Pandai. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Foto: Gambar Air Ate Simbolisme dan Nilai Budaya Cerita tentang Air Ate dan Moko Puledang Lafaledang mengandung sejumlah nilai budaya yang Pertama, cerita ini mencerminkan hubungan yang erat antara manusia dan alam. Air dianggap sebagai elemen kehidupan yang memiliki kekuatan magis dan harus dihormati. Kedua, adanya batasan dan peraturan mengenai bagaimana masyarakat harus memperlakukan sumber daya alam seperti Air Ate dan Malusey menunjukkan adnya kearifan lokal dalm menjaga keseimbangan alam dan mencegah kerusakan lingkungan Makna Spiritual dan sosial dalam Air Ate Air Ate memiliki nilai spiritual yang sanggat tinggi dalam budaya maasyarakat Di dalamnya terdapat belut yang diyakini sebagai penjaga atau tuan dari air tersebut. Masyarakat yang mengunjungi Air Ate diingatkan untuk tidak berkata atau melakukan halhal yang bisa menganggu ketenangan air, seperti menyebut ukuran air, berisik, atau menangkap belut didalamnya. Hal-hal tersebut dipercaya dapat mendatangkan bencana seperti hujan lebat, angin kencang, dan kilat yang menyambar. Cerita tentang seseorang yang menyebut air kecil dan kemudian disambar petir adalah salah satu contoh kepercayaan masyarakat akan kekuatan magis yang terkandung dalam Air Ate. KESIMPULAN Air ate yang terletak di omtel, memiliki sejarah yang menarik. Dalam artikel ini, kami memaparkan terbentuknya Air Ate Pada jaman dulu hingga sekarang dan Moko yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 puledang Lafaledang. Pada jaman dulu di omtel belum ada mata air, air yang mereka gunakan hanya air hujan yang di tampung dalam bak penampung. Namun pada suatu hari ada satu keluarga yang kekebun untuk membersihkan kebun mereka sehinnga kedua anak mereka menghilang dan tiba-tiba muncullah suatu mata air yang di sebut air ate. Sehingga seiring berjalannya waktu di masa ini air tersebut masih di gunakan oleh orang-orang yang tinggal di sekitar mata air tersebut. Kemudian dari air tersebut Muncul Nyiru dan lesung, kemudian lesung tersebut berubah menjadi Moko yang disebut dengan nama Moko Puledang Lafaledang yang telah diambil oleh orang Pandai sebagai ganti air pinang. Cerita asal usul Air Ate dan Moko Puledang Lafaledang di Kabupaten Alor merupakan warisan budaya yang mengajarkan masyarakat untuk menghormati alam dan menjaga keseimbangan dengan kekuatan spiritual yang terkandung dalam benda dan alam Air Ate sebagai sumber kehidupan. Moko yang berperan sebagai simbol keagunggan, serta Malusey yang berhubungan dengan tradisi makan ubi keladi, semuanya menggambarkan hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungan. Jurnal ini bertujuan untuk menjaga dan menyebarkan nilai-nilai ini kepada generasi berikutnya serta untuk memperkenalkan kebudayaan masyarakat Alor kepada dunia luar. SARAN Untuk itu, disarankan kepada masyarakat,pemerintah dan generasi muda mudi dapat menulis dengan benar sehingga cerita-cerita tersebut dapat di satukan dalam satu dokumen sejarah yang baik dan benar untuk di pelajari oleh generasi muda ke depan. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terimakasih di sampaikan kepada bapak Anton Alelang selaku nara sumber, bapak dosen Petrus Mau Tellu Dony selaku dosen pengasuh mata kuliah seni budaya daerah dan universitas tribuana kalabahi, demikian penulisan sejarah singkat terbentuknya air ate. Penulis juga merasa bawah masih banyak cerita yang perlu di tulis dalam tulisan sejarah ini, untuk itu orang muda harus menulis dengan benar sehingga cerita-cerita yang terpisah tersebut dapat di satukan dalam satu dokumen sejarah yang baik dan benar untuk di pelajari oleh generasi muda. Terimakasih. DAFTAR PUSTAKA