El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Peran Guru Dalam Melatih Kemandirian dan Percaya Diri Pada Anak Down Syndrome Di SLB Aisyiyah Al Walidah Nasikhotun Nadiroh1 . Annisa Nurul Firdaus2. Arif Susanto3. Yogi Subekti4 Program Studi PGMI. Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto 2/3/4 Program Studi PGMI. Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto nadiroh@unupurwokerto. id, annisanurulfirdaus32@gmail. susantoarif1986@gmail. com, yogisubekti37@gmail. Abstract This study aims to explore the needs of students with Down syndrome, the importance of fostering independence and self-confidence, and the role of teachers in supporting this process. The research employs a descriptive qualitative approach using a case study method. The subjects of the study are teachers at SLB Aisyiyah Al-Walidah with experience in guiding students with special needs. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and documentation of learning activities. The interviews focused on teachers' strategies to promote independence and self-confidence in students with Down syndrome. The results indicate that students develop independence through several stages, including: . repeated daily activities with direct assistance until students can perform them independently. implementation of proximal methods and regular coordination with parents to ensure continuity of learning strategies at home. the use of interactive media such as songs to facilitate communication and enhance social interaction confidence. Teachers play a crucial role as facilitators, motivators, and active companions in building students' independence and self-confidence. These findings highlight the importance of synergy between teachers and families in educating children with Down syndrome. Keywords: down syndrome,independence, the role of teachers. SLB Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kebutuhan anak penyandang down syndrome, pentingnya pelatihan kemandirian dan kepercayaan diri, serta peran guru dalam mendukung proses tersebut. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui metode studi kasus. Subjek penelitian adalah guru-guru di SLB Aisyiyah Al-Walidah yang memiliki pengalaman membimbing anak berkebutuhan khusus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara,observasi di kelas,dan dokumentasi aktivitas pembelajaran. Wawancara berfokus pada strategi guru dalam menumbuhkan kemandirian dan kepercayaan diri anak down syndrome. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak berproses menjadi mandiri melalui beberapa tahapan, antara lain: . pengulangan aktivitas harian dengan pendampingan langsung hingga anak dapat melakukannya . penerapan metode proksimal serta koordinasi rutin dengan orang tua agar strategi pembelajaran berlanjut di rumah. pemanfaatan media interaktif seperti lagu untuk membantu komunikasi dan meningkatkan keberanian dalam berinteraksi sosial. Guru memiliki peran penting sebagai fasilitator, pemberi semangat, dan pendamping aktif dalam pembentukan kemandirian dan kepercayaan diri anak. Hasil ini menekankan pentingnya sinergi antara guru dan keluarga dalam mendidik anak-anak penyandang down syndrome. Kata kunci: down syndrome, kemandiran, peran guru,SLB 121 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 PENDAHULUAN Down syndrome merupakan kelainan genetik yang memengaruhi kondisi fisik dan kemampuan intelektual seseorang. Ciri khas kondisi ini termasuk hambatan perkembangan kognitif dan fisik, sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan yang Anak-anak dengan down syndrome sering kali mengalami keterlambatan dalam memahami dan merespons pembelajaran, serta memerlukan intervensi yang lebih intensif dibanding anak pada umumnya. (Desa & Selfiana, 2. Down syndrome merupakan gangguan genetik yang muncul pada tahap awal perkembangan embrio akibat terjadinya nondisjunction atau kegagalan dalam proses pembelahan sel, sehingga menghasilkan tiga salinan kromosom ke-21 . Akibat kelainan ini, individu dengan down syndrome memiliki 47 kromosom, berbeda dari jumlah normal yaitu 46. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai perubahan pada sistem saraf pusat, seperti penurunan jumlah neuron, keterlambatan dalam proses mielinisasi, serta ketidakseimbangan dalam regulasi siklus sel. Dampak lanjutannya berupa peningkatan produksi prekursor protein dan gangguan pada sistem neurotransmisi, yang secara keseluruhan memengaruhi perkembangan motorik serta kemampuan kognitif penderita. (Iftitah, 2. Anakdown syndrome sering disebut tunagrahita, down syndrome merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan mental, anak down syndrome memiliki kesenjangan yang signifikan antara kemampuan berfikir dengan perkembangan usia maka dari itu mengakibatkan rendahnya IQ . ngka kecerdasa. pada anak down (Hardi & Mulia, 2. Kemandirian bagi siswa di SLB mencakup kemampuan menjalani kegiatan harian secara mandiri tanpa terlalu bergantung pada bantuan orang lain. Pembentukan kemampuan ini umumnya dilakukan melalui kurikulum fungsional, yakni program pembelajaran yang difokuskan pada keterampilan hidup sehari-hari dan disusun secara sistematis dalam tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. (Kiriweno & Dapa. Kemandirian dipandang sebagai suatu perilaku mandiri di mana anak mampu melakukan segala sesuatu sesuai keinginannya sendiri, termasuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Konsep ini menekankan bahwa anak berani menjalankan pilihan sendiri tanpa bergantung pada orang lain. (Suryati & Apriliana, 2. Kemandirian didefinisikan sebagai kemampuan beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang mencakup pengelolaan diri secara mandiri. (Khoironi Fadli & Sumiyarin, 2. Guru merupakan ujung tombak dalam sistem pendidikan, memiliki peran yang sangat menentukan dalam menciptakan proses belajar yang efektif, inklusif, dan Saat ini, paradigma pendidikan telah bergeser dari sekadar "teachercentered" menuju "student-centered", di mana guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan mediator dalam pembelajaran. Pendekatan ini sangat penting, terutama dalam konteks pendidikan yang menghadapi beragam karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Guru berperan sebagai fasilitator yang merancang proses pembelajaran interaktif, menyediakan media inovatif, serta memberikan bimbingan individual untuk mengaktifkan potensi peserta didik. Selain itu, guru juga mampu menciptakan 122 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 lingkungan kelas yang aman dan suportif, bersikap sabar, dan memahami karakteristik tiap siswaAifaktor penting dalam mendukung keberhasilan belajar. (Panjaitan & Hafizzah, 2. Guru tidak hanya dipandang sebagai sumber materi pembelajaran akademik, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing untuk siswa ABK di kelas Guru memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana belajar yang adaptif dan suportif dan memberikan inspirasi serta kepercayaan diri kepada siswa agar dapat mengikuti proses belajar secara optimal. (Khoerunnissa & Susanti, 2. Guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibandingkan guru di sekolah reguler. Peserta didik di SLB memiliki kebutuhan khusus yang beragam, baik dari aspek kognitif, fisik, sosial, maupun emosional. Oleh karena itu, guru SLB dituntut memiliki kompetensi khusus, seperti pemahaman terhadap karakteristik anak berkebutuhan khusus (ABK). Dalam praktiknya, guru SLB tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kemandirian, kepercayaan diri, dan keterampilan hidup siswa secara guru berperan sebagai pendamping dalam proses belajar yang disesuaikan dengan kemampuan individu siswa. Mereka menggunakan pendekatan proksimal secara bertahap agar siswa mampu menyelesaikan tugas mandiri, sekaligus memberikan dukungan emosional dan motivasi. Hal ini memperkuat posisi guru sebagai tokoh sentral dalam proses pendidikan khusus. (Puspita & Harsiwi, 2. Selain itu, guru SLB juga memiliki peran penting sebagai penghubung antara sekolah dan keluarga. Komunikasi yang intensif dengan orang tua dibutuhkan untuk memastikan kesinambungan pembelajaran dan pembiasaan di rumah. Kolaborasi ini memungkinkan adanya pemahaman bersama terhadap kemajuan dan kebutuhan siswa, serta menciptakan lingkungan belajar yang konsisten dan suportif. Dengan demikian, guru SLB tidak hanya menjadi fasilitator akademik, tetapi juga agen inklusi dan pemberdayaan bagi siswa berkebutuhan khusus. Peran guru di SLB tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga membimbing dan mendampingi siswa agar potensi mereka berkembang secara optimal. Guru memberikan instruksi yang jelas, menciptakan rutinitas, dan bekerja sama dengan keluarga untuk membentuk perilaku mandiri. Dalam proses ini, guru juga menjadi teladan, pendorong, dan pembangun rasa percaya diri bagi siswa. Penelitian Nasikhotun dan Ramdhan . menunjukkan bahwa guru dalam menangani anak dengan retardasi mental tidak hanya mengulang pelajaran, tetapi juga melakukan kunjungan ke rumah dan melibatkan orang tua secara aktif. Pelatihan yang diberikan meliputi penguatan rasa tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepercayaan diri. Strategi yang diterapkan melibatkan aktivitas langsung, visualisasi, penguatan positif, dan kolaborasi antara sekolah dan rumah. (Nasikhotun & Yurianto, 2. SLB Aisyiyah Al Walidah telah menerapkan pendekatan-pendekatan tersebut, antara lain melalui pengulangan kegiatan secara intensif, pendekatan proksimal, serta media pembelajaran yang menyenangkan seperti nyanyian. Semua ini bertujuan menciptakan suasana belajar yang kondusif dan efektif bagi anak down syndrome. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang 123 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 mendalam mengenai kebutuhan siswa Down Syndrome, pentingnya pelatihan kemandirian, dan peran guru dalam proses tersebut di lingkungan SLB Aisyiyah Al Walidah. Studi kasus dipilih karena fokus penelitian diarahkan pada satu lokasi dan subjek tertentu yang dianalisis secara menyeluruh dan mendalam. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Guru Dalam Mendampingi Anak Syndrome Down Peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan pendamping aktif menegaskan pentingnya figur guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dan memahami secara emosional kondisi siswa. Guru sebagai fasilitator yaitu membantu siswa memahami materi pembelajaran dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Khususnya dalam pembelajaran bagi siswa tunagrahita dengan kondisi Down Syndrome, guru berupaya mengubah konsep-konsep abstrak menjadi lebih konkret agar sesuai dengan kemampuan kognitif siswa. Peran fasilitator ini tidak hanya dilakukan melalui penjelasan verbal, tetapi juga dengan memanfaatkan media pembelajaran seperti gambar, video, serta objek nyata untuk mendukung pemahaman. Selain itu, guru juga bertindak sebagai pembimbing yang selalu hadir mendampingi siswa, terutama dalam pelatihan keterampilan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung. (Solehah & SaAodiyah. Guru sebagai fasilitator utama dalam kelas inklusif. Mereka bertugas menciptakan suasana belajar yang mendukung dengan merancang program individual untuk setiap anak, menyiapkan fasilitas yang sesuai, serta memfasilitasi interaksi sosial anak agar mereka bisa berpartisipasi aktif bersama teman-temannya. (Nurrahmah & Despriliani. Peran guru sebagai fasilitator di SLB Al-Walidah diwujudkan melalui pendampingan aktif dalam proses belajar siswa. Salah satu bentuknya adalah membantu siswa dalam memahami konsep berhitung menggunakan media konkret seperti batu sebagai alat bantu visual. Selain itu, guru juga membimbing siswa dalam keterampilan motorik halus, seperti latihan membuat garis secara berulang dengan metode penuntunan hingga siswa mampu melakukannya secara mandiri. Pendekatan ini dirancang agar siswa lebih mudah memahami materi melalui pengalaman langsung yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Guru sebagai motifator,salah satu peran penting guru sebagai motivator adalah melalui penggunaan bahasa yang positif, hangat, dan mudah dipahami dalam berkomunikasi dengan siswa. Penyampaian bahasa yang baik ini bertujuan untuk membangun rasa percaya diri, mendorong kemandirian, serta mendukung perkembangan bahasa anak secara bertahap. Dengan komunikasi yang tepat dan konsisten, siswa merasa lebih dihargai, termotivasi, dan terdorong untuk mengekspresikan diri serta berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. (Wulandari & Kartika, 2. Sebagai motivator, guru di SLB Al-Walidah menunjukkan peran aktif dalam membangun kedekatan emosional dengan anak. Hal ini dilakukan melalui kebiasaan menyapa siswa setiap hari, menanyakan kegiatan atau pengalaman keseharian mereka, serta melakukan interaksi tersebut secara konsisten. Pendekatan ini tidak hanya menciptakan suasana belajar yang hangat dan nyaman, tetapi juga mendorong anak 124 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 untuk merasa dihargai dan termotivasi. Selain itu, guru memberikan apresiasi atas setiap respon atau kemajuan siswa, baik dalam bentuk pujian verbal maupun bentuk penghargaan lainnya, guna meningkatkan rasa percaya diri dan semangat belajar anak. Guru tidak hanya mengajarkan keterampilan kognitif dan motorik, tetapi juga menjadi model dalam pembentukan sikap mandiri dan percaya diri siswa. Konsistensi, kerja sama, dan kreativitas harus menjadi bagian dari pendekatan pendidikan untuk anak dengan down syndrome. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga memperkuat aspek sosial dan emosional anak selain perkembangan akademik mereka. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang inklusif dan partisipatif sangat penting untuk membuat lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan siswa secara keseluruhan. Guru pendamping berperan penting dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus dengan cara memberikan pengajaran langsung, mengembangkan keterampilan, dan memfasilitasi kemandirian. Mereka menggunakan strategi akademik, vokasional, dan kompensatoris yang disesuaikan dengan kebutuhan individu siswa ABK. (Saputra & Cipta Utama, 2. Proses Melatih Kemandirian dan Percaya Diri Berdasarkan hasil wawancara dengan guru di SLB Al-Walidah, proses melatih kemandirian dan percaya diri pada anak dengan Down Syndrome dilakukan melalui tahapan yang terstruktur dan berulang, disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing anak. Strategi bertahap dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan anak membawa dampak positif terhadap perkembangan mereka. Adapun proses melatih kemandirian dan percaya diri pada anak down syndrrome meliputi: Pertama. Tahapan awal yang dilakukan oleh guru dalam melatih kemandirian anak Down Syndrome adalah memperkenalkan aktivitas secara berulang-ulang. Pengulangan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan strategi pembelajaran yang dirancang untuk membentuk kebiasaan positif dan meningkatkan pemahaman anak terhadap suatu aktivitas. Guru memberikan pendampingan langsung pada setiap tahapan, mulai dari memberi instruksi, memperagakan secara konkret, hingga membimbing anak dalam mempraktikkannya sendiri. Misalnya, dalam kegiatan mencuci tangan, guru tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga menunjukkan langkahlangkahnya secara bertahap, mulai dari membuka keran, menggosok tangan dengan sabun, hingga membilas dan mengeringkannya. Pengulangan dilakukan secara konsisten setiap hari, dengan harapan anak dapat mengenali pola dan alur aktivitas tersebut. Bagi anak dengan Down Syndrome, proses pemahaman dan penguasaan keterampilan dasar sering kali memerlukan waktu yang lebih panjang dibanding anak pada umumnya. Oleh karena itu, pendampingan intensif menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar. Guru memposisikan diri sebagai pembimbing yang sabar dan responsif, memberikan dorongan serta koreksi secara lembut bila anak melakukan kesalahan. Selain itu, suasana pembelajaran yang tenang dan tidak terburu-buru sangat mendukung efektivitas pendekatan ini. Anak diberikan waktu yang cukup untuk mencoba dan mengulangi kegiatan tersebut sesuai kemampuannya. Dengan metode ini, anak tidak hanya menghafal langkah-langkah, tetapi benar-benar memahami tujuan dan cara melakukannya. Pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kemandirian secara bertahap, sekaligus membangun kepercayaan diri anak terhadap kemampuannya 125 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Guru secara perlahan mengurangi bantuan seiring meningkatnya kemampuan anak, sehingga siswa mampu menyelesaikan aktivitas tanpa tergantung sepenuhnya pada orang lain. Guru di SLB menggunakan strategi pengulangan dan pembiasaan secara terusmenerus untuk membantu anak tunagrahita menjadi lebih mandiri dalam kegiatan sehari-hari, seperti mandi dan berpakaian. Keterlibatan keluarga juga menjadi penunjang penting dalam proses pembiasaan ini. (Kurnia & Rahayu, 2. Pemberian pelatihan vokasional secara berulang, seperti membuat kerajinan dan pengenalan teknologi, terbukti efektif dalam membentuk kemandirian anak-anak berkebutuhan khusus. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan praktis, tetapi juga mendorong kepercayaan diri dan kemandirian sosial. (Basuni & Sari, 2. Kedua, dalam proses melatih kemandirian anak Down Syndrome adalah dengan menerapkan pendekatan proksimal, yang dikombinasikan dengan kerja sama rutin bersama orang tua. Pendekatan proksimal merujuk pada konsep pemberian bantuan sementara . terhadap tugas-tugas yang hampir dapat dilakukan oleh anak secara mandiri. Guru memberikan dukungan yang cukup untuk memastikan anak memahami langkah-langkah yang harus dilakukan, namun secara bertahap mengurangi intervensi ketika anak mulai menunjukkan kemajuan. Tujuannya adalah agar siswa mampu menyelesaikan aktivitas secara mandiri, dengan kepercayaan diri dan pemahaman yang utuh. Contoh nyata dari penerapan strategi ini terlihat dalam kegiatan pembelajaran keterampilan hidup, seperti mengenakan pakaian sendiri. Pada awalnya, guru memberikan bantuan langsung dalam setiap tahap, mulai dari memilih pakaian hingga mengenakannya dengan benar. Namun, seiring waktu dan latihan yang berkelanjutan, bantuan tersebut dikurangi sedikit demi sedikit. Anak didorong untuk mencoba sendiri, meskipun masih melakukan kesalahan. Dalam proses ini, guru tetap memberikan penguatan positif, seperti pujian atau gestur dukungan, untuk mendorong semangat dan rasa percaya diri anak. Dalam penerapan pendekatan proksimal, guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi siswa dengan memberikan bantuan secara bertahap sesuai dengan kemampuan mereka. Dukungan ini ditujukan agar peserta didik mampu menyelesaikan tugas yang sebelumnya belum dapat mereka lakukan secara mandiri. Seiring berjalannya proses pendampingan, keterlibatan guru ini terbukti mampu meningkatkan semangat belajar siswa dan mendorong pengembangan potensi mereka secara optimal. Melalui pendekatan Zona Perkembangan Proksimal (ZPD), anak-anak pemalu dapat memperoleh bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan mereka. Bantuan ini diberikan secara bertahap oleh pendamping yang lebih berpengalaman, seperti guru atau orang tua, dan kemudian dikurangi perlahan saat anak mulai menunjukkan kemampuan mandiri dalam berkomunikasi. Pendekatan ini terbukti mampu menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Dengan semakin seringnya mereka terlibat dalam aktivitas sosial yang terstruktur dan didampingi, hambatan dalam berinteraksi cenderung menurun, sementara keterampilan bahasa berkembang secara signifikan. Akhirnya, anak lebih siap untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar maupun kehidupan sehari-hari. (Insani, 2. Di sisi lain, komunikasi dan koordinasi yang baik antara guru dan orang tua menjadi komponen penting dari strategi ini. Guru secara rutin melakukan konsultasi 126 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 dengan orang tua untuk menyampaikan perkembangan anak di sekolah, serta menyarankan aktivitas yang dapat dilanjutkan di rumah. Misalnya, apabila anak telah mulai mampu memakai pakaian sendiri di sekolah, maka orang tua juga diminta untuk melatih keterampilan tersebut di rumah agar pembiasaan terus terjaga. Konsistensi antara lingkungan sekolah dan rumah sangat penting agar proses pembelajaran tidak terputus, serta agar anak tidak mengalami kebingungan akibat perbedaan pola interaksi. Melalui pendekatan ini, kemandirian anak tidak hanya dibentuk dalam lingkungan sekolah, tetapi juga diperkuat dalam keseharian mereka di rumah. Selain itu, kerja sama yang erat antara guru dan orang tua menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, baik secara kognitif, emosional, maupun sosial. Ketiga. Penggunaan media interaktif. Penggunaan Media Interaktif Guru menggunakan media seperti lagu untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran. Media ini terbukti mampu meningkatkan atensi, memperbaiki komunikasi, serta membangun rasa percaya diri siswa saat berinteraksi sosial. Lagu-lagu dinyanyikan bersama-sama agar siswa lebih berani dan merasa nyaman dalam lingkungan belajar. Dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus . ADHD. ADD), guru menggunakan lagu AuMaritirukanAy secara terstruktur sebagai media interaksi dan pembelajaran sosial. Lagu ini membantu siswa mengenali emosi dan mengembangkan keterampilan sosial melalui kegiatan menyanyi, bergerak, dan berdiskusi setelahnya. (Suharsiwi & Farokhah, 2. PENUTUP Hasil penelitian menunjukkan bahwa melatih kemandirian siswa down syndrome memerlukan proses bertahap, konsisten, dan melibatkan berbagai pihak. Siswa dapat belajar mandiri melalui pengenalan aktivitas secara berulang, bantuan guru sesuai kemampuan anak, serta penggunaan media interaktif yang menarik seperti lagu. Peran guru sangat penting sebagai fasilitator, motivator, dan pendamping yang aktif dalam setiap tahapan perkembangan siswa. Selain itu, kerja sama antara guru dan orang tua juga menjadi kunci utama agar pembelajaran yang dilakukan di sekolah dapat terus dilatih di rumah. Dengan strategi yang tepat dan dukungan yang menyeluruh, siswa down syndrome dapat tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri dan percaya diri dalam kehidupan sehari-hari. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada SLB Aisyiyah Al Walidah yang telah memberikan izin dan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan penelitian di sekolah tersebut. Dukungan dan kerja sama dari seluruh pihak di SLB Aisyiyah Al Walidah sangat membantu kelancaran proses penelitian ini. Kami juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Nasihkotun Nadiroh. Pd. , selaku dosen pembimbing, atas bimbingan, arahan, dan motivasi yang diberikan kepada kami selama pelaksanaan dan penyusunan penelitian Semoga segala bentuk bantuan dan dukungan yang telah diberikan mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT. 127 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 REFERENSI