Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) PENGARUH UNSAFE ACTION TERHADAP KECELAKAAN KERJA PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI DI PT. HATNI Desy Novita Anggraeni1. Nugrahadi Dwi Pasca Budiono2 Fakultas Kesehatan. Prodi Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Gresik desynovita991@gmail. ABSTRAK Kecelakaan kerja merupakan permasalahan yang sering terjadi di lingkungan industri, terutama pada bagian produksi yang memiliki risiko tinggi. Salah satu penyebab utama kecelakaan kerja adalah Unsafe Action atau tindakan tidak aman yang dilakukan oleh pekerja. Fenomena ini terjadi pula di PT. HATNI, sebuah pabrik pengolahan hasil laut, yang mencatat peningkatan kecelakaan kerja dalam tiga tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh Unsafe Action terhadap kecelakaan kerja pada pekerja bagian produksi di PT. HATNI. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan selama tiga bulan. Sampel sebanyak 52 pekerja diambil menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik Chi Square untuk mengetahui hubungan antara Unsafe Action dengan kejadian kecelakaan kerja. Hasil analisis menunjukkan bahwa 76,9% responden mengalami kecelakaan kerja, di mana 44,2% di antaranya disebabkan oleh tindakan ceroboh, serta 15,4% karena bekerja dalam kondisi fisik yang buruk. Jenis kecelakaan yang dominan adalah terpeleset . ,7%) dan tersayat/tertusuk . %). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara Unsafe Action dan kecelakaan kerja . = 0,. Kesimpulanya Tindakan Unsafe Action terbukti berpengaruh terhadap tingginya angka kecelakaan kerja di bagian produksi PT. HATNI. Kata kunci : Unsafe Action. Kecelakaan Kerja. ABSTRACT Work accidents are a common problem in industrial environments, especially in the production sector which has high risks. One of the main causes of work accidents is Unsafe Action or unsafe actions carried out by workers. This phenomenon also occurs at PT. HATNI, a seafood processing factory, which has recorded an increase in work accidents in the last three years. This study aims to see the effect of Unsafe Action on work accidents in production workers at PT. HATNI. This study is a quantitative study with a cross-sectional approach conducted for three months. A sample of 52 workers was taken using a simple random sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using the Chi Square statistical test to determine the relationship between Unsafe Actions and the occurrence of work accidents. The results of the analysis showed that 9% of respondents experienced work accidents, of which 44. 2% were caused by careless actions, 4% were due to working in poor physical condition. The dominant types of accidents were slipping . 7%) and being cut/stabbed . %). The results of statistical tests show a significant relationship between Unsafe Action and work accidents . = 0. Conclusion Unsafe Action has been proven to have an effect on the high number of work accidents in the production department of PT. HATNI. Keywords : Unsafe Action. Work Accidents. K3 Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) PENDAHULUAN Keselamatan dan kesehatan kerja (K. merupakan aspek krusial dalam dunia industri, termasuk di sektor produksi hasil laut seperti PT. HATNI, sebuah pabrik pengolahan ikan yang beroperasi di wilayah pesisir Indonesia. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang timbul akibat adanya tindakan atau kondisi yang tidak aman, yang berpotensi menimbulkan kerugian (Upy et al. , 2. Peristiwa ini bersifat tidak diharapkan dan dapat menyebabkan dampak negatif seperti cedera pada pekerja, kerusakan peralatan atau properti, serta gangguan terhadap kelancaran proses kerja. Dalam proses produksinya yang melibatkan peralatan tajam, mesin bertekanan tinggi, dan lingkungan kerja yang basah dan licin, risiko kecelakaan kerja menjadi sangat tinggi (Al Farizi, 2. Salah satu penyebab utama kecelakaan kerja yang sering terjadi adalah Unsafe Action atau tindakan tidak aman yang dilakukan oleh pekerja(Huda et al. , 2. Menurut (Nabila et al. , 2. , sebagian besar kecelakaan kerja disebabkan oleh tindakan tidak aman yang dilakukan oleh pekerja, seperti tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) dan bekerja dengan kecepatan berbahaya, yang menjadi bukti bahwa Unsafe Action merupakan penyumbang utama kecelakaan kerja di lingkungan industry. Hal ini diperkuat oleh temuan (Kesehatan & Indonesia, 2. yang menyatakan bahwa Unsafe Action, seperti tidak mengikuti prosedur kerja atau bekerja tanpa berkontribusi secara signifikan terhadap kecelakaan kerja. Selain itu, (Rusdiana et al. mencatat bahwa melakukan pekerjaan secara tidak aman (Unsafe Actio. seperti menggunakan alat yang tidak aman, kelelahan, posisi kerja yang salah, dan tidak menggunakan APD, yang seluruhnya berperan dalam memicu insiden kecelakaan kerja. Menurut data BPJS Ketenagakerjaan tahun 2023, tercatat sebanyak 315. 579 kasus kecelakaan kerja terjadi di Indonesia, yang mana sebagian besar disebabkan oleh kelalaian atau tindakan tidak aman dari pekerja (Unsafe Actio. (Khalid, 2. Hal ini sejalan dengan laporan dari International Labour Organization (ILO) yang menyebutkan bahwa sekitar 80Ae90% kecelakaan kerja disebabkan oleh faktor manusia, terutama perilaku kerja yang tidak sesuai prosedur atau tidak mematuhi standar keselamatan (ILO, 2. Vol. 10 No. 1 Juni 2025 World Health Organization (WHO) menekankan bahwa lingkungan kerja yang tidak aman serta perilaku kerja yang buruk dapat menyebabkan cedera fisik serius, gangguan kesehatan mental, hingga kematian. WHO juga mencatat bahwa lebih dari 2,78 juta orang di dunia meninggal setiap tahunnya akibat kecelakaan dan penyakit terkait pekerjaan, sebagian besar terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia (Dewi & Ikhssani, 2. Salah satu pendekatan teoritis yang banyak digunakan dalam menganalisis penyebab kecelakaan kerja adalah Teori Domino yang dikembangkan oleh H. Heinrich (Aristriyana & Ferdian, 2. Teori ini menyatakan bahwa kecelakaan terjadi sebagai akibat dari rangkaian peristiwa yang saling berkaitan, di mana Autindakan tidak amanAy (Unsafe Actio. merupakan salah satu elemen kunci yang dapat memicu terjadinya kecelakaan. Heinrich bahkan menyatakan bahwa 88% kecelakaan kerja disebabkan oleh Unsafe Action, 10% oleh kondisi berbahaya . nsafe conditio. , dan hanya 2% karena faktor alam atau tidak terduga (Jamil et al. , 2. Meskipun telah diterapkan prosedur K3 secara umum, kecelakaan kerja di PT. Hatni masih tetap terjadi terutama di bagian produksi yang merupakan area dengan aktivitas paling Berdasarkan data internal PT. Hatni dari tahun 2022 hingga 2024, tercatat adanya peningkatan signifikan jumlah kecelakaan kerja yang disebabkan oleh tindakan tidak aman ( Unsafe Action ). Pada tahun 2022 tercatat 11 kasus kecelakaan kerja, dengan 4 kasus akibat kondisi tidak aman . erusakan mesi. dan 7 kasus akibat tindakan tidak aman (Unsafe Actio. seperti tidak memakai APD dan menggunakan HP saat bekerja. Pada 2023, kasus meningkat menjadi 15 kejadian, terdiri dari 5 kasus kondisi tidak aman dan 10 kasus tindakan tidak aman (Unsafe Actio. seperti melanggar SOP dan bermain di area mesin. Tahun 2024, terdapat 18 kasus, di mana 13 kasus disebabkan oleh tindakan tidak aman (Unsafe Actio. seperti bercanda saat bekerja, tidak fokus karena tambahan jam kerja, dan tidak mengikuti briefing sebelum shift. Fakta ini menunjukkan bahwa Unsafe Action merupakan penyebab utama kecelakaan kerja di PT. HATNI, khususnya di bagian produksi. Oleh karena itu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Unsafe Action terhadap kecelakaan kerja di PT. Hatni. Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian sectional, penelitian ini dilakukan dengan menitik beratkan dan mengutamakan waktu pengukuran atau pengamatan data variabel bebas dan terikat secara serentak di PT. HATNI dengan alokasi waktu 3 bulan. Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner. Sampel dalam penelitian ini adalah 52 Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probalility sampling dengan metode simple random sampling. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini ialah uji Chi Square. HASIL Analisa Univariat Karakteristik Responden Tabel 3. 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pekerja Di PT. HATNI Usia 21-30 Tahun 31-40 Tahun 40-50 Tahun Total Masa Kerja Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase < 5 Tahun > 5 Tahun Total Pendidikan Terakhir SMP Sederajat SMA Sederajat Perguruan Tinggi Total Frekuensi Persentase Berdasarkan tabel 3. 1 di atas hasil analisis distribusi responden, diketahui bahwa sebagian besar responden berada pada rentang usia 31-40 tahun yaitu sebanyak 18 . ,6%) responden. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja di perusahaan tersebut didominasi oleh kelompok usia produktif. Berdasarkan masa kerja, mayoritas responden memiliki masa kerja lebih dari 5 tahun, yaitu sebanyak 35 . ,3%) responden, kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja memiliki pengalaman kerja yang cukup lama di perusahaan. Berdasarkan pendidikan terakhir, diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pendidikan terakhir SMA sederajat, yaitu Vol. 10 No. 1 Juni 2025 sebanyak 33 . ,5%) responden. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas tenaga kerja di Pendidikan menengah. Frekuensi Unsafe Kecelakaan Kerja Action Tabel 3. 2 Distribusi Frekuensi Unsafe Action Pada Pekerja Bagian Produksi DI PT. HATNI Frekuensi Unsafe Action Rendah Tinggi Total Frekuensi Persentase Berdasarkan tabel 3. 2 di atas diketahui bahwa dari 52 responden, sebanyak 40 . ,9%) responden memiliki kategori Unsafe Action rendah, sedangkan 12 . ,1%) responden memiliki kategori Unsafe Action tinggi. Frekuensi kecelakaan kerja diketahui bahwa dari 52 responden, sebanyak 40 . ,9%) responden mengalami kecelakaan kerja, sedangkan 12 . ,1%) responden tidak mengalami kecelakaan kerja selama <2tahun. Tabel 3. 3 Distribusi Frekuensi Tindakan Unsafe Action Pada Pekerja PT. HATNI Yang Menyebabkan Kecelakaan Kerja Jenis Penyebab Kecelakaan Bekerja dengan tidak hati-hati . eroboh dan Bekerja dengan kondisi fisik yang buruk elelahan, stress, dan Tidak mematuhi prosedur atau peraturan. Bekerja dengan bergurau atau bercanda Bekerja dengan kondisi fisik yang buruk elelahan, stress, dan mengantu. Bekerja dengan bergurau atau Tidak memakai alat pelindung diri (APD). Tidak mematuhi prosedur atau peraturan Tidak memakai alat Frekuensi Persentase Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) pelindung diri (APD) Bekerja dengan bergurau atau bercanda idak memakai alat pelindung diri (APD). Bekerja dengan tidak hati-hati . eroboh dan gegaba. Bekerja dengan kondisi fisik yang buruk . elelahan, stress, dan Tidak mematuhi prosedur atau Bekerja dengan tidak hati-hati . eroboh dan gegaba. Bekerja dengan bergurau atau bercanda Total 52 100,0 Berdasarkan tabel 3. 3 diatas dapat disimpulkan bahwa mayoritas pekerja bagian produksi di PT. HATNI melakukan tindakan Unsafe Action dengan bekerja dengan tidak hati-hati . eroboh dan gegaba. sebanyak 23 . ,2%) responden, disusul dengan tindakan Bekerja dengan kondisi fisik yang buruk . elelahan, stress, dan mengantu. sebanyak 8 . ,4%) responden. Tabel 3. 4 Distribusi frekuensi jenis kecelakaan kerja yang terjadi pada pekerja PT. HATNI Frekuensi Kecelakaan kerja Mengalami Kecelakaan Tidak Mengalami Kecelakaan Total Frekuensi Persentase Terjatuh. Terpeleset Terpeleset. Tersayat Atau Tertusuk Tertimpa Benda. Terpeleset. Kontak dengan bahan berbahaya/radiasi/suh u panas-suhu dingin Terjatuh Kontak dengan bahan berbahaya/radiasi/suh u panas-suhu dingin Tertimpa Benda Tertekan Arus Listrik Terjatuh. Tertimpa Benda. Tersayat Atau Tertusuk Terjatuh. Terpeleset. Tersayat Atau Tertusuk Terjatuh. Tersayat Atau Tertusuk Total Berdasarkan tabel 3. 5 dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pekerja di PT. HATNI mengalami kecelakaan kerja dengan jenis kecelakaan terpeleset sebanyak 17 . ,7%) responden, tersayat atau tertusuk sebanyak sebanyak 13 . %) responden. Analisis Bivariat Tabel 3. 6 Tabulasi Silang Antara Unsafe Action dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Pada Pekerjaan Bagian Produksi Di PT. HATNI Unsafe Action Kecelakan Kerja Mengalami Kecelakaan Total Berdasarkan tabel 3. 4 dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pekerja di bagian produksi di PT. HATNI mengalami kecelakaan kerja sebanyak 40 . ,9%) responden, pekerja yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 12 . ,1%) responden. Rendah 85,0% Tinggi 50,0% Total 76,9% Tabel 3. 5 Distribusi Frekuensi Jenis Kecelakaan Kerja Yang Terjadi Pada Pekerja Bagian Produksi Di PT. HATNI Unsafe Action Jenis Kecelakaan Terpeleset Tersayat Atau Tertusuk Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Frekuens Persentas Kecelakan Kerja Tidak Mengalami Kecelakaan Total Rendah 15,0% Tinggi 50,0% Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Total Nilai p 23,1% 0,20 Berdasarkan tabel 3. 6 dari hasil uji statistic chi-square nilai p-Value yang didapatkan adalah 0,20 yang berarti p<0,05 disimpulkan bahwa ada hubungan Unsafe Action terhadap kecelakaan kerja pada pekerja bagian produksi di PT. HATNI. PEMBAHASAN Karakteristik Responden Berdasarkan hasil penelitian didapat menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 31-40 tahun . ,6%), dan memiliki masa kerja >5 tahun sebanyak 35 . ,3%) Usia produktif dan pengalaman kerja panjang semestinya menjadi faktor perlindung terhadap terjadinya kecelakaan Namun, tingginya angka kecelakaan kerja dalam kelompok ini menunjukkan bahwa pengalaman kerja saja tidak cukup untuk mencegah Unsafe Action jika tidak disertai Tingkat pendidikan juga memengaruhi pemahaman terhadap prosedur keselamatan Mayoritas pekerja memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA sederajat sebanyak 13 . ,5%) responden. Tingkat pendidikan ini mempengaruhi cara mereka menerima, memahami, serta menerapkan prosedur SOP keselamatan kerja. Menurut penelitain yang dilakukan (Priyohadi & Achmadiansyah, 2. rendahnya tingkat pendidikan berkolerasi dengan meningkatnya Unsafe Action karena kurangnya pemahaman terhadap pentingnya pelaksanaan SOP K3. Sebab itu perusahaan perlu menyusun program pelatihan yang sesuai dengan tingkat literasi pekerjanya. Hubungan Unsafe Action dan Jenis Kecelakaan Penelitian ini menemukan bahwa Unsafe Action memiliki pengaruh signifikan terhadap jenis kecelakaan kerja. Sebagian besar kecelakaan kerja terjadi akibat tindakan ceroboh atau tidak hati-hati sebanyak 23 . ,2%) responden serta kondisi fisik yang buruk seperti kelelahan atau mengantuk sebanyak 8 . ,4%) responden. Hal ini sejalan Vol. 10 No. 1 Juni 2025 dengan penelitian yang dilakukan (Yunus Oksfria, 2. yang menyatakan bahwa kondisi fisik yang buruk seperti kelelahan dan stess dapat mempengaruhi tingkat fokus dan respon pekerja terhadap resiko kecalakaan kerja. Jenis kecelakaan kerja yang paling sering terjadi ialah terpeleset dengan total 17 . ,7%) responden, selanjutnya diikuti oleh jenis kecelakaan kerja tersyata atau tertusuk yang . %) Lingkungan kerja yang licin dan penggunaan peralatan yang tajam tanpa adanya pengamanan yang memadai dapat meningkatkan risiko Menurut (Roosmiati et al. , 2. , kondisi tempat kerja yang tidak aman atau tidak sesuai dengan standar keselamatan kerja akan meningkatkan terjadinya Unsafe Action. Perilaku bermain atau bercanda saat bekerja juga menjadi penyebab kecelakaan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya kesadaran kolektif dalam menjaga (Hamidah & Inayah, 2. menyebutkan bahwa Unsafe Action berakar dari sikap abai terhadap keselamatan, perilaku buruk, kelelahan, kurangnya pengetahuan serta Oleh karena itu, perlu dibagun sistem reward dan punishment terhadap pelanggaran maupun kepatuhan pekerja terhadap K3. Pengaruh Unsafe Action Terhadap Kecelakaan Kerja Pada Pekerja Bagian Produksi di PT. HATNI Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan melalui SPSS dengan menggunakan uji Chi Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Unsafe Action dengan kejadian kecelakaan kerja . -value Ae 0,. Hal ini menujukkan bahwa pekerja yang melakukan Unsafe Action memiliki resiko yang lebih tinggi mengalami kecelakaan kerja. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Darajat & Febriyanto, 2. yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Unsafe Action dan kecelakaan kerja pada penyelam tradisional di Puau Derawan. Meskipun sebagian besar pekerja di PT. HATNI berada pada kategori Unsafe Action rendah, mereka tetap mengalami kecelakaan Hal ini menunjukkan bahwa Unsafe Action tidak harus ekstrem untuk menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja, bahkan tindakan kecil yang menyimpang dari prosedur bisa menyebabkan kecelakaan kerja. Hal ini di dukung oleh penelitian (Febriyanti et al. , 2. Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) yang menjelaskan bahwa tindakan tindakan kerja yang dianggap sepele seperti tidak APD penyumbang terjadinya kecelakaan kerja. Berdasarkan literatur diatas, dapat diambil monitoring dan supervisi yang efektif,m bukan hanya pada individu yang berisiko tinggi tetapi juga pada semua pekerja secara merata. Sistem tersebut harus bersifat preventif dan bukan hanya responsif setelah kejadian. PT. HATNI merupakan pabrik pengolahan ikan beroperasi dalam lingkungan kerja yang cukup memiliki banyak faktor risiko seperti lantai licin, mesin pemotong, suhu dingin, dan beban kerja yang tinggi. Berdasarkan laporan dari Kantor Buruh Internasional atau International Labour Organization (ILO), dapat disimpulkan bahwa sektor perikanan dapat dianggap sebagai sektor dengan risiko tinggi terkait kecelakaan kerja (Ihsan, 2. Oleh karena itu, standar keselamatan kerja di sektor ini haru slebih ketat dan disesuaikan dengan kondisi khasnya. Penelitian ini memperlihatkan bahwa Unsafe Action dalam industri perikanan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga sistem kerja yang tidak fleksibel dan lingkungan kerja yang tidak mendukung perillaku aman. Perusahaan PT. HATNI harus mampu menyeimbangkan antara target produksi dan keselamatan kerja. Ini bisa dicapai memperhatikan keselamaran, pelatihan berbasis simulasi risiko nyata, serta pembiasaan budaya kerja yang menghargai keselamatan kerja yang menghargai keselamatan sebagai bagian dari Dengan perusahaan tidak hanya mengurangi angka kecelakaan, tetapi juga meningkatkan efisiensi KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Unsafe Action menjadi faktor dominan dalam terjadinya kecelakaan kerja di bagian produksi PT. HATNI. Tindakan menggunakan APD, dan kondisi fisik yang tidak prima terbukti meningkatkan risiko Meskipun sebagian besar pekerja termasuk dalam kategori Unsafe Action rendah, mereka tetap mengalami kecelakaan, yang menunjukkan bahwa penyimpangan sekecil apa pun terhadap prosedur keselamatan memiliki konsekuensi serius. Analisis uji Chi Square Vol. 10 No. 1 Juni 2025 menunjukkan adanya hubungan signifikan antara Unsafe Action dan kecelakaan kerja . = 0,. , memperkuat bukti bahwa perilaku kerja yang tidak aman merupakan faktor kunci dalam upaya pencegahan kecelakaan. Karena itu. PT. HATNI perlu memperkuat sistem K3 dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aturan, tetapi juga pembentukan budaya keselamatan melalui pelatihan, pengawasan rutin, dan evaluasi berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan REFERENSI