Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. , 2018, pp 209-220 Kandungan Informasi Laba dari Nilai Wajar Aset Keuangan Bank Ira Geraldina STIE Indonesia Banking School *Corresponding author: ira. geraldina@ibs. http://dx. org/10. 24815/jdab. ARTICLE INFORMATION ABSTRACT Article history: Received date: 5 July 2018 Received in revised form: 3 August 2018 Accepted: 13 August 2018 Available online: 30 September 2018 This study aims to examine the effect of the fair value of financial assets on information content of bank future earnings after the mandatory adoption of Indonesia Financial Accounting Standards No. 50 & 55 . r Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 50 & 55. Revised 2. on the Financial Instruments: recognition, measurement, and presentation. The financial assets analysed in this study are the fair value measured assets, namely profit or loss, available for sale, held to maturity, and loans and receivables. This study uses 138 publicly listed bank year samples for 2006-2012 periods. Using panel data analysis, the results show that the information content of banks future earnings has increased after the mandatory adoption of PSAK 50 & 55, but the use of the fair value of financial assets has reduced the information content of banks future earnings. The financial asset that is classified as available for sale may contribute to this reduction of information content of banks future earnings. Keywords: Earnings response coefficient, fair value. IFRS, financial instrument. A2018 FEB USK. All rights reserved. Pendahuluan Studi relevansi nilai informasi akuntansi mengenai kandungan informasi laba masa depan telah banyak dilakukan. Pada umumnya studi tersebut dilakukan di sektor non keuangan (Teets & Wasley, 1996. Ettredge. Kwon. Smith, & Zarowin, 2005. Lennox & Park, 2006. Louis. Kallapur & Kwan, 2004. Budiarti & Sularto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informasi akuntansi relevan bagi investor di pasar modal dan beberapa dapat meningkatkan kemampuan pasar dalam mengantisipasi laba masa Beberapa studi mengenai relevansi informasi akuntansi bagi investor pada sektor keuangan . diantaraya dilakukan oleh: Nelson . menguji relevansi nilai wajar akuntansi bagi investor berdasarkan SFAS No. 107 pada bank komersial. Venkatachalam . menguji relevansi nilai pengungkapan instrumen derivatif pada bank. Ahmed. Kilic, & Lobo . menguji perbedaan relevansi nilai antara pengakuan dan pengungkapan instrumen derivatif di bank. Dimitropoulos. Asteriou, & Koumanakosn . menguji kandungan informasi laba dan arus kas pada sektor perbankan di Yunani. Duh. Hsu, & Alves . menguji dampak penerapan IAS 39 terhadap relevansi nilai risiko dari volatilitas laba dan Papadamou & Tzivinikos . menguji dampak IFRS terhadap kandungan beberapa ukuran risiko dan rasio akuntansi pada industri perbankan di Yunani. Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa informasi kinerja akuntansi seperti laba dan arus kas relevan bagi investor di pasar modal dan nilai wajar instrumen Geraldina/Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. , 2018, pp 209-220 keuangan meningkatkan relevansi nilai risiko setelah masa adosi IFRS. Penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk menambahkan bukti empiris mengenai relevansi nilai informasi akuntansi bagi investor di pasar modal, khususnya informasi nilai wajar aset keuangan pada industri perbankan dengan menguji hubungan nilai wajar aset keuangan dengan kandungan laba masa depan (FECR) setelah adopsi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. yang berlaku tanggal 1 Januari 2010. Pada satu sisi, penggunaan nilai wajar diharapkan dapat meningkatkan relevansi informasi akuntansi bagi investor dibandingkan dengan menggunakan nilai historis . arga peroleha. Namun, di sisi lain penggunaan nilai wajar, khususnya pada instrumen keuangan menuai banyak kritik berhubungan dengan kompleksitas yang tinggi dalam penerapannya serta dampaknya yang dapat meningkatkan volatilitas laba (Duh et al. , 2. Penerapan PSAK 50 & 55 secara tepat dan konsisten diharapkan dapat mendorong bank membuat laporan keuangan dengan wajar an informatif, namun Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbana. mengajukan permohonan penangguhan penerapan PSAK tersebut karena bank belum siap baik dalam hal teknis maupun infrastrukturnya. Permohonan penundaan penerapan kedua PSAK tersebut disetujui Ikatan Akuntan Indonesia yang semula berlaku efektif setelah tanggal 1 Januari 2009, menjadi tanggal 1 Januari 2010. Oleh karena itu, menarik untuk diteliti mengenai dampak adopsi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. yang telah konvergen dengan IFRS terhadap kandungan laba masa depan. Jika penggunaan nilai wajar aset keuangan lebih relevan bagi investor setelah adopsi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. tersebut, nilai wajar aset keuangan tersebut dapat digunakan oleh investor untuk menilai kinerja perusahaan . masa depan. Penelitian ini melanjutkan penelitian Nelson . yang baru menguji relevansi nilai informasi nilai wajar instrumen keuangan bagi investor yang menggunakan setting SFAS No. 107 dengan menguji kandungan laba masa depan akibat penggunaan nilai wajar instrumen keuangan setelah implementasi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. yang telah konvergen dengan IFRS (IAS No. yang belum dilakukan Nelson . Kontribusi penelitian ini adalah, pertama, menguji kandungan laba masa depan akibat penggunaan nilai wajar aset keuangan setelah implementasi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. Kedua, menganalisis sub kelompok aset keuangan untuk mengetahui apakah terdapat perilaku yang berbeda atas nilai wajar setiap kelompok aset keuangan dalam menjelaskan kandungan laba masa depan. Kelompok aset keuangan pada penelitian ini dibatasi pada penggunaan nilai wajar non-derivatif yaitu kategori fair value through profit or loss (FVTPL), available for sale (AFS), dan hold to maturities (HTM), serta loans and consumer receivables (LNR). Kerangka Teoritis Dan Pengembangan Hipotesis Tujuan umum pelaporan keuangan yang adalah menyediakan informasi yang berguna bagi penggunanya . alam hal ini investor yang ada dan investor potensia. dalam pengambilan keputusan dengan cara menyediakan informasi yang relevan bagi investor. Jika informasi yang tersedia di pasar adalah informasi yang relevan bagi investor, maka investor akan terdorong melakukan transaksi perdagangan di pasar. Salah satu informasi yang digunakan adalah informasi laba yang disinyalir konten informasinya lebih relevan setelah masa adopsi IFRS (Landsman. Maydew, & Thornock. Beberapa penelitian menunjukkan terjadi peningkatan relevansi nilai informasi laba setelah mengadopsi IFRS (Landsman et al. , 2012. Papadamou & Tzivinikos, 2013. Duh et al. , 2. Hal ini terjadi karena standar akuntansi berbasis IFRS mendorong penyajian laporan keuangan yang relevan dan transparan dengan memberikan pengungkapan yang memadai. Informasi yang relevan tersebut akan digunakan oleh pasar untuk menilai risiko dan kinerja masa depan perusahaan. Geraldina/Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. , 2018, pp 209-220 sehingga meningkatkan kandungan laba masa depan perusahaan (Ettredge et al. , 2. Berdasarkan argumentasi di atas, disusun hipotesis pertama yaitu: H1: Terjadi kenaikan kandungan laba masa depan setelah implementasi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. yang telah konvergen dengan standar akuntansi internasional. Sebagaimana diatur dalam PSAK 50 & 55 (Revisi 2. , aset keuangan dikategorikan menjadi empat, yaitu aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi . air value through profit or loss/ FVTPL), investasi dimiliki hingga jatuh tempo . old to maturities/HTM), pinjaman yang . oans receivables/LNR), dan aset keuangan tersedia untuk dijual . vailable for sale/AFS). Keempat kategori aset keuangan tersebut diukur dengan menggunakan nilai wajar dalam arti yang luas. Pada awal pengakuan, instrumen keuangan diukur sebesar nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi kecuali untuk instrumen keuangan yang diukur menggunakan nilai wajar. Pengakuan pasca perolehan, aset keuangan yang terkategori sebagai FVTPL dan AFS diukur dengan menggunakan nilai wajar, sedangkan HTM dan LNR diukur menggunakan tarif suku bunga efektif. Perubahan nilai wajar kategori FVTPL akan diakui ke dalam laba rugi, sedangkan kategori AFS diakui ke dalam ekuitas. Biaya amortisasi bunga yang menggunakan suku bunga efektif untuk kategori HTM dan LNR akan diakui ke dalam laba rugi. Begitu pula jika terdapat penurunan nilai dari keempat kategori aset keuangan tersebut akan diakui ke dalam laba rugi. Penggunaan nilai wajar dalam aset keuangan yang diatur lebih rinci, terutama mengenai kuotasi nilai wajar yang digunakan akan memudahkan investor di pasar modal dalam menilai risiko eksposur dan kinerja aset keuangan yang dimiliki bank, namun perbedaan pengukuran dan pengakuan dari keempat jenis aset keuangan tersebut memiliki dampak yang beragam terhadap laba rugi, sehingga sulit ditentukan aset keuangan yang mana yang meningkatkan relevansi nilai informasi laba bagi investor. Penelitian penggunaan nilai wajar dalam aset keuangan meningkatkan volatilitas laba bank (Duh et al. Volatilitas laba dapat mencerminkan risiko eksposur yang dihadapi bank akibat memiliki aset keuangan tersebut. sehingga memudahkan investor dalam menilai risko eksposur dari aset keuangan tersebut, namun Duh et al. memberikan bukti empiris bahwa penggunaan nilai wajar berhubungan positif dengan relevansi nilai risiko laba bank. Demikian juga penelitian Nelson . yang gagal memberikan bukti empiris mengenai kemampuan nilai wajar untuk meningkatkan relevansi informasi akuntansi setelah adopsi SFAS No. Oleh karena itu, walaupun penggunaan nilai wajar dalam aset keuangan bertujuan untuk meningkatkan relevansi nilai informasi akuntansi . , sulit ditentukan apakah terdapat kesamaan dampak penggunaan nilai wajar dalam aset keuangan ini terhadap konten informasi laba bank. Dengan demikian, sulit ditentukan apakah penggunaan nilai wajar dalam aset keuangan dapat meningkatkan atau menurunkan kemampuan pasar dalam menilai risiko dan kinerja bank di masa Implementasi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. yang akan mendorong pasar dalam pengambilan keputusan investasi. Berdasarkan argumentasi tersebut di atas, dirumuskan hipotesis kedua sebagai berikut: H2: Setelah implementasi PSAK 50&55 (Revisi 2. , penggunaan nilai wajar dalam aset keuangan dapat menaikkan . kandungan laba masa depan bank. Metode Penelitian Sampel Penelitian Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah bank umum publik yang terdaftar di BEI Geraldina/Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. , 2018, pp 209-220 periode tahun 2007-2011, sehingga dapat menguji relevensi nilai aset keuangan sebelum dan sesudah berlakunya PSAK 50 & 55 tanggal 1 Januari 2010. Penelitian ini diharapkan memberikan bukti empiris awal yang mengevaluasi penerapan PSAK 50 & 55 yang mengiringi perubahan berkelanjutan mengenai standar akuntansi instrumen keuangan. Industri perbankan dipilih karena sebagian besar aset yang dimilikinya merupakan aset keuangan. Hasil pemilihan sampel final dengan metode purposive sampling diperoleh sebanyak 138 pengamatan . irm year. dengan kriteria rincian pada tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1 Proses Pemilihan Sampel Keterangan Jumlah bank yang terdaftar di BEI pada periode pengamatan Jumlah periode pengamatan Total pengamatan Jumlah pengamatan yang tidak menyampaikan laporan keuangan Data harga saham tidak lengkap Jumlah sampel final . irms year. Sumber: Data diolah Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan bank umum publik periode 2006-2012 yang diperoleh dari Pusat Data Ekonomi dan Bisnis FEUI. Laporan keuangan periode tahun 2006 digunakan untuk memperoleh data laba dan jumlah saham yang beredar sebelum periode berjalan . Sedangkan laporan keuangan periode tahun 2012 digunakan untuk memperoleh data laba periode setelah tahun berjalan . Adapun data harga saham bulanan diperoleh dari database Bloomberg. Model dan Variabel Penelitian Untuk menguji hipotesis 1 (H. dan hipotesis 2 (H. digunakan model persamaan 1 dan 2 dibawah ini. Model 1 . merupakan model dasar yang mengabungkan keempat jenis klasifikasi aset keuangan . ilai wajar aset keuangan/FVFA), sedangkan model 2 . mendekomposisi aset keuangan menjadi menjadi fair value through profit or loss (FVTPL), available for sale (AFS), dan hold to maturities (HTM), serta loans and consumer receivables (LNR). Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menginvestigasi dampak umum nilai wajar aset keuangan terhadap kandungan laba masa depan (FERC) setelah implemetasi PSAK 50 & 55 Jumlah . (Revisi 2. dan menginvestigasi secara khusus dampak masing-masing klasifikasi aset keuangan tersebut terhadap kandungan laba masa depan (FERC) setelah implemetasi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. Dimana: = Return saham tahunan pada periode t, diukur selama 12 bulan yang berakhir pada bulan ketiga setelah periode berjalan berakhir. = Laba sebelum pos luar biasa pada Geraldina/Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. , 2018, pp 209-220 periode t-1, dideflasi dengan nilai pasar ekuitas bulan ketiga setelah periode t-1 berakhir. = Laba sebelum pos luar biasa pada periode t, dideflasi dengan nilai pasar ekuitas bulan ketiga setelah periode t-1 berakhir. = Laba sebelum pos luar biasa pada periode t 1, dideflasi dengan nilai pasar ekuitas bulan ketiga setelah periode t-1 berakhir. = Proporsi total nilai wajar aset keuangan terhadap total aset bank i periode t yang diperoleh dari penjumlahan nilai wajar aset keuangan yang diklasifikasikan sebagai fair value through profit or loss (FVTPL), available for sale (AFS), dan hold to maturities (HTM), serta loans and consumer receivables (LNR). = Proporsi keuangan yang diklasifikasikan sebagai fair value through profit or loss terhadap total aset bank i = Proporsi keuangan yang diklasifikasikan sebagai available for sale (AFS) terhadap total aset bank i periode = Proporsi keuangan yang diklasifikasikan sebagai hold to maturities (HTM) terhadap total aset bank i periode = Proporsi keuangan yang diklasifikasikan sebagai loans and consumer receivables (LNR). total aset bank i periode t = Variabel dummy yang diberi nilai 1 jika periode pengamatan setelah periode implemetasi wajib PSAK 50 & 55 (Revisi 2. bagi bank yaitu periode 2010-2011 dan diberi nilai 0 jika periode pengamatan sebelum periode implemetasi wajib PSAK 50 & 55 (Revisi 2. bagi bank yaitu periode 2007-2009. H1 tidak dapat ditolak apabila nilai tstat>tabel pada koefisien pada persamaan 1 dan persamaan 2 dan bernilai positif signifikan pada alpha 1%, 5%, atau 10%, sedangkan H2 tidak dapat ditolak apabila nilai . stat /. pada pada persamaan 1 dan koefisien pada persamaan 2. Kandungan Laba Masa Depan (FERC) Studi mengenai hubungan antara angka akuntansi . dan harga saham tidak terlepas dari studi empiris Ball & Brown . yang menunjukkan bahwa konten informasi yang terdapat dalam laba berpengaruh terhadap harga Studi ini telah banyak berevolusi dan salah satunya adalah menguji kandungan laba masa depan (FERC). Untuk mengukur kandungan laba . uture coefficient/FERC), penelitian ini mengadopsi pengukuran yang dilakukan Ettredge et al. , . namun tidak memasukkan return pada periode sebelum tahun berjalan . karena beberapa sampel penelitian tidak memiliki data return pada periode tersebut. Model dasar dari FERC pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Model di atas bertujuan untuk menguji ekspektasi pasar terhadap laba masa depan yang tersirat dalam harga saham periode berjalan. Jika pasar memiliki ekspektasi positif mengenai realisasi laba masa depan, maka return saham periode berjalan akan berhubungan erat dengan laba masa depan. Sehingga, koefisien merupakan koefisien FERC diekspektasikan Geraldina/Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. , 2018, pp 209-220 bernilai positif (Ettredge et al. , 2. Untuk menguji dampak penerapan nilai wajar aset keuangan terhadap kandungan laba masa depan (FERC) setelah implemetasi wajib PSAK 50 & 55 . , model di atas dikembangkan menjadi model pada persamaan 1 dan 2 yang telah disampaikan sebelumnya. implementasi wajib PSAK 50 & 55 . bagi industri perbankan efektif berlaku mulai tanggal 1 Januari 2010, sehingga digunakan variabel dummy. POST yang diberi nilai 1 jika periode pengamatan setelah periode implemetasi wajib PSAK 50 & 55 (Revisi 2. yaitu periode 2010-2011 dan diberi nilai 0 jika periode pengamatan sebelum periode implemetasi wajib PSAK 50 & 55 (Revisi 2. bagi bank yaitu periode 2007-2009. Hipotesis 1 yang menyatakan terdapat peningkatan kandungan laba masa depan setelah implementasi wajib PSAK 50&55 . tidak dapat ditolak jika koefisien interaksi antara variabel FERC dan POST bernilai positif Sedangkan hipotesis 2 yang menyatakan bahwa penggunaan nilai wajar dapat meningkatkan . kandungan laba masa depan setelah implementasi wajib PSAK 50&55 . tidak dapat ditolak jika koefisien interaksi antara variabel FERC, variabel aset keuangan (FVFA. FVTPL. AFS. HTM, dan LNR) dan variabel POST bernilai positif . Nilai Wajar Aset Keuangan Nilai wajar aset keuangan pada penelitian ini diklasifikasikan menjadi empat sebagaimana yang diatur dalam PSAK 50 & 55 . , yaitu aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi . air value through profit or loss/ FVTPL), investasi dimiliki hingga jatuh tempo . old to maturities/HTM), pinjaman yang diberikan atau piutang . oans and receivables/LNR), dan aset keuangan tersedia untuk dijual . vailable for sale/AFS). Informasi mengenai nilai wajar ini diperoleh dari laporan posisi keuangan dan jika tidak ditemukan pada laporan posisi keuangan, maka diperoleh dari pengungkapan mengenai aset keuangan. Untuk perbedaan dampak nilai wajar masing-masing kategori aset kuangan, maka pengujian dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, sebagaimana pada model 1 . keempat kategori nilai wajar aset keuangan tersebut dikelompokkan menjadi satu, yaitu fair value financial assets (FVFA). Tahap berikutnya fair value financial assets (FVFA) kemudian didekomposisikan kembali sebagaimana pada model 2 . ersamaan Seluruh variabel aset keuangan diukur dengan proporsi kelima variabel aset keuangan tersebut terhadap total aset periode berjalan. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan nilai minimum, maksimum, dan standar deviasi pada Tabel 2 dibawah ini dapat dikatakan sebaran data untuk laba berjalan dan laba periode berikutnya relatif besar. Nilai ratarata proporsi aset keuangan yang diukur dengan menggunakan nilai wajar mencapai 58,02% dari total aset bank dengan kompoisi terbesar diakui sebagai nilai wajar yang diakui melalui laporan rugi laba . air value through profit or loss/ FVTPL), yaitu rata-rata sebesar 16,46% total aset Komposisi selanjutnya diikuti oleh loans and consumer receivable (LNR), hold to maturity (HTM), dan available for sale (AFS) yang masing-masing nilai rata ratanya sebesar 7,08%, 6,35%, dan 3,66%. Tabel 2 Statistik Deskripsi Variabel Rit Et-1 Mean Max. Min. Std. Dev. Geraldina/Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. , 2018, pp 209-220 Variabel Mean Et 1 FVFA FVTPL AFS HTM LNR Sumber: output pengolahan statistik, diolah kembali Max. Min. Std. Dev. Tabel 3 Hasil Estimasi Model 1 Total Nilai Wajar Aset Keuangan Variabel Coefficient t-Statistic Prob. Et-1 Et 1 FVFA 07110*** Et 1*FVFA POST Et 1*POST 06530*** Et 1*FVPA*POST 05520*** Adjusted R-squared F-statistic Prob(F-statisti. Durbin-Watson stat merupakan Return saham tahunan pada periode t, diukur selama 12 bulan yang berakhir pada bulan ketiga setelah periode berjalan berakhir. , dan masing-masing merupakan Laba sebelum pos luar biasa pada periode t-1, periode t, dan periode t 1 yang dideflasi dengan nilai pasar ekuitas bulan ketiga setelah periode t-1 berakhir. Nilai wajar aset keuangan terdiri atas total nilai wajar aset keuangan yaitu yang diperoleh dari penjumlahan keempat kategori nilai wajar aset keuangan lainnya. FVTPL. AFS, dan HTM, serta LNR. Kelima variabel aset keuangan diukur berdasarkan proporsi nilai wajar terhadap total aset bank i pada periode t. POST adalah variabel dummy yang membedakan periode sebelum dan sesudah implementasi PSAK 50&55 . , diberi 1 untuk periode setelah adopsi . dan diberi nilai 0 untuk periode pengamatan sebelum implemetasi wajib . *,**,** menunjukkan signifikan pada alpha 1%, 5%, dan 10% pengujian satu sisi atau dua sisi. Sumber: output pengolahan statistik, diolah kembali Berdasarkan tabel 3 di atas. Model 1 dapat menjelaskan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sebesar 60,70% dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam kedua model penelitian. Koefisien interaksi Et 1*POST bernilai signifikan positif signifikan. Demikian pula koefisien FECR (Et . pada Model 1 bernilai signifikan positif, sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan kandungan laba masa depan setelah implementasi PSAK 50 & 55. Tabel 4 Hasil Estimasi Model 2 Variabel Et-1 Et 1 POST Et 1*POST FVTPL Coefficient Model 2: Dekomposisi t-Statistic Prob. Geraldina/Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. , 2018, pp 209-220 AFS HTM LNR Et 1*FVTPL Et 1*AFS Et 1*HTM Et 1*LNR Et 1*FVTPL*POST 08640*** Et 1*AFS*POST Et 1*HTM*POST Et 1*LNR*POST Adjusted R-squared F-statistic Prob(F-statisti. Durbin-Watson stat R_. merupakan Return saham tahunan pada periode t, diukur selama 12 bulan yang berakhir pada bulan ketiga setelah periode berjalan berakhir. E_. ,t-. E_. , dan E_. ,t . masing-masing merupakan Laba sebelum pos luar biasa pada periode t-1, periode t, dan periode t 1 yang dideflasi dengan nilai pasar ekuitas bulan ketiga setelah periode t-1 berakhir. Nilai wajar aset keuangan terdiri atas total nilai wajar aset keuangan yaitu AnFVFAA_. yang diperoleh dari penjumlahan keempat kategori nilai wajar aset keuangan lainnya. FVTPL. AFS, dan HTM, serta LNR. Kelima variabel aset keuangan diukur berdasarkan proporsi nilai wajar terhadap total aset bank i pada periode t. POST adalah variabel dummy yang membedakan periode sebelum dan sesudah adopsi PSAK 50 & 55 . , diberi 1 untuk periode setelah adopsi . dan diberi nilai 0 untuk periode pengamatan sebelum adopsi wajib . *,**,** menunjukkan signifikan pada alpha 1%, 5%, dan 10% pengujian satu sisi atau dua sisi. Sumber: output pengolahan statistik, diolah kembali Berdasarkan tabel 4 di atas. Model 2 dapat menjelaskan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sebesar 60,86% dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam kedua model penelitian. Temuan yang sama dengan hasil estimasi Model 1, koefisien interaksi Et 1*POST bernilai signifikan positif signifikan. Demikian pula koefisien FECR (Et . bernilai signifikan positif. Hasil tersebut menunjukkan bahwa H1 tidak dapat ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa adopsi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. yang berlaku efektif 1 Januari 2010 bagi industri perbankan meningkatkan kandungan laba masa depan bank. Hasil penelitian ini menambah bukti empiris mengenai klaim bahwa adopsi pelaporan keuangan berdasarkan IFRS dapat meningkatkan relevansi nilai informasi akuntansi sebagaimana yang ditemukan pada penelitian Duh et al. Informasi yang relevan ini digunakan oleh pasar dalam menilai kinerja bank di masa depan yang tercermin dalam laba ekspektasi pada periode berikutnya, sehingga dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan investasi pada periode Pada hasil estimasi Model 1 (Tabel . menunjukkan koefisien interaksi Et 1*FVPA*POST bernilai negatif signifikan dengan nilai koefisien Adapun variabel Et 1*POST bernilai signifikan positif signifikan dengan nilai koefisien sebesar 0. 00142500, sehingga dampak agregat dari nilai wajar aset keuangan menurunkan kandungan laba masa depan bank setelah implementasi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. Hasil penelitian ini mendukung Hipotesis 2 sekaligus memberikan bukti empiris bahwa penggunaan nilai wajar aset keuangan setelah implementasi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. secara umum menurunkan kandungan laba masa depan Hal ini dapat disebabkan karena penggunaan nilai wajar meningkatkan volatilitas laba yang tidak realistis, sehingga di respon negatif oleh investor (Duh et al. , 2. Argumetasi ini diperkuat oleh bukti empiris pada Tabel 3 di atas yang menunjukkan variabel nilai wajar aset keuangan (FVFA) bernilai negatif signifikan. Implikasi hasil penelitian pada Model 1 ini memberikan informasi bahwa secara umum investor memandang implemetasi standar berbasis Geraldina/Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. , 2018, pp 209-220 standar internasional meningkatkan relevansi informasi laba dalam pengambilan keputusan investasi, namun penggunaan nilai wajar dalam aset keuangan yang dapat meningkatkan volatilitas laba yang kurang realistis di respon negatif oleh investor, sehingga menurunkan keinformatifan laba masa depan. Hal ini dapat disebabkan investor kesulitan dalam menilai risiko eksposur yang terdapat dalam penggunaan nilai wajar aset keuangan, sehingga menurunkan penggunaan informasi ini untuk menilai kinerja bank di masa Untuk mengetahui lebih lanjut kemungkinan perbedaan respon investor terhadap keempat jenis penilaian nilai wajar aset keuangan, hasil estimasi pada tabel 4 menunjukkan bahwa hanya koefisien variabel interaksi Et 1*AFS*POST yang bernilai positif signifikan, sedangkan koefisien ketiga variabel interaksi lainnya yaitu Et 1*FVTPL*POST. Et 1*HTM*POST. Et 1*LNR*POST bernilai negatif signifikan, namun walaupun demikian dampak agregat penggunaan nilai wajar AFS tetap menurunkan kandungan laba masa depan setelah implementasi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. Hal ini terlihat pada selisih antara nilai koefisien variabel interaksi Et 1*AFS (-3. dengan nilai koefisien variabel interaksi Et 1*AFS*POST . bernilai negatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keempat kategori nilai wajar setalah implementasi PSAK 50 & 55 (Revisi 2. menurunkan kandungan laba masa depan, walaupun pasar masih merespon positif terhadap penggunaan nilai wajar selain fair value through profit or loss (FVTPL). Hal ini dapat dipahami mengingat penggunaan nilai wajar kategori fair value through profit or loss (FVTPL) memang memiliki dampak yang lebih besar terhadap volatilitas laba relatif dibandingkan ketiga kategori penggunaan nilai wajar lainnya, yaitu available for sale (AFS), hold to maturities (HTM), loans and consumer receivables (LNR). Kondisi ini disebabkan karena proporsi penggunaan kategori fair value through profit or loss (FVTPL) jauh lebih besar dibandingkan ketiga jenis lainnya, yaitu sebesar 16,46% total aset bank. Sedangkan proporsi penggunaan ketiga jenis nilai wajar aset keuangan lainnya, yaitu loans and consumer receivable (LNR), hold to maturity (HTM), dan available for sale (AFS) adalah masing-masing hanya sebesar 7,08%, 6,35%, dan 3,66%. Dengan demikian, hasil penelitian pada model kedua memperkuat temuan empiris pada model pertama, bahwa: . terjadi peningkatan kandungan laba masa depan pada periode setelah adopsi PSAK 50 & 55. penggunaan nilai wajar pada aset keuangan menurunkan kandungan laba masa depan pada periode setelah adopsi PSAK 50 & 55 yang kemungkinan disebabkan oleh dampak penggunaan nilai wajar pada aset keuangan akan meningkatkan volatilitas laba yang tidak realistis. komponen terbesar yang mungkin dapat menurunkan kandungan laba masa depan pada periode setelah implementasi PSAK 50 & 55 adalah penggunaan nilai wajar aset keuangan kategori fair value through profit or loss (FVTPL). Kesimpulan. Keterbatasan, dan Saran Penelitian ini menambahkan bukti empiris terhadap literatur mengenai relevansi nilai informasi akuntansi . bagi investor di pasar modal, terutama mengenai dampak penggunaan nilai wajar terhadap kandungan laba masa depan setelah implemetasi wajib PSAK 50 & 55 (Revisi 2. pada industri perbankan. Hasil kandungan laba masa depan meningkat pada periode setelah implementasi wajib PSAK 50 & 55 (Revisi 2. pada industri perbankan. Implikasi hasil penelitian ini mendukung klaim bahwa pelaporan keuangan yang konvergen dengan standar internasional meningkatkan kualitas laporan keuangan dengan memberikan informasi yang lebih relevan bagi investor di pasar Informasi yang relevan tersebut digunakan investor untuk menilai kinerja . masa depan bank dalam pengambilan keputusan investasi pada periode berjalan yang tercermin dalam return. Geraldina/Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. , 2018, pp 209-220 Walaupun secara umum, implementasi wajib PSAK 50 & 55 (Revisi 2. meningkatkan kandungan laba masa depan, akan tetapi penggunaan nilai wajar pada aset keuangan direspon negatif oleh investor yang disebabkan oleh penerapan nilai wajar aset keuangan ini kemungkinan akan berdampak terhadap volatilitas laba yang kurang realistis. Akibatnya, investor kesulitan untuk menilai risiko dan kinerja aset keuangan ini, sehingga menyulitkan untuk menilai kinerja . masa depan bank yang pada akhirnya menurunkan kandungan laba masa depan Komponen terbesar yang mungkin dapat menurunkan kandungan laba masa depan pada periode setelah implementasi PSAK 50 & 55 adalah penggunaan nilai wajar aset keuangan kategori fair value through profit or loss (FVTPL). Implikasi hasil penelitian ini salah satunya memberikan informasi kepada regulator, dalam hal ini dewan penyusun standar maupun pengawas pasar modal untuk melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai penggunaan nilai wajar pada aset keuangan, sehingga investor dapat lebih memahami mengenai kandungan informasi yang terdapat dalam penggunaan nilai wajar aset keuangan yang dapat digunakan untuk menilai risiko dan kinerja laba masa depan. Penelitian diantaranya adalah: . hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi pada industri lain, selain industri . mempertimbangkan nilai wajar liabilitas bank yang mungkin dapat mempengaruhi hasil . tidak menganalisis dampak penggunaan nilai wajar terhadap kandungan laba berjalan setelah implementasi wajib PSAK 50&55 (Revisi 2. , karena keterbatasan sampel penelitian, sehingga tidak memadai untuk menambahkan variabel tersebut ke dalam model dan . tidak menambahkan variabel kontrol yang mungkin dapat mempengaruhi hasil Oleh karena itu, penelitian berikutnya keterbatasan tersebut jika ingin mengembangkan penelitian ini. Kesimpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil dan pembahasan mengacu pada tujuan penelitian harus mengindikasikan secara jelas hasil-hasil yang diperoleh, kelebihan dan kekurangannya, serta kemungkinan pengembangan Pada bagian ini juga uraikan keterbatasan keterbatasan penelitian dan saran-saran untuk penelitian lebih lanjut untuk menutup keterbatasan penelitian. Daftar Pustaka