Seng Batik: Traditional Colours, Innovation, and Empowerment of the Sengguruh Village Community Anisya Ramadhanty1, Hanum Tri Utami2, Intan Kurnia Wijaya3, Kaira Noviza4, Farida Ratna Dewi5, Vivi Apriliyani6, Dian Karisma Septiana Guteres7 Article Info (1),(2),(3),(4), (5) IPB University (6), (7) Sub Bidang SDM, Umum & CSR, PT PLN Nusantara Power UP Brantas How to Cite: Ramadhanty, A., Utami, H. T., Wijaya, I. K., Noviza, K., Dewi, F. R., Apriliyani, V., Guteres, D. K. S. (2025). Seng Batik: Traditional Colours, Innovation, and Empowerment of the Sengguruh Village Community. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 (3), 2025, 1-10 Abstract This study discusses Batik Sengguruh or Batik Seng as forms of cultural preservation integrated with economic empowerment of local community in Sengguruh Village, Kepanjen District, Malang Regency. Batik Seng comes with innovations of the use of natural dyes, environmentally friendly waste management, and strengthens of local identity through patented distinctive motifs amid the modernization that is eroding the tradition of batik. This program not only preserves cultural values but also opens up economic opportunities, especially for vulnerable groups like housewives, disabilities, the elderly, and school dropouts. The research uses qualitative methods with semi-structured interviews with Batik Seng local heroes, observations, and descriptive-qualitative analysis. The data was analyzed through reduction, presentation, and narrative conclusions to see relationship between tradition, innovation, and community empowerment. The study result show that Batik Seng is able to develop handdrawn, stamped, jumputan, and ecoprint batik products with modern market orientation through branding and digital marketing strategies. Support from various stakeholders, including PT PLN Nusantara Power UP Brantas PLTA Sutami, strengthens the aspects of sustainability and collaboration. The research conclusion confirms that Batik Seng is not only a medium for preserving tradition, but also represents culture-based socioentrepreneurship that has sustainable social, economic, and ecological impact. Keywords: Batik, Empowerment Sengguruh Village, Innovation, Article History Submitted: 22 September 2025 Received: 24 September 2025 Accepted: 6 Oktober 2025 Correspondence E-Mail: dian.karisma@plnnusant arapower.co.id Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol.4 No.3 (2025) pp. 1-10 https://doi.org/10.55381/jpm/v4i3.525 https://prospectpublishing.id/ojs/index.php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4.0 International License (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access pages. Batik Seng: Warna Tradisi, Inovasi, dan Pemberdayaan Komunitas Desa Sengguruh Anisya Ramadhanty1, Hanum Tri Utami2, Intan Kurnia Wijaya3, Kaira Noviza4, Farida Ratna Dewi5, Vivi Apriliyani6, Dian Karisma Septiana Guteres7 Article Info (1),(2),(3),(4),(5) IPB University (6), (7) Sub Bidang SDM, Umum & CSR, PT PLN Nusantara Power UP Brantas Email Korespondensi: dian.karisma@ plnnusantarapower.co.id Abstrak Penelitian ini membahas Batik Sengguruh atau Batik Seng sebagai bentuk pelestarian budaya yang terintegrasi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Batik Seng hadir dengan inovasi berupa pemanfaatan pewarna alami, pengolahan limbah ramah lingkungan, serta penguatan identitas lokal melalui motif khas yang dipatenkan di tengah arus modernisasi yang menggerus tradisi membatik. Program ini tidak hanya melestarikan nilai budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu rumah tangga, penyandang disabilitas, lansia, dan anak putus sekolah. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara semi-terstruktur kepada local hero Batik Seng, observasi lapangan, serta analisis deskriptif-kualitatif. Data dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara naratif untuk melihat keterkaitan antara tradisi, inovasi, dan pemberdayaan komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Batik Seng mampu mengembangkan produk batik tulis, cap, jumputan, dan ecoprint dengan orientasi pasar modern melalui strategi branding dan pemasaran digital. Dukungan dari berbagai stakeholder, termasuk PT PLN Nusantara Power UP Brantas - PLTA Sutami, turut memperkuat aspek keberlanjutan dan kolaborasi. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa Batik Seng bukan hanya wadah pelestarian tradisi, tetapi juga representasi kewirausahaan sosial berbasis budaya yang memberi dampak sosial, ekonomi, dan ekologis secara berkelanjutan. Kata Kunci: Batik, Desa Sengguruh, Inovasi, Pemberdayaan 2 © Ramadhanty et.al Pendahuluan Di tengah arus modernisasi, banyak warisan budaya Indonesia yang mulai tergerus oleh perkembangan zaman, termasuk tradisi membatik yang merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya bernilai tinggi. Membatik tidak hanya menghasilkan karya visual yang indah, tetapi juga mengandung nilai sejarah, filosofi, dan identitas lokal yang penting untuk dilestarikan. Akan tetapi, warisan ini mulai ditinggalkan karena keterbatasan akses, pengetahuan, serta peluang ekonomi yang mendukung keberlanjutannya. Upaya pelestarian batik tidak hanya dipandang sebagai langkah menjaga budaya, tetapi juga sebagai sarana memperkuat ekonomi masyarakat lokal melalui pendekatan berbasis keterampilan dan kreativitas. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Prasetiyo et al. (2022) yang menjelaskan pentingnya komunikasi pendidikan dalam pembelajaran batik agar dapat diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari pelestarian kearifan lokal. Salah satu strategi yang bisa digunakan adalah inovasi penggunaan pewarna alami serta penguatan identitas lokal dalam produk batik. Henryanto et al. (2023) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa pewarna alami dalam batik bukan hanya menjaga aspek estetika akan tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan. Hal yang sama pada penelitian Elly et al. (2025) melalui pengembangan ecoprint berbasis potensi lokal desa yang mampu meningkatkan nilai tambah produk batik sekaligus memperluas peluang pemasaran. Selain itu, dengan penguatan branding dan keterlibatan komunitas desa juga menjadi faktor kunci. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Chalimatuz et al. (2024) mengenai Batik Ulurwiji Mojokerto membuktikan bahwa branding yang dikombinasikan dengan pewarna alami mampu meningkatkan daya saing batik dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa. Desa Sengguruh di Kabupaten Malang menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Batik Sengguruh atau dikenal sebagai Batik Seng dikembangkan sebagai rumah produksi batik yang mengangkat motif lokal sekaligus memanfaatkan pewarna alam sebagai inovasi kreatif. Melalui pelatihan, penguatan identitas budaya, dan penciptaan peluang ekonomi, Batik Seng berupaya menjaga eksistensi batik sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat. Inisiatif ini mendapat dukungan dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN Nusantara Power UP Brantas - PLTA Sutami yang menyediakan fasilitas, sumber daya, dan pendampingan untuk masyarakat agar lebih mandiri. Melalui visi “Menguatkan ekonomi lokal melalui karya batik yang inovatif dan berkelanjutan”, inisiatif ini menunjukan bagaimana Batik Seng bukan hanya sekedar produk budaya, tetapi juga simbol sinergi antara warna tradisi, inovasi kreatif, dan pemberdayaan komunitas Desa Sengguruh yang relevan untuk terus dikaji dan dikembangkan. Metode Artikel ini ditulis menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan secara primer melalui wawancara semi-terstruktur dengan satu narasumber, yaitu Ibu Evi selaku local hero dari Batik Seng. Pemilihan informan dilakukan secara purposive, dengan mempertimbangkan perannya sebagai tokoh kunci yang mengetahui secara mendalam sejarah, proses produksi, serta jaringan kerja sama yang dilakukan Batik Seng. Selain wawancara, observasi juga dilakukan di lokasi produksi batik untuk melihat secara langsung terkait alur kerja, teknik pewarnaan, serta interaksi antar anggota kelompok selama proses produksi berlangsung. Berdasarkan informasi yang diperoleh, dilakukan analisis menggunakan metode deskriptif-kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Selanjutnya, teknis analisis data dilakukan secara naratif untuk melihat 3 © Ramadhanty et.al hubungan antara tradisi batik, inovasi yang dilakukan, dan pemberdayaan komunitas Batik Seng di Desa Sengguruh. Pembahasan Batik Seng Batik Sengguruh atau biasa dikenal sebagai Batik Seng merupakan brand batik asal Kabupaten Malang yang memproduksi batik tulis, batik cap, jumputan, hingga ecoprint. Berdirinya Batik Seng dimulai dari pelatihan batik ibu-ibu PKK Desa Sengguruh, Kepanjen di tahun 2012. Kemudian mulai memproduksi produk untuk dipasarkan mulai tahun 2015 dan secara resmi Batik Seng didaftarkan merek pada tahun 2017. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa asal-usul nama Batik Seng diambil dari penggalan suku kata tanah kelahiran batik ini, yaitu Desa Sengguruh. Kata “Seng” sendiri memiliki makna bau atau aroma, dengan harapan seperti halnya bau atau aroma yang cepat menyebar, produk Batik Seng dapat melestarikan budaya bangsa dengan menyebar ke seluruh nusantara. Batik Seng lahir dari sebuah harapan untuk bisa berbagi dengan cita-cita mengabdi untuk negeri, untuk generasi emas Indonesia. Melalui harapan dan cita-cita ini, Batik Seng memberdayakan masyarakat penyandang disabilitas, lansia, anak putus sekolah, dan ibu rumah tangga usia produktif sebagai bagian dari anggota mereka. Pemberdayaan ini menitikberatkan pada pengembangan keterampilan membatik, penguatan identitas lokal, dan penciptaan peluang ekonomi melalui karya berbasis budaya. Hingga saat ini Batik Sengguruh memiliki 20 anggota yang terlibat langsung dari awal proses produksi hingga pemasaran ke tangan konsumen. Melalui pelatihan membatik, pendampingan usaha, dan pemanfaatan motif lokal yang inovatif, Griya Batik Sengguruh berkomitmen untuk membangun ekonomi kreatif yang berakar dari budaya dan tumbuh secara berkelanjutan. Keunikan dan Inovasi Batik Seng mengunggulkan produk batik handmade menggunakan pewarna alami dan malam hasil daur ulang sebagai bahan baku pembuatan batik. Daun mangga, kayu mahoni, kayu tingi, indigofera, dan sabut kelapa merupakan salah satu pewarna alami yang sering digunakan. Penggunaan pewarna ini sebagai bentuk kepedulian lingkungan dalam pelestarian budaya nusantara. Keunikan lain yang dimiliki Batik Seng dapat dilihat dari pengelolaan limbah hasil produksi. Batik Seng berinovasi dengan mendaur ulang limbah malam yang telah digunakan dengan diolah kembali menjadi malam baru yang dapat digunakan dalam proses produksi berikutnya. Cara ini tidak hanya membantu mengurangi jumlah limbah, tetapi juga mendukung efisiensi biaya produksi karena bahan yang ada bisa dimanfaatkan secara berulang. Selain itu, dalam survei awal juga ditemukan bahwa Batik Seng telah memiliki rencana pengelolaan lingkungan melalui keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu yang disiapkan bersama PT PLN Nusantara Power UP Brantas – PLTA Sutami. IPAL ini dirancang untuk memastikan air limbah yang dihasilkan dari proses produksi batik tidak mencemari lingkungan, melainkan dapat diolah hingga aman dan berpotensi digunakan kembali. Batik Seng juga memiliki 15 motif batik yang telah dipatenkan. Proses paten ini dilakukan dengan bantuan dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Malang. Motif batik tersebut telah dibuat secara digital dan terinspirasi dari potensi alam dan budaya lokal Desa Sengguruh yang bermakna filosofis mencerminkan kearifan lokal masyarakat setempat. 4 © Ramadhanty et.al Gambar 1. Motif Dilema Sang Egon Sumber: Dokumentasi Perusahaan, 2025 Batik Seng memiliki dua motif unggulan, yaitu motif Egon dan Garudeya. Motif Dilema Sang Egon merupakan salah satu motif paten milik Batik Seng dengan filosofi yang berawal dari populasi eceng gondok yang luar biasa di Bendungan Sengguruh, Kepanjen. Hal ini mengakibatkan pendangkalan sungai, menurunnya populasi ikan, penyumbatan irigasi, banjir, dan tempat bersarangnya nyamuk. Bendungan Sengguruh cukup memiliki arti dalam pengairan dan suplai air bersih non sampah yang mengalir ke Bendungan Karangkates untuk produksi energi listrik Jawa-Bali. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait untuk bisa menjaga fungsi Bendungan Sengguruh sebagaimana mestinya. Meskipun dianggap tanaman yang merugikan, eceng gondok memiliki potensi tersembunyi ketika bisa dimanfaatkan dengan baik, seperti untuk kerajinan anyaman, pupuk organik, atau diolah menjadi penetralisir zat/limbah berbahaya. Gambar 2. Motif Garudeya Sumber: Dokumentasi Perusahaan, 2025 Motif Garudeya merupakan motif yang menggambarkan simbol Kabupaten Malang. Motif ini bercerita tentang perjuangan pembebasan dari perbudakan dan penderitaan, yang terinspirasi dari kisah Garudeya yang membebaskan ibunya dari perbudakan naga di relief Candi Kidal, salah satu candi warisan Kerajaan Singosari yang berlokasi di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Motif ini menjadi motif unggulan di daerah Malang, termasuk di Batik Seng. Proses Produksi hingga Pemasaran Produk Batik Seng menghadirkan koleksi busana dan aksesoris yang dirancang untuk memadukan nilai tradisi dengan gaya modern. Setiap produk dibuat dengan detail dan sentuhan khas, sehingga tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga menghadirkan identitas budaya yang kuat. 5 © Ramadhanty et.al Gambar 3. Produk Batik Seng Sumber: Dokumentasi Perusahaan, 2025 Batik Seng menyediakan koleksi pakaian batik yang terdiri dari baju, outer, kemeja, dan blus. Koleksi aksesori meliputi bucket hat, sabuk kain atau obi belt, selendang, dan ikat kepala. Selain itu, tersedia produk leather goods berupa dompet kulit bermotif batik dengan teknik konveksi jahit kulit. Batik Seng juga memproduksi koleksi ecoprint sebagai inovasi produk ramah lingkungan yang melengkapi rangkaian produk fashion berkelanjutan. Gambar 4. Produk Ecoprint Batik Seng Sumber: Dokumentasi Perusahaan, 2025 Proses produksi Batik Seng menerapkan dua metode utama, yaitu batik tulis dan batik cap dengan alur sistematis yang terjaga kualitasnya. Tahap awal meliputi persiapan bahan kain, malam batik, dan zat warna, dilanjutkan perancangan desain dan pemotongan kain sesuai kebutuhan. Aplikasi motif menggunakan malam batik halal dengan canting pada batik tulis atau cap pada batik cap. Proses pewarnaan dilakukan bertahap dengan zat warna sintetis atau alami, diikuti proses mbironi dan quality control setiap tahapan. Tahap akhir berupa nglorod dalam membersihkan malam batik, pencucian, pengeringan, quality control final, hingga packing produk yang siap dipasarkan. Gambar 5. Proses Produksi Batik Seng 6 © Ramadhanty et.al Sumber: Dokumentasi Perusahaan, 2025 Strategi pemasaran Batik Seng memanfaatkan platform online Griya Batik Sengguruh dalam memperluas jangkauan pasar. Instagram Griya Batik Sengguruh dibedakan menjadi dua akun, yakni Instagram official yang fokus memberikan informasi menyeluruh kegiatan Griya Batik Sengguruh dan Instagram katalog produk yang menyajikan informasi terkait produk Griya Batik Sengguruh secara detail. Platform digital lainnya meliputi WhatsApp Business dalam layanan konsultasi dan pemesanan langsung, Google Business dalam meningkatkan visibilitas pencarian lokal, TikTok dalam menjangkau pasar milenial dan Gen Z, YouTube dalam konten edukatif dan promosi, Shopee sebagai marketplace utama, serta website resmi sebagai sarana informasi lengkap. Diversifikasi platform digital ini memungkinkan Batik Seng menjangkau berbagai segmen pasar dengan pendekatan yang tepat sasaran sehingga dapat memaksimalkan omzet. Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber dan laporan keuangan kelompok, Batik Seng berhasil mencapai omzet bulanan 50-60 juta rupiah. Pencapaian ini menunjukkan konsistensi dalam menjaga kualitas produk dan kepuasan pelanggan, sekaligus membuktikan daya saing produk batik lokal di pasar yang semakin kompetitif. Pemberdayaan Kelompok Batik Seng Kelompok Batik Seng terdiri dari individu-individu rentan, yaitu penyandang disabilitas, lansia, anak putus sekolah, dan ibu rumah tangga usia produktif. Batik Seng telah menunjukkan komitmen dalam pemberdayaan anggotanya melalui berbagai program berkelanjutan. Melalui kerja sama dengan PLN Nusantara Power UP Brantas – PLTA Sutami, komunitas ini mendapatkan kesempatan upskilling Desain Batik Digital pada tahun 2024 lalu. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Oca Sabhila Studio telah memberi warna baru dengan transformasi pembuatan motif batik sehingga dapat dinikmati secara digital. Gambar 6. Upskilling Batik Digital Sumber: Dokumentasi Perusahaan, 2025 Selain upskilling Desain Batik Digital, di tahun 2025 Kelompok Batik Seng juga diberdayakan untuk mengolah limbah malam batik yang selama ini sering terbuang percuma. Limbah malam tersebut didaur ulang agar dapat dipakai kembali dalam proses produksi, sehingga tidak hanya menekan biaya bahan baku, tetapi juga menciptakan sistem produksi yang lebih ramah lingkungan. Upaya ini menjadi bukti bahwa Batik Seng mampu memadukan nilai tradisi dengan kesadaran ekologis yang tinggi. 7 © Ramadhanty et.al Gambar 7. Pelatihan Daur Ulang Limbah Malam Sumber: Dokumentasi Perusahaan, 2025 Selain itu, anggota kelompok Batik Seng mendapat kesempatan berharga untuk menimba ilmu langsung dengan mengikuti pelatihan intensif di sentra batik Pekalongan selama beberapa minggu. Ibu Evi sebagai local hero Batik Seng berperan besar dalam hal transfer ilmu pengetahuan dengan menjadi narasumber pelatihan batik seperti ke SMA Taruna. Pemberdayaan yang dilakukan meningkatkan kapabilitas anggota Batik Seng sehingga mengantarkan mereka untuk ikut ke berbagai pameran baik tingkat regional maupun nasional. Kolaborasi dan Penghargaan Dalam rangka mengembangkan jaringan bisnis, Batik Seng menjalin kemitraan dan kolaborasi dengan berbagai kelembagaan maupun komunitas. Kolaborasi strategis meliputi PT PLN Nusantara Power UP Brantas – PLTA Sutami, Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Malang, Paguyuban Pengrajin Batik Hasta Padma Kabupaten Malang, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Malang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Galeri Dekranasda Kabupaten Malang, Galeri Disperindag Provinsi Jawa Timur, LPPM Universitas Merdeka Malang, Joko Roro Kabupaten Malang, Raka dan Raki Kabupaten Malang, Balai Diklat Industri Surabaya, Dinas Kabupaten Malang, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, berbagai lembaga pendidikan di Kabupaten Malang, serta Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Jaringan kemitraan yang luas ini memperkuat posisi Batik Seng sebagai produsen batik terpercaya di tingkat regional. Batik Seng juga telah menjalin kerja sama dengan beberapa mitra seperti kelompok penjahit, konveksi, dan bank sampah untuk mendukung keberlanjutan dan pengembangan produk. Kemitraan dengan konveksi dan kelompok penjahit dilakukan untuk mengolah kain batik menjadi produk-produk yang siap pakai. Kerja sama dengan kelompok bank sampah untuk mengolah kain perca hasil produksi batik yang awalnya hanya limbah kemudian diolah menjadi berbagai produk suvenir yang memiliki nilai jual mulai dari gantungan kunci, selendang, dan produk lain berbentuk kain kecil yang bernilai estetis. Upaya ini tidak hanya mengurangi limbah tekstil, tetapi juga menciptakan produk turunan yang memiliki nilai jual sekaligus mendukung prinsip ramah lingkungan. Hasil dari berbagai kerja sama ini telah membawa Batik Seng ke berbagai kesempatan pameran dan ajang promosi. Pada tahun 2018, Batik Seng berhasil meraih posisi finalis pada City Microentrepreneurship Award yang merupakan apresiasi kepada pelaku usaha mikro yang berprestasi di Indonesia. Pada tahun berikutnya, Batik Seng juga berpartisipasi dalam Malang Fashion Week 2019 untuk memperkenalkan produk batiknya supaya lebih dikenal oleh masyarakat luas. Prestasi Batik Seng makin diperkuat dengan diraihnya Juara II UKM 8 © Ramadhanty et.al Berprestasi Millenialpreneurship kategori Fashion dalam Lomba Perkoperasian dan Usaha Kecil dan Menengah tingkat Provinsi Jawa Timur pada tahun 2020 yang menunjukkan kapasitas Batik Seng dalam bersaing di tingkat regional. Gambar 8. Penghargaan Batik Seng Sumber: Dokumentasi Perusahaan, 2025 Selain penghargaan dan partisipasi dalam berbagai ajang hingga memperoleh beberapa penghargaan, Batik Seng juga telah memperoleh sejumlah sertifikasi resmi yang memperkuat kredibilitas produk. Sertifikat merek telah dimiliki sejak tahun 2017, memberikan perlindungan hukum sekaligus identitas legal bagi Batik Seng sebagai produk unggulan Desa Sengguruh. Selanjutnya, pada tahun 2024 Batik Seng memperoleh sertifikat halal, yang menjadi pengakuan resmi terhadap kualitas serta kepatuhan produk pada standar yang berlaku. Sertifikasi ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan konsumen, tetapi juga memperluas potensi pasar karena produk Batik Seng dapat diterima oleh masyarakat secara lebih luas, termasuk segmen pasar yang mengutamakan prinsip kehalalan. Berbagai capaian ini menunjukkan bahwa Batik Seng tidak hanya fokus pada pelestarian tradisi dan inovasi produk, tetapi juga berhasil menempatkan diri sebagai bagian dari industri kreatif yang berdaya saing tinggi Kesimpulan Batik Sengguruh hadir sebagai bukti nyata bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui perpaduan antara keterampilan membatik, pemanfaatan pewarna alami, inovasi produk, serta dukungan dari berbagai pihak, Batik Sengguruh mampu menjaga eksistensi budaya lokal sekaligus meningkatkan daya saing di pasar modern. Batik Seng menjadi wadah yang menggambarkan identitas, kreativitas, dan semangat kolektif masyarakat Desa Sengguruh. Keberhasilan Batik Seng juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong keberlanjutan sebuah program berbasis budaya. Sinergi antara masyarakat, pemerintah, swasta, hingga akademisi telah memperkuat posisi Batik Seng sebagai bagian dari industri kreatif yang adaptif dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, Batik Seng bukan hanya sekadar upaya melestarikan warisan budaya, melainkan juga contoh praktik kewirausahaan sosial yang mampu memberikan dampak ekonomi, sosial, dan ekologis bagi komunitas lokal. Daftar Pustaka Abaharis, H., Badri, J., Alfian, A., & Das, N. A. (2023). Inovasi Pewarnaan Alami Batik Tanah Liek Salingka Tabek Koto Baru Solok. SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(6), 671-676. 9 © Ramadhanty et.al Antika, E., Lesmana, I. P. D., & Samsudin, A. (2025). Pengembangan Produk Kain Berpewarna Alam Dengan Teknik Ecoprint Berbasis Potensi Lokal Desa Wonoasri Tempurejo Jember. Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 9(1), 1-13. Aprianingrum, A. Y., & Nufus, A. H. (2021). Batik Indonesia, Pelestarian Melalui Museum. In Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan Dan Batik, 3(1), 10-1. Fadhallah, R.A. (2021). Wawancara. Unj Press. Prasetiyo, P. (2022). Educational Communication in Learning Batik as Preservation of Local Wisdom Products for the Young Generation. Technium Education and Humanities, 2(3), 1-15. Ramadhan, R. (2024). Garudeya: Cerita dan Makna di Balik Motif Batik Khas Kabupaten Malang. [diakses 16 September 2025] https://suarajatimpost.com/garudeya-ceritadan-makna-di-balik-motif-batik-khas-kabupaten-malang. Sa'diyah, C., Roz, K., & Hilmi, L. D. H. (2024). Branding Batik dan Peningkatan Warna Alam Berbasis Pemberdayaan Pemuda Desa di Batik Ulurwiji Mojokerto. Studi Kasus Inovasi Ekonomi, 8(02), 149-158. Sari, R.N. (2022). Mengenal Batik Seng. Kreasi Griya Batik Sengguruh Kabupaten Malang. [diakses 16 September 2025] https://timesindonesia.co.id/ekonomi/397019/mengenal-batik-seng-kreasi-griyabatik-sengguruh-kabupaten-malang. 10