AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Vol. No. Juni 2024 ISSN: 2354-8576 (Prin. ISSN:0000-0000 . http://doi. KONTRIBUSI GAYA MENGAJAR GURU TERHADAP PEMBENTUKAN POTENSI KOGNITIF DAN EMOSIONAL SISWA Suprih Hartanto t4t4nhartanto@gmail. Sekolah Tinggi Agama Islam MaAoarif Kendal Ngawi Abstract This study aims to examine how teachers' teaching styles contribute to enhancing students' learning motivation both cognitively and emotionally. Utilizing library research and content analysis methods, this study reviews various literature and previous research related to teaching styles and their impact on students. The findings indicate that participatory, communicative, and active teaching approaches such as problem-based learning, cooperative learning, and inquiry-based learning significantly enhance studentsAo critical thinking, creativity, and emotional balance. Effective teaching styles also foster a conducive learning climate, strengthen emotional regulation, empathy, and studentsAo selfconcept. Therefore, teaching strategies that holistically integrate cognitive and emotional aspects serve as a crucial foundation for creating transformative and sustainable education. Keywords: Teaching Style. Cognitive. Emotional PENDAHULUAN Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan proses interaksi antara guru dan Guru memiliki peran dalam memberikan stimulus dalam proses belajar, sehingga kondisi internal peserta didik juga turut terlibat. Sejauh mana seorang guru dapat mengubah lingkungan belajar menjadi menarik dan menantang, maka sejauh itu pula proses belajar mengajar berlangsung (Sandi. Amirudin, and Sitika 2. Kegiatan belajar dan pembelajaran pada intinya ditujukan untuk pembelajaran anak didik yang diorganisasikan oleh guru. Guru dan anak didik yang terliat dalam interaksi edukatif dalam suatu kegiatan pembelajaran yang harapannya siswa dapat terlibat aktif dan guru berperan sebagai motivator serta fasilitator (Johar. Hanum, and Zahara 2. Setiap guru tentunya memiliki gaya belajar masing-masing dan menjadi ciri khas dan keunikan dari seorang guru. Kemampuan tersebut seyogyanya harus dimiliki oleh seorang guru dalam menyampaikan materi yang diajarkan. Apabila hal terseut tidak dimiliki oleh seorang guru, maka akan terjadi kurangnya pemahaman peserta didik terkait materi yang disampaikan. Disamping itu, hal tersebut akan menjadikan peserta didik kurang tertarik dan kurang berekspolrasi bahkan tidak menyukai mata pelajaran tersebut. Pendidikan merupakan proses penting dalam membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional. Dalam proses ini, guru memegang peran sentral sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang mampu mengarahkan siswa dalam mengembangkan potensi mereka secara optimal. Salah satu aspek yang sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran adalah gaya mengajar guru, yang mencerminkan pendekatan, strategi, serta interaksi yang dibangun antara guru dan siswa di dalam kelas (Madhar 2. Vol. 12 No. 1 | 225 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Gaya mengajar yang efektif tidak hanya mampu meningkatkan potensi kognitif siswa, seperti kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan memahami materi, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan keseimbangan emosional, seperti rasa percaya diri, empati, dan regulasi emosi. Siswa yang mendapatkan stimulasi yang seimbang secara kognitif dan emosional cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi, serta mampu beradaptasi lebih baik dalam lingkungan sosial dan akademik (Arif Rahman and Aslamiah 2. Namun, kenyataannya di lapangan masih ditemukan ketimpangan dalam penerapan gaya mengajar. Banyak guru yang lebih menekankan aspek kognitif semata, dengan mengabaikan dimensi emosional yang juga krusial bagi perkembangan anak secara Padahal, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa suasana emosional yang kondusif dalam proses belajar-mengajar dapat memperkuat daya serap materi dan meningkatkan partisipasi aktif siswa. Adanya keterkaitan antara gaya mengajar guru dan motivasi belajar siswa yang ditandai dengan adanya proses interaksi dan pemberian motivasi bagi siswa oleh guru. Hal ini dilakukan dengan cara adanya kolaborasi antara guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran didalam kelas (Suciyati. Tahir, and Baik Niswatul Khair 2. Keterampilan mengajar sangat penting untuk dikuasai oleh seorang guru agar pembelajaran dapat menjadi suatu hal yang menarik dan menyenangkan siswa. Gaya mengajar yang interaktif dan bervariasi dapat berpengaruh dalam meningkatkan minat belajar siswa (Ilma Siti Salamah et al. Gaya mengajar guru memiliki dampak yang besar dalam motivasi belajar siswa. Gaya belajar yang monoton dan membosankan dapat menurunkan motivasi siswa, sedangkan gaya mengajar yang bervariasi dan menarik dapat meningkatkan motivasi siswa (Firlyaal Hanifah. Shintia Cahyati 2. Untuk mencapai kegiatan pembelajaran yang akan memberikan hasil yang optimal baik dari segi motivasi pembentukan kognitif dan emosional siswa, perlu ditekankan dengan adanya aktivitas kolaborasi dan kebersamaan antara guru dan peserta didik baik secara fisik, mental, intelektual maupun emosional. Berdasarkan kajian penelitian terdahulu yang telah diteliti, gaya belajar akan memberikan motivasi bagi siswa. Peneliti tertarik untuk mengkaji tentang bagaimana gaya belajar guru akan memberikan kontribusi dalam motivasi kognitif dan emosional bagi siswa. Sehingga kegiatan pembelajaran tidak hanya sebatas tujuan untuk memperoleh nilai namun juga motivasi siswa untuk aktif dalam kegiatan belajar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka . ibrary researc. Pada dasarnya studi kepustakaan ini menggunakan jurnal maupun artikel ilmiah, buku dan beberapa referensi yang memiliki kaitan dengan gaya belajar guru dalam meningkatkan motivasi kognitif dan emosional siswa. Selain itu dari hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan tema tersebut digunakan sebagai data pendukung yang kemudian dianalisis sedemikian rupa sehingga dapat memberikan informasi yang lebih bermakna(Raihan 2. Untuk menganalisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis isi . ontent analysi. Terdapat 2 tahap dalam analisis data: . analisis pada saat pengumplan data, yang ditunjukkan untuk lebih memperoleh informasi atu inti dari focus penelitian yang dilakukan melalui berbagai suber penelitian yang dikumpulkan. Vol. 12 No. 1 | 226 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam . setelah pengumpulan data selesai dilakukan, selanjutnya dari keseluruhan data dianalisis untuk menelaah data-data yang berkaitan dengan apa yang diteliti dan dapat menjawab persoalan yang dikaji dalam penelitian(Sulistiyo and Indonesia 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Gaya Mengajar dalam Pengembangan Potensi Kognitif Siswa Dalam dunia pendidikan gaya mengajar merupakan baian dari strategi yang dapatt diartikan sebagai perencanaan berkaitan dengan rangkaian kegiatan yang didesain untuk menapai tujuan pendidikan tertentu. Terdapat dua hal yang dapat dicermati, pertama strategi mengajar sebagai suatu tindakan yang menggunakan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya maupun kekuatan dalam pembelajaran. Kedua, yakni strategi yang disusun untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Wina Sanjaya Strategi pembelajaran yang dirancang untuk menstimulus kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif sangat penting dalam membentuk potensi kognitif siswa secara optimal. Guru sebagai fasilitator pembelajaran perlu mengembangkan pendekatan yang mendorong siswa untuk tidak sekadar menerima informasi secara pasif, tetapi juga mampu mengolah, mengevaluasi, dan mengembangkan ide-ide baru dari informasi yang diperoleh (Tanjung. Nasution. Gusmaneli 2. Pendekatan seperti pembelajaran berbasis masalah . roblem-based learnin. , diskusi kelompok, studi kasus, serta proyek kolaboratif terbukti efektif dalam mendorong siswa berpikir lebih mendalam dan kreatif. Melalui strategi ini, siswa diajak untuk mengidentifikasi permasalahan, menganalisis data, mengemukakan argumen logis, serta merumuskan solusi secara mandiri maupun kelompok(Hardeka and Nurlaili Guru yang mampu mengelola kelas dengan gaya mengajar yang terbuka, komunikatif, dan fleksibel cenderung lebih berhasil dalam menciptakan ruang belajar yang menumbuhkan daya nalar dan imajinasi siswa. Dengan demikian, gaya mengajar yang mendukung strategi pembelajaran aktif berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas kemampuan kognitif siswa di berbagai jenjang pendidikan. Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran merupakan salah satu indikator utama keberhasilan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan potensi kognitif dan emosional. Ketika siswa terlibat secara aktif, mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi subjek pembelajaran yang berpikir, bertanya, berdiskusi, dan menciptakan makna dari materi yang dipelajari. Gaya mengajar guru sangat menentukan tingkat partisipasi siswa dalam pembelajaran. Guru yang menerapkan pendekatan partisipatif dan dialogis, misalnya, cenderung lebih berhasil dalam membangun interaksi yang mendorong siswa untuk berpikir reflektif dan bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. Pembelajaran yang bermakna terjadi ketika siswa mampu mengaitkan materi dengan pengalaman, minat, serta konteks kehidupan nyata mereka. Oleh karena itu, gaya mengajar yang memberi ruang bagi eksplorasi ide, kerja kelompok, dan pemberian umpan balik yang membangun akan memperkuat keterlibatan siswa secara mental, emosional, dan sosial dalam kegiatan Vol. 12 No. 1 | 227 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Keterlibatan semacam ini menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter belajar yang mandiri, kritis, dan adaptif terhadap tantangan masa depan. Berbagai studi dan teori pendidikan menunjukkan adanya korelasi positif antara pendekatan pengajaran tertentu dengan peningkatan prestasi akademik siswa. Salah satu teori yang mendasari hal ini adalah teori Constructivism dari Jean Piaget dan Vygotsky yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh siswa melalui interaksi dengan lingkungan dan pengalaman belajar yang bermakna. Dalam konteks ini, pendekatan pembelajaran aktif seperti student-centered learning dan problem-based learning (PBL) telah terbukti meningkatkan pemahaman konseptual dan hasil belajar siswa(Suryana. Aprina, and Harto 2. Pembelajaran yang dilakukan aktif antara guru dan siswa secara signifikan meningkatkan retensi informasi dan pemahaman konsep dibandingkan dengan metode ceramah tradisional(Haryono et al. Disamping itu penelitian yang dilakukan oleh Linda Cahya di SDN Ngebruk Malang menunjukkan bahwa pendekatan interaktif berbasis inkuiri menghasilkan peningkatan prestasi yang jauh lebih tinggi daripada pembelajaran konvensional. Siswa lebih termotivasi secara emosional untuk belajar sehigga menghasilkan prestasi belajar yang diharapkan (Cahya 2. Hasil-hasil ini memperkuat argumen bahwa gaya mengajar guru yang menerapkan pendekatan konstruktivis, kolaboratif, dan reflektif memiliki dampak langsung terhadap hasil akademik siswa. Oleh karena itu, pemilihan gaya mengajar yang tepat dan berbasis pada teori pedagogis yang kuat menjadi kunci dalam menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan bermutu. Dampak Gaya Mengajar terhadap Keseimbangan Emosional Siswa Interaksi antara guru dan siswa merupakan fondasi utama dalam membangun iklim pembelajaran yang kondusif dan aman secara psikologis. Rasa aman ini tidak hanya berkaitan dengan ketertiban kelas, tetapi juga mencakup kenyamanan emosional yang memungkinkan siswa mengekspresikan diri tanpa rasa takut akan penilaian negatif (Firlyaal Hanifah. Shintia Cahyati 2. Dalam konteks ini, gaya komunikasi guru sangat menentukan. Komunikasi yang terbuka, hangat, dan menghargai partisipasi siswa menciptakan ruang belajar yang inklusif, di mana siswa merasa suaranya dihargai. Kepercayaan diri yang tumbuh dari pengalaman ini menjadi modal penting dalam mendorong keberanian siswa untuk mengemukakan ide, bertanya, serta mengambil risiko intelektualAisemua ini adalah indikator utama dari keterlibatan kognitif yang tinggi(Ginting et al. Kemajuan emosional anak menjadi perhatian utama dalam kajian psikologi Adanya regulasi emosi, empati serta konsep diri merupakan elemen penting perkembangan psikologis anak yang berperan dalam pembentukan interaksi social, motivasi belajar serta kesejahteraan mental. Regulasi emosi juga memungkinkan anak dapat mengelola perasaan seara adaptif, mengurasi stress serta dapat meningkatkan kemampuan dalam menghadapi tantangan akademik yang dan juga tantangan sosial. Lebih jauh, aspek empati dalam relasi guru-siswa menjadi komponen kunci dalam mendukung kesejahteraan emosional siswa. Guru yang mampu merespons kebutuhan emosional siswa secara sensitif dan konsisten akan lebih mudah membangun hubungan Vol. 12 No. 1 | 228 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam interpersonal yang kuat dan bermakna. Teori attachment dalam psikologi pendidikan menekankan bahwa hubungan emosional yang positif dengan guru dapat memengaruhi keterikatan siswa terhadap sekolah dan proses belajar secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, hubungan yang dibangun di atas dasar empati dan dukungan emosional ini berdampak pada pembentukan karakter sosial siswa, seperti kemampuan bekerja dalam tim, toleransi terhadap perbedaan, dan kepedulian sosial. Tidak kalah penting, gaya mengajar yang mengusung pendekatan humanistikAi yakni menempatkan siswa sebagai individu yang unik dan memiliki kebutuhan berbedaAijuga berkaitan erat dengan pengembangan kemampuan regulasi emosi. Ketika siswa merasa dihargai sebagai individu, mereka cenderung lebih mampu mengenali dan mengelola emosi secara sehat. Hal ini berkontribusi pada motivasi intrinsik, di mana dorongan belajar datang dari dalam diri siswa, bukan semata-mata karena tekanan eksternal seperti nilai atau hukuman. Dalam jangka panjang, hal ini membentuk ketahanan mental dan karakter belajar yang tangguh, yang sangat penting dalam menghadapi tantangan akademik maupun sosial(Firstisya et al. Empati sebagai kemampuan untuk memahami dan juga merasakan emos orang lain akan berperan penting bagi anak untuk membangun hubungan social yang sehat. Anak yang mampu mengembangkan empati yang dimiliki akan lebih mudah bekerja sama dengan teman sebaya dan dapat menghindari konflik social. Konsep diri yang positif dapat mempengaruhi motivasi dan kepercayaan diri anak dalam belajar. Pendekatan pendidikan yang menekankan pada aspek social emosional, seperti pembelajaran berbasis pengalaman, diskusi kelompok serta program intervensi psikososial dapat membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis anak (Sunarsih et Dengan demikian, interaksi guru-siswa yang dilandasi empati, komunikasi positif, dan pendekatan suportif tidak hanya berdampak pada dimensi akademik seperti prestasi belajar, tetapi juga memperkuat struktur kepribadian siswa secara menyeluruh. Temuan ini mempertegas pentingnya pelatihan profesional bagi guru yang tidak hanya berfokus pada aspek metodologis, tetapi juga pada kecakapan sosial dan emosional sebagai bagian integral dari kompetensi pedagogik. Dalam kerangka pendidikan abad ke-21, peran guru bukan sekadar penyampai informasi, melainkan sebagai arsitek hubungan yang memberdayakan dan membentuk masa depan peserta didik secara utuh. Strategi Mengintegrasikan Gaya Mengajar untuk Pembentukan Kognitif dan Emosional secara Holistik Dalam menghadapi kompleksitas tantangan pendidikan abad ke-21, pendekatan pembelajaran yang hanya menekankan pada aspek kognitif dinilai tidak lagi mencukupi. Siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai pengetahuan akademik, tetapi juga harus mampu berpikir kritis, bekerja dalam tim, mengelola emosi, serta beradaptasi secara Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang mengintegrasikan gaya mengajar secara holistik menjadi semakin penting. Guru harus mengadopsi peran sebagai fasilitator perkembangan utuh siswaAitidak hanya sebagai pengajar konten, tetapi juga sebagai pendamping dalam pertumbuhan psikososial mereka. Hal ini selaras dengan Vol. 12 No. 1 | 229 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner dan Emotional Intelligence dari Daniel Goleman, yang menekankan bahwa keberhasilan siswa dalam kehidupan tidak semata ditentukan oleh kecerdasan logis-matematis, tetapi juga oleh kecerdasan interpersonal dan intrapersonal (Rochaendi 2. Implementasi pendekatan aktif seperti project-based learning, cooperative learning, dan inquiry-based learning bukan sekadar alternatif metodologis, melainkan bagian dari transformasi peran guru dan siswa dalam proses pendidikan. Metodemetode ini memfasilitasi siswa untuk menjadi subjek belajar yang aktif, sambil menumbuhkan kerja sama sosial dan kepekaan emosional melalui interaksi antaranggota kelompok. Dalam konteks ini, gaya mengajar yang adaptif dan empatik memiliki kekuatan untuk menciptakan ruang belajar yang tidak hanya produktif secara akademik, tetapi juga aman secara emosional. Lingkungan yang suportif dan dialogis mendorong terbentuknya motivasi intrinsik, yang merupakan komponen penting dari keberlanjutan proses belajar sepanjang hayat . ifelong learnin. (Sudirman,et al,2. Lebih jauh, guru yang mampu membangun iklim kelas yang positif dan responsif terhadap keragaman individu memberikan kontribusi langsung terhadap pengembangan kepercayaan diri dan otonomi belajar siswa. Hal ini menuntut guru untuk memiliki kompetensi pedagogis yang terintegrasi dengan kecakapan sosialemosional, seperti kemampuan membina hubungan, mengelola konflik, dan memberikan penguatan positif. Maka dari itu, pelatihan guru seyogianya tidak hanya menitikberatkan pada penguasaan teknik mengajar, tetapi juga mencakup dimensi afektif dan relasional. Pendidikan guru yang menanamkan kesadaran akan pentingnya pendekatan holistik akan memperkuat kapasitas guru dalam menumbuhkan siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap berkontribusi dalam masyarakat sebagai individu yang sehat secara emosional dan sosial. Dengan demikian, strategi pengajaran yang mengintegrasikan aspek kognitif dan emosional bukan hanya menjadi tuntutan ideal, melainkan menjadi fondasi untuk menciptakan proses pendidikan yang berdaya transformasi. Penekanan pada keseimbangan keduanya menjadi kunci dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang dalam menghadapi kompleksitas sosial dan emosional kehidupan nyata. KESIMPULAN Gaya mengajar guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran, khususnya dalam membentuk motivasi kognitif dan emosional siswa. Gaya mengajar yang efektif dan variatif mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, serta aktif dalam proses belajar, sekaligus menciptakan lingkungan emosional yang aman dan suportif. Dengan pendekatan yang partisipatif, komunikatif, dan empatik, guru tidak hanya meningkatkan prestasi akademik siswa, tetapi juga membangun karakter dan keseimbangan emosi yang kuat. Integrasi antara strategi pengajaran kognitif dan emosional secara holistik menjadi kebutuhan mendesak dalam pendidikan abad ke-21. Guru diharapkan mampu berperan sebagai fasilitator perkembangan utuh siswaAisecara intelektual, sosial, dan emosional. Oleh karena itu, pelatihan dan pengembangan kompetensi guru harus mencakup aspek Vol. 12 No. 1 | 230 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam pedagogik, afektif, dan relasional secara seimbang agar mampu menciptakan proses pembelajaran yang transformatif. Dengan gaya mengajar yang adaptif dan berbasis pada pemahaman terhadap kebutuhan siswa, maka pendidikan akan menjadi proses yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk pribadi siswa yang mandiri, tangguh, dan siap menghadapi tantangan kehidupan secara utuh. Vol. 12 No. 1 | 231 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam DAFTAR PUSTAKA