Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Devi-Ade_Jul. PERBANDINGAN KUAT TEKAN BETON ANTARA PENGGUNAAN AGREGAT GUNUNG JEBROD DENGAN AGREGAT SUNGAI CISOKAN Devi Setiawan1, dan Ade Subhan2 1Prodi Teknik Sipil. Universitas Suryakancana. Jl. Pasirgede Raya. Bojongherang. Kec. Cianjur. Kabupaten Cianjur. Jawa Barat 43216 Email korespondensi: devift@unsur. 1Prodi Teknik Sipil. Universitas Suryakancana. Jl. Pasirgede Raya. Bojongherang. Kec. Cianjur. Kabupaten Cianjur. Jawa Barat 43216 Email : adesubhan@yahoo. ABSTRAK Penelitian ini merupakan studi eksperimental agregat dengan berbeda tempat pengambilan material . Adapun cara yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan membuat benda uji ukuran 15 x 15 x 15 cm kubus dan 15 x 30 cm silinder dengan kuat tekan rencana 22,5 MPa, 25 MPa dan 27,5 MPa. Hasil pengujian kuat tekan rata-rata untuk beton dengan menggunakan agregat ext. Gunung Jebrod adalah fAoc 22,5 MPa sebesar 20,96 MPa, fAoc 25 Mpa sebesar19,53 MPa dan fAoc 27,5 MPa sebesar 21,13 Mpa. Sedangkan kuat tekan rata-rata untuk beton dengan menggunakan agregat ext. Sungai Cisokan adalah fAoc 22,5 MPa sebesar 18,62 MPa, fAoc 25 MPa sebesar 19,08 MPa dan 27,5 MPa sebesar 16,07 MPa. Gradasi agregat kasar ext. Gunung Jebrod cenderung seragam dan permukaan kasar dibandingkan dengan agregat ext. Sungai Cisokan yang mempunyai permukaan cenderung bulat dan licin sehingga mengakibatkan hasil uji tekan nilai beton dengan agregat ext. Gunung Jebrod memiliki kuat tekan yang lebih besar 11,14 % untuk fAoc 22,5 MPa, 2,32 % untuk fAoc 25 Mpa dan 23,94 % untuk fAoc 27,5 Mpa dibanding dengan penggunaan agregat ext. Sungai Cisokan Kata kunci: Beton. Kuat Tekan, mix design, quarry ABSTRACT This research is an experimental study with a different place of extraction of aggregate materials . As for how that will be done in this research is to create a test specimen size of 15 x 15 x 15 cm cube and 15 x 30 cm cylinder with a plan compressive strength of 22. MPa, 25 MPa and 27. 5 MPa. The test results an average compressive strength of concrete by using aggregate ext. Mount Jebrod is f'c 22. 5 MPa of 20. 96 MPa, fAoc 25 MPa of 19,53 MPa and f'c 27. 5 MPa of 21. 13 MPa. While the average compressive strength of concrete by using aggregate ext. Cisokan river is 22. 5 MPa f'c of 18. 62 MPa, fAoc 25 MPa of 19. 08 MPa and 27. MPa of 16. 07 MPa. Coarse aggregate gradation ext. Mount Jebrod tend to be uniform and rough surface compared to the aggregate ext. Cisokan river that has a round and smooth surface tends resulting compression test results of concrete with aggregate value ext. Mount Jebrod has a compressive strength greater f'c 11. 14% to 22. 5 MPa, 2. 32% for f'c 25 MPa and 94% for f'c 27. 5 MPa compared with the use of aggregate ext. River Cisokan. Keywords: Concrete. Compressive Strength, mix design, quarry PENDAHULUAN Sifat-sifat dan karakteristik material penyusun beton akan mempengaruhi kinerja dari beton. Hal yang utama yaitu beton harus mencapai kuat tekan yang direncanakan, karena kuat tekan beton dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya dari agregat kasar dan agregat halus yang digunakan sebagai unsur penyusun beton . Dalam penelitian ini agregat kasar dan 125 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Devi-Ade_Jul. 2022 agregat halus yang digunakan yaitu diambil dari Gunung Jebrod dengan split dipecah mesin/stone crusher dan agregat kasar, halus di ambil dari sungai Cisokan dengan split dipecah manual mengandalkan tenaga Dari penelitian antara kedua split tersebut baik yang dipecah secara manual maupun menggunakan mesin pemecah mungkin nantinya akan menghasilkan suatu nilai perbandingan terhadap kekuatan mutu beton yang dihasilkan . TINJAUAN PUSTAKA Beton merupakan campuran homogen antara semen, air dan agregat. Karakteristik beton adalah tegangan hancur tekan yang tinggi serta tegangan hancur tarik yang rendah . Beton dihasilkan dari sekumpulan interaksi mekanis dan kimia sejumlah material pembentuknya. DPULPMB memberikan definisi tentang beton sebagai campuran antara semen portland atau semen hidrolik yang lainnya, agregat halus, agregat kasar, dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan membentuk masa padat . Agregat adalah butiran mineral yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar dan beton. Klasifikasi agregat berdasarkan diameter adalah didasarkan atas suatu pemeriksaan yang dilakukan dengan menggunakan ayakan dengan besar lubang yang telah ditentukan. Agregat halus berdasarkan diameter terbagi Agregat halus Agregat halus adalah agregat yang semua butirannya lolos saringan 4,8 Agregat halus digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu: Pasir galian Pasir galian dapat diperoleh langsung dari permukaan tanah, atau dengan cara menggali dari dalam Pasir ini pada umumnya tajam, bersudut, berpori, dan bebas dari kandungan garam yang Namun karena pasir ini diperoleh dengan cara menggali, maka pasir ini sering bercampur dengan kotoran atau tanah, sehingga harus dicuci terlebih dahulu sebelum digunakan. Pasir sungai Pasir sungai diperoleh langsung dari dasar sungai. Pasir sungai pada umumnya berbutir halus dan berbentuk bulat karena proses gesekan yang terjadi. Pasir laut Pasir laut adalah pasir yang diambil dari pantai. Bentuk butirannya halus dan bulat karena proses gesekan. Pasir jenis ini banyak mengandung garam, oleh karena itu kurang baik untuk bahan bangunan. Garam yang kandungan air dari udara, sehingga mengakibatkan pasir selalu agak basah, dan juga menyebabkan pengembangan setelah bangunan selesai dibangun. Oleh karena itu sebaiknya pasir jenis ini tidak digunakan untuk bahan bangunan. Agregat kasar Agregat disebut agregat kasar apabila ukurannya sudah melebihi A inch . Sifat agregat kasar mempengaruhi kekuatan akhir beton keras dan daya tahannya terhadap disintegrasi beton, cuaca dan efek-efek perusak lainnya. Agregat kasar ini harus bersih dari bahan-bahan organik dan harus mempunyai ikatan yang baik dengan sel semen. Jenis -jenis agregat kasar adalah: Batu pecah alami Bahan ini didapat dari cadas atau batu pecah alami yang digali. Batu ini dapat berasal dari gunung api, jenis sedimen atau jenis metamorf. Meskipun kekuatan yang tinggi terhadap mcmberikan kemudahan pengerjaan dengan jenis agregat kasar lainnya. 126 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Devi-Ade_Jul. 2022 Kerikil alami Kerikil ini didapat dari proses alami yaitu dari pengikisan tepi maupun dasar sungai oleh air sungai yang Kerikil kekuatan yang lebih rendah dari pada batu pecah, tetapi memberikan kemudahan pengerjaan yang lebih Agregat kasar buatan Terutama berupa slag atau shale yang bisa digunakan untuk beton Biasanya merupakan hasil dari proses lain seperti dari blast-furnace dan lain-lain. Agregat untuk pelindung nuklir dan berbobot berat Dengan adanya tuntutan yang spesifik pada jaman atom sekarang ini, juga untuk pelindung dari radiasi nuklir sebagai akibat dari semakin banyaknya pcmbangkit atom dan stasiun tenaga nuklir, maka perlu ada beton yang dapat melindungi dari sinar x, sinar gamma dan Parameter-parameter mempengaruhi kualitas beton Untuk mencapai kondisi yang baik untuk mutu beton, harus ada kontrol kualitas yang baik. Parameter-parameter yang paling penting adalah: Kualitas semen. Proporsi semen terhadap air dalam Kekuatan dan kebersihan agregat. Interaksi atau adhesi antara pasta semen dan agregat. Pencampuran yang cukup dari bahanbahan pembentuk beton. Penempatan yang benar, penyelesaian dan kompaksi beton segar. Kandungan klorida tidak melebihi 0,15% dalam beton ekspos dan 1% untuk beton terlindung Sifat beton yang baik adalah jika beton tersebut memiliki kuat tekan tinggi . MPa, pada umur 28 har. Dengan kata lain dapat diasumsikan bahwa mutu beton hanya ditinjau dari kuat tekannya saja (Tjokrodimuljo, 1. Faktor-faktor kekuatan beton yaitu: Faktor air semen (FAS) Di dalam campuran beton, air mempunyai dua buah fungsi. Fungsi pertama untuk memungkinkan reaksi kimia yang menyebabkan pengikatan Sedangkan fungsi kedua sebagai pelicin campuran kerikil, pasir dan semen agar lebih mudah dalam pencetakan beton. Umur beton Kuat tekan beton akan bertambah sesuai dengan bertambahnya umur beton Perbandingan kuat tekan beton pada berbagai umur dapat dilihat pada SNI 03-1974-1990. Jenis dan jumlah semen Jenis semen berpengaruh terhadap kuat tekan beton, sesuai dengan tujuan Jenis-jenis sesuai dengan SK. SNI. M-106-1990-30. Mutu bahan-bahan dasar Mutu bahan-bahan dasar adalah hal yang paling penting sebab walaupun beton itu dikerjakan dengan baik akan tetapi mutu bahan-bahan dasar kurang baik maka akan menghasilkan beton yang kurang baik pula. Untuk itu diperlukan pemeriksaan mutu bahanbahan dasar di laboratorium. Pemeliharaan Setelah dilakukan pengecoran, perlu diadakan pemeliharaan untuk menjaga agar beton tetap jenuh sampai air yang mengisi pasta semen cukup untuk menghasilkan hidrasi dan tidak sempat untuk menguap. Pemeliharaan beton dapat dilakukan dengan menggenangi permukaan beton dengan air atau menggunakan karung basah. 127 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Devi-Ade_Jul. 2022 Ukuran agregat maksimum yang digunakan 40 mm. Penelitian tidak memperhitungkan kadar lumpur dan kadar organik Pengujian kuat tekan benda uji dilakukan pada umur 28 hari. DISKUSI DAN PEMBAHASAN Pengujian analisa saringan agregat halus dan kasar SNI 03-1968-1990 . Dari pengujian yang dilakukan didapat gradasi material agregat halus dan kasar Agregat halus . asir ext. Gunung Jebro. Hasil menunjukkan bahwa agregat halus pasir gunung dari Jebrod mempunyai gradasi kasar karena lebih mendekati ke zona I tetapi tidak masuk spesifikasi dengan modul halus butir (MHB) yaitu Hasil analisa saringan menunjukkan bahwa agregat kasar / kerikil gunung Jebrod tidak masuk spesifikasi gradasi 38-4,76 dengan modul halus butir (MHB) yaitu 7. Agregat Halus Ext. Gunung Jebrod lolos saringan (%) METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metodologi eksperimental dengan pengujian bahan agregrat pembuat yang dilakukan di laboratorium Prodi Teknik Sipil Universitas Suryakancana. Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini direncanakan pengujian kuat tekan beton ini untuk pembangunan jalan yaitu Perkerasan Kaku (Rigid Pavemen. Metode penelitian mengacu pada: SNI 03-1968-1990, pengujian analisa saringan agregat halus dan kasar SNI 03-1969-1990, pengujian berat jenis dan penyerapan agregat kasar SNI 03-1970-1990, pengujian berat jenis dan penyerapan agregat halus SNI 03-1971-1990, pengujian kadar air SNI 03-2417-1991, pengujian keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles SK. SNI. 15-1990-03, metode perancangan campuran beton berupa aplikasi SNI 03-2834-1993, tata cara pembuatan rencana campuran beton normal SNI 03-1972-1990, pengujian slump SNI 03-1974-1990. Pengujian kuat tekan Data teknis campuran beton: Dengan Kuat tekan rencana beton normal fAoc 22,5 Mpa,fAoc 25 Mpa dan fAoc 27,5 Mpa. Bahan yang digunakan adalah semen portland tipe 1 (Tiga Rod. Air yang digunakan diambil dari Fakultas Teknik Universitas Suryakancana yang bersumber dari air PDAM. Agregat kasar dan agregat halus yang digunakan diambil dari Gunung Jebrod Kecamatan Cilaku dan Sungai Cisokan Kecamatan Sukaluyu Cianjur. Benda uji kubus . x 15x . cm3 dan silinder diameter 15 cm tinggi 30 cm. Nilai slump campuran beton adalah 10 A 2 cm. Maksimum Diameter ayakan . Minimum Lolos Saringan Gambar 1. Agregat Halus (Pasir Gunun. Gradasi Kasar Sumber: Hasil Pengujian 128 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Devi-Ade_Jul. 2022 Agregat kasar . - 4,. Lolos saringan (%) Lolos saringan (%) Agregat kasar (Keriki. Ext. Sungai Cisokan . Diameter ayakan . Makimum Minimum Diameter ayakan . Lolos Saringan Gambar 2. Agregat Kasar (Keriki. Ext. Gunung Jebrod . Ae 4,. Maksimum MInimum Lolos Saringan Gambar 4. Agregat Kasar (Keriki. Ext. Sungai Cisokan . Ae 4,. Sumber: Hasil Pengujian Sumber: Hasil Pengujian Pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat kasar SNI 03-1969-1990 . Agregat Kasar (Keriki. Ext. Gunung Jebrod Agregat halus . asir ext. Sungai Cisoka. Hasil analisa saringan menunjukkan bahwa agregat halus . Sungai Cisokan mempunyai gradasi kasar karena mendekati zona I tetapi tidak sesuai spesifikasi dengan Hasil analisa saringan agregat halus pasir ext. Sungai Cisokan maka didapat modulus halus butiran (MHB) yaitu Hasil analisa saringan menunjukkan bahwa agregat kasar ext. Sungai Cisokan tidak masuk spesifikasi gradasi 38-4,76 Hasil analisa saringan agregat halus pasir ext. Sungai Cisokan maka didapat modulus halus butiran (MHB) yaitu: 7. Agregat Halus (Pasi. Ext. Sungai Cisokaan lolos saringan (%) Tabel 1. Perhitungan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar ext. Gunung Jebrod. BERAT Berat benda uji kering oven (BK) = 4980 gr Berat benda uji kering permukaan jenuh(BJ) = 5057 gr Berat benda uji didalam air (B. = 3112 gr PERHITUNGAN Berat yaAya 2,560 yaAya Oe yaAyca Berat yaAyc 2,600 yaAya Oe yaAyca Berat yaAya = yaAya Oe yaAyca 2,666 Penyerapan = yaAya Oe yaAyco 1,546 yaAyco . y 100 Sumber: Hasil Penelitian Diameter ayakan. Series1 Minimum Lolos Saringan Gambar 3. Agregat Halus (Pasi. Ext. Sungai Cisokan Gradasi Kasar Sumber: Hasil Pengujian 129 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Devi-Ade_Jul. 2022 Agregat Kasar (Keriki. Ext. Sungai Cisokan Penyerapan . Oe yaAyc. yaAyco 1,133 Sumber: Hasil Penelitian Tabel 2. Perhitungan Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Kasar Ext. Sungai Cisokan BERAT Berat benda uji kering oven (BK) = 4970 gr Berat benda uji kering permukaan jenuh(BJ) = 5042 gr Berat benda uji didalam air (B. = 3100 gr PERHITUNGAN Berat yaAya 2,559 yaAya Oe yaAyca Berat yaAyc 2,596 yaAya Oe yaAyca Berat yaAya = yaAya Oe yaAyca 2,657 Penyerapan = yaAya Oe yaAyco 1,449 yaAyco . y 100 Sumber: Hasil Penelitian Pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat halus SNI 03-1970-1990 . Agregat Halus . Gunung Jebrod Tabel 3. Perhitungan Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Halus Ext. Gunung Jebrod BERAT Berat benda uji kering permukaan jenuh (SSD) Berat benda uji kering oven (BK) Berat piknometer diisi air AC) (B) Berat piknometer benda uji (SSD) air . AC) (B. PERHITUNGAN yaAyco Berat = yaA Oe 500 Oe yaAyc = . Berat = yaA 500 Oe yaAyc = Berat yaAyco = yaA yaAyco Oe yaAyc = . Agregat Halus . Sungai Cisokan Tabel 4. Perhitungan Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Halus Ext. Sungai Cisokan BERAT Berat benda uji kering permukaan jenuh (SSD) Berat benda uji kering oven (BK) Berat piknometer diisi air AC) (B) Berat piknometer benda uji (SSD) air . AC) (B. PERHITUNGAN yaAyco Berat = yaA Oe 500 Oe yaAyc = . Berat = yaA 500 Oe yaAyc = Berat yaAyco = yaA yaAyco Oe yaAyc = . Penyerapan = . Oe yaAyc. yaAyco . 2,469 2,541 2,660 2,902 Sumber: Hasil Penelitian Pengujian kadar air agregat SNI 03-19711990 . Agregat kasar (Keriki. Gunung Jebrod Tabel 5. Perhitungan Kadar Air Agregat Kasar Ext. Gunung Jebrod Agregat Kasar Bahan Talam (W. 2,638 Bahan Talam Bahan Basah (W. 2,668 Bahan Talam Bahan Kering (W. Berat Air (W. Berat Benda Uji Kering (W. 2,719 130 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Devi-Ade_Jul. 2022 Kadar Air KA = (W4 / W. *100 0,35 Tabel 8. Perhitungan Kadar Air Agregat Halus Ext. Sungai Cisokan Sumber: Hasil Penelitian Agregat Halus Agregat Halus (Pasi. Gunung Jebrod Tabel 6. Perhitungan Kadar Air Agregat Halus . Ext. Gunung Jebrod Agregat Halus Bahan Talam (W. Bahan Talam Bahan Basah (W. Bahan Talam Bahan Kering (W. Berat Air (W. Bahan Talam (W. Bahan Talam Bahan Basah (W. Berat Benda Uji Kering (W. Bahan Talam Bahan Kering (W. Kadar Air KA = (W4 / W. *100 Sumber : Hasil Penelitian Berat Air (W. Berat Benda Uji Kering (W. Kadar Air KA = (W4 / W. *100 2,52 Sumber : Hasil Penelitian Agregat kasar (Keriki. Sungai Cisokan Tabel 7. Perhitungan Kadar Air Agregat Kasar Ext. Sungai Cisokan Agregat Kasar Pengujian keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles SNI 03-24171991 . Agregat Kasar (Keriki. Gunung Jebrod Dari hasil pengujian keausan agregat kasar dengan menggunakan mesin Los Angeles diperoleh sebagai berikut: Tabel 9. Hasil Pengujian Agregat Kasar Ext. Gunung Jebrod dengan Mesin Abrasi Los Angeles Bahan Talam (W. Bahan Talam Bahan Basah (W. Berat Awal . Bahan Talam Bahan Kering (W. Berat Air (W. Berat Benda Uji Kering (W. Kadar Air KA = (W4 / W. *100 0,72 (Pasi. Sungai Tertahan Saringan No. yeCOeyeE y yayaya (%) Sumber: Hasil Penelitian Agregat Kasar (Keriki. Sungai Cisokan Dari hasil pengujian keausan agregat kasar dengan menggunakan mesin Los Angeles diperoleh sebagai berikut: Sumber : Hasil Penelitian Agregat Halus Cisokan 131 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Devi-Ade_Jul. 2022 Tabel 10. Hasil Pengujian Agregat Kasar Sungai Cisokan dengan Mesin Abrasi Los Angeles Berat Awal . Tertahan Saringan No. yeCOeyeE y yayaya (%) Sumber : Hasil Penelitian SNI 03-1974-1990 pengujian kuat tekan Pengujian kuat tekan beton dengan SNI 031974-1990 Pengujian kuat tekan beton . dilakukan untuk mengetahui kekuatan beton menerima gaya tekan. Kuat tekan beton yang direncanakan adalah 22,5 MPa, 25 MPa dan 27,5 MPa dengan masingmasing benda uji kubus ukuran normal . cm x 15 cm x 15 c. dan benda uji silinder ukuran normal . iameter 15 cm dan tinggi 30 c. Perbandingan kuat tekan beton antara Penggunaan Agregat ext. Gunung Jebrod dengan ext. Sungai Cisokan ditunjukan dalam tabel tabel 11. Tabel 11. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Kuat Tekan Beton pada Umur 28 Hari Penggunaan Agg. Ext. Gunung Jebrod Penggunaan Agg. Ext. Sungai Cisokan Kuat Tekan (MP. Kuat Tekan (MP. 19,48 15,32 22,46 18,26 18,58 14,05 19,61 16,54 18,80 20,52 11,86 16,75 20,42 15,51 18,98 20,03 16,44 18,88 20,93 15,74 22,29 17,12 19,85 16,08 18,26 19,09 21,39 10,74 18,03 17,57 25,27 21,36 19,83 16,76 25,02 19,92 23,26 23,96 19,97 22,60 18,19 11,48 18,90 24,95 19,71 20,30 20,23 18,17 22,49 23,29 26,73 21,29 23,49 11,75 Jum No. Penggunaan Agg. Ext. Gunung Jebrod Penggunaan Agg. Ext. Sungai Cisokan Kuat Tekan (MP. Kuat Tekan (MP. Rat P. 20,96 19,53 21,13 18,62 19,08 16,07 Seli (%) 11,14 2,32 23,94 No. Sumber : Hasil Penelitian KESIMPULAN Penelitian pelaksanaan dan data penelitian yang diperoleh serta teori-teori yang berkaitan dengan pengujian beton Standar Nasional Indonesia (SNI). Berdasarkan hasil pengujian analisis terhadap kuat tekan dari beton dengan agregat Gunung Jebrod dan Sungai Cisokan dengan mutu beton 22,5 MPa, 25 MPa dan 27,5 MPa, dapat diambil kesimpulan bahwa: Dengan menggunakan Agregat gunung Jebrod kuat tekan rata-rata yang dihasilkan untuk fc 22,5 MPa adalah sebesar 20,96 MPa, fc 25 MPa adalah sebesar 19,53 MPa dan fc 27,5 MPa adalah sebesar 21,13 MPa. Dengan menggunakan Agregat Sungai Cisokan kuat tekan rata-rata yang dihasilkan untuk fc 22,5 MPa adalah sebesar 18,62 MPa, fc 25 MPa adalah sebesar 19,08 MPa dan fc 27,5 MPa adalah sebesar 16,07 MPa. Berdasarkan mix design banyak fraksi agregat kasar yang digunakan yaitu sebesar 63 % untuk agregat gunung Jebrod dan 62 % untuk agregat sungai Cisokan Berdasarkan hasil uji abrasi dengan mesin Los Angeles diketahui agregat kasar gunung Jebrod 15,4 %, sedangkan agregat sungai Cisokan 21,8 % sehingga lebih aus. 132 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Devi-Ade_Jul. 2022 Karena nilai deviasi standar tidak ada maka digunakan margin . = 12 MPa. Sehingga kuat tekan rata-rata yang direncanakan . AoAoc. = fAoc m Kuat tekan karakteristik beton yang dihasilkan dari proses penelitian dengan menggunakan agregat dari gunung Jebrod dan dari sungai Cisokan pada beton, pada umumnya semua tidak mencapai mutu beton rencana yang telah ditetapkan. Banyak faktor yang Adanya rongga-rongga pada beton karena kurangnya pemadatan pada saat membuat benda uji Terjadinya material tidak homogen Agregat kasar yang terlalu aus, sehingga mempengaruhi kekuatan Bentuk cenderung bulat dan ber tekstur licin sehingga mempengaruhi daya ikat semen Adanya penambahan air pada setiap pengaruh mixing concrete yang kurang memadai Dari perhitungan, kuat tekan rata-rata yang direncanakan tidak tercapai, karena berdasarkan hasil analisa saringan . ihat tabel dan grafik 4. sampai dengan tabel dan grafik 4. untuk agregat kasar dan agregat halus menunjukkan tidak masuk spesifikasi seluruhnya,sehingga terhadap kuat tekan. Dari tabel 4. 51 diperoleh selisih kuat tekan beton antara penggunaan agregat gunung Jebrod dengan agregat sungai Cisokan sebagai berikut : Untuk fAoc 22,5 MPa sebesar 11,14 % Untuk fAoc 25 MPa sebesar 2,32 % Untuk fAoc 27,5 MPa sebesar 23,94 %. Badan Standardisasi Nasional. AuSK. SNI. 15-1990-03, Metode perancangan campuran beton. Ay 1990. Badan Standardisasi Nasional. AuSNI 03-1968-1990, pengujian analisa saringan agregat halus dan kasaro Title. Ay 1990. Badan Standardisasi Nasional. AuSNI 03-1969-1990, pengujian berat jenis dan penyerapan agregat kasar. Ay 1990. Badan Standardisasi Nasional. AuSNI 03-1971-1990, pengujian kadar air Ay 1990. Badan Standardisasi Nasional. AuSNI 03-1974-1990. Pengujian kuat tekan Ay 1990. Badan Standardisasi Nasional. AuSNI 03-2417-1991,Metode Pengujian Keausan Agregat Dengan Mesin Abrasi Los Angeles. Ay 1991. Herwansyah. Andi. AuPerbandingan Penggunaan Split Yang Dipecah Secara Manual Dengan Split Yang Dipecah Menggunakan Mesin Pemecah Sebagai Agregat Kasar Pada Beton,Ay 2011. TJOKRODIMULJO. Teknologi Beton : Buku Ajar. Fak. Teknik UGM, 1992. Mulyono. AuTeknologi Beton. Yogyakarta,Ay Penerbit Andi, hal. DAFTAR PUSTAKA