JURNAL RUPA VOL 8 NO 1 2023 DOI address: https://doi. org/10. 25124/rupa. Kajian Nilai Estetis Desain Motif Sulaman Benang Emas dan Nilai Fungsi Banta Gadang pada Pelaminan Minangkabau Yuliarma1*. Yesi Novita Sari2 Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga `Universitas Negeri Padang. Padang. Indonesia Abstract Gold thread embroidery is one of the techniques in decorating fabrics using gold threads with motifs and ornamental varieties adapted to the area where the embroidery is made, one of which is in the West Sumatra Decorative products with gold thread embroidery function as decoration, one of which is on the aisle in Minangkabau, namely on the aisle pillow called bantagadang. The purpose of this study aims to describe . aesthetic value, . motif design and . functional value of banta gadang in Minangkabau aisle. this research method uses qualitative descriptive method. Data were collected through observation, interviews and The results of this study found . the aesthetic value of the design of gold thread embroidery motifs on banta gadang illustrates community relations and agility in living life. the design of the motifs contained in the gold thread embroidery on banta gadang are aka cino, saik galamai, managun squirrel and sunflower motifs. the value of the banta gadang function in the aisle used to function as a place to put traditional clothes located on the side of the groom. Keywords meaning and symbol, embroidery decoration. Nagari Saniangbaka Yuliarma Email yuliarmaincim@yahoo. Address Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga Fakultas Pariwisata Dan Perhotelan Universitas Negeri Padang Kajian Nilai Estetis Desain Motif Sulaman Benang Emas dan Nilai Fungsi Banta Gadang Pada Pelaminan Minangkabau Yuliarma & Yesi Novita Sari PENDAHULUAN Sulaman adalah teknik menghias latar kain dengan cara menjahitkan benang secara dekoratif. Pengertian lain mengatakan, menyulam adalah proses pembuatan corak pada permukaan kain dengan benang berwarna melalui alat-alat seperti jarum, gunting dan bingkai (Yusuf Affendi. Sedangkan sulaman benang emas adalah teknik menghias kain yang dilakukan dengan cara melekatkan benang pada motif berbentuk garis yag berkesinambungan secara dekoratif, sehingga menghasilkan nilai estetis. Benang yang digunakan dapat berukuran tebal atau AukoordAy dan dapat juga menggunakan ukuran tali atau benang yang halus. Sulaman benang emas merupakan ragam hias yang dibuat pada kain tennunan polos dengan cara menempelkan benang emas dengan tusuk balut, motif yang digunakan adalah motif naturalis dan motif dekoratif yang berbentuk garis yang bersambung-sambung (Wildati, 2. Provinsi Sumatera Barat merupakan suatu daerah yang kaya akan potensi kerajinan, salah satunya kerajinan sulaman benang emas yang terdapat di daerah saniangbaka kabupaten solok, naras pariaman, sungayang dan lubuk begalung padang Yuliarma, 2. Masing-masing daerah yang menghasilkan sulaman benang emas memiliki keunikan tersendiri dalam menciptakan disain ragam hias motif, warna dan teknik hias. Artinya, dalam mengungkapkan seni hias pada seperangkat kain busana adat yang disulam, tidak semua teknik dapat terwujud sama namun berbeda menurut fungsi dan daerah asal budaya pembuatnya. Misalnya perbedaan dalam menciptakan sulaman pada disain busana adat untuk pengantin, untuk penghulu, dan bundo kanduang serta pelaminan dibeberapa daerah di Minangkabau. Perbedaan tradisi itu disebabkan antara lain dari pengaruh latar belakang seni budaya dan perkembangan Masyarakatnya yang berbeda dalam menciptakan karya seni disain tersebut. Sekarang ini sulaman benang emas Minangkabau telah berkembang menjadi industry kerajinan yang popular dan kompetensi inti di sentra-sentra industry kerajinan di hampir seluruh Kabupaten/ Kota di Sumatera Barat. Salah satunya di saniangbaka Kabupaten Solok (Yuliarma, 2. Didaerah saniangbaka sulaman benag emas berfungs untuk menghias kain-kain pelaminan yang digunakan dalam upacara adat, seperti garedeang, tabie, tirai langik-langik, tirai duluang, dalamak, yirai carano. Kampia siriah, kasua gabayo, dan banta gadang. Dalam kondisi global sekarang ini, sulaman benang emas saniangbaka tidak berkembang . Produktivitas menurun, tenaga penyulam sulit didapat karena banyak beralih menjadi pembordir, pekerja atau melanjutkan sekolah. Kondisi meningkatnya perkembangan Teknologi bordir yang beragam, sehingga berakibat sulaman benang emas saniangbaka khususnya pada pelaminan kehilangan jati diri, baik karakteristik disain maupun mutu. Misalnya sulaman benang emas yang biasa dikerjakan dengan tangan, lalu berubah dikerjakan dengan mesin bordir dan bahan benang emas diganti dengan lame. Meskipun motifnya sama, namun tampilan estetis dan karakteristik disain motif produk menjadi berubah. Jika kondisi ini dibiarkan, sangat mengkhawatirkan sulaman benang emas tradisonal Minangkabau terancam punah akibat perkembangan Teknologi, mode dan pengaruh global (Yuliarma, 2003 dan 2008, 2. Karena itu penelitian sulaman benang emas tradisional Minangkabau penting dilakukan. Pada penelitian ini penulisan tetang sulaman benang emas tradisional Minangkabau yang menjadi sasaran adalah karakteristik sulaman benang emas di daerah saniangbaka Kabupaten Solok pada produk banta gadang pelaminan Minangkabau di daerah saniangbaka. Selanjutnya hal yang sangat memperkuat pentingnya penelitian ini dilakukan mengingat belum adanya informasi tertulis yang komprehensif mengenai perbedaan karakteristik disain motif, warna dan teknik sulaman benang emas tradisional Minangkabau menjadikan masyarakatnya kurang mengenal karakter seni budayanya sendiri (Yuliarma, 2008, 2. Sebagian sulaman tradisional sudah sulit ditemi, bahkan pembuat motif tradisional disentra-sentra sudah mulai langka. demikian juga dengan Sementara ituu seiring dengan globalisasi, karakter sulaman dan border dengan bragam produk dari Cina. Turki dan dari negara lainnya datang bersaing dengan bermacam Teknologi yang Yuliarma. Yesi Novita Sari karena itu agar tidak hilang salah satu asset budaya Indonesia yang sangat digemari pada masa lalu, maka perlu diteliti dengan cara inventarisasi dan analisis motif, warna, dan pola hias yang menjadi karakterisitik seni budaya Minangkabau. Permasalahan lain yang harus disikapi segera adalah kekayaan aneka disain sulaman benang emas tradisional Minangkabau, adalah antisipasi kita dalam perlindungan hak cipta (HKI), sehingga kasus pematenan budaya yang selama ini menjadi ciri khasi masyarakt Indonesia elah dipatenkan oleh negara lain dapat dihindari (Balitbang, 2. Karena itu penelitian ini sangat perlu dilakukan. Pada penelitian ini penulis memfokuskan untuk meneliti disain motif ragam hias sulaman benang emas tradisional pada banta gadang dimana komponen tersebut masih mempertahankan ragam hias dengan ciri khasnya menggunakan sulaman benang emas dengan memakai kaca pada Karena nilai estetis viualnya yang tinggi. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan bundo kanduang di saniangbaka sulaman benang emas yang menggunakan cermin dan kaca adalah budaya turun menurun. Selain itu produk sulaman benang emas lainnya memakai cermin kaca yaitu banta gadang, dalamak, dan tirai langik-langik. Secara visual sulaman benang emas dengan memakai kaca bernilai estetis tinggi. Hal ini dinyatakan oleh(Hayati, 2. motif sulaman benang emas yang menggunakan kaca dan cermin yaitu pada tiraitirai lagik-langik, banta gadang, tabir dan dalamak. Dan Wahyuni 2015 bahwa sulaman benang emas yang menggunakan kaca dan cermin ditemukan pada tirai langit, banta gadang, tabir, dan dalamak. Nilai estetis visual yang dilihatkan pada produk banta gadang juga tampak pada penempatan motif ragam hias, bentuk motif dan teknik menyulam. Sehingga menghasilkan komposisi yang menarik. juga penempatan hiasan disesuaikn dengan disain strukturnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Yasnidawati, 2. bahwa penempatan dan susunan motif mengikuti pola hias akan mempertinggi nilai estetisnya. Bagi masyarakat Minangkabau hasil kriya yang dilahirkan untuk benda-benda upacara perkawinan memiliki nilai estetis dan juga memiliki makna yang ingin disampai kepada Masyarakat Nilai estetik tersebut juga diperkuat oleh (Tjejep R Rohidi, 2. bahwa tidak ada kebudayaan yang pernah dikenal diadalamnya tidak menampung ekspresi estetik. Perkembangan zaman yang semakin modern dikhawatirkan hilangnya kerjainan sulaman benang emas, khususnya motif, warisan nenek moyang uyang merupakan set kekayaan berharga bagi Masyarakat saniangbaka yang menjadi ciri khas budaya suatu daerah. Berdasarkan fenomena tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti disain motif ragam his sulaman benang emas tradisional pada produk bantagadang di nagari saniangbaka Kabupaten solok dengan perumusan bagaimana bentk disain motif, pola hias dan tata letak motif sulaman benang emas pada produk banta gadang serta mkna yang terkandung didalam motif tersebut. Sehingga perlunya dikaji ulang dan digali Kembali, agar jngan kehilangan nilai dan makna motif tradisional itu di Tengah-tengah Masyarakat. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, untuk medeskripsikan nilai estetis desain motif sulaman benang emas tradisonal dan nilai fungsi banta gadang. pada pelaminan minangkabau, serta makna yang terkadang didalam motif pada banta gadang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa tahapan, antara lain observasi, wawancara, dan dokumentasi yang semuanya akan digunakan sebagai data primer (Burhan Bungin, 2. Data primer untuk penelitian ini dikumpulkan melalui observasi dan wawancara yang diperlukan untuk penelitian ini. Data yang diperoleh adalah data yang berkaitan dengan obyek penelitian. Data sekunder diperoleh melalui dokumen, gambar, foto yang berkaitan dengan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang lakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang telah dilakukan di Nagari Saniangbaka, maka ditemukan : Nilai Estetis Desain Motif Sulaman Benang Emas dan Nilai Fungsi Banta Gadang pada Pelaminan Minangkabau Nilai Estetis Sulaman Benang Emas Pada Banta Gadang Pelaminan Minangkabau Gambar 1. Pelaminan Minangkabau Sumber: Libra pelaminan, 2021 Ragam hias yang terdapat pada banta gadang pelaminan minangkabau daerah Saniangbaka merupakan gambaran bentuk dari alam, secara dekoratif akan memberikan nilai estetis yang memiliki makna dan arti serta menggambarkan nilai-nilai kehidupan masyarakat, seperti yang terdapat dalam falsafah adat minangkabau salah satunya alam takambang jadi guru, belajar dari alam sekitar yang menjadi kan tumbuhan dan hewan sebagai sumber inspirasi dalam menciptakan suatu seni kriya. Ragam hias yang terdapat pada setiap komponen pelaminan merupakan gambaran bentuk alam, sesuai dengan falsafah alam takambang jadi guru, yang bermakna belajar dari alam . Salah satu elemen pada pelaminan minangkabau adalah banta gadang. Bentuk banta gadang seperti rumah adat kecil dengan struktur bagian kepala, bagian badan serta bagian kaki banta gadang. Dapat dilihat banta gadang berbentuk bangunan kecil yang terbuat dari kerangka besi atau kayu, terdiri dari bagian badan berbentuk balok segiempat dan bagian atasnya berbentuk balok segi tiga . Banta gadang terletak di sebelah kiri dan kanan bagian luar dan sekaligus pembatas pelaminan. Setelah dianalisis nilai estetis yang ada pada banta gadang daerah Saniangbaka terdapat pada motif sulaman benang emas, dimana motif yang digunakan berupa motif dekoratif ukiran minangkabau yang dipenuhi dengan sulaman benang emas dan diberika kaca dan cermin diatas Motif sulaman benang emas yang menggunakan kaca dan cermin yaitu pada tirai langit-langit, banta gadang, tabir dan dalamak . Etetika adalah ilmu yang mempelajari semua aspek keindahan, mempelajari semua aspek apa yang disebut dengan keindahan . Hiasan motif yang melekat pada banta gadang pelaminan Minangkabau selain memperindah juga mengandung arti dan makna yang terealisasi dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Motif aka cino Aoakar cinaAo adalah lambang keuletan. Menurut Agustina . Masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat yang suka hidup merantau. Mereka tak enggan tinggalkan kampung halamannya, sesuai dengan pepatah: Karatau madang di hulu, di rumah babungo Marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun. (AoKeratau madang di hulu, di rumah berbunga belum. Merantau bujang dahulu, di rumah berguna belumA. Merantau bagi masyarakat Minangkabau merupakan cara hidup turun temurun . Mereka merantau untuk mencari ilmu pengetahuan dan mencari rezeki. Kegigihan dan keuletan tersebut dilambangkan dengan motif aka cino. Makna dari saik galamai tersebut menggambarkan hubungan sosial dalam bermasyarakat. Selain itu. Saik galamai menjelaskan makna berhati-dan tidak gegabah dalam melakukan sesuatu dan pengambilan keputusan . Yuliarma. Yesi Novita Sari Motif bunga matahari identik berwarna kuning cerah, seperti matahari Hidupnya selalu mengikuti arah matahari. Bunga matahari kaya akan manfaat dan melambangkan keindahan dan kemanfaatan bagi sesame . Motif tupai managun melambangkan kreatif dan kelincahan dalam menjalani hidup. Makna dari tupai managun adalah sumber ilmu pengetahuan yang diserap oleh manusia, seperti ahli adat maupun seniman, mulai dari sifat-sifatnya, bentuk maupun gerak-geriknya. Selain itu motif tupai managun merupakan lambang kelincahan dalam menghadapi tantangan hidup . Melalui bentuk yang indah dan unik sebuah karya dapat menarik perhatian dan memberikan apresiasi karya tersebut. Alam sekitar menjadi gagasan utama masyarakat Saniangbaka dalam menciptakan desain motif agar menjadi karakteristik di Nagari Saniniangbaka. Desain Motif Sulaman Benang Emas Pada Banta Gadang Pelaminan Minangkabau Gambar 2. Bentuk motif Sulaman benang emas pada Banta gadang Pelaminan Minangkabau Sumber: Yesi, 2022 Pada banta gadang ditemukan bentuk motif dekoratif aka cino, saik galamai, tupai managun dan motif naturalis bunga matahari yang dekoratif. Bentuk motif ragam hias dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu geometris, naturalis dan dekoratif . Motif yang dipakai pada pelaminan tradisional minangkabau merupakan motif yang berasal dari motif naturalis seperti kaluak paku, pucuak rabuang dan sebagainya, motif hewan berupa burung bangau, burung merak. Sedangkan motif geometris seperti lingkaran, piramid, genteng, dan lain sebagainya . Dapat disimpulkan bahwa desain motif yang terdapat pada banta gadang yaitu motif yang bersumber dari bentuk naturalis dan dekoratif motif minangkabau. Motif-motif tersebut merupakan motif yang didapat secara turun temurun. Ragam hias yang terdapat pada banta gadang merupakan motif tradisional yang sudah bersifat turun temurun . Pola hias yang ditemukan pada banta gadang yaitu pola hias mengisi bidang segitiga dan pola hias mengisi bidang segiempat seperti yang tampak pada gambar diatas. Selain itu jenis pola hias dapat dibedakan menjadi empat yaitu: . pola mengisi bidang, . Pola pinggiran, . Pola tabur, dan . Pola bebas. Dengan begitu pola hias yang ditemukan berupa pola hias mengisi bidang . Secara garis besar pola hias dapat dibedakan menjadi pola pinggiran dan pola mengisi bidang . Dapat disimpulkan pola hias yang ditemukan pada banta gadang model 1 yaitu pola mengisi bidang, dimana seluruh permukaan dipenuhi dengan sulaman benang emas. Pola hias merupakan susunan pola tertentu dalam bentuk dan komposisi tertentu dan penempatannya tergantung dari tujuan. Tata letak motif yang ditemukan pada banta gadang yaitu tata letak motif mengisi bidang yaitu mengisi bidang bentuk segitiga dan bentuk segiempat dimana setiap tata letak motif dipenuhi dengan sulaman benang emas, mulai dibagian puncak banta gadang sampai ke bagian bawah banta Nilai Estetis Desain Motif Sulaman Benang Emas dan Nilai Fungsi Banta Gadang pada Pelaminan Minangkabau penempatan hiasan pada benda yang akan dihias secara garis besar dapat dikelompokan menjadi hiasan pusat,tengah, tepi dan pinggiran . Penempatan hiasan disesuaikan dengan desain strukturnya, ragam hias disusun mengikuti pola yang disebut dengan pola hiasan . Saniang baka tata letak motif yang digunakan yaitu mengisi bidang segitiga dan segiempatyang seluruh permukaan motifnya dipenuhi sulaman benang emas. Nilai Fungsi Banta Gadang Pada Pelaminan Minangkabau Pada pelaminan minangkabau setiap unsur memiliki peran dan fungsiya masing-masing dan sebagai pelengkap satu dengan yang lainya. Banta gadang berbentuk sebuah bangunan kecil yang dibuat dari kerangka besi atau kayu, terdiri dari bagian balok segitiga diatasnya dan dua bagian badan berbentuk balok segi empat, atau berupa kain hias yang di sulam dan dipasang pada kerangka kayu khusus untuk keperluan acara Kerangka banta gadang dibalut dengan kain satin warna merah ataupun kuning yang telah disulam dengan benang emas . Awal mulanya banta gadang berfungsi sebagai tempat menyimpan pakaian adat sebelah kanan mempelai laki-laki dan di bagian kirinya wanita, namun saat ini fungsi tersebut sudah tidak terlihat lagi. Banta gadang mempunyai fungsi tersendiri dengan dipenuhi ukiran dan nama-nama motif tersendiri. Fungsi lemari banta gadang ialah . bagian sebelah kanan untuk menyimpan perlengkapan pakaian adat laki-laki. samping kiri tempat menyimpan pakian adat perempuan selengkapnya . Banta gadang merupakan unsur pada pelaminan memiliki nilai fungsional, sehingga faktor estetik suatu produk menjadi prioritas utama sebagai daya tarik. sebuah karya seni yang memiliki nialai fungsi yang berkualitas estetik yang memadai dapat membangkitkan minat dan selera Banta gadang merupakan unsur penting dalam pelaminan yang tidak dapat dipisahkan dengan yang lainnya. KESIMPULAN Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa, nilai estetis yang dapat ditemukan pada banta gadang di Saniangbaka terdapat pada bentuk motif yang digunakan dan dipenuhi dengan sulaman benang emas serta memakai kaca/ cermin. Setiap motif tersebut mengandung arti atau makna dalam kehidupan sehari-hari yang menggambarkan kehidupan sosial-budaya dalam hubungan antar masyarakat dan kelincahan atau kepandaian dalam menjalani kehidupan. Yang mana ini menggambarkan identitas daerah di Kabupaten Solok. Serta nilai fungsi banta gadang yang tidak dapat dilepas dengan unsur pelaminan lainnya. Bentuk desain motif sulaman benang emas tradisonal yang ditemukan pada banta gadang pelaminan minangkabau adalah motif naturalis bunga matahari. Serta masih mempertahankan motif minangkabau yaitu motif dekoratif berupa motif, aka cino, saik galamai dan tupai managun. yang mana motif-motif ini merupakan motif asli Minangkabau yang masih dieprtahankan sampai sekarang sebagai disain motif sulaman benang emas pada banta gadang. Bentuk pola hias sulaman benang emas pada banta gadang ditemukan pola hias mengisi bidang segitiga dan bidang segiempat sesuai penempatan pada produk. Untuk tata letak motif sulaman benang emas pada banta gadang ditemukan tata letak motif mengisi bidang yaitu mengisi bidang segitiga dan segiempat. Di mana setiap tata letak motif dipenuhi dengan sulaman benang emas, mulai dibagian puncak banta gadang sampai ke bagian bawah banta Tata letak motif pada banta gadang disesuaikan dengan bentuk dan produk yang akan dihias. Yuliarma. Yesi Novita Sari DAFTAR PUSTAKA