Peran Identitas Sosial dalam Memoderasi Hubungan Antara Kepribadian Dark Triad dan Ujaran Kebencian di Media Sosial: Implikasi bagi Pembangunan Kesejahteraan Sosial Kus Hanna Rahmi*1 Fakultas Psikologi. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Indonesia Korespondensi : hanna. rahmi@ubharajaya. Tel. Diterima: 27 Maret 2024 . Disetujui: 26 Agustus 2024. Diterbitkan: 15 November 2024 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran identitas sosial dalam memoderasi hubungan antara kepribadian Dark Triad . sikopati, narsisme, dan Machiavellianism. dengan ujaran kebencian di media sosial. Menggunakan pendekatan kuantitatif, studi ini melibatkan 250 dosen dari sebuah universitas swasta di Jakarta. Data dianalisis dengan regresi berganda dan uji Sobel menggunakan SPSS versi 23. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepribadian Dark Triad secara signifikan memengaruhi kecenderungan untuk terlibat dalam ujaran kebencian di media sosial. Selain itu, identitas sosial berperan sebagai variabel moderator yang signifikan, menunjukkan bahwa individu dengan identitas sosial yang kuat lebih mungkin menunjukkan ujaran kebencian ketika memiliki sifat-sifat kepribadian Dark Triad. Temuan ini menekankan pentingnya memahami interaksi antara faktor psikologis dan sosial dalam menanggulangi ujaran kebencian di media sosial. Implikasi dari penelitian ini mencakup rekomendasi untuk intervensi yang menargetkan pengurangan sifat-sifat kepribadian Dark Triad dan memperkuat identitas sosial yang positif sebagai strategi untuk mengurangi ujaran Dengan demikian, pendekatan yang komprehensif yang melibatkan pemahaman mendalam tentang dinamika psikologis dan sosial diperlukan untuk mengurangi dampak negatif dari ujaran kebencian di lingkungan digital yang dapat berimplikasi dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Kata kunci: Kepribadian dark triad. Identitas sosial. Ujaran kebencian. Media sosial. Pembangunan kesejahteraan sosial Abstract: This study aims to examine the role of social identity in moderating the relationship between Dark Triad personality traits . sychopathy, narcissism, and Machiavellianis. and hate speech on social media. Using a quantitative approach, the study involved 250 lecturers from a private university in Jakarta. Data were analyzed using multiple regression and the Sobel test with SPSS version 23. The results indicate that Dark Triad personality traits significantly influence the tendency to engage in hate speech on social media. Furthermore, social identity serves as a significant moderating variable, suggesting that individuals with a strong social identity are more likely to engage in hate speech when they possess Dark Triad personality traits. These findings highlight the importance of understanding the interplay between psychological and social factors in addressing hate speech on social media. The implications of this study include recommendations for interventions targeting the reduction of Dark Triad personality traits and the strengthening of positive social identity as strategies to mitigate hate speech. Thus, a comprehensive approach involving a deep understanding of psychological and social dynamics is needed to minimize the negative impact of hate speech in the digital environment that can have implications for social welfare development. Keywords: Dark triad personality. Social identity. Hate speech. Social media. Social welfare development Pendahuluan Perilaku ujaran kebencian di media sosial merupakan isu yang kompleks dan memerlukan pemahaman yang mendalam terkait faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dari berbagai penelitian yang relevan, terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi ujaran kebencian di media sosial, yaitu persepsi keadilan dan identitas sosial. Persepsi keadilan dapat berperan dalam memengaruhi perilaku ujaran kebencian. Penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan, pengaruh sosial, persepsi manfaat, dan persepsi risiko secara bersama-sama berpengaruh terhadaminat menggunakan teknologi https://ejournal. id/index. php/jsk/article/view/3398 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 225 -235 tertentu (Zarasky & Septiani, 2. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi individu terhadap manfaat dan risiko dari penggunaan media sosial dapat memengaruhi perilaku mereka, termasuk dalam menyebarkan ujaran kebencian. Selain itu, identitas sosial juga dapat menjadi faktor yang memengaruhi ujaran kebencian di media sosial. Identitas sosial dapat memoderasi hubungan antara empati konsumen dan engagement konsumen setelah melihat konten sedih di media sosial (Suparto & Mulyandi, 2. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana individu mengidentifikasi diri mereka dalam kelompok sosial tertentu dapat memengaruhi respons dan perilaku mereka terhadap konten yang mereka temui di media sosial, termasuk ujaran kebencian. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam terkait persepsi keadilan dan identitas sosial dapat memberikan wawasan yang lebih baik dalam memahami dan mengatasi ujaran kebencian di media sosial. Melalui pendekatan yang holistik dan memperhatikan faktor-faktor psikologis dan sosial yang kompleks, upaya untuk mengurangi ujaran kebencian di media sosial dapat menjadi lebih efektif. Ciri-ciri kepribadian Dark Triad, yang meliputi Psychopathy. Narcissism dan Machiavellianism, telah dikaitkan dengan perilaku negatif seperti ujaran kebencian di media sosial (Monacis et al. , 2. Penelitian telah menunjukkan bahwa sifat-sifat ini dapat memprediksi sikap negatif terhadap kelompok sosial yang rentan seperti pencari suaka (Anderson & Cheers, 2. Selain itu, penelitian telah menyoroti dampak identitas sosial sebagai faktor moderasi dalam hubungan antara sifat-sifat Dark Triad pekerja dan perilaku yang bertanggung jawab secara sosial di tempat kerja, yang menekankan pentingnya sifat-sifat kepribadian dalam praktik bisnis yang berkelanjutan (Jahanshahi et al. , 2. Memahami interaksi antara sifat-sifat Dark Triad, ujaran kebencian, dan identitas sosial sebagai variabel moderasi dapat memberikan wawasan tentang perilaku daring, memungkinkan pengembangan intervensi untuk mengurangi ujaran kebencian dan mendorong interaksi positif di media sosial. Dalam konteks ujaran kebencian di media sosial, peran kepribadian Dark Triad, persepsi keadilan, dan identitas sosial merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi perilaku individu dalam menyebarkan konten berbentuk kebencian. Dark Triad merujuk pada gabungan tiga karakteristik toksik dan jahat, yaitu psikopati, narsisme, dan Machiavellianism (LeBreton et al. , 2. Individu dengan Dark Triad cenderung memiliki sifat manipulatif, kurang empati, dan kecenderungan untuk mencari keuntungan pribadi tanpa memperdulikan dampak sosial. Studi menunjukkan bahwa kepribadian Dark Triad dapat berhubungan dengan perilaku cyberbullying, di mana self-esteem berperan sebagai mediator (Asih & Lutfiyah, 2. Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan Dark Triad mungkin cenderung melakukan tindakan kebencian di media sosial sebagai bentuk cyberbullying, dan self-esteem dapat memoderasi hubungan antara kepribadian tersebut dengan perilaku tersebut. Selain itu, persepsi keadilan juga dapat memengaruhi ujaran kebencian di media Penelitian menunjukkan bahwa persepsi individu terhadap manfaat dan risiko dari penggunaan media sosial dapat memengaruhi perilaku mereka, termasuk dalam menyebarkan ujaran kebencian. Persepsi keadilan yang rendah dapat memicu perilaku negatif seperti ujaran kebencian sebagai bentuk respons terhadap ketidakadilan yang dirasakan. Begitu pula identitas sosial memiliki peran dalam konteks ini. Social Identity Theory menekankan bahwa individu mengidentifikasi diri mereka dalam kelompok sosial tertentu dan perilaku mereka dapat dipengaruhi oleh identitas tersebut (Ashforth & Mael, 1. Identitas sosial yang kuat dapat memoderasi respons individu terhadap konten di media sosial, termasuk dalam menyebarkan ujaran kebencian. Dengan demikian, pemahaman terhadap peran kepribadian Dark Triad dan identitas sosial dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif dalam memahami dan mengatasi ujaran kebencian di media sosial. Melalui pendekatan yang holistik yang memperhatikan faktor-faktor psikologis dan sosial yang kompleks ini, upaya untuk mengurangi ujaran kebencian di media sosial dapat menjadi lebih efektif. Identitas sosial yang kuat dapat memoderasi respons individu terhadap konten di media sosial, termasuk dalam menyebarkan ujaran Dengan demikian, pemahaman terhadap peran kepribadian Dark Triad, persepsi keadilan, dan identitas sosial dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif dalam memahami dan Kus Hanna Rahmi Peran Identitas Sosial dalam Memoderasi Hubungan Antara Kepribadian Dark Triad dan Ujaran Kebencian di Media Sosial: Implikasi bagi Pembangunan Kesejahteraan Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 225 - 235 mengatasi ujaran kebencian di media sosial. Melalui pendekatan yang holistik yang memperhatikan faktor-faktor psikologis dan sosial yang kompleks ini, upaya untuk mengurangi ujaran kebencian di media sosial dapat menjadi lebih efektif. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk menemukan peranan identitas sosial dalam hubungan antara kepribadian dark triad dengan ujaran kebencian di media sosial. Menurut Barnidge. Gil de Zyyiga, dan Diehl . , ujaran kebencian di media sosial adalah isu kompleks yang memerlukan pendekatan komprehensif untuk memahaminya. Oleh karena itu, intervensi dapat difokuskan pada mempromosikan empati dan kohesi sosial, yang dapat melawan pengaruh negatif dari sifat-sifat dark triad (Jones & Paulhus, 2. Selain itu, program pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak ujaran kebencian dan memberikan alat untuk keterlibatan online yang konstruktif bisa sangat bermanfaat. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa persepsi individu tentang manfaat dan risiko menggunakan media sosial dapat mempengaruhi perilaku mereka, termasuk dalam penyebaran ujaran kebencian. Identitas sosial, yang mempengaruhi bagaimana individu mengidentifikasi diri mereka dengan kelompok sosial tertentu, juga berperan dalam memoderasi respons terhadap konten yang ditemui di media sosial. Sifat kepribadian dark triadAipsikopati, narsisme, dan MachiavellianismeAiterkait dengan perilaku negatif, termasuk ujaran kebencian di media sosial. Memahami interaksi antara sifat-sifat ini, identitas sosial, dan ujaran kebencian sangat penting untuk mengembangkan intervensi yang dapat mengurangi perilaku tersebut dan mempromosikan interaksi positif secara online. Dalam konteks pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial, menangani ujaran kebencian sangat penting untuk menciptakan komunitas yang inklusif dan aman, baik online maupun offline. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini adalah untuk menguji bagaimana pengaruh peran identitas sosial dalam memoderasi hubungan antara dark triad dengan ujaran kebencian di media dan implikasinya dalam pembangunan kesejahteraan sosial. dan implikasinya dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Metode Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional ex post facto. Sampel terdiri dari 250 dosen dari sebuah universitas swasta di Jakarta yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Instrumen penelitian meliputi skala yang dimodifikasi untuk mengukur ujaran kebencian (Barnidge et , 2. , sifat-sifat kepribadian dark triad (Jones & Paulhus, 2. , dan identitas sosial (Cameron. Skala ujaran kebencian Barnidge, dkk. terdiri atas beberapa dimensi, yaitu dukungan terhadap ujaran kebencian orang lain, respon negatif terhadap perbedaan, manifestasi perlawanan, identitas partai, efikasi politik. Sementara itu alat ukur Kepribadian Dark Triad menggunakan skala yang diadaptasi dari skala Short Dark Triad (Jones & Paulhus, 2. dan terdiri atas beberapa dimensi, yaitu Machiavellianisme. Narsisme dan Psychopathic. Sementara itu alat ukur identitas sosial menggunakan skala yang diadaptasi dari skala Multidimensionality of Social Identity (Cameron, 2. dan terdiri atas beberapa dimensi, yaitu: ikatan kelompok, sentralitas, dan afek kelompok. Data dianalisis menggunakan SPSS 23. 00 for Windows. Hasil dan Pembahasan Subjek penelitian yang menjadi responden adalah para dosen sebuah universitas swasta di Jakarta sebanyak 250 orang. Gambaran demografi subjek penelitian dapat terlihat pada tabel-tabel berikut: Kus Hanna Rahmi Peran Identitas Sosial dalam Memoderasi Hubungan Antara Kepribadian Dark Triad dan Ujaran Kebencian di Media Sosial: Implikasi bagi Pembangunan Kesejahteraan Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 225 -235 Tabel 1 Jenis Kelamin Responden No Jenis Kelamin Jumlah Persentase Perempuan Laki-laki Total Berdasarkan tabel 1, dari segi jenis kelamin, terlihat bahwa jumlah responden perempuan lebih banyak daripada responden laki-laki karena perempuan lebih tertarik pada pekerjaan mengajar dan laki-laki lebih tertarik untuk pekerjaan praktisi dan jabatan staf. Tabel 2 Kategori usia responden Usia Jumlah Persentase 26 Ae 35 36 Ae45 46 Ae55 56 Ae65 > 65 Total Dari tabel 2, terlihat bahwa usia responden penelitian paling banyak yang berusia dari 36 hingga 45 Adapun jumlah paling sedikit yakni usia di atas 65 tahun. Hal ini dikarenakan telah ada yang pensiun dan diberikannya lowongan kerja pada karyawan yang masih muda usianya. Tabel 3 Tingkat pendidikan responden Pendidikan Jumlah Persentase Total Dari tabel 3, terlihat bahwa tingkat pendidikan respondenpenelitian paling banyak adalah S2 karena penetapan untuk pekerjaan dosen adalah minimal lulusan S2 dan belum banyak yang menyelesaikan studi S3. Kus Hanna Rahmi Peran Identitas Sosial dalam Memoderasi Hubungan Antara Kepribadian Dark Triad dan Ujaran Kebencian di Media Sosial: Implikasi bagi Pembangunan Kesejahteraan Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 225 - 235 Tabel 4. Lama pengalaman bekerja Lama Bekerja Jumlah Persentase 1-10 tahun 11 Ae 20 tahun > 20 tahun Total Dari tabel 4, terlihat bahwa lama bekerja responden penelitian paling banyak adalah 1-10 tahun. Hal ini karena Universitas yang dijadikan tempat penelitian ini rutin melakukan seleksi dan rekrutmen dosen baru. Data Deskriptif Berdasarkan data statistik deskriptif, diperoleh gambaran bahwa jumlah responden sebanyak 250 Adapun mean ujaran kebencian adalah 29,4 dengan standar deviasi 7,7, nilai minimum 12 dan nilai maksimum 55. Mean kepribadian Dark Triad adalah 26,1 dengan standar deviasi 6,7, nilai minimum 11 dan nilai maksimum 45. Mean identitas sosial adalah 39,3 dengan standar deviasi 7,1, nilai minimum 17 dan nilai maksimum 57. Standar deviasi seluruh skala bernilai di atas 1. Selain itu, pada jika dikategorisasi, hasilnya adalah sebagai berikut: Tabel 5 Gambaran Data Deskriptif Penelitian (N=. Variabel Mean Min Max Ujaran kebencian Kepribadian Dark Triad Identitas sosial Berdasarkan tabel 5 di atas, diketahui bahwa nilai kategorisasi ujaran kebencian tertinggi ada pada kategori rendah sebanyak 197 orang atau 78,8%, sementara nilai paling sedikit adalah kategori tinggi sejumlah 6 orang atau 2,4%. Ini berarti bahwa memang ada fenomena dosen melakukan ujaran kebencian di sosial media, namun praktiknya cenderung sedikit tapi sering dilakukan oleh segelintir Nilai kategorisasi kepribadian Dark Triad tertinggi ada pada kategori rendah sebanyak 147 orang atau 58,8%, sementara nilai paling sedikit adalah kategori tinggi sejumlah 13 orang atau 5,2%. Ini berarti bahwa masih minimnya kecenderungan para dosen mempunyai kepribadian Dark Triad, namun tetap ada sekelompok orang yang mempunyai kepribadian Dark Triad yang tinggi. Nilai kategorisasi identitas sosial tertinggi ada pada kategori sedang sebanyak 178 orang atau 71,2%, sementara nilai paling sedikit adalah kategori rendah sejumlah 7 orang atau 2,8%. Ini berarti bahwa ada kecenderungan para dosen untuk melekatkan dan memaknai keberadaannya pada suatu kelompok sosial sebagai suatu identitas sosialnya, namun masih kategori normal. Akan tetapi masih terjadi fenomena pada sekumpulan kecil dosen yang minim namun ada juga yang ekstrim untuk beridentitas sosial. Uji Normalitas Data Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan dikatakan normal jika nilai residual yang terdistribusi secara normal memiliki probabilitas signifikansi lebih besar dari 0,05. Hasil uji normalitas dengan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnovs sebesar 0,980. Kus Hanna Rahmi Peran Identitas Sosial dalam Memoderasi Hubungan Antara Kepribadian Dark Triad dan Ujaran Kebencian di Media Sosial: Implikasi bagi Pembangunan Kesejahteraan Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 225 -235 Dikarenakan nilai p-value tersebut lebih besar dari alpha . ,980 > 0,. , maka berdasarkan hasil perhitungan bahwa residual data berdistribusi normal karena nilai signifikasi lebih besar dari 0. Pengujian Hipotesis Hipotesis 1 Ada peran langsung, positif dan signifikan kepribadian Dark Triad terhadap ujaran kebencian melalui media sosial. Dari hasil analisis data diperoleh = 0,34 dengan nilai CR sebesar 3,466 > 1,96. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepribadian Dark Triad berperan langsung, positif dan signifikan terhadap ujaran kebencian. Jika dihitung nilai determinasi . , maka dapat disimpulkan bahwa kontribusi kepribadian Dark Triad terhadap ujaran kebencian adalah sebesar 0,12 atau sama dengan 12%. Artinya, jika dihitung secara langsung, tanpa adanya variabel-variabel lainnya, maka kepribadianDark Triad dapat berperan terhadap ujaran kebencian sebesar 12%. Hipotesis 2 Tidak ada peran langsung, positif dan signifikan identitas sosial terhadap ujaran kebencian di media sosial. Dari hasil analisis data diperoleh = 0,11 dengan nilai CR sebesar 1,846 < 1,96. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa identitas sosial tidak berperan langsung, positif dan signifikan terhadap ujaran kebencian. Hipotesis Utama Ada peran kepribadian Dark Triad terhadap ujaran kebencian di media sosial dengan identitas sosial sebagai mediator. Identititas sosial berperan sebagai variabel mediator sempurna karena peranan melalui variabel mediator signifikan dibandingkan dengan peran secara langsung personality dark triad terhadap ujaran kebencian yang menjadi tidak signifikan. Hal ini juga dapat dibuktikan melalui hasil Sobel test dengan memasukkan nilai t (CR) pada rumus di kalkulator Sobel menghasilkan nilai z = 2,35, p < 0,05 jadi dengan demikian identitas sosial bertindak sebagai mediator yang signifikan. Gambar 1. Hasil Sobel Tes Hipotesis Minor 10 DTP Gambar 2. Gambaran Peran Hipotesis Utama Berdasarkan analisis data diatas disimpulkan bahwa statistik deskriptif mengungkapkan mean dan standar deviasi untuk ujaran kebencian, sifat-sifat kepribadian dark triad, dan identitas sosial. Pengujian hipotesis menunjukkan adanya pengaruh langsung yang signifikan dari sifat-sifat kepribadian dark triad terhadap ujaran kebencian, dan identitas sosial berperan sebagai variabel moderasi yang signifikan. Kus Hanna Rahmi Peran Identitas Sosial dalam Memoderasi Hubungan Antara Kepribadian Dark Triad dan Ujaran Kebencian di Media Sosial: Implikasi bagi Pembangunan Kesejahteraan Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 225 - 235 Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek moderasi peranpribadian Dark Triad identitas sosial terhadap ujaran kebencian melalui media sosial fit dengan data empirik. Hal ini berarti bahwa ada peran langsung dan tidak langsung antara kepribadian Dark Triad, dan identitas sosial terhadap ujaran Semakin kepribadian Dark Triad dan identitas sosial, maka akan semakin tinggi ujaran Sebaliknya, semakin rendah kepribadian Dark Triad, dan identitas sosial, maka akan semakin rendah ujaran kebencian. Sehingga, dapat dikatakan bahwa faktor-faktor psikologis ini dapat berperan terhadap ujaran kebencian. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian Sirait . , yang membuktikan bahwa faktor sosio-psikologis menjadi faktor yang mempengaruhi masyarakat terkait dengan ujaran kebencian tentang politik di media sosial. Kepribadian Dark Triad dianggap sebagai sisi gelap manusia. Sehingga, manakala kepribadian ini dalam individu bernilai tinggi, akan lebih memotivasi individu untuk melakukan perbuatan buruk lebih banyak,tak terkecuali ujaran kebencian. Penelitian Downs dan Cowan . berkaitan dengan hasil temuan ini. Sehingga semakin kuatlah asumsi bahwa kepribadian berperan terhadap ujaran Salah satunya adalah kepribadian intellect, yang identik akan imajinasi, rasa ingin tahu dan Tentunya kepribadian ini berbanding terbalik dengan ciri khas kepribadian Dark Triad. Pada kepribadian intellect yang tinggi, ujaran kebencian justru perlu dihindari dan dianggap Individu yang menganggap dirinya sebagai pengawas dunia politik, ketika melihat ada kesalahan yang terjadi di pemerintahan, cenderung lebih vokal dalam melakukan ujaran kebencian di media sosial ketika terjadi ketidakadilan (Erjavec & Kovacic, 2. Pada media massa pun individu ini akan berani menyebutkan nama untuk berkomentar. Selain itu individu tipe ini mendukung gagasan untuk ekspresi daring tidak dibatasi. Hal tersebut akan lebih diperparah lagi jika individu telah mengidentifikasi dirinya dengan suatu partai politik, sehingga identitas sosialnya dianggap sebagai bagian dari kelompok partai politik yang didukung serta tak terpisahkan (Rahmi. Identitas menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan individu dan kelompok dalam masyarakat yang sangat plural seperti Indonesia. Situasi ini tidak bisa dinafikan dan bisa dianggap hal yang normal. Tetapi ketika ujaran kebencian berpengaruh dan membangun pola pikir yang menempatkan afiliasi identitas sebagai hal pokok dalam partisipasi publik, maka sebenarnya hal yang sangat mendasar dari demokrasi sedang diberangus. Halinilah yang menjadi salah satu sebab mengapa ujaran kebencian berbahaya (Ahnaf & Suhadi, 2. Variabel-variabel eksogen dan mediator dalam penelitian ini dianggap sebagai variabel yang sifatnya negatif karena cenderung akan memicu keburukan jika kadarnya tinggi. Oleh karena itu, variabel-variabel ini dianggap pula sebagai variabel-variabel yang perlu dihindari untuk meminimalisir kemungkinan adanya ujaran kebencian. Marwa dan Fadhlan . mengemukakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi ujaran kebencian adalah faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari psikologis individu. Adapun dosen sebagai tenaga pendidik yang mengedepankan logika karena sering berhadapan langsung dengan pengembangan ilmu dianggap sebagai sosok yang perlu menghindari ujaran kebencian sebagai bentuk aplikasi keteladanan yang baik bagi para mahasiswa yang dididik dan diharapkan justru tidak terjerumus melakukan ujaran kebencian. Selain itu faktor psikologis perlu ditangani secara serius untuk mencegah timbulnya ujaran kebencian yang dapat memecah belah masyarakat dan menimbulkan disharmoni (Rahmi, 2. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa identitas sosial secara signifikan memoderasi hubungan antara sifat-sifat kepribadian dark triad dan ujaran kebencian di media sosial. Ini menunjukkan bahwa individu dengan identitas sosial yang kuat lebih mungkin untuk menunjukkan ujaran kebencian ketika mereka memiliki sifat-sifat dark triad. Hal ini sejalan dengan pendapat Cameron . , identitas sosial memengaruhi bagaimana individu berperilaku dalam konteks kelompok sosial mereka, yang dapat memperkuat atau mengurangi kecenderungan negatif yang terkait dengan sifat kepribadian dark triad. Dalam konteks kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial, temuan ini menyoroti pentingnya menangani faktor psikologis dan sosial yang berkontribusi pada ujaran kebencian. Pekerja sosial dapat memainkan peran penting dalam mengurangi ujaran kebencian Kus Hanna Rahmi Peran Identitas Sosial dalam Memoderasi Hubungan Antara Kepribadian Dark Triad dan Ujaran Kebencian di Media Sosial: Implikasi bagi Pembangunan Kesejahteraan Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 225 -235 dengan mempromosikan identitas sosial yang positif dan menangani sifat-sifat kepribadian yang mendasari yang mempengaruhi individu terhadap perilaku tersebut. Secara khusus, intervensi pekerjaan sosial dapat difokuskan pada mempromosikan empati dan kohesi sosial, yang dapat melawan pengaruh negatif dari sifat-sifat dark triad. Selain itu, program pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak ujaran kebencian dan memberikan alat untuk keterlibatan online yang konstruktif bisa sangat bermanfaat. Hal ini karena menurut Barnidge et al. , pendekatan komprehensif untuk menangani ujaran kebencian di media sosial harus mencakup pendidikan dan kesadaran untuk mengurangi dampak negatifnya. Lebih lanjut, praktisi pekerjaan sosial harus bekerja sama dengan pembuat kebijakan untuk menciptakan regulasi yang mengurangi ujaran kebencian di platform media sosial. Ini termasuk mengembangkan mekanisme pelaporan dan sistem dukungan bagi korban ujaran kebencian online. Kolaborasi antara praktisi pekerjaan sosial dan pembuat kebijakan penting untuk menciptakan lingkungan online yang lebih aman dan inklusif (Jones & Paulhus, 2. Secara keseluruhan, integrasi wawasan psikologis ke dalam praktik pekerjaan sosial dapat meningkatkan upaya untuk menciptakan lingkungan online yang lebih aman dan inklusif. Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi faktor-faktor moderasi tambahan dan efektivitas berbagai strategi intervensi dalam konteks sosial yang berbeda. Hasil penelitian ini menekankan peran signifikan identitas sosial dalam memoderasi hubungan antara sifat-sifat kepribadian dark triad dan ujaran kebencian di media sosial. Ini memiliki implikasi yang mendalam untuk praktik pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial. Menangani ujaran kebencian membutuhkan pendekatan multifaset yang mempertimbangkan baik sifat psikologis individu maupun pengaruh sosial yang lebih luas. Temuan ini mendukung pandangan bahwa sifat-sifat kepribadian dark triad berkorelasi dengan perilaku negatif seperti ujaran kebencian, dan bahwa intervensi yang ditargetkan dapat mengurangi prevalensinya (Jones & Paulhus, 2. Pekerja sosial dapat memanfaatkan temuan ini untuk mengembangkan intervensi yang ditargetkan yang menangani akar penyebab ujaran kebencian. Misalnya, program yang mempromosikan identitas sosial yang positif dan mengurangi prevalensi sifat-sifat dark triad dapat diimplementasikan di lingkungan pendidikan dan program komunitas. Dengan menciptakan lingkungan yang mendorong empati, kohesi sosial, dan pemikiran kritis, pekerja sosial dapat membantu mengurangi insiden ujaran kebencian. Selanjutnya, kolaborasi dengan platform media sosial dan pembuat kebijakan sangat penting. Pekerja sosial dapat mengadvokasi kebijakan yang mengurangi ujaran kebencian, seperti moderasi konten yang lebih baik dan sistem dukungan bagi mereka yang terkena dampak penyalahgunaan online. Sesi pelatihan untuk pendidik dan pemimpin komunitas tentang mengenali dan menangani sifat-sifat dark triad dan dampaknya terhadap perilaku sosial juga dapat bermanfaat. Sebagaimana disebutkan oleh Cameron . , program pelatihan yang mempromosikan pemahaman dan penanganan identitas sosial dapat sangat efektif. Selain itu, literasi digital harus menjadi bagian integral dari pendidikan masyarakat. Mengajarkan keterampilan literasi digital kepada masyarakat, terutama kepada anak muda, dapat membekali mereka dengan kemampuan untuk menavigasi media sosial dengan bijaksana dan menghindari penyebaran ujaran Program-program ini dapat mencakup pendidikan tentang dampak negatif dari ujaran kebencian dan cara melaporkannya secara efektif. Limitasi Penelitian Penelitian ini secara khusus hanya mengambil permasalahan ujaran kebencian yang dilakukan di media sosial serta pembicaraan yang dilakukan hanya tentang masalah politik. Selain itu, penelitian ini tidak terfokus pada demografi tertentu. Oleh karena itu, masih ada kemungkinannya pada perbedaan hasil penelitian jika penelitian lain memilih topik ujaran kebencian yang lebih kompleks atau luas, menggunakan sarana ujaran kebencian lainnya dan mempersempit atau mengkategorisasikan subjek penelitian berdasarkan demografi tertentu. Selain itu, karena hanya Kus Hanna Rahmi Peran Identitas Sosial dalam Memoderasi Hubungan Antara Kepribadian Dark Triad dan Ujaran Kebencian di Media Sosial: Implikasi bagi Pembangunan Kesejahteraan Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 225 - 235 memfokuskan pada sarana media sosial, sehingga ujaran kebencian yang dilakukan dengan atau tanpa sarana lainnya luput dari pembahasan penelitian. Kesimpulan Hasil analisis data telah menguji model teoritik pengaruh mediasi identitas sosial dalam hubungan kepribadian Dark Triad dengan ujaran kebencian melalui media sosial. Efek moderasi kepribadian Dark Triad dan identitas sosial terhadap ujaran kebencian di media sosial fit dengan data Ada peran langsung, positif dan signifikan kepribadian Dark Triad terhadap ujaran kebencian di media sosial. Tidak ada peran langsung, positif dan signifikan identitas sosial terhadap ujaran kebencian di media sosial. Namun ada pengaruh positif dan signifikan kepribadian Dark Triad terhadap ujaran kebencian di media sosial dimana identitas sosial berperan sebagai mediator dalam hubungan tersebut. Sebagai kesimpulan, integrasi perspektif psikologis dan identitas sosial ke dalam praktik pekerjaan sosial memberikan pendekatan komprehensif untuk menangani ujaran kebencian di media sosial. Dengan menangani faktor individu dan sosial, pekerja sosial dapat berkontribusi pada terciptanya komunitas yang lebih aman dan inklusif, baik online maupun offline. Penelitian masa depan harus terus mengeksplorasi interaksi kompleks antara sifat-sifat kepribadian, identitas sosial, dan perilaku online untuk menginformasikan strategi intervensi yang lebih efektif. Saran Penelitian ini membuktikan adanya beberapa variabel psikologis yang dapat mempengaruhi ujaran kebencian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Variabel-variabel ini adalah kepribadian Dark Triad dan identitas sosial. Ujaran kebencian merupakan hasil hubungan antara kepribadian Dark Triad dengan Identitas sosial yang sifatnya masih terbatas pada tiga variabel. Untuk itu penelitian mendatang disarankan agar bisa fokus pada beberapa area yang bisa memperluas dan memperdalam pemahaman tentang hubungan antara sifat-sifat kepribadian dark triad, identitas sosial, dan ujaran kebencian di media sosial, terutama dalam konteks kesejahteraan sosial dan pekerjaan Berikut adalah beberapa saran penelitian mendatang: Eksplorasi Faktor Moderasi Tambahan Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi faktor-faktor moderasi tambahan seperti empati, kohesi sosial, dan literasi digital dalam hubungan antara sifat-sifat dark triad dan ujaran kebencian. Meneliti bagaimana faktor-faktor ini dapat mempengaruhi atau memperlemah hubungan tersebut akan memberikan wawasan lebih mendalam tentang mekanisme yang mendasari perilaku negatif di media sosial. Efektivitas Intervensi Pekerjaan Sosial Penelitian mendatang dapat fokus pada mengembangkan dan menguji efektivitas berbagai strategi intervensi pekerjaan sosial yang dirancang untuk mengurangi ujaran kebencian di media Misalnya, program pendidikan yang mempromosikan kesadaran tentang dampak negatif dari ujaran kebencian dan pelatihan tentang keterampilan literasi digital. Studi Longitudinal Studi longitudinal diperlukan untuk memahami perubahan jangka panjang dalam sifat-sifat dark triad, identitas sosial, dan perilaku ujaran kebencian. Penelitian semacam ini akan membantu mengidentifikasi apakah intervensi tertentu memiliki dampak jangka panjang dan bagaimana dinamika hubungan ini berubah seiring waktu. Pengaruh Konteks Sosial dan Budaya Penelitian lebih lanjut harus mempertimbangkan pengaruh konteks sosial dan budaya dalam hubungan antara sifat-sifat kepribadian dark triad dan ujaran kebencian. Studi lintas budaya akan memberikan wawasan tentang bagaimana berbagai latar belakang budaya mempengaruhi perilaku di media sosial dan efektivitas intervensi yang berbeda. Peran Media Sosial dan Platform Teknologi Kus Hanna Rahmi Peran Identitas Sosial dalam Memoderasi Hubungan Antara Kepribadian Dark Triad dan Ujaran Kebencian di Media Sosial: Implikasi bagi Pembangunan Kesejahteraan Sosial SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 225 -235 Penelitian mendatang dapat mengeksplorasi bagaimana berbagai fitur dan kebijakan platform media sosial mempengaruhi penyebaran ujaran kebencian. Mengidentifikasi cara-cara di mana platform dapat memodifikasi kebijakan dan algoritma mereka untuk mengurangi penyebaran konten kebencian bisa sangat bermanfaat. Intervensi Berbasis Komunitas Studi tentang intervensi berbasis komunitas yang melibatkan kolaborasi antara pekerja sosial, pemimpin komunitas, dan pembuat kebijakan dapat memberikan wawasan praktis tentang cara mengurangi ujaran kebencian dan mempromosikan inklusi sosial di tingkat lokal. Kesehatan Mental dan Dampak Psikologis: Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dampak psikologis dari keterlibatan dalam atau menjadi korban ujaran kebencian. Meneliti hubungan antara ujaran kebencian, kesehatan mental, dan kesejahteraan individu dapat membantu merancang intervensi yang lebih holistik. Dengan mengeksplorasi area-area ini, penelitian mendatang dapat memperluas pemahaman kita tentang bagaimana sifat-sifat kepribadian, identitas sosial, dan faktor-faktor lain berinteraksi dalam mempengaruhi perilaku di media sosial. Selain itu, penelitian ini akan memberikan dasar yang kuat untuk mengembangkan intervensi yang efektif dalam konteks kesejahteraan sosial dan pekerjaan Daftar Pustaka