Saprin Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas PENGARUH PENERAPAN MANAJEMEN KELAS TERHADAP PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK DI MTS. NEGERI GOWA Saprin Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar uin@gmail. Naskah diterimah 17-11-2017 ABSTRAK Penelitian jenis expost facto yang bertujuan menjawab rumusan masalah, yaitu . bagaimana penerapan manajemen kelas di MTs. Negeri Gowa?, . bagaimana aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa?, dan . apakah penerapan manajemen kelas berpengaruh positif terhadap peningkatan aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa? Penelitian dilakukan pada populasi sebesar 649 orang yang disampel dengan teknik proportionate stratifield random sampling sebesar 5% atau 33 orang peserta didik dengan menggunakan angket sebagai instrumen pengumpulan data untuk dianalisis dengan teknik statistik, baik statistik deskriptif maupun statistik inferensial. Melalui analisis data, diperoleh kesimpulan, yaitu . persentase rerata penerapan manajemen kelas sebesar 30855% > 75%, berarti penerapan manajemen kelas di MTs. Negeri Gowa dinyatakan positif, . persentase rerata aktivitas belajar peserta didik sebesar 4867% > 75%, berarti aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa dinyatakan positif, . uji regresi sederhana menghasilkan persamaan regresi sebesar yy = 0. = 0. 6236 = 106. 6545, berarti nilai aktivitas belajar peserta didik diperkirakan menjadi 106. 6545 bila nilai penerapan manajemen kelas dinaikkan menjadi 99 atau untuk meningkatkan aktivitas belajar peserta didik sebesar 1, maka nilai rerata penerapan manajemen kelas harus dinaikkan sebesar . : 106. = 0. Artinya, penerapan manajemen kelas efektif untuk meningkatkan aktivitas belajar peserta didik karena nilai yang diperoleh lebih besar dari nilai yang dikeluarkan . > 0. Implikasinya, manajemen kelas menurut teori yang dikaji dapat diterapkan di MTs. Negeri Gowa karena hasilnya positif, peserta didik di MTs. Negeri Gowa dapat beraktivitas belajar sesuai teori yang dikaji karena hasilnya positif, dan aktivitas belajar peserta didik dapat ditingkatkan melalui penerapan manajemen kelas karena hasilnya berpengaruh positif. Kata kunci : Manajemen kelas, aktivitas belajar. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Guru adalah pendidik profesional yang secara implisit telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. 1 Sehubungan dengan itu, maka guru merupakan pendidik yang bertanggung jawab melanjutkan pendidikan yang diperoleh anak dalam lingkungan keluarga. Profesionalisme menuntut kemampuan pendidikan yang dalam pengertian terbatas, dapat merupakan salah satu proses interaksi belajar-mengajar dalam bentuk formal yang dikenal sebagai pembelajaran. Guru konteks ini, antara lain berperan, bertugas, dan 1Zakiah Daradjat, dkk. Ilmu Pendidikan Islam. Edisi Pertama (Cet. VI. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2. , h. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 | 159 Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas . Saprin secara efektif yang berimplikasi pada aktivitas belajar peserta didik yang kurang maksimal. Guru sebagai pelaksana pembelajaran, bertugas menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana. Pembelajaran dapat berlangsung secara efektif bila guru dapat memainkan perannya sebagai pelaksana pembelajaran yang dapat mengelola kegiatan pembelajaran yang efektif sesuai dengan rencana. Melalui studi pendahuluan, ditemukan bahwa peserta didik yang kurang aktif dalam kemampuan guru yang kurang memadai dalam mengelola kelas, sesuai keterangan Khaerun Abd. Wahab, bahwa guru di MTs. Negeri Gowa pengelolaan kelas yang baik, akan tetapi kurang diaplikasikan secara optimal dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Akibatnya, peserta didik kurang aktif dalam belajar. Keahlian manajemen kelas merupakan aspek penting untuk menjadi guru yang efektif. Guru yang efektif adalah mampu menjaga kelas tetap aktif bersama dan mengorientasikan ke tugas-tugas, mempertahankan lingkungan belajar yang Agar lingkungan ini optimal, guru perlu senantiasa meninjau ulang strategi mengaktifkan kelas, dan menangani tindakan peserta didik yang mengganggu kelas. Manajemen kelas merupakan salah satu keahlian profesional guru yang penting untuk menjaga kelas tetap aktif bersama dan mengorientasikan ke tugas-tugas, serta membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif, sehingga dapat memengaruhi aktivitas belajar peserta didik. Setiap guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengelola kelas, termasuk guru di MTs. Negeri Gowa. Kenyataannya, masih pembelajaran berdasarkan kebiasaan, tanpa mempertimbangkan strategi pengelolaan kelas Gage dan C. Berliner. Educational Psychology (Chicago: Rand McNally, 1. Dikutip dalam Abin Syamsuddin Makmun. Psikologi Kependidikan: Perangkat Sistem Pengajaran Modul (Cet. IX. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , h. 3Abin Syamsuddin Makmun. Psikologi Kependidikan: Perangkat Sistem Pengajaran Modul (Cet. IX. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , h. Algozzine dan P. Kay. Preventing Problem Behaviors (Thousand Oaks CA. Corwin Press, 2. Dikutip dalam John W. Santrock. Educational Aktivitas diperlukan dalam belajar, sebab belajar pada prinsipnya adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku. 6 Sehubungan dengan itu, maka aktivitas belajar peserta didik melalui penerapan manajemen kelas menjadi urgen diteliti, khususnya di MTs. Negeri Gowa. Rumusan Masalah Masalah pokok adalah Aubagaimana peningkatan aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri GowaAy. Masalah pokok tersebut dirinci dalam beberapa masalah penelitian. Bagaimana penerapan manajemen kelas di MTs. Negeri Gowa? Bagaimana bentuk aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa? Apakah penerapan manajemen kelas peningkatan aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa? Psychology (Dallas: McGraw-Hill Company Inc. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan (Cet. Jakarta: Kencana, 2. , h. 5Khaerun Abd. Wahab . Tahu. Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum di MTs. Negeri Balangbalang Kabupaten Gowa. Wawancara. Balangbalang, 28 September 2017. 6Sardiman A. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2. , h. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Saprin Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas Hipotesis Penerapan manajemen kelas diduga berpengaruh positif terhadap aktivitas belajar peserta didik berdasarkan teori yang menyatakan, bahwa pengelolaan kelas yang baik dapat memotivasi peserta didik dalam melakukan aktivitas belajar secara optimal. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian Definisi Operasional Manajemen kelas adalah pengaturan kelas untuk kegiatan belajar peserta didik yang diaplikasikan melalui kegiatan guru mendesain lingkungan fisik kelas, menciptakan lingkungan positif untuk pembelajaran, membangun dan menegakkan aturan, mengajak peserta didik bekerja sama, mengatasi problem secara efektif, dan menggunakan strategi komunikasi yang baik. Aktivitas perbuatan yang dilakukan oleh peserta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan untuk mengubah tingkah laku secara keseluruhan yang dimanifestasikan dalam bentuk aktivitas visual . isual activitie. , aktivitas lisan . ral activitie. , aktivitas mendengar . istening activitie. , aktivitas menulis . riting activitie. , aktivitas menggambar . rawing activitie. , aktivitas otot . otor activitie. , dan aktivitas perasaan . motional activitie. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian dibatasi pada hubungan antar variabel yang terdiri atas satu variabel bebas . ndependent variabl. dan satu variabel terikat . ependent variabl. , yaitu penerapan manajemen kelas, dan aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa. Hubungan antara kedua variabel inilah yang diteliti melalui proses tertentu. 7Masri Singarimbun dan Sofian Effendi. Metode Penelitian Survai (Jakarta:LP3ES, 1. , h. 8Nana Sudjana dan Ibrahim. Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Cet. Bandung: Sinar Baru, 1. , h. 9Khaerudin. AuModel Pembelajaran Blanded Learning Berbasis Pendekatan Konstruktivistik pada Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Penelitian merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah tertentu, mencakup kegiatan . menentukan konsep dan hipotesis, serta menggali kepustakaan, . mengambil sampel, . pembuatan kuesioner, . pekerjaan lapangan, . pengolahan data, serta . analisis dan pelaporan. Proses melalui tiga tahap penting, yaitu: . tahap konseptualisasi, dan . tahap empirisasi,8 serta tahap analisis dan finalisasi. Tahap konseptualisasi mencakup kegiatan mempelajari konsep, teori, prinsip dari berbagai sumber ilmiah, sedangkan mengamati gejala, perisriwa, kejadian di lapangan dan mengubungkannya dengan Akhirnya, informasi yang diperoleh di lapangan, dianalisis dan disusun dalam bentuk laporan penelitian. Kajian Pustaka/ Penelitian Terdahulu Khaeruddin yang meneliti AuModel Pembelajaran Blanded Learning Berbasis Pendekatan Konstruktivistik pada Mata Kuliah Evaluasi Hasil BelajarAy menghasilkan kesimpulan, bahwa model pembelajaran blanded learning yang terdiri atas model konseptual dan model fisikal valid, efektif, dan praktis digunakan pada mata kuliah evaluasi hasil belajar. Meskipun membahas masalah pembelajaran, akan tetapi penelitian tersebut berbeda dengan pokok masalah yang diteliti. Ade Kuswara AuPengembangan Model Materi Ajar Semantik di Program Studi Bahasa. Sastra Indonesia, dan Sastra Daerah FKIP Universitas JambiAy menghasilkan kesimpulan, bahwa setelah dilakukan pengembangan, peserta didik lebih mudah memahami materi ajar. 10 Dilihat dari Mata Kuliah Evaluasi Hasil BelajarAy. Jurnal Teknologi Pendidikan 13, no. , h. 10Ade Kuswana. AuPengembangan Model Materi Ajar Semantik: Penelitian dan Pengembangan Model Materi Ajar Semantik di Program Studi Bahasa. Sastra Indonesia, dan Sastra Daerah FKIP Universitas JambiAy. Lentera Pendidikan 17, no. , h. | 161 Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas waktu dan objek penelitian, perberbedaan dengan penelitian ini. Saprin Hidayatullah yang meneliti AuPeningkatan Keberhasilan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan Penerapan Pembelajaran Berbasis Aneka Sumber pada SMK Negeri 1 Kota SerangAy berkesimpulan, bahwa penerapan pendekatan pembelajaran berbasis aneka sumber (BEBAS) dapat meningkatkan daya tarik peserta didik terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang tampak dari hasil pengamatan dan evaluasi proses pembelajaran peserta didik. 11 Penelitian tersebut, relevan untuk mengembangkan bahan ajar, akan tetapi cakupan penelitian dibatasi pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam, berbeda dengan cakupan penelitian pada keseluruhan mata pelajaran pada penelitian ini. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah menjawab rumusan masalah. Sesuai dengan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk: Mendeskripsikan penerapan manaje men kelas di MTs. Negeri Gowa. Mendeskripsikan aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa. Mengetahui pengaruh penerapan manajemen kelas terhadap aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa. Kegunaan Penelitian Kegunaan Teoretis (Ilmia. Secara ilmiah, hasil penelitian ini pendidikan pada umumnya, dan Ilmu Pendidikan Islam pada khususnya, serta 11Hidayatullah. AuPeningkatan Keberhasilan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan Penerapan Pembelajaran Berbasis Aneka Sumber pada AMK Negeri 1 Kota SerangAy. Jurnal Teknologi Pendidikan 13, no. , h. menambah khazanah perbendaharaan ilmu Kegunaan Praktis Hasil penelitian ini secara praktis bermanfaat, baik bagi praktisi pendidikan untuk mengaplikasikan manajemen kelas dalam membelajarkan peserta didik, maupun oleh peneliti lain untuk mengembangkan penelitian yang relevan, serta bermanfaat sebagai bahan referensi bagi akademisi dalam menekuni disiplin ilmu yang terkait. TUNJAUAN TEORETIS Manajemen Kelas Manajemen kelas yang sering pula didefinisikan sebagai keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan mengendalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar . 12 Manajemen kelas merupakan keterampilan guru, baik dalam menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, maupun dalam mengendalikan gangguan bila terjadi dalam proses pembelajaran. Manajemen diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan. Atas dasar itu, maka manajemen merupakan suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan berupa proses pengelolaan usaha kerja sama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien sesuai rencana yang telah ditetapkan Manajemen kelas yang dihubungkan dengan aktivitas belajar peserta didik, merupakan rangkaian kegiatan yang berproses melalui interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada satuan pendidikan yang diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan secara efektif dan efisien 12Abuddin Nata. Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran (Cet. Jakarta: Kencana, 2. , h. 13Mohamad Mustari. Manajemen Pendidikan. Edisi Pertama (Cet. Jakarta: Jajawali Pers, 2. ,h. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Saprin Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas sesuai rencana dibangun dan dikonstruksi secara bersama . Penerapan majamen kelas diperlukan untuk mendorong peserta didik belajar secara Konstruktivisme menekan agar individu secara aktif menyusun dan membangun . o construc. pengetahuan dan pemahaman. karena itu, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengekplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis. Teori konstruktivis sosial menyatakan Konstruktivis sosial menekankan agar guru menciptakan banyak kesempatan bagi peserta didik untuk belajar dengan guru dan teman sebaya dalam mengkonstruksi pengetahuan bersama. Pandangan pembelajaran mengimplikasikan, bahwa guru bukan sekedar berperan sebagai sumber belajar, akan tetapi juga berperan sebagai motivator pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk berperilaku belajar. Selanjutnya, pendekatan konstruktivis sosial menekankan pada konteks sosial dari pembelajaran dan bahwa pengetahuan itu dibangun dan dikonstruksi secara bersama . 15 Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi peserta didik untuk mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman mereka saat mereka bertemu dengan pemikiran orang lain dan saat mereka berpartisipasi dalam pencarian pemahaman bersama. 16 Melalui cara ini, pengalaman dalam konteks sosial memberikan mekanisme penting untuk perkembangan pemikiran peserta didik. 17 Inti konstruktivis sosial adalah pengetahuan itu Brooks dan M. Brooks. In Search of Understanding: The Case for Constructivist Classroom (Upper Saddle River. NJ: Merrill, 2. Dikutip dalam John W. Santrock. Educational Psychology. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan, h. Teori konstruktivis sosial menarik dipengaruhi situasi dan bersifat kolaboratif. Ini berarti pengetahuan didistribusikan di antara orang dan lingkungan, sehingga pengetahuan dapat dicapai dengan baik melalui interaksi dengan orang lain dalam kegiatan bersama. Perspektif behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal . sebagai kunci dalam menentukan motivasi peserta didik. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat Penggunaan insentif dapat menambah minat atau kesenangan peserta didik pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat, serta menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat. Pespektif humanistis menekankan pada kapasitas peserta didik untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif. Pespektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham & Bacon, 2. Dikutip dalam John W. Santrock. Educational Psychology. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan, h. Cognition (Westport. CT: Ablex, 2. Dikutip dalam John W. Santrock. Educational Psychology. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan, h. Kozulin. Lev Vygotsky dalam A. Kazdin. Encycopedia Psychology (Washington. DC. and New York: American Psycological Association and Oxpord University Press, 2. Dikutip dalam John W. Santrock. Educational Psychology. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan, h. Gauvain. The Social Context of Cognitive Emmer, dkk. Classroom Management Bearison dan B. Dorval. Collaborative Development (New York: Guilford, 2. Dikutip dalam John W. Santrock. Educational Psychology. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan, h. Johnson dan F. Johnson. Joining for Successful Teachers (Boston: Allyn & Bacon, 2. Dikutip dalam John W. Santrock. Educational Psychology. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan, h. Together: Group Theory and Group Skills (Boston: Allyn Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 | 163 Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Menurut Maslow, peserta didik harus memuaskan kebutuhan makan sebelum mereka dapat berprestasi. Menurut perspektif kognitif, pemikiran peserta didik akan memandu motivasi mereka. Perspektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R. White yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi, bahwa orang ternotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien. Menurut White, orang melakukan hal-hal tersebut bukan karena kebutuhan biologis, tetapi karena orang punya motivasi internal untuk berinteraksi dengan lingkungan secara Menurut perspektif sosial, kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi peserta didik tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu dengan teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru. Salah satu faktor terpenting dalam motivasi dan prestasi peserta didik adalah persepsi mereka mengenai apakah hubungan mereka dengan guru bersifat positif atau tidak. 20John W. Santrock. Educational Psychology. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan, h. 21John W. Santrock. Educational Psychology. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan, h. Eccles. School and Family Effects on the Ontogeny of ChildrenAos Interests. SelfPerceptions, and Activity Choice, dalam J. Jacobs. Nebraska Symposium on Motivation (Lincoln: University of Nebraska Press, 1. Dikutip dalam John W. Santrock. Educational Psychology. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan, h. Algozzine dan P. Kay. Preventing Problem Behaviors (Thousand Oaks CA. Corwin Press, 2. Dikutip dalam John W. Santrock. Saprin Guru yang efektif selain menguasai materi pelajaran, ia juga memiliki keahlian manajemen kelas, yaitu mampu menjaga kelas agar tetap aktif bersama dan mengorientasikan ke tugas-tugas, serta membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang 23 Manajemen kelas diperlukan untuk mengkondisikan lingkungan agar peserta didik aktif dalam berbagai kegiatan belajar. Manajemen kelas pada prinsipnya betujuan untuk menyukseskan program pembelajaran, sehingga keefektivan manajemen kelas dapat dicapai jiga fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan dapat diimplementasikan dengan baik dan benar dalam program pembelajaran. 24 Fungsifungsi manajemen kelas tersebut dapat diimplementasikan dengan baik dan benar dalam program pembelajaran pada lingkungan pembelajaran yang kondusif. Agar lingkungan pembelajaran optimal, maka guru perlu senantiasa meninjau ulang strategi penataan dan prosedur pengajaran, mengaktifkan kelas, dan menangani tindakan peserta didik yang mengganggu kelas. Manajemen kelas merupakan upaya guru mengkondisikan lingkungan pembelajaran pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan kegiatan belajar peserta didik dengan cara senantiasa meninjau ulang strategi penataan dan prosedur pengajaran, pengorganisasian kelompok, monitoring, mengaktifkan kelas. Educational Psychology (Dallas: McGraw-Hill Company Inc. , 2. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan (Cet. Jakarta: Kencana, 2. , h. 24Syaiful Sagala. Konsep dan Makna Pembelajaran Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar (Cet. Vi. Bandung: Alfabeta, 2. , h. Algozzine dan P. Kay. Preventing Problem Behaviors (Thousand Oaks CA. Corwin Press, 2. Dikutip dalam John W. Santrock. Educational Psychology (Dallas: McGraw-Hill Company Inc. , 2. Terj. Tri Wibowo. Psikologi Pendidikan (Cet. Jakarta: Kencana, 2. , h. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Saprin Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas dan menangani tindakan peserta didik yang mengganggu kelas. Aktivitas Belajar Aktivitas diperlukan dalam belajar, sebab belajar pada prinsipnya adalah melakukan kegiatan untuk mengubah tingkah 26 Arthur T. Jersild dalam Syaiful Sagala menyatakan, bahwa belajar adalah modification of behavior through experience and training . erubahan perilaku karena pengalaman dan latiha. , sedangkan Gage memandang belajar sebagai suatu proses di mana suatu organism berubah perilakunya sebagai akibat dari Belajar merupakan suatu aktivitas atau kegiatan untuk mengubah perilaku pada ranahranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Aktivitas belajar ditinjau dari perspektif guru adalah perlakuan . terhadap materi menyampaikan atau membelajarkan peserta didik . eaching activit. , sedangkan belajar ditinjau dari perspektif peserta didik adalah perlakukan terhadap materi pembelajaran berupa mempelajari atau berinteraksi dengan materi pembelajaran . earning activit. Belajar pada dasarnya merupakan suatu aktivitas yang mengandung unsur kesengajaan, baik unsur kesengajaan dari individu yang belajar maupun unsur kesengajaan dari luar individu yang belajar, yaitu guru yang merancang kegiatan pembelajaran. Banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh peserta didik dalam belajar. Dalam hal ini. Paul B. Diedrich sebagaimana yang dikutip oleh Sardiman AM. yang menggolongkan kegiatan belajar peserta didik di sekolah, yaitu visual activities, oral activities, listening activities, writing 26Sardiman activities, drawing activities, motor activities, mental activities, dan emotional activities. Disebabkan oleh beragam jenis aktivitas belajar, maka kegiatan belajar yang dilakukan dikelompokkan menjadi kegiatan-kegiatan menghafal, menggunakan/ mengaplikasi, menemukan, dan memilih. 30 Kegiatan-kegiatan belajar ditunjukkan oleh peserta didik dalam beragam beragam keaktivan, baik untuk mengembangkan kemampuan kognitif maupun untuk mengembangkan kemampuan afektif dan psikomotor. Aktivitas peserta didik dilihat dari aspek belajar, bukan sekadar mewndengarkan, memandang, meraba, membau, mengecap, menulis/ mencatat, membaca, membuat ikhtisar/ringkasan dan menggarisbawahi, mengamati tabel, diagram, bagan, menyusun paper, mengingat, dan berpikir, akan tetapi mencakup serangkaian aktivitas jiwa-raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan Belajar merupakan suatu rangkaian aktivitas psiko-fisik yang menghasilkan perubahan atas kognitif, afektif, dan psikomotor yang diperoleh melalui proses interaksi individu dengan lingkungannya. Aktivitas belajar dalam konteks ini adalah aktivitas fisik yang didukung oleh aktivitas Beragam aktivitas yang oleh hampir setiap orang disetujui bila disebut sebagai perbuatan belajar, seperti mendapatkan perbendaharaan kata-kata baru, menghafal syair, nyanyian, dan sebagainya, sedangkan . Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, h. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, h. 27Syaiful Sagala. Konsep dan Makna Pembelajaran Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar, h. 30Jamil Suprihatiningrum. Strategi Pembelajaran : Teori & Aplikasi, h. 28Jamil Suprihatiningrum. Strategi Pembelajaran: Teori & Aplikasi (Cet. Yogyakarta: ArRuzz Media, 2. , h. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 29Sardiman 31Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoretis Psikologis (Cet. Jakarta: Rineka Cipta, 2. , h. | 165 Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas Saprin ada beberapa aktivitas yang tidak begitu jelas untuk digolongkan sebagai perbuatan belajar, seperti mendapatkan beragam sikap sosial, kegemaran, pilihan, dan lain sebagainya. Terdapat perbedaan antara perbuatan yang tergolong aktivitas belajar dengan perbuatan yang tidak termasuk dalam kategori aktivitas lokasi tersebut didasarkan pada prinsip keterjangkauan . , baik dari segi waktu maupun biaya yang diperlukan untuk mengumpulkan data dan mengolah data. Serangkaian aktivtas jiwa-raga yang tergolong belajar, dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan melalui proses yang dimulai dari fase motivasi, perhatian, konsentrasi, menerima, mengolah, menyimpan, dan diakhiri dengan fase reproduksi. Pendekatan penelitian dilihat dari perspektif metodologi yang digunakan adalah pendekatan positivistik, yaitu memandang kenyataan . sebagai suatu yang cenderung bersifat tetap. Selain itu, penggunaan pengukuran disertasi analisis secara statistik mengimplikasikan, bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan positivistic dengan metode kuantitatif. Jelaslah, bahwa aktivitas belajar menunjuk pada perbuatan yang dapat diukur menurut bentuknya, sehingga bentuk-bentuk aktivitas belakar tersebut di atas dikembangkan sebagai indikator penelitian untuk mengukur aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa. METODOLOGI PENELITIAN Jenis dan Lokasi Penelitian Jenis Penelitian Dilihat dari metodenya, penelitian ini termasuk penelitian ex post facto, yaitu meneliti peristiwa yang telah terjadi, sehingga tidak ada manipulasi langsung terhadap variabel 34 Sehubungan dengan itu, maka peneliti mengungkap data yang telah terjadi menggunakan statistik. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada MTs. Negeri Gowa sebagai objek penelitian. Pemilihan Pendekatan Penelitian Pendekatan Metodologi Pendekatan Studi atau Keilmuan Terdapat berbagai konsep hasil studi beberapa disiplin ilmu tertentu yang dipandang memiliki keterkaitan dengan pendidikan, antara lain psikologi yang memandang perubahan tingkah laku individu untuk mencapai perkembangan optimal menjadi diri 36 Atas dasar itu, maka pendekatan dilihat dari perspektif studi atau keilmuan yang digunakan adalah pendekatan psikologi, khususnya psikologi pendidikan. Populasi dan Sampel Populasi Populasi menurut Sugiyono adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karaktersitik tertentu yang ditetapkan oleh 32Sumadi Suryabrata. Psikologi Pendidikan. Edisi Kelima (Cet. XXII. Jakarta: Rajawali Pers, 2. , 35Nana Sudjana dan Ibrahim. Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Cet. Bandung: Sinar Baru, 1. , h. 33Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoretis Psikologis, h. 36Tatang Syarifuddin. Landasan Pendidikan (Cet. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI. , 2. , h. 34Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi Dilengkapi dengan Metode R & D (Cet. XIX. Bandung: Alfabeta, 2. , h. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Saprin Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas peneliti untuk dipelajari . dan kemudian ditarik kesimpulannya. 37 Karena itu, seluruh peserta didik yang berjumlah 649 orang yang ditetapkan sebagai anggota populasi. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang 38 Sehubungan dengan populasi yang tergolong, maka diambil sebagian dari populasi sebagai sampel yang representatif . dengan teknik proportionate stratifield random sampling, yaitu penarikan sampel secara acak berstrata yang porporsional sebesar 5% . = 33 orang peserta didik. Jumlah sampel ditetapkan menurut ukuran sampel. Metode Pengumpulan Data Penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan data yang bersifat kuantitatif, dilakukan dengan cara mengedarkan angket yang telah disusun dalam bentuk pernyataan secara berstruktur dan dilengkapi alternatif jawaban untuk dijawab atau direspons oleh 39 Karena itu, metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah angket tertutup. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian sebagai alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatan mengumpulkan data agar mudah dan disesuaikan dengan metode pengumpulan data. 40 Sesuai dengan metode pengumpulan data, maka digunakan angket sebagai instrumen penelitian. Validasi dan Reliabilitasi Instrumen Validasi Instrumen Instrumen penelitian yang telah Hasil uji coba diuji validitasnya dengan teknik uji beda antara kelompok skor jawaban tertinggi dengan kelompok skor jawaban terendah. Untuk mengetatahui apakah perbedaan itu signifikan atau tidak, maka t hitung yang diperoleh dibandingkan dengan harga t tabel untuk uji dua pihak . wo tail tes. , dan tingkat kesalahan 5% dengan dk = n1 n2Ae2 Reabilitasi Instrumen Pengujian dilakukan secara internal consistency dengan teknik belah dua . plit hal. yang dianalisis dengan rumus Spearman Brown. Untuk keperluan itu, maka butir-butir instrumen dibelah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ganjil dan kelompok genap yang disusun Skor total antara kelompok ganjil dengan kelompok genap dicari korelasinya untuk memperoleh nilai r dengan menggunakan rumus korelasi. Bila koefisien korelasi sama dengan 0,30 atau lebih . aling keci. , maka instrumen dinyatakan reliabel dan dapat digunakan untuk pebgumpulan data. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Analisis dan interpretasi data sebagai gambaran penerapan cara berpikir penalaran pada proses penelitian,41 dilakukan untuk menguji hipotesis statistik. Didasarkan pada jenis hipotesis statitik yang dibedakan atas hipotesis deskriptif dan hipotesis asosiatif maka 37Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kuantitatif, dan R & D (Cet. XIX. Bandung: Alfabeta, 2. , h. (Cet. XI. Jakarta: Rineka Cipta, 2. , h. 38Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif. Kuantitatif, dan R & D) (Cet. XVi. Bandung: Alfabeta, 2. , h. Edition (India: Prentice-Hal. , terj. Sanapiah Faisal dan Mulyadi Guntur Waseso. Metodologi Penelitian Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1. , h. 39Nana Syaodih Sukmadinata. Penelitian Pendidikan, h. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 40Suharsimi Arikunto. Manajemen Penelitian 41John W. Best. Research in Education. Third Metode | 167 Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas Saprin Deskripsi Hasil Penelitian Tentang Aktivitas Belajar Peserta Didik Pengujian hipotesis deskriptif dengan menggunakan statistik deskriptif dilakukan pada hipotesis deskriptif dirumuskan. 42 Untuk menguji hipotesis deskriptif terhadap data yang berbentuk interval atau ratio, digunakan uji t . satu sampel. Peneitian tentang aktivitas belajar peserta didik dihipotesiskan paling tinggi 75% berdasarkan kriteria yang ditetapkan (KKM) pada sejumlah 33 item intrumen dengan 4 option, sehingga 0. 75 x 33 x 4 = 99. Hipotesis menggunakan statistik deskriptif. analisis data digunakan teknik deskriptif dan statistik inferensial. Pengujian hipotesis asosiatif antara satu variabel bebas dengan satu variabel terikat Persamaan regresi yang telah ditemukan . berapa nilai dalam variabel terikat akan terjadi bila nilai dalam variabel bebas 44 Hasil analisis data tersebut digunakan untuk menjawab rumusan masalah sebagai kesimpulan yang disertai implikasi PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Penelitian Tentang Penerapan Manajemen Kelas Peneitian tentang penerapan manajemen kelas dihipotesiskan paling tinggi 75% berdasarkan kriteria yang ditetapkan (KKM) pada sejumlah 33 item intrumen dengan 4 option, sehingga 0. 75 x 33 x 4 = 99. Hipotesis menggunakan statistik deskriptif. Melalui uji statistik, diperoleh skor rerata sebesar 100. 7273 : 33 = 3. 052342 yang berkategori sering, dan persentase rerata 182 : 33 = 76. 30855 yang berkategori tinggi, berarti guru sering intensitas tinggi berdasarkan standar proses pembelajaran di MTs. Negeri Gowa atau terdapat nilai yang lebih tinggi dari nilai yang diduga pada populasi . 30855 > 75%), sehingga penerapan manajemen kelas di MTs. Negeri Gowa dinyatakan positif. 42Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi Dilengkapi dengan Metode R & D, h. Melalui uji statistik, diperoleh skor rerata sebesar 106. 2424 : 33 = 3. 219467 yang berkategori sering, dan persentase rerata 061 : 33 = 80. 4867 yang berkategori tinggi, berarti peserta didik sering beraktivitas belajar dengan intensitas tinggi berdasarkan standar proses pembelajaran di MTs. Negeri Gowa atau terdapat nilai yang lebih tinggi dari nilai yang diduga pada populasi . 75%), sehingga aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa dinyatakan positif. Uji Pengaruh Penerapan Manajemen Kelas Terhadap Aktivitas Belajar Peneitian tentang aktivitas belajar peserta didik dihipotesiskan paling tinggi 75% berdasarkan kriteria yang ditetapkan (KKM) pada sejumlah 33 item intrumen dengan 4 option, sehingga 0. 75 x 33 x 4 = 99. Hipotesis menggunakan statistik deskriptif. Melalui persamaan regresi sebesar yy = 0. = 0. 6236 = 106. Jadi diperkirakan, bahwa nilai aktivitas belajar peserta didik menjadi 106. 6545 bila nilai penerapan manajemen kelas dinaikkan menjadi 99. Persamaan regresi di atas dapat diartikan, bahwa untuk meningkatkan aktivitas belajar peserta didik sebesar 1, maka nilai rerata penerapan manajemen kelas harus dinaikkan sebesar . : 106. = 0. Artinya, penerapan manajemen kelas efektif untuk 44Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi Dilengkapi dengan Metode R & D, h. 43Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi Dilengkapi dengan Metode R & D, h. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Saprin meningkatkan aktivitas belajar peserta didik karena nilai yang diperoleh lebih besar dari nilai yang dikeluarkan . > 0. PENUTUP Kesimpulan Persentase rerata penerapan manajemen kelas sebesar 76. 30855% > 75%, berarti penerapan manajemen kelas di MTs. Negeri Gowa dinyatakan positif. Persentase rerata aktivitas belajar peserta didik sebesar 80. 4867% > 75%, berarti aktivitas belajar peserta didik di MTs. Negeri Gowa dinyatakan positif Uji regresi sederhana menghasilkan persamaan regresi sebesar yy = 0. = 0. 6545, berarti nilai aktivitas belajar peserta didik diperkirakan menjadi 6545 bila nilai penerapan manajemen kelas dinaikkan menjadi 99 atau untuk meningkatkan aktivitas belajar peserta didik sebesar 1, maka nilai rerata penerapan manajemen kelas harus dinaikkan sebesar . : 106. Artinya, penerapan manajemen kelas efektif untuk meningkatkan aktivitas belajar peserta didik karena nilai yang diperoleh lebih besar dari nilai yang dikeluarkan . > 0. Implikasi Penelitian Manajemen kelas menurut teori yang dikaji dapat diterapkan di MTs. Negeri Gowa karena hasilnya positif. Peserta didik di MTs. Negeri Gowa dapat beraktivitas belajar sesuai teori yang dikaji karena hasilnya positif Aktivitas belajar peserta didik dapat ditingkatkan melalui penerapan manajemen kelas karena hasilnya berpengaruh positif. DAFTAR PUSTAKA