Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 204-219 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Pengembangan Kemampuan Kognitif Dalam Mengklasifikasikan Benda Menggunakan Model Project Based Learning Berbantuan Papan Flannel Nadia Fadilah1. Ratna Purwanti2. Ahmad Suriansyah3 Info Artikel Abstract Keywords: Cognitive. Classifying. Project Based Learning Model. Flannel Board. The problem in this study is the low activity and cognitive development of children in classifying objects based on shape, color and size in group B of Hidayatullah Barito Kuala Kindergarten. The purpose of this study was to describe teacher activities, children's activities, and analyze the results of children's cognitive development in classifying objects based on shape, color and size. This approach uses a qualitative approach and the type of research is Classroom Action Research (CAR). with 4 meetings. The results showed that teacher activity increased from a score of 17 . ategory "Quite Good") in meeting 1 to 27 . ategory "Very Good") in meeting 4. Children's activity increased from 13% . ategory "Less Active") in meeting 1 to 94% . ategory "Very Active") in meeting 4. Children's cognitive development in classifying objects increased from 54% in meeting 1 to 100% in meeting Based on the results of the study, it can be concluded that through the Project Based Learning Model, the Demonstration Method with Flannel Board Media can increase teacher activity, children's activity, and children's cognitive development results in Classifying Objects Based on Shape. Color and Size. Kata kunci: Kognitif. Mengklasifikasi. Model Project Based Learning. Papan Flanel. Abstrak Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya aktivitas dan perkembangan kognitif anak dalam menglasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna dan ukuran pada kelompok B TK Hidayatullah Barito Kuala. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan aktivitas guru, aktivitas anak, dan menganalisis hasil perkembangan kognitif anak dalam mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna dan ukuran. Pendekatan ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 4 kali pertemuan, setting penelitian pada anak kelompok B TK Hidayatullah Barito Kuala yang berjumlah 15 anak. Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aktivitas guru meningkat dari skor 17 . ategori "Cukup Baik") di pertemuan 1 menjadi 27 . ategori "Sangat Baik") di pertemuan 4. Aktivitas anak meningkat dari 13% . ategori "Kurang Aktif") di pertemuan 1 menjadi 94% . ategori "Sangat Aktif") di Perkembangan kognitif anak dalam mengklasifikasikan benda naik dari 54% di pertemuan 1 menjadi 100% di pertemuan 4. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa melalui Model Project Based Learning. Metode Demonstrasi Dengan Media Papan Flanel 1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin. Indonesia Email: 2110126220016@mhs. 2 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin. Indonesia Email: ratnapurwanti@ulm. 3 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin. Indonesia Email: ahmadsuriansyah@ulm. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dapat meningkatkan aktivitas guru, aktivitas anak, dan hasil perkembangan kognitif anak dalam Mengklasifikasikan Benda Berdasarkan Bentuk. Warna dan Ukuran. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 17 Juni 2025 24 Juli 2025 08 Agustus 2025 11 Agustus 2025 Cara Mensitasi Artikel: Fadilah. Purwanti. , & Suriansyah. Pengembangan Kemampuan Kognitif Dalam Mengklasifikasikan Benda Menggunakan Model Project Based Learning Berbantuan Papan Flannel. Jurnal Ar-Raihanah, . , 204-219, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Nadia Fadilah, 2110126220016@mhs. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Anak usia dini adalah masa individu yang memasuki tahap tumbu dan berkembang secara Masa anak usia dini atau fase kanak-kanak disebut juga dengan istilah golden age, yaitu waktu keemasan. Dalam masa golden age ini juga adalah salah satu kesempatan guna mempercepat pertumbuhan anak terutama potensi anak (Rijkiyani, 2. Pertumbuhan anak usia golden age harus bertumbuh secara maksimal, begitu pula pertumbuhan fisik anak. Montessori dalam (Ningrum, 2. , menuturkan bahwa pada masa awal kelahiran hingga 6 tahun, anak mendapati fase keemasan . he golden year. , yang mana pada periode ini mereka mulai menunjukkan sensitivitas yang tinggi terhadap berbagai rangsangan. Di sisi lain, anak usia dini berada pada masa kritis, di mana periode keemasan ini tidak dapat diulang di masa mendatang. Jika potensi mereka tidak distimulasi secara optimal dalam fase ini, dampaknya akan menghambat perkembangan mereka di tahap berikutnya. Oleh karena itu, usia emas adalah kesempatan yang unik dan tidak dapat diulang kembali (Purwanti et al. , 2021. Yunita & Suryana. Oleh karena itu, saatnya untuk mengintegrasikan poin pendidikan ke dalam pembelajaran usia dini, sehingga proses pertumbuhan dan perkembangan dapat menjadi terintegrasi dan komprehensif (Yusuf, 2. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah program yang dirancang untuk membina anak-anak berusia 0 hingga 6 tahun, dengan tujuan mempersiapkan mereka untuk pendidikan selanjutnya. Fokus utama pengembangan PAUD mencakup aspek kognitif dan fisik-motorik, yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh (Faqihatuddiniyah et al. , 2. Lingkup perkembangan kognitif mencakup proses belajar dan pemecahan masalah, berpikir logis, serta berpikir simbolik. Sementara itu, perkembangan fisik-motorik meliputi aspek kesehatan dan keselamatan, serta keterampilan motorik kasar dan motorik halus (Nur et al. , 2020. Purwanti & Huljannah, 2. Oleh karena itu sangat perlu dan penting bagi guru dan orangtua dalam mengembangkan segala aspek perkembangan pada anak tarmasuk perkembangan kognitif (Kusumastuti et al. , 2021. Sakerani & Nufus, 2. Perkembangan anak dalam Permendikbud 2014 No. menyatakan bahwa aspek perkembangan kognitif mencakup tiga bagian. Pertama, menghadapi permasalahan dalam belajar, yang mencakup mengenal konsep sederhana dalam dunia nyata, memahami fungsi benda-benda, mengeenal konsep timbangan, mengenal konsep simbolik, membangun konsep berdasarkan ide pribadi yang berkaitan dengan pemecahan masalah, menunjukkan rasa ingin tahu dengan mengamati bendabenda, mengenal pola dalam suatu kegiatan dan memahami pentingnya waktu, menyadari tingkat atau posisi dalam keluarga, ruang, dan lingkungan sosial. Kedua, berfikir rasional yaitu mengelompokan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 benda berdasarkan fungsi, bentuk, warna dan ukuran, mengenal dampak sebab-akibat yang terkait dengan dirinya, mengelompokan benda yang sejenis, atau yang sama atau yang berpasangan dengan 2 variasi, mengenal pola . AB-AB dan ABC-ABC) dan mengulanginya, dan mengurutkan benda berdasarkan 4 variasi baik ukuran maupun warna. Ketiga. Berpikir simbolik melibatkan pemahaman tentang konsep bilangan, memahami berbagai aspek perkembangan anak secara menyeluruh, serta menghitung benda dari satu hingga sepuluh. Proses ini tidak terjadi secara terpisah, melainkan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari dalam diri anak maupun dari lingkungan sekitar (Permendikbud, 2. Kemampuan mengklasifikasikan benda sangat penting untuk dikembangkan, karena membantu anak mengenal dan membedakan berbagai benda di sekitar mereka. Pada anak usia dini, kemampuan ini mencakup beberapa aspek, seperti: . mengelompokkan benda berdasarkan ciri-ciri tertentu, seperti bentuk, ukuran, dan jenis, . menunjukkan dan mencari benda, hewan, dan tanaman yang memiliki warna, bentuk, atau ukuran tertentu, . mengenal perbedaan antara besar-kecil, banyaksedikit, panjang-pendek, tebal-tipis, kasar-halus, berat-ringan, serta jauh-dekat, . menyusun benda berdasarkan urutan dari besar ke kecil. Kegiatan mengklasifikasikan sangat bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan analisis anak terhadap objek-objek nyata. Kemampuan ini penting, karena membantu anak mengenal dan membedakan benda-benda di sekitar mereka. Dengan memahami persamaan dan perbedaan, anak dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan memperluas pengetahuan mereka tentang lingkungan (Cinantya, 2022. Permatasari, 2. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada hari Selasa, 3 September 2024 bersama Kepala Sekolah di TK Hidayatullah menerangkan bahwa anak 8 dari 15 anak masih belum mampu mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna dan ukuran, anak kurang diberikan kesempatan dalam memilih kegiatan sehingga kemampuan kognitif anak tidak berkembang. Anak tidak bisa membedakan benda-benda yang ada di lingkungan sekitar nya, serta anak kesulitan dalam mengelompokkan benda. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kegiatan yang dapat menstimulasi kemampuan kognitif anak, di mana aktivitas yang dilakukan sering kali hanya terbatas pada penggunaan pensil dan kertas. Selain itu, kurangnya media pembelajaran yang menarik membuat anak cepat merasa bosan, karena proses pembelajaran masih terfokus pada guru. Akibatnya, anak tidak mendapatkan cukup kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka secara optimal. Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas yaitu menggunakan pendekatan Project Based Learning (PJBL). Metode Demonstrasi dengan media Papan Flanel dapat menjadi solusi yang Proyek ini dimulai dengan mengajak anak-anak untuk mengumpulkan berbagai benda dari rumah dan lingkungan sekitar mereka. Dalam proses pengumpulan, anak-anak didorong untuk mengamati dan mendiskusikan karakteristik benda-benda tersebut, seperti bentuk . ulat, kotak, segitig. , ukuran . ecil, sedang, besa. , dan warna. Aktivitas ini tidak hanya merangsang rasa ingin tahu mereka tetapi juga memperkenalkan konsep klasifikasi dengan cara yang menyenangkan. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learnin. adalah metode yang memanfaatkan proyek atau kegiatan sebagai media pembelajaran. Metode ini memiliki beberapa karakteristik, antara lain: . Mengakomodasi anak dalam pengambilan tindakan dan merancang pondasi kerja mereka sendiri, . Memiliki masalah atau pertanyaan yang perlu dipecahkan, . Membimbing anak dalam merancang proses untuk mencapai hasil yang telah ditentukan, . Setiap anak bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mengelola informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek, . Mendorong anak melakukan evaluasi secara berkelanjutan, . Mengundang anak untuk secara rutin merenungkan apa yang telah mereka lakukan, . Hasil yang diinginkan adalah anak mampu menciptakan sebuah produk yang dapat dinilai kualitasnya, . Menciptakan lingkungan kelas yang Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 mensuport perubahan dan menghilangkan rasa takut anak untuk mengambil tindakan (Ningsyih et al. Purwanti. Rizkieya, et al. , 2. Selain menggunakan model project based learning untuk mengatasi permasalahan klasifikasi benda berdasarkan bentuk, ukuran, dan warna pada anak usia dini juga didukung dengan metode Metode demonstrasi adalah metode yang melibatkan seseorang untuk menampilkan gerakan atau proses tertentu dengan prosedur yang benar. Melalui metode ini, peserta didik dapat menyaksikan pemecahan masalah melalui berbagai peragaan, sehingga mereka memperoleh pengalaman langsung tentang suatu konsep (Ananta & Rahmawati, 2. Untuk melengkapi model dan metode sebelumnya, diperlukan sebuah media pembelajaran untuk mendukung kegiatan Media pembelajaran mencakup segala hal yang bisa dimanfaatkan dalam mentransfer informasi, sehingga dapat menarik perhatian, minat, dan emosi siswa dalam proses belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Dalam penelitian ini, salah satu media pembelajaran yang akan dikembangkan adalah papan flannel. Papan flanel terdiri dari sebuah papan yang dilapisi kain flanel, memungkinkan gambar-gambar yang ditampilkan dapat ditempel, dilepas, dan dilipat dengan gampang, serta dapat digunakan berulang Media ini termasuk dalam kategori visual dua dimensi, yang terbuat dari kain flanel yang ditempelkan pada papan atau triplex. Selain itu, potongan-potongan kain flanel atau kertas rempelas dapat diletakkan di belakang gambar-gambar yang relevan dengan materi pelajaran. Pengembangan media papan flanel ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak-anak usia dini, memberikan mereka pengalaman belajar yang interaktif dan efektif. Dengan menggunakan media yang menarik ini, diharapkan anak-anak dapat lebih mudah memahami konsep-konsep yang diajarkan serta meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses belajar . riyani Lutfi, 2. Dari beberapa penelitian terdahulu hanya menggunakan gabungan model project based learning dan metode ceramah saja dan masih belum ada penggunaan tambahan media pembelajaran yang bervariasi seperti dalam penelitian (Permatasari, 2022. Reza & Hananik, 2. Penelitian menggunakan metode demonstrasi menunjukkan bahwa penggunaan metode demonstrasi dalam peningkatan kemampuan kognitif anak menjadi berkembang lalu pendapat Iryanti . Monalisa & Maimunah . bahwa dengan menggunakan model problem based learning mampu meningkatkan kemampuan kognitif anak. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan kombinasi model, metode dan media pembelajaran. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana aktivitas Guru, aktivitas siswa, dan apakah terjadi peningkatan Hasil Perkembangan Kognitif anak dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan Model Project Based Learning. Metode Demonstrasi dengan Media Papan Flanel pada Kelompok B di TK Hidayatullah Barito Kuala. Berdasarkan rumusan masalah penelitian yang telah dirumuskan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mendeskripsikan peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa dan Menganalisis peningkatan hasil perkembangan kognitif anak setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan Model Project Based Learning. Metode Demonstrasi dengan Media Papan Flanel pada Kelompok B di TK Hidayatullah Barito Kuala. Bedasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuMengembangkan Kemampuan Kognitif Dalam Mengklasifikasikan Benda Berdasarkan Bentuk. Ukuran Dan Warna Menggunakan Model Project Based Learning. Metode Demonstrasi Dengan Media Papan Flanel Pada Kelompok B Di Tk Hidayatullah Barito KualaAy METODE Penelitian ini memakai jenis pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk memahami dan mengeksplorasi gejala-gejala secara mendalam. Selanjutnya, penelitian ini menginterpretasikan dan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 menarik kesimpulan berdasarkan konteks yang ada, sehingga mencapai hasil yang objektif dan sesuai dengan karakteristik subjektif gejala dalam konteks tersebut (Harahap, 2. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas digunakan karena peneliti bertindak secara langsung dalam penelitian dari awal sampai akhir. Penelitian tindakan kelas sebagai suatu penelitian dalam bidang penelitian yang memakai ruang belajar untuk objek penelitian dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar, proses, dan hasil belajar. Dalam prosesnya penelitian tindakan kelas (PTK) terbagi atas 4 tahapan yaitu proses perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi (Permatasari, 2. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di TK Hidayatullah yang beralamat dijalan Meranti 8 No. 92, komplek KORPRI Griya Permata desa Semagat Dalam RT 10. Kecamatan Alalak Barito kuala Provinsi Kalimantan Selatan. Subjek pada penelitian ini adalah anak kelompok B dengan jumlah anak sebanyak 15 orang anak yang terdiri dari 10 anak perempuan dan 5 anak laki-laki. Jenis data yang diperoleh adalah data kualitatif. Jenis data yang diperoleh berhubungan dengan aktivitas guru, aktivitas anak, dan capaian perkembangan anak selama proses belajar mengajar. Menurut Sugiyono . Analisis deskriptif adalah metode untuk menganalisis data dengan mendeskripsikan atau menggambarkan informasi yang telah dikumpulkan sesuai dengan kondisi aslinya, tanpa berupaya menarik kesimpulan umum atau generalisasi. Tujuan dari analisis data ini adalah untuk memahami seberapa besar pengaruh kegiatan pembelajaran menggunakan model project based learning, metode demonstrasi, dan media papan flanel. Analisis data dalam penelitian ini akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut: Analisis Data Aktivitas Guru Untuk menganalisis aktivitas guru selama kegiatan belajar mengajar dapat dilihat dari jumlah kriteria yang dipenuhi dari aspek yang diamati rubrik penilaian aktivitas guru, kemudian dideskripsikan berdasarkan kriteria sangat baik, cukup baik dan kurang baik. Jumlah item : 7 . umlah komponen dalam rubri. Kriteria : 4 . Skor minimal : 7 x 1 = 7 Skor maksimal : 7 x 4 = 28 Range : . Ae . 1 = 22 Interval : 22: 4 = 5,5 . Aktivitas Guru = yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycayco Presentase Maksimal = 28 : 28 x 100% = 100% Presentase minimal = 7 : 28 x 100% = 25% Rentang Skor = 100 Ae 25 = 75% Interval = 75 : 4 = 18,75 = 19% Tabel 1. Kategori Penilaian Aktivitas Guru Skor Kriteria Presentase Sangat Baik 82% - 100% Baik 63% - 81% Cukup Baik 44% - 62% Kurang Baik 25% - 43% Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Analisis Data Aktivitas Anak Terdapat 5 aktivitas anak yang diamati, penilaian setiap aspek ditentutkan berdasarkan jumlah kriteria yang terpenuhi dari masing-masing aspek yang diamati pada rubrik penilaian aktivitas anak. Data aktivitas anak dalam kegiatan belajar dianalisis dengan menggunakan Teknis rumus persentase sebagai berikut: Aktivitas Anak = skor perolehan y 100% Skor Maksimal Jumlah aspek = 5 Kategori = 4 Skor minimal = 5 Skor maksimal = 5 y 4 = 20 Range = . 1 = 16 Interval = 16 4 = 4 Tabel 2. Kategori Penilaian Aktivitas Anak Skor Kriteria Sangat Aktif Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Aktivitas anak dianalisis dengan melihat jumlah indikator-indikator yang terpenuhi dari butir-butir aktivitas anak secara individu. Kemudian dideskripsiskan berdasarkan kriteria Berkembang Sangat Baik. Berkembang Sesuai Harapan. Mulai Berkembang dan Belum Berkembang. Prsentase minimal = y 100% = 25% Prsentase maksimal = y 100% = 100% Range = 100% - 25% = 75% Interval = 100 25 = 18,75 = 19% Data aktivitas anak dapat dianalisis dengan rumus presentase sebagai berikut: Klasikal = Jumlah anak (BSB BSH) Jumlah anak y 100 Tabel 3. Kategori Kriteria Persentase Aktivitas Anak Skor Kriteria 82%-100% Sangat Aktif 63%-81% Aktif 44%-62% Cukup Aktif 25%-43% Kurang Aktif Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Persentase aktivitas anak secara klasikal dianalisis dengan melihat jumlah indikatorindikator yang terpenuhi dari butir-butir aktivitas anak secara klasikal. Kemudian dideskripsikan berdasarkan kategori Sangat Aktif. Aktif. Cukup Aktif dan Kurang Aktif. Analisis Hasil Perkembangan Kognitif Aspek yang diamati dalam kemampuan kognitif anak dalam mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk yaitu: Anak mampu mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk Anak mampu mengklasifikasikan benda berdasarkan warna Anak mampu mengklasifikasikan benda berdasarkan ukuran Aspek yang diteliti = 3 Skor minimal = 3 Skor maksimal = 3y4 =12 Range = 12-3 = 9 Interval = 9 : 4 = 2,5 = 2 Prsentase minimal = y 100% = 25% Presentase maksimal = y 100% = 100% Range = 100% - 25% = 75% Interval = 100Oe25 4 y 18,75% = 19% Untuk data hasil perkembangan dalam kegiatan pembelajaran dirumuskan sebagai berikut: Hasil Perkembangan (Individual = yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa yaycycoycoycaEa ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycayco y 100% Hasil Perkembangan Klasikal = Jumlah anak (BSB BSH) y 100 Jumlah seluruh anak Tabel 4. Kategori Kriteria Penilaian Perkembangan Kognitif Anak Skor Presentase Kriteria 82%-100% Berkembang Sangat Baik (BSB) 63%-81% 44%-62% Berkembang Sesuai Harapan (BSH) Mulai Berkembang (MB) 25%-43% Belum Berkembang (BB) HASIL PENELITIAN Berikut disajikan grafik kecenderungan dari faktor yang diteliti dari aktivitas guru, aktivitas anak dan perkembangan kognitif anak pertemuan 1, pertemuan 2, pertemuan 3 dan pertemuan 4, yaitu sebagai berikut: Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Grafik Kecenderungan Pertemuan 1 Pertemuan2 Pertemuan 3 Pertemuan 4 Aktivitas Guru Aktivitas Anak Hasil Perkembangan Aktivitas Guru Aktivitas Anak Hasil Perkembangan Gambar 1. Grafik Analisis Kecenderungan Pada tabel tersebut terlihat adanya peningkatan yang terjadi pada aspek yang ditelti yaitu aktivitas guru, aktivitas anak dan hasil perkembangan kognitif anak khususnya dalam memgklasifikasikan benda berdasarkan bentuk,warna, dan ukuran. Terjadinya peningkatan terhadap aktivitas guru dikarenakan guru melakukan perbaikan pada setiap pertemuan yang telah dilakukan, adapun peningkatan aktivitas anak dikarenakan guru melakukan kegiatan pembelajaran yang bersifat menyenangkan bagi anak. Lalu terjadinya peningkatan terhadap hasil perkembangan kognitif anak dalam mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran dikarenakan guru menciptakan aktivitas yang menyenangkan tersebut sehingga hasil perkembangan kognitif anak dalam pengklasifikasian benda berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran pun meningkat. Penjelasan di atas menunjukkan adanya keterkaitan yang kuat antara ketiga aspek yang diteliti. Grafik yang ditampilkan juga mengindikasikan bahwa semakin baik aktivitas guru, semakin baik pula aktivitas anak pada saat pembelajaran. Hal ini berefek positif terhadap perkembangan kognitif anak, terutama dalam mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran, yang dapat meningkat pada setiap pertemuan. Setiap aspek aktivitas guru, aktivitas anak, dan hasil perkembangan kognitif saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan yaitu pertemuan 1, pertemuan 2, pertemuan 3, dan pertemuan 4 serta faktor yang diteliti yaitu aktivitas guru, aktivitas anak dan hasil perkembangan kognitif anak, maka hasilnya dapat diuraikan sebagai berikut. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan, maka penggunaan model Project Based Learning. Metode Demonstrasi dengan Media Papan Flanel mengalami peningkatan pembelajaran di TK Hidayatullah Barito Kuala pada Kelompok B dengan baik. Dapat dilihat aktivitas guru pada setiap pertemuanya mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan meningkatnya aktivitas guru pada setiap pertemuannya terutama adanya refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada setiap akhir pembelajaran guna menilai sejauh mana keberhasilan pembelajaran dan apa saja yang menjadi faktor adaanya kekurangan, selanjutnya kekurangan tersebut akan dijadikan bahan perbaikan untuk memasuki pertemuan selanjutnya. Hal ini merupakan suatu Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 keberhasilan dalam pembelajaran dikarenakan guru selalu berusaha untuk memperbaiki pembelajaran disetiap pertemuannya. Aktivitas Guru Aktivitas guru memegang peranan penting dalam aktivitas anak, ketika guru melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan terarah, hal ini akan berdampak positif pada kemampuan dan perkembangan anak secara optimal. Keberhasilan ini juga dipengaruhi oleh kesabaran guru dalam mendukung anak yang mengalami kesulitan, cara guru membantu anak memahami konsep baru, serta upaya mengarahkan, menjelaskan materi, dan memotivasi anak melalui perhatian yang diberikan. Seorang guru harus memiliki kemampuan serta profsionalisme yang tinggi, salah satunya adalah kemampuan guru untuk memilih dan menggunakan pendekatan atau model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak tersebut (Novitawati et al. , 2. Fauhah & Rosy . menyatakan bahwa guru memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran, tidak hanya sebagai pemberi pengetahuan, tetapi juga sebagai penggerak agar pembelajaran berlangsung lebih aktif. Cara atau teknik yang digunakan oleh guru sangat berpengaruh pada kegiatan anak. Jika guru menerapkan teknik yang melibatkan anak, mereka akan lebih termotivasi untuk belajar. Sebaliknya, jika guru hanya menggunakan metode ceramah, anak cenderung merasa jenuh dan kurang berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Penggunaan teknik pelajaran yang tepat, akan berpengaruh terhadap gaya belajar siswa sehingga pelajaran yang dilaksanakan lebih aktif dan hasil belajar dapat meningkat (Cinantya et al. , 2. Muzdalifah & Faqihatuddiniyah . menjelaskan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi anak yang diajarnya, tetapi juga sebagai manager of learning. Seorang guru harus menyiapkan perencanaan pembelajaran sebelum melakukan proses pembelajaran mulai dari menyiapkan materi, bahan ajar, ataupun media pembelajaran. Oleh karenanya, keberhasilan suatu proses pemeblajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan seorang guru. Guru profesional mampu menerapkan berbagai metode, teknik pembelajaran yang inovatif dan kreatif, serta strategi (Purwanti et al. , 2025. Ramadina & Cinantya, 2. Selain itu, guru merupakan komponen penentu keberhasilan akademik. Karena guru berhadapan langsung dengan anak, amak guru juga dapat menentukan model pembelajaran dan media yang dapat mempengaruhi pembelajaran (Purwanti. Aslamiah, et al. , 2024. Purwanti. Suriansyah, et al. , 2024. Sabila & Wahyudi, 2. Pembelajaran yang memanfaatkan kombinasi model Project Based Learning. Metode Demonstrasi, dengan Media Papan Flanel mempunyai kelebihan dalam peningkatan aktivitas guru pada setiap pertemuan diantaranya adalah langkah guru yang pertama guru menyampaikan materi dengan menayangkan video terkait materi yang diajarkan (PJBL. PF). Pada langkah guru dalam melaksanakan pembelajaran yaitu guru memulai pembelajaran dengan menayangkan video sesuai dengan tema yaitu tentang Sayur Mayur. Pada langkah ini indikator yang dilaksanakan guru yaitu menyampaikan materi pembelajaran dengan menggunakan video sederhana, menarik dan mudah Keunggulan model ini yaitu dengan menyampaikan materi dengan menayangkan video tentang Sayur Mayur, maka pembelajaran berlangsung terarah dan mendukung kegiatan awal Kemudian, menurut Shoimin . langkah guru dalam melaksanakan pembelajaran yaitu menyampaikan kompetensi/tujuan pembelajaran. Selain itu, peneliti memberikan pertanyaan mendasar dengan tema yang relevan dengan kondisi, kebutuhan, dan karakteristik anak (Anwar & Lapenia, 2019. E Mulyasa, 2017. Sunita et al. , 2. Kemudian langkah kedua guru bersama anak menyusun jadwal proyek yang akan dilaksanakan (PJBL. PF). Pada langkah guru dalam melaksanakan pembelajaran yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan. Aktivitas guru yaitu menyediakan alat dan bahan yang menarik, aman dan sesuai jumlah anak, serta membuat batas waktu dalam menyelesaikan proyek. Keunggulan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 model ini yaitu dengan menyiapkan alat dan bahan serta batas waktu yang akan digunakan dalam kegiatan, maka anak akan mengalami pembelajaran secara langsung dan nyata sehingga pembelajaran berjalan dengan optimal secara tepat waktu. Langkah ketiga guru mendemontrasikan setiap tahapan pembuatan proyek menggunakan media Papan Flanel (PJBL. PF). Menurut Shoimin . pada langkah ini dalam melaksanakan pembelajaran yaitu guru mendemonstrasikan pengetahuan dan Kemudian, dalam melaksanakan pembelajaran yaitu guru menyiapkan, memperlihatkan dan mengamati media konkret yang digunakan (Anwar & Lapenia, 2. Pada tahap ini, guru dapat memberikan contoh langkah-langkah penggunaan media secara rinci. Keunggulan dari model ini adalah bahwa dengan mendemonstrasikan langkah-langkah yang perlu ditiru, anak akan lebih mudah memahami materi dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan lebih efektif. Pada langkah keempat guru Guru memberikan kesempatan pada anak untuk mengerjakan proyek secara mandiri (PJBL. PF). Pada langkah ini dalam melaksanakan pembelajaran yaitu anak diberi kesempatan untuk beraktivitas dalam pembelajaran meniru bentuk menggunakan benda konkret yang sudah disiapkan (E Mulyasa, 2017. Shoimin, 2. Pada aspek ini, guru dapat mengevaluasi kemampuan anak dalam mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna dan ukuran menggunakan tangan mereka. Guru bisa meminta anak untuk mengikuti langkah-langkah yang telah ditentukan dan mengingatkan mereka untuk tidak terburu-buru dalam menyelesaikan karya. Keunggulan dari model ini adalah dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan karya secara mandiri, mereka akan mendapatkan pengalaman langsung yang menyenangkan. Pendekatan ini juga mengurangi fokus yang berlebihan pada guru, sehingga mendorong keterlibatan aktif anak dalam proses pembelajaran. Selanjutnya langkah kelima guru membimbing dan melakukan monitoring aktivitas anak dalam pembuatan proyek menggunakan media Papan Flanel (PJBL. PF). Aktivitas dalam melaksanakan pembelajaran yaitu guru memonitor aktivitas anak dan kemajuan proyek dan guru membimbing pelatihan kepada anak, serta membimbing anak dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi (Anwar & Lapenia, 2019. E Mulyasa, 2017. Shoimin, 2. Pada tahap ini, guru berkeliling untuk mengamati aktivitas siswa dan memberikan bantuan kepada mereka yang mengalami kesulitan. Keunggulan dari model ini adalah bahwa dengan membimbing dan monitoring aktivitas anak, komunikasi mereka dalam proses pembelajaran akan meningkat secara positif. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk memberikan umpan balik yang tepat waktu dan mendukung anak dalam mengatasi tantangan yang dihadapi, sehingga meningkatkan efektivitas pembelajaran secara Langkah keenam yaitu guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan (PJBL. PF). Dalam pembelajaran guru mengajak anak untuk menarik kesimpulan dari aktivitas yang telah dilakukan (E Mulyasa, 2017. Shoimin, 2. Aktivitas yang perlu dilakukan oleh guru meliputi menanyakan kembali tentang kegiatan yang telah dilakukan, memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan perasaan mereka, memberi apresiasi, serta menyimpulkan kegiatan pembelajaran dengan jelas dan sederhana. Keunggulan dari model ini adalah bahwa dengan menyimpulkan kegiatan yang telah dilaksanakan, guru dapat dengan mudah mengetahui capaian perkembangan anak dan sekaligus melatih kemampuan komunikasi mereka. Kemudian yang terakhir, langkah ketujuh Guru melakukan refleksi dan tindak lanjut (PJBL. PF). Menurut E Mulyasa . dalam melaksanakan pembelajaran, guru perlu melakukan refleksi terhadap aktivitas pembelajaran berbasis proyek. Pada tahap ini, guru meminta siswa untuk menunjukkan hasil karya mereka, melakukan sesi tanya jawab mengenai karya yang telah diselesaikan, serta menanamkan pemahaman yang relevan. Proses ini tidak hanya memungkinkan anak untuk membagikan pengalaman mereka, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka tentang materi yang Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 telah dipelajari melalui diskusi yang interaktif. Sejalan dengan pendapat Sunita et al. memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kondisi nyata dan melibatkan mereka dalam pengumpulan informasi serta penerapan pengetahuan yang relevan sangatlah penting. Keunggulan dari model ini adalah bahwa dengan melakukan refleksi terhadap hasil aktivitas pembelajaran berbasis proyek, siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dan menjadi lebih tertarik pada proses pembelajaran. Pendekatan ini menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan mendorong keterlibatan aktif siswa. Sehingga, pada penelitian ini penggunaan model Project Based Learning. Metode Demonstrasi dengan Media Papan Flanel yang merupakan gabungan dari beberapa model dan media yang digunakan dalam penelitian terdahulu dalam aspek perkembangan kognitif anak. Hal ini terbukti dengan menggunakan model pembelajaran dan media tersebut, aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran terus meningkat (Khoirunnisa & Faqihatuddiniyah, 2024. Mardatila & Novitawati, 2025. Maulidha & Purwanti, 2023. Meliani et al. , 2025. Niqo & Wahyudi, 2024. Nurhaliza & Wahyudi, 2. Hal ini sejalan dengan pendapat Iryanti . Monalisa & Maimunah . menyatakan model problem based learning mampu meningkatkan kemampuan kognitif anak. Penelitian menggunakan metode demonstrasi menunjukkan bahwa penggunaan metode demonstrasi dalam peningkatan kemampuan kognitif anak menjadi berkembang (Permatasari, 2022. Reza & Hananik, 2. Hasil penelitian menggunakan media papan Flannel menunjukkan bahwa media papan flannel dapat meningkatkan perkembangan anak (Hasanah & Nurhasanah, 2020. Khirawati, 2022. Mulyati et al. Novitawati, 2021. Wahyuni & Sukmawati, 2. Aktivitas Anak Pada rentang usia lahir sampai 6 tahun, anak mengalami masa keemasan . he golden year. , yaitu periode di mana mereka mulai peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan (Ningrum et al. Setiap anak memiliki masa sensitivitas yang berbeda, sejalan dengan laju pertumbuhan dan perkembangan individu mereka. Periode ini merupakan waktu yang sangat penting untuk membangun fondasi awal dalam mengembangkan kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosio-emosional pada anak usia dini. Hal ini sesuai dengan pendapat Ramadina & Cinantya . mengatakan bahwa keaktifan anak dapat berpengaruh pada hasil belajar anak di sekolah. Pembelajaran yang baik ditandai dengan aktifnya anak dalam mengikuti pembelajaran. Aktivitas yaitu keaktifan anak dalam pembelajaran yaitu ada interaksi yang tinggi antara guru dan anak maupun dengan anak lainnya sehingga suasana pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan dan kondusif, anak-anak dapat melibatkan kemampuannya secara maksimal sehingga terbentuknya pengetahuan dan keterampian yang akan mengarah pada peningkatan perkembangan maupun prestasi anak. Aktivitas belajar pada anak usia dini meliputi berbagai kegiatan seperti belajar sambil menari atau bergerak, menggambar atau mewarnai, serta menghafal kata sambil bertepuk tangan. Semua aktivitas ini merupakan bentuk dari bermain sambil belajar (Rozalena & Kristiawan, 2. Pembelajaran dengan menggunakan kombinasi model Project Based Learning. Metode Demonstrasi dengan Media Papan Flanel mempunyai kelebihan dalam mengembangkan aktivitas anak setiap pertemuan. Faktor pertama anak memahami tujuan pembelajaran. Sejalan dengan pendapat Shoimin . yang mengatakan bahwa dalam memahami tujuan pembelajaran yaitu anak dapat benar-benar menguasai pengetahuannya dan anak lebih memahami materi yang dajarkan oleh guru. Keunggulan model dalam aspek ini anak mendengarkan penjelasan guru, duduk ditempat duduk masing-masing, memahami materi kegiatan, serta bertanya tentang materi yang berkaitan. Faktor kedua anak ikut berpatisipasi dalam menyusun jadwal proyek. Keunggulan langkah ini yaitu anak memahami konsep pengerjaan, memperhatikan dengan baik, dan memberikan respon terhadap penjelasan guru (Anggraini & Wulandari, 2021. E Mulyasa, 2. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Faktor ketiga anak menyimak instruksi langsung yang diberikan guru pada saat mendemonstrasikan pembuatan proyek. Keunggulan model dalam aspek ini anak menunjukkan tertarik pada kegiatan proyek, mengerti langkah-langkah dengan baik, menereapkan instruksi yang diberikan, serta memiliki antusias yang tinggi dalam mengikuti kegiatan meniru bentuk. Dengan anak menyimak instruksi langsung yang diberikan guru pada saat mendemonstrasikan kegiatan meniru bentuk maka anak dapat menyerap pengalaman dengan mudah (Anggraini & Wulandari, 2021. E Mulyasa, 2017. Shoimin, 2. Faktor keempat anak menyelesaikan tugas yang diberikan. Selain itu, ketika anak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan hal tersebut berarti anak terlibat dalam pembelajaran. Keunggulan langkah ini yaitu anak mengikuti kegiatan cara membuat proyek, membantu teman, berani meminta bantuan, dan tidak terburu-buru dalam menyelesaikan proyek (Anggraini & Wulandari, 2021. E Mulyasa, 2017. Shoimin, 2. Faktor yang terakhir atau kelima yaitu anak menunjukkan hasil karya yang telah diselesaikan. Hasil karya yang telah diselesaikan maka akan menumbuhkan kedisiplinan anak serta meningkatkan aktivitas dan motivasi anak dalam belajar. Keunggulan model dalam aspek ini anak mampu menunjukkan hasil karya dengan percaya diri, menyampaikan perasaan saat melakukan kegiatan meniru bentuk dengan bahasa sederhana, serta menyebutkan warna yang ada pada karya (Ananda & Agusta, 2. Sejalan dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan, peneliti menggunakan kombinasi model Project Based Learning. Metode Demonstrasi, dengan Media Papan Flanel yang merupakan kombinasi dari beberapa model yang digunakan dalam penelitian terdahulu. Terbukti dengan menggunakan model pembelajaran ini aktivitas anak dalam melaksanakan pembelajaran terus Dalam kombinas model Project Based Learning. Metode Demonstrasi dengan Media Papan Flanel ini aktivitas anak dalam belajar muncul dikarenakan media/sumber belajar yang disuguhkan sangat menarik perhatian anak dalam proses pembelajaran (Ababilayka & Suriansyah, 2023. Khoirunnisa & Faqihatuddiniyah, 2024. Mardatila & Novitawati, 2025. Meliani et al. , 2025. Niqo & Wahyudi, 2024. Nurhaliza & Wahyudi, 2. Hasil Perkembangan Kognitif Anak Peningkatan terhadap hasil perkembangan kemampuan mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna dan ukuran, hal ini disebabkan oleh penerapan pembelajaran yang berpusat pada anak, di mana guru menggunakan kombinasi model Project Based Learning dan Metode Demonstrasi dengan Media Papan Flanel. Kombinasi ini berdampak pada anak dalam mengembangkan pengetahuan dan pemahaman mereka sesuai pengalaman belajar yang mereka alami. Indikator pada aspek capaian perkembangan kemampuan mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna dan ukuran. Sesuai dengan Permendikbud . yang menyatakan bahwa capaian perkembangan kognitif anak usia 5-6 tahun terbagi menjadi 3 yaitu, belajar dan memecahkan masalah, berfikir logis dan berfikir simbolik. Salah satu kemampuan anak usia 5-6 tahun dalam berfikir logis yaitu anak mampu mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, bentuk dan Tercapainya indikator menunjukkan, menyebutkan serta mengelompokkan bentuk, warna dan ukuran karena anak mampu dengan baik dan benar menunjukkan, menyebutkan dan mengelompokkan bentuk, warna dan ukuran pada media papan flannel dengan akurat. Indikator anak mampu menunjukkan, menyebutkan serta mengelompokkan bentuk, warna dan ukuran diambil sejalan dengan pendapat Agustina dalam Monalisa & Maimunah . dengan menunjuk, menyebutkan dan mengelompokkan warna-warna yang dimaksud guru saat latihan pengenalan warna, anak mendemonstrasikan kemampuannya dalam mengidentifikasi warna. Keunggulan dari penggunaan kombinasi model Project Based Learning. Metode Demonstrasi dan Media Papan Flabel ini yaitu dapat memberikan stimulasi pengembangan tentang "saling memiliki kesamaan", "keserupaan", dan "perbedaan. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Penelitian ini digunakan peneliti untuk mengetahui hasil perkembangan kemampuan mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna dan ukuran menggunakan kombinasi model Project Based Learning. Metode Demonstrasi dengan Media Papan Flanel dalam mengembangkan kemampuan kognitif pada anak kelompok B TK Hidayatullah Barito Kuala. Dengan adanya kombinasi tersebut ternyata hasil perkembangan kemampuan mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna dan ukuran meningkat. Penelitian ini dikuatkan oleh penelitian terdahulu yang dilakukan peneliti, peneliti menggunakan kombinasi model Project Based Learning. Metode Demonstrasi, dengan Media Papan Flanel yang merupakan kombinasi dari beberapa model yang digunakan dalam penelitian terdahulu. Terbukti dengan menggunakan model pembelajaran ini aktivitas anak dalam melaksanakan pembelajaran terus Dalam kombinas model Project Based Learning. Metode Demonstrasi dengan Media Papan Flanel ini aktivitas anak dalam belajar muncul dikarenakan media/sumber belajar yang disuguhkan sangat menarik perhatian anak dalam proses pembelajaran (Khoirunnisa & Faqihatuddiniyah, 2024. Mardatila & Novitawati, 2025. Meliani et al. , 2025. Nurhaliza & Wahyudi, 2025. Nurhayanti et al. , 2021b. Rehny & Sari, 2. Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa guru harus memiliki strarategi yang efektif dalam proses pembelajaran yaitu dengan cara menyiapkan model dan media yang menarik yang dapat menstimulasi tumbuh kembang anak. Salah satunya dengan menggunakan model Project Based Learning,Metode Demonstrasi. Media Papan flanel. Hal ini akan membuat anak merasa aman, nyaman, dan senang. Media yang digunakan juga memudahkan anak dalam memahami pembelajaran, serta meningkatkan aktivitas guru dan anak selama proses belajar. KESIMPULAN Berdasar hasil yang diperoleh dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam mengembangkan kemampuan kognitif dalam mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk, warna dan ukuran menggunakan model project based learning, metode demonstrasi dengan media papan melalui beberapa tindakan pada pertemuan 1, pertemuan 2, pertemuan 3, dan pertemuan 4 pada anak kelompok B TK Hidayatullah Barito Kuala maka dapat disimpulkan sebagai berikut. Aktivitas guru dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak menggunakan model project based learning, metode demonstrasi dan media papan flanel pada kelompok B TK Hidayatullah Barito Kuala sudah sesuai dengan langkah langkah model pembelajaran yang digunakan dan mencapai kategori AuSangat BaikAy. Aktivitas anak dalam meningkatkan kemampuan kognitif menggunakan model project based learning, metode demonstrasi dan papan flanel pada kelompok B TK Hidayatullah Barito Kuala sudah sesuai dengan langkah langkah model pembelajaran yang digunakan dan mencapai kategori AuSangat AktifAy. Hasil perkembangan anak dalam kemampuan kognitif menggunakan model project based learning, metode demonstrasi dan media papan flannel pada kelompok B TK Hidayatullah Barito Kuala sudah sesuai dengan langkah langkah model pembelajaran yang digunakan dan mencapai kategori AuBerkembang Sangat Baik. KRITIK DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan dapat disampaikan beberapa saran sebagai berikut. Bagi kepala sekolah, disarankan akan memberikan bimbingan dan arakan kepada seluruh guru agar lebih mengoptimalkan penggunaan metode dan model pembelajaran dalam rangka untuk mengembangkan kualitas pembelajaran di TK Hidayatullah Barito Kuala. Bagi guru, melalui penellitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesionalisme guru dalam memberikan kegiatan pembelajaran yang menarik, aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan untuk anak usia dini. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan hasil penelitian tindakan kelas ini dapat menjadi referensi dalam melaksanakan penelitian melalui model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 DAFTAR PUSTAKA