Sevaka : Hasil Kegiatan Layanan Masyarakat Volume 3 Nomor 3 Agustus 2025 e-ISSN : 3030-8836. p-ISSN : 3030-8844. Hal 21-29 DOI: https://doi. org/10. 62027/sevaka. Available online at: https://journal. id/index. php/Sevaka/issue/view/28 Pemberdayaan Masyarakat Desa Dalam Penanganan Trauma Dasar Melalui Pelatihan Pertolongan Pertama Berbasis Keluarga Di Desa Binaan COMMUNITY EMPOWERMENT IN BASIC TRAUMA MANAGEMENT THROUGH FAMILY-BASED FIRST AID TRAINING IN AN ASSISTED VILLAGE Yuni Suharnida Lubis1*. Aulia Zulda Nasution2. Zahra Salsabila3 1,2,3 Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam. Indonesia *Email@korespondensi . unibundaola@gmail. com )1 Article History: Received: Juni 12, 2025. Revised: Juni 18, 2025. Accepted: Juli 15, 2025. Online Available: Juli 23, 2025. Published: 04 August, 2025. Keywords: first aid, basic trauma, village, community nursing Abstract: The main issue faced by the community of Tanjung Anom Village, especially in Dusun I, is the lack of knowledge and basic skills in providing first aid for minor trauma incidents at the household level. This community service activity aims to enhance family capacity in trauma management through community-based training. The method used is Participatory Action Research (PAR) with a community organizing approach, starting from preliminary observation, focus group discussions, training sessions, to post-activity evaluation. The results showed that the training positively impacted residents' knowledge and skills, led to the formation of local trauma cadres, and fostered new social structures supporting community preparedness for The activity also encouraged behavioral change and collective awareness regarding the importance of basic trauma care in Abstrak Masalah utama yang dihadapi masyarakat Desa Tanjung Anom, khususnya di Dusun I, adalah rendahnya pengetahuan dan keterampilan dasar dalam melakukan pertolongan pertama terhadap kejadian trauma ringan di rumah tangga. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas keluarga dalam penanganan trauma dasar melalui pelatihan berbasis komunitas. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan pendekatan pengorganisasian komunitas, dimulai dari observasi awal, diskusi kelompok, pelatihan, hingga evaluasi pasca kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa pelatihan ini berdampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga, terbentuknya kader trauma lokal, serta munculnya struktur sosial baru yang mendukung kesiapsiagaan masyarakat terhadap kejadian darurat. Kegiatan ini juga mendorong munculnya perubahan perilaku dan kesadaran kolektif tentang pentingnya penanganan trauma dasar di tingkat rumah tangga. Kata Kunci: pertolongan pertama, trauma dasar, pemberdayaan keluarga, desa binaan, keperawatan komunitas PENDAHULUAN Desa Tanjung Anom, khususnya Dusun I. Kecamatan Pancur Batu. Kabupaten Deli Serdang, merupakan salah satu wilayah semi-rural yang memiliki potensi kerentanan tinggi terhadap kasus trauma dasar. Kegiatan masyarakat yang didominasi oleh aktivitas pertanian, penggunaan alat berat sederhana, serta keterbatasan akses terhadap layanan kegawatdaruratan *Yuni Suharnida Lubis, yunibundaola@gmail. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DALAM PENANGANAN TRAUMA DASAR MELALUI PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA BERBASIS KELUARGA DI DESA BINAAN menyebabkan peningkatan risiko cedera dan keterlambatan penanganan awal. Dalam kunjungan awal yang dilakukan oleh tim pengabdian, ditemukan bahwa sebagian besar warga belum memiliki pengetahuan maupun keterampilan dasar dalam melakukan pertolongan pertama terhadap trauma ringan hingga sedang. Berdasarkan data dari Puskesmas Pancur Batu . , sekitar 42% kasus kunjungan nonpenyakit menular berasal dari insiden luka, jatuh, dan cedera rumah tangga, dengan 35% di antaranya terjadi di wilayah Tanjung Anom. Namun, hanya 1 dari 10 kepala keluarga yang mengetahui langkah pertolongan pertama untuk luka terbuka atau patah tulang tertutup. Ketiadaan kader kesehatan yang memahami teknik dasar keperawatan trauma semakin memperparah kondisi ini. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menangani trauma dasar secara mandiri. Isu utama yang menjadi fokus pengabdian ini adalah rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap penanganan pertama pada trauma dasar. Oleh karena itu, pelatihan pertolongan pertama berbasis keluarga di Desa Tanjung Anom. Dusun I, menjadi strategi yang relevan dan aplikatif. Pemilihan desa ini juga berdasarkan statusnya sebagai desa binaan dari Fakultas Keperawatan, dengan hubungan kolaboratif yang telah terjalin bersama perangkat desa, serta adanya dukungan dari tokoh masyarakat dalam pengembangan kapasitas kesehatan lokal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, khususnya keluarga, agar mampu melakukan pertolongan pertama terhadap trauma dasar secara tepat dan cepat, sebelum mendapatkan bantuan tenaga medis. Diharapkan akan terjadi perubahan sosial berupa terbentuknya budaya kesiapsiagaan dalam rumah tangga, penguatan peran kader kesehatan, dan berkurangnya angka komplikasi akibat trauma ringan yang tidak tertangani. Literatur menyatakan bahwa pelatihan komunitas tentang pertolongan pertama memiliki dampak positif terhadap penurunan angka kesakitan akibat trauma ringan dan meningkatkan respons awal masyarakat dalam situasi gawat darurat (Gale et , 2020. Nascimento et al. , 2. Pendekatan pemberdayaan keluarga di wilayah desa juga telah terbukti sebagai intervensi yang efektif dalam membangun ketahanan komunitas terhadap masalah kesehatan (Mubarak & Chayatin, 2. Name Journal VOLUME 3. NO. 3 AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3030-8836. p-ISSN : 3030-8844. Hal 21-29 METODE Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini mengacu pada pendekatan Community Organizing dengan strategi Participatory Action Research (PAR). Pendekatan ini bertujuan untuk mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam semua tahapan kegiatanAimulai dari identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Dengan keterlibatan ini, diharapkan akan terbentuk kesadaran kolektif dan kemandirian masyarakat dalam penanganan trauma dasar. Subyek dan Lokasi Pengabdian Subyek pengabdian adalah masyarakat Dusun I. Desa Tanjung Anom. Kecamatan Pancur Batu. Kabupaten Deli Serdang, yang terdiri dari: 30 keluarga yang dipilih berdasarkan tingkat kerentanan terhadap trauma rumah tangga. Kader kesehatan desa, sebagai perpanjangan edukasi masyarakat. Tokoh masyarakat . epala dusun, ketua RT/RW) yang terlibat aktif dalam mobilisasi warga. Tempat pelaksanaan kegiatan adalah Balai Desa Tanjung Anom dan rumah-rumah warga yang disiapkan sebagai lokasi simulasi pertolongan pertama. Perencanaan dan Pengorganisasian Komunitas Proses perencanaan dilakukan melalui tahapan berikut: Tim pengabdian melakukan kunjungan ke Desa Tanjung Anom untuk menjalin komunikasi awal dengan perangkat desa, kepala dusun, dan Puskesmas Pancur Batu. Tujuannya adalah memperoleh gambaran umum kondisi desa dan komitmen awal dari pemangku kepentingan Melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan penyebaran kuesioner singkat, diperoleh informasi tentang rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pertolongan pertama dan tingginya angka kejadian cedera ringan. Warga juga diajak untuk menyampaikan harapan mereka terhadap pelatihan yang dirancang. Tim menyusun modul pelatihan yang kontekstual, berbahasa sederhana, dan visual, mencakup topik seperti pertolongan pertama pada luka robek, luka bakar, patah tulang tertutup, dan cedera kepala ringan. Kegiatan dilakukan dalam dua sesi utama: PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DALAM PENANGANAN TRAUMA DASAR MELALUI PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA BERBASIS KELUARGA DI DESA BINAAN Sesi edukasi teori: penyampaian materi menggunakan poster, leaflet, dan video sederhana. Sesi praktik langsung: simulasi penanganan luka, pemasangan bidai, dan evakuasi darurat rumah tangga. Evaluasi dan Monitoring Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test yang mengukur perubahan pengetahuan dan keterampilan. Kegiatan juga dievaluasi melalui umpan balik warga, observasi lapangan, dan kunjungan ulang untuk melihat praktik pascapelatihan. Tim membentuk kelompok Kader Trauma Dasar Dusun I untuk melakukan pelatihan lanjutan ke dusun tetangga serta memperkuat keberlanjutan program. Tahapan Kegiatan dalam Diagram Alur Secara garis besar, tahapan kegiatan dapat dijabarkan dalam alur berikut: Observasi dan Koordinasi Awal Identifikasi Masalah dan Pemetaan Kebutuhan Penyusunan Program dan Modul Pelatihan Pelaksanaan Pelatihan dan Simulasi Evaluasi dan Monitoring Pendampingan dan Replikasi Program Setiap tahap dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara aktif untuk menjamin relevansi, efektivitas, dan kesinambungan program. Dengan metode ini, diharapkan terjadi proses transformasi sosial yang berkelanjutan di Desa Tanjung Anom, terutama dalam hal kesiapsiagaan menghadapi trauma dasar di tingkat rumah tangga. HASIL Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Dusun I. Desa Tanjung Anom, menunjukkan dinamika pendampingan yang positif dan kolaboratif antara tim pelaksana dan Seluruh proses berjalan melalui pendekatan partisipatif, di mana warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat aktif dalam pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Rangkaian kegiatan dimulai dari sosialisasi dan diskusi kelompok untuk mengidentifikasi permasalahan terkait rendahnya pengetahuan warga terhadap pertolongan pertama pada trauma Warga menunjukkan antusiasme dan keterbukaan dalam menyampaikan pengalaman Name Journal VOLUME 3. NO. 3 AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3030-8836. p-ISSN : 3030-8844. Hal 21-29 mereka terkait kecelakaan rumah tangga, serta kesulitan yang dihadapi dalam merespon kejadian Setelah pemetaan kebutuhan dilakukan, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pertolongan pertama yang terdiri dari penyampaian materi edukatif, demonstrasi tindakan pertolongan pertama, serta praktik langsung yang dilakukan oleh warga. Warga dilatih untuk menangani luka ringan, luka bakar, patah tulang tertutup, dan cedera kepala ringan dengan peralatan sederhana yang tersedia di rumah. Materi disampaikan secara visual dan aplikatif agar mudah dipahami oleh seluruh peserta, termasuk ibu rumah tangga dan lansia. Salah satu aspek yang menonjol dari kegiatan ini adalah munculnya kesadaran baru dalam komunitas tentang pentingnya kesiapsiagaan terhadap kondisi gawat darurat di tingkat rumah Warga mulai memahami bahwa tindakan cepat dan tepat dalam penanganan trauma dasar dapat mencegah komplikasi lebih lanjut. Hal ini tercermin dari meningkatnya kepercayaan diri warga saat mengikuti simulasi penanganan darurat, serta dari hasil evaluasi singkat yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan. Sebagai bentuk keberlanjutan program, dibentuklah kelompok Kader Trauma Dusun I yang terdiri dari enam orang warga yang aktif dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Para kader ini berperan sebagai penggerak edukasi lanjutan di lingkungan masing-masing, sekaligus menjadi penghubung dengan kader kesehatan desa dan tenaga medis. Salah satu kader bahkan menunjukkan kepemimpinan lokal dengan inisiatif mengusulkan pelatihan lanjutan untuk RT lain di luar Dusun I. Dari proses ini, tampak bahwa kegiatan pengabdian tidak hanya berhasil mentransfer pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan pranata sosial baru berupa struktur komunitas informal yang peduli terhadap kesiapsiagaan kesehatan. Perubahan sosial yang muncul mencakup transformasi sikap warga terhadap pertolongan pertama, terbentuknya struktur kader berbasis komunitas, serta lahirnya kesadaran kolektif bahwa kemampuan merespons trauma bukan hanya tugas tenaga medis, tetapi juga tanggung jawab bersama di tingkat keluarga dan DISKUSI Hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Dusun I. Desa Tanjung Anom menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif melalui pelatihan pertolongan pertama PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DALAM PENANGANAN TRAUMA DASAR MELALUI PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA BERBASIS KELUARGA DI DESA BINAAN berbasis keluarga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat dalam penanganan trauma dasar. Proses ini juga mencerminkan bagaimana transformasi sosial dapat terjadi ketika komunitas diberdayakan secara sistematis dan Pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang digunakan dalam kegiatan ini terbukti efektif dalam membangun keterlibatan aktif masyarakat. PAR menekankan pada kolaborasi antara pelaksana program dan komunitas, yang tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai subjek perubahan (Baum. MacDougall, & Smith, 2. Dalam konteks pengabdian ini, keterlibatan warga mulai dari identifikasi masalah hingga pelaksanaan simulasi dan evaluasi pelatihan memperlihatkan bahwa pendekatan partisipatif mampu menciptakan rasa kepemilikan terhadap program. Temuan pengabdian juga menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat berperan penting dalam menciptakan ketangguhan komunitas. Hal ini sejalan dengan pandangan Nies dan McEwen . yang menyatakan bahwa intervensi kesehatan berbasis keluarga dapat memperkuat praktik promotif dan preventif, khususnya dalam konteks keperawatan komunitas. Ketika keluarga dilatih melakukan pertolongan pertama terhadap trauma ringan, mereka tidak hanya melindungi anggota keluarga, tetapi juga memperluas kapasitas kesiapsiagaan di tingkat komunitas. Aspek lain yang penting dalam diskusi ini adalah terbentuknya pranata sosial baru melalui pengorganisasian Kader Trauma Dusun I. Ini menunjukkan bahwa proses pemberdayaan telah menciptakan struktur informal yang mampu mendukung keberlanjutan program. Teori Social Change dari Rogers . menyatakan bahwa inovasi sosial yang diterapkan secara tepat dapat menghasilkan perubahan perilaku dan struktur sosial dalam komunitas. Dalam kasus ini, keterampilan pertolongan pertama menjadi bentuk inovasi praktis yang diadopsi oleh warga melalui proses pembelajaran dan pendampingan. Peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan peserta setelah pelatihan menguatkan studi sebelumnya yang menunjukkan efektivitas pelatihan pertolongan pertama dalam konteks masyarakat Menurut Gale et al. , pelatihan berbasis komunitas meningkatkan kesadaran dan respons masyarakat terhadap kondisi gawat darurat, serta menurunkan ketergantungan terhadap fasilitas medis dalam situasi yang dapat ditangani secara lokal. Temuan serupa juga dilaporkan oleh Nascimento et al. yang menyatakan bahwa pelatihan dasar pertolongan pertama di Name Journal VOLUME 3. NO. 3 AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3030-8836. p-ISSN : 3030-8844. Hal 21-29 komunitas pedesaan mampu menurunkan morbiditas dan mempercepat tindakan awal pada kejadian trauma. Secara teoritik, proses pengabdian ini mendukung asumsi bahwa perubahan sosial dapat terjadi melalui pendekatan yang terstruktur dan kontekstual. Ketika pengetahuan praktis diberikan dengan pendekatan yang relevan secara budaya dan sosial, akan muncul respons positif berupa perubahan perilaku, munculnya pemimpin lokal, serta terbentuknya struktur komunitas baru yang berfungsi menjaga kesinambungan perubahan tersebut (Wong, 2. Dengan demikian, kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Tanjung Anom bukan hanya menghasilkan transfer pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga menciptakan dasar-dasar bagi transformasi sosial yang lebih luas dalam konteks kesiapsiagaan dan kemandirian kesehatan masyarakat desa. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat di Dusun I. Desa Tanjung Anom, memberikan bukti nyata bahwa pendekatan partisipatif dan berbasis keluarga dalam edukasi pertolongan pertama pada trauma dasar mampu menghasilkan perubahan yang signifikan, baik secara individual maupun komunitas. Pelibatan warga secara aktif sejak tahap perencanaan hingga evaluasi mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif dan memperkuat kapasitas lokal dalam merespons kejadian trauma ringan di lingkungan rumah tangga. Secara teoritis, kegiatan ini menguatkan konsep Participatory Action Research (PAR) sebagai metode yang efektif dalam pemberdayaan masyarakat, di mana proses belajar bersama dan refleksi kritis mendorong transformasi sosial yang berkelanjutan. Intervensi sederhana namun kontekstual, seperti pelatihan pertolongan pertama, mampu membangun ketahanan komunitas dan membentuk struktur sosial baru yang relevanAiseperti munculnya Kader Trauma Dusun sebagai agen perubahan lokal. Refleksi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa transfer pengetahuan dan keterampilan saja tidak cukup tanpa adanya pelibatan emosional dan sosial dari masyarakat. Oleh karena itu, program-program pengabdian selanjutnya perlu terus mendorong keberlanjutan melalui penguatan kader lokal, pelatihan berulang, serta integrasi kegiatan dengan program kesehatan desa yang lebih luas. Rekomendasi: