Inflasi Penerimaan Pemerintah Oleh: Iswardono Sp. Pendahuluan Inflasi dikatakan "moderate", sedang atau lunak kalau mempunyai laju antara 15-30% per tahun. Ada beberapa negara yang telah berhasil meredam dan mengurangi laju inflasi dari "triple digit" menjadi "moderate" antara lain Columbia. Bolivia. Chile. Costa Rica dan sebagainya. Untukituperlu dicari jawaban atas 3 . pertanyaan yangmenyangkut "inflasi lemah", yaitu: Apa yang menjadi sebab terjadi "inflasi-lunak?" . Apakah laju onflasi-lunak ini stabil berfluktuasi atau cenderung . Kebijaksanaan apa yang mampu membuat inflasi-lunak menjadi "single-digit". Dari jawaban atas pertanyaan di atas memerlukanpemahamanteori inflasi secara Untuk itu perlu ditengok kembali khasanah dunia pustaka inflasi. Kenapa inflasi muncul? Ada 2 . jawaban mendasar tentang kenapa inflasi muncul, yaitu : Inflasi mempakan bagian integral dari keuangan/budget negara. Inflasi berkelanjutan karena terlalu sukar atau terlalu mahal untuk Sejarah menunjukkan bahwa paling tidak sejak tahun 1920-an penciptaan uang bam menj adi salah satu sumberpembiayaan defislt anggaran. Sebagaimana ditunjukkan oleh Keynes . , berkaitan dengan pengalamanteijadinya "hyperinflation" di Jerman dan Rusia, dengan jelas bahwa pemerintah yang lemah selalu menggunakan pencetakan uang bam untuk menutup kekurangan anggarannya. Hal ini dibenarkan oleh Bmnner . bahwa untuk menjawab penyebab inflasi perlu diketahui terlebih dahulu sektor anggaran pemerintah, artinya bagaimana proses politik penyusunan anggaran pemerintah. Dan oleh Phelps . dan Fischer . dipertegas bahwa "seigniorage argument" mempakanhal yang relevan dalam mencari inflasi optimal. Karena "seigniorage" mempakan "penghasilan" pemerintah dari penciptaan uang bam akibat adanya inflasi. Ini berarti bahwa ada perbedaan antara Jumlah Uang Beredar (TUB) nominal dan JUB riil. Jadi semakin tinggi inflasi semakin besar selisih JUB nominal dengan JUB riil dan semakin besarpula "seigniorage" yang diterima pemerintah . alaupun tidak rii. *). Artinya kalau pemerintah menambah _ . Seigniorage: *)Drs. Iswardono,Sp. A adalah Dosen Fakultas EkononiiGadjah Mada Yogyakarta. AiAiAi IvI IvI ^ivl JUB sebesar"X",makajumlahriilnyatidak sebesar itu, harus dideflasikan dengan laju Argumenini cukupberalasanbahkan di negara yang mengalami "inflasi sedang" karena adanya pencetakan uang yang bersifat inflatoir akan memberikan penghasilan bagi pemerintah. Penghasilan atas pencetakan uang merupakan penjumlahan dari 2 . faktor, yaitu : yang disebabkan karena pencetakan . uang bam yang bersifat inflatoir, dan pertumbuhan ekonomi yang mendorong peningkatan dalam permintaan uang. Dan oleh Friedman . dicatat bahwa peranan dalam pertumbuhan pendapatan riil sebagai sumber dari penghasilan sei gniorage tersebut. Secara matematis ditunjukkan sebagai berikut: M/P = [ 7C . Ti. ] m =pembahanjumlah uang beredar P = indeks harga konsumen Ti = laju inflasi n = laju pertumbuhan penduduk H = elastisitas pendapatan dari permintaan uang g = laju pertumbuhan pendapatan per m = uang kas riil per capita Dalam hal ini Friedmanmemusatkan perhatiannya adanya "trade off antara penghasilan "seigniorage" dari pencetakan uang yang inflatior. Tcm dan hasil yang didapat dari pencentakan uang dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi . Artinyadenganlaju inflasi yanglebihtinggi, uang kas riil berkurang dan akibatnya yang teijadi adalah pertumbuhan yang semakin Dengan menggunakan permintaan uang kas riil dan Cagan, dimana M/P = N f(T|)e*^", dimana N adalah jumlah penduduk Maka laju inflasi yang memaksimumkan penghasilan adalah 7C = 1/b - . 4- Ti. adalah modifikasi dari Friedman. Pada saat laju inflasi tinggi, modifikasi dari Friedman di atas bembah relatif kecil dalam menghasilkan penghasilan di atas. Menurut Cagan . perkiraan besamya "b" sekitar 6 bulan atau setengah tahun. Dengan besamya b = 6 bulan, maka puncak kurva Laffer untuk seigniorage mencapai 200persen pertahun. Dengan anggapan bahwa T|= 1,inflasi yang menghasilkan seigniorage akan mencapai 190 persen, bahkan untuk pertumbuhan riil setinggi 10 persen per tahun } Menumt Bailey, laju inflasi akan semakin tinggi di negara-negara dimana altematifsumberpembiayaan sangatmahal, sebagaimana di negara Amerika Latin. Bagaimana dengan di negara kita yang mencoba untuk meredam laju inflasi di bawah angka 10% per tahun. Apakah hal ini menunjukkan kemudahan mendapatkan sumber-sumber pembiayaan APBN? Karena dengan laju inflasi yang rendah tentunya "seigniorage" akan semakin rendah pula dan akhimya yang diterima pemerintah juga rendah. Untuk itu perlu 1 Rudiger Dombusch and Stanby Fischeer. Moderate Inflation. The World Bank" Economic Reveiw. Vol 7. No. 1,1993 dilihat perkembangan laju inflasi di Indo nesia selama 2-3 tahun terakhir ini . abel Kenaikan JUB, balk dalam artian luas maupunsempitmenunjukkanlaju yang relatiftinggijika dibandingkandenganlaju inflasi itu sendiri. Ini berarti bahwakenaikan nil JUB tetap masih tinggi sehingga "sei gniorage" yangditerimapemerintahrelatif Sedangkan untuk melihat sumbersumber dana pembiayaan pemerintah tentunya perlu dilihat pada APBN. Inflasi dan Penerimaan Pemerintah di Indonesia Inflasi Indonesia dikendalikandibawah lOpersen mempakan komitmen pemerintah. Ini disebabkan karena dalam tiga bulan pertama tahun 1993 sudahmenunjukkan angka 6,44%. Ini berarti tinggal 3,56% lagi untuk mencapai "double digit". Adayangmensinyalirtingginyalaju inflasi selama tiga bulan pertama tahun 1993 ini karena kebijaksanaan pemerintah dalam hal pengenaan tarif, kenaikan gaji PNS/ABRI, pencetakan uang baru pecahan Rp. 000,00 dan sebgainya. Bahkan ada yang menyebut bencana alam seperti : banjir, tanah longsor dan lainnya sebagai penyebab inflasi tersebut. Ada pula yang masih takut akan adanya ekspansi moneter menyebabkan inflasi. Untuk itu perlu dipeihatikan adatidaknyahubungan'antara perubahnJUBbaikMjmaupunM^ terhadap laju inflasi selama 2-3 tahun terichir ini. Tabel 3. Laju Inflasi. LajuPerubahan JUB (Mj&M. dalam persen selama 1991 - 1992 Laju Laju Bulan Inflasi 43,75 Jan '92 0,44 13,96 16,97 35,89 40,52 Febbruan 0,26 ^,02 0,03 06,39 2(>,03 Marci 15,90 24,25 April 1,89 04,34 23,70 April 0,92 11,54 23,08 Met 10,77 28,49 Met 0,11 11,24 23,80 Juni 0,44 06,05 25,14 Juni 0,65 21,84 Juli 1,89 04,81 24,87 Juh 13,90 21,10 Agustus 1,90 09,82 23,10 Agustus 0,16 11,20 20,90 September 0,12 12,28 21,35 September 0,20 A A 0,41 A A A A Bulan Inflasi Jan '91 0,73 22,07 Febbruan 0,30 Marct Oktober 0,76 11,57 21,81 Oktober Nopember 1,06 12,37 21,03 Nopember 0,25 Des. '91 0,19 - 10,59 17,05 Oos. '92 0,66 Adapun laju inflasi selama 3 bulan pertama 1993 sudah mencapai 6,44%. Apakah ini akan berakibatbahwalaju inflasi diakhir 1993 akan melebihi angka 10%? Nampaknya pemeriniah tidak akan membiarkan angka tersebut meloncat, kebijaksanaannya mencoba menghambat Hal ,ini dilakukan mengingat dampak inflasi yang bersegi banyak. Artinya menyangkut bidang sosial, ekonomi, politik dan sebagainya . stilahP- SOSPOLEK). Dan dari sisi penerimaan pemerintah dalamantrian"seigniorage"ada kecurigaan bahwa pemerintah mengalami kesulitan sehingga perlu menginflasikan perekonomian. Kalau dilihat pada berbagai sumber penerimaan dalam negeri sebagai mana pada tabel berikut ini, nampaknya tidakada kesulitan,karena ada peningkatan pada penerimaan dari luar minyak dan gas Tabel 3. Penerimaan Dalam Negeri, 1984/85 - 1992/93 . alam milya. Sumber Tahun Fenenmaan Minyak Fenenmaan di luar Fenenmaan Bum! dan Gas Minyak Burnt & Gas Dalam Negeri Rcpclita IV 1984/85 1985/86 1986/87 1987/88 1988/89 1989/90 1990/91 1991/92 1992/93 Kepelita V 1993/94 Apakah ini sumbemya dari pajak? Tabel berikut akari merincinya. Penerimaan Pajak, 1984/85 - 1992/93 PP . PPN. 1984/85 1983/86 1986/87 1987/88 1988/89 292,1 11. 1989/90 275,5 15. 1990/91 243,5 19. 1991/92 580 ,4 302,6 24. 1992/93 930,0 11. 354,5 28. Cukai. E - , B . Jumlah Repelita IV Repelita V Sumber : Nota Keuangan & RAPBN 1993/94 Keterangan: PP = Pajak Penghasilan . PPN = Pajak PertambahanNilai . BM = BeaMasuk Dari tabel di atas nampak bahwa ada usaha untuk menggali potensi pajak yang ada, baik melalui program intensifikasi maupunekstensifikasi,dimanadari sumber penerimaan pajak yang sudah ada semakin digalakkan dan dari sumber yang belum ada akan dicoba digali. Usaha ini tentunya beAaitan dengan keinginan pemerintah untuk melanjutkan pembangunan dengan . PBB Pajak Ekspor Pajak Bumi dan Bangunan Pajak Lainnya Dan peijalanan panjang tadi memperkuat kesadaran kita bahwa perjuangan utama hams berpusat pada pembangunan ekonomi atas dasarkekuatan kita sendiri". Ini bukan berarti pemerintah tidak mau menerima bantuan luar negeri baik yang bersifat bantuan program maupun bantuan sumber dana sendiri. Hanya dalam hal ini bantuan Sebagaimana diamanatkan oleh Presiden pada Pidato Kenegaraan tahun ini tersebut sebagai pelengkap dari sumber Adapunbesamyabantuantersebut sebagaimana dipaparkan pada tabel berikut Tabel 3. Penerimaan Pembangunan, 1984/85 - 1992/93 . alam milyar R. Tahun Bantuan Bantuan Proyek Jumlah Program'^ Repelita IV 1984/85 1985/86 1986/87 1987/88 1988/89 1989/90 1990/91 1991/92 1992/93-^ Repelita V Keterangan: . Sejak 86/87, bantuan pro gram termasuk bantuan LN dalam bentuk rupiah APBN Jadi secara total penerimaan pemerintah balk berasal dari dalam negeri maupun luar negeri menunjukkan jumlah yang sangatbesar. Sehingga tidak ada alasan untuk menambah JUB guna membiayai Halininampak jelas pada tabel berikut ini, dimana jumlah penerimaan pemerintah untuk membiayai pembangunan sebagai berikut. Tabel 3. Dana Pembangunan, 1984/85 - 1992/93 . alam milyar rupia. Repelita Tahun- Realisasi Repelita IV 1984/85 1985/86 1986/87 1987/88 1988/89 1989/90 1990/91 1991/92 1992/93 Repelita V Sumber : Nota Keuangan & RAPBN 1993/94 Sehingga nampak jelas bahwa sumberpenerimaan pemerintah cukup besar dan mudah didapat Karena antara realisasi dan Repelita untuk tahun-tahun Pelita V cukup menggembirakan dimana realisasi lebihbesardaripadaFencananya. Jadi sekali lagi tidak ada alasan untuk mencetak uang bam guna membiayai pembangunan. Sehingga cukup mudah untuk diterima bahwa pemerintah sangat peduli sekali dengan laju inflasi jangan sampai "double Kesimpulan Presiden Soeharto menginstruksikan bahwa semua menteri di lingkungan ekonomi hams memperhatikan serius masalah inflasi danperijinaninvestasi serta tidak membuat kebijaksanaan yang bisa menimbulkan inflasi. Ditegaskan pula bahwa sampai akhir 1993 tingkat inflasi hams dipertahankan di bawah 10 persen. Hal ini tentunya dapat disimpulkan . B-erkaitan dengan "seigniorage" pemerintah tidak berharap banyak untuk mendapatkan penerimaan menginflasikan perekonomian. Pemerintah yakin mempuriyai sumber dana yang cukup diandalkan untuk melanjutkan pembangunan jangka panjang tahap II. Berkaitan dengan inflasi sendiri pemerintah masih memandang bahwa "musuh" pembangunan yang hams diberantas DAFTAR PUSTAKA