Counseling & Humanities Review Vol. No. 02 2025, pp. p-ISSN: 2798-3188, e-ISSN: 2798-0316 || http://bk. id/index. php/chr DOI: https://doi. org/10. 24036/0001324chr2025 Received (October 01st 2. Accepted (October 15th 2. Published (November 02nd 2. Resiliensi Pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari SelfCompassion Anisa Dwi Putri1*. Frischa Meivilona Yendi2. Herman Nirwana3. Indah Sukmawati4. Adnan Arafani5 Universitas Negeri Padang. Indonesia * Corresponding author, e-mail: ica581557@gmail. Abstract Penelitian ini dilatarbelakangi pada mahasiswa rantau menghadapi beragam tantangan, mulai dari tekanan akademik, penyesuaian budaya, hingga kesepian akibat jauh dari keluarga, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis. Kondisi ini menuntut adanya kemampuan resiliensi agar mampu bangkit dari kesulitan, serta self-compassion sebagai faktor yang berperan dalam meningkatkan kemampuan resiliensi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan antara tingkat resiliensi berdasarkan self-compassion . inggi, sedang, renda. pada mahasiswa rantau. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Padang yang berjumlah 623 mahasiswa, dengan sampel sebanyak 321 mahasiswa yang dipilih melalui teknik purposive Instrumen yang digunakan yaitu angket Resiliensi dan angket Self-Compassion yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dengan analisis data menggunakan uji beda (One Way Anov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan (F= 64. 204, p < 0,. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara resiliensi ditinjau dari self-compassion. Temuan ini menegaskan bahwa self-compassion berperan penting dalam meningkatkan resiliensi mahasiswa rantau, sehingga pengembangan sikap penuh kasih pada diri sendiri dapat dijadikan strategi dalam menghadapi berbagai tantangan akademik maupun personal. Keywords: Resiliensi. Self-Compassion. Mahasiswa Rantau. Perguruan Tinggi. Universitas. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2019 by author. Introduction Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan karena pendidikan merupakan salah satu cara untuk tumbuh dan berkembang sebagai individu melalui proses belajar mengajar (Lestari et al. , 2. Setelah selesai mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA), diharapkan para siswa dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi (Putra, 2022. Syukur et al. , 2023. Putra & Ardi, 2. Sesuai dengan UU No 20 tahun 2003 pasal 19 ayat 1 dalam Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan yang terletak setelah pendidikan menengah. Jenjang ini mencakup berbagai program seperti diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diberikan oleh perguruan tinggi. Menurut KBBI (Mirza et al. , 2. mahasiswa adalah seseorang yang sedang belajar di kampus. Mahasiswa Strata 1 biasanya memiliki usia antara 18 sampai 25 tahun, yang termasuk dalam kelompok remaja akhir dan dewasa awal. Mahasiswa rantau adalah mereka yang mendaftar di perguruan tinggi luar daerah asalnya dan harus meninggalkan kampung halaman untuk menyelesaikan pendidikannya. Mereka melakukan ini karena mereka ingin sukses, mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi, menjadi lebih percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab atas keputusan mereka sendiri. Merantau juga merupakan cara untuk belajar tentang kehidupan, membuktikan diri, dan mendapatkan Counseling & Humanities Review Vol. No. 02, 2025, pp. pengalaman baru. Setiap individu tentu ingin mendapatkan pendidikan yang terbaik untuk dirinya. Impian untuk melanjutkan pendidikan di universitas terbaik seringkali tidak bisa terwujud di kota asal Maka dari itu, sebagian individu memilih untuk merantau. Permasalahan yang umum dijumpai bagi mahasiswa merantau meliputi tekanan akademik, permasalahan finansial, rasa kesepian, konflik antar pribadi, kesulitan menghadapi perubahan dan permasalahan mengembangkan otonomi pribadi (Nadlyfah & Kustanti, 2. Ketika merantau mahasiswa akan menghadapi beberapa tantangan, seperti mereka harus beradaptasi dengan kebudayaan yang baru, sama halnya dengan pendidikan dan lingkungan yang baru di mana mereka tidak familiar sebelumnya (Hediati, 2. Reivich & Shatte . mengemukakan bahwa resiliensi adalah kemampuan untuk merespons dengan cara yang positif ketika seseorang mengalami kesulitan sehingga dapat bertahan, bangkit, dan menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Permasalahan utama dalam resiliensi adalah ketidakmampuan mahasiswa bertahan secara optimal menghadapi berbagai kesulitan hidup, ketidakmampuan mahasiswa beradaptasi dengan permasalahan yang tidak terduga dan kurangnya kesadaran mengenai pentingnya resiliensi dalam menjalani hidup (Fitri & Kushendar, 2. Faktorfaktor yang mempengaruhi resiliensi adalah dukungan sosial . engaruh budaya, dukungan komunitas, dukungan sekolah, dukungan personal dan dukungan keluarg. , kemampuan kognitif . ntelegensi, gaya coping, kemampuan untuk tidak mengkritik diri ketika dalam kegagalan / self-compassion, kontrol pribad. dan sumber daya psikologis (Holaday & McPhearson, 1. Self-compassion adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri, tidak menghindari permasalahan, melainkan melihat bahwa situasi negatif yang dialami merupakan bagian dari pengalaman hidup manusia. Seseorang yang memiliki selfcompassion dapat membatasi emosi negatif dengan kesadaran penuh disertai empati (Hasmarlin & Hirmaningsih, 2. Menurut Arnaldy et al. , . resiliensi merupakan kemampuan individu untuk dapat menghadapi dan beradaptasi dari berbagai kondisi kenyataan permasalahan yang berat. Resiliensi juga disebut sebagai kemampuan daya lentur untuk dapat bangkit dari berbagai kondisi keterpurukan. Menurut Annisa et al. , . resiliensi memiliki fungsi yang penting dalam menjalani kehidupan. Individu dengan resiliensi yang tinggi akan terhindar dari konsekuensi negatif tambahan setelah mengalami peristiwa yang buruk dalam kehidupannya. Selain itu, resiliensi yang tinggi akan meningkatkan kemampuan individu dalam menghadapi kehidupan serta meningkatkan kemampuan untuk berkembang dengan lebih baik (Yendi et al. , 2025. Syukur et al. , 2. Sebaliknya, individu dengan resiliensi rendah cenderung menjadi tidak berdaya sehingga akan kesulitan bertahan menghadapi situasi yang sulit atau menghadapi tantangan. Oleh karena itu, resiliensi menjadi penting untuk melakukan adaptasi positif atau untuk mempertahankan dan memulihkan kesehatan mental saat mengalami kesulitan (Annisa et al, 2025. Yendi et al. , 2. Menurut hasil penelitian Hutapea . 78% mahasiswa perantau tahun awal berada pada kategori resiliensi tinggi, sebanyak 16. 56% berada pada kategori resiliensi cukup tinggi, 5% pada kategori resiliensi sedang, 13. 89% pada kategori resiliensi agak rendah dan 16% berada pada kategori resiliensi rendah. Dari hasil penelitian tersebut dapat dilihat bahwa resiliensi mahasiswa perantau sebagian besar sebanyak 80. 55% masih berada pada kategori resiliensi sedang menuju rendah. Menurut penelitian Prihartono et al. , . Sebanyak 77 mahasiswa tahun pertama . ,85%) memiliki resiliensi rendah. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk : . mendeskripsikan gambaran resiliensi pada mahasiswa rantau. mendeskripsikan gambaran self-compassion pada mahasiswa . menguji apakah terdapat perbedaan tingkat resiliensi pada mahasiswa rantau dengan tingkat self-compassion. Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah membahas hubungan antara resiliensi dan selfcompassion, sebagian besar dilakukan pada populasi umum atau konteks luar negeri. Penelitian di Resiliensi Pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari Self-Compassion Anisa Dwi Putri et al. Indonesia yang secara khusus meneliti mahasiswa rantau masih sangat terbatas, padahal kelompok ini menghadapi tantangan unik seperti penyesuaian budaya, tekanan akademik, dan kesepian yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Hingga saat ini, belum ditemukan penelitian yang secara spesifik menguji perbedaan tingkat resiliensi berdasarkan tingkat self-compassion pada mahasiswa rantau dalam konteks Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan tersebut serta memberikan kontribusi teoritis dan praktis bagi pengembangan layanan konseling mahasiswa rantau. Berdasarkan fakta dan teori diatas peneliti tertarik untuk mengkaji dan mengungkapkan bagaimana AuResiliensi Pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari Self-CompassionAy. Method Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian komparatif yang bertujuan untuk menguji perbedaan antara tingkat resiliensi dengan tingkat self-compassion pada mahasiswa merantau. Metode ini dipilih karena mampu mendeskripsikan fenomena secara faktual, sistematis, akurat mengenai fakta dan populasi tertentu atau menggambarkan fenomena secara detail (Yusuf, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang yang berjumlah 1. 623 mahasiswa, dengan sampel penelitian yang berjumlah 321 mahasiswa rantau dengan menggunakan teknik purposive sampling. Tabel 1. Sampel Penelitian Departemen Jenis Kelamin Laki Ae Laki Perempuan Jumlah Administrasi Pendidikan Bimbingan dan Konseling Pendidikan Non Formal Teknologi Pendidikan dan Kurikulum PG-PAUD Pendidikan Luar Biasa PGSD JUMLAH Pengukuran resiliensi menggunakan kuesioner berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Reivich & Shatte . sedangkan self-compassion diukur menggunakan kuesioner berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Neff . Validitas kedua instrumen diperoleh melalui expert judgement oleh tiga dosen Bimbingan dan Konseling. Uji reliabilitas menggunakan teknik cronbachAos Alpha yang menunjukkan bahwa kedua instrumen memiliki nilai lebih tinggi dari batas minimal 0,60 yang menandakan reliabilitas baik. Rincian nilai reliabilitas disajikan pada tabel 2. http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 02, 2025, pp. Tabel 2. Reliability Resiliensi Cronbach's Alpha N of Items Berdasarkan Tabel 2 di atas, nilai reliabilitas cronbachAos Alpha sebesar 0,861 yang lebih tinggi dibandingkan dengan batas minimal 0,60 yang artinya bahwa instrumen resiliensi serta alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang baik, sehingga dianggap sebagai instrumen yang valid dalam mengukur resiliensi. Tabel 3. Reliability Self-Compassion Cronbach's Alpha N of Items Berdasarkan Tabel 3 di atas, nilai reliabilitas cronbachAos Alpha sebesar 0,872 yang lebih tinggi dibandingkan dengan batas minimal 0,60 yang artinya bahwa instrumen self-compassion serta alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang baik, sehingga dianggap sebagai instrumen yang valid dalam mengukur self-compassion. Pengumpulan data dilakukan setelah memperoleh izin dari pihak fakultas dan persetujuan partisipan . nformed consen. Kuesioner dibagikan secara daring melalui Google Form dimulai dari tanggal 15 Agustus 2025, dengan penjelasan mengenai tujuan penelitian, kerahasiaan jawaban. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua jenis instrumen, yaitu angket resiliensi dan angket self-compassion yang disusun dalam bentuk skala likert. Instrumen resiliensi disusun berdasarkan tujuh aspek yang dikemukakan oleh Reivich & Shatte . yaitu regulasi emosi, pengendalian impuls, optimisme, analisis kausal, empati, self-efficacy dan reaching out. Sedangkan instrumen self-compassion disusun berdasarkan tiga aspek yang dikemukakan oleh Neff . yaitu selfkindness, common humanity dan mindfulness. Data dianalisis menggunakan IBM SPSS (Statistics Version 3. 00 for window. Tahapan analisis diawali dengan statistik deskriptif untuk menghitung rata-rata, standar deviasi, persentase. Selanjutnya dilakukan uji asumsi yaitu uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas dengan Levene Statistic. Setelah asumsi terpenuhi, analisis dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA untuk membandingkan rata-rata antara tingkat resiliensi dan tingkat self-compassion. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 20. Resiliensi Pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari Self-Compassion Anisa Dwi Putri et al. Results and Discussion Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah diperoleh, adapun data lengkap mengenai hasil resiliensi secara keseluruhan dapat dilihat pada gambar berikut: Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Gambar 1. Distribusi frekuensi Resiliensi secara keseluruhan Berdasarkan gambar di atas,dapat disimpulkan bahwa tingkat resiliensi pada mahasiswa rantau berada pada kategori tinggi . %), diikuti dengan kategori sedang . %), kategori sangat tinggi . %), kategori rendah . %), kategori sangat rendah . %). Berdasarkan hasil data yang telah diperoleh dari sampel sebanyak 321 mahasiswa rantau di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang dan sudah dilakukan analisis data. Data laki-laki berjumlah 45 mahasiswa, dimana untuk kategori sangat tinggi 3 responden, 30 responden berada kategori tinggi dan 9 responden berada pada kategori sedang. Sedangkan untuk perempuan berjumlah 279, 10 responden berada pada kategori sangat tinggi, 169 responden berada pada kategori tinggi, 100 responden pada kategori sedang. Peneliti membuat kategorisasi data dalam lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Menurut Azwar . pengkategorian tersebut ditujukan untuk memperoleh perbedaan sesuai dengan atribut yang diukur. Temuan ini sejalan dengan pendapat oleh (Mirza et al. , 2. yang meneliti tentang mahasiswa perantauan dengan hasil resiliensi pada mahasiswa perantauan berada pada kategori tinggi . 0%). Tabel 4. Kategorisasi Data Variabel Resiliensi Variabel Sub Variabel Regulasi Emosi Pengendalian Impuls Optimisme Analisis Kausal Resiliensi http://bk. id/index. php/chr Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Sangat Tinggi Tinggi Interval Ou18 12- 14 9 - 11 Ou18 12- 14 9 - 11 Ou18 12- 14 9 - 11 Ou18 Frekuensi 3,74% 22,43% 52,02% 19,94% 1,87% 11,53% 35,20% 41,12% 10,59% 1,56% 38,01% 41,12% 17,76% 2,80% 0,31% 10,90% 34,58% Counseling & Humanities Review Vol. No. 02, 2025, pp. Empati Self-Efficacy Reaching Out Sedang Rendah Sangat Rendah Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah 12- 14 9 - 11 Ou18 12- 14 9 - 11 Ou18 12- 14 9 - 11 Ou14 8 - 10 46,73% 7,17% 0,62% 15,89% 44,86% 34,89% 4,05% 0,31% 33,02% 40,50% 23,36% 2,80% 0,31% 6,23% 40,50% 48,29% 4,98% 0,00% Berdasarkan Tabel 4 di atas, dapat dilihat bahwa resiliensi pada sub-variabel regulasi emosi ditemukan 6 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat rendah, 64 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi rendah, 167 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi yang sedang, 72 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi tinggi, 12 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa resiliensi yang dimiliki mahasiswa rantau pada sub-variabel regulasi emosi sudah berada pada kategori cukup baik karena masih adanya beberapa mahasiswa rantau yang berada pada kategori rendah dan sangat rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh (Soetjiningsih, 2. mengemukakan bahwa regulasi emosi berada pada kategori sedang . 2%). Resiliensi pada sub-variabel pengendalian impuls ditemukan 5 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat rendah, 34 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi rendah, 132 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi yang sedang, 113 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi tinggi, 37 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa resiliensi yang dimiliki mahasiswa rantau pada sub-variabel pengendalian impuls sudah berada pada kategori cukup baik karena masih adanya beberapa mahasiswa rantau yang berada pada kategori rendah dan sangat rendah. Sejalan dengan temuan (Faozi, 2. menunjukkan bahwa resiliensi pada aspek pengendalian impuls berada pada kategori sedang . %). Selanjutnya resiliensi pada sub-variabel optimisme ditemukan 1 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat rendah, 9 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi rendah, 132 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi yang sedang, 57 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi tinggi, 122 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa resiliensi yang dimiliki mahasiswa rantau pada sub-variabel optimisme sudah berada pada kategori baik meskipun masih terdapat 1 mahasiswa rantau yang berada pada kategori sangat rendah. Hasil penelitian menurut Musfirah . mengemukakan bahwa tingkat optimisme mahasiswa berada pada kategori tinggi . %). Selanjutnya resiliensi pada sub-variabel analisis kausal ditemukan 2 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat rendah, 23 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi rendah, 150 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi yang sedang, 111 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi tinggi, 35 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa resiliensi yang dimiliki mahasiswa rantau pada sub-variabel analisis kausal sudah berada pada kategori cukup baik karena masih adanya beberapa mahasiswa Resiliensi Pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari Self-Compassion Anisa Dwi Putri et al. rantau yang berada pada kategori rendah dan sangat rendah. Hasil penelitian oleh (Putri et al. , 2. mengemukakan bahwa resiliensi pada aspek analisis kausal berada pada kategori sedang . ,67%). Selanjutnya resiliensi pada sub-variabel empati ditemukan 1 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat rendah, 13 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi rendah, 112 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi yang sedang, 144 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi tinggi, 51 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa resiliensi yang dimiliki mahasiswa rantau pada sub-variabel empati sudah berada pada kategori baik meskipun masih terdapat 1 mahasiswa rantau yang berada pada kategori sangat rendah. Sejalan dengan temuan (Susanti & Ifdil, 2. mengemukakan bahwa empati pada mahasiswa berada pada kategori tinggi . ,25%). Selanjutnya resiliensi pada sub-variabel self-efficacy ditemukan 1 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat rendah, 9 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi rendah, 75 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi yang sedang, 130 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi tinggi, 106 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa resiliensi yang dimiliki mahasiswa rantau pada sub-variabel selfefficacy sudah berada pada kategori baik meskipun masih terdapat 1 mahasiswa rantau yang berada pada kategori sangat rendah. Hasil penelitian sebelumnya oleh (Apriyadi & Hartati, 2. menunjukkan bahwa self-efficacy berada pada kategori tinggi . %). Kemudian, resiliensi pada sub-variabel reaching out ditemukan 0 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat rendah, 16 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi rendah, 155 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi yang sedang, 130 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi tinggi, 20 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat resiliensi sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa resiliensi yang dimiliki mahasiswa rantau pada sub-variabel reaching out sudah berada pada kategori baik meskipun masih terdapat 16 mahasiswa rantau yang berada pada kategori rendah. Sejalan dengan penelitian (Septiani & Fitria, 2. mengemukakan bahwa aspek reaching out berada pada kategori sedang . ,4%). Selanjutnya pada data lengkap mengenai hasil self-compassion secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel berikut: Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Gambar 2. Distribusi frekuensi Self-Compassion secara keseluruhan Berdasarkan gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat self-compassion pada mahasiswa rantau berada pada kategori tinggi . %), diikuti dengan kategori sedang . %), kategori sangat tinggi . %), kategori rendah . %), kategori sangat rendah . %). Data laki-laki berjumlah 45 mahasiswa, http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 02, 2025, pp. dimana untuk kategori sangat tinggi 4 responden, 22 responden berada kategori tinggi, 14 responden berada pada kategori sedang dan 2 responden berada pada kategori rendah. Sedangkan untuk perempuan berjumlah 279, 37 responden berada pada kategori sangat tinggi, 134 responden berada pada kategori tinggi, 102 responden pada kategori sedang, 6 responden berada pada kategori rendah. Sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh (Fachrial & Herdiningtyas, 2. menunjukkan hasil bahwa mean empirik self-compassion sebesar 53,56% yang menunjukkan bahwa self-compassion berada dalam kategori Tabel 5. Kategorisasi Data Variabel Self-Compassion Variabel Sub Variabel Self-Kindness Common Humanity Self-Compassion Mindfulness Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Interval Ou26 19 - 24 O12 Ou35 21 - 27 14 - 20 O13 Ou30 16 - 22 9 - 15 Frekuensi 8,72% 5,92% 54,83% 28,04% 2,49% 23,05% 46,11% 28,97% 1,87% 0,00% 10,59% 45,17% 39,25% 4,98% 0,00% Berdasarkan Tabel 5 di atas, dapat dilihat bahwa self-compassion pada sub-variabel selfkindness ditemukan 8 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion sangat rendah, 90 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion rendah, 176 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion sedang, 19 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion tinggi, 28 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa self-compassion yang dimiliki mahasiswa rantau pada sub-variabel self-kindness sudah berada pada kategori cukup baik meskipun masih terdapat 8 dan 90 mahasiswa rantau yang berada pada kategori sangat rendah dan rendah. Temuan penelitian oleh (Henny & Yendi, 2. untuk setiap aspek self-compassion, diperoleh tingkat self-compassion remaja perempuan pada subvariabel self kindness berada pada kategori sedang dengan persentase . ,40%). Selanjutnya, dilihat bahwa self-compassion pada sub-variabel common humanity ditemukan 0 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion sangat rendah, 6 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion rendah, 93 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion sedang, 148 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion tinggi, 74 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa selfcompassion yang dimiliki mahasiswa rantau pada sub-variabel common humanity sudah berada pada kategori baik meskipun masih terdapat 6 mahasiswa rantau yang berada pada kategori Sejalan dengan penelitian (Karinda, 2. pada aspek common humanity berada pada kategori tinggi . ,5%). Kemudian, dilihat bahwa self-compassion pada sub-variabel mindfulness ditemukan 0 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion sangat rendah, 16 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion rendah, 126 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat selfcompassion sedang, 145 mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion tinggi, 34 Resiliensi Pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari Self-Compassion Anisa Dwi Putri et al. mahasiswa rantau yang memiliki tingkat self-compassion sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa self-compassion yang dimiliki mahasiswa rantau pada sub-variabel mindfulness sudah berada pada kategori baik meskipun masih terdapat 16 mahasiswa rantau yang berada pada kategori rendah. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian oleh (Polla et al. , 2. pada subvariabel mindfulness berada pada kategori tinggi . %). Selanjutnya untuk menguji perbedaan antara resiliensi pada mahasiswa rantau ditinjau dari self-compassion, teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Way ANOVA. Tabel 6. Tabel ANOVA Sum of Squares Mean Square Sig. Between Groups Within Groups Total Berdasarkan Tabel 6 di atas, hasil analisis menunjukkan koefisien F hitung sebesar 64. dengan P-Value sebesar 0. 000, oleh karena P-Value lebih besar dari 0,05 maka hipotesis kerja (H. diterima dan hipotesis nol (H. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat resiliensi berdasarkan tingkat self-compassion pada mahasiswa rantau. Dilanjutkan dengan uji post hoc: Tabel 7. Hasil Uji Lanjutan Post Hoc Turkey HSD Resiliensi Ditinjau dari Self-Compassion (I) X (J) X Mean Difference (I-J) Std. Error Sig. 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound Tinggi Sedang Rendah Sedang Rendah Tinggi Rendah Tinggi Sedang Berdasarkan Tabel 7 di atas, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antar kelompok self-compassion terhadap resiliensi. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok self-compassion tinggi, sedang, dan rendah . < 0,. terhadap Uji Post Hoc Tukey HSD digunakan untuk melihat pasangan kelompok mana yang memiliki perbedaan signifikan setelah hasil ANOVA menunjukkan adanya perbedaan secara umum. Mahasiswa rantau dengan tingkat self-compassion yang tinggi cenderung memiliki resiliensi yang lebih kuat. Temuan ini sejalan dengan teori Neff . terdapat tiga komponen utama selfkindness, common humanity dan mindfulness. Ketiga komponen ini memungkinkan individu untuk merespon kegagalan dengan cara yang positif sehingga mahasiswa rantau dengan self-compassion tinggi cenderung menerima kesulitan sebagai pengalaman yang wajar. Sikap ini membuat mereka lebih mampu mengelola stres dan beradaptasi terhadap tantangan di lingkungan baru. Hasil ini juga sejalan dengan Reivich & Shatte . yang menyatakan bahwa resiliensi mencakup kemampuan regulasi emosi, pengendalian impuls, optimisme, analisis kausal, empati, self-efficacy dan reaching out. Mahasiswa rantau yang memiliki self-compassion tinggi cenderung menunjukkan kemampuan regulasi emosi dan optimis yang lebih baik, hal ini membantu untuk tetap berpikir jernih, optimis terhadap masa depan, serta percaya pada kemampuan untuk mengatasi kesulitan. Dengan demikian, selfhttp://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 02, 2025, pp. compassion berperan sebagai faktor protektif yang memperkuat aspek resiliensi. Hasil penelitian ini mendukung pandangan tersebut, di mana mahasiswa rantau dengan self-compassion tinggi menunjukkan kemampuan regulasi emosi yang baik sehingga meningkatkan resiliensi mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan di perantauan. Hal ini menjelaskan mengapa mahasiswa rantau dengan self-compassion tinggi memiliki tingkat resiliensi yang lebih kuat, mereka tidak mudah larut dalam perasaan gagal melainkan bangkit untuk memperbaiki keadaan. Temuan penelitian sejalan dengan studi sebelumnya oleh Fachrial & Herdiningtyas . yang menyatakan bahwa individu dengan self-compassion tinggi menunjukkan tingkat resiliensi yang lebih baik karena memiliki kecenderungan untuk bersikap lembut terhadap diri sendiri saat menghadapi Begitu juga penelitian Bluth et al. , . menyatakan bahwa self-compassion merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan resiliensi seseorang yang compassionate lebih mampu bertahan dalam keadaan terpuruk atau situasi sulit. Menurut Hasmarlin & Hirmaningsih . menambahkan bahwa self-compassion mampu menurunkan emosi negatif dan meningkatkan kemampuan regulasi Menurut Sari & Putri . yang menunjukkan bahwa mahasiswa dengan self-compassion tinggi memiliki kemampuan adaptasi sosial dan emosional yang lebih baik. Hasil ini menggambarkan bahwa kemampuan mencintai diri sendiri dengan penuh kasih dapat menjadi sumber kekuatan psikologis ketika mereka jauh dari dukungan keluarga. Mahasiswa rantau mampu menerima diri dan situasi dengan penuh kesadaran akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Namun sebaliknya, mahasiswa dengan self-compassion rendah cenderung terjebak dalam kritik diri dan perasaan tidak berdaya, sehingga kesulitan untuk bangkit dari kegagalan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa self-compassion merupakan faktor protektif dalam membangun resiliensi pada mahasiswa rantau. Berdasarkan hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa tingkat self-compassion berhubungan positif dengan resiliensi pada mahasiswa rantau, maka implikasi praktis yang dapat dikembangkan adalah pada bidang layanan konseling dan pembinaan mahasiswa. Konselor maupun pihak kampus dapat mengintegrasikan pelatihan self-compassion ke dalam program pengembangan diri mahasiswa, terutama bagi mahasiswa rantau yang rentan terhadap tekanan psikologis akibat adaptasi lingkungan baru (Putra et al. , 2025. Putra & Fauziah, 2022. Putra & Hariko, 2023. Al Fikhri et al. , 2025. Putra & Mudjiran, 2. Program konseling dapat dirancang untuk membantu mahasiswa rantau belajar menerima diri secara positif, memahami keterbatasannya, serta menumbuhkan sikap welas asih terhadap diri sendiri saat menghadapi kesulitan akademik maupun sosial. Dengan meningkatnya selfcompassion, mahasiswa akan lebih mampu beradaptasi, berpikir fleksibel, serta membangun resiliensi dalam menghadapi berbagai tantangan perkuliahan dan kehidupan di perantauan. Selain itu, implikasi hasil penelitian ini juga penting bagi lembaga pendidikan tinggi dalam merancang kebijakan dukungan psikologis bagi mahasiswa rantau, seperti penyediaan pusat konseling kampus . tudent counseling cente. , kegiatan workshop, group counseling, self-compassion training, pelatihan mindfulness, kegiatan peer support group atau kegiatan refleksi diri yang menekankan penerimaan diri dan regulasi emosi. Melalui pendekatan tersebut, kampus dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kemampuan adaptasi mahasiswa. Conclusion Berdasarkan hasil analisis data yang telah dipaparkan mengenai resiliensi pada mahasiswa rantau ditinjau dari self-compassion, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: . tingkat resiliensi pada mahasiswa rantau secara keseluruhan berada pada kategori tinggi . %). tingkat self-compassion pada mahasiswa rantau berada kategori tinggi . %). terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat resiliensi dengan tingkat self-compassion (F=64. 204, p < . Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan sikap penuh kasih pada diri sendiri . elf-compassio. dapat dijadikan intervensi atau strategi yang efektif untuk membantu mahasiswa rantau bangkit dan beradaptasi secara positif dalam Resiliensi Pada Mahasiswa Rantau Ditinjau dari Self-Compassion Anisa Dwi Putri et al. menghadapi tekanan akademik, penyesuaian budaya, maupun personal. Mahasiswa dengan selfcompassion yang lebih tinggi cenderung memiliki resiliensi yang lebih kuat. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar pihak universitas menyediakan program pelatihan self-compassion bagi mahasiswa rantau sebagai upaya meningkatkan resiliensi dalam menghadapi tantangan akademik maupun sosial. Program pelatihan dapat dikembangkan melalui kegiatan workshop, group counseling atau pelatihan mindfulness yang menekankan pada penerimaan diri dan kasih sayang terhadap diri sendiri. Keterbatasan dalam penelitian ini antara lain terletak pada populasi dalam penelitian ini hanya memfokuskan sampel dari populasi mahasiswa rantau yang berasal dari Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Padang Angkatan 2024. Selain itu, penelitian ini hanya memfokuskan pada self-compassion tanpa mempertimbangkan faktor lain seperti dukungan sosial, pola asuh dan kepribadian yang juga dapat mempengaruhi tingkat resiliensi. Teknik purposive sampling yang digunakan dalam penelitian ini memiliki keterbatasan seperti kurang generalisasi serta menimbulkan bias seleksi. References