NUR EL-ISLAM: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan DOI: https://doi. org/10. 51311/nuris. ISSN: 2337-7828. EISSN: 2527-6263 https://ejurnal. id/index. php/nurelislam/workflow/index/1472/1 PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBINA SISWA MODERASI BERAGAMA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 4 SAROLANGUN PROVINSI JAMBI Suparno1 Institut Agama Islam Abuya Salek Sarolangun Provinsi Jambi Email: masparno906@gmail. Abstract Religious moderation is an important concept in maintaining social harmony amid the diversity of Indonesian society. Education plays a strategic role in instilling the values of religious moderation from an early age, particularly through Islamic Religious Education (IRE) learning at the secondary school level. IRE teachers do not merely function as transmitters of religious knowledge, but also as facilitators who foster inclusive and tolerant religious attitudes among students (Azra, 2. This study aims to analyze the role of Islamic Religious Education teachers in fostering studentsAo religious moderation at SMA Negeri 4 Sarolangun. Jambi Province. This research employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, while data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing (Moleong, 2. The findings indicate that IRE teachers play roles as educators, role models, mediators, and facilitators in promoting religious moderation among students. The strategies implemented include dialogical learning, integration of moderation values into the curriculum, and strengthening an inclusive school culture. Supporting factors for the implementation of religious moderation include school policy support and teacher professionalism, while inhibiting factors stem from the influence of social media and studentsAo limited religious literacy. This study affirms that the role of Islamic Religious Education teachers is crucial in shaping moderate religious attitudes as part of character education and the prevention of intolerant attitudes within the school environment. Keywords:Islamic Religious Education teachers. religious moderation. Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 Abstrak Moderasi beragama merupakan konsep penting dalam menjaga harmoni kehidupan sosial di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama sejak dini, khususnya melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah Guru PAI tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi keagamaan, tetapi juga sebagai pembina sikap keberagamaan yang inklusif dan toleran (Azra. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membina moderasi beragama siswa di SMA Negeri 4 Sarolangun Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Moleong, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI berperan sebagai edukator, teladan, mediator, dan fasilitator dalam pembinaan moderasi beragama siswa. Strategi yang digunakan meliputi pembelajaran dialogis, integrasi nilai moderasi dalam kurikulum, serta penguatan budaya sekolah yang inklusif. Faktor pendukung implementasi moderasi beragama meliputi dukungan kebijakan sekolah dan profesionalisme guru, sedangkan faktor penghambat berasal dari pengaruh media sosial dan keterbatasan literasi keagamaan siswa. Penelitian ini menegaskan bahwa peran guru PAI sangat penting dalam membentuk sikap keberagamaan moderat sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pencegahan sikap intoleran di lingkungan Keywords:guru PAI. moderasi beragama. pendidikan karakter. Pendahuluan Moderasi beragama menjadi isu strategis dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang ditandai oleh keberagaman agama, budaya, dan pandangan keagamaan. Konsep moderasi beragama menekankan sikap beragama yang adil, seimbang, dan menghindari ekstremisme dalam praktik keberagamaan (Kementerian Agama RI, 2. Azra . menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan karakter utama Islam Indonesia yang mengedepankan toleransi, dialog, dan Azyumardi Azra. Islam Indonesia: Moderasi. Reformasi, dan Demokrasi (Jakarta: Kencana, 2. , hlm. 2 Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , hlm. Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 penghargaan terhadap perbedaan. Oleh karena itu, penguatan moderasi Lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang dan sikap keberagamaan generasi muda. Pendidikan agama di sekolah tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan aspek kognitif ajaran agama, tetapi juga harus menekankan pembentukan sikap dan perilaku keberagamaan yang moderat dan humanis (Hasan, 2. Dalam konteks ini. Pendidikan Agama Islam memiliki posisi strategis sebagai mata pelajaran yang secara langsung membahas nilai-nilai keagamaan dan moral peserta didik. Guru PAI dituntut untuk mampu menyajikan ajaran Islam secara kontekstual, inklusif, dan relevan dengan realitas sosial yang plural. Peran guru PAI dalam pembinaan moderasi beragama menjadi sangat penting mengingat maraknya penyebaran paham keagamaan yang intoleran melalui media digital dan media sosial. Lubis . menyatakan bahwa remaja merupakan kelompok yang rentan terpapar narasi keagamaan ekstrem karena keterbatasan literasi keagamaan kritis dan kemampuan menyaring informasi. Oleh karena itu, guru PAI tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan filter ideologis yang membantu siswa memahami ajaran agama secara proporsional dan bertanggung jawab. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pembelajaran PAI yang dialogis dan berbasis nilai moderasi beragama mampu menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghargai di kalangan siswa (MaAorufah, 2. Namun, sebagian penelitian tersebut masih berfokus pada aspek konseptual dan belum secara mendalam mengkaji peran konkret guru PAI dalam konteks sekolah tertentu, terutama di daerah. Dengan demikian, terdapat celah penelitian . esearch ga. terkait implementasi nyata Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 2pembinaan moderasi beragama oleh guru PAI di sekolah menengah negeri pada konteks lokal. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini difokuskan pada peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membina moderasi beragama siswa di SMA Negeri 4 Sarolangun Provinsi Jambi. Penelitian ini penting dilakukan untuk memberikan gambaran empiris mengenai strategi, peran, serta faktor pendukung dan penghambat pembinaan moderasi beragama di tingkat sekolah menengah. Hasil penelitian dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan kajian pendidikan Islam serta kontribusi praktis bagi guru, sekolah, dan pembuat kebijakan pendidikan dalam memperkuat moderasi beragama di lingkungan pendidikan. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIK Konsep Moderasi Beragama Moderasi menekankan sikap adil, seimbang, dan tidak berlebih-lebihan dalam memahami serta mengamalkan ajaran agama. Abdullah . menjelaskan bahwa moderasi beragama adalah cara pandang yang menempatkan agama sebagai sumber nilai moral yang membangun perdamaian, bukan sebagai alat legitimasi kekerasan dan konflik sosial. Konsep ini menuntut umat beragama untuk mampu menjaga keseimbangan antara komitmen keimanan dan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan dalam masyarakat plural. Azra . menegaskan bahwa moderasi beragama berakar pada tradisi Islam wasathiyah yang menolak sikap ekstrem, baik ekstrem kanan 3 Kementerian Agama Republik Indonesia. Moderasi Beragama (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, 2. , hlm. 4Nasaruddin Hasan, "Pendidikan Agama Islam dan Tantangan Radikalisme di Sekolah," Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam 20, no. : 321Ae340. Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 berupa fanatisme sempit maupun ekstrem kiri berupa relativisme berlebihan. Moderasi menjadi titik temu antara keteguhan akidah dan keterbukaan sosial, sehingga umat beragama mampu hidup berdampingan secara harmonis dalam kerangka kebangsaan. Dalam konteks Indonesia, moderasi beragama tidak dapat dipisahkan dari nilai Pancasila, kebhinekaan, dan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kementerian Agama Republik Indonesia . merumuskan moderasi beragama ke dalam empat indikator utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya Keempat indikator tersebut menjadi parameter penting dalam menilai sikap keberagamaan seseorang, termasuk peserta didik di lingkungan Moderasi beragama tidak dimaksudkan untuk mengurangi kesalehan individu, melainkan mengarahkan kesalehan tersebut agar berdampak positif bagi kehidupan sosial. Zubaedi . menyatakan bahwa moderasi beragama memiliki keterkaitan erat dengan pendidikan karakter, karena keduanya sama-sama mencerminkan kemanusiaan dan keadaban publik. Oleh karena itu, penguatan moderasi beragama melalui pendidikan formal menjadi strategi preventif yang efektif dalam mencegah berkembangnya paham radikalisme dan intoleransi di kalangan generasi muda. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Pendidikan Moderasi Beragama Guru Pendidikan Agama Islam memiliki posisi strategis dalam pembinaan moderasi beragama peserta didik karena berperan langsung dalam proses internalisasi nilai-nilai keislaman di sekolah. Fachruddin . menyatakan bahwa guru PAI tidak hanya berfungsi sebagai pengajar materi Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 ajar, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual dan moral yang membentuk3 cara pandang siswa terhadap agama dan realitas sosial. Peran ini menuntut guru PAI untuk memiliki wawasan keislaman yang luas, sikap inklusif, serta kemampuan pedagogis yang adaptif. Hasan . menekankan bahwa guru PAI berperan sebagai role model dalam membangun karakter moderat siswa. Keteladanan guru dalam bersikap adil, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan persoalan secara dialogis menjadi pembelajaran nyata yang lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian teori. Dalam konteks ini, perilaku guru di dalam dan di luar kelas menjadi bagian dari proses pendidikan karakter yang Menurut Sofyan . , guru PAI juga berperan sebagai mediator sosial dalam menyelesaikan konflik yang berpotensi muncul akibat perbedaan latar belakang agama, budaya, dan pandangan keagamaan siswa. Peran mediatif ini penting untuk menciptakan iklim sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari diskriminasi. Guru PAI dituntut mampu mengarahkan siswa untuk melihat perbedaan sebagai rahmat dan realitas sosial yang harus disikapi secara bijaksana. Santoso . menambahkan bahwa dalam konteks pendidikan menengah, guru PAI berfungsi sebagai fasilitator dialog keagamaan yang mendorong siswa berpikir kritis dan reflektif. Melalui diskusi kelas, studi kasus, dan debat terarah, guru membantu siswa memahami bahwa perbedaan pendapat dalam agama adalah hal yang wajar dan memiliki dasar ilmiah yang kuat. Pendekatan ini sangat penting untuk mencegah sikap eksklusif dan klaim kebenaran tunggal di kalangan peserta didik. Muhammad Lubis, "Literasi Keagamaan dan Pencegahan Radikalisme di Kalangan Remaja," Jurnal Studi Keislaman 6, no. : 77Ae92. 6 Siti MaAorufah, "Pembelajaran Dialogis dalam Pendidikan Agama Islam," Jurnal Pendidikan Agama Islam 17, no. : 201Ae214. Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 C. Strategi Pembelajaran Moderasi Beragama di Sekolah Strategi pembelajaran yang digunakan guru PAI sangat menentukan Putri menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah . roblem-based learnin. efektif digunakan untuk membahas isu-isu sosial keagamaan yang aktual, seperti kasus intoleransi dan konflik berbasis agama. Melalui pendekatan ini, siswa diajak menganalisis permasalahan secara kritis dan mencari solusi berdasarkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan dalam Islam. Lubis . pentingnya literasi digital dalam pendidikan moderasi beragama, mengingat tingginya paparan siswa terhadap konten keagamaan di media sosial. Guru PAI perlu membekali siswa dengan kemampuan memilah informasi, mengenali narasi ekstrem, serta memahami konteks keagamaan secara komprehensif. Literasi digital menjadi instrumen penting dalam mencegah radikalisme berbasis daring di kalangan remaja. MaAorufah . menjelaskan bahwa pembelajaran dialogis dan kolaboratif mampu menumbuhkan sikap saling menghargai dan empati Diskusi kelompok, role playing, dan simulasi penyelesaian konflik memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam mempraktikkan nilai toleransi dan musyawarah. Pendekatan ini menjadikan pembelajaran PAI lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata. Selain pembelajaran intrakurikuler. Zamhari . menegaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler keagamaan seperti Rohis, bakti sosial, dan dialog lintas kelas memiliki peran penting dalam pembinaan moderasi Kegiatan tersebut menjadi ruang praktik sosial bagi siswa untuk Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 menerapkan nilai-nilai keagamaan secara inklusif dan humanis. Moderasi Beragama dalam Perspektif Pendidikan Islam Konsep moderasi beragama dalam Islam berakar pada prinsip ummatan wasathan sebagaimana termaktub dalam Al-QurAoan (QS. AlBaqarah: . Sofyan . menjelaskan bahwa konsep wasathiyah menuntut umat Islam untuk menjadi kelompok yang adil, seimbang, dan mampu menjadi teladan dalam kehidupan sosial. Prinsip ini menegaskan bahwa Islam menolak segala bentuk ekstremisme dan kekerasan yang merusak tatanan sosial. Nasution . menyatakan bahwa pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat majemuk. Oleh karena itu, pendidikan Islam di sekolah harus mengajarkan agama sebagai sumber nilai perdamaian dan keadilan sosial, bukan sebagai alat pemisah antar kelompok. Nata . menegaskan bahwa di era globalisasi dan revolusi 0, pendidikan Islam menghadapi tantangan ideologis yang semakin kompleks. Moderasi beragama menjadi kunci utama untuk menjaga keseimbangan antara identitas keislaman dan tuntutan kehidupan modern. Guru PAI dituntut untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan responsif terhadap dinamika sosial kontemporer. Tilaar . menambahkan bahwa pendidikan multikultural berbasis nilai agama merupakan pendekatan strategis dalam membangun masyarakat yang toleran dan demokratis. Integrasi nilai-nilai Islam dan Zubaedi. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2. , hlm. 8 F. Fachruddin, "Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik," Jurnal Pendidikan Islam 7, no. : 123Ae138. Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 multikulturalisme dalam pendidikan sekolah akan memperkuat karakter siswa sebagai warga negara yang religius sekaligus inklusif. Kerangka Konseptual Penelitian Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa moderasi beragama merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter siswa di sekolah menengah. Guru Pendidikan Agama Islam berperan sebagai aktor utama dalam proses pembinaan moderasi beragama melalui peran edukatif, keteladanan, mediasi sosial, dan fasilitasi kegiatan keagamaan. Strategi pembelajaran yang dialogis, kontekstual, dan kolaboratif menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada peserta didik. Kerangka konseptual penelitian ini menempatkan peran guru PAI sebagai variabel utama yang memengaruhi internalisasi moderasi beragama siswa, dengan strategi pembelajaran dan budaya sekolah sebagai faktor pendukung, serta lingkungan sosial dan media digital sebagai faktor kontekstual yang turut mempengaruhi proses pembinaan. METODOLOGI PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, karena penelitian difokuskan pada upaya memahami secara mendalam peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membina moderasi beragama siswa berdasarkan konteks nyata yang terjadi di SMA Negeri 4 Sarolangun Provinsi Jambi. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu kontekstual melalui interaksi langsung antara peneliti dan subjek penelitian Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 (Sugiyono, 2. Studi kasus digunakan untuk mengeksplorasi secara rinci praktik, strategi, serta dinamika pembinaan moderasi beragama yang dilakukan guru PAI dalam lingkungan sekolah tertentu. Menurut Miles dan Huberman . , studi kasus memungkinkan peneliti memahami makna tindakan sosial dan pola perilaku aktor pendidikan dalam situasi yang spesifik dan Dengan pendekatan ini, penelitian tidak hanya menekankan pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembinaan moderasi beragama yang berlangsung secara berkelanjutan di sekolah. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 4 Sarolangun Provinsi Jambi, yang berlokasi di Kecamatan Sarolangun. Kabupaten Sarolangun. Sekolah ini dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki karakteristik siswa yang heterogen dari segi latar belakang sosial, budaya, dan tingkat religiusitas, serta memiliki komitmen dalam penguatan pendidikan karakter dan pembinaan nilai-nilai moderasi beragama melalui berbagai program keagamaan dan kegiatan sekolah (Santoso, 2. Subjek penelitian meliputi guru Pendidikan Agama Islam, kepala sekolah, guru Bimbingan dan Konseling, pembina OSIS, pembina Rohis, serta siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan pembinaan keagamaan. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan subjek penelitian secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu 8 9 B. Santoso, "Tantangan Implementasi Moderasi Beragama di Sekolah Menengah," Jurnal Sosial Keagamaan 9, no. : 55Ae70. 9 E. Mulyadi, "Kegiatan Ekstrakurikuler Keagamaan dan Pembentukan Karakter Moderat Siswa," Jurnal Pendidikan Karakter 11, no. 89Ae103. 10 A. Majid. Strategi Pembelajaran (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 yang relevan dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2. Kriteria informan meliputi keterlibatan langsung dalam pelaksanaan pembelajaran PAI, program pembinaan karakter, dan aktivitas keagamaan sekolah. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa teknik untuk memperoleh data yang komprehensif dan saling melengkapi, yaitu wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Wawancara Mendalam Wawancara mendalam . n-depth intervie. dilakukan terhadap guru PAI, kepala sekolah, guru BK, pembina OSIS, serta beberapa siswa yang dipilih berdasarkan keterlibatan mereka dalam kegiatan keagamaan dan pembinaan moderasi beragama. Wawancara bertujuan menggali pandangan, pengalaman, serta strategi yang diterapkan dalam membina sikap keberagamaan moderat pada siswa. Menurut Fachruddin . , wawancara mendalam memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang makna subjektif yang dimiliki informan terkait praktik pendidikan yang dijalankan. Observasi Observasi dilakukan secara langsung terhadap proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas, kegiatan ekstrakurikuler keagamaan seperti Rohis, kegiatan diskusi siswa, serta program pembiasaan karakter di lingkungan sekolah. Observasi bertujuan untuk melihat secara nyata nilai-nilai interaksi sehari-hari antara guru dan siswa. Lubis . menyatakan bahwa observasi menjadi teknik penting dalam penelitian kualitatif untuk memahami perilaku sosial dan dinamika interaksi secara alami. Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 Dokumentasi6 Dokumentasi digunakan untuk melengkapi dan memperkuat data hasil wawancara dan observasi. Dokumen yang dianalisis meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PAI, silabus, modul pembelajaran, kurikulum sekolah, notulen kegiatan OSIS dan Rohis, serta laporan kegiatan pembinaan karakter dan toleransi sekolah. Menurut Nata . , analisis dokumen penting dilakukan untuk memahami kebijakan dan arah pengembangan pendidikan yang dirancang oleh institusi pendidikan. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman . , yang terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi data dilakukan dengan cara memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang diperoleh dari lapangan agar relevan dengan fokus penelitian. Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk narasi deskriptif dan tabel tematik untuk memudahkan pemahaman terhadap pola dan hubungan antar data. Tahap akhir analisis adalah penarikan kesimpulan secara induktif, yaitu menyusun temuan penelitian berdasarkan pola dan tema yang muncul dari data lapangan (Miles & Huberman, 2. Fauzi, "Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah," Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam 15, no. : 45Ae60. 13 H. Nasution, "Pendidikan Islam dan Pembentukan Akhlak Mulia," Jurnal Ilmu Pendidikan Islam 4, no. : 145Ae159. 14 Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif. Kuantitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2. , hlm. Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 E. Uji Keabsahan Data Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi, baik triangulasi sumber maupun triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari guru, siswa, dan pihak manajemen sekolah, sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi (Sugiyono, 2. Selain itu, validitas data diperkuat melalui member check, yaitu mengonfirmasi kembali hasil temuan kepada informan untuk memastikan kesesuaian interpretasi peneliti dengan pengalaman dan pandangan Farhan . menyatakan bahwa teknik ini penting untuk meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan terhadap hasil penelitian HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Kondisi Sosial Keagamaan SMA Negeri 4 Sarolangun SMA Negeri 4 Sarolangun merupakan salah satu sekolah menengah atas negeri di Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi yang memiliki karakteristik siswa dengan latar belakang sosial, budaya, dan tingkat pemahaman keagamaan yang beragam. Keberagaman tersebut tercermin dari perbedaan praktik keagamaan, tradisi keluarga, serta pola interaksi sosial siswa dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Kondisi ini menjadikan sekolah sebagai ruang strategis sekaligus menantang dalam upaya pembinaan moderasi beragama (Putri, 2. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, lingkungan sekolah relatif kondusif dan tidak ditemukan konflik terbuka yang bersifat destruktif antar siswa. Namun demikian, terdapat potensi perbedaan pandangan Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 keagamaan, khususnya dalam praktik ibadah, cara berpakaian, serta isu-isu Guru PAI memandang kondisi ini sebagai peluang edukatif untuk menanamkan nilai toleransi, saling menghargai, dan sikap terbuka terhadap perbedaan (Santoso, 2. Manajemen sekolah menunjukkan komitmen dalam penguatan pendidikan karakter dan moderasi beragama melalui berbagai kebijakan, seperti integrasi nilai karakter dalam pembelajaran, pembiasaan sikap religius yang inklusif, serta dukungan terhadap kegiatan ekstrakurikuler Struktur pembinaan melibatkan kepala sekolah, wakil kepala bidang kesiswaan, guru PAI, guru BK, serta pembina OSIS dan Rohis, yang bekerja secara kolaboratif dalam menciptakan iklim sekolah yang harmonis dan toleran. Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Moderasi Beragama Guru PAI sebagai Edukator Konseptual Moderasi Beragama Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 4 Sarolangun berperan aktif sebagai edukator konseptual dalam menanamkan pemahaman moderasi beragama kepada siswa. Guru PAI menyampaikan materi keislaman tidak hanya secara normatif, tetapi juga kontekstual dengan realitas kehidupan sosial siswa. Materi seperti perbedaan mazhab, fiqh muamalah, ukhuwah Islamiyah, dan hubungan antar umat beragama dijadikan sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai moderasi (Abdullah, 2. Dalam PAI perbedaan pandangan dalam Islam merupakan bagian dari khazanah Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 intelektual yang harus dihargai. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Azra . yang menyatakan bahwa pemahaman Islam wasathiyah harus ditanamkan sejak dini agar siswa tidak terjebak pada pola pikir eksklusif dan Guru PAI juga mengaitkan materi ajar dengan isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat, sehingga siswa mampu memahami agama secara relevan dan aplikatif. Guru PAI sebagai Teladan Moral dan Sosial Keteladanan guru PAI menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian ini. Guru PAI tidak hanya menyampaikan nilai-nilai moderasi mencerminkan toleransi, keadilan, dan keterbukaan dalam interaksi seharihari dengan siswa. Sikap ramah, tidak diskriminatif, serta kemampuan guru dalam menghargai perbedaan pendapat siswa menjadi contoh nyata bagi peserta didik (Majid, 2. Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa cenderung meniru sikap guru dalam menyikapi perbedaan. Ketika guru menunjukkan sikap tenang dan dialogis dalam menghadapi perbedaan pandangan, siswa pun terdorong untuk bersikap serupa. Temuan ini menguatkan pendapat Hasan . yang menegaskan bahwa keteladanan guru merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan karakter dan moderasi beragama. Guru Guru PAI sebagai Mediator Sosial dan Pembimbing Moral PAI menyelesaikan persoalan atau potensi konflik antar siswa yang berkaitan dengan perbedaan latar belakang dan pandangan keagamaan. Berdasarkan hasil observasi, apabila terjadi kesalahpahaman atau perbedaan pendapat di antara siswa, guru PAI berupaya menyelesaikannya melalui pendekatan dialog dan musyawarah. Guru mengarahkan siswa untuk melihat persoalan dari perspektif kemanusiaan dan nilai-nilai universal Islam (Hasanah, 2. Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 Peran mediatif ini penting dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman. Guru PAI berfungsi sebagai pembimbing moral yang membantu siswa menginternalisasi nilai anti-kekerasan dan penyelesaian konflik secara damai. Hal ini sejalan dengan pandangan Sofyan . bahwa pendidikan Islam harus mampu membentuk kesadaran sosial dan etika publik siswa. Guru PAI sebagai Fasilitator Kegiatan Keagamaan Moderatif Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa guru PAI berperan sebagai fasilitator dalam berbagai kegiatan keagamaan sekolah, khususnya melalui organisasi Rohis dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Kegiatan seperti kajian keislaman, tadarus Al-QurAoan, peringatan hari besar Islam, dan bakti sosial dilaksanakan dengan pendekatan inklusif dan menekankan nilai kepedulian sosial (Mulyadi, 2. Guru PAI memastikan bahwa kegiatan keagamaan tidak bersifat eksklusif atau mengarah pada penguatan kelompok tertentu saja, tetapi menjadi ruang pembelajaran bersama yang menumbuhkan empati, kerja sama, dan solidaritas sosial antar siswa. Pendekatan ini memperkuat praktik moderasi beragama secara nyata di lingkungan sekolah. Strategi Guru PAI Mengimplementasikan Moderasi Beragama Integrasi Nilai Moderasi dalam Pembelajaran PAI Guru PAI mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran PAI, baik dalam RPP, metode pembelajaran, maupun evaluasi. Nilai toleransi, keadilan, dan antikekerasan disisipkan dalam berbagai materi ajar secara sistematis dan berkelanjutan (Zubaedi, 2. Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 Pembelajaran Dialogis dan Partisipatif Strategi pembelajaran dialogis menjadi pendekatan utama yang digunakan guru PAI. Diskusi kelompok, tanya jawab terbuka, dan studi kasus digunakan untuk melatih siswa menyampaikan pendapat secara santun dan menghargai pandangan orang lain. Pendekatan ini membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif dalam memahami ajaran agama (MaAorufah, 2. Penguatan Budaya Sekolah Berbasis Moderasi Guru PAI bersama pihak sekolah membangun budaya sekolah yang mendukung moderasi beragama melalui pembiasaan sikap religius yang inklusif, saling menghormati, dan kerja sama lintas latar belakang. Pembiasaan ini menciptakan lingkungan sosial yang kondusif bagi internalisasi nilai-nilai moderasi secara alami (Anwar, 2. PEMBAHASAN Peran Strategis Guru PAI dalam Pembinaan Moderasi Beragama Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam memiliki peran yang sangat strategis dalam membina moderasi beragama siswa di SMA Negeri 4 Sarolangun. Temuan ini menguatkan pandangan Fachruddin . yang menyatakan bahwa guru PAI bukan sekadar pengajar materi keagamaan, tetapi juga aktor utama dalam pembentukan cara pandang dan sikap keberagamaan peserta didik. Peran guru PAI sebagai edukator konseptual, teladan moral, mediator sosial, dan fasilitator kegiatan berlangsung melalui proses pedagogis dan sosial yang saling terkait. Peran edukatif guru PAI dalam menyampaikan pemahaman keagamaan yang moderat sejalan dengan konsep Islam wasathiyah Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 sebagaimana dikemukakan Azra . , yaitu Islam yang menekankan keseimbangan antara keteguhan akidah dan keterbukaan sosial. Melalui pembelajaran yang kontekstual dan dialogis, guru PAI membantu siswa memahami bahwa perbedaan pandangan dalam agama merupakan realitas yang harus disikapi secara bijaksana dan ilmiah. Temuan ini memperkuat penelitian Hasan . yang menyatakan bahwa pembelajaran PAI yang moderatif mampu mencegah berkembangnya sikap eksklusif dan intoleran di kalangan siswa. Keteladanan PAI juga keberhasilan pembinaan moderasi beragama. Sikap adil, terbuka, dan menghargai perbedaan yang ditunjukkan guru PAI dalam interaksi seharihari terbukti berdampak positif terhadap perilaku siswa. Hal ini sejalan dengan pandangan Majid . yang menegaskan bahwa keteladanan merupakan metode pendidikan karakter yang paling efektif, karena nilainilai yang dicontohkan secara langsung lebih mudah diinternalisasi oleh peserta didik dibandingkan dengan nasihat verbal semata. Efektivitas Strategi Pembelajaran Moderasi Beragama Strategi pembelajaran yang diterapkan guru PAI di SMA Negeri 4 Sarolangun nilai-nilai moderasi beragama. Pembelajaran berbasis dialog, diskusi kelompok, dan studi kasus memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif dalam memahami ajaran agama. Temuan ini sejalan dengan pendapat MaAorufah . yang menyatakan bahwa pembelajaran dialogis mampu menumbuhkan sikap toleransi dan keterbukaan, karena siswa dilatih untuk mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain. Integrasi nilai moderasi beragama dalam kurikulum PAI juga Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 memperkuat proses internalisasi karakter moderat siswa. Guru PAI tidak menyisipkannya dalam berbagai topik pembelajaran secara sistematis. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Zubaedi . yang menekankan diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran agar membentuk kebiasaan dan sikap yang berkelanjutan. Selain keagamaan seperti Rohis dan bakti sosial terbukti menjadi sarana efektif dalam praktik moderasi beragama. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak mempraktikkannya dalam interaksi sosial nyata. Temuan ini mendukung penelitian Mulyadi . yang menyatakan bahwa kegiatan keagamaan berbasis sosial mampu menumbuhkan empati, solidaritas, dan kepedulian antar siswa. Moderasi Beragama sebagai Pendidikan Karakter dan Pencegahan Radikalisme Pembinaan moderasi beragama di SMA Negeri 4 Sarolangun juga memiliki implikasi penting dalam konteks pencegahan radikalisme dan intoleransi di lingkungan pendidikan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemahaman keagamaan yang moderat membantu siswa menyaring informasi keagamaan yang beredar di media sosial dan mencegah mereka terpengaruh oleh narasi ekstrem. Hal ini sejalan dengan pandangan Lubis . yang menegaskan bahwa literasi keagamaan dan digital merupakan instrumen penting dalam strategi preventif radikalisme di kalangan generasi Moderasi beragama dalam pendidikan PAI juga berfungsi sebagai Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 bagian integral dari pendidikan karakter. Nasution . menyatakan bahwa pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan akhlak mulia dan kesadaran sosial akan melahirkan individu yang religius sekaligus Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang dibina melalui pendekatan moderasi cenderung menunjukkan sikap saling menghargai, anti-kekerasan, dan memiliki komitmen terhadap persatuan Dalam perspektif kebangsaan, pembinaan moderasi beragama di Pancasila Kementerian Agama RI . menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah pluralitas masyarakat Indonesia. Dengan demikian, peran guru PAI dalam membina moderasi beragama tidak hanya berdampak pada perkembangan individu siswa, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas sosial dan harmoni kehidupan berbangsa. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Moderasi Beragama Pembahasan hasil penelitian juga menunjukkan adanya faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi moderasi beragama di SMA Negeri 4 Sarolangun. Dukungan kepala sekolah dan kebijakan sekolah yang responsif terhadap penguatan pendidikan karakter menjadi faktor Profesionalisme guru PAI dan kolaborasi dengan guru BK serta pembina kegiatan ekstrakurikuler turut memperkuat ekosistem pendidikan yang moderatif (Fauzi, 2. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa faktor Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 penghambat, seperti pengaruh media sosial yang menyebarkan paham keagamaan intoleran serta keterbatasan literasi keagamaan kritis sebagian Kondisi ini menuntut upaya berkelanjutan dari guru PAI dan pihak sekolah untuk memperkuat pendampingan dan pembinaan karakter siswa. Temuan ini sejalan dengan penelitian Santoso . yang menyatakan bahwa tantangan utama pendidikan moderasi beragama di sekolah berasal dari faktor eksternal yang sulit dikontrol secara langsung oleh institusi KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Moderasi Beragama Siswa di SMA Negeri 4 Sarolangun Provinsi Jambi, dapat disimpulkan beberapa temuan utama sebagai berikut. Pertama, guru Pendidikan Agama Islam memiliki peran yang sangat strategis dalam membina moderasi beragama siswa. Guru PAI tidak hanya berperan sebagai penyampai materi ajar keagamaan, tetapi juga sebagai edukator konseptual, teladan moral, mediator sosial, dan fasilitator kegiatan Melalui peran tersebut, guru PAI mampu membentuk pemahaman keagamaan siswa yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan serta persatuan sosial. Pembinaan moderasi beragama dilakukan secara terintegrasi melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang saling melengkapi. Kedua, strategi pembelajaran yang diterapkan guru PAI dalam membina moderasi beragama terbukti efektif dalam menanamkan nilai toleransi, anti-kekerasan, dan sikap saling menghargai. Pendekatan pembelajaran dialogis, diskusi partisipatif, studi kasus sosial, serta integrasi Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 nilai moderasi dalam kurikulum PAI mendorong siswa untuk berpikir kritis dan reflektif dalam memahami ajaran agama. Selain itu, penguatan budaya sekolah berbasis moderasi melalui pembiasaan sikap religius yang inklusif turut memperkuat internalisasi karakter moderat siswa. Ketiga, faktor pendukung pembinaan moderasi beragama di SMA Negeri 4 Sarolangun meliputi dukungan kebijakan sekolah, profesionalisme guru PAI, kolaborasi antar unsur sekolah, serta iklim sosial yang relatif Sementara itu, faktor penghambat yang dihadapi antara lain pengaruh media sosial yang menyebarkan narasi keagamaan intoleran, keterbatasan literasi keagamaan kritis sebagian siswa, serta tantangan eksternal yang berada di luar kontrol langsung sekolah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembinaan moderasi beragama memerlukan upaya berkelanjutan dan sinergi berbagai pihak. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa penguatan moderasi beragama di sekolah menengah merupakan bagian penting dari pendidikan karakter dan pencegahan radikalisme sejak dini. Guru Pendidikan Agama Islam memiliki posisi sentral dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang damai, toleran, dan berkeadaban melalui pembelajaran agama yang humanis dan kontekstual. Saran Berdasarkan kesimpulan tersebut, beberapa saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut. Pertama, bagi pihak sekolah, khususnya SMA Negeri 4 Sarolangun, disarankan untuk terus memperkuat kebijakan dan program sekolah yang mendukung pengembangan moderasi beragama dan pendidikan karakter. Sekolah perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi kegiatan keagamaan dan sosial yang bersifat inklusif serta mendorong kolaborasi antar guru Volume 12. Nomor 2. Oktober 2025 dalam pembinaan sikap toleran dan harmonis di lingkungan sekolah. Kedua, bagi guru Pendidikan Agama Islam, diharapkan untuk terus mengembangkan pembelajaran PAI yang moderatif. Guru PAI perlu mengoptimalkan pendekatan dialog multikultural, pemanfaatan media digital pendidikan, serta penguatan literasi keagamaan kritis agar siswa mampu menyikapi perbedaan dan arus informasi secara bijaksana. Ketiga, bagi peserta didik, diharapkan agar aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembinaan keagamaan dan sosial yang diselenggarakan sekolah, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dan anti-kekerasan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap moderat dalam beragama perlu dipahami sebagai wujud kedewasaan beragama yang mencerminkan nilai keimanan dan kemanusiaan secara seimbang. Keempat, mengembangkan penelitian dengan cakupan yang lebih luas, baik dari segi Penelitian menggunakan pendekatan komparatif atau metode campuran untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai implementasi moderasi beragama di berbagai satuan pendidikan. DAFTAR PUSTAKA