n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 869-886 Available online at http://jurnal. id/dedikasi ISSN 2548-8848 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Dedikasi Pendidikan PERKEMBANGAN KAJIAN MEMBACA PEMAHAMAN PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR TAHUN 2014-2024 Ignatius Dimas Adi Suarjaya1*. Widharyanto2. Setya Tri Nugraha3. Kunjana Rahardi4 1,2,3,4 Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanata Dharma. Sleman, 55281. Indonesia. *Email korespondensi : dimasadisuarjaya@gmail. Diterima April 2025. Disetujui Juni 2025. Dipublikasi 31 Juli 2025 Abstract: Reading comprehension is a crucial indicator of students' literacy, yet in Indonesia, this skill remains underdeveloped, as evidenced by consistently low PISA rankings. This study aims to describe the progress of research on students' reading comprehension in Indonesia over the past decade and assess how these studies contribute to understanding the issue of low literacy skills. The study employs a library research method, analyzing 18 scholarly articles indexed in SINTA 3 and 4 between 2014 and 2024. The findings reveal that from 2014 to 2019, research focused on developing learning models and strategies, such as SQ3R and multiliteracy, which proved effective in enhancing reading comprehension. Between 2020 and 2022, the focus shifted to analyzing reading comprehension levels, while 2023Ae2024 explored innovative methods leveraging Although these strategies show positive impacts, challenges persist, particularly in consistent implementation and teachers' limited creativity in applying new techniques. This study highlights the need for ongoing collaboration among educators, policymakers, and researchers to improve reading comprehension in Indonesia through technology-based approaches and more intensive teacher training programs. Keywords : reading comprehension, literacy. PISA. Abstrak: Kemampuan membaca pemahaman menjadi salah satu indikator penting dalam literasi siswa, namun di Indonesia kemampuan ini masih tergolong rendah, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil survei PISA yang konsisten menempatkan Indonesia di peringkat bawah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perkembangan kajian kemampuan membaca pemahaman siswa di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir serta kontribusi hasil-hasil penelitian dalam memahami masalah rendahnya kemampuan tersebut. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis 18 publikasi ilmiah terindeks SINTA 3 dan 4 dari periode 2014Ae2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fokus utama kajian pada periode 2014Ae2019 adalah pengembangan model dan strategi pembelajaran, seperti SQ3R dan multiliterasi, yang terbukti efektif meningkatkan pemahaman membaca siswa. Periode 2020Ae2022 menekankan analisis tingkat pemahaman membaca, sedangkan tahun 2023Ae2024 mulai mengeksplorasi metode inovatif berbasis teknologi. Meskipun strategi tersebut memberikan dampak positif, tantangan tetap ada, terutama terkait implementasi konsisten dan rendahnya kreativitas guru dalam memanfaatkan teknik-teknik baru. Penelitian ini menggarisbawahi perlunya kolaborasi berkelanjutan antara pendidik, pemerintah, dan peneliti untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman di Indonesia melalui pendekatan berbasis teknologi dan pelatihan guru yang lebih intensif. Kata kunci : membaca pemahaman, literasi. PISA PENDAHULUAN Membaca adalah keterampilan esensial yang wajib dikuasai oleh setiap individu. Aktivitas ini secara umum berfungsi sebagai sarana untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas intelektual seseorang. Perkembangan Kajian Membaca Pemahaman. Widharyanto. Nugraha, & Rahardi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 869-886 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Sebagai bagian dari proses kognitif, membaca memiliki peran vital dalam memperoleh pesan atau informasi yang bermakna. Namun, kondisi keterampilan membaca di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Khususnya dalam aspek literasi pemahaman, tingkat kemampuan membaca di Indonesia masih tergolong rendah, mencerminkan perlunya perhatian lebih dalam pengembangan budaya literasi. Tingkat literasi siswa di Indonesia, berdasarkan survei internasional, menunjukkan kondisi yang Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 menempatkan Indonesia pada peringkat 62 dari 70 negara, menjadikannya salah satu dari 10 negara dengan kemampuan literasi terendah di dunia (Anggraena, 2021a. OECD (Organization for Economic Cooperation and Developmen. Pratiwi, 2019. Pada survei berikutnya tahun 2022, posisi Indonesia turun ke peringkat 69 dari 81 negara, dengan skor literasi membaca sebesar 359, jauh tertinggal dibandingkan Singapura yang menduduki peringkat pertama dengan skor 543 (OECD, 2. Rendahnya skor PISA tersebut mengindikasikan lemahnya kemampuan literasi masyarakat Indonesia, yang erat kaitannya dengan kualitas pendidikan. Ketidaksetaraan akses pendidikan di sejumlah wilayah menjadi salah satu faktor penyebab, menciptakan perbedaan kualitas pendidikan yang signifikan (Priasti & Suyatno, 2. Dampak dari kondisi ini tercermin pada rendahnya kemampuan pemahaman bacaan masyarakat, meskipun tingkat melek huruf di Indonesia pada tahun 2022 telah mencapai 96,35% (Badan Pusat Statistik, 2. Penelitian di beberapa sekolah juga mengungkapkan rendahnya kemampuan siswa dalam memahami teks, mengevaluasi isi bacaan, dan berpikir kritis (Inawati & Sanjaya, 2018. Kholik & Himam, 2. Hal ini memperkuat bukti bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi masih perlu ditingkatkan secara Analisis terhadap survei dan permasalahan literasi di Indonesia menunjukkan bahwa pengukuran yang digunakan dalam studi internasional seperti PISA mengadopsi metode yang sangat canggih. Salah satu contohnya adalah penggunaan teks bacaan berbentuk multiteks, yaitu teks dengan struktur yang menggabungkan berbagai genre wacana. Model ini mendorong strategi membaca yang variatif, eksploratif, serta inovatif, menggunakan beragam jenis teks. Pada uji literasi PISA, kemampuan membaca yang diuji sudah mencakup tingkat pemahaman yang menuntut keterampilan Higher Order Thinking Skills (HOTS), termasuk kemampuan interpretasi, refleksi, dan evaluasi (Tahmidaten & rismanto, 2. Namun, di tingkat pendidikan dasar, khususnya sekolah dasar (SD), pembelajaran membaca masih dominan berfokus pada kategori membaca permulaan, meskipun siswa telah berada di kelas tinggi . elas IV hingga VI). Pembelajaran tersebut belum sepenuhnya mengintegrasikan pendekatan berbasis HOTS, yang semestinya lebih mengembangkan kemampuan analisis dan pemikiran kritis siswa (Agnia et al. , 2. Berdasarkan paparan sebelumnya, terlihat bahwa kondisi literasi membaca pemahaman di Indonesia berada pada tingkat yang memprihatinkan, mencerminkan permasalahan mendasar dalam sistem pendidikan Kelemahan ini menunjukkan adanya celah dalam pelaksanaan pembelajaran, khususnya dalam pengembangan kemampuan membaca yang mendalam dan berbasis pemikiran kritis. Oleh karena itu, penting ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 869-886 untuk memberikan perhatian khusus terhadap isu ini. Peneliti memandang bahwa permasalahan tersebut memerlukan kajian yang mendalam guna menemukan solusi strategis dan implementatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama dalam aspek literasi membaca. Membaca pemahaman merupakan suatu aktivitas yang bertujuan untuk memahami isi dan pesan yang terkandung dalam teks. Fokus utama dari kegiatan ini adalah penguasaan terhadap konten bacaan, bukan pada aspek estetika, kecepatan, atau keluwesan membaca. Istilah ini merujuk pada kemampuan untuk memahami serta menerapkan informasi yang terdapat dalam teks tertulis (Hermawan & Resmini, 2007, p. Dengan demikian, pengajaran membaca pemahaman memiliki peran yang sangat penting dan perlu dilaksanakan secara efektif, karena keterampilan ini berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan proses pembelajaran siswa (Inawati, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan perkembangan kajian mengenai kemampuan membaca pemahaman dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, dengan dasar analisis pada peringkat PISA dalam literasi Fokus penelitian mencakup dua aspek utama, yaitu: . Bagaimana perkembangan penelitian tentang kemampuan membaca pemahaman di Indonesia dalam dekade terakhir? dan . Bagaimana kontribusi hasil penelitian tersebut terhadap identifikasi dan pemahaman masalah rendahnya kemampuan membaca pemahaman di Indonesia? Pembahasan dalam penelitian ini akan difokuskan pada eksplorasi informasi yang relevan berdasarkan pertanyaan penelitian tersebut, dengan memanfaatkan literatur referensi dari berbagai studi pustaka. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan komprehensif mengenai dinamika, tantangan, dan peluang perbaikan dalam literasi membaca di Indonesia. KAJIAN PUSTAKA Literasi Membaca Dalam konteks pendidikan kontemporer, literasi merupakan salah satu kompetensi esensial yang harus dimiliki oleh setiap individu. Literasi tidak lagi dimaknai secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan telah berkembang mencakup penguasaan pengetahuan serta keterampilan dalam berbagai bidang kehidupan. KBBI mendefinisikan literasi dalam tiga makna, yaitu: . kemampuan membaca dan . penguasaan pengetahuan atau keterampilan di bidang tertentu. kemampuan mengolah informasi dan pengetahuan untuk mendukung kecakapan hidup. Pada awalnya, literasi dipahami secara terbatas sebagai keterampilan dasar dalam membaca dan menulis (Amri & Rochmah, 2. , namun seiring perkembangan zaman, pemaknaan tersebut mengalami perluasan. Saat ini, literasi mencakup pula keterampilan dalam numerasi, sains, teknologi, serta kemampuan berpikir kritis dan reflektif (Abidin et al. , 2. Perkembangan teknologi dan dinamika tantangan abad ke-21 menuntut peserta didik untuk menguasai beragam bentuk literasi agar dapat beradaptasi, mengambil peran aktif, dan memberikan kontribusi positif dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya secara global. Pembelajaran pada abad ke-21 mengalami transformasi yang signifikan, dengan penekanan pada Perkembangan Kajian Membaca Pemahaman. Widharyanto. Nugraha, & Rahardi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 869-886 http://jurnal. id/index. php/dedikasi penguasaan keterampilan esensial untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Terdapat enam belas keterampilan utama yang perlu dikuasai oleh peserta didik agar mampu beradaptasi, bertahan, dan bersaing secara kompetitif di era globalisasi (Trimansyah, 2. Keterampilan-keterampilan tersebut diklasifikasikan dalam bentuk literasi dasar, yaitu kemampuan literasi yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. World Economic Forum . merumuskan enam jenis literasi dasar, yaitu: literasi membaca dan menulis, literasi numerasi . , literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewarganegaraan. Literasi-literasi tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk peserta didik yang cakap, adaptif, dan berdaya saing tinggi dalam era informasi dan teknologi. Dari enam bentuk literasi dasar yang telah diidentifikasi, literasi membaca merupakan aspek fundamental yang perlu dikembangkan secara optimal dalam diri peserta didik. Literasi ini menjadi landasan bagi penguasaan bentuk literasi dasar lainnya. Literasi membaca dapat diartikan sebagai proses kognitif yang melibatkan aktivitas untuk menemukan, memahami, serta memaknai informasi yang terdapat dalam suatu teks tertulis. Dalam konteks pendidikan, literasi membaca berperan penting dalam menunjang perkembangan kognitif dan keterampilan berpikir peserta didik (Dalman, 2017. Tarigan, 2. Oleh karena itu, literasi membaca tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan mengenali kata dan kalimat, tetapi juga mencakup kemampuan memahami makna yang tersirat dan tersurat dalam teks secara mendalam. Proses memahami makna dalam teks tertulis dikenal sebagai literasi membaca pemahaman. Literasi membaca pemahaman, atau sering disebut sebagai membaca lanjut, merupakan keterampilan membaca tingkat tinggi yang menuntut kemampuan kognitif untuk memahami isi suatu bacaan secara menyeluruh (Resmi, 2. Aktivitas ini tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca teks secara teknis, melainkan juga mencakup penyampaian kembali informasi yang diperoleh dari bacaan secara runtut dan bermakna. Secara konseptual, literasi membaca pemahaman merupakan tahapan lanjutan dari keterampilan membaca permulaan. Pada tahap ini, pembaca tidak lagi berfokus pada pelafalan huruf atau penggabungan bunyi menjadi kata, frasa, dan kalimat, melainkan diarahkan untuk memahami makna keseluruhan dari bacaan yang dibacanya (Dalman, 2017. Resmi. Jenis Membaca Keterampilan membaca merupakan kompetensi dasar yang esensial dalam kehidupan, tidak hanya dalam konteks pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Melalui kegiatan membaca, peserta didik memperoleh informasi, memperluas wawasan, serta meningkatkan pengetahuan dalam berbagai bidang (FaridaRahim, 2008. Safitri et al. , 2021. Keterampilan membaca menjadi modal utama bagi peserta didik untuk mengakses ilmu pengetahuan, mengomunikasikan gagasan, serta mengekspresikan diri secara efektif. Dengan demikian, penguasaan keterampilan membaca tidak hanya mendukung keberhasilan akademik, tetapi juga berkontribusi pada perkembangan intelektual dan sosial peserta didik secara menyeluruh. Dalam keterampilan membaca, terdapat dua jenis utama yang dapat dilakukan oleh peserta didik, yaitu membaca nyaring dan membaca dalam hati. Somadaya . secara umum mengelompokkan jenis membaca ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 869-886 menjadi dua kategori, yakni membaca nyaring . tau tekni. dan membaca dalam hati. Membaca nyaring. Membaca nyaring adalah aktivitas membaca yang dilakukan dengan cara mengucapkan lambang-lambang bunyi secara vokal. Oleh karena itu, membaca nyaring juga disebut membaca bersuara. Jenis membaca ini memerlukan penguasaan keterampilan tertentu, khususnya terkait unsur suprasegmental seperti nada, intonasi, tekanan, pelafalan, dan jeda. Penguasaan unsur-unsur tersebut penting untuk menunjang kelancaran dan pemahaman saat membaca secara lisan. Membaca dalam hati Membaca dalam hati merupakan kegiatan membaca tanpa mengeluarkan suara. Karena dilakukan secara internal, kegiatan ini memungkinkan peserta didik untuk lebih fokus dalam memahami isi teks. Selain itu, membaca dalam hati memberikan kesempatan kepada guru untuk mengamati respons, kebiasaan membaca, serta tingkat pemahaman peserta didik terhadap bacaan. Membaca dalam hati mencakup dua jenis kegiatan membaca, yaitu membaca ekstensif dan membaca Membaca ekstensif merupakan teknik membaca cepat yang dilakukan tanpa mengurangi pemahaman terhadap inti bacaan. Tujuan utama dari membaca ekstensif adalah untuk memperoleh gambaran umum atau menemukan pokok permasalahan dari teks secara cepat dan efisien. Sementara itu, membaca intensif, yang juga dikenal sebagai membaca pemahaman, adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara mendalam dan cermat untuk memahami isi bacaan secara menyeluruh. Dalam membaca intensif, peserta didik dituntut untuk memahami secara detail informasi, struktur, dan makna yang terkandung dalam teks. Oleh karena itu, membaca intensif sangat penting dalam pengembangan keterampilan literasi membaca pemahaman. Membaca Pemahaman Membaca adalah keterampilan esensial yang wajib dikuasai oleh setiap individu. Aktivitas ini secara umum berfungsi sebagai sarana untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas intelektual seseorang. Membaca pemahaman merupakan suatu aktivitas yang bertujuan untuk memahami isi dan pesan yang terkandung dalam teks. Fokus utama dari kegiatan ini adalah penguasaan terhadap konten bacaan, bukan pada aspek estetika, kecepatan, atau keluwesan membaca. Istilah ini merujuk pada kemampuan untuk memahami serta menerapkan informasi yang terdapat dalam teks tertulis (Hermawan & Resmini, 2007, p. Dengan demikian, pengajaran membaca pemahaman memiliki peran yang sangat penting dan perlu dilaksanakan secara efektif, karena keterampilan ini berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan proses pembelajaran siswa (Inawati, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berupa studi pustaka . ibrary researc. , dengan memanfaatkan berbagai sumber literatur, seperti buku referensi dan artikel jurnal ilmiah (Nina Adlini et al. Proses pengumpulan data dilakukan melalui beberapa langkah sistematis, yaitu . memperdalam pemahaman dan mencari pembahasan umum yang relevan dengan topik penelitian, . mengidentifikasi Perkembangan Kajian Membaca Pemahaman. Widharyanto. Nugraha, & Rahardi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 869-886 http://jurnal. id/index. php/dedikasi permasalahan yang sesuai dengan topik yang dibahas, . mengerucutkan fokus pembahasan penelitian agar lebih spesifik, . menyusun dan memilih sumber referensi utama berupa artikel jurnal ilmiah, . melakukan analisis dan pencatatan data dari sumber yang dipilih untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Pendekatan ini bertujuan untuk menghasilkan kajian mendalam berdasarkan sumber-sumber yang kredibel dan relevan. Dalam penelitian studi pustaka ini, data berupa korpus data bibliografis dengan jumlah 18 publikasi ilmiah berjenis artikel jurnal yang terindeksasi pada SINTA akreditasi 3 & 4 sejak tahun 2014 sampai dengan 2024. Sumber data bersumber dari jurnal-jurnal terkait topik utama, yaitu membaca pemahaman di sekolah dasar yang berasal dari jurnal-jurnal SINTA 3&4. Sebagai material utama, korpus data tersebut mengandung informasi tentang objek studi, yaitu AuPerkembangan Kajian Membaca Pemahaman. Ay Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi program Mendeley References Manager . dan Google Scholar untuk mencari data berupa artikel yang berkaitan dengan kemampuan membaca pemahaman. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan beberapa rujukan sesuai dengan tujuan dari penelitian ini yakni mengkaji perkembangan membaca pemahaman terutama di sekolah dasar sebagai berikut. Tabel 1 . Skor Kemampuan Siswa Melakukan pada Pembelajaran Perkembangan Kajian Mengenai Kemampuan Membaca Pemahaman dalam 10 Tahun Terakhir di Indonesia Kajian terkait kemampuan membaca pemahaman selalu mengalami perubahan tiap tahunnya. Perubahan yang terjadi dapat berupa perubahan yang meningkat maupun menurun. Peneliti menggunakan dasar peringkat PISA dan mencari tahu strategi atau upaya apa saja yang dilakukan dan termasuk dalam perkembangan kajian ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 869-886 kemampuan membaca pemahaman dalam 10 tahun terakhir di Indonesia. Indonesia berada pada ranking 62 dari 65 negara pada aspek literasi membaca dalam PISA 2012 dan memperoleh skor rerata 396 (I. Pratiwi, 2019. Dari data tersebut terlihat bagaimana rendahnya tingkat literasi membaca di Indonesia. Literasi membaca ini sangat berkaitan erat dengan kemampuan membaca pemahaman. Rendahnya literasi juga dapat dikaitkan pada minat baca yang kurang. Akibat dari fenomena yang terjadi dengan minat membaca yang rendah, dilakukan beberapa penelitian dengan tujuan untuk meningkatkan minat membaca dan kemampuan membaca pemahaman. Peneliti membagi perkembangan kajian kemampuan membaca dalam 4 periode yang berlangsung selama 10 tahun, yaitu 2014-2024. Periode pertama, yang berlangsung pada tahun 2014Ae2016, ditandai dengan penelitian yang berfokus pada strategi dan model pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan membaca serta kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar (SD). Salah satu kajian yang menonjol adalah penelitian WLDR, yang mengevaluasi pengaruh strategi pembelajaran Survey. Question. Read. Recite, and Review (SQ3R) terhadap kemampuan membaca pemahaman, dengan mempertimbangkan variabel minat baca. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu karena peneliti tidak mengendalikan semua variabel yang terlibat. Tujuannya adalah untuk mengkaji . pengaruh strategi pembelajaran SQ3R dibandingkan dengan pembelajaran langsung terhadap kemampuan membaca pemahaman, . pengaruh minat baca tinggi dan rendah terhadap kemampuan membaca pemahaman, dan . interaksi antara strategi pembelajaran (SQ3R dan pembelajaran langsun. dengan tingkat minat baca . inggi dan renda. terhadap kemampuan membaca Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran SQ3R dan pembelajaran langsung memiliki pengaruh terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa. Selain itu, minat baca . aik rendah maupun tingg. juga memengaruhi kemampuan tersebut. Namun, tidak ditemukan adanya interaksi signifikan antara strategi pembelajaran (SQ3R atau pembelajaran langsun. dengan tingkat minat baca . inggi atau renda. terhadap kemampuan membaca pemahaman (Duwi Wulandari et al. , 2. SUSL melakukan penelitian yang berfokus pada pengaruh model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) dan Group Investigation (GI) serta pengaruh pengetahuan awal siswa terhadap kemampuan membaca Penelitian ini didorong oleh data PISA Indonesia tahun 2015, yang mencatat skor literasi membaca sebesar 397, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-61 dari 69 negara (I. Pratiwi, 2019. Dengan menggunakan metode eksperimen berbasis desain treatment by level 2x2, penelitian ini menunjukkan bahwamodel pembelajaran TGT memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan GI dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas 5 SD, baik bagi siswa dengan tingkat kemampuan membaca awal yang tinggi maupun rendah. Selain itu, penelitian ini menemukan adanya interaksi antara model pembelajaran yang digunakan dengan pengetahuan awal siswa, yang secara bersama-sama memengaruhi kemampuan membaca pemahaman mereka (Susilo, 2. Penelitian mengenai kemampuan membaca pemahaman juga dilakukan pada periode 2017-2019, sebagaimana tercermin dalam data SSLO dan MURT. Kajian pada periode ini berfokus pada pengembangan Perkembangan Kajian Membaca Pemahaman. Widharyanto. Nugraha, & Rahardi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 869-886 http://jurnal. id/index. php/dedikasi model dan strategi pembelajaran, melanjutkan fokus penelitian serupa pada periode 2014-2016. Dalam hal ini. SSLO meneliti efektivitas penerapan model multiliterasi untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SD, sementara MURT mengevaluasi penerapan strategi DRTA sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan serupa di tingkat SD. Hasil penelitian SSLO menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca pemahaman siswa setelah implementasi pembelajaran berbasis model multiliterasi (Susilo et al. , 2. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan nilai rata-rata kemampuan membaca pemahaman pada setiap siklus pembelajaran, yang mengindikasikan keberhasilan model multiliterasi dalam mendukung proses pembelajaran. Pada tahun 2019, penelitian tentang kemampuan membaca pemahaman menitikberatkan pada penerapan strategi Directed Reading Thinking Activity (DRTA), sebagaimana ditunjukkan dalam data MURT. Kajian ini didasarkan pada rendahnya peringkat literasi Indonesia dalam PISA 2018, di mana Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara, menempatkannya dalam 10 negara dengan kemampuan literasi terendah (Anggraena, 2021b. OECD (Organization for Economic Cooperation and Developmen. , 2019b. Pratiwi, 2019. Selain itu, penelitian ini juga merujuk pada permasalahan di sekolah, yaitu rendahnya kompetensi guru dalam memilih dan menerapkan strategi pembelajaran membaca yang efektif. Hasil penelitian MURT menunjukkan bahwa penerapan strategi DRTA secara signifikan meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Peningkatan ini terlihat melalui perkembangan pemahaman siswa dalam tiga tahapan membaca. Pada tahap prabaca, pengaktifan skemata siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan hasil tindakan berada pada klasifikasi baik (B). Selanjutnya, pada tahap saat baca, siswa tampak lebih antusias dan termotivasi, serta mampu mengatasi kesulitan dalam menjawab pertanyaan terkait isi bacaan, yang sebelumnya menjadi tantangan. Keberhasilan pada tahap ini juga berada pada klasifikasi baik (B). Terakhir, pada tahap pasca baca, diskusi kelas terbukti efektif dalam memantapkan pemahaman siswa terhadap bacaan, dengan keberhasilan tindakan yang tetap konsisten pada klasifikasi baik (B) (Murti, 2019. Hal ini menunjukkan bahwa strategi DRTA dapat menjadi solusi yang relevan untuk meningkatkan kemampuan literasi Pada periode 2020-2022, penelitian tentang membaca pemahaman berfokus pada analisis tingkat pemahaman siswa, sebagaimana terlihat dalam data CAHY dan SAFT yang memiliki tujuan serupa. CAHY secara khusus menyoroti hubungan antara tingkat pemahaman membaca dan minat belajar siswa kelas V SD. Analisis ini dilakukan berdasarkan sejumlah indikator membaca pemahaman, seperti kemampuan menjawab pertanyaan terkait isi teks dan menemukan pokok pikiran. Pada indikator tersebut, siswa mencapai tingkat keberhasilan rata-rata sebesar 58,3%. Namun, indikator lain, yaitu kemampuan menyusun pertanyaan terkait isi teks dan menyampaikan kembali isi teks dengan bahasa sendiri, masih belum terpenuhi. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya perhatian lebih dari guru untuk mengidentifikasi dan menerapkan strategi pembelajaran yang lebih efektif guna meningkatkan kemampuan membaca pemahaman Upaya ini diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh indikator membaca pemahaman dapat tercapai ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 869-886 secara optimal (Cahyaningsih et al. , 2. Pada tahun yang sama. Pania et al. melakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh metode Reading Guide terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN 4 Danger. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa kendala dalam pembelajaran, termasuk kurangnya kreativitas guru dalam mengintegrasikan metode pengajaran, minimnya pemanfaatan media pembelajaran, serta rendahnya pengintegrasian kurikulum dalam proses pembelajaran membaca pemahaman. Melalui desain eksperimen one-group pretest-posttest, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode Reading Guide memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan membaca siswa. Hasil penelitian mengindikasikan adanya peningkatan rata-rata skor siswa dari 64,5 sebelum perlakuan menjadi 85,1 setelah perlakuan. Temuan ini menguatkan potensi metode Reading Guide sebagai pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran membaca pemahaman. SAFT juga melakukan kajian serupa, yaitu menganalisis kemampuan membaca pemahaman dengan mempertimbangkan hubungan antara minat membaca dan penguasaan diksi pada siswa kelas IV SD. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan survei korelasional untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel-variabel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara minat membaca dan penguasaan diksi terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa. Temuan ini didukung oleh hasil uji normalitas data, yang mengindikasikan bahwa data penelitian terdistribusi secara normal. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat pentingnya pengembangan minat membaca dan penguasaan diksi sebagai faktor pendukung utama dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa (Safitri et al. , 2021. Penelitian mengenai kemampuan membaca pemahaman terus berlanjut pada periode ini, terutama pada Penelitian serupa dengan tahun-tahun sebelumnya kembali dilakukan, salah satunya oleh Rahmawati et al. , yang menganalisis hubungan antara minat dan motivasi membaca dengan kemampuan membaca pemahaman pada teks narasi siswa kelas V SD. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat minat membaca berkorelasi dengan kemampuan membaca pemahaman literal, yang terbagi ke dalam beberapa kriteria. Sebanyak 15% siswa . berada pada kriteria tinggi, sementara 38% siswa . masing-masing masuk dalam kriteria sedang dan rendah. Adapun 9% siswa . termasuk dalam kriteria sangat rendah. Temuan ini menekankan pentingnya pengembangan minat dan motivasi membaca sebagai bagian integral dari strategi peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa. Penelitian oleh D. Pratiwi et al. bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan membaca pemahaman dalam menentukan ide pokok pada siswa kelas V SDN 01 Karangmojo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan enam siswa sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui tes, studi dokumentasi, dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa berdasarkan indikator Perkembangan Kajian Membaca Pemahaman. Widharyanto. Nugraha, & Rahardi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 869-886 http://jurnal. id/index. php/dedikasi taksonomi Barrett adalah sebagai berikut: Pemahaman literal: 83,33% . ategori tingg. Pemahaman reorganisasi: 66,67% . ategori tingg. Pemahaman inferensial dan evaluatif: 33,33% . ategori sedan. Pemahaman apresiasi: 50% . ategori sedan. Indikator yang paling dominan adalah pemahaman literal dan reorganisasi, yang menunjukkan bahwa siswa mampu menemukan arti kata, menentukan pokok pikiran dalam bacaan, memilih butir penting paragraf, dan menangkap informasi tersirat dalam bacaan. Namun, kemampuan siswa dalam pemahaman inferensial dan evaluatif masih perlu ditingkatkan, terutama dalam menarik kesimpulan, menilai ide atau gagasan, dan mengungkapkan alasan pemilihan ide atau gagasan tersebut. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar guru mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa secara merata pada semua indikator yang diteliti. Penelitian mengenai kemampuan membaca pemahaman berlanjut dengan mengkaji pengaruh model pembelajaran blended learning selama masa pandemi COVID-19 terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SD (Khairunnisa & Yatri, 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengevaluasi efektivitas blended learning pada siswa kelas IV SDN Lenteng Agung 07. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif dari penerapan blended learning terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa. Hal ini tercermin dari hasil posttest kelas eksperimen yang mencapai rata-rata skor 82,93, jauh lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol dengan rata-rata skor 58,96. Temuan ini mengindikasikan bahwa model pembelajaran blended learning dapat menjadi alternatif yang efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman, terutama dalam situasi pembelajaran yang menuntut fleksibilitas, seperti pada masa pandemi. Fatima et al. melakukan penelitian untuk menganalisis kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SD melalui apresiasi terhadap cerpen. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri 8 Talang Kelapa, dengan hasil yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kemampuan membaca yang baik. Dari total 25 siswa, 7 siswa . %) termasuk dalam kategori sangat baik, 16 siswa . %) masuk kategori baik, dan 2 siswa . %) tergolong cukup. Rata-rata nilai keseluruhan mencapai 84,8%, yang mengindikasikan kemampuan membaca siswa berada dalam kategori baik. Temuan ini menunjukkan bahwa apresiasi terhadap cerpen dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa, sekaligus memberikan dasar untuk pengembangan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan. Penelitian serupa dilakukan oleh Nisa et al. dengan tujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SD berdasarkan Taksonomi Barrett. Penelitian yang menggunakan metode kualitatif ini menemukan hasil yang bervariasi pada setiap aspek pemahaman. Pemahaman literal tercatat sebesar 65,21%, pemahaman reorganisasi 43,47%, pemahaman inferensial dan ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 869-886 evaluasi 69,56%, serta pemahaman apresiasi 73,91%. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pemahaman siswa, yaitu faktor intelektual, lingkungan, dan psikologis. Temuan ini menekankan pentingnya mempertimbangkan berbagai faktor eksternal dan internal dalam merancang strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Muliawanti et al. melakukan penelitian untuk menganalisis kemampuan membaca pemahaman siswa kelas i SD, khususnya di SDN 1 Sagaranten. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan bertujuan untuk mendeskripsikan sejauh mana kemampuan membaca pemahaman siswa di sekolah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa kelas i SDN 1 Sagaranten tergolong dalam kriteria kurang, dengan rata-rata nilai yang diperoleh sebesar 59,4. Temuan ini menyoroti perlunya perhatian lebih dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa, melalui penerapan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Pada periode penelitian tersebut. Indonesia berada di peringkat 69 dari 81 negara dalam tes PISA. Skor literasi membaca Indonesia yang mencapai 359 menunjukkan jarak yang sangat jauh dibandingkan dengan Singapura yang menduduki peringkat pertama dengan skor 543 (OECD, 2. Meskipun secara posisi Indonesia mengalami peningkatan, pencapaian ini masih jauh dari angka yang optimal, mengingat skor literasi membaca Indonesia yang masih tertinggal signifikan dari Singapura. Berdasarkan temuan ini, berbagai upaya terus dilakukan melalui penelitian dan kajian di bidang kemampuan membaca pemahaman untuk meningkatkan kualitas literasi membaca di Indonesia. Penelitian mengenai kemampuan membaca pemahaman dilakukan dengan menganalisis kemampuan multiliterasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas IV SD (Shafani et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kemampuan di berbagai aspek membaca pemahaman. Sebanyak 16 siswa berhasil menentukan ide pokok, sementara 8 siswa lainnya belum mampu. Pada aspek menentukan kalimat utama, 16 siswa juga berhasil, namun 8 siswa masih kesulitan. Dalam hal menjawab pertanyaan dengan lengkap, 13 siswa dapat menjawab dengan baik, sedangkan 11 siswa masih belum mampu. Pada aspek menceritakan kembali isi bacaan, 10 siswa berhasil, tetapi 14 siswa lainnya mengalami kesulitan. Terakhir, dalam menentukan kesimpulan, hanya 11 siswa yang berhasil, sementara 13 siswa lainnya masih belum mampu. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian siswa sudah menunjukkan kemampuan yang baik dalam beberapa aspek membaca pemahaman, kemampuan ini belum tercapai secara menyeluruh. Hal ini mengindikasikan perlunya pengembangan lebih lanjut dalam pembelajaran untuk memastikan bahwa semua aspek membaca pemahaman dapat tercapai dengan optimal. Damastuti et al. melakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh penerapan metode spread reading terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Katelan 4 Tangen. Sragen. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode spread reading memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan signifikan antara hasil pretest, yang Perkembangan Kajian Membaca Pemahaman. Widharyanto. Nugraha, & Rahardi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 869-886 http://jurnal. id/index. php/dedikasi memperoleh rata-rata 62,72, dan hasil posttest yang mencapai 84,60. Peningkatan ini mengindikasikan efektivitas metode spread reading dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Kajian mengenai pengaruh suatu perlakuan terhadap kemampuan membaca pemahaman juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Yusniar et al. , yang mengkaji pengaruh teknik PQRST terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa SMP, dengan mempertimbangkan motivasi. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen non-equivalent control group. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik PQRST memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VII SMP. Hal ini terlihat dari peningkatan signifikan antara skor rata-rata pretest yang sebesar 39,59 dan skor posttest yang mencapai 74,78. Peningkatan ini mengindikasikan efektivitas teknik PQRST dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman, terutama dengan memperhatikan faktor motivasi siswa. Kontribusi Hasil Penelitian terhadap Masalah Rendahnya Kemampuan Membaca Pemahaman di Indonesia 10 Tahun Terakhir Dalam rentang 10 tahun terakhir, penelitian-penelitian cukup memberi kontribusi dalam mengungkap permasalahan kemampuan membaca pemahaman. Masing-masing penelitian pada periode tertentu memiliki kekhasan dan kecenderungannya sendiri pada fokus penelitiannya. Peneliti menemukan pada periode 20142019 penelitian berfokus pada model dan strategi pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca Ini dapat ditemukan pada data WLDR. SUSL. SSLO, dan MURT. Pada periode 2020-2022, penelitian lebih banyak difokuskan pada tingkat membaca pemahaman bagi siswa. Ini dapat ditemukan pada data CAHY dan SAFT. Pada periode terakhir, yaitu 2023-2024 penelitian banyak mengkaji terkait Metode dan Teknik untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. Data penelitian ini dapat ditemukan pada data SEPT dan YUSN. Penelitian-penelitian tersebut berhasil mengungkap permasalahan terkait belum mampunya siswa dalam mengidentifikasi ide pokok dari suatu bacaan, sedikitnya strategi yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran membaca pemahaman bagi siswa, hingga belum mampunya siswa untuk menceritakan atau membahasakan kembali isi teks dengan bahasanya sendiri terungkap dalam rentang waktu 10 tahun ini Nisa et al. Pania et al. , 2021. Pratiwi et al. , 2022. Susilo, 2016. Yusniar et al. , 2024. Hal ini kemudian dapat dijadikan gambaran untuk mengetahui mengapa peringkat dan skor PISA Indonesia belum banyak berkembang secara Penelitian-penelitian yang dilakukan selama 10 tahun terakhir telah memberikan kontribusi signifikan dalam memahami dan berusaha mengatasi rendahnya kemampuan membaca pemahaman di Indonesia. Berbagai penelitian ini memberikan wawasan mengenai efektivitas berbagai strategi dan model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Meskipun demikian, dampak dari penerapan strategi ini belum sepenuhnya tercermin dalam hasil tes PISA. Salah satu contoh adalah penelitian yang dilakukan oleh Duwi Wulandari et al. , yang menunjukkan ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 869-886 bahwa strategi Survey. Question. Read. Recite, and Review (SQ3R) memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan membaca pemahaman. Namun, tantangan yang masih ada adalah menghubungkan strategi tersebut dengan minat baca siswa. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya penyesuaian strategi pembelajaran dengan kebutuhan dan minat siswa, agar dapat mencapai hasil yang lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. Penelitian Susilo . dan Susilo et al. menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran yang lebih interaktif, seperti Team Games Tournament dan model multiliterasi, dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa SD, baik mereka yang memiliki pengetahuan awal tinggi maupun rendah. Hal ini dapat menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis partisipasi aktif dan kolaborasi dapat menjadi solusi untuk meningkatkan keterampilan ini. Begitu juga dengan penerapan metode Direct Reading Thinking Activity (DRTA) yang diteliti oleh Murti . memberikan kontribusi dengan menunjukkan bahwa strategi ini mampu mengaktifkan skemata siswa dan meningkatkan pemahaman melalui tahapan prabaca hingga pascabaca. Keberhasilan ini terlihat dari motivasi siswa yang lebih tinggi dan keterampilan menjawab pertanyaan yang lebih Upaya yang lebih inovatif, seperti model blended learning yang diteliti oleh Khairunnisa & Yatri . , memberikan kontribusi positif selama masa pandemi dengan hasil posttest siswa yang lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa penggabungan pembelajaran daring dan luring dapat menjadi salah satu pendekatan yang efektif, terutama dalam situasi mendesak yang memerlukan fleksibilitas. Sementara itu, penelitian Pania et al. menggarisbawahi bahwa penggunaan metode Reading Guide dapat meningkatkan hasil belajar siswa, namun juga menyoroti pentingnya kreativitas guru dalam mengombinasikan berbagai metode dan penggunaan media untuk meningkatkan efektivitas pengajaran. Kontribusi lain terlihat dalam penelitian-penelitian yang menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pemahaman, seperti minat baca dan penguasaan diksi. Safitri et al. menunjukkan adanya hubungan antara kedua faktor ini dengan kemampuan membaca pemahaman. Penelitain ini menekankan bahwa upaya meningkatkan kemampuan membaca harus sejalan dengan upaya meningkatkan minat baca siswa. Penelitian lain oleh Nisa et al. mengidentifikasi berbagai faktor seperti intelektual, lingkungan, dan psikologis yang berpengaruh pada pemahaman membaca, memperluas pemahaman tentang tantangan multidimensional yang dihadapi. Terakhir, penelitian yang dilakukan oleh Damastuti et al. dengan metode spread reading, menunjukkan bahwa penerapan metode baru dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari pretest ke posttest. Penelitian ini mirip dengan penelitian yang dilakukan Anggraini et al. terkait Reciprocal Teaching yang meningkatkan keterampilan membaca dari ketuntasan awal hingga 85% pada siklus akhir, yang menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran yang lebih beragam dan berbasis diskusi efektif dalam meningkatkan pemahaman membaca siswa. Kontribusi penelitian-penelitian ini adalah memberikan dasar empiris dan rekomendasi untuk strategi pengajaran yang lebih efektif dan beragam, yang dapat digunakan oleh guru dan pengambil kebijakan untuk Perkembangan Kajian Membaca Pemahaman. Widharyanto. Nugraha, & Rahardi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 869-886 http://jurnal. id/index. php/dedikasi memperbaiki metode pengajaran membaca di sekolah. Meskipun ada kontribusi positif di tingkat lokal, tantangan besar tetap ada dalam menerapkan hasil-hasil ini secara merata di seluruh Indonesia agar berdampak pada peningkatan hasil PISA secara signifikan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kajian kemampuan membaca pemahaman di Indonesia selama satu dekade terakhir telah memberikan kontribusi penting dalam memahami dan mengatasi permasalahan rendahnya kemampuan literasi membaca. Berdasarkan periodisasi 2014Ae2024, penelitian berfokus pada tiga area utama: model dan strategi pembelajaran . 4Ae2. , analisis tingkat pemahaman membaca . 0Ae2. , serta metode dan teknik inovatif . 3Ae2. Meskipun berbagai strategi pembelajaran seperti SQ3R, multiliterasi. DRTA, hingga blended learning terbukti efektif meningkatkan pemahaman siswa, tantangan masih ada dalam hal konsistensi hasil, terutama dalam indikator seperti menyusun pertanyaan atau menyimpulkan isi teks secara Adapun kekurangan dan keterbatasan penelitian ini mencakup fokus yang masih cukup sempit, hanya berfokus pada hasil kajian dari jurnal SINTA 3 dan 4 dalam periode 2014-2024. Kajian belum sepenuhnya mampu memberikan jawaban atas kesenjangan besar skor PISA Indonesia dibandingkan negara-negara maju, sehingga keberlanjutan pengukuran efektivitas strategi dalam jangka panjang diperlukan. Saran Peneliti menyadari akan kekurangan yang terdapat dalam tulisan ini. Peneliti ingin mengajak kepada para peneliti lainnya untuk bersama-sama mengembangkan penelitian yang lebih dalam lagi terkait perkembangan kajian membaca pemahaman dalam lingkup yang lebih luas lagi, baik itu pada jenjang sekolah dasar, menengah maupun perguruan tinggi. DAFTAR PUSTAKA