Vol. No. June . p-ISSN x-x e-ISSN x-x GAMBARAN TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA DIABETES MELITUS Richita Angeline Putri Handoko, 1Yuliana Hanaratri* Program studi Di Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mayapada. Jakarta. Indonesia Email : richita. angeline2903@gmail. ABSTRAK Kata Kunci Diabetes melitus, kepatuhan minum obat, karakteristik pasien. MMAS-8. Puskesmas Pasar Minggu. Diabetes melitus, penyakit metabolisme kronis yang ditandai peningkatan kadar glukosa darah, terus menunjukkan peningkatan prevalensi global. Indonesia menduduki peringkat ke-7 dunia dengan 10,7 juta penderita, dengan DKI Jakarta sebagai salah satu provinsi berprevalensi tertinggi (Kemenkes,2. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat kepatuhan minum obat pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Pasar Minggu. Jakarta Selatan. Menggunakan desain deskriptif kualitatif, 50 pasien diabetes melitus dilibatkan sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner MMAS-8 (Modified Morisky Adheremche Scale-. untuk mengukur tingkat kepatuhan minum obat. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden adalah perempuan . %), berusia 56-60 tahun . %), dengan durasi penyakit kurang dari 5 tahun . %). Tingkat kepatuhan minum obat tergolong rendah, dengan 48% responden memiliki kepatuhan rendah, 10% kepatuhan sedang, dan 42% kepatuhan tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat kepatuhan minum obat pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Pasar Minggu masih rendah, dengan karakteristik pasien dominan adalah perempuan Diperlukan upaya peningkatan kepatuhan melalui edukasi dan dukungan keluarga, serta penelitian lanjutan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus. ABSTRACT Keywords abetes mellitus, medication adherence, patient characteristics. MMAS-8. Pasar Minggu Community Health Center Diabetes mellitus, a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels, continues to show an increasing global prevalence. Indonesia ranks 7th worldwide with 10. million patients, with DKI Jakarta as one of the provinces with the highest prevalence (Ministry of Health, 2. This study aims to identify the level of medication adherence among diabetes mellitus patients at Pasar Minggu Community Health Center. South Jakarta. Using a qualitative descriptive design, 50 diabetes mellitus patients were involved as respondents. Data were collected through the MMAS-8 (Modified Morisky Adherence Scale-. questionnaire to measure medication adherence levels. The results showed that the majority of respondents were women . %), aged 56-60 years . %), with disease duration of less than 5 years . %). The level of medication adherence was relatively low, with 48% of respondents having low adherence, 10% moderate adherence, and 42% high adherence. This study concludes that the level of medication adherence among diabetes mellitus patients at Pasar Minggu Community Health Center is still low, with the dominant patient characteristic being elderly women. Efforts to increase adherence through education and family support are needed, as well as further research to analyze factors affecting medication adherence in diabetes mellitus patients. * Corresponding author : Richita Angeline Putri Handoko Email Address : richita. angeline2903@gmail. Received : My 01, 2024. Revised : May 12, 2024. Accepted : 20 May, 2024. Published : June 01, 2024 PENDAHULUAN Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki penderita penyakit diabetes melitus terbanyak, dan berada di peringkat ke-7 diantara 10 negara dengan jumlah 10,7 juta. Berdasarkan data riskendas . prevalensi diabetes melitus mengalami peningkatan sebesar 2% bahkan diperkirakan akan terus meningkat sekitar 600 jiwa pada tahun 2035 (Kemenkes, 2. Provinsi DKI Jakarta menjadi salah satu wilayah dengan prevalensi diabetes melitus tertinggi di Indonesia. Prevelensi diabetes di Jakarta berdasarkan hasil riset Kesehatan dasar tahun 2018 Mayapada Nursing Journal Vol. No. 1,June 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x miningkat dari 2,5% menjadi 3,4% dari total 10,5 juta jiwa atau sekitar 250 ribu penduduk di DKI Jakarta menderita diabetes melitus. Kepatuhan minum obat merupakan suatu ketaan pasien dalam melaksanakan Tindakan terapi Hal ini mewajibkan pasien dan keluarga harus meluangkan waktu dalam menjalani pengobatan yang dilakukan. Kepatuhan dalam menkonsumsi obat harian merupakan aspek yang utama dalam pencegahan penyakit diabetes melitus. Kepatuhan dalam menkonsumsi obat harian menjadi focus utama dalam mencapai derajat Kesehatan pasien, dalam hal ini perilaku ini dapat dilihat dari sejauh mana pasien mengikuti atau mentaati perencanaan pengobatan yang telah (Siregar, 2. Menurut Citri . adanya hubungan antara karakteristik pasien dan tingkat kepatuhan konsumsi obat pasien diabetes melitus, yang menunjukan bahwa kepatuhan pasien adalah 37,78% sementara Tingkat ketidakpatuhan adalah 62,22%. Ditemukan bahwa mayoritas pasien yang patuh adalah laki-laki . ,89%), berusia 18-65 tahun . ,22%), dan mengkonsumsi setidaknya 5 obat . %). Salah satu Upaya untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan adalah mendorong kepedulian pasien, dan dukungankeluarga dalam menjalani perawatan bahkan untuk melakukan aktivitas fisik, minum obat, dan melakukan pengobatan lainnya secara teratur. Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan berdasarkan masalah Kesehatan yang dialami oleh penderita diabetes melitus dapat menggunakan keluarga sebagai salah satu intervensi. Asuhan keperawatan yang diberikan pada penderita diabetes melitus perlu memperhatikan efek kedekatan antar anggota keluarga terhadap Kesehatan keluarganya (Wahyuni, 2. Berdasaarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik mengkaji tentang gambaran Tingkat kepatuhan pasien dalam meminum obat pada penyakit diabetes melitus. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita diabetes melitus di Puskesmas Pasar Minggu Jakarta Selatan. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan jumlah sampel 50 responden. Analisa data menggunakan distribusi frekuensi. HASIL DAN PEMBAHASAN Jenis kelamin Tabel 1. distribusi frekuensi jenis kelamin Mayapada Nursing Journal Vol. No. June 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x Jenis kelamin Frequency Percent Perempuan Laki-laki Total Berdasarkan tebel di atas dari total 50 responden mayoritas table dengan 35 responden . %) mayoritas laki-laki 15 responden . %). Usia Tabel 2. frekuensi karakteristik usia Usia Frequency Percent 36-45 tahun 46-55 tahun 56-60 tahun Total Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, diketahui bahwa pasien diabetes melitus di puskesmas pasar minggu didominasi pada rentang usia 56-60 tahun yaitu 24 responden . %). Berapa lama Tabel 3. distribusi berapa lama terjangkit diabetes melitus Berapa lama Frequency Percent Kurang dari 5 tahun Lebih dari 5 tahun Total Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan dari 50 responden mayoritas 30 responden . %) menderita diabetes melitus kurang dari 5 tahun, mayoritas 20 responden . %) menderita diabetes melitus lebih dari 5 tahun. Gambaran Tingkat kepatuhan minum obat Hasil penelitian Gambaran Tingkat kepatuhan minum obat pada penderita diabetes melelitus di puskesmas pasar minggu yang ditunjukan dari skor kepatuhan diperoleh dari jawaban kuesioner MMAS-8 yang di dapatkan 8 pertanyaan dengan bentuk ceklis pada bulan juli 2024 dengan hasil sebagai berikut: Tabel 4. Gambaran Tingkat kepatuhan minum obat Mayapada Nursing Journal Vol. No. 1,June 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x Tingkat kepatuhan minum obat Frequency Percent Kepatuhan tinggi Kepatuhan sedang Kepatuhan rendah Total Berdasarkan tebel di atas dari total 50 responden, katergori tingkat kepatuhan responden dengan tingkat kepatuhan rendah . %), tingkat kepatuhan sedang . %), dan tingkat kepatuhan rendah . %). Pada penelitian ini menunjukan bahwa pasien penderita diabetes melitus di puskesmas pasar minggu mayoritas berjenis kelamin Perempuan sebanyak 35 responden . %). Pebandingan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Pratiwi dkk. , hal ini disebabkan Perempuan memiliki LDL (Low Density Lipoprotei. yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, dan juga terdapat perbedaan dalam melakukan semua aktivitas, gaya hidup sehari-hari yang sangat mempengaruhi kejadian suatu penyakit. Analisis data yang dilakukan oleh Irawan . mendapatkan bahwa Wanita lebih beresiko mengidap diabetes melitus karena secara fisik Wanita memiliki peningkatan indeks masa tubuh yang lebih besar. Sindrom siklus bulanan (Premenstual syndrom. dan pasca-menopouse yang membuat distribusi lemak tubuh menjadi mudah terakumulasi. Jumlah responden usia lanjut banyak dan juga pasien mayoritas berusia 56 tahun, jadi peningkatan kejadian diabetes melitus sangat erat kaitannya dengan peningkatan usia karena lebih dari 50% diabetes melitus terjadi pada kelompok umur lebih dari 60 tahun . heruvu, 2. Hasil riset Kesehatan (Riskesdeas, 2. , diperoleh prevelensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter dan juga menurut gejala meningkat sesuai dengan bertambahnya umur. Dengan adanya perubahan metabolisme glukosa tersebut, kebutuhan kalori pada usia 36-45 tahun harus dikurangi 5%, sedangkan usia 46-55 tahun dikurangi 10% dan 56-60 tahun keatas dikurangi 20% (Sukardi,2. Hasil distribusi menunjukan bahwa lebih banyak responden yang memiliki pengalaman atau durasi kurang dari 5 tahun di bandingkan dengan yang lebih dari 5 tahun. Lama durasi dan kualitas hidup yang baik dimungkinkan akan mencegah atau menunda komplikasi jangka Panjang. Banyak penderita diabetes melitus yang awalnya antusias menjalani pengobatan atau usaha untuk meringankan penyakit yang dideritanya, namun pada tahun-tahun berikutnya antusias ini menjadi Mayapada Nursing Journal Vol. No. June 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x luntur, dan mereka mungkin tidak menyadari bahwa kendali mereka sudah tidak sebaik sebelumnya. (Vorham. J, 2. Kepatuhan minum obat pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Pasar Minggu mayoritas tingkat kepatuhan minum obatnya rendah, ini kemungkinan dapat dipengaruhi dengan beberapa faktor, pertama pasien masih lupa minum obat, kedua pasien menggurangi atau menghentikan minum obat tanpa memberitahu ke dokter, ketiga pasien yang saat melakukan perjalanan atau meninggalkan rumah terkadang lupa minum obat, keempat pasien yang saat merasa keadaan membaik memilih berhenti minum obat, kelima pasien merasa tidak nyaman jika minum obat setiap hari dan merasa terganggu dengan keadaan seperti itu dan keenam ada pasien yang sesekali lupa minum obat tetapi banyak dari populasi yang tidak pernah lupa minum obat. (Wahyuni, 2. KESIMPULAN Kepatuhan minum obat pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Pasar Minggu mayoritas tingkat kepatuhan minum obatnya rendah. DAFTAR PUSTAKA