Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 6 No. 4 November 2022 e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 DOI: 10. 36312/jisip. 3517/http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Penanaman Nilai Religius Berbasis Pembiasaan dan Keteladanan Untuk Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren Sigit Ruswinarsih1. Syihabuddin2. Aceng Kosasih3 Universitas Lambung Mangkurat 1,2,3 Universitas Pendidikan Indonesia Article Info Article history: Received 21 Juni 2022 Publish 1 November 2022 Keywords: Nilai Religius. Pembiasaan. Keteladanan. Pendidikan Karakter Santri Info Artikel Article history: Received 21 Juni 2022 Publish 1 November 2022 Abstract This study aims to explore religious values and the process of refraction and exemplary in strengthening the character education of female students at the Darussalim Putri BatiBati Islamic Boarding School. Qualitative research is used with a case study approach, and data is collected by means of observation, interviews and documentation, then analyzed through three stages, namely data reduction, data presentation, and drawing The results showed that the religious values that were instilled through the socialization process were the values of aqidah, worship values and moral values. The process of learning and familiarizing religious values occurs every day in order to form a religious moral personality. Based on the learning process, characters with religious values are instilled through habituation in the rules and activities of Islamic boarding schools and exemplary to caregivers, teachers and coaches. ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai religius dan proses pembiasan dan keteladanan dalam penguatan pendidikan karakter santriwati Pondok Pesantren Darussalim Putri Bati-Bati. Penelitian kualitatif digunakan dengan pendekatan studi kasus, dan data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai religius yang ditanamkan pada santri melalui proses sosialisasi adalah nilai aqidah, nilai ibadah dan nilai akhlak. Proses membelajarkan dan membiasakan nilai-nilai religius terjadi setiap harinya supaya terbentuk kepribadian santri yang bermoral agama. Berdasarkan proses pembelajarannya, karakter religius santri ditanamkan melalui pembiasaan dalam peraturan dan kegiatan pesantren serta keteladanan dari pengasuh, pengajar dan pembina. This is an open access article under the Lisensi Creative Commons AtribusiBerbagiSerupa 4. 0 Internasional Corresponding Author: Sigit Ruswinarsih. Universitas Lambung Mangkurat Email: sigitruswinarsih@ulm. PENDAHULUAN Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dan meluas memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan terutama pada kebiasaan-kebiasaan dan perilaku manusia. Masalah yang timbul adalah kecenderungan untuk mengikuti gaya yang berkembang dan diikuti oleh banyak orang, yang belum tentu sesuai dengan nilai dan norma yang dianut. Beberapa perilaku yang tercatat sebagai bentuk perubahan yang tidak diharapkan seperti kekerasan dan tindakan anarki, pencurian, tindakan curang, pengabaian terhadap aturan yang berlaku, tawuran antarsiswa, ketidaktoleran, penggunaan bahasa yang tidak baik, kematangan seksual yang terlalu dini dan penyimpangannya dan sikap perusakan diri (Lickona, 2. Pendidikan di pondok pesantren menjadi harapan untuk membentengi generasi penerus bangsa dari unsur-unsur negatif perubahan sosial (Tohet & Shalihah, 2. Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua yang masih mempertahankan sistem pembelajaran tradisional di tengah perubahan-perubahan yang bergerak semakin cepat di sekitarnya. Ditengah gencarnya pembangunan dan perkembangan lembaga pendidikan, pesantren tetap menjadi pilihan yang diminati untuk tempat belajar. 1980 | Penanaman Nilai Religius Berbasis Pembiasaan dan Keteladanan Untuk Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren (Sigit Ruswinarsi. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Keunikan yang dimiliki pesantren sebagai lembaga pendidikan adalah sistem nilai yang dikembangkan sejak berpuluh tahun lamanya dan tetap eksis hingga sekarang (Yasid, 2. Pendidikan yang didasari dengan nilai-nilai agama menjadi pondasi utama untuk melahirkan karakter yang kuat. Pendidikan karakter dalam Islam bertujuan membentuk kepribadian santri yang beretika, rasa berbudaya dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari (Musrifah, 2. Pesantren yang menyediakan asrama bagi para santrinya secara tidak langsung menyiratkan tiga hal, pertama, kemasyhuran kyai dan kedalaman pengetahuannya tentang Islam menarik santri-santri dari jauh untuk datang menggali ilmu untuk waktu yang lama dan perlu menetap di dekat kediaman kyai. Kedua, keberadaan hampir semua pesantren yang berlokasi di desa-desa yang tidak cukup memadai bagi tersedianya perumahan santri memerlukan asrama tersendiri untuk menampung mereka. Ketiga, hubungan timbal balik kyai dan santri seperti hubungan antara orang tua dengan anak (Suresman, 2. Santri berasrama mendapatkan pembelajaran yang berlangsung sepanjang hari, disamping pembelajaran secara formal sesuai kurikulum pesantren, juga mendapatkan pembelajaran tambahan terutama dalam hal praktik-praktik dalam kehidupaan sehari-hari dari apa yang sudah dipelajari secara teori. Kondisi demikian menunjang pembinaan karakter dalam diri santri. Karakter yang diharapkan dimiliki oleh para santri adalah karakter yang bersumber dari nilai-nilai religius yang luhur. Ciri-ciri karakter melingkupi kualitas moral yang terdiri dari pengetahuan moral, perasaan moral dan tindakan moral, merupakan kualitas spesifik yang harus ditransfer kepada anak-anak agar mereka dapat berkembang dengan karakter yang baik (Lickona, 2. Pendidikan karakter di pesantren dilakukan dalam setiap aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan hampir di seluruh matapelajaran, sehingga nilai-nilai karakter luhur dapat ditransformasikan secara efektif dalam pembentukan karakter (Setiawan & Ningsih, 2. Beberapa penelitian mengungkap pendidikan karakter di pesantren sudah banyak dilakukan. Pada penelitian di Pesantren Manarul Huda Bandung menemukan karakter yang menonjol yaitu karakter religius dan mandiri. Setiap kegiatan yang dilakukan yang dapat meningkatkan keimanan kepada Allah SWT merupakan gambaran dari karakter religius. Kemandirian karakter para santri dibina melalui kegiatan kewirausahaan dimana keberhasilan terlihat dari para alumni pesantren yang telah menjadi ustazd maupun ustazdah dan alumni yang membuka usaha mandiri (Oktari & Kosasih, 2. Selanjutnya penelitian yang dilakukan di Pondok Pesantren El-Bayan Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap menemukan bahwa pesantren mengajarkan, mendidik dan membiasakan para santrinya dengan nilai-nilai moderasi dalam bentuk kegiatan pendidikan formal . dan non formal . ditambah dengan kegiatan olahraga sebagai aktivitas jasmani dan hiburan. Pembiasaan dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat membentuk sikap moderat, tidak ekstrim kiri atau ekstrim kanan sehingga para santri dapat menjadi role model dalam moderasi beragama (Falak, 2. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darussalim Putri yang berada di Desa Bati-Bati Kelurahan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan. Di Pesantren khusus putri ini terdapat 165 santriwati yang sedang menuntut ilmu . ata tahun 2. Informan ditentukan berdasarkan kriteria tertentu yaitu pengurus pesantren, guru pengajar dan pembina, pengurus asrama dan santriwati, sebanyak delapan orang. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini mendapatkan data melalui observasi terhadap informan dan kegiatan-kegiatan pembelajaran, wawancara semi terstruktur untuk memperoleh data yang lebih variatif dari pengalaman dan pemikiran para informan, dan mengumpulkan serta membuat dokumentasi baik dari dokumen publik maupun dokumen pribadi. Data yang memuat tentang nilai-nilai religius dan proses pembelajaran berbasis pembiasaan dan keteladanan dianalisis dengan tahapan reduksi, penyajian, verifikasi dan interpretasi. 1981 | Penanaman Nilai Religius Berbasis Pembiasaan dan Keteladanan Untuk Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren (Sigit Ruswinarsi. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pondok Pesantren Darussalim Putri telah berdiri selama kurang lebih 54 tahun, termasuk pesantren tertua di Kabupaten Tanah Laut. Meskipun terkepung oleh arus globalisasi pesantren ini tetap eksis dan banyak mengasuh para santri yang ingin belajar. Pondok Pesantren Darussalim Putri salah satu pondok yang memiliki keseriusan dalam mensosialisasikan nilai religi dalam membentuk kepribadian santriwati. Pondok juga melakukan pertemuan dengan orangtua/wali santriwati dalam rangka penyampaian persiapan masuk asrama dan evaluasi untuk membangun keterbukaan dan kerjasama dengan orangtua/wali santriwati. Pendidikan keagamaan diterapkan secara bertahap terhadap santriwati dengan tujuan utama untuk meningkatkan iman dan taqwa, serta berwawasan luas dan memiliki kepribadian yang bermoral agama. diterapkan bimbingan keagamaan terpadu sebagai program khusus di asrama melalui kegiatan-kegiatan setiap hari merupakan upaya untuk menanamkan nilai religi. Upaya yang telah dirancang dalam membelajarkan nilai religi untuk membentuk kepribadian santriwati yang bermoral agama yang diartikan sebagai pengajaran baik-buruk suatu perbuatan yang sesuai dengan tuntunan agama. Keseriusan pesantren dalam mendidik para santri diakui oleh masyarakat, disamping tetap mempertahankan metode pembiasaan dan keteladanan, jajaran pengurus, pengajar dan pembina juga memasukkan unsur-unsur modern seperti penggunaan sumber dan media pembelajaran Pembiasaan dan keteladanan merupakan metode penanaman nilai religius yang masih dipertahankan di Pesantren Darussalim karena sudah dibuktikan mampu menguatkan karakter Alumni pesantren ini dikenal sebagai santri-santri yang baik dan takwa serta santun. Meskipun tidak menafikan bahwa ada saja santri yang masih memiliki karakter tidak diharapkan namun setiap permasalahan selalu ada dan dicarikan jalan keluarnya. Demikian pula di Pesantren Darussalim, dengan konsisten menerapkan pembiasaan dan keteladanan maka seiring waktu, santri-santri dapat mengambil manfaat dari proses pembelajarannya Nilai-Nilai Religius di Pesantren Nilai didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini merupakan identitas bercorak khusus pada pola pemikiran, perasaan, keterikatan maupun perilaku. Corak khusus inilah yang menjadikan sistem nilai sebagai patokan umum yang digunakan dalam sekelompok masyarakat tertentu yang dipandang berharga dalam kehidupan manusia dan berpengaruh pada sikap hidupnya (Ahmadi & Salimi, 1. Nilai yang bersumber dari keyakinan ke Tuhanan yang ada pada diri seseorang disebut sebagai nilai religius. Nilai religius menentukan sesuatu yang berguna dan dilakukan oleh manusia, berupa sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai religius yang relevan dengan tujuan pendidikan Nasional perlu untuk diadopsi dalam keseharian santri, diantaranya berbudi luhur, beramal shalih, berkegiatan keagamaan sehari-hari, kemandirian, kesehatan rohani dan jasmani dan tanggung jawab kemasyarakatan (Wafa & Wardi, 2. Nilai-nilai religius yang ditanamkan oleh pesantren Darussalim meliputi tiga karakteristik, . Nilai aqidah ahlussunnah wal jamaah yang di imami Imam Abu Hasan AsyAoari merupakan nilai- nilai aqidah dalam kitab risalah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaj. yang berisi pemahaman tentang akidah yang berpedoman pada sunnah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Nilai ibadah adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dan membuktikan diri sebagai hamba. Nilai akhlak/kepribadian/tradisi yang khas pesantren seperti berkhidmah atau taat terbagi menjadi akhlak terhadap diri sendiri, akhlak terhadap Allah dan Rasulnya, dan akhlak terhadap sesama manusia. Nilai ibadah dapat diartikan bahwa perbuatan baik adalah ketaatan manusia kepada Tuhan. Nilai ibadah menggambarkan ketaatan manusia kepada Tuhan dalam perbuatan, dan sebagainya yang diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari seperti sholat, puasa, berdoAoa, dan berbuat baik. Berdasarkan pendekatan normatif, dalam pembiasaan akhlak baik dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat sekolah perlu ditegaskan dengan kesesuaian pada 1982 | Penanaman Nilai Religius Berbasis Pembiasaan dan Keteladanan Untuk Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren (Sigit Ruswinarsi. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 ayat-ayat Al-QurAoan serta hadis. Panduan ini mampu membentuk akhlak mulia pada diri anak sehingga karakter baik akan terbentuk (Khoirunisa & Sutrisno, 2. Nilai akhlak berkaitan dengan tabiat, perangai, rasa malu dan kebiasaan, menjadi cerminan keadaan jiwa seseorang dalam perbuatan dan sikap sehari-hari. Nilai akhlak menunjukkan kepribadian seseorang. Akhlak yang baik menunjukan karakter yang baik (Fathurrohman, 2. Karakter religius dideskripsikan sebagai sikap dan perilaku yang mematuhi ajaran agama yang dianut, toleransi terhadap pelaksanaan ibadah penganut agama lain dan hidup rukun dengan penganut agama lain (Hakam & Nurdin, 2. Nilai-nilai yang terkandung dalam karakter religius antara lain: menjaga ilmu, menghormati guru dan teman, memuliakan kitab, rajin belajar dan beribadah, menghindarkan sifat sombong dan merendahkan orang lain, sabar dalam belajar dan diskusi, integritas . enjunjung tinggi nilai kejujura. dan bertanggungjawab (Yusuf & Imawan, 2. Agen sosialisasi yang terlibat dalam penanaman nilai-nilai religius untuk menguatkan karakter religius santri adalah pengurus, para pengajar dan pembina dan pengasuh asrama. Sosialisasi merupakan salah satu cara yang digunakan untuk membentuk kepribadian dan pembiasaan pada diri santriwati agar terbiasa mematuhi dan berperilaku sesuai dengan nilai yang berlaku, baik peraturan di pondok maupun peraturan dalam masyarakat. Proses Pembiasaan dan Keteladanan Secara sadar ataupun tidak perilaku atau tindakan, bertutur kata, bersikap serta penampilan yang dilakukan guru dan pembina merupakan gambaran bagi santriwati. Adanya santriwati dari tingkat Aliyah dianggap telah mampu mengamalkan dan menerapkan nilai keagamaan sehingga dijadikan ketua asrama yang bertugas mengawasi dan membimbing kepada santri baru dalam menjalankan kegiatan di asrama. Pemberian contoh merupakan salah satu proses mensosialisasikan sesuatu agar dapat diterima kemudian ditiru oleh Selain memberikan penjelasan, guru dan pembina juga perlu menerapkan nilainilai religi yang konkret atau nyata mulai dari bertindak, bertutur kata, bersikap serta berpenampilan yang baik. Adapun cara santriwati meneladani pengasuh, guru dan pembina yaitu mendengarkan perkataan dan nasihatnya, serta mengikuti perilaku yang baik. Santriwati juga memerlukan pembelajaran dengan suasana yang menyenangkan. Hal ini penting agar santriwati bisa menerima pelajaran jika anak tidak menyukai guru atau pembinanya maka anak menjadi tidak berminat untuk belajar. Nilai keteladanan bersifat universal dan diutamakan. Dalam pendidikan dan pembelajaran keteladanan termasuk unsur nilai yang terpenting (Fathurrohman, 2. Proses santriwati memaknai pola perilaku dari pengasuh, guru, pengurus, dan pembina melalui interaksi di lingkungan pondok yang disampaikan dalam segala situasi dimana ia terlibat. Pemberian contoh dapat dikatakan sebagai cara yang paling cepat dalam membelajarkan Anak cenderung mengikuti semua tingkah laku orang yang ada disekitarnya. Dengan memberikan contoh akan terjadi proses peniruan, yang secara sadar maupun tidak disadari (Ahmadi, 2. Adapun cara santriwati meneladani guru dan pembina yaitu mendengarkan perkataan dan nasihatnya, serta mengikuti perilaku yang baik mulai dari bertindak, bertutur kata, bersikap serta berpenampilan yang menutup aurat. Dalam keteladanan, tidak hanya meliputi proses pengamatan dan peniruan kepada tokoh yang diteladani saja namun termasuk pula proses-proses dimana individu berusaha berperilaku seperti tokoh atau disebut juga proses identifikasi. Model teladan dapat diklasifikasikan menjadi: . live model. yaitu model yang berasal dari kehidupan nyata seperti perilaku orang tua, pengasuh, guru, pembina, kakak kelas yang dilihat dan diamati sehari-hari. symbolic model. yaitu model yang berasal dari perumpamaan atau gambaran perilaku dalam pikiran, seperti tokoh yang dilihat dalam film, buku cerita, tivi atau suatu peristiwa dan media massa. verbal description. model yang dinyatakan dalam suatu deskripsi kata-kata atau berwujud instruksi-instruksi, seperti yang terdapat dalam peraturan-peraturan pesantren atau dalam masyarakat (Hakam & Nurdin, 1983 | Penanaman Nilai Religius Berbasis Pembiasaan dan Keteladanan Untuk Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren (Sigit Ruswinarsi. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Dalam Pondok Pesantren Darussalim Putri ini aturan-aturan serta konsep yang dibuat seperti tata tertib, daftar piket kebersihan, mata pelajaran tambahan sebagai pondasi keagamaan dibuatnya peraturan agar terbinanya kepribadian yang bermoral agama adalah sebagai hal yang paling ditekankan penerapanya terhadap santriwati. Proses membelajarkan melalui peraturan terhadap santriwati sebagai upaya pemahaman yang baik mengenai sistem peraturan perilaku, nilai dan norma sehingga pemahaman tersebut memberikan pengertian yang mendalam atau kesadaran akan ketaatan aturan. Penilaian terhadap ketaatan peraturan diketahui berdasarkan absensi kegiatan santriwati, melalui absensi akan mudah diketahui apakah disiplin santriwati semakin hari semakin baik dari sebelumnya. Hal ini yang akan disampaikan kepada orangtua/wali pada pertemuan evaluasi apakah perlu dilakukan bimbingan khusus untuk tindak lanjut dari keadaan santriwati. Supaya santri itu jelas kewajiban dan larangannya jadi ditetapkan peraturan-peraturan untuk membatasi tingkah laku santri dalam lingkup pondok agar terjadinya ketertiban dan keteraturan. Pada penerapanya perlu waktu untuk sampai tertanam atau sadar dalam diri santri tadi, guru selalu mengingatkan, pembina mengawasi agar tertib. Dalam hal mengajarkan akhlak atau karakter adalah berhubungan dengan nilai . , memiliki kesulitan tersendiri dalam pengukuran karena menyangkut kesadaran yang tumbuh dari dalam diri. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam arti perubahan perilaku dalam hal membelajarkan akhlak maka perlu usaha yang serius, waktu yang cukup lama dan lingkungan yang kondusif (Halmar. Pada tahapan ini santriwati akan dikenalkan dengan peraturan-peraturan yang sudah disediakan, pertama dijelaskan ketika anak baru masuk pondok, diberikan berupa lembaran peraturan, dan ada juga peraturan yang ditempelkan di dinding kelas maupun asrama agar anak-anak selalu mengingatnya. Perlu kejelasan bertingkah laku santriwati dalam pondok sehingga dibuatlah peraturan-peraturan yang jelas mengenai kewajiban dan larangan untuk membatasi tingkah laku santriwati dalam lingkup pondok agar terciptanya tertib dan teratur di lingkungan pesantren. Perturan dibelajarkan sampai santriwati tumbuh kesadarannya untuk berperilaku disiplin dan tidak melanggar peraturan. Peran guru dan pembina berupaya mengingatkan dan mengawasi berlangsungnya penerapan peraturan tersebut. Adapun mengenai peraturan-peraturan di Pondok Pesantren Darussalim Putri diberikan berupa lembaran yang berisi semua peraturan ada juga yang ditempelkan di setiap asrama, agar santriwati bisa membaca dan mengingatnya. Pembelajaran menyangkut proses penanaman nilai dan norma maka juga diterapkan hukuman dan penghargaan. Tindakan dengan hukuman diberikan kepada santriwati yang perilakunya dianggap keliru atau bertentangan dengan peraturan. Sanksi diberikan kepada santriwati selain untuk penyadaran kesalahan juga sebagai efek jera. Selain itu penghargaan digunakan sebagai dorongan agar santriwati melakukan perbuatan itu karena perbuatan itu dianggap baik, prestasi dan sebagainya. Pada proses membiasakan peraturan dan kegiatankegiatan pesantren dapat dikatakan bahwa santriwati bersikap maupun bertindak atas dasar peraturan yang telah direncanakan dan diterapkan. Pada proses menanamkan nilai religius dapat didasarkan pada perencanaan. Secara seksama sosialisasi perencanaan merupakan proses yang disengaja (Damsar, 2. Proses tersebut merupakan sosialisasi yang disengaja, proses yang dilalui apabila seorang individu mengikuti pengajaran- pengajaran dan pendidikan yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik (Narwoko & Suyanto, 2. Untuk membentuk kepribadian santri pada moral dan akhlak agama, pondok pesantren menerapkan pendidikan adab seperti kedisiplinan sholat berjamaah, penerapan wiridan, seperti sholat dhuha, kajian malam, tadarus QurAoan, sholawatan, penerapan memberi salam, hormat patuh terhadap guru dan tugas yang diberikan guru, melaksanakan piket kebersihan, penerapan berpakaian sopan dan syari, berbicara hal layaknya seorang santri/santriwati, memberikan bimbingan praktik-praktik ibadah dan lainnya. Adab yang utama dibelajarkan kepada santriwati yaitu untuk menghormati orangtua, guru, pembina dan orang yang lebih Pentingnya belajar akhlak dan adab harus diperhatikan dalam pembelajaran. Dengan 1984 | Penanaman Nilai Religius Berbasis Pembiasaan dan Keteladanan Untuk Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren (Sigit Ruswinarsi. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 adab yang baik maka akan mudah dalam menerima ilmu dan keberkahan dalam belajar. Hal ini karena adanya keyakinan unik di balik kebiasaan menghormati guru di Pondok Pesantren Darussalim Putri setelah pembelajaran mengucapkan Auminta maaf guruAy sambil menunduk. Kalau tidak menghormati guru maka ilmu tidak berkah. Ada banyak kegiatan yang dibelajarkan di asrama seperti sholat berjamaah, tadarus tadarus al-qurAoan, belajar malam habis isya dan piket kebersihan, dari kegiatan-kegiatan diatas dapat dikatakan semua santri sudah aktif mengikuti kegiatan dan setiap kelompok belajar didampingi oleh kakak kelas yang membimbing. Proses pembiasaan melalui peraturan terhadap santriwati sebagai upaya pemahaman yang baik mengenai sistem peraturan perilaku, nilai dan norma sehingga pemahaman tersebut memberikan pengertian yang mendalam atau kesadaran akan ketaatan akan aturan. Terdapat dua tata tertib yang ada untuk mendisiplinkan para santri/santriwati,yaitu tata tertib tertulis dan tata tertib yang sifatnya tidak tertulis. Tata tertib tidak tertulis ini dijalankan oleh santri bahwa pengawasannya langsung dari Allah SWT, sehingga santri tetap akan merasa takut jika melanggar peraturan yang tidak diketahui orang lain. Untuk peraturan yang tertulis terdapat beberapa tata tertib. Tata tertib tersebut yaitu : hak-hak santri/santriwati, kewajiban dan larangan santri/santriwati yang didalamnya berisi tata tertib ibadah siswa, tata tertib umum siswa, tata tertib asrama, tata tertib menjaga kebersihan, tata tertib makan dan minum, tata tertib perizinan siswa, kemudian terdapat juga penerapan sanksi. Macam-macam kegiatan keagamaan yang dibelajarkan di pondok terbagi menjadi kegiatan harian, kegiatan mingguan, dan kegiatan tahunan, yaitu: Kegiatan harian dilakukan secara rutin meliputi, memberikan salam sebelum masuk kelas, berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran selesai sebagai ungkapan rasa syukur dan mengharapkan keberkahan dan manfaat saat menuntut ilmu, kegiatan sholat berjamaah yang dilaksanakan oleh semua guru, karyawan dan santri/santriwati di Musholla Pondok, dan kegiatan lainya ada kajian malam, penerapan berpakaian yang menutup aurat, dan tadarus al-qurAoan. Jadwal kajian malam: ahad, kifayatul awam dan nahwu. perukunan Jamaluddin dan majalisus tsaniyah. selasa, fathul qorib. rabu, tanqihul qoul. kamis, irsyadul ibad. jumAoat, akhlaqul banin juz 3. sabtu, kifaytul awam dan nahwu. Kegiatan mingguan meliputi, kegiatan pelatihan seni rebana, kegiatan ini dilaksanakan setiap minggu sekali yaitu pada hari jumat. Kegiatan lainya ada senam sehat dan membersihkan musholla setiap hari minggu. Kegiatan tahunan meliputi, peringatan hari nasional dan hari besar Islam. Peringatan hari nasional seperti memperingati hari kemerdekaan, sumpah pemuda dan Peringatan hari besar islam memperingati maulid nabi Saw, isra miraj, pesantren kilat, memperingati hari santri dan wisuda akbar. Peringatan hari santri nasional memiliki makna sebagai bentuk apresiasi perjuangan santri dan ulama pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Kegiatan menonton film kisah sahabat Rasullullah SAW, kisah inspiratif, dan kartun yang dilakukan di Pondok Pesantren Darussalim Putri, kegiatan tersebut menjadi salah satu media membelajarkan akhlak kepada santriwati. Pemanfaatan menonton film dalam usaha membelajarkan tentunya ada pertimbangan bahwa film mempunyai kemampuan untuk menarik perhatian dan film dapat mengantarkan pesan kehidupan. Film diputarkan setiap bulan sekali, namun apabila ada waktu senggang yang memungkinkan untuk melaksanakan kegiatan ini maka akan dilakukan menonton film lagi sebagai sarana pembelajaran dan hiburan ini. Film yang ditayangkan seperti kisah inspiratif, tentang nabi dan sahabat, diselipkan juga kartun agar tidak tegang. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran mulai digunakan untuk mempermudah proses kegiatan belajar terutama di tengah situasi pandemik Covid-19 ini. Pondok mengadakan kajian secara online melalui zoom agar semua santri/santriwati dapat mengakses dan mengikuti kajian tersebut tidak terbatas pada santri asrama saja. Menonton film mendapatkan pemahaman baru seperti 1985 | Penanaman Nilai Religius Berbasis Pembiasaan dan Keteladanan Untuk Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren (Sigit Ruswinarsi. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 menyaksikan tayangan film sang kiyai yang menceritakan perjalanan islam di Indonesia. Santriwati setelah menonton film dapat membedakan yang mana perbuatan baik dan buruk seperti memaknai film sang kiyai sebagai acuan semangat dan berjuang dalam menuntut ilmu di pesantren. Hal yang diperhatikan santriwati ialah gaya berpakaian tokoh. Namun terdapat juga hal-hal yang tidak patut untuk ditiru dalam film tersebut yaitu mengenai kekerasan yang terdapat dalam penjajahan yang tidak menghargai hak orang lain. Pada kegiatan menonton film tentunya ada pendampingan dari guru agar pesan yang didapatkan dari film tidak sampai Menonton film sebagai salah satu upaya pendidikan kepada santriwati melewati beragam macam informasi yakni berhubungan dengan perilaku tokoh yang diamati dalam film tersebut. Pengaruh film tidak hanya terbatas pada cara berpakaian dan cara bergaya saja tetapi lebih jauh yang mampu meningkatkan akhlak santriwati melalui tayangan yang mempunyai pesan tidak langsung kepada si penonton tersebut. Pemanfaatan menonton film dalam usaha membelajarkan tentunya ada pertimbangan bahwa film mempunyai kemampuan untuk menarik perhatian dan film dapat mengantarkan pesan kehidupan. Berdasarkan dari data lapangan yang peneliti dapatkan pemilihan film berdasarkan kriteria seperti yang dijelaskan yaitu yang didalamnya ada nilai-nilai keagamaan, ada pesan moral dan akhlaknya untuk santriwati bisa membedakan yang baik dan buruk. Film mempunyai kemampuan untuk menarik perhatian dan dapat mengantarkan pesan Pengaruh agama menyebar ke banyak bidang kehidupan, agama tidak hanya mengajarkan kita kepercayaan mengenai akhirat tetapi juga mengenai jenis busana, cara berbicara, dan tata krama yang tepat. Agama mempengaruhi nilai, agama menjadi komponen benar dan salah, artinya nilai agama dapat mempengaruhi segala bidang (Henslin, 2. Upaya pembelajaran melalui film berdampak baik dimana santriwati memberikan respon antusias saat berlangsungnya kegiatan, dan santriwati dapat menyebutkan tokoh yang disukai dan dijadikan sebagai contoh bersikap seperti keteguhan dalam menuntut ilmu dan kesederhanaan dalam hidup. Film sebagai media massa merupakan sarana dalam proses sosialisasi, dengan media banyak memberikan informasi yang dapat menambah wawasan (Idi. Penguatan pendidikan karakter secara langsung dilakukan dengan penentuan perilaku baik yang harus dilakukan sebagai upaya indoktrinasi, bisa dalam bentuk aturan-aturan Pada pendidikan karakter secara tidak langsung melalui penciptaan situasi yang memungkinkan perilaku baik dimunculkan, bisa dalam bentuk kegiatan-kegiatan baik kokurikuler maupun ekstrakurikuler, terlibatnya seluruh warga pesantren termasuk juga keterlibatan orang tua (Soraya, 2. KESIMPULAN Penguatan pendidikan karakter menjadi agenda penting untuk lembaga pendidikan tidak terkecuali pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan di pesantren dapat membentuk kepribadian santri yang selanjutnya menjadikan karakter yang melekat dalam diri. Nilai-nilai religius yang menjadi ikon pendidikan keagamaan meliputi nilai aqidah, nilai ibadah dan nilai akhlak. Ketiga nilai religius tersebut ditanamkam melalui pembiasaan dengan mentaati peraturan pesantren dan juga peraturan yang ada dalam Selanjutnya pengasuh, pengajar dan pembina juga berusaha memberikan contoh sikap, perkataan dan perilaku yang baik yang menjadi teladan bagi para santri. Selain itu pembiasaan dilakukan dalam setiap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pesantren seperti kagiatan harian, mingguan dan kegiatan tahunan. DAFTAR PUSTAKA