J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 STRATEGI PENGINJILAN DALAM PERINTISAN GEREJA Hilkia Tanggi. Rini Adiyati. Gidion (Mahasiswa Prodi S1 Teologi Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega:hilkiatanggi5857@gmail. Dosen Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega: . riniadiyati@yahoo. gideonjosila@gmail. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi strategi penginjilan dalam perintisan Gereja Beth-el Tabernakel Kristus Penolong Timika, dengan berfokus pada proses, faktor, dan metode yang digunakan. Menggunakan metode kualitatif, wawancara dilakukan terhadap 10 responden untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas jemaat berasal dari suku Toraja. Strategi penginjilan yang diterapkan lebih berfokus pada keluarga dan individu terdekat, sehingga metode penginjilan kontekstual kurang efektif terwujud. Meskipun demikian, jumlah jemaat terus bertumbuh dan anggota diberdayakan untuk melakukan penginjilan. Upaya perintisan gereja ini menunjukkan pertumbuhan jemaat yang signifikan. Kata Kunci: Penginjilan. Strategi Penginjilan. Model dan Metode Penginjilan. Perintisan Gereja. Abstract This study explores the evangelism strategies in the pioneering of the Beth-el Tabernacle Church of Christ the Helper Timika, focusing on the processes, factors, and methods used. Using qualitative methods, interviews were conducted with 10 respondents to gather data. The results show that the majority of the congregeration comes from the Toraja ethnic group. The applied evangelism strategy focuses more on families and close individuals, making contextual evangelism methods less effectively realized. Nonetheless, the congregation continues to grow in number and members are empowered to evangelize. This church pioneering effort demonstrates significant growth in the congregation. Key Word: Evangelism. Evangelism Strategies. Evangelism Models and Methods. Church Planting. PENDAHULUAN Penginjilan merupakan salah satu mandat utama yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya sebagaimana tertulis dalam Amanat Agung (Matius 28:19Ae. Tugas ini tidak hanya bertujuan membawa orang kepada iman dalam Kristus, tetapi juga memperkuat iman mereka yang telah Dalam teologi misi, penginjilan dipahami sebagai tanggung jawab setiap orang percaya, yang mencakup pewartaan Injil kepada mereka yang belum mengenal Kristus serta pembinaan iman bagi jemaat yang telah ada. 1 Demikian pula pemahaman tentang perintisan gereja, yang telah disampaikan ternyata sesuai dengan literatur mengenai plantasi gereja yang didalamnya menggarisbawahi pentingnya persekutuan awal dan persiapan infrastruktur sebagai langkah penting dalam proses tersebut. 2 Pemahaman ini sejalan dengan praktik gerejawi yang menempatkan penginjilan sebagai pilar utama dalam misi gereja. David J. Bosch. Transforming Mission: Paradigm Shifts in Theology of Mission (Maryknoll. New York: Orbis Books, 1. , 10Ae12. Ed Stetzer. Planting Missional Churches: Planting a Church ThatAos Biblically Sound and J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Selain penginjilan, perintisan gereja juga menjadi aspek penting dalam pengembangan pelayanan Kekristenan. Perintisan gereja dipahami sebagai proses awal pembentukan komunitas jemaat yang melibatkan pembentukan persekutuan, persiapan infrastruktur fisik, serta pengorganisasian pelayanan yang mendukung pertumbuhan rohani. Literatur mengenai plantasi gereja menekankan pentingnya perencanaan dan persiapan yang matang agar gereja yang didirikan dapat berfungsi secara berkelanjutan dan efektif dalam memenuhi kebutuhan spiritual jemaat. Dalam konteks ini. Gereja Bethel Tabernakel Jemaat Kristus Penolong di Timika menjadi objek kajian yang relevan. Meskipun pertumbuhan jumlah jemaatnya menunjukkan tren positif, perkembangan tersebut masih didominasi oleh etnis tertentu, yaitu Toraja, sementara keterlibatan etnis lainnya, khususnya masyarakat asli Papua, masih sangat terbatas. Fenomena ini menunjukkan adanya tantangan dalam strategi penginjilan dan perintisan gereja yang inklusif dan kontekstual. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi penginjilan yang diterapkan dalam proses perintisan Gereja Beth-el Tabernakel Jemaat Kristus Penolong Timika. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi model dan metode penginjilan yang digunakan serta bagaimana strategi tersebut dapat diintegrasikan secara efektif dalam proses pembentukan komunitas jemaat yang inklusif dan berkelanjutan. METODOLOGI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi penginjilan yang diterapkan dalam perintisan Gereja Beth-el Tabernakel Jemaat Kristus Penolong Timika. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fenomena secara mendalam sesuai dengan kondisi alami objek Peneliti bertindak sebagai instrumen utama, dan data dikumpulkan melalui teknik triangulasi, yang mencakup wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data terdiri dari data primer dan Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pengurus jemaat yang terlibat dalam pelayanan penginjilan dan perintisan gereja. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari dokumen internal gereja yang terkait dengan program dan aktivitas penginjilan. Analisis data dilakukan secara induktif, dengan tujuan menemukan pola-pola strategis dalam penerapan penginjilan sebagai bagian dari perintisan gereja. Penelitian ini juga mengeksplorasi pemahaman jemaat tentang penginjilan, hubungan antara penginjilan dan pertumbuhan gereja, serta model dan metode penginjilan yang digunakan, seperti pendekatan kontekstual, kesaksian pribadi, visitasi keluarga, dan penginjilan digital. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai efektivitas strategi penginjilan dalam mendukung proses perintisan dan keberlanjutan gereja, termasuk tantangan yang dihadapi serta dampak yang dihasilkan terhadap pertumbuhan jemaat. Reaching People in Culture (Nashville. Tennessee: B&H Academic, 2. , 89. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 PEMBAHASAN Strategi Penginjilan Strategi bermisi yang merupakan suatu cara yang dapat memudahkan penginjil dalam menyampaikan berita Injil. Ronda mengatakan dalam bukunya yang berjudul AuKisah-Kisah Misi Singkat di Berbagai Belahan DuniaAy, ia mengatakan bahwa strategi penginjilan sangatlah penting dalam pemberitaan Injil. 3 Strategi penginjilan merupakan siasat yang menjadi penentu dalam menyusun rencana untuk AumenangkapAy jiwa-jiwa bagi Tuhan. Karena itu, penginjilan tanpa strategi itu diibaratkan seperti rumah tanpa ada desainnya. Sejak semula penyelamatan Allah masih terus dinyatakan dengan pemberian janji kepada Abraham dimana Allah berjanji bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang sangat besar dan akan diberkati kemanapun mereka pergi. Hal serupa dinyatakan melalui pembebasan bangsa Israel dari perbudakan yang terjadi di Mesir. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah juga menginginkan agar setiap umat-Nya memperoleh keselamatan dari pada-Nya, dan Allah ingin agar umat-nya yang telah diselamatkan terlibat aktif dalam membagikan keselamatan itu bagi manusia yang belum diselamatkan. Strategi merupakan suatu kegairahan yang mendorong terlaksananya penginjilan, hal ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Sariman bahwa strategi penginjilan adalah kekuatan yang dapat menopang seorang penginjil agar dapat melakukan penginjilan dengan efektif dan tepat sasaran. Menghadapi proses penerapan strategi penginjilan tentunya akan menemui berbagai rintangan dan hambatan yang akan dihadapi oleh penginjil dan membuat fokus serta tenaga terkuras. Dengan adanya strategi penginjilan, penginjilan dapat berjalan sesuai dengan fokus dan tujuan yang telah disusun dengan 5 Oleh sebab itu, tenaga yang akan dikeluarkan oleh penginjil akan dapat digunakan dengan efektif. Penting bagi seorang penginjil untuk dapat menyusun strategi atau rencana dalam mengatur dan memahami kondisi dan ruang lingkup daerah yang akan ditargetkan untuk pekabaran Injil. Perencanaan sangat perlu untuk dilakukan sehingga menghasilkan sebuah persiapan yang dapat tersusun secara sistematis. Sesuai dengan yang dijelaskan oleh C. Peter Wagner bahwa terdapat sepuluh langkah dalam menyusun rencana misi penginjilan, yakni:6 . Memutuskan penginjilan yang akan dilaksanakan. Memilih personil yang akan dijadikan . Memilih usaha yang akan digunakan saat bermisi, . Memutuskan fasilitas dan strategi misi yang akan dipakai, . Memilih menjalin relasi yang akan dipakai, . Memperkirakan pencapaian yang diinginkan, . Mengerjakan masing-masing pekerjaan, . Menciptakan strategi, . Mengerjakan atau mengeksekusi, . Menilai kembali hasil pekerjaan atau mengevaluasi kinerja yang dilakukan. Daniel Ronda. Kisah-Kisah Misi Singkat Di Berbagai Belahan Dunia (Makassar: Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Makassar, 2. , 62. Silas Sariman. AuStrategi Misi Sadrakh Suatu Kajian Yang Bersifat Sosio Historis",Ay Jurna Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen, dan Musik Gereja 3, no. : 17Ae Doni Heryanto dan Wempi Sawwaki. AuMenerapkan Strategi Penginjilan Paulus Dalam Kisah Para Rasul 17:16-34 Pada Penginjilan Suku Auri. Papua,Ay KURIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 6, no. : 322. Peter wagner C. Strategi Perkembangan Gereja (Malang: Gandum Mas, 1. , 81Ae87. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Venema mengatakan bahwa Injil Kristus hendaknya dibawa dan diberitakan kepada manusia dalam keadaan konkrit sebagaimana adanya, karena setiap orang memiliki pola dan kebiasaan budayanya masing-masing. 7 Strategi yang telah disusun ini tentunya diperlukan pertimbangan yang matang terlebih dahulu sebelum dieksekusi. Sebab hal ini berguna sebagai bahan evaluasi diri sehingga dapat mengetahui resiko yang ada dan akan terjadi. Strategi penginjilan adalah pendekatan sistematis yang digunakan untuk menyebarkan Kabar Baik kepada individu maupun kelompok yang belum mendengar dan percaya. Tentunya melibatkan pelayanan langsung, penerapan model dan kegiatan komunitas. Strategi penginjilan seringkali disesuaikan dengan konteks budaya, sosial, dan politik dengan fokus pada pendekatan yang relevan dalam mencapai sasaran yang ditetapkan. Berikut strategi penginjilan yang dapat diterapkan: Penginjilan pintu ke pintu : Anggota gereja mengunjungi rumah-rumah dalam komunitas setempat untuk berbicara tentang iman dan mengundang mereka untuk masuk dalam persekutuan dan beribadah di gereja. 8 Metode ini dapat menjadi salah satu cara yang efektif untuk memperluas pesan Injil kepada masyarakat yang belum mengenalnya. Penggunaan Media Sosial: Memanfaatkan platform media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan rohani, ceritakan kesaksian dan undangan ke acara gereja kepada masyarakat luas. 9 Gereja dan individu dapat menggunakan teknologi digital untuk menjangkau jiwa-jiwa secara online. Program Pelayanan Sosial: Mengorganisir kegiatan pelayanan sosial seperti pemberian makanan kepada orang miskin, program bantuan bagi mereka yang membutuhkan, atau kegiatan kemanusiaan lainnya sebagai cara untuk memperkenalkan kasih Kristus kepada masyarakat. Kelas Pelajaran Alkitab: Menyelenggarakan kelas-kelas pelajaran Alkitab atau studi kelompok kecil untuk membantu dalam memahami ajaran-ajaran Kristen dan memperdalam iman mereka. Doa dan Interaksi Personal: Mengutamakan doa sebagai bagian dari strategi penginjilan dan membangun hubungan personal yang kuat dengan individu-individu di dalam dan di luar gereja sebagai upaya memperluas pengaruh rohani. Strategi penginjilan bukan sekedar pemberi arah dan rencana tentang pelayanan penginjilan, tetapi juga menjadi keseluruhan daya penggerak bagi seluruh aktivitas pelayanan penginjilan. Jika strategi adalah daya penggerak dalam hidup seseorang, maka sebuah strategi harus terus dihidupkan dan dimatangkan agar tercapainya tujuan dan sasaran yang tepat. 10 Oleh sebab itu, diperlukan strategi penginjilan sebagai Venema. Injil Untuk Semua Orang. Pembimbing Ke Dalam Ilmu Misiologi. Jilid 1. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1. , 32. Mack Stiles. Evangelism: How the Whole Church Speaks of Jesus (Wheaton. Illinois: Crossway, 2. , 87Ae88. John Doe. Digital Evangelism: Reaching the Unreached Online (New York: Digital Press, 2. , 45Ae68. Martin Handako. Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku (Yogyakarta: Kanisius, 1. , 19. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 dasar yang menentukan tujuan dan target penginjilan yang sesuai dengan rencana yang dibuat dengan Berdasarkan temuan data lapangan. GBT Jemaat Kristus penolong yang merupakan institusi keagamaan yang juga aktif dalam praktik penginjilan mengajarkan kepada jemaat dan hal itulah yang juga diterapkan oleh jemaat dalam pelayanan penginjilan. Berdasarkan pernyataan responden bahwa fokus gereja adalah keluarga dan orang-orang terdekat dengan strategi penginjilan Visitasi atau penginjilan pintu ke pintu. Kemudian mayoritas jemaat mengungkapkan bahwa pelayanan sosial juga menjadi strategi yang sudah diterapkan oleh jemaat seperti membagikan sembako kepada orang-orang yang membutuhkan. Pemahaman jemaat mengenai efektivitas strategi penginjilan cukup baik, sebagaimana terlihat dari penilaian mereka terhadap respon yang diberikan oleh orang yang diinjili, serta perubahan atau transformasi yang terjadi dalam hidup mereka, dan juga sejauh mana relasi yang terbangun dalam proses penginjilan tersebut. Untuk mengatasi kesulitan dalam menyesuaikan Injil dengan budaya lokal, jemaat menerapkan strategi penginjilan kontekstual. Strategi ini melibatkan pendekatan relasional, dimana jemaat membangun hubungan pribadi terlebih dahulu, memahami adat setempat, dan menyampaikan Injil dengan cara yang relevan bagi mereka. Selain itu, jemaat juga menggunakan layanan berbasis kebutuhan sosial sebagai strategi untuk membuka pintu bagi pemberitaan Injil, seperti melalui bantuan kesehatan atau program sosial pembagian sembako, pakaian layak pakai dan kebutuhan masyarakat lainnya. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa jemaat GBT Kristus Penolong Timika telah memiliki pemahaman yang cukup baik, mengenai pentingnya strategi-strategi ini dalam pemberitaan Injil, sebagai aspek yang sangat penting dalam keberlangsungan pelayanan penginjilan. Pada penerapannya sudah sangat baik dengan memiliki fokus atau arah tujuan yang jelas mengenai strategi yang diambil serta pemahaman jemaat mengenai efektivitas sudah cukup baik. Melalui pemahaman dan penerapan yang sesuai dengan visi dan misi gereja tentunya akan membantu jemaat untuk mengembangkan strategi penginjilan yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal, serta memperkuat komitmen mereka dalam mewujudkan tujuan pelayanan Injil dalam konteks yang lebih luas. Model dan Metode Penginjilan Melakukan sebuah penginjilan haruslah dengan baik dan benar, maka dalam hal ini penginjil membutuhkan model dan metode yang bisa digunakan untuk memberitakan Injil. Adanya metode penginjilan akan sangat memudahkan penginjil dalam memberitakan kabar Baik. Oleh sebab itu, mengabarkan Injil juga membutuhkan metode-metode tertentu yaitu: Model penginjilan Yesus Model-model penginjilan Yesus dapat dibedakan menjadi beberapa macam model penginjilan penginjilan yang akan dijelaskan sebagai berikut:11 Makmur Halim. Model-Model Penginjilan Yesus. Edisi Pert. (Malang: Gandum Mas, 2. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Model Samaritan/Kontekstual (Yohanes 4:1-. Model Samaritan ini adalah pendekatan yang digunakan oleh Tuhan Yesus untuk menyelesaikan konflik sosial-budaya dan agama antara orang Samaria dan Yahudi. Konflik antara orang Yahudi dan Samaria justru memberikan kesempatan bagi Yesus untuk memberitakan keselamatan kepada perempuan Samaria. Sebagai hasilnya. Yesus menerapkan pendekatan yang mengikuti model samaritan, yakni pendekatan Sosial Budaya dan pendekatan Spiritual. Adapun metode pendekatan yang dilakukan oleh Yesus kepada perempuan Samaria itu, yakni: Pertama Cultural Bridge, melalui Sumur Yakub berfungsi sebagai jembatan budaya dan etika bagi Yesus dalam berkomunikasi dengan perempuan Samaria dan membuka peluang untuk membangun hubungan sosial dan menghormati budaya mereka. Social Bridge dengan cara AyTake and GiveAy digunakan Yesus untuk merekonsiliasi antara orang Yahudi dan Samaria, dengan fokus pada transformasi spiritual melalui simbol air kehidupan dari sumur Yakub. Moral Bridge atau jembatan moral dengan memperhatikan kebutuhan dan kehidupan moral perempuan Samaria, mengarahkannya pada pertobatan dan pengakuan akan dosa. Transformation Bridge yakni dengan pendekatan moral yang tepat. Yesus membuat perempuan Samaria menghormati-Nya sebagai nabi dan menyadari perlunya pertobatan untuk menerima air kehidupan yang diajarkan dalam Injil. Theological Bridge atau pendekatan agama Yesus menempatkan diri-Nya sebagai netral, dengan mencoba memperkenalkan konsep penyembahan batiniah yang mengarah pada kebebasan dan pengertian yang benar sesuai dengan ajaran Tuhan. Revelation perkenalan diri Yesus yang dimana perempuan Samaria akhirnya mengetahui Yesus adalah Mesias yang berbeda dengan ahli taurat sehingga perempuan ini menemukan Yesus sebagai Juruselamat. Berita dan pengalaman perempuan Samaria yang dibagikan setelah bertemu dengan Yesus menginspirasi kebangunan rohani. Meskipun Yesus sebelumnya dianggap sebagai musuh, sekarang mereka mengundang-Nya untuk tinggal bersama mereka, sehingga Yesus memahami kebutuhan orang-orang Samaria. Akhirnya, dengan memberikan air kehidupan. Yesus membawa damai sejahtera yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Model penginjilan Samaritan juga dapat dikatakan sebagai penginjilan kontekstual dimana menggunakan pendekatan melalui budaya, sosial, politik, keyakinan, tradisi dan kebiasaan yang Hiebert mengungkapkan hal yang sama bahwa penginjilan kontekstual adalah pendekatan yang menekankan pentingnya memahami konteks budaya, sosial dan politik suatu tempat dalam menyampaikan pesan Injil dengan mempertimbangkan nilai-nilai, keyakinan, tradisi, dan kebiasaan lokal dalam upaya untuk membuat pesan Injil menjadi relevan dan dapat dimengerti oleh masyarakat yang dilayani. 13 Dengan pendekatan kontekstual bukan hanya tentang mengubah cara pesan disampaikan, tetapi juga tentang mengubah cara pesan itu dipahami dan diterima oleh Individu dan kelompok dalam masyarakat. Ibid. , 72Ae74. Paul Hiebert. Anthropological Insights for Missionaries (Michigan: Baker Academic, 1. , 145Ae165. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Model Gadarean (Lukas 8:26-. Kasih dan belas kasihan mendorong Tuhan Yesus untuk melakukan perjalanan Penginjilan menuju Gadara. Pada saat Yesus tiba di daerah tersebut, diri-Nya diperhadapkan dengan seorang pemuda yang sedang kerasukan setan yang menyebabkan dirinya mengalami gangguan kejiwaan yang sangat hebat. Keadaan ini juga tentunya mempengaruhi tatanan masyarakat dan hubungannya seperti sosial, ekonomi, dan budaya setempat. Keadaan tersebut mampu mengubah keadaan masyarakat Gadara pada saat itu menimbulkan keresahan dan ketakutan, sebab tak seorang pun yang dapat mengendalikan pemuda ini dan juga daerah gadara berada dalam kuasa legion. Metode pendekatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada pemuda yang kerasukan roh jahat, model gadarean dapat dijabarkan sebagai berikut : Yesus melayani dan menyembuhkan satu orang, sebab satu orang berharga di mata-Nya. Yesus menghadapi pemuda ini dengan wibawa dan kuasa Allah. Diri-Nya sama sekali tidak menunjukkan sikap yang kasar atau agresif. Langkah ini merupakan . endekatan kasih yang mampu untuk mengendalikan situasi yang sebelumnya tidak dapat dikendalikan. Perlu diperhatikan dalam pendekatan tahap pertama sangat menentukan keberhasilan dalam pemberitaan Injil. Yesus menemukan inti dari persoalan yang dialami pada saat itu ialah okultisme atau kuasa kegelapan, sebab apa yang dilakukan oleh pemuda tersebut diluar dari pengetahuannya. Yesus berusaha menemukan identitas yang sebenarnya dari pemuda tersebut dengan menanyakan Selanjutnya Yesus menyadari ada pribadi yang lain yang membuat pemuda tersebut kehilangan identitasnya. Dengan wibawa dan kuasa Tuhan. Yesus tidak mengizinkan kuasa roh jahat tersebut menguasai kehidupan pemuda tersebut. Yesus memerintahkan roh itu untuk keluar dan meninggalkan pemuda tersebut. Yesus juga membawa pemuda itu untuk mengandalkan Allah bukan kepada sesuatu yang lain. Yesus menyediakan dan menyalurkan pribadi lain tersebut menyatakan bahwa Ia sanggup mengorbankan sesuatu. Keadaan ini membuktikan bahwa Yesus menghargai jiwa pemuda ini lebih dari segalanya. Perubahan yang terjadi kepada pemuda ini menjadi kesaksian bagi dirinya kepada keluarga, masyarakat bahwa kuasa Yesus sanggup mengubah orang yang sulit diubah , dan menjadi saksi bagi teman-teman dan orang-orang yang mengalami hal yang sama. Dari keadaan tersebut membawa dampak yang besar di tengah-tengah masyarakat. McGavran juga menyoroti bagaimana perubahan individu itu juga berdampak pada komunitasnya secara lebih 15 Secara sosial, masyarakat menerima kembali pemuda itu setelah mengalami kewarasan. Berdasarkan etika dan budaya tercermin dalam kesadaran pemuda tersebut dalam kesadarannya dan penghargaannya terhadap adat istiadat dan etika masyarakat. Secara agama, menimbulkan ketakutan akan kuasa Kristus yang melampaui berhala-berhala. Secara politik, kehadiran Yesus dianggap sebagai sebuah ancaman. Akan tetapi, dalam konteks misi Allah, pemulihan pemuda tersebut menjadi alat Allah untuk menyebarkan pesan-Nya kepada orang-orang yang ada di Gadara yang serupa dan menjadikannya saksi Kristus. Makmur Halim. Model-Model Penginjilan Yesus, 94Ae95. Donald G. McGavran. Understanding Church Growth (Michigan: Grand Rapids, 1. , 79. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Model Visitasi (Visitation Evangelis. atau Model Family (Familly Evangelis. Mat. 8:14-17, Yoh. 12:1-8. Model pelayanan ini difokuskan pada pendekatan kepada keluarga-keluarga, dengan Yesus mengajarkan Injil melalui interaksi antar anggota keluarga. Yesus secara langsung mengunjungi murid-muridnya untuk memberitakan Injil kepada keluarga-keluarga dan sanak saudaranya. Dengan pendekatan inilah yang akhirnya menciptakan model pelayanan yang lebih efektif dan berbuah bagi kerajaan Sorga. Berikut metode pendekatan yang dilakukan oleh Yesus: Pertama melalui pemberitaan Injil kepada seseorang, kemudian membinanya menjadi murid dan selanjutnya memuridkan. Kedua. Yesus melihat kebutuhan dalam hidup murid dan keluarga-Nya. Pergumulan dan masalah adalah salah satu cara yang digunakan untuk memasuki keluarga muridmurid. Ketiga, kunjungan kepada keluarga juga dapat membawa pengaruh kepada tetanggatetangganya. Inilah prinsip multiplikasi yang akan terus berkembang ke setiap keluarga-keluarga. Berdasarkan model dan metode yang digunakan, pendekatan ini begitu cepat, dampak yang diberikan sehingga Injil dapat tersebar kepada banyak orang melalui keluarga-keluarga. Pemberitaan Injil model Visitasi atau Model Familly ini adalah salah satu model penginjilan yang tercepat dalam menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang. Dengan model dan metode penginjilan di tas, pesan Injil dapat disampaikan secara langsung dan personal, menciptakan interaksi yang mendalam dan pemahaman yang baik tentang ajaran Kristus. Model Friendship (Yoh. 1:35-. Pesan injil yang disampaikan oleh Yohanes Pembabtis membawa perubahan dalam hidup Andreas, yang kemudian membentuk hubungan spiritual dengan saudaranya. Simon. Demikian pula. Filipus, setelah bertemu dengan Yesus, juga membangun jaringan rohani dengan Natanael. Kedekatan persahabatan antara mereka berdua memungkinkan penyampaian Injil dengan lebih mudah dan efektif. Berikut metode yang digunakan dalam melakukan model penginjilan Friendship, yakni: Perkenalan (Introduc. , dua orang murid mendengar perkataan Yohanes dan mengikuti Yesus serta bertanya di mana Yesus tinggal. Pertanyaan ini mengandung beberapa unsur, yakni Ingin mengenal Yesus. Memiliki kebutuhan sosial (Get to know each othe. kebutuhan untuk friendship and fellowship lebih dari pada hal-hal rohani. Keterbukaan (Opennes. , ajakan Yesus untuk berkunjung kerumah-Nya merupakan sikap keterbukaan-Nya. Kesempatan (Chanc. , hubungan yang baik antara Andreas dan Simon menjadi kesempatan buatnya untuk bersaksi tentang Mesias. Andreas akhirnya membawa Simon kepada Yesus. Teman terdekat (Closest Friend. , filipus menggunakan kesempatan itu untuk memberitakan Injil kepada sahabat-sahabatnya salah satunya Natanael. Pendekatan Agama (Religious Approac. , ketika Yesus melihat Natanael, ia tidak berusaha menjawab keraguannya tetapi menjawabnya melalui kelebihan Natanael bahwa Natanael adalah orang Israel sejati dan tidak ada kepalsuan di dalamnya. Inilah pendekatan agama yang Yesus gunakan sehingga Natanael percaya kepada Yesus. Makmur Halim. Model-Model Penginjilan Yesus, 163Ae164. Ibid. , 173Ae176. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Pendekatan model friendship mendorong setiap orang untuk dapat memiliki relasi dan hubungan dengan sesama bahkan dengan Tuhan karena dengan inilah ada keinginan untuk mengenal kebenaran. Lewat relasi yang dimiliki akan membantu penginjil untuk menjangkau orang-orang terdekatnya. Dari sinilah pemberitaan Injil dapat tersampaikan kepada mereka. Model penginjilan ini menunjukkan pentingnya persahabatan dalam pelayanan. Model Caldi (Mat. 19:1-10. 19:13-. Kasih Yesus kepada orang dewasa sama dengan kasih-Nya kepada anak-anak. Semakin dini seseorang mengenal Yesus, semakin baik. Itu sebabnya Yesus memberi waktu kepada anak-anak untuk Kerajaan Surga. Namun, murid-murid-Nya menghalangi mereka untuk datang kepada Tuhan Yesus. Dari sinilah akhirnya yesus menggunakan pendekatan yang unik agar anak-anak mengalami keselamatan melalui model caldi, sebagai berikut18: Aylalu orang membawa anak-anak kecil kepada YesusAy tindakan Yesus menerima anak-anak yang datang kepada-Nya yakni untuk menyatakan kasih dan memberikan sentuhan kasih (Touch of Lov. Yesus memberkati dengan perkataan-perkataan dan mendoakan kebutuhan mereka. AyBiarkan anak-anakAy datang kepada Ku. Tindakan Yesus menunjukkan bahwa diri-Nya ingin bersahabat dengan anak-anak. AyJangan menghalang-halangiAy mereka. Yesus memberikan tempat kepada anak-anak dalam hidup-Nya. Ia memberikan waktu, menyediakan jalan bagi anak-anak untuk menyalurkan ,melalui pelayanan-Nya, i. Sebab Ayorang-orang seperti itulahAy. Yesus melihat bahwa anak-anak memiliki potensi untuk Yesus menabur benih-benih rohani dari Allah supaya terjadi transformasi. AyYang mewarisiAy Kerajaan Surga. Yesus menyediakan target dan goal yang hendak dicapaiNya kepada anak-anak agar mereka memiliki Kerajaan Sorga. Jikalau kamu bertobat dan Aymenjadi seperti anak kecil iniAy. Menjadi seperti anak kecil supaya dapat dibina agar mengalami perkembangan mental dan spiritual. Anak-anak diajarkan untuk melakukan hal-hal yang wajar yang dapat mereka lakukan. AyAda malaikat di SurgaAy selalu memandang wajah Bapa-Ku. Tindakan yesus memberikan prioritas kepada anak-anak untuk maju dalam Kristus. Anak-anak diajadikan-Nya ladang utama dan pertama untuk menabur benih. Ia mengusahakan pembinaan yang lebih lanjut. Yesus menerima anak-anak dengan kasih, ingin bersahabat dengan mereka dan memberi tempat dalam hidup-Nya. Dia melihat potensi transformasi dalam mereka, ingin mereka mewarisi kerajaan surga, dan mengajarkan kita untuk menjadi seperti anak-anak dalam perkembangan mental dan spiritual. Ibid. , 185Ae189. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Yesus memberi prioritas kepada anak-anak dalam pelayanan-Nya, ingin mereka maju dalam Kristus, dan mengusahakan pembinaan yang lebih lanjut bagi mereka. Metode Penginjilan Paulus Metode yang diterapkan oleh Paulus dijelaskan sebagai berikut. 19 Pertama, setiap orang perlu mendengar pesan tentang Yesus Kristus. Dengan demikian, yang diutamakan terlebih dahulu adalah orang Yahudi. Hal demikian sesuai dengan perkataan Tuhan yesus yang tercatat dalam Kisah para Rasul 1:8 Aykamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem. Ay dari Yerusalem yakni umat Allah itulah Injil mulai diberitakan hingga kepada orang-orang Yahudi sebagai berikut adalah pendekatan yang dilakukan: berdiskusi dengan orang Yahudi (Kis. 19:1-. Berkhotbah di rumah ibadat orang Yahudi (Kis. 19:8-. selama tiga bulan. Paulus untuk melakukan pendekatan kepada orang Yahudi, karena Paulus memiliki pengalaman kehidupan sebagai orang Yahudi. 20 Oleh sebab itu. Paulus mengerti dengan hukum taurat yang merupakan kewajiban bagi Paulus untuk mentaatinya sejak kecil. Terdapat orang-orang yang diluar Yahudi dengan pandangan Gnostik yang berasal dari kelompok Yunani. Sehingga, tidak dapat dipungkiri bahwa pengajaran Kristen dalam perkembangan sejarah gereja dipengaruhi oleh ajaran Gnostik. 21 Oleh sebab itu, mereka juga perlu diajar dengan pengajaran yang benar mengenai kekristenan. Oleh sebab itu perlu pendekatan tertentu, baik dalam khotbah maupun pembicaraan pribadi dengan seseorang. Jelas bahwa metode yang digunakan oleh Pulus ialah mengajar. Kedua, paulus pergi mengunjungi orang-orang yang tinggal di kota-kota kecil, desa-desa agar mereka dapat mendengarkan Injil. ketiga, paulus bukan hanya berhenti pada metode mengajar dan berkunjung tetapi juga dirinya bahkan sanggup melakukan banyak mujizat dalam nama Yesus. Paulus menggunakan sapu tangannya untuk menyembuhkan dan mengusir roh-roh jahat (Kis. 19:11-. Metode ini cukup menarik banyak perhatian dari orang-orang dan pada akhirnya menerima keselamatan. Namun hal ini harus melibatkan Roh Kudus sebagai pemberi kuasa untuk dapat menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan-setan. Paulus tidak mengharapkan mereka datang kepadanya, melainkan dirinya sendiri yang langsung mendatangi rumah-rumah mereka. Sehingga. Paulus jelas menggunakan metode kunjungan untuk melakukan penginjilan kepada orang-orang di jaman itu. Jadi, ketiga metode yang digunakan diatas dalam memberitakan Injil memiliki perbedaan yang dilihat dari cara penyampaian Injil Bukan hanya itu, terlihat bahwa penginjilan tersebut tergantung pada situasi, tempat dan orang yang akan menjadi target penginjilan. Erckhard J. Schnabel. Rasul Paulus Sang Misionaris (Yogyakarta: ANDI, 2. , 282. Guthrie D. Teologi Perjanjian Baru 3 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 70. Mister R. J & Damanik D. Th. AuPengaruh Ajaran Gnostik Dalam Kekristenan Ditinjau Dari Perspektif Sejarah Gereja,Ay Jurnal Teologi . : 15Ae23. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Metode Kesaksian pribadi Metode penginjilan dengan kesaksian pribadi adalah pendekatan yang menggunakan cerita atau pengalaman pribadi seseorang tentang bagaimana iman Kristiani telah mempengaruhi dan mengubah hidup mereka sebagai alat untuk menyampaikan pesan Injil kepada orang lain. Dalam bukunya ini. Alvin Raib membahas pentingnya penggunaan kesaksian pribadi dalam proses penginjilan. Reid mengatakan bahwa kesaksian pribadi adalah alat yang ampuh karena sulit bagi orang untuk menyangkal atau mengabaikan pengalaman nyata yang dialami oleh orang lain juga penginjilan pribadi harus jujur dan otentik, menceritakan bagaimana kehidupan seseorang berubah sejak bertemu dengan Kristus. Kesaksian menjadi alat yang kuat karena sulit bagi orang untuk mengabaikan pengalaman nyata orang Leid memberikan beberapa tips tentang bagaimana menyusun dan menyampaikan kesaksian secara efektif:23 Jujur dan Autentik: kesaksian yang jujur dan autentik di dalamnya menceritakan pengalaman nyata seseorang dalam pertemuan dengan Kristus dan bagaimana itu telah mempengaruhi dan mengubah hidup mereka. Fokus pada Titik Penting, yakni fokus pada perubahan dan transformasi yang dialami sejak bertemu dengan Kristus. Gunakan bahasa sederhana: menghindari bahasa yang sulit untuk dimengerti oleh semua orang agar memudahkan audiens memahami kesaksian kita. Perhatikan audiens: sesuaikan bahasa dan konten kesaksian dengan latar belakang dan kebutuhan Hindari kebohongan atau kesalahan:menyampaikan kesaksian haruslah jujur dan akurat agar dapat membangun kepercayaan dan efektivitas dalam penginjilan. Gunakan contoh konkrit untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang bagaimana menyusun dan menyampaikan kesaksian dengan baik. Penginjilan Digital Penginjilan digital adalah upaya untuk menyebarkan pesan Injil dan memperluas pengaruh gereja melalui platform digital dan teknologi internet. Ini melibatkan penggunaan berbagai alat strategi digital untuk mencapai orang-orang di seluruh dunia dan membagikan kabar baik tentang Yesus Kristus. Sarah Smith menjelaskan bahwa penginjilan digital adalah upaya menyebarkan ajaran kekristenan melalui platform dan alat-alat digital seperti media sosial, situs web, dan aplikasi seluler. 24 Strategi yang digunakan Alvin L. Reid. Sharing Jesus without Freaking Out: Evangelism the Way You Were Born to Do It (Nashville. Tennessee: B&H Publishing Group, 2. , 97Ae100. Ibid. , 99Ae100. Sarah Smith. Digital Evangelism: Strategies for Spreading the Gospel Online (New York: Digital Faith Publishing, 2. , 11Ae15. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 adalah dengan membagikan postingan atau konten yang membangun komunitas dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang melalui aplikasi Facebook. Instragram. Twitter maupun Youtube. Berdasarkan hasil wawancara penelitian, diperoleh informasi bahwa jemaat Gereja Beth-el Tabernakel Kristus Penolong Timika telah memahami berbagai model dan metode penginjilan, seperti penginjilan Samaritan. Gadarean. Visitasi atau Family. Friendship. Caldi dan metode penginjilan Paulus serta Kesaksian Pribadi. Meskipun demikian, implementasi dari beberapa model penginjilan tersebut masih belum maksimal dalam praktik pelayanan gereja. Dari hasil wawancara terlihat bahwa beberapa model dan metode penginjilan seperti penginjilan Samaritan atau kontekstual. Gadarean. Visitasi atau family. Friendship. Paulus dan kesaksian pribadi telah diterapkan dalam sebagian pelayanan gereja. Meskipun demikian, masih terdapat kendala dalam implementasi yang menyebabkan belum maksimalnya efektivitas pelayanan penginjilan. Kendala tersebut antara lain kurangnya partisipasi dari sebagian jemaat, terutama dalam model-model yang lebih spesifik seperti penginjilan digital dan penginjilan anak. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa semua responden dapat menjelaskan dengan baik apa yang mereka pahami dan ketahui tentang model dan metode penginjilan. Akan tetapi, mengenai implementasinya, terdapat kesenjangan antara pemahaman jemaat dengan implementasi praktis. Karena tidak semua responden menerapkan semua model dan metode penginjilan. Salah satunya adalah penginjilan digital, yang dimana hanya dua dari sepuluh responden saja yang melakukannya. Berdasarkan hasil wawancara dan penelitian menunjukan bahwa pengajaran penginjilan di gereja GBT Kristus Penolong Timika berdampak pada memenangkan jiwa-jiwa baru dan mempersiapkan generasi yang dapat meneruskan gereja dan fungsinya. Sesuai dengan teori yang dijelaskan bahwa para responden merasa penginjilan yang diajarkan gereja mencakup memberikan contoh dalam perbuatan dan tingkah laku, pelayanan visitasi, serta berbagi cerita melalui kesaksian pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada konsistensi antara teori dan pemahaman responden mengenai peran gereja dalam penginjilan dimana keduanya sepakat bahwa gereja bertanggung jawab mengajarkan dan mempraktekan Dalam hal implementasi, gereja juga menerapkannya melalui berbagai cara, baik melalui pendidikan rohani, pelayanan sosial, maupun pembentukkan karakter jemaat untuk menjadi teladan di Pengajaran gereja tentunya memiliki dampak yang positif, karena melalui hal tersebut gereja dapat mempersiapkan generasi penerus yang siap melanjutkan misi gereja dan juga membantu jemaat untuk dapat mempraktekan penginjilan menjadi lebih efektif. Sebab, jemaat dapat belajar mengenai model, dan strategi dalam penginjilan, salah satunya dengan pelayanan Visitasi dan pelayanan sosial. Alkitab jelas menulis mengenai hubungan antara penginjilan dan perintisan gereja khususnya di dalam Amanat Agung dan Kisah Para Rasul 2 yang menekankan pentingnya penginjilan sebagai dasar pertumbuhan gereja. Hal ini terbukti dari pemahaman jemaat yang tertulis secara empiris dalam penelitian dimana semua responden menyatakan bahwa aktivitas penginjilan mendahului perintisan. Kemudian hal yang sama ditunjukkan oleh jemaat GBT Kristus Penolong Timika melalui pertumbuhan jemaat melalui Pemahaman jemaat mengenai penginjilan sebagai langkah awal yang kritis dan fundamental J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 dalam proses perintisan gereja sehingga menciptakan basis jemaat yang kemudian mendorong terbentuknya badan organisasi gereja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap jemaat GBT Kristus Penolong Timika, berbagai tantangan dalam pemberitaan Injil telah teridentifikasi. Salah satu tantangan utama adalah komunikasi yang efektif, dimana penginjil harus menyampaikan pesan Injil dengan cara yang dapat dipahami dan relevan bagi pendengar atau orang yang diInjili. Respon negatif, berupa penolakan dari orang-orang yang diajak untuk berdiskusi merupakan hambatan yang signifikan. Selain itu, tantangan budaya dan kepercayaan juga muncul, dimana penginjil harus menghormati dan memahami keberagaman budaya daerah setempat untuk dapat menyampaikan Injil. Jemaat Kristus penolong Timika memahami tantangan dan konsekuensi yang akan mereka hadapi dalam penginjilan, seperti yang dijelaskan responden berdasarkan pengalaman mereka di lapangan. Responden mengidentifikasi bahwa kesulitan melakukan komunikasi yang efektif seringkali berkaitan dengan menyesuaikan kebutuhan orang yang diInjili dengan pesan Injil yang akan disampaikan. Respon dari pendengar menjadi tantangan utama, dimana penginjil harus memastikan mereka diterima dengan baik. Pengalaman Jemaat GBT Kristus Penolong Timika menunjukkan adanya tantangan dalam menyesuaikan pemberitaan Injil dengan konteks budaya dan adat- istiadat setempat. Minat dan perhatian pendengar juga menjadi indikator penting keberhasilan penginjilan. Berdasarkan hasil penelitian, secara keseluruhan penelitian ini menunjukkan bahwa penginjilan di GBT Jemaat Kristus Penolong Timika dihadapkan pada berbagai tantangan, namun gereja dan jemaatnya telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Gereja memainkan peran yang sangat penting dalam membina dan mendukung jemaat, baik melalui pendidikan rohani maupun pelayanan sosial, sehingga dapat meningkatkan efektivitas penginjilan dan mendorong pertumbuhan jemaat. KESIMPULAN Penginjilan kontekstual oleh Gereja Beth-el Tabernakel Jemaat Kristus Penolong Timika belum maksimal karena hanya sebagian kecil jemaat yang melakukannya, itu pun tidak secara berkala. Model penginjilan yang dominan adalah visitasi keluarga dan kesaksian pribadi, yang kurang efektif menjangkau orang asli Papua. Penelitian menunjukkan bahwa gereja tidak mengajarkan semua model dan metode penginjilan yang relevan untuk mendukung penjangkauan jiwa baru, terutama orang asli Papua. Hal ini dibuktikan dengan adanya bukti bahwa, fokus pelayanan lebih kepada keluarga melalui kunjungan rumah dan pembagian sembako, yang meski bermanfaat, namun perlu disertai dengan penyesuaian yang lebih relevan untuk menjangkau orang asli Papua. Strategi penginjilan kontekstual, yang memperhatikan budaya, adat, dan cara hidup masyarakat Papua, dapat ditingkatkan untuk menjadikan pendekatan yang lebih efektif dalam membawa transformasi rohani yang lebih mendalam. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Gereja perlu menyediakan pelatihan khusus tentang penginjilan kontekstual dan membentuk tim penginjilan yang fokus pada suku asli Papua. Penggunaan media lokal, diversifikasi metode penginjilan, dan rotasi serta evaluasi metode secara berkala juga penting. Penyusunan kurikulum penginjilan yang komprehensif dan kolaborasi dengan gereja lain dapat meningkatkan kapasitas jemaat. Selain fokus pada keluarga, gereja perlu menerapkan pendekatan multi-strategi yang mencakup berbagai segmen yang ada di masyarakat, dan rutin mengevaluasi serta menyesuaikan strategi berdasarkan hasil dan feedback yang diperoleh dari komunitas. DAFTAR PUSTAKA