I S S N : 2477-1376 V ol. 2 | N o. Risiko Online Pada Remaja dan Pendidikan Literasi Media Baru Amia Luthfia* *Universitas Bina Nusantara ARTICLE INFO Keywords: Risk online, internet, youth, new media literacy Corresponding Author: amialuthfia@gmail. ABSTRACT Teenager aged 10-19 years is the digital native generation and they are connected with the virtual world almost every time. Online activities they do, among others, are connected through social media, search for information on various websites, downloading music, watching movies via YouTube, read the news, play on-line games, and etc. TeensAo on-line activity behind it has a variety of risks and should be examined together with any kind of on-line risks experienced by adolescents as a first step in order to minimize the negative effects that would occur. This article contains a study of the conceptualization of on-line risk, scope and classification of on-line risk. featuring a wide range of research on the influence of social environment on the risk of on-line teens. and attempts to deal with the risk of negative media that hit young people through new media literacy education. Media literacy curriculum that already exist should be adapted to the characteristics of new media. At its core, the new media literacy should include: . media literacy. digital technology literacy. civil and social responsibility. imagination and creativity. Remaja berusia 10- 19 tahun adalah generasi native digital dan mereka terkoneksi dengan dunia maya hampir setiap waktu. Aktivitas online yang mereka lakukan antara lain saling terhubung melalui media sosial, mencari informasi di berbagai website, mengunduh musik, menonton film melalui Youtube, membaca berita, bermain game online, dan sebagainya. Aktivitas online remaja memiliki berbagai risiko di baliknya dan perlu ditelaah bersama apa saja jenis risiko online yang dialami remaja sebagai langkah awal guna meminimalisir efek negatif yang akan terjadi. Artikel ini berisi kajian tentang konseptualisasi risiko online, lingkup dan klasifikasi risiko online. menampilkan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh lingkungan sosial remaja pada terjadinya risiko online. dan upaya untuk menghadapi berbagai resiko negatif media yang menerpa remaja melalui pendidikan literasi media baru. Kurikulum literasi media yang telah ada harus disesuaikan dengan karakteristik media baru. Pada intinya, literasi media baru harus meliputi: . literasi teknologi digital. tanggung jawab sipil dan sosial. imajinasi dan kreativitas. Jurnal Communicate Volume 2 Nomor 1 Juli 2016 - Desember 2016 ISSN 2477-1376 13 Ae20 A2016 JC. All rights reserved. -13- Jurnal Communicate Volume 2 No. 1 Juli 2016 Pendahuluan mencegah terjadinya risiko online yang makin tinggi dan makin membahayakan. Penelitian Kementerian Kominfo yang menelaah potensi risiko yang dihadapi remaja dalam dunia digital, menunjukkan bahwa banyak anak dan remaja memberikan informasi pribadi seperti alamat rumah, nomor telepon, atau alamat sekolah. Remaja juga tidak terlindungi dari konten negatif yang ada di Internet dan sebagian besar mereka terterpa konten negatif tanpa sengaja melalui pesan pop-up,melalui link yang menyesatkan, iklan bernuansa vulgar (Kominfo, 2. Konsep Risiko Online Sebagai sebentuk konsep, ide atau gagasan, terminologi risiko online . nline risk. pertama kali diperkenalkan oleh Staksrud dan Livingstone . dalam publikasi yang berjudul Children and Online risks. Meskipun masih diperdebatkan. Stakrud dan Livingstone . mendefinisikan risiko online . nline risk. sebagai satu set pengalaman heterogen yang sengaja maupun tidak sengaja yang dapat membahayakan pengguna internet. terpapar pornografi, menyakiti diri, kekerasan, rasisme atau konten kebencian, kontak dengan pelaku pedofil atau pelecehan, cyberbullying. Auhappy slappingAy atau pelanggaran privasi (Staksrud & Livingstone, 2. Konten dan pesan seksual juga kerap menerpa anak dan remaja di Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua akibat penggunaan internet. Bahkan di pegunungan tengah Papua, sebagian remaja rentan berhubungan seks sejak SMP ketika mereka mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis dan mulai berpacaran. Hal ini ditengarai karena peredaran video porno khususnya lewat telepon seluler kian marak (Wahyudi, 2. Oleh karena kemampuan remaja mengakses situs porno dipelajari dari teman-temannya sebayanya, dimana awal mulanya mereka menggunakan internet untuk mencari materi pelajaran dan tugas sekolah (Qomariyah, 2. Konsep risiko online yang dikemukakan oleh Staksrud dan Livingstone . tersebut merujuk dari tulisan Beck . seorang teoritisi sosial yang banyak menulis tentang Aorisk societyAo. Konsep ini juga merujuk dari definisi risiko yang dikemukakan oleh Reyna dan Farley . Beck . menyatakan Aurisk may be defined as a systematic way of dealing with the hazards and insecurities induced and introduced by modernization itself. Ay Beck lebih menekankan pada bagaimana masyarakat dengan cara sistematis menghadapi berbagai bahaya yang Bahaya dan rasa tidak aman itu sendiri pada saat ini tidak hanya berasal dari bahaya alami seperti bencana alam, tapi lebih banyak karena hasil perkembangan tekno-ekonomi. Sedangkan definisi risiko yang dikemukakan Reyna & Farley . lebih luas. Risiko adalah Authe factors that increase the probability of harmAy (Reyna & Farley, 2. Faktor-faktor ini antara lain berupa fitur online, manusia, aktivitas, peristiwa sebagai aspek di dalam lingkungan online yang dapat meningkatkan risiko merusak/melukai anak dan remaja (Livingstone. Mascheroni. Staksrud, 2. Berbagai studi menunjukkan bahwa Internet tidak hanya memberikan efek positif tapi juga efek negatif. Efek negatif atau sisi merugikan merupakan konsekuensi dari penggunaan Internet dan eksplorasi remaja yang melakukan aktivitas beresiko. Aktivitas berisiko ini dinyatakan oleh Livingstone . sebagai risiko online yang dapat membahayakan anak dan remaja. Risiko online meliputi: kontak dengan pedofil (AugroomingA. terpapar konten kekerasan, kekerasan seksual, materi rasism, iklan. mengalami cyberbullying, penguntitan, pelecehan, perjudian, penipuan. melakukan tindakan yang melukai diri seperti bunuh diri, bulimia, anorexia, dan lain-lain (Stakrud dan Livingstone, 2. Di Eropa. Australia dan Amerika telah dilakukan studi-studi yang komprehensif tentang risiko online: lingkupnya, kelompok anak dan remaja mana yang paling rentan, jenis risiko online mana yang paling membahayakan, bagaimana persepsi dan mediasi orang tua, termasuk risiko adiksi. Dari hari ke hari lingkup risiko online semakin luas dan berbeda jenis risiko dialami remaja dari setiap konteks budaya, termasuk juga faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya risiko online tersebut. Oleh karena itu, kajian risiko online menjadi penting untuk dilakukan di Indonesia, termasuk juga urgensi kajian literasi media baru sebagai upaya antisipasi Livingstone . lalu merujuk dari Smillie and Blissett . yang menyatakan bahwa risiko dapat dibedakan menjadi Aonatural hazardsAo dan Aotechnological hazardsAo. Risiko online termasuk pada kategori technological hazards dan merupakan bahaya yang dapat diantisipasi dengan merekayasa lingkungan sosial termasuk merancang bagaimana meresponsnya bila terjadi kerugian secara fisik atau mental setelah suatu peristiwa online terjadi. Maka, menelaah risiko online lebih pada upaya mengantisipasi segala hal yang merugikan, melukai, membahayakan -14- Luthfia/Risiko Online Pada Remaja dan Pendidikan Literasi Media Baru anak dan remaja ketika dan pasca mereka beraktivitas di dunia maya. berbagai aspek negatif dari penggunaan internet (Livingstone &Helsper, 2. risiko online sebagai hasil transaksional dari mengakses, menggunakan internet, juga hasil dari peran anak dan motif komunikasi yang mengarah pada konsekuensi negatif (Hasebrink, 2. risiko online merupakan faktor-faktor yang berupa fitur online, manusia, aktivitas, peristiwa di dalam lingkungan online yang dapat meningkatkan risiko yang merusak/melukai anak dan remaja (Livingstone. Mascheroni. Staksrud, 2. Peneliti lain menggunakan istilah yang berbeda yaitu internet risks. Leung & Lee . mendefinisikan internet risks sebagai Aupotentially AoharmfulAo influences of exposure to pornographic and violent contentAy. Leung dan Lee . menekankan dan membatasi definisinya ini pada konten pornografi dan kekerasan yang potensial memberikan pengaruh yang merusak anak dan remaja. Definisi risiko online lain dikemukakan oleh Ybarra et al. , . yang menekankan risiko pada tindakan agresi yang terbuka yang sengaja ditujukan kepada orang lain ketika online. Tindakan tersebut bisa dalam bentuk pelecehan atau mempermalukan seseorang. Mengategorikan dan definisi yang dikemukakan oleh Leung dan Lee . lebih sempit dibandingkan definisi risiko online yang dikemukakan Hasebrink et al. dan Livingstone . karena hanya pada konten pornografi, kekerasan dan tindak agresi pelecehan. Risiko online dapat dikelompokkan berdasarkan peran anak dan remaja ketika online, yaitu: . risiko konten . ontent risk. , yaitu apa saja yang ditemukan di Internet dan anak sebagai penerima dari aktivitas komunikasi yang tidak sesuai. risiko kontak . ontact risk. , yaitu orang lain yang melakukan kontak kepada anak dan anak sebagai partisipan di dalam komunikasi interpersonal atau komunikasi kelompok yang berisiko. risiko tindakan . onduct risk. , yaitu anak/remaja mengontak orang lain, dimana anak sebagai pelaku dan bertindak secara sengaja untuk berkontribusi dalam risiko konten atau risiko kontak (Livingstone, 2. Selanjutnya, risiko-risiko tersebut dapat dikategorisasikan berdasarkan motivasi orang-orang . umber/produse. yang mengawali/ membuat komunikasi dan informasi online (Hasebrink. Livingstone. Haddon, & Olafsson, 2. Berdasarkan literatur dan penelitian yang menelaah tentang risiko online, diperoleh beberapa definisi tentang risiko online, yaitu: . risiko online adalah satu set pengalaman heterogen yang sengaja maupun tidak sengaja yang dapat membahayakan pengguna internet(Staksrud& Livingstone, 2009. Livingstone et al. , 2. risiko online merupakan Tabel 1. Klasifikasi Risiko Online Pada Anak Commercial Aggresive Sexual Values Content Ae Child as Recipient Advertising. Spam. Sponsorship Violent/Hateful. Content Pornographic or Unwelcome Sexual Content Racism. Biased or Misleading Info/Advice . , drug. Content Ae Child as Participant Tracking/ Harvesting Personal Info Being Bullied. Stalked or Harassed Meeting Strangers. Being Groomed Self-harm. Unwelcome Persuasion Content Ae Child as Actor Gambling. Hacking Illegal Downloads Bullying or Harassing Anothers Creating and Uploading Providing Advice e. Porn Material Suicide/ Proanorexic Chat Sumber: Hasebrink et. , al. Berbeda dengan Hasebrink et al. Leung & Lee, . mengelompokkan risiko-risiko online tersebut menjadi tiga, yaitu: . sebagai target dari pelecehan . privacy exposure. konsumsi konten pornografi dan kekerasan. Pelecehan internet adalah tindakan yang jelas bermaksud jahat untuk melakukan agresi terhadap seseorang di Internet. Tindakannya dapat berbentuk pelecehan yang disengaja atau mempermalukan seseorang atau membuat komentar kasar/buruk/menjijikan kepada seseorang ketika online (Ybarra. Diener-West & Leaf, 2007 dalam Leung. Privacy exposure mengacu pada ketidakmampuan untuk mengontrol informasi tentang diri sendiri melalui Internet terutama mengenai siapa yang dapat mengakses informasi tersebut. Livingstone dan Helsper . menemukan bahwa membuat teman online dapat dikategorikan sebagai perilaku berisiko, terutama ketika ini menyebabkan pertemuan offline, seperti memiliki memberikan informasi pribadi . eperti alamat email, nomor telepon, alamat rumah, dan informasi kartu kredi. secara online(Leung, 2. Klasifikasi dan kategorisasi yang dilakukan oleh Hasebrink et al. dan Leung & Lee . tersebut sangat membantu untuk mengelompokkan bukti-bukti pengalaman dan peristiwa berisiko di dalam lingkungan online. Lingkungan Sosial Remaja dan Risiko Online Bagaimana pengaruh lingkungan sosial remaja pada terjadinya risiko online akan dijabarkan pada -15- Jurnal Communicate Volume 2 No. 1 Juli 2016 bagian ini. Lingkungan sosial remaja yang dibahas pada artikel ini adalah keluarga, teman sebaya dan perhatian sekolah terhadap aktivitas online remaja. yaitu orang tua yang lebih mengedepankan kepatuhan dan kurang terbuka akan pandangan anak . onformity oriented famil. , cenderung menghasilkan anak yang pemalu dan anak yang senang mencari sensasi. Teman sebaya dan relasi dengan anggota keluarga terutama orang tua saling berhubungan dan saling Orang tua dan teman sebaya memengaruhi aspek yang berbeda di dalam kehidupan remaja (Bowerman & Kinch, 1959. Young & Ferguson. Contohnya, orang tua cenderung memengaruhi keputusan-keputusan tentang isu-isu moral, sedangkan teman sebaya lebih memengaruhi keputusan-keputusan tentang isu sosial seperti pilihan pertemanan dan afiliasi pada suatu kelompok (J. Young & Ferguson, 1979 dalam Chin Hooi, 2. Anak-anak dengan kepribadian ini akan menggunakan internet lebih sering dan lama serta akan mengalami resiko online yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang berada dalam keluarga yang lebih mengedepankan keterbukaan dan diskusi . onversation oriented famil. Resiko online lebih tinggi pada anak-anak dari keluarga conformity oriented karena anak-anak ini mengalami kesulitan untuk berdiskusi dengan orang tuanya lalu mereka lebih sering mengunjungi chatrooms dan bertemu offline dengan teman online. Hal ini terjadi karena mereka lebih merasa nyaman berkomunikasi online dibandingkan berkomunikasi offline (Livingstone &Helsper, 2. Lebih spesifik lagi, terutama pada bagaimana konteks keluarga berpengaruh pada penggunaan internet. Wartella . menemukan bahwa sikap dan panduan orang tua secara signifikan memengaruhi pertimbangan anak dalam menilai kualitas materi internet (Cho & Cheon, 2. Interaksi dan kualitas hubungan antara anak dengan orang tua juga berpengaruh pada pola penggunaan internet dan internet serta turut menentukan kecenderungan anak mengalami risiko online (Vandoninck, dAoHaenens. De Cock, &Donoso, 2. Di dalam keluarga yang hubungannya sangat erat satu sama lain, orang tua adalah pihak yang paling berpengaruh sebagai sumber otoritas moral dan mengontrol standar moral anak-anaknya. Tipe keluarga seperti ini memiliki keterikatan internal melalui komunikasi keluarga yang baik dan mendorong aktivitas keluarga nonmedia seperti melakukan kegiatan luar rumah dan aktivitas fisik lainnya (Cho & Cheon, 2. Survey yang dilakukan Cho dan Cheon . pada 178 keluarga menunjukkan bahwa hubungan yang erat antara orang tua dan anak . amily cohesio. mengurangi terpaan konten Internet yang negatif atau berisiko . ontent risk. Berson et al. , . melakukan survei online dimana hasil dari survei tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dapat mengurangi partisipasi remaja perempuan di dalam cyber-sex dan komunikasi online seksual yang eksplisit. Sedangkan penelitian yang dilakukan Lam dan Chan . pada 229 remaja di Hong Kong menunjukkan hubungan yang negatif antara keterlibatan orang tua dengan aktivitas melihat pornografi online. Artinya, orang tua yang terlibat aktif akan mengurangi aktivitas pornografi online pada remaja laki-laki. Studi yang mirip di Israel juga menunjukkan bahwa pengguna berat pornografi online cenderung berasal dari keluarga yang memiliki ikatan lemah (Merch, 2005 dalam Chin Hooi, 2. Penelitian Lei & Wu . menunjukkan bawah ikatan orang tua-anak yang kuat berpengaruh negatif terhadap aktivitas sosial online dan penggunaan Internet untuk kesenangan. Artinya, ikatan orang tua-anak dapat menurunkan aktivitas online anak dan remaja (Lei & Wu, 2. Penelitian Chin Hooi . menunjukkan hasil yang lebih lengkap, yaitu ikatan orang tua-anak yang kuat berpengaruh negatif pada motif menggunakan Internet untuk erotisme, hiburan, mengisi waktu luang dan interaksi Ikatan orang tua-anak yang kuat juga berpengaruh negatif pada kecanduan Internet (Chin Hooi, 2. Dalam penelitian yang menelaah tentang media sosial, relasi orang tua-anak dengan risiko kontak . ontact risk. dilakukan oleh Vandoninck et al. Relasi dengan orang tua sebagai faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi remaja di dalam media sosial. Relasi yang buruk dengan orang tua membuat remaja makin terlibat dengan media sosial. Sedangkan remaja yang memiliki relasi yang baik dengan orang tuanya dan banyak melakukan kontak dengan orang-orang di sekitarnya, cenderung untuk lebih rendah mendaftarkan diri di media sosial dan rendah motif berhubungan online dengan orang asing. Kedekatan orang tua dengan anak juga dipengaruhi bagaimana pola komunikasi yang terjadi antara orang tua dengan anak. Faktor pola komunikasi keluarga ternyata juga mempengaruhi penggunaan internet dan resiko online. Anak atau remaja yang memiliki masalah komunikasi dengan orang tuanya -16- Luthfia/Risiko Online Pada Remaja dan Pendidikan Literasi Media Baru Teman sebaya, sepertinya juga orang tua, berperan penting di dalam kehidupan remaja. Terdapat beberapa pendapat tentang peran teman sebaya pada Ada ilmuwan yang berpendapat bahwa teman sebaya bisa sebagai pihak yang berlawanan tapi juga bisa sebagai pihak yang seiring dengan orang tua . gainst or complimentar. Pendapat lain menyatakan teman sebaya sebagai tempat pengisi kekosongan dan kekurangan dari kebutuhan yang tidak dapat diperoleh dari orang tua. Pendapat ketiga menyatakan bahwa hubungan pertemanan adalah perpanjangan dari hubungan keluarga (Chin Hooi, 2. Hasil penelitian yang berhubungan dengan risiko online juga menunjukkan peran dan pengaruh yang berbeda-beda dari teman sebaya kepada remaja. Sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi penting bagi kehidupan remaja. Sekolah juga masih sebagai sumber informasi utama bagi remaja karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan di sekolah walaupun media mulai menggeser peran ini. Dari sekian banyak penelitian bertopik risiko online, hanya satu penelitian yang berhubungan dengan risiko online yang menjadikan sekolah sebagai salah satu aspek yang ditelaah walaupun banyak rekomendasi penelitian menyebutkan bahwa sekolah harus banyak berperan dalam mendidik anak-remaja tentang risiko online. Penelitian tentang peran sekolah untuk menghadang terjadinya risiko online dilakukan oleh Vanderhoven et al. Hasil dari penelitiannya menunjukkan bahwa perhatian sekolah pada topik privasi di media sosial memberikan dampak pada privacy care pada siswa. Artinya, jumlah perhatian sekolah sebagai prediktor yang signifikan pada jumlah privacy care. Semakin tinggi perhatian sekolah pada topik online privacy, semakin banyak siswa yang peduli pada privasi online mereka, walaupun tidak terdapat pengaruh langsung perhatian sekolah pada index perilaku online tidak aman. Temuan ini mengindikasikan, walaupun perhatian sekolah pada privacy care bersifat insidental Ae tidak terintegrasi dengan kurikulum sekolah Ae upaya meningkatkan kesadaran tentang privasi pada remaja akan sangat membantu dan memberi efek positif (Vanderhoven. Schellens, &Valcke, 2. Beberapa penelitian telah dilakukan tentang bagaimana pengaruh peer group pada konsumsi media dan konsumsi konten media pada remaja. Medrich . dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jaringan pertemanan mampu meningkatkan dan menguatkan terpaan terhadap musik dan film. Penelitian lain menunjukkan bahwa peer attachment dan peer pressure mempengaruhi peningkatan penggunaan media sosial untuk tujuan relasi sosial, hiburan dan mengisi waktu luang (Chin Hooi, 2011. Young &Quan-Haase, 2. Penelitian yang dilakukan Abeele et al. , . juga menunjukkan bahwa konteks pertemanan dan dinamika yang terjadi di dalam kelompok pertemanan ternyata juga dapat memberikan pengaruh negatif ketika remaja menggunakan mobile phone. Mobile phone digunakan untuk memproduksi, mengkonsumsi dan mendistribusikan pesan-pesan seksual seperti sexting dan pornografi. Remaja yang tinggi akan kebutuhan untuk populer di mata lawan jenis dan sesama jenis cenderung akan melakukan sexting dan menggunakan mobile porn. Remaja yang mengalami tekanan dalam pergaulan . eer pressur. ternyata berkorelasi positif dengan perilaku mengkonsumsi pornografi melalui mobile phone(Abeele. Campbell. Eggermont, & Roe, 2. Pendidikan Literasi Media Baru Untuk menghadang dan mengantisipasi berbagai risiko online di Internet, banyak pakar komunikasi dan pendidikan menyarankan untuk mengintensifkan pendidikan literasi media baru. Materi literasi media yang diajarkan harus termasuk literasi media Internet dan media digital yang dikenal sebagai new media literacy. Berdasarkan New Media Consortium . , literasi media abad 21 didefinisikan sebagai berikut: suatu kumpulan kemampuan dan ketrampilan visual, digital dan auditori yang harus saling melengkapi. termasuk kemampuan untuk mengenal, memahami dan memanfaatkan kekuatan gambar dan suara, juga mampu memanipulasi, mentransformasikan, menyebarluaskan dan mampu beradaptasi dengan cepat pada berbagai bentuk baru media digital (Schmidt, 2. Hasil tersebut berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Davies dan Davis . dimana mereka menguji pengaruh peer attachment terhadap penggunaan media seksual pada remaja. Ternyata, peer attachment berhubungan negatif dengan penggunaan media seksual pada remaja. Remaja yang memiliki ikatan dan relasi yang baik dengan teman sebayanya cenderung lebih minimal menggunakan media seksual dibandingkan remaja yang terisolasi (Davies & Davis, 2. Livingstone . berpendapat pendidikan literasi media di era digital harus fokus pada ekspresi kultural karena sekarang anak sebagai pembuat pesan/teks/informasi juga. Kita tidak bisa sekedar le-17- Jurnal Communicate Volume 2 No. 1 Juli 2016 bih memperhatikan ketrampilan teknis mengakses konten di internet dan tidak bisa lagi menganggap bahwa anak dan remaja hanyalah sekedar penerima Walaupun tetap saja kemampuan baca tulis dan berpikir analitis kritis sebagai modal dan dasar utama untuk membangun kompetensi literasi media (Oxstrand, 2. isi media adalah hal yang terpenting dibandingkan kompetensi yang lain. Siswa harus dididik dan diajak untuk terus- menerus berpikir analitis dan kritis terhadap isi media dan kemungkinan dampaknya untuk mereka. Orang tua pun seharusnya juga menerapkan cara berpikir analitis dan kritis di rumah ketika mendampingi anak-anak mereka mengakses Berbagai penelitian membuktikan bahwa mendampingi anak- anak dalam mengakses media dan melakukan mediasi sangat penting, terutama untuk membangun kebiasaan yang positif, meminimalisir pengaruh negatif dari isi media terutama dalam hal kontrol emosi, pembelajaran dan peniruan hal-hal negatif. Tidak hanya lebih memperhatikan kemampuan anak sebagai pembuat pesan/teks/ informasi, tapi di dalam dunia virtual berkembang juga cara belajar yang baru yaitu berjayanya kekuatan imajinasi dan kreatifitas. Untuk itu anak dan remaja harus mampu membedakan serta menerjemahkan perbedaan dan persamaan dari dunia virtual ke dalam dunia nyata (Thomas & Brown, 2006 dalam Lim. Hung. Cheah, 2. Bila dirangkum dari tujuan, definisi dan penjelasan dari berbagai lembaga tentang literasi media seperti UNESCO. The European Commission. European Charter of Media Literacy, terdapat 3 kelompok materi pokok yang diajarkan pada pendidikan literasi media (Oxtrand, 2. : Akses dan Penggunaan: mampu membaca dan menulis teks, membaca informasi audiovisual, dan memahami informasi / pesan yang diterima/diperoleh. mampu mengakses, menggunakan dan memanfaatkan berbagai jenis media serta merasa nyaman dengan keberadaan media cetak sampai pada media virtual dan digital. mampu mengakses, menyimpan, mengambil dan membagi konten pada individu atau komunitas yang berminat dan membutuhkan. Semua organisasi literasi media sepakat bahwa terdapat empat area kemampuan dan ketrampilan bermedia sangat dibutuhkan, yaitu: kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan memproduksi secara kreatif. Semua kemampuan dan ketrampilan tersebut akan mendorong aspek perkembangan individu, yaitu: kesadaran . , berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah (Oxstrand, 2. Jenkins, et al. , . menyatakan bahwa kemampuan-kemampuan berikut ini harus diajarkan pada anak-anak di kelas, yaitu: . kemampuan dan ketrampilan membaca-menulis. ketrampilan teknis menggunakan perangkat digital dan komputer. ketrampilan riset. kemampuan dan ketrampilan menganalisis dengan kritis. kemampuan dan ketrampilan untuk berpartisipasi secara sosial dalam jaringan di dunia maya (Jenkins, et al. , 2. Pemahaman: . mampu memahami bagaimana dan mengapa konten media diproduksi serta memahami adanya berbagai jenis konten dari berbagai budaya. mampu membangun ketrampilan berpikir kritis, mempertanyakan dan menganalisis berbagai jenis pesan/konten serta menjadi pengguna media yang aktif dan otonom. memahami isu hak cipta, legalitas dan etika sebagai konsumen dan produsen . memahami dan menghargai perbedaan perspektif dan sudut pandang dalam menilai suatu isu/topik/fenomena. memahami industri media dan mampu membedakan antara pluralism dan kepemilikan/konglomerasi media. Schmidt . mengidentifikasi materi media literasi apa saja yang harus diajarkan kepada siswa. Materi tersebut dikelompokkan menjadi tiga kompetensi yaitu: . kompetensi mengakses media, diajarkan tentang bagaimana mencari informasi yang relevan di Web, bagaimana membuat tulisan untuk media cetak, bagaimana mencari program televisi, bagaimana menggunakan telepon selular atau menggunakan konsol video game. kompetensi berkomunikasi melalui media, diajarkan membuat laman Web, membuat video, menciptakan gambar dan foto digital, membuat tulisan untuk dipublikasikan. kompetensi analisis media, diajarkan menganalisis isi website, menganalisis isi program televisi, isi iklan, isi musik. Siswa diajak untuk berpikir kritis tentang isi dan semua hal yang ditampilkan media, mendiskusikan pesan apa yang berusaha disampaikan oleh sumber. Kemampuan siswa menganalisis Kreasi: . mendorong produktivitas, kreativitas dan interaktivitas pada semua jenis media. kreatif menggunakan media untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan ide, informasi dan pilihan-pilihan. menciptakan website, blog dan berkontribusi positif di dalam forum diskusi Internet. Pada intinya, literasi media baru harus meliputi: . literasi media - menafsirkan pesan eksplisit dan implisit di balik tampilan dan bentuk media, berpikir kritis dan mengevaluasi karakteristik dari media -18- Luthfia/Risiko Online Pada Remaja dan Pendidikan Literasi Media Baru digital yang digunakan dan pengaruhnya pada dirinya. literasi teknologi digital - memiliki kompetensi dan paham bagaimana teknologi digital bekerja, mampu memproduksi pesan dan artefak dengan media . sekaligus sebagai konsumen. tanggung jawab sipil dan sosial - menggunakan teknologi dan media dengan cara etis, menjaga etika di dunia maya dan menghindari plagiarisme. imajinasi dan kreativitas - berekspresi dengan artistik, imajinatif dan kreatif dalam mengartikulasikan pesan yang diproduksikan untuk ditampilkan di berbagai platform Internet (Lim. Hung, & Cheah. Pendidikan literasi media dinilai sebagai cara terbaik untuk mencegah terjadinya berbagai risiko akibat penggunaan media. Sayangnya program pendidikan literasi media di Indonesia belum dilakukannya dengan baik dan terintegrasi dengan kurikulum Sedangkan tuntutan program pendidikan literasi media baru jauh lebih kompleks karena perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat dan kemampuan remaja mengakses Internet yang semakin otonom serta jauh dari observasi orang tua semakin meningkatkan kompleksitas. Selain itu, para pakar belum mengidentifikasi risiko dan cara pencegahannya. Diskusi Kesimpulan dan Saran Klasifikasi risiko online yang dikemukakan pada kajian teoritis, tidak seutuhnya dapat memisahkan antara risiko dengan kesempatan. Misalnya saja aktivitas berkenalan dengan orang baru di media sosial atau berelasi intim dengan orang dewasa, orang tua akan menilainya sebagai risiko tapi anak/remaja justru menilainya sebagai kesempatan atau manfaat mengenal orang baru. Klasifikasi ini tentunya sangat kontekstual, karena kondisi sosial ekonomi dan budaya di setiap wilayah / negara berbeda-beda dalam menilai aspek-aspek dianggap berisiko dan yang tidak berisiko. Untuk itu perlu ditelaah dan diidentifikasi ulang apa saja risiko online di setiap konteks budaya serta perlu dievaluasi secara kritis the notion and the nature of online risks, apalagi risiko tidak universal. Karakteristik media digital dan aktivitas online remaja dimana remaja sebagai konsumen dan produsen pesan, tidak hanya menjadikan remaja sebagai korban dari berbagai risiko online tapi juga dapat menjadikan remaja sebagai pelaku dari tindakan berisiko di Internet. Orang tua, teman sebaya dan perhatian sekolah pada pendidikan literasi media baru berpengaruh pada tinggi atau rendah risiko online pada remaja. Relasi yang harmonis dan erat antara orang tuaAeremaja dan teman sebayaAeremaja ternyata mampu meminimalkan terjadinya risiko online. Agar remaja mampu menghadang dan mengantisipasi risiko online yang semakin beragam, maka pendidikan literasi media baru sudah mendesak untuk dilakukan di semua sekolah dan di tengah masyarakat luas. Persepsi terhadap risiko sangat berhubungan erat dengan nilai budaya dan mekanisme moral dalam satu masyarakat (Kupiers, 2006 dalam Chu, 2. Bisa jadi apa yang dianggap berisiko tinggi di satu budaya tidak dianggap tidak masalah di budaya Misalnya saja menampilkan keintiman dengan lawan jenis di media sosial tidak menjadi masalah di USA, tapi menjadi masalah di Indonesia seperti pada kasus akun @awkarin. Sebaliknya, terdapat kasus yang tidak terjadi di negara lain tapi terjadi di Indonesia. Misalnya, pada kasus prostitusi anak online dimana muncikari kasus ini menggunakan Facebook untuk mencari dan mengontak anak-anak untuk ditawarkan kepada kaum gay. Ternyata anak-anak tersebut tidak mengalami perubahan aktivitas sehari-hari dan mereka menuturkan bahwa relasi dengan orang tuanya dinilai cukup baik. Fakta ini berbeda dengan hasil penelitian di negara lain tentang hubungan relasi orang tua-remaja dengan risiko online. Sayangnya, penelitian yang detil dan lengkap yang mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya berbagai risiko online tersebut belum dilakukan di Indonesia. Perlu dilakukan kajian dan penelitian yang menelaah gagasan dan konsep risiko online dalam konteks Indonesia. Selain kultur yang berbeda, kasus dan masalah yang dihadapi juga berbeda dengan negara lain. Kajian risiko online harus melibatkan orang tua, guru, para pakar Ae pakar IT, komunikasi, pendidikan, anak dan remaja -- dan para pembuat Penelitian yang menelaah faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya risiko online juga harus segera dilakukan, mengingat pesatnya perkembangan dan tingkat risiko. Program pendidikan literasi media baru harus terintegrasi dengan kurikulum sekolah dan menggunakan family-based approach karena orang tua dan seluruh anggota keluarga harus diberdayakan. Referensi