e-ISSN: 2747-0040 | p-ISSN: 2715-5080 Vol. 07 | No. 01 (May, 2. Strategi Pemberdayaan UMKM melalui Workshop Digitalisasi Perbankan dan Keamanan Pangan di Kampung Rawajati Liena PrajogiA*Wiwiek Mardawiyah DaryantoA David ChandrawanAYan WibisonoA AUniversitas Media Nusantara Citra. Jalan Arteri Kedoya. Jl. Komp. Green Garden Blk. A1 No. RT. 1/RW. Kedoya Utara. Kec. Kb. Jeruk. Kota Jakarta Barat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11520 lienaprajogi72_ppm@gmail. AIPMI Institute Indonesia. Jl. Rawajati Timur I No. RT. 3/RW. Rawajati. Kec. Pancoran. Kota Jakarta Selatan. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12750 daryanto@ipmi. id AU ASekolah Tinggi Manajemen PPM Jl. Menteng Raya No. RT. 1/RW. Kb. Sirih. Kec. Menteng. Kota Jakarta Pusat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340 davidchandrawan76@gmail. com AU APT Rekso Nasional Food. Jakarta. Indonesia Yan. Wibisono@id. A B S T R A KAU ARTICLEINFO Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, namun masih menghadapi kendala dalam memanfaatkan layanan perbankan digital dan penerapan standar keamanan pangan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital dan kesadaran akan keamanan pangan bagi pelaku UMKM di Kampung Rawajati melalui workshop dan pelatihan terpadu. Metode pelaksanaan meliputi edukasi, praktik langsung, dan pendampingan pasca kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa 82% peserta mengalami peningkatan pemahaman terhadap layanan perbankan digital, dan 74% memahami pentingnya keamanan pangan. Namun, hanya 46% yang mulai menerapkan QRIS dan 38% yang mengubah praktik produksi sesuai standar. Kegiatan ini mendorong perubahan pola pikir menuju usaha yang lebih adaptif dan profesional, meskipun masih dibutuhkan pendampingan lanjutan serta akses terhadap teknologi. Article History: Received : 24 Ae 04 Ae 2025 Revised : 08 Ae 05 -2025 Accepted : 15 -05 Ae 2025 Published : 28 Ae 05 Ae 2025 Keywords: Pemberdayaan UMKM Digitalisasi Perbankan Keamanan Pangan Literasi Keuangan Kampung Rawajati JEL: O10. O33. G21 pelatihan usaha yang terstruktur (Indrajaya et al. PENDAHULUAN Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 61,07 persen atau senilai Rp 573 triliun (Iqbal, 2. Selain itu. UMKM juga berperan besar dalam penyediaan lapangan kerja, pembukaan peluang usaha baru yang turut membantu mengatasi persoalan pengangguran di Indonesia (Immanuel et al. , 2. Keterbatasan pemanfaatan teknologi serta keamanan pangan membuat produk-produk yang dihasilkan belum mampu bersaing secara optimal, baik dari segi kualitas maupun jangkauan pasar. Padahal, apabila potensi ekonomi lokal dioptimalkan dengan strategi pemberdayaan yang tepat sasaran, wilayah ini memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih pesat. Oleh karena itu, strategi pemberdayaan UMKM sebaiknya tidak hanya fokus pada peningkatan modal atau produksi, tetapi juga pada penguatan kapasitas pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi serta menjaga mutu produk secara konsisten (Bintang Sari. Purwantoro, & Anwar, 2. Namun demikian, meskipun memberikan perekonomian. UMKM masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan akses terhadap teknologi digital, rendahnya literasi keuangan, serta kurangnya pemahaman mengenai standar keamanan pangan. Di era digital seperti saat ini, masih banyak pelaku UMKM yang belum memanfaatkan layanan perbankan digital secara optimalAiseperti elektronik, pinjaman online, dan pencatatan keuangan berbasis aplikasiAipadahal teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi dan daya jangkau usaha (Cahyono & Suarantalla, 2. Di sisi lain, pelaku UMKM di sektor pangan juga sering kali belum memiliki pengetahuan yang memadai mengenai keamanan pangan, yang pada akhirnya berpengaruh pada kualitas produk serta kepercayaan konsumen (Palupi. Noviyati, & Ribhi. Penerapan penggunaan mobile banking. QRIS, dan pencatatan transaksi digital berpotensi memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan efisiensi dan transparansi operasional UMKM. Sementara itu, pemahaman yang lebih baik mengenai keamanan panganAitermasuk panganAiakan menciptakan usaha yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan dari aspek kesehatan dan keselamatan konsumen. Penelitian yang dilakukan oleh Saputri et al. menunjukkan bahwa strategi integratif antara digitalisasi perbankan dan edukasi keamanan pangan sangat efektif dalam mempercepat transformasi UMKM menjadi bisnis yang adaptif, inovatif, dan responsif terhadap dinamika pasar. Di Kampung Rawajati, pendekatan berbasis pelatihan praktis dan pendampingan berkelanjutan diyakini mampu memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Melalui program ini, pelaku UMKM tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga terdorong untuk mengubah pola pikir dan perilaku bisnis menuju arah yang lebih profesional dan modern. Kondisi tersebut menjadikan pemberdayaan UMKM melalui pendekatan digitalisasi perbankan yang inklusif serta edukasi keamanan pangan sebagai strategi penting dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha, khususnya di daerah-daerah dengan potensi ekonomi lokal seperti Kampung Rawajati. Wilayah ini, yang terletak di Jakarta Selatan, memiliki karakteristik unik dengan mayoritas penduduknya mengelola usaha kecil rumahan di sektor kuliner, kerajinan, dan jasa. Meskipun berada di kawasan perkotaan, sebagian besar pelaku UMKM di Kampung Rawajati masih menjalankan usaha secara tradisional dan belum banyak tersentuh oleh Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, upaya pemberdayaan UMKM di Kampung Rawajati difokuskan pada penyelenggaraan workshop bertema AuDigitalisasi Perbankan. Food Safety, dan Kiat Sukses Membangun Bisnis Jangka Panjang. Ay Workshop ini menjadi bentuk konkret intervensi untuk memperkuat daya saing UMKM lokal melalui pendekatan praktis, aplikatif, dan Selain meningkatkan literasi digital, kegiatan ini juga memberikan edukasi terkait pentingnya praktik keamanan pangan bagi keberlangsungan usaha. dilaksanakan di IPMI Institute, yang terletak di Jakarta, sebagai bagian dari kolaborasi pengabdian masyarakat dengan Kampung Rawajati. IPMI Institute dipilih sebagai tempat penyelenggaraan karena Kampung Rawajati merupakan desa binaan IPMI, yang telah menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang lebih luas. Di sini, berbagai program edukasi dan pelatihan akan dilaksanakan, termasuk workshop yang mengintegrasikan berbagai topik seperti digitalisasi perbankan, food safety, literasi keuangan, digital marketing, dan pengembangan mindset kewirausahaan. Workshop ini juga akan mencakup persiapan untuk Launching Edu Wisata Kampung Rawajati, yang menjadi inisiatif untuk meningkatkan daya tarik wisata di kawasan Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan partisipatif berbasis workshop yang dilaksanakan di IPMI Institute, bekerja sama dengan pelaku UMKM Kampung Rawajati. Kegiatan diawali dengan survei kebutuhan untuk memetakan tantangan dan tingkat literasi pelaku usaha terhadap perbankan digital dan keamanan Selanjutnya dilakukan sosialisasi dan pelatihan yang mencakup lima topik utama: digitalisasi perbankan, keamanan pangan, literasi keuangan, kewirausahaan, dan pemasaran digital. Setelah pendampingan dalam mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh. Hasil awal menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mengalami peningkatan pemahaman, di mana 82% memahami penggunaan layanan digital dan 74% menyadari pentingnya keamanan pangan, meskipun belum seluruhnya dapat diterapkan secara optimal. Sasaran Kegiatan Sasaran utama kegiatan ini adalah para pelaku UMKM di Kampung Rawajati, yang sebagian besar menjalankan usaha kecil rumahan di bidang kuliner, kerajinan, dan jasa. Meskipun Kampung Rawajati terletak di wilayah perkotaan, mayoritas pelaku UMKM di sana masih bergantung pada metode tradisional dalam menjalankan bisnis Oleh karena itu, kegiatan ini bertujuan praktik-praktik bisnis modern yang dapat mendukung keberlanjutan dan pengembangan usaha mereka. Kegiatan ini tidak hanya terbatas pada pembahasan digitalisasi perbankan dan food safety, tetapi juga mencakup pelatihan tentang Literasi Keuangan. Growth Mindset, serta Inovasi Tepat Guna dalam Kewirausahaan dan Digital Marketing, yang semuanya ditujukan untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing pelaku UMKM di Kampung Rawajati. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini pemberdayaan UMKM melalui dua pendekatan utama: digitalisasi perbankan dan edukasi keamanan pangan. Tujuan akhirnya adalah untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, serta menyusun rekomendasi strategis yang dapat direplikasi di wilayah lain. Diharapkan, kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak jangka pendek, tetapi juga membentuk pola pikir pelaku UMKM yang lebih siap beradaptasi dalam menghadapi tantangan ekonomi digital ke depan. METODE AU Lokasi dan Sasaran Lokasi Kegiatan pemberdayaan UMKM AU Tahapan Program Persiapan dan Perencanaan Tahap perencanaan, yang melibatkan identifikasi kebutuhan spesifik dari UMKM di Kampung Rawajati serta koordinasi antara IPMI Institute dan pihak terkait di kampung tersebut. Pada tahap ini, dilakukan survei untuk mengumpulkan data mengenai kondisi usaha, tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, dan tingkat pemahaman mereka terkait digitalisasi perbankan serta keamanan Selain itu, perencanaan program meliputi penjadwalan workshop, pemilihan narasumber, dan pengaturan fasilitas yang diperlukan untuk mendukung kelancaran kegiatan. Sosialisasi dan Promosi Program Sebelum pelaksanaan kegiatan, sosialisasi kepada pelaku UMKM di Kampung Rawajati mengenai manfaat dan tujuan dari program ini. Sosialisasi dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi lokal, termasuk pengumuman di lingkungan kampung, media sosial, serta pertemuan langsung dengan kelompok-kelompok usaha. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk memastikan partisipasi aktif dari masyarakat dan memastikan mereka memahami bagaimana program ini dapat membantu usaha mereka berkembang. Tahapan terakhir adalah evaluasi dan monitoring terhadap hasil program. Pada tahap ini. IPMI Institute akan melakukan penilaian terhadap perubahan yang terjadi pada UMKM di Kampung Rawajati, baik dari segi operasional, kualitas produk, maupun penerapan digitalisasi dan standar keamanan pangan. Evaluasi ini juga meliputi survei umpan balik dari peserta workshop mengenai manfaat yang mereka peroleh serta tantangan yang masih dihadapi. Hasil evaluasi ini akan digunakan untuk memperbaiki program dan merencanakan kegiatan lebih lanjut, serta merumuskan rekomendasi untuk replikasi program di wilayah lain. Pelaksanaan Workshop dan Pelatihan Tahap inti dari program ini adalah pelaksanaan workshop dan pelatihan yang terbagi dalam beberapa sesi yang mencakup topik-topik berikut: aAU Digitalisasi Perbankan: Pelatihan tentang penggunaan mobile banking. QRIS, dan meningkatkan efisiensi dan transparansi transaksi UMKM. aAU Keamanan Pangan (Food Safet. : Edukasi tentang standar keamanan pangan, termasuk sanitasi, pengemasan yang aman, serta penyimpanan bahan pangan yang sesuai dengan peraturan kesehatan. aAU Literasi Keuangan: Pengenalan tentang pengelolaan keuangan usaha, termasuk pencatatan keuangan yang baik dan pemanfaatan produk keuangan untuk mengembangkan usaha. aAU Growth Mindset dan Kewirausahaan: Pelatihan untuk membangun pola pikir kewirausahaan yang inovatif dan adaptif terhadap perubahan pasar, serta mendorong pelaku UMKM untuk berpikir kreatif dalam mengembangkan bisnis mereka. aAU Digital Marketing: Pembelajaran tentang strategi pemasaran digital yang dapat membantu UMKM menjangkau pasar yang lebih luas melalui platform online dan media HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Literasi Digital dan Penggunaan Layanan Perbankan Digital Capaian kegiatan ini dievaluasi berdasarkan jumlah partisipasi aktif dan pengamatan selama sesi pelatihan serta pendampingan. Dari total 25 pelaku UMKM yang mengikuti program, sekitar 20 peserta secara aktif mengikuti seluruh sesi workshop dan diskusi kelompok. Dalam praktik penggunaan QRIS dan mobile banking, setidaknya 10 peserta menunjukkan kemampuan untuk melakukan simulasi transaksi digital secara Sementara itu, pada sesi keamanan pangan, lebih dari separuh peserta mampu mempraktikkan cara sanitasi dan pengemasan produk yang sesuai dengan standar yang diperkenalkan dalam pelatihan. Meskipun belum semua peserta mengadopsi perubahan secara penuh, indikator keberhasilan awal yaitu partisipasi aktif di atas 70% dan penerapan awal praktik oleh minimal 40% peserta telah tercapai. Hal ini menunjukkan potensi positif dalam peningkatan kapasitas pelaku UMKM, meskipun masih diperlukan pendampingan lanjutan untuk mendorong keberlanjutan praktik. Pendampingan dan Implementasi Setelah workshop, tahap selanjutnya adalah pendampingan yang diberikan kepada peserta untuk membantu mereka mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam bisnis mereka. Pendampingan dilakukan oleh para ahli dan fasilitator yang akan memberikan bimbingan langsung kepada para pelaku UMKM. Fokus pendampingan ini adalah pada penerapan teknologi digital dalam proses bisnis mereka, pemantauan kualitas produk yang dihasilkan, serta pengawasan dalam menerapkan standar keamanan pangan yang benar. Workshop tentang digitalisasi perbankan berhasil meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya layanan perbankan digital dalam mengoptimalkan operasional usaha mereka. Para pelaku UMKM yang hadir, terutama mereka yang sebelumnya belum familiar dengan teknologi perbankan digital, kini lebih sadar akan berbagai manfaat yang ditawarkan oleh mobile banking dan QRIS, yang dapat mempercepat transaksi, memudahkan pencatatan keuangan, serta memperluas jangkauan pasar mereka. Evaluasi dan Monitoring Namun, meskipun ada peningkatan pemahaman, sejumlah pelaku usaha masih belum sepenuhnya mengadopsi penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran utama. Beberapa alasan yang ditemukan antara lain kurangnya pemahaman tentang cara kerja QRIS, keterbatasan perangkat teknologi yang mendukung, serta kekhawatiran mengenai masalah keamanan dalam bertransaksi secara digital. Beberapa pelaku UMKM juga menyatakan bahwa mereka lebih nyaman dengan transaksi tunai, karena sudah terbiasa dengan sistem tersebut dan merasa lebih terjamin mereka yang masih menganggap bahwa produk pangan yang mereka hasilkan aman dikonsumsi tanpa benar-benar memahami standar kesehatan yang berlaku. Melalui workshop ini, peserta diberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang pentingnya pengemasan yang higienis, cara penyimpanan yang benar, serta teknik sanitasi dalam proses produksi makanan. Mereka juga diberikan pemahaman tentang cara-cara untuk menjaga mutu dan keamanan produk agar tetap kepercayaan konsumen terhadap produk yang mereka tawarkan. Di sisi lain, peserta juga diberi informasi tentang peraturan dan standar yang ditetapkan oleh pemerintah terkait dengan keamanan pangan yang wajib dipatuhi oleh para pelaku usaha. Sementara itu, beberapa pelaku UMKM yang telah mengadopsi mobile banking dan QRIS mengaku bahwa mereka merasa lebih mudah dalam mengelola transaksi harian mereka. Mereka juga mengungkapkan bahwa dengan menggunakan pembayaran digital, mereka dapat lebih transparan dalam pencatatan keuangan, yang dapat membantu mereka dalam perencanaan bisnis dan pengelolaan keuangan. Workshop ini membuka peluang bagi mereka untuk mengurangi penggunaan uang tunai, yang tentunya dapat memperkecil risiko kehilangan uang dan meningkatkan efisiensi transaksi. Meskipun terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan, tantangan terbesar dalam implementasi adalah kurangnya fasilitas yang memadai untuk menerapkan semua standar keamanan pangan. Beberapa pelaku UMKM mengungkapkan kesulitan dalam menyiapkan sarana sanitasi yang sesuai atau dalam mengubah cara pengemasan yang sudah mereka gunakan selama ini. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia dan modal untuk memperbaiki sistem produksi dan pengemasan menjadi hambatan yang cukup signifikan bagi sebagian pelaku usaha. Namun, untuk mengatasi tantangan yang ada, penting untuk memberikan pendampingan lebih lanjut yang mencakup tutorial penggunaan QRIS secara praktis dan memberikan akses lebih luas terhadap perangkat teknologi yang memadai bagi pelaku UMKM yang belum memiliki fasilitas Langkah ini diharapkan dapat mempercepat adopsi layanan perbankan digital di kalangan pelaku UMKM Kampung Rawajati, yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing usaha mereka di pasar yang semakin digital ini. Namun, hal yang sangat positif adalah adanya kesadaran yang lebih tinggi mengenai pentingnya keamanan pangan, dan banyak pelaku UMKM yang berkomitmen untuk menerapkan apa yang telah dipelajari dalam workshop. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai melakukan perbaikan pada cara mereka mengelola bahan baku dan proses produksi agar sesuai dengan standar yang Untuk memastikan perubahan ini berkelanjutan, pendampingan dan evaluasi berkala perlu dilakukan untuk memantau sejauh mana pelaku UMKM dapat mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh. Peningkatan Pengetahuan Tentang Keamanan Pangan Edukasi mengenai keamanan pangan dalam workshop ini terbukti memberikan dampak positif terhadap pengetahuan dan pemahaman pelaku UMKM, khususnya mereka yang bergerak di bidang kuliner. Sebelum mengikuti pelatihan, sebagian besar pelaku UMKM mengaku belum sepenuhnya memperhatikan aspek keamanan pangan, terutama dalam hal pengemasan, sanitasi, dan penyimpanan bahan baku. Banyak di antara Tantangan dan Hambatan Meski banyak pelaku UMKM yang menunjukkan minat dan antusiasme terhadap digitalisasi perbankan dan keamanan pangan, terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya pemahaman yang mendalam terkait penggunaan layanan digital, khususnya QRIS, di kalangan pelaku usaha yang lebih terbiasa dengan transaksi tunai. Selain itu, keterbatasan akses terhadap perangkat teknologi yang perbankan digital juga menjadi penghalang utama bagi sebagian besar pelaku UMKM, yang sebagian besar masih bergantung pada cara tradisional dalam menjalankan usahanya. mengenai penggunaan QRIS dan mobile banking. Selain itu, penting untuk memberikan dukungan berupa perangkat teknologi yang memadai, baik melalui program pemerintah atau kerja sama dengan lembaga terkait. Pendampingan Keamanan Pangan: Agar penerapan standar keamanan pangan dapat dilakukan secara konsisten, pelaku UMKM perlu mendapatkan pendampingan berkelanjutan dari ahli atau praktisi di bidang keamanan pangan. Pendampingan ini juga harus mencakup evaluasi berkala untuk memastikan perubahan yang dilakukan sesuai dengan pedoman yang telah Di sisi lain, meskipun peserta workshop menunjukkan peningkatan pemahaman tentang standar keamanan pangan, penerapannya tidak selalu mudah. Banyak pelaku UMKM yang masih kesulitan dalam mengubah kebiasaan mereka dalam produksi dan pengemasan yang sudah berlangsung lama. Keterbatasan fasilitas produksi yang memadai dan sumber daya manusia yang hambatan dalam memastikan keberlanjutan implementasi standar keamanan pangan yang lebih baik. Sosialisasi Berkelanjutan: Agar digitalisasi perbankan dan keamanan pangan menjadi bagian integral dari operasional usaha UMKM, penting untuk melakukan sosialisasi secara berkelanjutan. Hal ini bisa dilakukan melalui pertemuan rutin atau workshop yang lebih spesifik untuk memperdalam pemahaman dan keterampilan praktis di kedua bidang KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Untuk memastikan keberlanjutan program ini dan meningkatkan hasil yang telah dicapai, beberapa langkah berikut direkomendasikan: Dengan tahapan-tahapan pemberdayaan UMKM di Kampung Rawajati diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan, baik dalam peningkatan kualitas usaha maupun dalam menciptakan ekosistem kewirausahaan yang lebih inklusif dan Peningkatan Akses dan Pelatihan Digitalisasi: Agar pelaku UMKM dapat mengadopsi layanan perbankan digital dengan lebih efektif, diperlukan penyediaan pelatihan yang lebih mendalam Brown. Design thinking. Harvard Business Review, 86. , 84-92. Hanaysha. Determinants of purchasing behaviour of halal fashion products: An empirical study. Journal of Islamic Marketing, 11. , 609-626. Hawkes. The fourth pillar of sustainability: Culture's essential role in public planning. Common Ground Publishing. Joy. Sherry. Venkatesh. Wang. Chan. , & Pena. Reframing luxury fashion sustainability: A cultural perspective. Journal of Business Research, 117, 103-113. Makitalo. Artificial intelligence in fashion: A review of applications. Journal of Fashion Marketing and Management: An International Journal, 23. , 513- 531. Rahman. Islam. , & Bhuiyan. Halal fashion: An emerging trend in the global Journal of Islamic Marketing, 12. , 115-130. Shen. Li. , & Xu. Sustainable fashion consumption: A systematic review. Sustainable Production and Consumption, 23, 118-132. UNESCO. Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. Retrieved from [Insert UNESCO ICH Convention link here, if available and relevant to the specific research