ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 PENGARUH PROFITABILITAS. LEVERAGE. UKURAN PERUSAHAAN, PERTUMBUHAN PERUSAHAAN DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN: STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2013-2016 Alvina Gunawan Universitas Multimedia Nusantara Alvinagunawan20@gmail. Karina Harjanto Universitas Multimedia Nusantara Karina. harjanto@umn. Diterima 5 Mei 2019 Disetujui 30 Juni 2019 Abstract-The objective of this research is to obtain empirical evidence about the effect of profitability, leverage, companyAos size, companyAos growth and structure ownership towards dividend policy. The sample in this research is selected by using purposive sampling method. Data used in this research are secondary data. Data used in this research is analyzed by using multiple regression method. There are 10 manufacture firms selected as sample which simultaneously for the year 2013-2016 have been registered as manufacture sector in the Bursa Efek Indonesia (BEI). The results of this research show that . profitability has significant effect to dividend policy, . leverage doesnAot have significant effect to dividend policy, . companyAos size has significant effect to dividend policy, . companyAos growth doesnAot have significant effect to dividend policy, . structure ownership doesnAot have significant effect to dividend policy. Keywords : CompanyAos growth, companyAos size, dividend policy, leverage, profitability, structure ownership Pendahuluan Latar Belakang Menurut Horngren. Datar dan Rajan . , industri manufaktur adalah perusahaan sektor yang membeli bahan dan komponen, lalu mengubahnya menjadi barang jadi, contohnya perusahaan otomotif seperti Jaguar, produsen telepon seluler seperti Nokia dan perusahaan pengolahan makanan seperti Heinz. Oleh karena itu, perusahaan manufaktur merupakan salah satu industri yang berperan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Permintaan atas kebutuhan dari masyarakat mendorong meningkatnya jumlah perusahaan manufaktur dalam memenuhi kebutuhan, sehingga menciptakan adanya persaingan antara sektor industri manufaktur baik skala sedang maupun besar. Menurut Badan Pusat Statistik, perusahaan industri dikategorikan sedang, apabila mempunyai tenaga kerja antara 20 sampai dengan 99 orang, sedangkan dikategorikan besar, apabila mempunyai tenaga kerja 100 orang atau lebih. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan yang terjadi pada jumlah perusahaan manufaktur menurut Badan Pusat Statistik, yaitu: | 81 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 jumlah perusahaan manufaktur besar dan 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Grafik 1. Jumlah Perusahaan Industri Manufaktur Besar dan Sedang Tahun 2010-2015 Sumber : Badan Pusat Statistik . Berdasarkan grafik di atas, jumlah perusahaan industri manufaktur besar dan sedang selalu mengalami peningkatan dari tahun 2010 hingga 2015, yaitu pada tahun 2010 terdapat 23. perusahaan, tahun 2011 terdapat 23. 370 perusahaan, tahun 2012 terdapat 23. 592 perusahaan, tahun 2013 terdapat 23. 698 perusahaan, tahun 2014 terdapat 24. 529 perusahaan dan tahun 2015 terdapat 26. 322 perusahaan. Data-data tersebut merupakan jumlah keseluruhan perusahaan manufaktur baik yang telah go public dan yang belum go public. Berikut ini merupakan jumlah perusahaan manufaktur yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia . o publi. , yaitu: jumlah perusahaan go Grafik 2. Jumlah Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia . o publi. Sumber : Bursa Efek Indonesia Berdasarkan grafik di atas, jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2013 hingga tahun 2016 mengalami peningkatan setiap tahunnya, yaitu pada tahun 2013 sebanyak 138 perusahaan, tahun 2014 sebanyak 141 perusahaan, tahun 2015 sebanyak 143 perusahaan, tahun 2016 sebanyak 144 perusahaan. Seiring meningkatnya jumlah perusahaan manufaktur besar dan sedang memiliki dampak pada kegiatan produksi perusahaan manufaktur yang juga akan meningkat. Hal ini dapat dilihat dari nilai output industri manufaktur besar dan sedang yang juga mengalami peningkatan, yaitu sebagai berikut: Output (Triliun R. 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Grafik 3. Nilai Output Industri Manufaktur Besar dan Sedang Tahun 2010-2015 Sumber: Badan Pusat Statistik . | 82 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Berdasarkan Grafik 3, dapat dijelaskan bahwa nilai output industri manufaktur besar dan sedang secara berturut-turut mengalami peningkatan dari tahun 2010-2015, yaitu sebesar Rp 2. 208 triliun. Rp 2. 678 triliun. Rp 3. 274 triliun. Rp 3. 289 triliun. Rp 3. 624 triliun dan Rp 4. 193 triliun. Hal ini dapat menunjukkan perusahaan manufaktur sedang bertumbuh pada tingkat produksi. Dalam mempertahankan pertumbuhan tersebut, perusahaan industri manufaktur membutuhkan pendanaan yang dapat dilakukan melalui pendanaan internal dan pendanaan eksternal. Pendanaan internal merupakan pendanaan yang berasal dari pihak dalam perusahaan contohnya modal pemilik dan laba yang ditahan . etained earning. , sedangkan pendanaan eksternal merupakan pendanaan yang berasal dari berutang dengan pihak luar perusahaan, seperti dari pihak bank, kreditor dan penerbitan saham. Dalam menerbitkan saham, perusahaan manufaktur memperoleh modal yang berasal dari investor yang mengharapkan adanya tingkat pengembalian. Oleh sebab itu, perusahaan harus bersikap bijaksana dalam mengalokasikan laba untuk menyejahterahkan kepentingan pemegang saham dan perusahaan. Contohnya adalah pada tahun 2016. PT. Kalbe Farma Tbk memiliki laba bersih sebesar Rp 2,3 triliun, dimana laba bersih mengalami peningkatan sebesar 14,25% dari laba bersih tahun 2015. Peningkatan laba bersih berdampak pada pembagian dividen tunai pada tahun 2017 sebesar Rp 1,03 triliun dengan rasio pembagian dividen sekitar 44,8% atas laba bersih tahun buku 2016. Menurut Vidjongtius selaku direktur, pembagian rasio dividen telah dipertimbangkan dengan kebutuhan dana operasional dan investasi perusahaan, seperti rencana pengembangan perseroan. Secara garis besar, sumber pembiayaan perusahaan dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu pembiayaan utang dan pembiayaan ekuitas. Pembiayaan utang . ebt financin. adalah pembiayaan yang dilakukan dengan cara menerbitkan surat utang, seperti wesel ataupun Dalam hal ini, kebutuhan dana perusahaan diperoleh dengan cara melakukan pinjaman atau berutang kepada kreditor. Sedangkan yang dimaksud dengan pembiayaan ekuitas . quity financin. adalah pembiayaan yang bersumber dari modal sendiri . ntuk jenis perusahaan perorangan dan firm. atau pembiayaan yang dilakukan dengan cara menerbitkan surat ekuitas, yaitu saham (Hery, 2. Menurut Bursa Efek Indonesia, saham . merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling populer. Saham merupakan instrumen investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan berupa pengembalian/ return bagi para pemegang saham dalam bentuk dividen dan capital gain. Dividen merupakan pendistribusian yang dilakukan oleh pihak perusahaan dalam bentuk tunai atau saham kepada para pemegang sahamnya secara proporsional . ebanding dengan kepemilikan yang dimilik. (Weygandt. Kimmel dan Kieso, 2. Sedangkan menurut Sari. Oemar dan Andini . , capital gain adalah suatu keuntungan atau laba yang diperoleh dari investasi dalam surat berharga atau efek, seperti saham dan obligasi atau dalam bidang properti, di mana nilainya melebihi harga pembelian. Dalam keputusan membagikan dividen, perusahaan harus mempertimbangkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaannya. Besar kecilnya dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham tergantung pada kebijakan dividen masing-masing perusahaan, sehingga pertimbangan manajemen sangat diperlukan (Juliana, 2. Kebijakan dividen merupakan keputusan yang diambil oleh perusahaan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba | 83 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 ditahan guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang (Silaban dan Purnawati, 2. Menurut Weygandt. Kimmel dan Kieso . , laba ditahan atau retained earnings adalah laba bersih yang dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan di masa depan. Kebijakan dividen pada perusahaan melibatkan pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan saling bertentangan, yaitu pemegang saham yang mengharapkan dividen, dan perusahaan yang mengharapkan laba yang ditahan (Muhammad, 2009 dalam Devi dan Erawati, 2. Oleh karena itu, kebijakan dividen perlu diperhatikan dalam setiap perusahaan karena saat perusahaan memiliki potensi yang besar dalam membagikan dividen, maka perusahaan memberikan sinyal kepada para investor bahwa perusahaan sedang dalam keadaan yang baik dan menguntungkan, sehingga banyak investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut dan dapat memberikan dampak positif yang akan berpengaruh terhadap kenaikan harga saham. Sedangkan sebaliknya, jika perusahaan memutuskan untuk menahan laba, maka perusahaan memiliki potensi yang besar untuk melakukan kegiatan investasi di masa mendatang, namun potensi perusahaan dalam membagikan persentase laba berupa dividen akan kecil. Oleh karena itu, penting oleh perusahaan dalam menetapkan kebijakan dividen yang dapat dilakukan dengan menyeimbangkan kebijakan dengan kondisi suatu perusahaan. Dalam penelitian ini, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kebijakan dividen terdiri dari 5 . variabel, yaitu profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan dan struktur kepemilikan. Kebijakan dividen diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR), yaitu rasio yang mengukur seberapa besar bagian laba bersih setelah pajak yang dibayarkan sebagai dividen kepada pemegang saham (Iswara, 2. Dengan semakin tingginya DPR semakin kecil dana yang tersedia untuk ditanamkan kembali ke perusahaan sebagai laba ditahan dan semakin besar dividen dibagikan kepada pemegang saham (Agustina dan Andayani, 2. Dalam penelitian ini, variabel independen pertama adalah profitabilitas. Profitabilitas adalah tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasinya (Oktaviani dan Basana, 2. Perhitungan profitabilitas diukur dengan menggunakan return on equity (ROE). Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola equity untuk menghasilkan laba bersih perusahaan (Weygandt. Kimmel dan Kieso, 2. Semakin tinggi return on equity (ROE), menunjukkan laba yang diperoleh perusahaan dengan equity yang dimiliki meningkat, sehingga perusahaan memiliki dana yang cukup untuk membiayai kegiatan operasionalnya dan memiliki potensi yang besar membagikan laba dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham atau Dividend Payout Ratio perusahaan tinggi. Variabel independen yang kedua adalah leverage. Leverage adalah ukuran rasio utang perusahaan yang digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh sebuah perusahaan menggunakan pendanaan melalui utang (Damayanti, 2. Dalam mengukur leverage digunakan rasio Debt Equity Ratio (DER). Rasio ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar utang perusahaan jika dibandingkan dengan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Perusahaan dengan tingkat Debt Equity Ratio yang tinggi lebih berisiko karena memiliki kewajiban untuk membayar pokok utang . dan bunga. Tingginya kewajiban yang harus dibayarkan akan mengurangi laba yang diterima oleh perusahaan. Dengan demikian, perusahaan akan lebih memprioritaskan terlebih dahulu untuk membiayai semua | 84 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 kewajibannya dan memiliki potensi yang rendah dalam membagikan labanya berupa dividen kepada para pemegang saham atau jumlah Dividend Payout Ratio perusahaan rendah. Variabel independen selanjutnya adalah ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan . irm siz. merupakan salah satu alat ukur besar kecilnya perusahaan (Sari. Oemar dan Andini, 2. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan natural logaritma dari total asset. Semakin tinggi aset perusahaan menggambarkan semakin besar ukuran Semakin tinggi jumlah aset, perusahaan dapat memanfaatkan aset yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas perusahaan, sehingga perusahaan memiliki potensi untuk memperoleh laba yang tinggi. Laba yang tinggi menyebabkan perusahaan memiliki potensi yang besar dalam membagikan dividen kepada para pemegang saham atau Dividend Payout Ratio perusahaan tinggi dibandingkan dengan perusahaan dengan ukuran kecil. Variabel independen selanjutnya adalah pertumbuhan perusahaan. Pertumbuhan suatu perusahaan merupakan tanda bahwa perusahaan tersebut memiliki dampak yang menguntungkan dan mengharapkan rate of return . ingkat pengembalia. dari investasi yang dilakukan menunjukkan pengembangan yang baik dari sudut pandang investor (Silaban dan Purnawati, 2. Tingkat pertumbuhan perusahaan yang tinggi menunjukkan perusahaan sedang mengalami pertumbuhan dan memiliki banyak kesempatan investasi (Budiman dan Harnovinsah, 2. Semakin tinggi pertumbuhan aset yang dimiliki perusahaan, maka semakin besar juga tingkat kebutuhan dana untuk membiayai total aset perusahaan. Oleh sebab itu, perusahaan akan lebih memilih untuk menahan labanya untuk membiayai investasi dan pertumbuhan untuk kebutuhan di masa mendatang, sehingga potensi perusahaan dalam membagikan dividen rendah atau Dividend Payout Ratio perusahaan rendah. Variabel independen yang terakhir adalah struktur kepemilikan. Struktur kepemilikan adalah proporsi kepemilikan institusional dan kepemilikan manajemen dalam kepemilikan saham dalam suatu perusahaan (Silaban dan Purnawati, 2. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini diproksikan dengan kepemilikan manajerial. Damayanti . menyatakan bahwa kepemilikan manajerial adalah bentuk kepemilikan saham yang diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen perusahaan . ebagai investo. yang menanamkan saham pada perusahaan. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin tinggi kepemilikan saham oleh manajemen dalam suatu perusahaan. Kepemilikan manajemen yang tinggi menyebabkan manajemen mempunyai kontrol yang tinggi atas perusahaan termasuk kontrol atas membagikan dividen. Manajerial sebagai pemilik tentunya memiliki kepentingan agar perusahaan memberikan dividen, sehingga perusahaan memiliki potensi yang besar dalam membagikan dividen kepada para pemegang saham atau Dividend Payout Ratio perusahaan tinggi. Batasan Masalah Variabel independen yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 5 . , yaitu profitabilitas yang diproksikan dengan return on equity ratio, leverage yang diproksikan dengan Debt Equiy Ratio, ukuran perusahaan yang diproksikan dengan natural logaritma total aset, pertumbuhan perusahaan yang dihitung berdasarkan selisih antara total aset yang dimiliki perusahaan pada tahun berjalan dengan total aset tahun sebelumnya dan dibagi dengan total aset tahun sebelumnya dan struktur kepemilikan yang diproksikan dengan struktur kepemilikan manajerial dengan menggunakan sampel dengan perusahaan manufaktur | 85 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 yang telah terdaftar di BEI selama periode 2013-2016. Penelitian ini menggunakan variabel dependen kebijakan dividen yang diproksikan dengan rasio Dividend Payout Ratio. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu: Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan pada Dividend Payout Ratio (DPR)? Apakah leverage berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan pada Dividend Payout Ratio (DPR)? Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan pada Dividend Payout Ratio (DPR)? Apakah pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan pada Dividend Payout Ratio (DPR)? Apakah struktur kepemilikan berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan pada Dividend Payout Ratio (DPR)? Tujuan Penelitian Berdasarkan penelitian yang dilakukan melalui rumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk: Memperoleh bukti empiris pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan dividen. Memperoleh bukti empiris pengaruh leverage terhadap kebijakan dividen. Memperoleh bukti empiris pengaruh ukuran perusahaan terhadap kebijakan dividen. Memperoleh bukti empiris pengaruh pertumbuhan perusahaan terhadap kebijakan dividen. Memperoleh bukti empiris pengaruh struktur kepemilikan terhadap kebijakan dividen. II. Tinjauan Literatur dan Hipotesis 1 Dividen Menurut Weygandt. Kimmel, dan Kieso . , dividen adalah distribusi laba yang dilakukan oleh pihak korporasi kepada para pemegang saham dalam bentuk kas atau saham sesuai dengan proporsi kepemilikan yang dimiliki. Selain itu, menurut Prihadi . , dividen adalah laba yang dibagi. Faktor utama penentu dividen adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dipengaruhi oleh dua hal, yaitu: kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan dan kemampuan perusahaan dalam mengelola beban. 2 Kebijakan Dividen Menurut Sari. Oemar dan Andini . , kebijakan dividen merupakan suatu kebijakan penting dalam perusahaan yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan secara seksama. Dalam kebijakan dividen ditentukan jumlah alokasi laba yang dapat dibagikan kepada pemegang saham . dan alokasi laba yang harus ditahan perusahaan. Menurut Budiman dan Harnovinsah . , adapun teori-teori dalam kebijakan dividen yang dapat dijadikan sebagai landasan dalam menentukan kebijakan dividen yang tepat untuk digunakan oleh perusahaan, yaitu dividend irrelevance theory, bird in the hand theory, teori preferensi pajak, dan agency theory. Menurut Bansaleng. Tommy dan Saerang . , agency theory menjelaskan bahwa terdapat berbagai pihak dalam sebuah perusahaan yang saling bertentangan dan pada dasarnya memiliki kepentingan yang berbeda. Pada dasarnya pihak investor tidak terlalu menyukai keputusan yang diambil oleh pihak manajemen | 86 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 perusahaan yang ingin menahan laba untuk dijadikan laba ditahan. Pihak investor lebih menuntut agar manajemen memperhatikan kesejahteraan mereka dengan membagikan laba/keuntungan tersebut kepada mereka atau biasa disebut dengan dividen. Sebaliknya, pihak manajemen pun harus mementingkan kepentingan perusahaan yakni menahan laba untuk di investasikan lagi di masa yang akan datang demi kelangsungan hidup dari perusahaan itu sendiri. Kebijakan dividen diproksikan menggunakan Dividend Payout Ratio. Dividend Payout Ratio yaitu persentase laba yang dibagikan dalam bentuk dividen tunai, artinya besar kecilnya Dividend Payout Ratio akan mempengaruhi keputusan investasi pemegang saham dan di sisi lain berpengaruh pada kondisi keuangan perusahan (Silaban dan Purnawati, 2. Selain itu, menurut Oktaviani dan Basana . Dividend Payout Ratio adalah perbandingan antara dividen yang dibayarkan dengan laba bersih yang didapatkan dan biasanya disajikan dalam bentuk persentase. Rasio ini menggambarkan jumlah laba dari setiap lembar saham yang dialokasikan dalam bentuk dividen (Hery, 2. 3 Profitabilitas Profitabilitas adalah tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasinya (Oktaviani dan Basana, 2. Menurut Weygandt. Kimmel dan Kieso . , rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur perusahaan dalam memperoleh pendapatan atau keberhasilan dalam suatu kegiatan operasional dengan waktu yang telah diberikan atau periode tertentu. Return on equity merupakan rasio yang menunjukkan hasil . atas penggunaan ekuitas perusahaan dalam menciptakan laba Dengan kata lain, rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dan yang tertanam dalam total ekuitas (Hery, 2. Adapun menurut Yudiana dan Yadyana . menyatakan bahwa semakin tinggi return on equity yang dimiliki suatu perusahaan maka akan semakin tinggi pula dividen yang Return on equity menunjukkan sejauh mana perusahaan dapat mengelola modal sendiri . secara efektif dan mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemegang saham perusahaan. Oleh karena dividen merupakan sebagian dari laba bersih yang diperoleh perusahaan, maka dividen akan dibagikan jika perusahaan memperoleh Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah: Ha1 : Profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan dividen. 4 Leverage Menurut Wicaksono dan Nasir . leverage merupakan ukuran rasio hutang perusahaan. Rasio leverage menunjukkan berapa besar sebuah perusahaan menggunakan utang dari luar untuk membiayai operasi maupun ekspansi dirinya (Budiman dan Harnovinsah, 2. Dalam mengukur Leverage, digunakan Debt to Equity Ratio. Menurut Rahmawati. Saerang dan Rate . Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam . dengan pemilik perusahaan. Sari dan Sudjarni . menyatakan semakin tinggi rasio leverage menunjukkan bahwa semakin besar kewajiban yang harus dipenuhi oleh perusahaan, sebaliknya semakin rendah | 87 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 rasio leverage menunjukan bahwa perusahaan mampu memenuhi kebutuhan pendanaan perusahaan dengan modal sendiri. Tingginya kewajiban yang harus dibayarkan akan mengurangi laba yang didapat perusahaan, tentunya akan berdampak pada pembagian Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah: Ha2: Leverage berpengaruh terhadap kebijakan dividen. 5 Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan . irm siz. merupakan salah satu alat ukur besar kecilnya perusahaan. Semakin besar dan mapan perusahaan akan memiliki pemikiran yang lebih luas, memiliki kualitas karyawan yang tinggi, dan sumber informasi yang banyak bila dibandingkan dengan perusahaan yang kecil yang belum mapan (Sari. Oemar dan Andini, 2. Dalam penelitian ini digunakan log natural dari total aset. Berdasarkan penelitian Setiawati dan Yesisca . , semakin besar ukuran sebuah perusahaan, semakin tinggi tingkat pembayaran dividen. Ukuran perusahaan dapat dilihat dari besarnya total aset yang dimiliki. Semakin besar jumlah total aset yang dimiliki menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki prospek yang baik pada masa depan. Selain itu, perusahaan tersebut relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba bernilai positif. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah: Ha3 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kebijakan deviden. 6 Pertumbuhan Perusahaan Menurut Sari. Oemar dan Andini . , pertumbuhan perusahaan adalah suatu tujuan yang sangat diharapkan oleh pihak internal maupun eksternal suatu perusahaan karena memberikan dampak yang baik bagi perusahaan maupun pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan seperti investor, kreditur dan para pemegang saham. Pertumbuhan merupakan rasio antara total aset tahun berjalan dan total aset tahun berjalan dikurangi total aset tahun sebelumnya (Gunawan dan Djohan, 2. Dalam penelitian ini, pertumbuhan perusahaan diukur menggunakan selisih antara total aset tahun berjalan dengan total aset tahun sebelumnya, dibagi dengan total aset tahun Menurut Silaban dan Purnawati . , semakin tinggi tingkat pertumbuhan suatu perusahaan maka semakin kecil dividen yang dibagikan kepada pemegang saham karena manajer lebih memilih menahan laba perusahaan guna membiayai investasi perusahaan di masa yang akan datang. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah: Ha4 : Pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap kebijakan dividen. 7 Struktur Kepemilikan Dalam penelitian ini, untuk mengukur struktur kepemilikan menggunakan struktur kepemilikan manajerial. Menurut Damayanti . , struktur kepemilikan manajerial adalah bentuk kepemilikan saham yang diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen perusahaan . ebagai investo. yang menanamkan saham pada perusahaan. | 88 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Berdasarkan penelitian Jayanti dan Puspitasari . , semakin tinggi kepemilikan manajerial, maka semakin besar dividen yang akan dibayarkan. Kepemilikan manajerial yang tinggi akan menyejajarkan kepentingan manajemen dengan kepentingan pemegang saham. Manajer akan bertindak lebih hati-hati, karena manajer, yang juga merupakan pemegang saham, juga akan menanggung segala konsekuensi yang menguntungkan maupun merugikan pemegang saham, sehingga kebijakan manajemen perusahaan yang akan diterapkan dapat meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Ketika manajer memiliki saham dalam perusahaan, maka ia cenderung akan mengarah pada keputusan pembayaran dividen yang lebih besar sebagai pengembalian atas investasinya. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah: Ha5 : Struktur kepemilikan berpengaruh terhadap kebijakan dividen. 8 Model Penelitian Gambar 1. Model Penelitian i. Metode Penelitian 1 Gambaran Umum Objek Penelitian Objek penelitian yang digunakan adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar secara berturut-turut di Bursa Efek Indonesia dan membagikan dividen tunai selama tahun 2 Metode Penelitian Metode yang digunakan adalah causal study. Menurut Sekaran dan Bougie . studi ini digunakan untuk menguji apakah satu variabel dapat menyebabkan adanya perubahan pada variabel lainnya, seperti variabel X mempengaruhi variabel Y. Penelitian ini akan menganalisis pengaruh profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan dan struktur kepemilikan terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan rasio Dividend Payout Ratio (DPR). 3 Variabel Penelitian Menurut Sekaran dan Bougie . , variabel merupakan segala sesuatu yang mengandung nilai yang bervariasi. Variabel penelitian yang digunakan, terdiri dari 2 jenis, yaitu variabel | 89 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 dependen . ariabel Y) dan variabel independen . ariabel X) yang menggunakan skala rasio. Skala rasio adalah skala interval dan memiliki nilai dasar . ased valu. yang tidak dapat dirubah (Ghozali, 2. Kedua jenis variabel ini dapat didefinisikan, sebagai berikut: 1 Variabel Dependen Menurut Sekaran dan Bougie . , variabel dependen merupakan variabel utama yang menjadi fokus bagi para peneliti untuk diteliti. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kebijakan dividen. Menurut Sari. Oemar dan Andini . , kebijakan dividen merupakan suatu kebijakan penting dalam perusahaan yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan secara seksama. Dalam kebijakan dividen ditentukan jumlah alokasi laba yang dapat dibagikan kepada pemegang saham . dan alokasi laba yang harus ditahan perusahaan. Kebijakan dividen diproksikan menggunakan Dividend Payout Ratio (DPR). Menurut Silaban dan Purnawati . Dividend Payout Ratio yaitu persentase laba yang dibagikan dalam bentuk dividen tunai, artinya besar kecilnya Dividend Payout Ratio akan mempengaruhi keputusan investasi pemegang saham dan di sisi lain berpengaruh pada kondisi keuangan Menurut Subramanyam . Dividend Payout Ratio (DPR) dirumuskan sebagai berikut: Dividend Payout Ratio = Cash Dividends Per Share Earning Per Share 2 Variabel Independen Menurut Sekaran dan Bougie . , variabel independen adalah variabel yang dapat mempengaruhi variabel dependen dengan arah yang positif ataupun negatif. Variabel-variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 5 . variabel, yaitu profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan, dan struktur Setiap variabel didefinisikan, sebagai berikut: 1 Profitabilitas Return On Equity merupakan rasio yang menunjukkan hasil . atas penggunaan ekuitas perusahaan dalam menciptakan laba bersih (Hery, 2. Menurut Weygandt. Kimmel dan Kieso . , untuk menghitung Return On Equity dapat menggunakan rumus: Return On Equity= Net Income - Preference Dividends Average Ordinary Shareholders' Equity Menurut Weygandt. Kimmel dan Kieso . perhitungan rata-rata total equity adalah sebagai berikut: Average Shareholders'Equity = Ordinary Total Equityt Total Equity t-1 2 Leverage Menurut Rahmawati. Saerang dan Rate . Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Menurut Subramanyam . Debt to Equity Ratio (DER) dirumuskan sebagai berikut: Debt To Equity = Total Liabilities Shareholders' Equity | 90 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 3 Ukuran Perusahaan Menurut Sari. Oemar dan Andini . , ukuran perusahaan . irm siz. merupakan salah satu alat ukur besar kecilnya perusahaan. Menurut Oktaviani dan Basana . , ukuran perusahaan dirumuskan sebagai berikut: Size = Ln. (Total Asse. 4 Pertumbuhan Perusahaan Pertumbuhan perusahaan adalah suatu tujuan yang sangat diharapkan oleh pihak internal maupun eksternal suatu perusahaan karena memberikan dampak yang baik bagi perusahaan maupun pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan seperti investor, kreditur dan para pemegang saham (Sari. Oemar dan Andini, 2. Menurut Sari. Oemar dan Andini . , pertumbuhan perusahaan dirumuskan sebagai berikut: Growth = Total Assetst - Total Assets t-1 Total Assets t-1 5 Struktur Kepemilikan Struktur kepemilikan manajerial adalah bentuk kepemilikan saham yang diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen perusahaan . ebagai investo. yang menanamkan saham pada perusahaan (Damayanti, 2. Menurut Jayanti dan Puspitasari . , kepemilikan manajerial dirumuskan sebagai berikut: KM = Jumlah Kepemilikan Saham Manajerial Total Saham Perusahaan 4 Teknik Pengumpulan Data Dalam melakukan pengumpulan data, penelitian ini menggunakan data sekunder. Menurut Sekaran dan Bougie . , data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh orang lain untuk tujuan tertentu selain tujuan penelitian saat ini. Sumber data diperoleh dari laporan keuangan perusahaan manufaktur periode 2013 hingga 2016 di Bursa Efek Indonesia. Laporan keuangan yang digunakan dapat diakses melalui w. 5 Teknik Pengambilan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang mencatatkan laporan keuangan perusahaan tahun 2013 hingga tahun 2016 dengan tanggal pelaporan 31 Desember 2013, 31 Desember 2014, 31 Desember 2015 dan 31 Desember 2016 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel yang dipilih nantinya memiliki batasan-batasan yang harus dimiliki oleh perusahaan tersebut: Perusahaan manufaktur go public yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 20132016 secara berturut-turut. Menyajikan laporan keuangan selama tahun 2013-2016 dan telah diaudit oleh auditor independen. Laporan keuangan perusahaan tahun 2013-2016 berakhir pada 31 Desember dan penyajiannya menggunakan mata uang Rupiah. Memperoleh laba positif secara berturut-turut selama tahun 2013-2016. Membagikan dividen tunai berturut-turut selama tahun 2013-2016. | 91 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tidak melakukan share split atau share reverse pada laporan keuangan selama tahun Memiliki kepemilikan saham manajerial pada laporan keuangan tahun 2013-2016 secara berturut-turut. Asetnya mengalami peningkatan secara berturut-turut pada laporan keuangan pada tahun 6 Teknik Analisis Data Analisis data-data yang diperoleh dalam penelitian ini, antara lain: 1 Statistik Deskriptif Menurut Ghozali . , statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata . , standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum serta range. 2 Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Untuk mendeteksi normalitas distribusi data, dalam penelitian ini digunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov (K-S) (Ghozali, 2. : Hipotesis ini menandakan bahwa jika nilai signifikansi lebih besar sama dengan (O. 05, maka data terdistribusi secara normal. Sedangkan sebaliknya, jika data dengan nilai signifikansi lebih kecil (<) dari 0. 05, maka dikatakan data tidak terdistribusi secara normal. 3 Uji Asumsi Klasik Sebelum dilakukannya pengujian hipotesis, yang terlebih dahulu akan dilakukan adalah uji asumsi klasik, yaitu: 1 Uji Multikolonieritas Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas . Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen (Ghozali, 2. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi ialah dengan melihat dari nilai tolerance dan lawannya variance inflation factor (VIF). Nilai cutoff yang umumnya digunakan untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance O 0,10 atau sama dengan nilai VIF Ou 10 (Ghozali, 2. 2 Uji Autokorelasi Menurut Ghozali . , uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 . Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi (Ghozali, 2. Dalam penelitian ini untuk mendeteksi terjadinya autokorelasi digunakan uji Durbin-Watson. Uji Durbin-Watson digunakan untuk autokorelasi tingkat satu . irst order autocorrelatio. dan mensyaratkan adanya intercept . dalam model regresi dan tidak ada variabel lag di antara variabel independen. Tabel 1. Dasar Pengambilan Keputusan Durbin-Watson Hipotesis nol Tidak ada autokorelasi positif Tidak ada autokorelasi positif Tidak ada korelasi negatif Tidak ada korelasi negatif Keputusan Tolak No decision Tolak No decision | 92 | Vol. No. 1 | Juni 2019 Jika 0 < d < dl dl O d O du 4-dl < d < 4 4-du O d O 4-dl ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tidak ada autokorelasi, positif atau Tidak ditolak du < d < 4-du Sumber : Ghozali . 3 Uji Heteroskedastisitas Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskesdatisitas (Ghozali, 2. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi-Y sesungguhny. yang telah distudentized. Dalam menganalisis, jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur . ergelombang, melebar kemudian menyempi. , maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Selain itu, jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2. 4 Uji Hipotesis Dalam melakukan uji hipotesis, metode analisis yang digunakan adalah metode regresi linier berganda karena terdapat lebih dari satu variabel independen. Berikut ini merupakan persamaan regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian, yaitu: DPR : 1 ROE 2 DER 3 Size 4 Growth 5 KM e Keterangan DPR 1, 2, 3, 4, 5 ROE DER Size Growth : Dividend Payout Ratio : Konstanta : Koefisien regresi variabel independen : Profitabilitas : Leverage : Ukuran Perusahaan : Pertumbuhan Perusahaan : Struktur Kepemilikan : Standard Error Dalam melakukan pengujian hipotesis, dapat dilakukan dengan cara 3 jenis pengujian yang terdiri dari: 1 Uji Koefisien Determinasi Analisis korelasi (R) bertujuan untuk mengukur hubungan linear antara dua variabel. Nilai R menunjukkan koefisien korelasi, yaitu mengukur kekuatan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Nilai koefisien korelasi antara -1 dan 1. Tanda negatif (-) menunjukkan bahwa variabel independen memiliki hubungan negatif dengan variabel dependen. Tanda positif ( ) menunjukkan bahwa variabel independen memiliki hubungan positif dengan variabel dependen. Kriteria kekuatan hubungan adalah sebagai berikut (Sarwono, 2. Tabel 2. Kriteria Hubungan Kekuatan Tidak ada korelasi antar variabel >0 Ae 0. Korelasi sangat lemah >0. 25 Ae 0. Korelasi cukup | 93 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 >0. 5 Ae 0. >0. 75 Ae 0. Korelasi kuat Korelasi sangat kuat Korelasi sempurna Uji koefisien determinasi (R. digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai (R. yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel-variabel dependen amat terbatas. Sebaliknya, nilai yang mendekati satu berarti bahwa variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2. 2 Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat (Ghozali, 2. Uji statistik F mempunyai kriteria pengambilan keputusan dengan quick look, yaitu bila nilai F lebih besar daripada 4 maka Ho dapat ditolak pada derajat kepercayaan 5% (Ghozali, 2. 3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik . Menurut Ghozali . , uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/ independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel Uji t dapat dilakukan dengan cara quick look, yaitu bila jumlah . adalah 20 atau lebih, dan derajat kepercayaan sebesar 5%, maka hipotesis alternatif dapat ditolak bila nilai t lebih besar dari 2 . alam nilai absolu. IV. Hasil dan Pembahasan 1 Objek Penelitian Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar secara berturut-turut di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2016. Berikut ini merupakan tabel rincian pengambilan sampel penelitian: Tabel 3. Rincian Pengambilan Sampel Penelitian No. Kriteria Sampel Jumlah Perusahaan 1 Perusahaan manufaktur go public yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2013 hingga 2016 secara berturutturut. 2 Menyajikan laporan keuangan selama tahun 2013-2016 dan telah diaudit oleh auditor independen. 3 Laporan keuangan perusahaan tahun 2013-2016 berakhir pada 31 Desember dan penyajiannya menggunakan mata uang Rupiah. 4 Memperoleh laba positif secara berturut62 turut selama tahun 2013-2016 5 Membagikan dividen tunai berturut-turut selama tahun 2013-2016. 6 Tidak melakukan share split atau share | 94 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 reverse pada laporan keuangan selama tahun 2013-2016. Memiliki kepemilikan saham manajerial pada laporan keuangan tahun 2013-2016 secara berturut-turut Asetnya mengalami peningkatan secara berturut-turut pada laporan keuangan tahun 2013-2016 Jumlah sampel dalam penelitian ini 2 Analisis dan Pembahasan 1 Statistik Deskriptif Statistik deskriptif merupakan gambaran atau deskripsi mengenai kebijakan dividen, profitabilitas (Return on Equit. , leverage (Debt to Equit. , ukuran perusahaan . , pertumbuhan perusahaan . dan kepemilikan manajerial (KM). Berikut ini merupakan hasil uji statistik deskriptif: Tabel 4. Hasil Statistik Deskriptif Descriptive Statistics ROE DER SIZE GROWTH DPR Valid N . Range Minimum Maximum Mean Std. Deviation Berdasarkan hasil statistik deskriptif pada Tabel 4, nilai minimum dari variabel profitabilitas yang diproksikan dengan Return On Equity (ROE) adalah 0,03968 (PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk. , 2. dan nilai maksimum 1,34479 (PT Unilever Indonesia Tbk. , 2. sedangkan selisih antara nilai maksimum dengan minimum adalah 1,30511. Dari seluruh sampel yang diambil, rata-rata variabel ROE sebesar 0,2669660. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dari setiap rupiah yang ditanam oleh investor menghasilkan pendapatan bersih adalah sebesar 0,2669660 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,35883806. Variabel leverage yang diproksikan dengan Debt To Equity (DER) memiliki nilai minimum adalah 0,12484 (PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk. , 2. dan nilai maksimum 2,55969 (PT Unilever Indonesia Tbk. , 2. , sedangkan selisih antara nilai maksimum dengan minimum adalah 2,43485. Dari seluruh sampel yang diambil, rata-rata variabel DER sebesar 0,7192125. Hal ini dapat disimpulkan bahwa perbandingan antara jumlah ekuitas dengan jumlah hutang yang dimiliki oleh perusahaan adalah sebesar 0,7192125 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,62686846. Variabel ukuran perusahaan yang diproksikan dengan natural logaritma total aset memiliki nilai minimum adalah 26,26999 (PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk. ,2. dan nilai maksimum 33,19881 (PT Astra Internasional Tbk. ,2. sedangkan selisih antara nilai maksimum dengan minimum adalah 6,92882. Dari seluruh sampel yang diambil, rata-rata variabel size sebesar 29,0151242. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan yang dilihat dari total aset adalah sebesar 29,0151242 dengan nilai standar deviasi sebesar 1,88654522. | 95 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Variabel pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan growth memiliki nilai minimum adalah 0,00611 (PT Wismilak Inti Makmur Tbk. , 2. dan nilai maksimum 0,50683 (PT Sekar Laut Tbk. , 2. , sedangkan selisih antara nilai maksimum dengan minimum adalah 0,50072. Dari seluruh sampel yang diambil, rata-rata perusahaan yang mengalami peningkatan total aset adalah sebesar 0,1352438 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,10807251. Variabel struktur kepemilikan yang diproksikan dengan kepemilikan manajerial memiliki nilai minimum adalah 0,00001 (PT Unilever Indonesia Tbk. , 2013,2014,2015,2016 dan PT Kimia Farma (Perser. Tbk. , 2. dan nilai maksimum 0,24842 (PT Wismilak Inti Makmur Tbk. , 2. , sedangkan selisih antara nilai maksimum dengan minimum adalah 0,24841. Dari seluruh sampel yang diambil, rata-rata variabel KM . epemilikan manajeria. adalah sebesar 0,0308698 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,07482271. Variabel Dividend Payout Ratio (DPR) memiliki nilai minimum 0,07484 (PT Asahimas Flat Glass Tbk. , 2. dan nilai maksimum 1,00000 (PT Unilever Indonesia Tbk. , 2013,2. sedangkan selisih antara nilai maksimum dengan minimum adalah 0,92516. Dari seluruh sampel yang diambil, rata-rata persentase pendapatan yang didistribusikan dalam bentuk dividen tunai adalah sebesar 0,3764497 atau 37,64% dengan nilai standar deviasi sebesar 0,24924434. 2 Uji Normalitas Hasil uji normalitas data dengan menggunakan tes Kolmogorov-Smirnov adalah sebagai berikut: Tabel 5. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true significance. Unstandardized Residual Hasil uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov yang ditampilkan pada Tabel 5 menunjukkan nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,097. Berdasarkan hasil pengujian diatas, dapat dinyatakan bahwa semua variabel yang sedang diuji terdistribusi secara normal karena nilai signifikansi dari hasil uji yang dilakukan lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,200. 3 Uji Asumsi Klasik 1 Uji Multikolonieritas Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas . Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Berikut ini merupakan hasil dari uji multikolonieritas, yaitu: | 96 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tabel 6. Hasil Uji Multikolonieritas Berdasarkan hasil uji multikolonieritas pada Tabel 6 menunjukkan bahwa seluruh variabel independen, yaitu profitabilitas (Return on Equit. , leverage (Debt to Equit. , ukuran perusahaan . , pertumbuhan perusahaan . dan struktur kepemilikan (KM) memiliki nilai tolerance yang lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF (Variance Inflation Facto. yang lebih kecil dari 10. Berdasarkan hasil uji yang diperoleh, sehingga dapat dinyatakan bahwa tidak terjadi multikolonieritas dalam model regresi. 2 Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 . Berikut ini merupakan hasil uji autokorelasi dengan menggunakan uji Durbin-Watson. Tabel 7. Hasil Uji Autokorelasi Berdasarkan hasil uji autokorelasi pada Tabel 7, nilai uji Durbin-Watson adalah sebesar 1,985. Berdasarkan tabel Durbin-Watson yang terdapat di lampiran 10 diketahui bahwa jika jumlah data adalah 40 dan terdapat 5 variabel independen, maka nilai du adalah 1,7859. Nilai Durbin-Watson sebesar 1,985 lebih besar dibandingkan nilai du dan disaat bersamaan lebih rendah dari 2,2141 yang merupakan nilai dari 4-du. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi linear tidak terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada t-1 . 3 Uji Heteroskedastisitas Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Berikut ini adalah merupakan hasil uji heteroskedastisitas: | 97 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Gambar 2. Hasil Uji Heteroskedastisitas Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas dengan menggunakan grafik scatterplot pada Gambar 2 menunjukkan bahwa titik titik menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y dan tidak membentuk pola tertentu secara teratur seperti gelombang, melebar, dan kemudian menyempit. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. 4 Uji Hipotesis 1 Uji Koefisien Determinasi Uji koefisien determinasi (R. digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Berikut ini merupakan hasil uji keoefisien determinasi: Tabel 8. Hasil Uji Koefisien Determinasi Berdasarkan Tabel 8, nilai koefisien korelasi (R) dalam penelitian ini adalah 0,886. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara variabel independen, yaitu profitabilitas (Return on Equit. , leverage (Debt to Equit. , ukuran perusahaan . , pertumbuhan perusahaan . dan struktur kepemilikan . epemilikan manajeria. dengan variabel dependen, yaitu Dividend Payout Ratio (DPR) memiliki korelasi sangat kuat, karena nilai koefisien korelasi (R) berada di atas 0,75. Nilai dari adjusted R square 0,754 menunjukkan bahwa variabel independen, yaitu profitabilitas (Return on Equit. , leverage (Debt to Equit. , ukuran perusahaan . , pertumbuhan perusahaan . dan struktur kepemilikan . epemilikan manajeria. dapat menjelaskan variabel dependen, yaitu kebijakan dividen sebesar 75,4% dan sisanya sebesar 24,6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diuji dalam penelitian ini. 2 Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat. Uji statistik F mempunyai tingkat signifikansi = 0,05. Berikut ini merupakan hasil uji statistik F: | 98 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tabel 9. Hasil Uji Statistik F ANOVAa Model Regression Sum of Squares df Mean Square Residual Total Dependent Variable: DPR Predictors: (Constan. KM. ROE. GROWTH. SIZE. DER Sig. Tabel 9 menunjukkan bahwa nilai F sebesar 24,925 dengan tingkat signifikansi di bawah 0,05 yaitu sebesar 0,000. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel independen, yaitu profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan dan struktur kepemilikan secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen, yaitu kebijakan dividen. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Novitasari. Hanum, dan Sinarasri . menyatakan bahwa variabel cash position, return on assets, growth, collateralizable assets, dan firm size. berarti bahwa secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Eltya. Topowijono, dan Azizah . , menyatakan bahwa Debt Equity Ratio (DER). Current Ratio (CR). Return On Equity (ROE) dan Size memiliki pengaruh secara bersama-sama terhadap Dividend Payout Ratio (DPR), serta penelitian yang dilakukan oleh Bansaleng. Tommy dan Sangerang . , bahwa dalam penelitian ini variabel Kebijakan Hutang. Struktur Kepemilikan dan Profitabilitas secara bersama-sama/simultan berpengaruh terhadap variabel Kebijakan Dividen. 3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik . Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Berikut ini merupakan hasil uji statistik t: Tabel 10. Hasil Uji Statistik t Berdasarkan Tabel 10, diperoleh hasil persamaan regresi dalam penelitian ini, yaitu: DPR : 0,708ROE 0,049DER 0,245Size - 0,178Growth - 0,011KM Berdasarkan hasil uji statistik t, diperoleh koefisien regresi sebesar 0,708 untuk variabel profitabilitas (ROE). Hal ini menunjukkan bahwa untuk setiap peningkatan ROE sebesar 1%. DPR akan meningkat sebesar 0,708 atau 70,8%. Uji statistik t untuk variabel ROE menunjukkan nilai t sebesar 5,405 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,000. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Ha1 diterima yang menunjukkan bahwa | 99 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Berdasarkan hasil uji statistik t, diperoleh koefisien regresi sebesar 0,049 untuk variabel leverage (DER). Hal ini menunjukkan bahwa untuk setiap peningkatan DER sebesar 1%. DPR akan meningkat sebesar 0,049 atau 4,9%. Uji statistik t untuk variabel DER menunjukkan nilai t sebesar -0,374 dengan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,711. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Ha2 ditolak yang menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen karena meskipun perusahaan memiliki utang yang tinggi untuk membiayai kegiatan operasional, apabila dana digunakan secara efisien, maka perusahaan memiliki potensi untuk memperoleh laba yang Laba yang diperoleh dialokasikan perusahaan dalam bentuk dividen. Dari 40 observasi pada penelitian ini, terdapat 13 observasi atau sekitar 32,5% memiliki nilai DER (Debt to Equit. di atas rata-rata. Dari 13 observasi terdapat 8 observasi yang memiliki nilai DPR di atas rata-rata, sehingga terdapat 5 observasi yang memiliki nilai DPR di bawah rata-rata. Berdasarkan data tersebut, hal ini dapat disimpulkan bahwa hubungan antara DER (Debt To Equit. dengan DPR (Dividend Payout Rati. adalah positif. Berdasarkan 13 observasi yang terpilih, kegiatan pendanaan yang dilakukan oleh perusahaan digunakan untuk modal kerja, pembelian bahan baku, pembelian peralatan, pembelian kendaraan dan perbaikan dan pembangunan fasilitas produksi. Berdasarkan hasil uji statistik t, diperoleh koefisien regresi sebesar 0,245 untuk variabel ukuran perusahaan . Hal ini menunjukkan bahwa untuk setiap peningkatan size sebesar 1%. DPR akan meningkat sebesar 0,245 atau 24,5%. Uji statistik t untuk variabel size menunjukkan nilai t sebesar 2,714 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,010. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Ha3 diterima yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Berdasarkan hasil uji statistik t, diperoleh koefisien regresi sebesar -0,178 untuk variabel pertumbuhan perusahaan . Hal ini menunjukkan bahwa untuk setiap peningkatan growth sebesar 1%. DPR akan menurun sebesar 0,178 atau 17,8%. Uji statistik t untuk variabel growth menunjukkan nilai t sebesar -1,999 dengan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,054. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Ha4 ditolak yang menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen karena saat pertumbuhan perusahaan mengalami peningkatan, maka pertumbuhan tersebut dapat dibiayai dengan hutang, sehingga perusahaan tetap membagikan dividen kepada para pemegang saham. Dari 40 observasi pada penelitian ini, terdapat 13 observasi atau sekitar 32,5% memiliki nilai pertumbuhan perusahaan . di atas rata-rata. Dari 13 observasi, penambahan aset dibiayai menggunakan utang. Utang tersebut digunakan untuk modal kerja seperti pembelian bahan baku, barang jadi, bahan pembantu baik dari dalam negeri dan luar negeri, membeli aset tetap, membiayai pembangunan fasilitas produksi seperti pembangunan pabrik baru dan melakukan ekspansi usaha. | 100 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Berdasarkan hasil uji statistik t, diperoleh koefisien regresi sebesar -0,011 untuk variabel struktur kepemilikan (KM). Hal ini menunjukkan bahwa untuk setiap peningkatan KM sebesar 1%. DPR akan menurun sebesar 0,011 atau 1,1%. Uji statistik t untuk variabel KM menunjukkan nilai t sebesar -0,117 dengan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,907. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Ha5 ditolak yang menunjukkan bahwa struktur kepemilikan (KM) tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Struktur kepemilikan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen karena sebagian besar sampel merupakan perusahaan dengan kepemilikan manajerial yang rendah. Hal ini didukung dengan data observasi yang menyatakan bahwa dari 40 observasi pada penelitian ini, terdapat 32 observasi atau sekitar 80% memiliki nilai KM . epemilikan manajeria. dibawah nilai rata-rata. Sehingga, manajemen mempunyai kontrol yang rendah atas perusahaan. Simpulan. Keterbatasan, dan Saran 1 Simpulan dan saran Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah: Profitabilitas diproksikan Return on equity (ROE) berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Berdasarkan hasil penelitian, maka disimpulkan bahwa Ha1 diterima. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai t ROE sebesar 5,405 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,000. Leverage diproksikan Debt to Equity (DER) tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Berdasarkan hasil penelitian, maka disimpulkan bahwa Ha2 ditolak. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai t DER sebesar 0,374 dengan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,711. Ukuran perusahaan yang diproksikan dengan total aset berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Berdasarkan hasil penelitian, maka disimpulkan bahwa Ha3 diterima. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai t size sebesar 2,714 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,010. Pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan pertumbuhan aset tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Berdasarkan hasil penelitian, maka disimpulkan bahwa Ha4 ditolak. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai t growth sebesar -1,999 dengan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,054. Struktur kepemilikan yang diproksikan dengan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Berdasarkan hasil penelitian, maka disimpulkan bahwa Ha5 ditolak. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai t kepemilikan manajerial sebesar -0,117 dengan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,907. Profitabilitas (ROE), leverage (DER), ukuran perusahaan . , pertumbuhan perusahaan . dan kepemilikan manajerial (KM) secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan dividen (DPR). Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai uji F sebesar sebesar 24,925 dengan tingkat signifikansi di bawah 0,05 yaitu sebesar 0,000. 2 Keterbatasan Keterbatasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Periode yang digunakan pada penelitian ini hanya 4 tahun, yaitu 2013 sampai 2016 sehingga hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi. | 101 | Vol. No. 1 | Juni 2019 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Objek penelitian adalah hanya perusahaan sektor manufaktur, sehingga tidak dapat mencerminkan semua perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Terdapat variabel lain yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan dividen (DPR) yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hal ini dapat diketahui dari Nilai dari adjusted R square adalah 0,754 atau 75,4% , sedangkan sisanya sebesar 24,6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diuji dalam penelitian ini. 3 Saran Saran yang dapat ditujukan kepada peneliti selanjutnya yang terkait dengan kebijakan dividen, yaitu: Melakukan perpanjangan periode penelitian, sehingga periode penelitian akan lebih panjang dan akan lebih dapat digeneralisasi, seperti melakukan penelitian selama 6 tahun berturut-turut. Melakukan perluasan objek penelitian, seperti menambahkan objek perusahaan yang berasal dari sektor industri yang berbeda, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi, seperti menambahkan sektor industri pertanian dan jasa. Melakukan penambahan variabel-variabel lain yang dapat memiliki pengaruh terhadap kebijakan, seperti likuiditas . urrent rati. , total aset turnover dan kepemilikan institusional. VI. Referensi