JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Pengembangan Kemampuan Public Speaking dan Kepercayaan Diri Peserta Didik Madrasah Aliyah di Aceh Hasanuddin1, *Fakhrul Rijal2 Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama. Aceh . Indonesia Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh. Indonesia Email: fakhrul. rijal@ar-raniry. ABSTRACT Public speaking ability has become an essential skill in the digital transformation era, particularly in Islamic educational institutions. This study aims to analyze the strategies for developing public speaking skills and their impact on students' self-confidence at MAN 1 Banda Aceh and MAN 4 Aceh Besar. The research employs a qualitative descriptive-comparative approach through direct observation, in-depth interviews with school principals, vice principals for student affairs, public speaking trainers, and students, as well as institutional documentation. The findings indicate that both madrasahs implement systematic strategies encompassing initial assessment, goal setting, curriculum development, activity implementation, evaluation and feedback, reinforcement, supporting facilities, visual media utilization, emotional support, and peer Four methods are applied: manuscript, memorization . , impromptu . , and extemporaneous . utline elaboratio. The implementation of public speaking training significantly impacts students' self-confidence, demonstrated through four aspects: confidence in one's own abilities, capability to make independent decisions, positive self-perception, and courage to express opinions to others. This study concludes that well-structured public speaking development strategies effectively enhance students' self-confidence and communication skills, preparing them to face competitive challenges in the future. The comparative findings reveal that both institutions share similar approaches while maintaining their respective institutional contexts, indicating that program success is determined more by implementation quality and consistency rather than specific organizational models. Keywords: public speaking, self-confidence, students, development strategy Abstrak Kemampuan public speaking telah menjadi keterampilan esensial di era transformasi digital, khususnya di lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pengembangan kemampuan public speaking dan dampaknya terhadap kepercayaan diri peserta didik di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-komparatif melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan kepala madrasah, wakil kepala bidang kesiswaan, guru pelatih public speaking, dan peserta didik, serta dokumentasi institusional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua madrasah menerapkan strategi sistematis yang mencakup penilaian awal, penetapan tujuan, pengembangan kurikulum, pelaksanaan kegiatan, evaluasi dan umpan balik, penguatan, fasilitas pendukung, penggunaan media visual, dukungan emosional, dan kolaborasi sesama. Empat metode diterapkan: manuskrip, hafalan . , spontanitas . , dan menjabarkan kerangka . Implementasi pelatihan public speaking berdampak signifikan terhadap JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. kepercayaan diri peserta didik, yang ditunjukkan melalui empat aspek: yakin pada kemampuan sendiri, mampu mengambil keputusan sendiri, mempunyai rasa positif pada diri, dan berani menyatakan pendapat kepada orang lain. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pengembangan public speaking yang terstruktur dengan baik efektif meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi peserta didik, mempersiapkan mereka menghadapi tantangan kompetitif di masa depan. Temuan komparatif mengungkapkan bahwa kedua institusi memiliki kesamaan pendekatan dengan konteks institusional masing-masing, mengindikasikan bahwa keberhasilan program lebih ditentukan oleh kualitas implementasi dan konsistensi pelaksanaan daripada model organisasional spesifik. Kata kunci: public speaking, kepercayaan diri, peserta didik, strategi pengembangan *** PENDAHULUAN Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang, kemampuan public speaking telah menjadi keterampilan yang sangat penting dan dihargai di era transformasi digital. Kemampuan berbicara di depan umum bukan hanya menyangkut kemahiran verbal, tetapi juga melibatkan kepercayaan diri . elf-confidenc. , keterampilan presentasi, dan kemampuan menyampaikan ide secara efektif dan persuasif kepada audiens (Nirwana. Di tengah tuntutan global untuk menghasilkan individu yang mampu berkomunikasi dengan efektif, strategi pengembangan kemampuan public speaking peserta didik menjadi topik yang kritis untuk diteliti, terutama dalam konteks lembaga pendidikan menengah Islam di Indonesia. Dalam peran dan fungsinya dalam pendidikan di Aceh, public speaking merupakan kemampuan berbicara di depan umum dengan tujuan untuk menyampaikan ide, pendapat, atau informasi dengan jelas dan persuasif kepada audiens. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan di era transformasi digital, di mana komunikasi secara daring dan melalui platform digital telah menjadi lebih umum dan integral dalam kehidupan akademis maupun sosial (Kristophorus Hadiono, 2. Madrasah Aliyah Negeri (MAN), sebagai lembaga pendidikan menengah Islam unggulan di Aceh, memiliki peran strategis dalam menghasilkan lulusan dengan kemampuan berkomunikasi yang berkualitas. Selain itu, pengembangan soft skills termasuk public speaking bukan lagi pilihan tetapi keharusan bagi institusi pendidikan yang ingin mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan kompetitif masa depan (Moh. Faizin dkk, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Meskipun pentingnya public speaking diakui secara luas, masih terdapat sejumlah permasalahan signifikan dalam pengembangan kemampuan ini di tingkat pendidikan menengah Islam di Aceh. Pertama, kurangnya kesempatan bagi peserta didik madrasah untuk berlatih public speaking secara terstruktur dan terarah dengan bimbingan mentor yang berpengalaman. Keterbatasan fasilitas dan sumber daya, seperti ruang kelas yang kurang mendukung dan peralatan pembelajaran yang terbatas, juga menjadi hambatan nyata dalam pengembangan kemampuan ini. Kedua, terdapat perbedaan signifikan dalam pendekatan pengajaran public speaking dan program ekstrakurikuler antara madrasah yang berbeda, seperti MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar, yang dapat menjadi titik perbandingan menarik dalam studi komparatif untuk mengidentifikasi praktikpraktik terbaik. Ketiga, tantangan lainnya adalah dalam menilai kemampuan public speaking secara objektif dan mengukur perkembangan peserta didik secara konsisten menggunakan standar dan instrumen yang terukur. Keempat, peserta didik masih menghadapi kesulitan dalam merangkai kalimat dan minimnya tingkat percaya diri saat hendak berbicara atau mengemukakan pendapat di depan kelas, yang menjadi hambatan utama dalam pengembangan kemampuan komunikasi mereka. Peserta didik madrasah perlu memahami cara efektif menggunakan teknologi untuk menyampaikan pesan secara persuasif dan meyakinkan. Transformasi digital telah mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan, cara orang belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan dunia luar. Dalam memaksimalkan sumber daya manusia diperlukan persiapan yang matang untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang ada saat ini. Peserta didik tidak hanya dibutuhkan mampu pada persoalan akademik saja, melainkan juga membutuhkan kemampuan nir-akademik atau yang disebut dengan istilah soft skills, di mana public speaking memainkan peran penting (Kusnadi dkk, 2. Kemampuan ini akan membantu peserta didik tidak hanya dalam presentasi formal tetapi juga dalam meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan berinteraksi sosial di berbagai konteks. Di Aceh, transformasi digital memberikan dampak signifikan terhadap sistem pendidikan, terutama pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) yang merupakan lembaga pendidikan Islam unggulan di Aceh. Di sisi lain, transformasi digital juga menghadirkan tantangan dalam mengadaptasi metode pengajaran dan penilaian public speaking di era yang semakin terhubung ini. Institusi pendidikan harus secara proaktif mengembangkan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. strategi pembelajaran yang responsif terhadap perkembangan teknologi sambil tetap mempertahankan fokus pada pengembangan kemampuan komunikasi interpersonal yang autentik dan bermakna. Dalam konteks pendidikan, pengembangan kemampuan public speaking tidak hanya bertujuan untuk menciptakan orator-orator hebat, tetapi juga untuk membentuk karakter peserta didik yang percaya diri dan mampu berkontribusi secara aktif dalam berbagai situasi sosial, profesional, dan akademis di masa depan. Di tengah pentingnya kemampuan public speaking, self-confidence . epercayaan dir. memiliki peran yang sangat penting dan tak tergantikan. Percaya diri merupakan fondasi yang diperlukan untuk mendorong kemampuan public speaking peserta didik (Lauster, 2012. Leokmono. Dengan demikian, keterampilan ini tidak hanya berdampak langsung pada kemampuan berkomunikasi, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pengembangan karakter dan kepemimpinan peserta didik secara keseluruhan. Penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang kuat membawa dampak positif dalam proses pembelajaran, mengubah peserta didik menjadi individu yang berani menghadapi tantangan, mengekspresikan ide-ide secara jelas, dan tampil percaya diri di hadapan publik (Tri Kuntoro, 2. Studi komparatif antara MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar menjadi relevan karena kedua lembaga pendidikan menengah ini merupakan representasi dari lingkungan pendidikan di wilayah Aceh dengan konteks yang berbeda. Melalui pemahaman lebih dalam tentang strategi pengembangan kemampuan public speaking dan dampaknya terhadap self-confidence peserta didik di kedua sekolah, dapat dihasilkan pemahaman yang lebih kaya dan beragam tentang bagaimana pendekatan pendidikan dapat membentuk peserta didik secara berbeda sesuai dengan konteks institusional masing-masing. Pengembangan kemampuan public speaking dan dampaknya terhadap selfconfidence peserta didik merupakan fenomena yang menarik dalam konteks pendidikan menengah Islam di Aceh. Dalam era komunikasi global saat ini, kepercayaan diri dan kemampuan berbicara di depan publik menjadi keterampilan yang sangat penting bagi generasi muda. MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar sebagai lembaga pendidikan menengah yang mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan kompetitif di masa depan, menjadi subjek yang relevan untuk melakukan studi komparatif terkait hal ini. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Kedua institusi ini memiliki komitmen dalam mengembangkan kompetensi komunikasi peserta didik melalui berbagai program dan strategi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pengembangan kemampuan public speaking yang diterapkan di kedua madrasah dan memahami dampaknya terhadap tingkat self-confidence peserta didik. Penelitian ini akan memberikan kontribusi signifikan dalam menyediakan pemahaman yang lebih dalam tentang peran strategi pengembangan kemampuan public speaking dalam membentuk self-confidence siswa di lingkungan pendidikan menengah Islam. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi pada pemahaman tentang strategi pengembangan kemampuan public speaking peserta didik, tetapi juga memberikan informasi yang berguna bagi praktisi pendidikan, pengambil kebijakan, dan peneliti lainnya yang tertarik dalam memperkaya literatur tentang pengembangan kemampuan public speaking di lingkungan pendidikan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif komparatif untuk mengidentifikasi strategi pengembangan kemampuan public speaking dan dampaknya terhadap self-confidence peserta didik di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar. Pendekatan kualitatif deskriptif dipilih untuk menganalisis dan menggambarkan fenomena secara objektif dan mendetail guna memperoleh pemahaman yang akurat tentang strategi yang diterapkan, proses implementasinya, dan hasil yang dicapai (Moleong, 2. Desain studi komparatif memungkinkan identifikasi persamaan dan perbedaan dalam strategi dan hasil antara kedua institusi, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih kaya tentang praktik-praktik pengembangan public speaking di institusi pendidikan menengah Islam (Silalahi, 2. Subjek penelitian meliputi kepala madrasah, wakil kepala madrasah bidang kesiswaan, guru pelatih public speaking, dan peserta didik dari kedua madrasah. Data primer dikumpulkan melalui tiga teknik: . observasi langsung terhadap kegiatan pelatihan public speaking yang mencakup metode pengajaran, interaksi guru-peserta didik, partisipasi peserta didik, dan fasilitas . wawancara mendalam dengan informan menggunakan panduan wawancara terstruktur dan fleksibel yang didokumentasikan dengan perekam audio untuk memperoleh data yang lengkap dan akurat tentang pengalaman, perspektif, dan pandangan informan. dokumentasi yang mencakup kebijakan institusional. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. kurikulum program, laporan kegiatan, dan pencapaian peserta didik yang berfungsi untuk validasi dan triangulasi terhadap data dari observasi dan wawancara. Analisis data mengikuti model analisis data kualitatif interaktif yang meliputi tiga tahap: . reduksi data melalui transkripsi, pemeriksaan kelengkapan jawaban responden, identifikasi informasi relevan, penggolongan data berdasarkan tema, dan penghapusan data redundan. penyajian data dalam bentuk narasi deskriptif yang mengorganisir temuan berdasarkan strategi pengembangan public speaking dan dampaknya terhadap aspek-aspek self-confidence peserta didik serta perbandingan antara kedua institusi. penarikan kesimpulan berdasarkan pola-pola konsisten yang didukung oleh buktibukti dari berbagai sumber data melalui triangulasi, dengan verifikasi ulang terhadap data asli untuk memastikan akurasi interpretasi dan validitas kesimpulan yang dihasilkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian MAN 1 Banda Aceh bermula dari sekolah swasta SMIA (Sekolah Menengah Islam Ata. yang didirikan pada tahun 1957 oleh yayasan SMI & SMIA. Sekolah ini hanya membuka satu program . rogram agam. dan dipimpin oleh Ustazd H. Ahmad Nurdin Hanafi. Beliau memimpin SMIA hingga tahun 1960 dan dilanjutkan oleh ustazd Tgk. Sulaiman Jalil sampai tahun 1963. selanjutnya, kepemimpinan beliau digantikan oleh Bapak Ibrahim Amin sampai dengan tahun 1968. Pada masa tersebut Yayasan SMI/SMIA Daerah Istimewa Aceh meminta kepada Departemen Agama RI agar SMIA dapat dinegerikan segera. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Aceh Besar, sebagai salah satu satuan pendidikan menengah agama di provinsi Aceh, memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter, moral, dan pengetahuan siswa-siswinya. Pendidikan di MAN 4 Aceh Besar tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga pada pendidikan umum yang mendukung pengembangan holistik peserta didiknya. MAN 4 Aceh Besar terbentuk pada tahun 1984, yaitu didirikannya Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Tungkob filial MAN Montasik . ernah beralih namanya menjadi MAN Montasik Filial Tungko. Pendirian MAS Tungkob dilatarbelakangi oleh kebutuhan pendidikan menengah lanjutan bagi warga sekitar dan Kecamatan Darussalam umumnya, dimana sebelumnya di wilayah Tungkob telah memiliki Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MT. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Strategi Pengembangan Kemampuan Public speaking Peserta Didik di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar Public speaking menempatkan posisi penting dalam perkembangan kemampuan peserta didik madrasah di Aceh. Dalam konteks saat ini yang dipenuhi oleh perkembangan teknologi, terdapat beberapa ancaman bahwa elemen-elemen kunci dari interaksi manusia dapat digantikan oleh kehadiran teknologi. Oleh karena itu, kemampuan berbicara di depan umum tidak hanya menjadi sekadar softskill, tetapi juga menjadi landasan untuk mempertahankan keberadaan individualitas dan kepercayaan diri di berbagai bidang. Kemampuan public speaking peserta didik mencakup beberapa konsep umum yang penting untuk diperhatikan, dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan ini, peserta didik dapat menjadi pembicara yang lebih efektif dan percaya diri dalam berbagai situasi antara lain memuat: kepercayaan diri, penguasaan materi, struktur penyampaian, keterampilan non-verbal, pengelolaan suara, interaksi dengan audiens penggunaan media visual serta pengelolaan kecemasan. Dengan menerapkan beberapa strategi komunikasi yang sesuai, pesan dapat disampaikan dengan jelas, diterima dengan baik, memotivasi peserta didik dan meningkatkan rasa kepercayaan. Diri dengan baik. Hal ini menjadi acuan dalam membahas hubungan antara strategi pembembangan public speaking dengan peningkatan kepercayan diri peserta didik. Perencanaan Perencanaan pengembangan kemampuan public speaking bagi peserta didik adalah proses yang sistematis dan terstruktur untuk membantu mereka menjadi komunikator yang lebih efektif. Perencanaan pengembangan kemampuan public speaking bagi peserta didik juga merupakan langkah penting dalam meningkatkan keterampilan komunikasi mereka. Public speaking tidak hanya membantu dalam presentasi formal tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan berinteraksi Adapun langkah-langkah perencanaan dan strategi yang diimplementasikan di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar adalah: . Penilaian Awal. Penetapan Tujuan. Pengembangan Kurikulum. Pelaksanaan Kegiatan. Evaluasi dan Umpan Balik. Penguatan dan Peningkatan. Fasilitas Pendukung. Penggunaan Visual Media. Motivasi dan Dukungan Emosional, dan . Peer Review dan Kolaborasi. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Metode Untuk memperoleh kemampuan public speaking yang baik harus disertai dengan metode yang tepat, agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai secara optimal. Pemilihan metode yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan konteks pembelajaran menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program pelatihan (Fitrananda et al. , 2. Metode public speaking yang diterapkan di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar terdiri atas empat macam yang masing-masing memiliki keunggulan dan fungsi spesifik dalam mengembangkan keterampilan berbicara peserta didik. Metode pertama adalah metode manuskrip, yaitu teknik berbicara dengan membaca naskah yang telah disiapkan secara lengkap. Metode ini umumnya digunakan dalam situasi formal yang memerlukan presisi dan akurasi tinggi dalam penyampaian informasi, seperti pidato resmi atau presentasi ilmiah. Keunggulan metode manuskrip adalah memastikan bahwa semua informasi penting tersampaikan tanpa ada yang terlewat, menggunakan bahasa yang telah dipilih dengan cermat, dan menghindari kesalahan faktual. Namun, kelemahan metode ini adalah cenderung kurang interaktif dan dapat mengurangi kontak mata dengan audiens. Oleh karena itu, peserta didik dilatih untuk tetap sesekali mengangkat pandangan dari naskah dan menggunakan intonasi yang bervariasi agar presentasi tidak terkesan monoton. Metode kedua adalah metode hafalan atau memoriter, di mana pembicara menghafal keseluruhan materi yang akan disampaikan. Metode ini memberikan kebebasan lebih besar dalam menggunakan bahasa tubuh dan mempertahankan kontak mata dengan audiens karena pembicara tidak terikat pada naskah atau catatan. Metode hafalan sangat efektif untuk pidato yang relatif singkat dan terstruktur, seperti sambutan, perkenalan diri, atau presentasi produk. Keunggulan metode ini adalah menciptakan kesan profesional dan percaya diri, serta memungkinkan pembicara untuk bergerak bebas dan menggunakan gestur dengan natural. Namun, tantangan utama metode hafalan adalah risiko lupa atau blank di tengah presentasi, yang dapat menyebabkan kegugupan dan kehilangan alur pembicaraan. Untuk mengatasi hal ini, peserta didik dilatih dengan teknik chunking . embagi materi menjadi bagian-bagian keci. , visualisasi, dan latihan berulang hingga materi benar-benar tertanam dalam memori jangka panjang. Metode ketiga adalah metode spontanitas atau impromptu, yaitu berbicara tanpa persiapan khusus dan langsung merespons situasi atau pertanyaan yang muncul secara JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Metode ini melatih kemampuan berpikir cepat, improvisasi, dan fleksibilitas dalam berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan berbicara secara impromptu sangat diperlukan dalam berbagai situasi seperti diskusi kelas, rapat, wawancara, atau percakapan informal. Keunggulan metode impromptu adalah mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi situasi tidak terduga, serta melatih keterampilan listening dan Untuk melatih kemampuan impromptu, peserta didik diberikan topik secara acak dan diminta berbicara selama 1-2 menit tanpa persiapan sebelumnya. Latihan ini dilakukan secara rutin untuk membiasakan peserta didik berpikir terstruktur meskipun dalam kondisi spontan. Metode keempat adalah metode menjabarkan kerangka atau ekstemporer, yang merupakan kombinasi dari persiapan dan spontanitas. Dalam metode ini, pembicara menyiapkan outline atau kerangka utama presentasi yang berisi poin-poin penting, tetapi tidak menuliskan keseluruhan naskah secara detail. Penyampaian dilakukan dengan mengembangkan setiap poin secara spontan menggunakan bahasa yang natural dan Metode ekstemporer dianggap sebagai metode yang paling ideal untuk sebagian besar situasi public speaking karena menggabungkan kelebihan dari metode lainnya: terstruktur seperti manuskrip, natural seperti impromptu, dan fleksibel seperti Pembicara memiliki panduan yang jelas sehingga tidak keluar dari topik, namun tetap memiliki kebebasan untuk menyesuaikan bahasa dan contoh sesuai dengan respons Metode ini juga memungkinkan interaksi yang lebih baik dengan audiens karena pembicara tidak terikat pada naskah atau urutan kalimat yang kaku. Berdasarkan wawancara dengan guru pelatih public speaking di kedua madrasah, keempat metode ini diajarkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan kemampuan peserta didik. Pada tahap awal, peserta didik biasanya lebih nyaman dengan metode manuskrip atau hafalan karena memberikan rasa aman dan kontrol yang lebih besar. Seiring dengan meningkatnya kepercayaan diri dan pengalaman, mereka didorong untuk mencoba metode impromptu dan ekstemporer yang memerlukan kemampuan berpikir lebih cepat dan fleksibel. Guru pelatih juga menekankan bahwa tidak ada satu metode yang superior untuk semua situasi. pemilihan metode harus disesuaikan dengan konteks, tujuan komunikasi, karakteristik audiens, dan tingkat kesiapan pembicara. Pemahaman JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. tentang berbagai metode dan kemampuan untuk memilih metode yang tepat merupakan kompetensi penting yang harus dikuasai oleh pembicara publik yang efektif. Pelaksanaan Dalam menyenangkan, keahlian berbicara di depan umum memiliki peranan penting. Tanpa strategi komunikasi dengan teknik public speaking yang baik, pembelajaran bisa menjadi membosankan, baik dalam pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran online (Hadiono, 2. Kurangnya kemauan dan ketertarikan peserta didik berbicara di depan kelas menjadi salah satu penyebab rendahnya keterampilan berbicara di depan umum yang dimiliki. Permasalahan yang sering dialami peserta didik yaitu kesulitan dalam merangkai kalimat dan masih minimnya tingkat percaya diri yang dimiliki saat hendak berbicara ataupun mengemukakan pendapat di depan kelas. Kemampuan guru yang kurang kreatif berinovasi dalam mengemas pembelajaran juga membuat peserta didik menjadi kurang ekspresif dalam menyampaikan hasil pemikirannya (Aripi, 2. Kepercayaan diri yang kuat membawa dampak positif dalam proses belajarmengajar, mengubah peserta didik menjadi individu yang berani menghadapi tantangan, mengekspresikan ide-ide secara jelas, dan tampil percaya diri di hadapan publik (Lauster. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa public speaking tidak hanya berperan dalam meningkatkan kemampuan berbicara, tetapi juga dalam membantu peserta didik membangun fondasi kepercayaan diri yang kokoh untuk meraih kesuksesan di masa Temuan ini sejalan dengan penelitian Tri Kuntoro . yang menyimpulkan bahwa public speaking membangun kepercayaan diri peserta didik melalui proses pembiasaan dan pengalaman berbicara di depan umum yang terus menerus. Hasil wawancara dengan informan kunci memberikan gambaran komprehensif tentang implementasi program public speaking di kedua madrasah. Salah seorang informan menyampaikan bahwa public speaking diimplementasikan sebagai program ekstrakurikuler yang sangat penting di madrasah. Keyakinan dan kesepakatan tersebut menjadi komitmen bersama bahwa kelas public speaking dianggap sebagai sarana pelatihan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. Proses dimulai dengan penyiapan kerangka kerja pelaksanaan, perencanaan program jangka panjang, penetapan mentor yang berpengalaman, dan proses rekrutmen peserta didik dilakukan dengan penuh dedikasi oleh wakil kepala madrasah. Langkah-langkah tersebut bertujuan untuk JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. membentuk tim yang profesional guna mencapai tujuan dari penyelenggaraan public speaking, yang pada akhirnya diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan dan pengembangan madrasah secara keseluruhan. Dengan demikian, program public speaking tidak hanya menjadi sekadar kegiatan tambahan, melainkan sebuah inisiatif yang dijalankan secara serius demi mendukung pertumbuhan dan peningkatan kualitas peserta didik dan lembaga pendidikan. Informan diperkenalkan di madrasah, prestasi peserta didik terus mengalami peningkatan yang Tidak hanya dalam hal nilai akademik, namun peserta didik juga menunjukkan prestasi yang luar biasa dalam berbagai aspek kehidupan, seperti kemampuan berkomunikasi yang baik di lingkungan sekitar. Contoh konkret yang disebutkan adalah peserta didik pernah diundang untuk melakukan presentasi tentang tsunami Aceh di Jepang, berhasil memenangkan lomba karya tulis ilmiah, serta berpartisipasi dalam berbagai proses penilaian prestasi lainnya. Semua pencapaian ini menegaskan betapa program public speaking telah memberikan dampak positif yang sangat besar bagi peserta didik, tidak hanya dalam hal akademis tetapi juga dalam pengembangan keterampilan dan kemampuan mereka secara luas. Prestasi-prestasi ini menunjukkan bahwa kemampuan public speaking yang baik membuka peluang bagi peserta didik untuk terlibat dalam berbagai kegiatan bertaraf nasional dan internasional. Informasi serupa juga disampaikan oleh informan lainnya yang menekankan bahwa kemampuan dalam public speaking serta tingkat kepercayaan diri yang dimiliki oleh peserta didik merupakan hal yang tidak terpisahkan. Dua elemen ini memainkan peran yang sangat vital ketika para peserta didik harus bersaing dengan tekad yang sama, baik dalam kompetisi antar madrasah maupun ketika terlibat dalam beragam acara di tingkat Aceh maupun nasional. Sebagai contoh, salah satu pencapaian yang membanggakan adalah ketika salah seorang peserta didik dipercaya sebagai duta moderasi beragama di tingkat nasional. Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sekolah, tetapi juga sebagai bukti atas kecerdasan berbicara dan keterampilan mental yang dimiliki peserta didik. Penghargaan yang diterima dari Menteri Agama RI menjadi pengakuan atas dedikasi mereka dalam menjadi corong moderasi beragama bagi sesama pelajar di seluruh Indonesia. Keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan potensi peserta didik, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya pembinaan kemampuan public JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. speaking dan peningkatan kepercayaan diri di kalangan peserta didik untuk menghadapi tantangan di masa depan. Hasil observasi langsung peneliti di kelas memperkuat temuan dari wawancara. Ketika peserta didik diberi kesempatan untuk berbicara di depan kelas, terlihat jelas bahwa mereka mampu tampil dengan penuh percaya diri. Mereka mampu menyampaikan narasi dengan lancar tanpa adanya kesulitan dari segi persiapan materi. Kemampuan mereka dalam mengekspresikan diri dengan percaya diri juga tercermin dengan baik dalam setiap kata yang mereka ucapkan. Segala hal yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan lancar dan jelas kepada seluruh audiens dalam kelas tersebut. Pengamatan ini memberikan gambaran yang kuat tentang pentingnya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berbicara di depan kelas guna meningkatkan keterampilan komunikasi serta kepercayaan diri mereka. Observasi juga menunjukkan bahwa peserta didik yang aktif mengikuti pelatihan public speaking memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengorganisir pemikiran, menggunakan bahasa tubuh yang efektif, dan mengelola kontak mata dengan audiens dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pelatihan. Kepercayaan diri yang kokoh memungkinkan seseorang untuk lebih berani dalam mengekspresikan diri dan berhadapan dengan situasi komunikasi yang memerlukan kemampuan verbal yang baik (Lauster, 2. Sebaliknya, ketidakpercayaan diri dapat menjadi hambatan besar dalam kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara Salah seorang informan menjelaskan bahwa rasa takut, keraguan, atau ketidakpastian diri dapat memengaruhi cara seseorang berbicara dan menyampaikan Misalnya, ketika seseorang merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri, ia mungkin cenderung merasa gugup atau grogi saat berbicara di depan orang banyak. Bahkan halhal sekecil seperti meragukan kemampuan diri sendiri atau merasa tidak layak untuk didengar bisa menghambat kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan baik. Temuan ini sejalan dengan teori kecemasan komunikasi yang dikemukakan oleh McCroskey . yang menjelaskan bahwa communication apprehension atau kecemasan komunikasi adalah tingkat ketakutan atau kecemasan individu terkait dengan komunikasi nyata atau yang diantisipasi dengan orang lain. Melalui pelatihan public speaking yang sistematis, kecemasan komunikasi ini dapat dikurangi secara bertahap. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Evaluasi Evaluasi dari pengembangan kemampuan public speaking peserta didik adalah proses yang penting untuk mengukur kemajuan, mengidentifikasi area yang perlu perbaikan, dan memberikan umpan balik yang konstruktif (Djiwandono, 2. Evaluasi yang efektif dari pengembangan kemampuan public speaking peserta didik melibatkan berbagai metode dan alat yang memungkinkan penilaian yang komprehensif dan Melalui observasi langsung, rekaman video, rubrik penilaian, umpan balik dari audiens, refleksi diri, penilaian formatif dan sumatif, serta penggunaan teknologi, peserta didik dapat menerima umpan balik yang konstruktif dan bermanfaat untuk pengembangan keterampilan mereka lebih lanjut. Di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar, evaluasi dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa program pelatihan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Observasi langsung dilakukan oleh guru pelatih selama sesi latihan dan presentasi, dengan fokus pada aspek-aspek seperti struktur presentasi, penggunaan bahasa, bahasa tubuh, kontak mata, intonasi suara, dan kemampuan mengelola pertanyaan dari audiens. Rekaman video digunakan sebagai alat untuk self-assessment, di mana peserta didik dapat menonton kembali penampilan mereka dan melakukan analisis kritis terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Metode ini terbukti sangat efektif karena peserta didik dapat melihat diri mereka dari perspektif audiens dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki dengan lebih objektif. Rubrik penilaian yang telah disusun secara sistematis digunakan untuk memberikan standar evaluasi yang jelas dan terukur. Rubrik penilaian mencakup berbagai kriteria seperti kejelasan penyampaian materi, struktur dan organisasi konten, penggunaan bahasa yang tepat, keterampilan non-verbal, kemampuan berinteraksi dengan audiens, pengelolaan waktu, dan kepercayaan diri dalam tampil. Setiap kriteria diberi skor dengan deskriptor yang spesifik untuk memudahkan penilaian yang objektif dan konsisten. Penggunaan rubrik ini membantu peserta didik memahami standar yang diharapkan dan memberikan arahan yang jelas untuk perbaikan. Selain itu, rubrik juga memfasilitasi transparansi dalam proses evaluasi sehingga peserta didik dapat melacak perkembangan mereka dari waktu ke waktu. Umpan balik dari audiens juga menjadi komponen penting dalam proses evaluasi. Setelah setiap sesi presentasi, peserta didik lain yang menjadi audiens diminta JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. memberikan komentar konstruktif tentang apa yang dilakukan dengan baik dan apa yang perlu ditingkatkan. Peer feedback ini tidak hanya membantu presenter untuk mendapatkan perspektif yang beragam, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis dan empati dari audiens. Proses ini menciptakan budaya belajar kolaboratif di mana semua peserta saling mendukung dalam pengembangan keterampilan komunikasi mereka. Guru pelatih juga memberikan umpan balik terstruktur yang spesifik, actionable, dan positif untuk memotivasi peserta didik terus berkembang tanpa merasa terlalu dikritik atau Refleksi diri menjadi metode evaluasi yang mendalam di mana peserta didik diminta untuk menulis jurnal atau esai reflektif tentang pengalaman mereka dalam pelatihan public speaking. Mereka diminta untuk merefleksikan apa yang telah mereka pelajari, tantangan yang dihadapi, strategi yang digunakan untuk mengatasi tantangan tersebut, dan bagaimana pengalaman ini berdampak pada kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi mereka secara keseluruhan. Refleksi diri ini membantu peserta didik mengembangkan kesadaran metakognitif tentang proses belajar mereka sendiri dan mengidentifikasi pola-pola yang mungkin tidak terlihat melalui evaluasi eksternal saja. Penilaian formatif dilakukan secara berkala selama program berlangsung untuk memantau perkembangan peserta didik dan memberikan intervensi yang diperlukan sebelum terlambat. Penilaian ini bersifat informal dan fokus pada proses pembelajaran, bukan hanya hasil akhir. Sementara itu, penilaian sumatif dilakukan pada akhir program untuk mengukur pencapaian keseluruhan peserta didik terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Penilaian sumatif biasanya dilakukan melalui presentasi final atau lomba public speaking internal di mana peserta didik mendemonstrasikan semua keterampilan yang telah mereka pelajari. Penggunaan teknologi dalam evaluasi juga mulai diterapkan di kedua madrasah. Aplikasi dan platform digital digunakan untuk merekam penampilan, menyimpan portofolio video presentasi peserta didik, dan bahkan melakukan analisis otomatis terhadap beberapa aspek seperti kecepatan bicara, penggunaan filler words, dan durasi kontak mata. Meskipun teknologi tidak dapat menggantikan penilaian manusiawi yang holistik, namun dapat memberikan data objektif yang mendukung proses evaluasi yang lebih komprehensif. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Hasil wawancara dengan kepala madrasah menunjukkan komitmen institusional yang kuat terhadap proses evaluasi yang sistematis. Dr. Hj. Nursiah. Ag. Pd. , selaku kepala MAN 1 Banda Aceh menyampaikan bahwa secara umum, semua peserta didik memiliki kemampuan public speaking yang memadai, seperti berbicara, menyampaikan, dan mempresentasikan. Namun secara teknis, seperti MC, host, prestasi yang lebih maksimal, dan kemampuan presentasi yang lebih baik adalah hal yang sedang dipelajari peserta didik saat ini. Sehingga beliau sebagai kepala madrasah juga mengarahkan kepada para guru melalui wakil kepala madrasah bidang kesiswaan agar terus memperhatikan kualitas public speaking peserta didik dengan perhatian dan pelatihan yang lebih khusus. Pernyataan ini menunjukkan bahwa evaluasi tidak hanya berfungsi sebagai pengukuran pencapaian, tetapi juga sebagai dasar untuk pengembangan program yang berkelanjutan. Hal yang sama juga disampaikan oleh Munzir. Pd. , selaku kepala MAN 4 Aceh Besar yang menyatakan bahwa secara umum, kemampuan public speaking peserta didik di MAN 4 Aceh Besar semakin membaik. Peserta didik yang belajar di kelas public speaking lebih memiliki kepercayaan diri dibandingkan teman-temannya. Diketahui sebelumnya bahwa pelaksanaan public speaking di MAN 4 Aceh Besar masuk dalam Program LKD (Latihan Kepemimpinan Dasa. , yang menunjukkan integrasi antara pengembangan keterampilan komunikasi dengan pengembangan kepemimpinan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Fransisca Vera Damartha et al. yang menemukan bahwa strategi membangun keterampilan komunikasi dan kepercayaan diri dalam pembelajaran public speaking peserta didik perlu dilakukan secara sistematis dan Tingkat kepercayaan diri dan kemampuan dalam berkomunikasi setiap individu, dalam hal ini adalah peserta didik, berbeda-beda. Membangun kepercayaan diri untuk berkomunikasi di depan umum atau di depan kelas saat pembelajaran bagi peserta didik tidak bisa didapatkan dengan cepat. perlu adanya latihan dan pembiasaan. Salah satu cara untuk membangun rasa kepercayaan diri dalam berkomunikasi adalah dengan mengikuti pelatihan public speaking (Geofakta Razali et al. , 2. Evaluasi yang efektif memainkan peran kunci dalam proses ini dengan memberikan umpan balik yang membantu peserta didik melihat perkembangan mereka dari waktu ke waktu, yang pada gilirannya meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri mereka. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Dampak Kemampuan Public speaking Terhadap Self confidence Peserta Didik di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar Penting untuk mengevaluasi dampak dari strategi pengembangan kemampuan public speaking di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar dengan mengumpulkan umpan balik dari peserta didik, mengamati perubahan yang terjadi dalam keterampilan komunikasi mereka, dan melihat sejauh mana peserta didik mampu menerapkan keterampilan yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari setelah pengembangan kemampuan public speaking tersebut berlangsung. Dampak program ini dapat dianalisis melalui empat aspek utama kepercayaan diri yang menjadi indikator keberhasilan, sebagaimana dikemukakan oleh Lauster . dan Leokmono . bahwa kepercayaan diri mencakup keyakinan pada kemampuan sendiri, kemampuan mengambil keputusan, sikap positif terhadap diri sendiri, dan keberanian mengekspresikan pendapat. Yakin Pada Kemampuan Sendiri Aspek pertama dari dampak pelatihan public speaking terhadap kepercayaan diri peserta didik adalah munculnya keyakinan pada kemampuan sendiri. Keyakinan ini merupakan fondasi psikologis yang penting bagi individu untuk dapat berkembang dan menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Dalam konteks public speaking, keyakinan pada kemampuan sendiri berarti peserta didik percaya bahwa mereka mampu menyampaikan pesan dengan efektif, mengorganisir pemikiran dengan baik, mengelola kegugupan, dan berinteraksi dengan audiens secara positif (Ignoffa, 2. Hasil wawancara dengan M. Arief Maulana, selaku guru pelatih public speaking di MAN 1 Banda Aceh, menunjukkan bahwa aspek mengenai yakin pada kemampuan sendiri berjalan dengan bagus pada peserta didik di MAN 1 Banda Aceh. Proses ini berlangsung secara bertahap, tentu saja melalui tahapan-tahapan latihan yang sistematis, peserta didik semakin mulai yakin dan percaya dengan dirinya sendiri. Beliau menjelaskan bahwa pada awal pelatihan, banyak peserta didik yang ragu dan takut untuk tampil di depan umum, namun seiring dengan intensitas latihan dan dukungan yang diberikan, mereka mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Rasa yakin ini tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses pembiasaan yang konsisten dan pengalaman sukses yang terakumulasi. Hal yang tidak jauh berbeda juga disampaikan oleh Fatlina. Pd. , selaku guru pelatih public speaking di MAN 4 Aceh Besar, yang menyatakan bahwa peserta didik di JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. MAN 4 Aceh Besar yakin pada kemampuan sendiri setelah mengikuti tahap-tahapan dalam proses pengembangan kemampuan public speaking, karena mereka sudah sangat berpengalaman dan juga memiliki kemampuan public speaking yang bagus untuk masa depan mereka. Beliau menambahkan bahwa pengalaman tampil di berbagai forum, baik internal madrasah maupun eksternal, memberikan validasi nyata terhadap kemampuan yang mereka miliki. Setiap kesempatan tampil adalah kesempatan untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa mereka mampu, dan setiap keberhasilan memperkuat keyakinan Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa peserta didik yakin pada kemampuan sendiri setelah mengikuti tahap-tahapan dalam proses pengembangan kemampuan public speaking pada madrasahnya masing-masing. Keyakinan ini dikuatkan oleh beberapa faktor, antara lain dukungan dari guru dan teman sebaya, pengalaman praktik yang berulang, latihan yang terstruktur, serta kondisi lingkungan madrasah yang kondusif dan suportif. Dukungan sosial dari lingkungan sekitar memainkan peran penting dalam membangun self-efficacy atau keyakinan diri, sebagaimana dijelaskan dalam teori pembelajaran sosial yang menekankan bahwa pengalaman sukses dan vicarious experience . elajar dari pengalaman orang lai. dapat meningkatkan kepercayaan diri Peserta didik juga melaporkan bahwa keyakinan pada kemampuan sendiri yang berkembang melalui pelatihan public speaking tidak terbatas hanya pada konteks berbicara di depan umum, tetapi juga berdampak pada aspek-aspek lain dari kehidupan akademik dan sosial mereka. Mereka merasa lebih percaya diri untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas, menjawab pertanyaan guru, mengajukan pertanyaan saat tidak memahami materi, dan terlibat dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. Keyakinan ini juga membantu mereka dalam menghadapi ujian lisan, wawancara beasiswa, dan situasisituasi lain yang memerlukan kemampuan komunikasi verbal yang baik. Mampu Mengambil Keputusan Sendiri Aspek kedua dari dampak pelatihan public speaking terhadap kepercayaan diri adalah kemampuan peserta didik untuk mengambil keputusan sendiri. Kemampuan ini merupakan indikator penting dari kematangan psikologis dan kemandirian individu. Dalam konteks public speaking, kemampuan mengambil keputusan sendiri tercermin dalam kemampuan peserta didik untuk menentukan topik presentasi, memilih pendekatan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. penyampaian yang sesuai, memutuskan struktur dan alur presentasi, serta membuat keputusan spontan saat berinteraksi dengan audiens (Indra Wijaya, 2. Hasil wawancara dengan M. Arief Maulana menunjukkan bahwa peserta didik dapat menentukan keputusan sendiri secara tepat dan terarah, dengan mengedepankan disiplin ilmu yang telah diberikan saat pelatihan. Beliau menjelaskan bahwa melalui pelatihan, peserta didik dilatih untuk berpikir kritis dan analitis dalam memilih strategi komunikasi yang paling efektif untuk situasi tertentu. Mereka belajar untuk mempertimbangkan berbagai faktor seperti karakteristik audiens, tujuan komunikasi, konteks situasi, dan sumber daya yang tersedia sebelum membuat keputusan. Proses latihan ini membangun kapasitas kognitif untuk pengambilan keputusan yang matang dan bertanggung jawab. Fatlina. Pd. , menyampaikan perspektif yang sedikit berbeda namun tetap positif. Beliau menyatakan bahwa secara tidak langsung peserta didik sudah sangat berani dalam mengambil keputusan sendiri, akan tetapi mereka juga masih membutuhkan masukanmasukan atau pendapat, baik dari guru maupun dari teman-temannya, untuk proses perkembangan mereka di masa mendatang. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kemandirian dalam pengambilan keputusan tidak berarti isolasi atau penolakan terhadap perspektif orang lain. Sebaliknya, peserta didik yang matang adalah mereka yang mampu mengambil keputusan sendiri namun tetap terbuka terhadap masukan dan kritik konstruktif dari orang lain. Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa peserta didik sudah mampu mengambil keputusan sendiri dalam artian yang lebih luas. Peserta didik memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan atau keputusan dalam melakukan suatu tindakan tanpa ketergantungan penuh pada orang lain, akan tetapi tetap mempertimbangkan masukan-masukan yang relevan dan bermanfaat untuk pengembangan diri mereka. Kemampuan ini mencerminkan keseimbangan antara otonomi dan kolaborasi, antara independensi dan interdependensi, yang merupakan karakteristik dari kepercayaan diri yang matang dan sehat. Kemampuan mengambil keputusan sendiri ini juga berdampak pada aspek akademik peserta didik. Mereka menjadi lebih aktif dalam menentukan strategi belajar yang sesuai dengan gaya belajar mereka, memilih topik penelitian atau proyek yang sesuai dengan minat mereka, dan merencanakan jalur karier mereka di masa depan. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Kemandirian dalam pengambilan keputusan ini merupakan keterampilan hidup yang sangat penting yang akan terus berguna sepanjang kehidupan mereka, jauh melampaui konteks public speaking semata. Mempunyai Rasa Positif Pada Diri Aspek ketiga dari dampak pelatihan public speaking terhadap kepercayaan diri adalah munculnya rasa positif pada diri atau self-esteem yang tinggi. Rasa positif pada diri ini mencakup penilaian positif terhadap kemampuan, nilai, dan potensi diri sendiri, serta pandangan optimis terhadap masa depan (Umar Nimran, 2. Dalam konteks public speaking, rasa positif pada diri berarti peserta didik memandang kemampuan komunikasi mereka dengan positif, tidak terlalu keras dalam mengkritik diri sendiri, dan memiliki harapan yang realistis namun optimis tentang perkembangan mereka di masa Arief Maulana menyampaikan bahwa peserta didik mempunyai rasa positif pada diri setelah mengikuti tahap-tahapan dalam proses pengembangan kemampuan public speaking di MAN 1 Banda Aceh, karena pelatihan ini memberikan dampak positif bagi peserta didik. Dengan adanya ilmu baru maka akan meningkat kepercayaan diri dan bertambahnya relasi setiap dari peserta didik tersebut. Beliau menjelaskan bahwa proses belajar public speaking memberikan pengalaman positif yang mengubah persepsi peserta didik tentang diri mereka sendiri. Mereka yang awalnya merasa tidak mampu atau tidak berbakat dalam berbicara di depan umum, mulai melihat bahwa dengan latihan dan bimbingan yang tepat, mereka dapat berkembang dan mencapai kemajuan yang Fatlina. Pd. , juga menyampaikan hal serupa bahwa kegiatan pengembangan kemampuan public speaking ini dapat membantu siswa lebih percaya diri ketika berhadapan dengan orang banyak, dan keterampilan ini juga sangat bermanfaat dalam berbagai situasi, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam forum diskusi ke depannya nanti. Beliau menambahkan bahwa peningkatan rasa positif pada diri juga terlihat dari perubahan bahasa dan sikap peserta didik. Mereka mulai menggunakan affirmasi positif, lebih sering tersenyum, lebih terbuka dalam berinteraksi dengan orang lain, dan menunjukkan antusiasme yang lebih besar dalam berbagai kegiatan. Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa peserta didik mempunyai rasa positif pada diri, dalam artian peserta didik mampu menilai baik diri JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. sendiri, baik dari pandangan maupun perbuatan, sehingga timbul rasa positif atas dirinya dan harapan akan masa depan yang cerah selalu muncul ke permukaan. Kegiatan pengembangan kemampuan public speaking ini dapat membantu peserta didik lebih percaya diri ketika berhadapan dengan orang banyak, dan keterampilan ini juga sangat bermanfaat dalam berbagai situasi, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam forum diskusi di masa yang akan datang. Rasa positif pada diri ini juga berfungsi sebagai buffer atau penyangga psikologis ketika peserta didik menghadapi kegagalan atau kritik, membantu mereka untuk bangkit kembali dan terus berusaha tanpa terlalu terpengaruh oleh pengalaman negatif. Observasi peneliti juga menunjukkan bahwa peserta didik yang memiliki rasa positif pada diri cenderung lebih resilien atau tangguh dalam menghadapi tantangan. Mereka melihat kesalahan sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sebagai bukti Mereka lebih terbuka untuk mencoba hal-hal baru, mengambil risiko yang terkalkulasi, dan keluar dari zona nyaman mereka. Sikap mental positif ini merupakan aset psikologis yang sangat berharga yang akan mendukung kesuksesan mereka dalam berbagai bidang kehidupan. Berani Menyatakan Pendapat Kepada Orang Lain Aspek keempat dari dampak pelatihan public speaking terhadap kepercayaan diri adalah keberanian peserta didik untuk menyatakan pendapat kepada orang lain. Keberanian ini merupakan manifestasi eksternal dari kepercayaan diri internal yang telah Dalam konteks public speaking, keberanian menyatakan pendapat tidak hanya terbatas pada situasi formal presentasi, tetapi juga dalam diskusi kelas, rapat organisasi, percakapan sehari-hari, dan berbagai interaksi sosial lainnya (Effendy, 2. Arief Maulana menyampaikan bahwa peserta didik berani menyatakan pendapat kepada orang lain karena peserta didik juga merupakan salah satu motor penggerak bagi pengembangan madrasah. Dengan ini, setiap saran yang membantu proses pengembangan public speaking akan diapresiasi dengan baik oleh kepala Beliau menjelaskan bahwa budaya organisasi di madrasah yang menghargai partisipasi dan kontribusi peserta didik menciptakan lingkungan yang aman bagi peserta didik untuk mengekspresikan ide dan pendapat mereka tanpa takut dihakimi atau Apresiasi dan pengakuan yang diberikan oleh pihak madrasah terhadap kontribusi peserta didik memperkuat keberanian mereka untuk terus aktif berpartisipasi. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Fatlina. Pd. , juga menyampaikan hal serupa bahwa peserta didik di MAN 4 Aceh Besar tampil percaya diri dan sangat berani dalam mengungkapkan berbagai pendapat tanpa ada rasa malu atau minder, sehingga dapat meningkatkan pengembangan kemampuan public speaking mereka secara baik dan optimal. Beliau menambahkan bahwa keberanian ini tidak hanya terlihat dalam konteks formal, tetapi juga dalam interaksi informal sehari-hari. Peserta didik yang awalnya pendiam dan pasif menjadi lebih vokal dan aktif dalam berbagai diskusi dan kegiatan. Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa peserta didik berani menyatakan pendapat kepada orang lain tanpa paksaan atau keraguan yang menghambat pengungkapannya setelah mengikuti tahap-tahapan dalam proses pengembangan kemampuan public speaking di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar. Di lain sisi, peserta didik juga merupakan salah satu motor penggerak bagi pengembangan madrasah. Dengan handalnya peserta didik dalam public speaking, maka juga akan semakin baik dampaknya untuk madrasah tersebut. Keberanian menyatakan pendapat ini juga berhubungan dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis, karena untuk menyampaikan pendapat yang berkualitas, peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk menganalisis informasi, mengevaluasi berbagai perspektif, dan merumuskan argumen yang logis dan terstruktur. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Marliza Cahyadi et al. yang menemukan bahwa membangun kemampuan public speaking dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa sekolah dasar, yang tercermin dalam keberanian mereka untuk mengekspresikan ide dan pendapat. Penelitian Erlin Wahyuningasti et al. juga mendukung temuan ini dengan menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara rasa percaya diri terhadap keterampilan berbicara dalam pembelajaran. Dhea Anggriani et al. dalam penelitiannya juga mengonfirmasi bahwa mengembangkan keterampilan berbicara melalui public speaking dapat meningkatkan rasa percaya diri, yang salah satu manifestasinya adalah keberanian untuk berbicara di depan umum tanpa rasa takut atau minder. Dalam keseluruhan tahap-tahapan pengembangan kemampuan public speaking yang diterapkan di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar, hasil yang dicapai menggambarkan keberhasilan penerapan strategi-strategi pengembangan kemampuan public speaking dalam meningkatkan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. peserta didik. Teori-teori komunikasi interpersonal, presentasi efektif, kecemasan komunikasi, komunikasi nonverbal, dan kepercayaan diri dalam komunikasi dapat dikaitkan dengan hasil-hasil ini. Dengan menerapkan teori-teori ini dalam konteks pelatihan, peserta didik dapat mengalami peningkatan yang signifikan dalam keterampilan berbicara di depan umum, pengelolaan kecemasan, komunikasi sosial, dan kepercayaan diri mereka. Studi komparatif antara kedua madrasah menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam konteks institusional, seperti lokasi geografis, karakteristik peserta didik, dan model integrasi program . kstrakurikuler mandiri di MAN 1 Banda Aceh versus terintegrasi dalam LKD di MAN 4 Aceh Besa. , namun hasil yang dicapai menunjukkan kesamaan yang signifikan. Kedua institusi berhasil mengembangkan kemampuan public speaking peserta didik dan meningkatkan kepercayaan diri mereka melalui strategi yang sistematis, dukungan institusional yang kuat, dan komitmen dari seluruh stakeholder. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberhasilan program pengembangan public speaking lebih ditentukan oleh kualitas implementasi dan konsistensi pelaksanaan daripada model organisasional spesifik yang dipilih. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa strategi pengembangan kemampuan public speaking peserta didik di MAN 1 Banda Aceh dan MAN 4 Aceh Besar dilaksanakan secara sistematis melalui sepuluh tahapan yang saling terintegrasi, meliputi penilaian awal, penetapan tujuan, pengembangan kurikulum, pelaksanaan kegiatan, evaluasi dan umpan balik, penguatan dan peningkatan, penyediaan fasilitas pendukung, penggunaan media visual, pemberian motivasi dan dukungan emosional, serta peer review dan kolaborasi. Empat metode public speaking diterapkan secara variatif, yaitu metode manuskrip, hafalan . , spontanitas . , dan menjabarkan kerangka . Implementasi strategi ini menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan kemampuan komunikasi peserta didik, yang tercermin dari prestasi-prestasi gemilang seperti presentasi di forum internasional, juara lomba karya tulis ilmiah, dan penunjukan sebagai duta moderasi beragama tingkat Studi komparatif antara kedua madrasah mengungkapkan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam model implementasi program, namun kedua institusi menunjukkan kesamaan dalam pendekatan strategis dan hasil yang dicapai. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Dampak program public speaking terhadap kepercayaan diri peserta didik termanifestasi melalui empat aspek utama: yakin pada kemampuan sendiri, mampu mengambil keputusan sendiri, mempunyai rasa positif pada diri, dan berani menyatakan pendapat kepada orang lain. Keempat aspek ini berkembang melalui proses latihan yang bertahap, dukungan dari guru dan teman sebaya, pengalaman praktik yang berulang, serta lingkungan madrasah yang kondusif dan suportif. Peserta didik tidak hanya mengalami peningkatan dalam keterampilan berbicara di depan umum, tetapi juga dalam pengelolaan kecemasan komunikasi, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi sosial yang lebih luas. Temuan penelitian ini sejalan dengan teori komunikasi interpersonal, presentasi efektif, kecemasan komunikasi, dan kepercayaan diri dalam komunikasi, yang menegaskan bahwa pengembangan kemampuan public speaking yang terstruktur dengan baik efektif meningkatkan kepercayaan diri dan mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan kompetitif di masa depan. Keberhasilan program ini mengindikasikan bahwa investasi dalam pengembangan kemampuan public speaking merupakan investasi strategis yang memberikan manfaat jangka panjang bagi pembentukan karakter peserta didik yang percaya diri, mandiri, dan mampu berkomunikasi efektif dalam berbagai konteks kehidupan. *** DAFTAR PUSTAKA