p-ISSN: 2089-2551 e-ISSN: 2615-143X https://journal. Volume 15. Nomor 3. Agustus 2025 HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEKAMBUHAN (RELAPSE) PADA PENYALAHGUNA NARKOTIKA DI BNNP SULAWESI SELATAN Ismaya1*. Esse Puji Pawenrusi1. Marisna Eka Yulianita1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Alamat Korespondensi: ichanaey@yahoo. ABSTRAK Latar belakang: Terjadinya kekambuhan . pada penyalahguna narkotika yang telah mengikuti rehabilitasi menjadi hambatan tersendiri bagi upaya pemberantasan narkotika. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan bahwa dari 6. 000 penyalahguna narkotika yang menjalani proses penyembuhan setiap tahun, sekitar 40% diantaranya kembali menggunakan narkotika. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan/relaps pada penyalahguna narkotika di Klinik Pratama Adi Pradana BNN Provinsi Sulawesi Selatan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 30 orang penyalahguna narkotika yang sedang atau pernah mengalami kekambuhan . pasca mengikuti program rehabilitasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling. Hasil: Analisis menunjukkan nilai signifikansi p = 0,016 . < 0,. Nilai koefisien korelasi diperoleh yaitu r =-0,484. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan/relapse pada penyalahguna narkotika. Hasil ini bermakna semakin kuat dukungan keluarga, semakin rendah kekambuhan. Kesimpulan: Semakin tinggi dukungan keluarga yang dirasakan responden, maka kekambuhan . akan semakin rendah. Oleh karena itu, pihak keluarga diharapkan mampu untuk menyediakan waktu dan memberikan pendampingan terhadap anggota keluarga yang sedang menjalani masa rehabilitasi. Selain itu, diharapkan pihak penyedia layanan meningkatkan layanan rehabilitasi berbasis pendampingan Kata Kunci: Relapse. Rehabilitasi. NAPZA. Narkotika. Dukungan Keluarga PENDAHULUAN Peredaran dan penyalahgunaan narkotika adalah permasalahan yang telah mengakar dan terjadi secara global serta menjadi ancaman kemanusiaan (Arfang, 2. World drug report yang dipublikasi oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pada tahun 2021 menemukan bahwa sekitar 275 juta penduduk dunia terlibat dalam pemakaian dan pengedaran narkotika secara illegal (United Nations Office on Drugs and Crime, 2. Jumlah ini mengalami peningkatan sebanyak 30% dalam 10 tahun terakhir. Di Indonesia sendiri, angka ini meningkat pada tahun 2021 dengan persentase jumlah pengguna narkotika secara ilegal 2,57% atau sebanyak 4. jiwa (Pusat Penelitian. Data, dan Informasi Badan Narkotika Nasional, 2. Kekambuhan pada pengguna narkoba dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan Faktor internal meliputi kondisi emosi yang tidak stabil, efikasi diri yang rendah, stres, dan motivasi pemulihan yang rendah (Maryam & Kahpi, 2. Faktor eksternal meliputi lingkungan yang tidak mendukung, hubungan interpersonal yang buruk, dan pengaruh teman sebaya (Salsabilla et al. , 2. Dinamika keluarga dan status ekonomi juga memegang peranan penting dalam terjadinya kekambuhan (Pranatha. Tingkat pengetahuan tentang narkotika dan mekanisme koping sangat penting, dengan Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 3. Agustus 2025 tingkat pengetahuan sedang dikaitkan dengan risiko kekambuhan yang lebih tinggi (Syuhada. Angka kekambuhan pecandu yang telah menjalani rehabilitasi tergolong tinggi, berkisar antara 60% hingga 80% (Monitasari & Indriani. Untuk mencegah kekambuhan, program rehabilitasi harus berfokus pada penanganan faktor pemicu dan penyediaan sistem pendukung (Susila & Daulima, 2. Penelitian kekambuhan pada mantan pengguna narkoba dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor internal meliputi keadaan emosional, keinginan untuk menggunakan lagi, dan tingkat pengetahuan (Monitasari & Indriani, 2. Faktor eksternal meliputi dinamika keluarga, pengaruh teman sebaya, tekanan sosial, dan pemicu lingkungan. Jenis narkoba yang digunakan juga memengaruhi kemungkinan kekambuhan (Raharni et al. , 2. Faktor psikologis seperti rasa bersalah dapat bermanifestasi secara berbeda di antara mantan pengguna (Nuruddin et al. , 2. Strategi pencegahan meliputi menangani aspek fisik, psikologis, sosial, dan agama (Apriani, 2. Program rehabilitasi harus membekali pasien untuk mengelola faktor pemicu pasca perawatan. Dukungan sosial memegang peranan penting dalam proses pemulihan (Salsabilla et al. , 2. Penelitian (Yulia, 2. menyatakan bahwa faktor keluarga menjadi sumber resiko paling besar atas kemungkinan terjadinya relapse pada mantan pengguna narkotika. Kurangnya dukungan keluarga selama dan setelah proses rehabilitasi akan memunculkan perasaan tidak berharga pada diri klien sehingga memicu terjadinya relapse. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Populasi penelitian ini adalah penyalahguna narkotika yang sedang atau pernah mengalami kekambuhan . pasca mengikuti program rehabilitasi di Klinik Pratama Adi Pradana BNNP Sulawesi Selatan. Sampel penelitian ini berjumlah 30 orang menggunakan total sampling. Analisis multivariat menggunakan uji korelasi rank Uji validitas instrumen diperoleh nilai r tabel yaitu 0,361. Diperoleh nilai 0,431 untuk kuesioner dukungan keluarga dan 0,392 untuk kuesioner relapse. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini valid. Hasil uji reliabilitas terhadap kuesioner dukungan keluarga diperoleh nilai koefisien reliabilitas yaitu 0,851. Sedangkan nilai koefisien kekambuhan/relapse yaitu 0,948. Hasil ini menunjukkan bahwa kedua kuesioner memiliki reliabilitas yang baik dan layak digunakan dalam penelitian. HASIL Dukungan keluarga pada keluarga penyalahguna NAPZA dalam penelitian ini didominasi kategori kurang sebanyak 25 . %). Bentuk dukungan yang kurang tersebut dari sisi emosional adalah keluarga kurang penyalahguna NAPZA. Sedangkan pada sisi instrumental, keluarga kurang maksimal membantu penyalahguna NAPZA ketika merasa stres dan tertekan. Lebih lanjut, pada sisi informasional adalah kurangnya diskusi antara keluarga dengan penyalahguna NAPZA terkait permasalahan yang dialami. Terakhir, pada sisi penghargaan, keluarga membuat penyalahguna NAPZA merasa tidak bermakna dan berharga di tengah mereka. Meskipun demikian, bentuk dukungan keluarga yang sudah baik diantaranya adalah motivasi yang diberikan keluarga . , penyediaan . , perasaan bermakna dan berharga di tengah keluarga . , dan Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 3. Agustus 2025 saran yang diberikan oleh keluarga agar saya terhindar dari narkotika . Relapse yang dialami oleh penyalahguna NAPZA pada penelitian ini didominasi oleh kategori parah yaitu sebanyak 21 . %). Bentuk relapse emosional ditunjukkan dengan perasaan tidak nyaman berinteraksi dengan orang lain dan perasaan marah dan membenci orang lain yang berbeda pendapat. Relaps mental ditunjukkan dengan perasaan bahwa memakai narkotika membuat penyalahguna terhindar dari perasaan tertekan atau stres dan perasaan gelisah apabila tidak menggunakan narkotika dalam jangka waktu lama. Sedangkan relapse fisik ditunjukkan dengan adanya upaya melukai diri sendiri saat tidak mendapatkan markotika untuk dikonsumsi. Meskipun demikian, para penyalahguna NAPZA dalam penelitian ini didominasi telah memiliki pola tidur yang teratur dan sedang berusaha untuk tidak mengonsumsi narkotika kembali. PEMBAHASAN Relapse merupakan masalah yang umum terjadi pada pecandu narkoba pascarehabilitasi, ditandai dengan pikiran, perilaku, dan perasaan yang adiktif (Syuhada, 2. Faktor-faktor yang memengaruhi relaps meliputi faktor internal seperti motivasi, cara mengatasi, dan suasana hati serta faktor eksternal seperti lingkungan, keluarga, dan teman sebaya (Susila & Daulima, 2. Kondisi emosional dan keinginan untuk menggunakan narkoba lagi merupakan faktor yang berkontribusi signifikan terhadap relaps. Strategi pencegahan meliputi pelatihan pencegahan relaps (Samosir, 2. dan pendekatan spiritual seperti taubat, doa, dan puasa (Muhammad Syuhrawardi & Badruddin, 2. Pasca rehabilitasi, mantan pecandu dapat mengalami perubahan fisik, kognitif, dan sosial emosional. Pemulihan yang berhasil sering kali melibatkan motivasi pribadi, dukungan keluarga, dan faktor hukum (Salsabilla et al. , 2. Dukungan keluarga memegang peranan penting dalam mencegah kekambuhan pada mantan pengguna narkoba dan menjaga konsistensi pemulihan mereka (Amri et al. Kurangnya diidentifikasi sebagai faktor signifikan yang berkontribusi terhadap kekambuhan. Dukungan keluarga mencakup aspek emosional, finansial, dan sosial, yang berkorelasi dengan motivasi dan keberhasilan klien dalam rehabilitasi (Siahaan, 2. Penelitian telah menemukan hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan kejadian kekambuhan pada kasus ketergantungan narkoba. Lebih jauh, dukungan keluarga dikaitkan dengan peningkatan motivasi pemulihan pada penghuni fasilitas rehabilitasi narkoba (Susila & Daulima, 2. Temuan ini menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam proses rehabilitasi dan pencegahan kekambuhan bagi mantan pengguna narkoba. Secara keseluruhan, bentuk-bentuk dukungan emosional dirancang untuk mendukung klien dalam perjalanan pemulihan klien, salah satu faktor positifnya adalah periode abstinensi klien dari penyalahgunaan zat-zat terlarang (Moran et al. KESIMPULAN Pemahaman kekambuhan yang dialami oleh penyalahguna NAPZA diperlukan agar keluarga dan penyedia layanan rehabilitasi dapat meminimalisir faktor pencetus dan pemicunya. Selain itu, bentuk dukungan keluarga yang sudah baik dapat dipertahankan, sedangkan bentuk dukungan keluarga yang masih kurang dapat dijadikan dasar untuk penyusunan intervensi yang lebih melihat sisi kebutuhan penyalahguna. DAFTAR PUSTAKA